Merindukan Keadilan Hukum Di Tengah Kemerosotan Kesadaran Yang Terjadi Di Tengah Bangsa


Sepasang suami istri tengah bercengkerama membicarakan kemerosotan kesadaran yang terjadi di tengah bangsa.

Sang Suami: Para penegak hukum pasti paham adanya suatu rekayasa, mereka tentu paham telah terjadi konspirasi dalam sidang kasus pelecehan seksual bagi Bapak Anand Krishna,  tapi mereka membiarkan saja. Mereka pasti berkilah berpegang pada dasar legal-formal yang sebenarnya juga tidak kuat. Bukankah yang berkuasa penuh adalah mereka, bukankah mereka berhak secara penuh menafsirkan kejadian. Berbagai upaya sudah dilakukan, mengikuti sidang yang berlarut-larut, akan tetapi setelah 5 bulan sidang berjalan, Bapak Anand Krishna  malah ditahan. Puasa adalah upaya terakhir yang dilakukan oleh Bapak Anand Krishna……… Bapak Anand Krishna tokoh spiritual lintas agama Indonesia sejak 9 Maret 2010 melakukan puasa mogok makan sebagai wujud protesnya terhadap hukum di Indonesia. Bapak  Anand Krishna di laporkan oleh mantan muridnya atas tindak pelecehan seksual. Tanpa adanya visum, tanpa adanya saksi-saksi yang melihat sendiri terjadinya pelecehan seksual tersebut, Bapak Anand di jadikan tertuduh dan di adili di persidangan. Kesaksian mereka yang bersaksi terhadap kejadian tersebut berubah-ubah. Namun proses persidangan sendiri tidak kalah janggalnya dengan proses pemeriksaan Bapak  Anand Krishna hingga di tetapkan menjadi tersangka, dimana persidangan hanya 10% saja yang menyangkut kasus pelecehan seksual, selebihnya adalah perihal pemikiran dan aktivitas Bapak Anand Krishna sebagai pejuang pluralisme. Sehingga timbul dugaan kasus pelecehan seksual tersebut sengaja di timbulkan sebagai pintu gerbang  untuk membungkam visi dan misi Bapak Anand Krishna yaitu menegakan plularisme di Indonesia. Semenjak penetapan penahannya itu Bapak Anand Krishna melakukan protes puasa mogok makan, meski kondisi fisiknya terus menurun beliau tetap bertekat untuk terus melakukan protesnya tersebut hingga penetapan penahannya itu di cabut, dan proses persidangannya di jalankan dengan seadil-adilnya.

Sang istri: Kita sangat sedih melihat kejadian yang jauh dari kebenaran yang secara nyata telah terjadi di tengah bangsa kita. Secara sederhana pikiran manusia hanya dikelompokkan dalam tiga kegiatan utama: yang disenangi dilakukan, yang tidak disenangi dijauhi dan di luar itu cuek, acuh tak acuh. Mereka yang sadar akan melakukan kebenaran sebagai hal yang disukai. Kemudian mereka menjauhi ketidak benaran. Dan, mereka tidak bersikap cuek terhadap kejadian yang terjadi di tengah masyarakat. Diri mereka adalah bagian dari masyarakat tersebut…….. Akan tetapi  bagi sebagian anak-anak bangsa yang berada dalam keadaan tidak sadar. Mereka menyukai kenyamanan hidup walau untuk itu harus melakukan ketidakbenaran. Mereka menjauhi hal yang membahayakan kenyamanan hidup walau hal tersebut melawan kebenaran. Dan, mereka acuh terhadap penderitaan orang lain yang teraniaya, asal mereka tidak terkena…… Oleh karena itu semua peraturan legal formal digunakan berdasarkan ketidak sadaran mereka, walau tindakan mereka telah mencederai kebenaran. Mereka hidup dalam pikiran dan nafsu kenyamanan duniawi dan lupa bahwa apa yang diperoleh dunia ini tidak akan dibawa pada waktu jatah hidup mereka di dunia habis. Hanya kebaikan dan tindakan mulialah yang dibawa sebagai bekal di kehidupan setelah kehidupan dunia saat ini berakhir.

Sang Suami: Aku ingat sebuah artikel yang kuperoleh dari “dunia maya” yang intinya…….. Hukum dan Keadilan perlu disatukan. Hukum dan keadilan itu merupakan sesuatu yang berdiri sendiri-sendiri. Pada satu sisi hukum adalah peraturan dan pada sisi lain keadilan yang berdiri sendiri. Padahal keduanya memiliki hubungan yang tidak terpisahkan. Sebab ruh hukum adalah keadilan. Saat ini yang terasa adalah masih jauhnya kesenjangan antara hukum dan keadilan.  Masyarakat sangat berharap agar penegakan hukum lebih mencerminkan keadilan bagi masyarakat…….. Berbagai putusan pengadilan belum memberikan rasa keadilan bagi masyarakat. Satjipto Rahardjo menilai dominasi pemahaman hukum yang terjadi saat ini cenderung legalistic-positifistik. Satjipto berkeyakinan bahwa hukum itu not only stated in the book tetapi juga hukum yang hidup di masyarakat (living law). Realitas yang ada menunjukan fenomena moralitas berbenturan dengan formalitas hukum yang menjemukan, melelahkan dan melukai rasa keadilan masyarakat. Hukum yang ditegakkan para penegak hukum hanyalah mencerminkan keadilan formal, bukan keadilan substantif. Hukum itu diciptakan bukanlah semata-mata untuk mengatur, tetapi lebih dari itu, untuk mencapai tujuan luhur, yakni keadilan, kebahagiaan dan kesejahteraan rakyat. Keadilan adalah tujuan tertinggi.

Sang Istri: Iya suamiku, ada 3 hal penting: Pertama, hukum hanyalah sensasi yang semata-mata berkarakter subjektif, bahwa demokratis tidaknya, atau populis tidaknya suatu aturan hukum akan tergantung pada corak kekuasaan (siapa yang memangku kekuasaan). Kedua, ide tentang keadilan yang merefleksikan objektivitas (keadilan objektif ; proporsional) merupakan omong kosong alias sesuatu yang tidak mungkin, atau mustahil – siapapun yang berkehendak pada hukum yang adil, niscaya akan berhadapan dengan kesulitan yang besar. Ketiga, siapa yang mematuhi hukum sejalan dengan apa yang dikehendaki penguasa, akan berada dalam posisi yang menguntungkan – keadilan adalah apa yang secara subjektif dipandang sebagai adil oleh penguasa, sekalipun masyarakat beranggapan sebaliknya.

Sang Suami: Pada saat hukum telah menjauh dari rasa keadilan masyarakat, maka eksistensi dan legitimasi hukum patut dipertanyakan. Ketika birokrasi institusi hukum hanya menghasilkan produk-produk ketidakadilan, maka yang harus ditinjau ulang adalah cara berhukum itu sendiri. Cara berhukum yang benar adalah dengan menerima bahwa hukum itu juga tumbuh berkembang dalam interaksi masyarakat dan  mengakui bahwa hukum ada tidak semata-mata untuk dirinya sendiri, tetapi untuk tujuan dan makna sosial yang melampaui logika hukum. Dengan cara berhukum seperti ini maka kepercayaan masyarakat terhadap hukum akan pulih kembali. Oleh karenanya tugas dari pelaku hukum dan ahli hukum dalam konteks Indonesia dewasa ini adalah bagaimana mencapai keadilan hukum, bukan melulu kepastian hukum. Masyarakat sangat menunggu adanya hukum yang berpihak kepada kebenaran.

Sang Istri: Socrates menyebutkan bahwa “dalam nurani tiap insan bersemayamlah keadilan yang hakiki atau sesungguhnya – di situ mereka mendengar bagaimana irama dari degup jantung yang merah, bersih dan suci. Hanya dengan degupan yang bersih, organ yang suci ini (nurani) menjadi terlindungi dari kungkungan kabut keserakahan, kelicikan, kecurangan dan lain sebagainya. Hukum serta perasaan keadilan dalam pengertian yang sesungguhnya itu hanyakan ditemukan di dalam nurani tiap-tiap insan, dan ia akan selalu mendampingi, terutama manakala mereka akan menetapkan atau mengambil sebuah keputusan (termasuk putusan hukum itu sendiri)……. Para pencari keadilan telah menganggap keadilan melekat pada hukum yang dibentuk oleh negara. Padahal hukum adalah pedang bermata dua. Hukum bisa menjadi sebuah acuan yang paling adil dan paling mengayomi, tapi juga bisa digunakan sebagai alat untuk mendefinisikan kekuasaan dan kepentingan. Sehingga akan ada pihak yang menjadi korban dari hukum yang tidak adil, karena hukum dapat mengklaim kebenaran-kebenaran sampai ranah yang tidak terbatas. Bagaimana hukum akan digunakan, entah untuk tujuan baik atau tidak baik (dalam artian hukum disalah gunakan) adalah tergantung bagaimana hukum dibentuk dan siapa yang memiliki kekuasaan untuk membentuk hokum.

Sang Suami: Aku meng-“quote” dari file di dunia maya……. Perintah bagi hakim untuk menegakan keadilan dapat dilihat dalam perintah Allah SWT yaitu bahwa “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (An Nisaa’, QS. 4: 58). “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat”. (An Nisaa’, QS. 4: 105). “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatan. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.” (An Nisaa’, QS. 4: 135). “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Maa-idah, QS. 5: 8)……. Semoga para hakim mendapatkan hidayah untuk menjalankan amanah berdasarkan kebenaran……

Terima kasih Bapak Anand Krishna yang tak pernah lelah membangkitkan kesadaraan bangsa. Semoga Allah SWT selalu melindungi…….

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

Maret 2011

Iklan

2 Tanggapan

  1. Kezaliman, ketidakadilan dan kekejaman di sekitar kita harus dihentikan. Tidak bisa berharap seorang nabi diutus untuk membersihkan masalah yang kita buat sendiri. Kita harus berdiri dan bergerak! Berdiri saja dengan cukup. Kita harus bertindak, dan menjadi aktivis. Seorang kritikus kerjanya mengkritik, dan dia berhenti di situ. Seorang penulis ya menulis, dan juga berhenti di situ. Analis juga begitu. Banyak orang yang memiliki kemampuan seperti itu, namun tetap saja dengan terjadi perubahan yang berarti. Mengapa? Karena dengan berhenti. Dengan tidak berdiri, tidak bergerak; tidak bertindak dan menjadi aktivis. Kita tidak kekurangan humanis yang merasakan dan menangisi penderitaan umat manusia. Namun itu saja tidaklah cukup. Kita harus menghapus air mata itu. Michael Jackson membujuk kita untuk menjadi aktivis, “berdiri, bergerak” untuk menyembuhkan dunia ini… *The Gospel of MJ halaman 39
    Cukup masuk ke http://www.facebook.com/#!/BebaskanAK….. Please!
    Atau please sign http://www.gopetition.com/petition/43856.html
    Salam Indonesia!

  2. Bapak Anand Krishna ditahan oleh hakim sebelum adanya keputusan. Ada 3 hal mengapa seseorang bisa ditahan: 1 . Takut menghilangkan barang bukti, 2. Takut melarikan diri, 3. Takut mengulangi lagi perbuatannya. Beliau tidak melakukan ke-3 hal tersebut. Justru beliau sangat kooperatif selama ini. Fakta persidangan pun tidak menunjukkan sama sekali bahwa ada indikasi terjadinya pelecehan seksual. Jadi bagaimana bisa terjadinya “pengulangan”?selain itu ketetapan penahanan juga cacat hukum karena hakim “menduga keras”! dalam bahasa hukum berarti hanya feelingnya doang! Mana bisa! Itu sudah tidak menggunakan azas praduga bersalah. Inilah mengapa Bapak Anand Krishna memperjuangkan keadilan. Karena ini sebenarnya sudah menyerang minoritas. Hakim telah menyalahgunakan kekuasaannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: