Bangsa Yang Menjadi Kasar Dan Keras Karena Telah Kehilangan Rasa Empati

Sepasang suami istri berbicara di depan laptop yang terhubung dengan dunia maya yang dapat memberikan gambaran dunia dalam sekejap.

Sang Suami: Ada yang merasa bangga di panggil sebagai wakil rakyat, akan tetapi apakah mereka dapat merasakan penderitaan rakyat yang diwakilinya? Buktinya mereka membangun gedung trilyunan rupiah dari uang rakyat yang sangat berguna untuk mensejahterakan rakyat?…… Ada contoh lain yang masyarakat kurang begitu peduli…… Baru saja aku baca…

http://megapolitan.kompas.com/read/2011/03/30/17583980/Anand.Krishna.Keluar.Rumah.Sakit

http://www.detiknews.com/read/2011/03/30/190721/1605134/10/dinyatakan-pulih-anand-krishna-kembali-ke-rutan-cipinang

…..Contoh yang dialami orang yang dianggap biasa yang pada umumnya orang tidak peduli akan beritanya, padahal beliau sedang berjuang demi bangsanya. Pak Anand Krishna telah diperlakukan dengan tidak adil, sidang pengadilan yang sedang berjalan selama lebih dari 5 bulan, yang menyangkut pelecehan seksual yang dituduhkan kepada beliau hanya sekitar 10%, yang lainnya memeriksa pandangan beliau tentang kebhinnekaan. Yang 10 % pun belum ada buktinya, karena saksinya berubah-ubah seperti layaknya sandiwara. Pak Anand tetap menjalaninya dengan patuh. Akan tetapi tiba-tiba, hakim minta pak Anand ditahan. Bang Buyung (Adnan Buyung Nasution) pun sampai mengatakan hakim ceroboh. Pak Anand tidak mau emosional, beliau melakukan protes dengan caranya puasa makan yang sampai hari ini sudah hari ke 23. Kala penahanannya mencapai tujuh hari yang berarti beliau sudah puasa makan selama tujuh hari, beliau tetap datang ke sidang pengadilan dan beliau pingsan. Beliau memang menderita komplikasi jantung, gula, maag, tekanan darah tinggi dan pernah mengalami leukimia. Beliau dibawa ke RS Fatmawati, kemudian dipindahkan ke RS Polri Kramat Jati. Tiba-tiba beliau yang masih puasa makan dan masih diinfus dipindahkan kembali ke Rutan Cipinang…. Astaghfirullah……

Sang Istri: Nenek moyang mengajarkan sebuah kaidah emas: “Tepo-sliro” – “Jangan melakukan suatu tindakan yang kamu tidak suka tindakan tersebut dilakukan terhadapmu”……. Inilah empati……. Kita merasakan satu dengan orang lain dan identitas yang memisahkannya lenyap. Hausnya orang lain menjadi haus kita, laparnya orang lain menjadi lapar kita, sukacitanya orang lain menjadi sukacita kita. Keterhubungan hati yang sangat dalam. Kita bisa bisa bepikir aku Hindu, aku Buddha, aku Muslim, aku Kristen, Aku Indonesia, Aku China, Aku Amerika, “tetapi itu kerja mind bukan kerja hati”. Hati kita tak mempunyai identitas yang berbeda-beda. Hati adalah hati…… dan nenek moyang kita selalu berkata “hati-hati”, bukan “pikir-pikir”…….

Sang Suami: Empati sudah sangat jarang empati terjadi sehingga manusia telah kehilangan rasa kemanusiaannya. Kehilangan empati menjadikan kita makhluk yang tidak spiritual. Kita hanya bisa simpati. Simpati berarti aku menaruh rasa kasihan terhadapmu. Empati berarti aku merasakan penderitaanmu. Mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing dan menjawab sendiri pertanyaan itu. Jangan lupa, kita semua, pada suatu ketika, harus mempertanggungjawabkan setiap perbuatan kita. Amal-ibadah, dana-punia, apa pun yang kita lakukan, hanya mengantar kita hingga satu tertentu. Perjalanan selanjutnya kita lakukan sendiri, dan setiap anggota badan, jiwa, pikiran, serta perasaan kita akan dimintai pertanggunganjawab………. Baca lebih lanjut

Perjuangan Menegakkan Ke-“Bhinneka Tunggal Ika”-an Di Tengah Kegamangan Sebuah Bangsa

Sepasang suami istri sedang berbincang mengenai kondisi bangsa yang masih saja tidak dalam keadaan tenang. Baru saja teror bom buku belum tuntas, masyarakat sudah disuguhi masalah PSSI yang memakan energi bangsa.

Sang Suami: Aku, seperti halnya sebagian besar masyarakat sudah jenuh melihat jagat perpolitikan yang ditampilkan di tengah panggung bangsa. Akan tetapi, kemarin kebetulan aku melihat debat di TV One tentang Ahmadiyah. Kebanyakan yang hadir dengan berapi-api memojokkan pihak Ahmadiyah. Mereka menganggap kekerasan bukan hanya yang dilakukan oleh masyarakat terhadap kelompok Ahmadiyah, akan tetapi pandangan Ahmadiyah pun merupakan kekerasan terhadap pandangan mereka. Aku sendiri tidak paham tentang Ahmadiyah, akan tetapi aku menjadi tertarik, karena ini menyangkut pandangan seseorang tentang kebenaran yang diyakininya. Mari kita diskusi tentang pandangan seseorang tentang kebenaran……

Sang Istri: Aku hanya merenung, kita lahir dengan sifat genetik yang diwarisi lewat orang tua kita. Kemudian kita mendapat pendidikan lewat orang tua, lewat pendidikan sekolah dan lingkungan. Maka kebenaran bagi seseorang adalah kebenaran menurut apa yang dipahaminya, apa yang diajarkannya sejak kecil. Beda orang tua, beda pendidikan, beda lingkungan, beda negara maka pandangan kebenarannya akan berbeda. Mereka yang diajari sejak kecil untuk fanatik maka kebenaran akan diikutinya secara fanatik. Ini adalah masalah programming…….

Sang Suami: oleh karena itu aku tidak heran dengan pandangan Pak Syafii Maarif dalam Tribunews 26 April 2010. Mantan Ketua PP Muhammadiyah tersebut mengatakan bahwa sekarang ini pluralisme terancam oleh kelompok tertentu yang mencoba memaksakan pendapatnya. Beberapa kelompok diantaranya bahkan berkedok agama dengan memvonis kelompok lain sesat. “Agama itu datangnya secara nisbi, jadi harus dipahami sebagai sesuatu yang nisbi juga. Jangan dianggap sebagai sebuah kebenaran yang mutlak, karena kebenaran mutlak itu hanya milik Tuhan YME,” ujar Syafii. Dijelaskan oleh Syafii, pluralisme merupakan roh bangsa ini dalam bernegara. Oleh karena itu, pluralisme harus dijaga eksistensinya. Pihak-pihak yang mencoba mengganggu pluralisme harus dilawan, karena hal itu merugikan kehidupan berbangsa dan bernegara. Lebih lanjut diungkapkan oleh Syafii tak ada satu ummat dan kelompok manapun yang berhak memfatwakan sesat atas sebuah penafsiran ajaran agama. Juga tak boleh ada satu umatpun yang boleh menyatakan dirinya paling benar dalam beragama. “Setiap umat, entah itu Hindu, Budha, Islam, Nasrani atau ajaran apapun juga tentu akan merasa bahwa ajaran mereka yang paling benar. Kita tak usahlah untuk saling mengklaim seperti itu,” ujar Syafii. “Saya orang yang tidak setuju dengan ajaran Trilogi Ahmadiyah. Tetapi, kalau ada yang melakukan kekerasan terhadap Ahmadiyah, saya yang akan membelanya. Tindakan kekerasan alasan apapun harus dilawan, “ tandas Syafii. Baca lebih lanjut

Keberimbangan Berita Mass Media Secara Legal Formal Dan Dampak Riil Bagi Keadilan Seorang Anak Bangsa

Mencermati Ketidakadilan Dalam Sidang Pengadilan Anand Krishna

Sepasang suami istri sedang berbincang-bincang di beranda rumah mereka.  Mereka prihatin dengan kasus persidangan Pak Anand yang berlarut-larut.

Sang Istri: Zaman ini sering disebut zaman media, kekuasaan bergeser ke mass media yang bisa menjangkau masyarakat luas. Semua penguasa, politikus, pengusaha, ilmuwan mendekati media agar kepentingan mereka tertampung. Dampak positifnya jelas banyak. Dampak negatifnya, masyarakat suka berbicara. Yang memahami masalah dan yang tidak pun angkat bicara sehinggamembingungkan masyarakat. Kemudian ada juga beberapa orang tidak bersalah yang menjadi korban pemberitaan oleh mass media.

Sang Suami: Film “Indictment: The Mc Martin Trial” adalah sebuah kisah nyata yang membuat seorang tak bersalah di-“hukum” oleh mass media yang merasa berpihak pada korban pelecehan seksual. Seorang sahabat membandingkan kasus dugaan pelecehan seksual Pak Anand dengan film “Indictment : The  Mc Martin Trial” tersebut. Sahabat tersebut menulis bahwa dia melihat pola yang sangat mirip dengan kasus yang menimpa Pak Anand. Mulai dari awal munculnya kasus dimana sang terapis mengaku sudah memberikan terapi kepada TR lebih dari 40 kali selama 3 bulan dan tidak ada kontak dengan dunia luar (dikarantina) hingga kemudian disimpulkan bahwa TR mengalami pelecehan seksual. Sesuatu yang terasa ganjil, mengapa TR baru mengaku mengalami pelecehan setelah diterapi? Dia menjadi lebih yakin setelah membaca berbagai artikel mengenai kasus-kasus nyata terkait dengan false memory implant yang terjadi di luar negeri. Keyakinan dia bertambah setelah membaca hasil penelitian Mazzoni, et.all (1999) mengenai bagaimana seorang therapist bisa menanamkan memori palsu terhadap pasien (http://www.spring.org.uk/2008/02/therapists-can-implant-false-beliefs.php). Kesamaan lain dari kasus Mc Martin Trial dalam film indictment adalah kasus ini besar karena peran media. Belum ada keputusan hukum, pihak Pak Anand sudah di hakimi bersalah oleh masyarakat.

Sang Istri: Keberimbangan berita secara legal formal dapat dipertanggungjawabkan. Headline berita yang laku “dijual” agar mass media dapat mempertahankan eksistensinya juga dapat dimaklumi. Akan tetapi sebagai pencinta negri mestinya ada tambahan satu kriteria, yaitu kecintaan pada Ibu Pertiwi. Kini ada seorang tokoh yang memperjuangkan kebhinnekaan sedang menerima ketidakadilan, akan tetapi tak ada satu pun koran cetak atau televisi yang memuatnya.

Sang Suami: “Angle, arah dan framing” dari isi berita diputuskan oleh para profesional media. Reporter, editor dan pemilik perusahaan mestinya adalah seorang profesional. Bahwa mereka berpihak pada Ibu Pertiwi seharusnya memang tidak “debatable”…… McQuail dalam bukunya Mass Communication Theories, Sage Publication,2000, menjelaskan tentang peran mass media. Pertama mass media adalah jendela bagi masyarakat agar bisa melihat suatu peristiwa. Kedua, mass media sebagai cermin yang dapat merefleksikan kejadian sebenarnya. Ketiga, mass media sebagai filter penjaga layak atau tidaknya sebuah berita diterbitkan. Keempat, mass media sebagai pemandu, penunjuk arah bagi masyarakat dengan pembuatan opini. Kelima, mass media sebagai forum umpan balik dan komunikasi interaktif. Isi dan informasi yang disajikan, mempunyai peran yang signifikan dalam proses sosial. Isi media massa merupakan konsumsi otak bagi khalayaknya, sehingga apa yang ada di media massa akan mempengaruhi masyarakat. Gambaran tentang “realitas” yang dibentuk oleh isi media massa inilah yang nantinya mendasari respon dan sikap khalayak terhadap berbagai objek sosial. Informasi yang salah dari media massa akan memunculkan gambaran yang salah pula tentang suatu peristiwa. Karenanya media massa dituntut menyampaikan informasi secara akurat dan berkualitas. Kualitas informasi inilah yang merupakan tuntutan etis dan moral penyajian mass media. Bukan hanya keberimbangan berita.

Sang Istri: Mass media mestinya dari awalnya sudah paham bahwa seseorang tidak bisa sembarangan mengadukan orang dan menuduhnya melakukan perbuatan pidana. Harus ada “bukti permulaan yang cukup”. Misalnya, dalam kasus pelecehan seksual: Harus ada 2 atau 3 saksi yang melihat “langsung” kejadian dugaan pelecehan tersebut serta  harus ada visum dari RSU. Ini adalah dasar bagi pihak polisi atau Komnas HAM/Perempuan untuk melakukan proses hukum. Nah, jika memang bukti permulaan tersebut ada, maka adalah hak setiap warga negara untuk menuntut keadilan melalui proses hukum dan mass media memuat beritanya…….. Nyatanya  beritanya muncul di mana-mana dan kasusnya tetap bergulir ke pengadilan……. Pengadilan yang sudah berjalan lebih dari 5 bulan dilakukan secara tertutup maka masyarakat luas tidak tahu bahwa sidang tersebut hanya menyangkut 10% kasus pelecehan sosial di mana sang korban pun berubah-ubah kesaksiannya. Saksi-saksi yang diajukan pun juga pantas dipertanyakan kebenarannya, karena banyak hal yang tidak masuk akal.  Nampaknya tuduhan pelecehan seksual hanyalah intro untuk mengadili pandangan kebhinnekaan Pak Anand. Apalagi kasus tersebut diawali dengan pemberitaan yang tak berimbang. Hal ini akan membuat preseden yang tidak baik, karena kelak siapa pun bisa mengadu dan diadukan telah melakukan pelecehan seksual, tanpa bukti permulaan yang cukup, asal bisa “mem-blow up” kasusnya ke mass media…….. Pak Anand mogok makan karena ketidakadilan hukum dan mestinya mass media ikut bertanggung jawab karena ketidakberimbangan berita pada awal kasusnya. Bisa saja para penegak hukum berkilah, mereka menuntut pak Anand ke sidang pengadilan karena mereka yakin pada pemberitaan mass media. Baca lebih lanjut

Testimony tulisan tangan Anand Krishna yang melakukan mogok makan demi negeri yang dicintainya

Perhatikan jiwa besar Pak Anand yang rela berkorban demi negeri yang dicintai beliau…….. Mohon disebarkan…….

http://freeanandkrishna.com/index.php?id=strike2eat

Wahai para pecinta kehineekaan di Indonesia. Rumah-rumah tetangga satu per satu mulai terbakar….. Sekarang memang rumah kita tidak bermasalah, tetapi ada tendency hanya tinggal waktu saja….. Mari beramai-ramai memadamkan api kebencian dan kekerasan yang membakar negeri…… Itu adalah salah satu tanggung jawab pada negeri kita……

Mempertahankan Kebhinekaan Bangsa Ditengah Dominasi Sikap Mau Menang Sendiri

Mencermati Ketidakadilan Dalam Sidang Pengadilan Bapak Anand Krishna, Salah Seorang Pejuang Kebhinnekaan

Sepasang suami istri sedang berbincang-bincang di beranda rumah mereka.  Mereka prihatin dengan kasus persidangan Pak Anand yang berlarut-larut. Mereka terperangah melihat tulisan berjudul Senjakala Pluralisme indonesia yang ditulis pada tahun 2008 di  http://amuaz.wordpress.com/2008/02/02/senjakala-pluralisme-indonesia/. Nampaknya sampai saat ini kondisi kebhinnekaan masih mengalami tekanan yang luar biasa……

Sang istri: Voting sudah menjadi aturan baku dari satu paham demokrasi. Suara terbanyak adalah pemenang. Prinsipnya sama dengan lembaga perseroaan para pedagang. Pemegang saham mayoritas yang berhak mengatur. Antara dunia politik dan dunia dagang memang tidak jauh beda, dasarnya adalah  soal kepentingan. Bagaimana pun perusahaan harus mencapai keuntungan. Bahkan hampir semua lembaga multilateral maupun PBB menggunakan aturan voting untuk melegitimasi keputusan. Partai politik  mengadakan koalisi untuk mendapatkan suara mayoritas. Ada deal-deal tertentu yang tidak lepas dari kepentingan:  kepentingan pribadi, kepentingan partai, kepentingan kelompok dan kepentingan lainnya……. Hal ini bukan dimaksudkan untuk mengkritik sistem pemilihan, karena keputusan telah diambil dan telah dijadikan landasan bernegara, dan itu tidak lepas dari pengalaman masa lalu, akan tetapi walau bagaimana pun kebenaran harus disampaikan. Mungkin bagi masyarakat yang sudah mencapai “civil society”, masyarakat yang semuanya paham akan hak dan kewajiban bermasyarakat, keputusan lewat voting lebih sesuai. Walau bagaimana pun kita harus belajar dari sejarah masyarakat Jerman yang pernah memberikan keleluasaan kekuasaan kepada Adolf Hitler dengan suara mayoritas……

Sang Suami: Seandainya terjadilah perdebatan sengit di antara para ilmuwan top, dan mungkinkah diputuskan “Hukum Fisika Kuantum” lewat voting……… Apakah Albert Einstein dapat menerima? Dasar ilmu pengetahuan adalah kebenaran,  mungkin kebenaran pada saat ini, dan setelah ada pencapaian pengetahuan yang lebih sempurna maka kebenaran pengetahuan itu pun perlu diperbaiki……. Seandainya, sekelompok ahli tafsir berkumpul membuat kesepakatan dan ingin memaknai tafsir sebuah kitab suci, apakah pantas mereka menggunakan voting?….. Kemudian, ketika diri kita memilih pasangan hidup, apakah kita akan kumpulkan sahabat dan kerabat untuk mengadakan voting? Kebenaran tidak menjadi benar karena menang voting…… Karena voting mendasarkan  suara mayoritas yang berkuasa,  maka jangan ditanyakan masalah hakikat dari kebenaran, kebaikan dan keadilan. Voting mengabaikan hal demikian. Walau yang minoritas menyampaikan usulan tentang kebenaran namun tak akan bermakna bila mayoritas mengatakan hal tersebut tidak benar. Dalam sekumpulan maling, maka keputusan yang dipilih berdasar voting memenangkan kepentingan para maling. Dalam setiap voting pasti ada yang kalah dan yang menang. Kehidupan kelembagaan terhormat memang di design layaknya medan pertempuran. Yang kuat makan yang lemah. Tak ada nuasa hikmat dari pelaku untuk menghasilkan kebijaksanaan.

Sang Istri: Pertanyaannya apakah mungkin pluralitas dapat hidup dalam bernegara dengan cara tersebut? Kelompok minoritas harus berjuang dengan segala cara agar dia dapat eksis. Einstein menguraikan tentang mekanika kuantum, menguraikan tentang Hukum kekekalan energi bahwa semua benda dalam kecepatan tertentu adalah energi. Pada hakikatnya yang ada di alam ini adalah energi……  yang berbeda hanya kerapatannya. Banyak sekali tantangan yang dihadapinya, tetapi hal tersebut tidak menggoyahkan keyakinannya…… Para Orang Suci juga tidak goyah dalam menyampaikan kebenaran…… apakah jadinya bila masyarakat penguasa pada zamannya mengadakan voting bagi pandangan Nabi Musa, Gusti Yesus atau Baginda Rasul????

Sang Suami: Para pendiri negara ini ketika menyusun konsep dasar negara. Sadar betul bahwa kesatuan bangsa ini harus tegak diatas kekuatan moral yang universal. Bhineka Tunggal Ika bukanlah istilah mudah untuk dipahami apabila tidak didasarkan oleh keyakinan bersama tentang asas moral yang universal. Bagaimana perbedaan (plurarisme) dapat diakui untuk menjalin persatuan (tunggal)? Para pendiri negara menempatkan ruh kekuasaan kedalam sila ke empat “Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan”. Bahwa negara ini adalah negara kerakyatan. Bukan negara kekuasaan. Bukan pula negara partai. Ini Negara kerakyatan ! Para wakil disebut pemimpin. Mereka ini adalah orang orang yang terpilih akan hikmatnya untuk lahirnya kebijaksanaan berdasarkan musyawarah…… Kini setelah reformasi dan di amandemen nya UUD 45 maka kekuatan Pancasila sebagai pemersatu dari pluralisme menjadi luntur. Hikmat kebijaksanaan digantikan kepentingan mayoritas. Makanya tidak aneh bila Politik Parlemen kita menjadi seperti bursa saham. Birokrat kita seperti broker. Penegak hukum kita seperti arranger. Semuanya harus ada fee dan laba yang harus didapat. Maka jangan pernah berharap akan lahirkan kebijakan untuk menjawab masalah kebenaran, kebaikan dan keadilan…… Tidak mudah memang mengambil keputusan di tengah orang yang belum berkesadaran, dalam jiwanya masih ada keserakahan hewaniah. Baca lebih lanjut

Zaman Kegelapan Bagi Dharma Kebenaran Yang Berusaha Tegak Di Tengah-Tengah Ketidakberdayaan Bangsa

Mencermati Ketidakadilan Dalam Sidang Pengadilan Bapak Anand Krishna

Sepasang suami istri sedang berbincang-bincang di beranda rumah mereka.  Mereka prihatin dengan kasus persidangan Pak Anand yang berlarut-larut. Mereka membuka file tentang uraian Pak Anand tentang kondisi zaman dahulu kala yang nampaknya belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan hingga saat ini…..

Sang Suami: Dalam buku “Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara”, Pak Anand menceritakan kisah Raja Parikesit sekitar 5.000 tahun yang lalu yang nampaknya saat ini, masih juga kita menghadapi maslah yang sama……. Dikisahkan setelah Prabu Kresna dan Pandawa meninggal, tinggallah Raja Parikesit cucu Arjuna yang menjadi raja Hastina. Dengan kewaskitaannya, Raja Parikesit seakan-akan melihat “Bunda Dharma” sebagai sapi berkaki satu. Kaki pertama tapa, pengendalian diri sudah rusak karena manusia bertindak tanpa pengendalian diri. Kaki kedua “kesucian diri dalam pikiran, ucapan dan tindakan”. Kesucian pun gugur ternodai keterikatan pancaindera. Kaki ketiga welas asih. Dan, welas asih pun telah musnah karena tertutup oleh hawa nafsu. ……… Hanya tinggal satu kaki yang masih bisa membuat dirinya tegak, yaitu “kaki kebenaran”. Akan tetapi kaki yang tinggal satu “kaki kebenaran” pun sedang diserang oleh Sang Kala Betul-betul memasuki Zaman Kegelapan, Kali Yuga……… Raja Parikesit sangat marah terhadap Sang Kala yang tidak henti-hentinya berupaya menjatuhkan dharma………. “Bunda Bumi” dan “Bunda Dharma” sangat berharap akan diri Sang Raja. Dan, Raja Parikesit menghela napas, “Apakah raja-raja penggantiku di seantero bumi dapat memahami kondisi ini? Banyak manusia akan lalai, tidak waspada terhadap  keadaan genting berbahaya yang tidak disadarinya.  Sang Kegelapan siap menerkamnya dari depan, dari belakang dari atas dan dari bawah dirinya bahkan dari dalam pikirannya. Sang Kala telah mengalir bersama darah dalam tubuhnya. Kebajikan dan kualitas mulia telah meninggalkan diri manusia dengan perginya Prabu Kresna.”

Sang Istri: Iya aku ingat…… Kaki Kebenaran yang masih dapat menegakkan Dharma pun terus dilukai dengan kebohongan oleh Sang Kala…… Seakan Kegelapan atau Sang Kala paham akan pikiran Sang Raja Parikesit. Selanjutnya dia jatuh bersimpuh di depan kaki sang raja, “Hamba tahu, keturunan Arjuna tidak akan menyakiti seorang pemohon yang jatuh di kakinya. Hamba tahu, paduka tidak ingin hamba tinggal di dalam kerajaan paduka. Paduka merasa, sekali saja hamba tinggal maka semua sahabat hamba: ketamakan, kebohongan, pencurian, kejahatan, kemunafikan, pertengkaran dan semua yang menyebabkan keburukan dan kebencian akan ikut menumpang.”…… “Tetapi ijinkan kami berbicara terlebih dahulu. Paduka raja, seluruh bumi telah paduka kuasai. Gusti Yang Maha Kuasa yang menciptakan kebaikan juga menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah bayang-bayang kebaikan. Hamba telah diciptakan, dan hamba tetap membutuhkan ruang agar diri hamba tetap eksis. Berikan hamba tempat di paling sudut yang paling tertutup. Bagaimana pun sudah merupakan bawaan hamba untuk tetap mendatangi pintu-pintu yang dibuka sendiri oleh manusia. Para manusia yang telah mengundang hamba dan sudah menjadi kewajiban hamba untuk tidak menolak undangan mereka”…….. Raja Parikesit, termenung lama, “Ada benarnya juga ucapan Sang Kegelapan.”……  “Baik, kamu harus pergi kecuali manusia membuka pintu untukmu, tetapi pintu-pintu tersebut hanyalah pintu judi,   pintu mabuk, pintu zinah dan pintu pembunuhan.”……… “Mohon tambahkan satu pintu lagi Paduka!”……… “Baik satu pintu lagi, pintu emas, kekayaan. Emas akan menyebabkan ketamakan, kebohongan, keangkuhan, gairah, kebencian dan kebengisan.”…… Sang Kegelapan pergi dan tertawa dalam hati, “Aku hidup selamanya, sedangkan Raja Parikesit terbatas kehidupannya. Dia lupa kondisi manusia limaribu tahun setelah kejadian ini. Hampir seluruh manusia akan kukuasai. Ada beberapa saat, kala seorang suci menebarkan dharma, aku ditinggalkan, akan tetapi tak lama sesudahnya aku akan kembali lagi. Bahkan aku pun akan merasuk dalam ajaran sang suci sehingga setelah dia tak ada, ajaran-ajarannya menjadi sesat. Raja Parikesit tak akan tahu, bahwa akan banyak ajaran berkembang dan musnah selama lima ribu tahun. Dan mereka mengklaim ajaran mereka paling benar. Padahal terbukti ajaran-ajaran kuno telah ditinggalkan, demikian pula ajaran-ajaran baru tanpa pembaharuan akan menjadi kuno dan ditinggalkan juga.”

Sang Suami: Iya inilah adalah pintu-pintu masuknya Sang Kegelapan yang diuraikan dalam buku “Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara”…….. Pintu Pertama, Pintu Judi Pengaruh Kegelapan dapat mengubah apa saja menjadi perjudian. Bank-bank, supermall beramai-ramai memberi hadiah dengan undian. Score pertandingan sepak bola, bahkan pemilihan kepala daerah pun ada suara-suara dijadikan bahan perjudian. Manusia berharap  memperoleh ‘lebih’ daripada apa yang menjadi haknya. Harapan itu spekulasi itu apa lagi kalu bukan berjudi?……… Pintu Kedua, Pintu Mabuk. Pengaruh Kegelapan masuk dalam keadaan manusia yang sedang mabuk. Bukan hanya mabuk narkoba dan minuman keras, akan tetapi mabuk harta, mabuk takhta dan mabuk wanita. Bahkan juga termasuk mabuk spiritualitas merasa paling hebat……… Pintu Ketiga, Pintu Zinah. Bagi Sang Kegelapan, ‘perzinahan’ tidak sebatas penyelewengan yang dilakukan seseorang terhadap pasangannya. Bagi Sang Kegelapan, ‘zinah’ berarti memaksakan kehendak diri. Mewujudkan keinginan dengan cara apa saja. Kadang memaksa dengan cara kasar dan keras. Kadang dengan cara halus, lembut—dengan merayu dan merengek. Menaklukkan hati orang, kemudian memperbudaknya, atau mempengaruhi pikiran orang demi kepentingan diri—semua itu perzinahan, adultery……… Pintu Keempat, Pintu Pembunuhan. Bagi Kegelapan, pintu keempat ini terjadi di mana-mana. Ada yang dibunuh dan ada yang bunuh diri. Ada yang membunuh orang lain, ada yang membunuh nuraninya sendiri. Tidak mendengarkan suara hati merupakan aksi pembunuhan terhadap nurani…….. Pintu Kelima, Pintu Emas. Pintu Harta Berlebihan. Bila uang mengalir, Kegelapan tidak mampu mempengaruhi kesadaran. Bila harta tidak mengalir, berhenti, tertimbun di suatu tempat Sang Kegelapan masuk. Bila harta mengalir, roda ekonomi pun akan berputar dengan baik. Harta berlebihan yang ditimbun, tidak hanya menyusahkan, karena pengaruh Kegelapan dapat menyeret kesadaran ke titik terendah, menyusahkan orang lain. Bahkan menjadi sinterklas pun, telah merampas kemandirian orang lain, karena ketergantungan mereka terhadap diri sang sinterklas………

Sang Istri: Suamiku, apa yang dihadapi Raja Parikesit, sedang dihadapi oleh bangsa kita…… Pak Anand mengajari kita semua untuk meniti ke dalam diri, mencari jatidiri…… Dan setelah pikiran dan pancaindera dapat dikendalikan kepedulian terhadap masyarakat akan semakin besar…… Akan tetapi mengubah pandangan masyarakat itu bukan pekerjaan mudah……. Suamiku, mari kita berdiskusi tentang perbaikan karakter bangsa…… Baca lebih lanjut

Mewaspadai Pemrograman Anak-Anak Bangsa Menjadi Pendukung Kekerasan Yang Militan

Mencermati Ketidakadilan Dalam Sidang Pengadilan Bapak Anand Krishna Dan Penyerangan Terhadap Para Tokoh Yang Memperjuangkan Pluralisme

Sepasang suami-istri sedang berbincang-bincang dengan serius. Mereka membolak-balik file yang ada di laptop. Mereka prihatin dengan tindakan kekerasan yang akhir-akhir ini melanda negeri. Setelah konflik meletus dalam kasus Ahmadiyah di Cikeusik Pandeglang Banten, perusakan gereja di Temanggung, perusakan komunitas muslim di Pasuruan dan baru saja kiriman bom bagi Ulil Ashar Abdalla, Yapto, Gories Mere dan Ahmad Dhani.

Sang Suami: Istriku, perhatikan tulisan seorang sahabat dari Pakistan di FB tentang kondisi penuh kekerasan di Pakistan yang tak ada habis-habisnya…….. Ambil seorang anak lelaki kecil dan tempatkan dia di madrasah terpencil. Jauhkan dia dari masyarakat dan halangi dia agar tidak berinteraksi dengan manusia. Doktrin dia dengan agama versi yang ekstrim dan ceritakan bahwa dia bukan milik dunia. Ajari dia tentang dunia indah  yang menunggunya di surga,  dan bahwa dalam rangka mencapai surga dia harus memusnahkan semua hal yang menghalanginya, termasuk tubuh miliknya…… Pada saat dia berusia enam belas, anak ini telah menjadi lebah jantan: pria yang bukan manusia. Selain remaja segar, mereka adalah pemuda-pemuda patuh semacam Cyborg (Cybernetic Organism) di film-film action, tetapi mereka benar-benar manusia, yang siap meledakkan diri atas pesanan khusus……. Berkembang pesat  di Pakistan, ini adalah eksperimen menakutkan dalam pencucian otak dan setaraf apabila tidak lebih buruk daripada perbaikan keturunan versi Nazi Jerman. Mereka berbuat atas nama ilmu pengetahuan; dan di Pakistan, dilakukan atas nama Tuhan dan Agama. Dalam skala yang sangat besar, keberhasilan eksperimen yang luar biasa ini mempertahankan kemenangan secara alami……… “Beri saya anak lelaki usia tujuh tahun, dan saya akan memperlihatkan padamu manusia tersebut setelah dewasa,” ujar kaum Jesuit zaman dulu. Mungkin sangat sinis, kata-kata kaum Jesuit tersebut, akan tetapi, faktanya tidak ada orang yang lebih memahami kerentanan otak anak kecil selain para pendeta. Di satu pihak, kita menyaksikan kewaspadaan orang tua kala guru datang ke rumah mengajar kitab suci kepada anak-anak mereka; dan di pihak lain ada orang-orang tua dari masyarakat yang sama yang memberikan anaknya ke madrasah yang dikelola pengajar sebelum anaknya berusia tujuh tahun, bahkan sampai mencapai usia 14 atau 15 atau selamanya……….  Anak-anak kami menghadapi ketakutan masa depan bukan karena Taliban, mereka sangat sedikit, tetapi karena gelombang agama ultra konservatif yang telah melanda negara ini. Madrasah-madrasah terpencil mungkin mengubah anak-anak lelaki menjadi lebah jantan. Ada ribuan madrasah di seluruh pedesaan Pakistan yang memproduksi lebah-lebah baru yang mungkin tidak semuanya menjadi pelaku bom bunuh diri tetapi tetap tidak selaras dengan kehidupan dunia. Anak-anak ini perlu diselamatkan. Demikian cerita sahabat dari Pakistan…… Semoga putra-putri bangsa segera bangkit untuk memperbaiki kondisi saat ini…….

Sang Istri: Mungkin belum separah itu di negeri kita, walaupun demikian ada baiknya para orang tua waspada……. Sejak kecil, anak-anak sudah dimasukkan dalam sekolah dengan azas agama tertentu, diminta belajar mengaji pada mereka yang mungkin saja ada yang mengajarkan kekerasan. Ada saja yang mengajari bahwa teman sesama agama adalah saudara. Mereka tanpa sadar mengucilkan teman-temannya yang berbeda agama. Dan ini sudah berjalan lama, pemahaman sewaktu kecil ini akan dibawa-bawa hingga anak-anak dewasa. Mereka lupa kita semua adalah satu saudara dan hidup di bumi Indonesia. Kita diberi makan-minum, tempat tinggal, pekerjaan di bumi Indonesia, akan tetapi kita tidak sadar ada tindakan kita yang membawa masalah bagi bangsa. Bukan masalah kecil tetapi masalah besar bagi kebersatuan bangsa…….. Sebagian dari anak-anak kecil ini setelah dewasa merasa benci terhadap agama lainnya. Dapat kita lihat di internet diskusi tentang perbedaan agama, sudah sangat mengkhawatirkan. Majalah-majalah yang bernuansa religius pun banyak yang isinya menyebar kebencian pada agama yang lain, belum lagi selebaran yang diperuntukkan bagi kalangan sendiri. Mantan pengikut suatu keyakinan  bila memberikan kesaksian di depan kelompok keyakinan yang baru, seperti barisan sakit hati yang haus popularitas. Kita tidak pernah sadar hal tersebut membahayakan eksistensi bangsa.

Sang Suami: Memang banyak orang lebih suka membanding-bandingkan dan menjelek-jelekan agama orang lain. Mereka lebih banyak membicarakan agama orang lain dibandingkan membicarakan agama sendiri dan juga membicarakan moral perilaku para pengikutnya sendiri. Jika seperti itu perilakunya, kapan bangsa kita bisa bersatu? Kita merasa para penjajah zaman dahulu menggunakan politik “devide et impera”, memecah belah bangsa. Akan tetapi kita tidak sadar bahwa saat ini perbuatan kita sendiri telah memecah belah bangsa……. Bangsa ini menghadapi suatu penyakit ganas yang siap merusak tubuhnya. Kita tidak sadar tindakan kita sendiri telah membuat tubuh menderita sakit parah di masa depan. Jika tidak ada apresiasi terhadap agama lain, jika tak segera ditangani, seakan-akan kita menunggu waktu saja….. Bukankah orang yang berbeda agama adalah bangsa Indonesia juga? Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika seakan-akan sudah tidak digunakan sebagai alat pemersatu lagi. Semoga para pemuka agama mempunyai kesadaran berbangsa dan menyebarkannya ke seluruh umatnya. Kita rindu sosok Gus Dur yang mencintai bangsanya………

Sang Istri: Bapak Anand Krishna mendukung Gerakan Integrasi Nasional, National Integration Movement (NIM). Orang-orang Indonesia dari berbagai latar belakang agama, suku, etnis, gender dan pendidikan yang punya kepedulian tinggi terhadap masalah persatuan dan kesatuan bangsa. NIM merespon atas adanya ancaman terhadap integrasi bangsa, terutama yang disebabkan karena pertikaian atas nama agama dan etnis, di berbagai wilayah Indonesia. Berbekal hati nurani dan akal sehat, NIM bermaksud mengkritisi sekaligus memberi sumbangan tenaga dan pikiran atas berbagai soal yang muncul di masyarakat, pada setiap aspek, kehidupan, yang dinilai membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa – untuk kemudian disuarakan secara lugas, jelas dan terbuka…….  Proklamasi kemerdekaan fisik oleh para founding fathers di tahun 1945 dan diteruskan melalui pembangunan di segala bidang kehidupan, bukanlah sebuah proses yang sudah selesai. Lebih mendasar dari itu, kemerdekaan jiwa bagi setiap anak bangsa harus terus diwujudkan dan diperbaharui, sebagai pondasi utama dalam membangkitkan Indonesia, yang akan memainkan peranan aktif menuju sebuah masyarakat dunia yang tidak mengenal diskriminasi dalam bentuk apapun. Visi yang digunakan adalah satu bumi, satu langit dan satu umat manusia…….. Mereka yang tidak setuju akan kebhinekaan nampaknya menyerang beliau….. Di Pakistan pun beberapa tokoh moderat yang menghormati minoritas difitnah melakukan pelecehan sosial dan bahkan ada yang dibunuh…… Semoga masyarakat sadar……. Baca lebih lanjut