Masih Adakah Kemanusiawian Di Rimba Belantara Ketidaksadaran Yang Terjadi Di Tengah-Tengah Bangsa?


Mencermati Ketidakadilan Dalam Sidang Pengadilan Bapak Anand Krishna

 

Sepasang suami istri bercengkerama di depan sebuah laptop di rumahnya. Mereka membaca dan merenung atas  email, status dan note para sahabat-sahabatnya yang selalu meng-update kondisi Bapak Anand Krishna yang sedang melakukan mogok makan mulai tanggal 9 Maret 2011. Sudah menginjak hari ketujuh.

Sang Istri: Suamiku, pada waktu kita browsing di dunia maya kebetulan menemukan artikel tentang 10 besar permasalahan bangsa ( http://korandemokrasiindonesia.wordpress.com/2009/12/11/10-besar-permasalahan-bangsa-indonesia-di-tahun-2009/ ). Masalah utama di Indonesia versi Koran Anak Indonesia tahun 2009 tersebut yang berada di tempat kedua teratas adalah Adalah Korupsi dan Ketidak Percayaan masyarakat terhadap Lembaga Peradilan dan  Penegak hukum. Nampaknya kedua hal tersebut masih relevan pada saat ini…….

Sang Suami: Benar istriku, Bapak Anand Krishna tokoh spiritual lintas agama Indonesia sejak 9 Maret 2010 melakukan puasa mogok makan sebagai wujud protesnya terhadap hukum di Indonesia. Bapak  Anand Krishna di laporkan oleh mantan muridnya atas tindak pelecehan seksual. Tanpa adanya visum, tanpa adanya saksi-saksi yang melihat sendiri terjadinya pelecehan seksual tersebut, Bapak Anand di jadikan tertuduh dan di adili di persidangan. Kesaksian mereka yang bersaksi terhadap kejadian tersebut berubah-ubah. Namun proses persidangan sendiri tidak kalah janggalnya dengan proses pemeriksaan Bapak  Anand Krishna hingga di tetapkan menjadi tersangka, dimana persidangan hanya 10% saja yang menyangkut kasus pelecehan seksual, selebihnya adalah perihal pemikiran dan aktivitas Bapak Anand Krishna sebagai pejuang pluralisme. Sehingga timbul dugaan kasus pelecehan seksual tersebut sengaja di timbulkan sebagai pintu gerbang  untuk membungkam visi dan misi Bapak Anand Krishna yaitu menegakan plularisme di Indonesia. Semenjak penetapan penahannya itu Bapak Anand Krishna melakukan protes puasa mogok makan, meski kondisi fisiknya terus menurun beliau tetap bertekat untuk terus melakukan protesnya tersebut hingga penetapan penahannya itu di cabut, dan proses persidangannya di jalankan dengan seadil-adilnya.

Sang Istri: Sepengetahuanku, ada 3 hal mengapa seseorang bisa ditahan: 1 . Takut menghilangkan barang bukti, 2. Takut melarikan diri, 3. Takut mengulangi lagi perbuatannya. Beliau tidak melakukan ke-3 hal tersebut. Justru beliau sangat kooperatif selama ini. Fakta persidangan pun tidak menunjukkan sama sekali bahwa ada indikasi terjadinya pelecehan seksual. Jadi bagaimana bisa terjadinya “pengulangan”?selain itu ketetapan penahanan juga cacat hukum karena hakim “menduga keras”! dalam bahasa hukum berarti hanya berdasar feelingnya saja! Mana bisa! Itu sudah tidak menggunakan azas praduga bersalah. Inilah mengapa Bapak Anand Krishna memperjuangkan keadilan. Karena ini sebenarnya sudah menyerang minoritas. Hakim telah menyalahgunakan kekuasaannya.

Sang Suami: Aku baru saja membuka file tentang pandangan wartawan senior Mochtar Lubis pada tahun 1977, tentang Ciri-Ciri Manusia Indonesia. Dua ciri teratas ciri manusia Indonesia adalah ciri yang pertama hipokrisi atau munafik. Kalau ditawari sesuatu akan bilang tidak, namun dalam hatinya berharap agar tawaran tadi bisa diterima. Hampir semua orang mengutuk korupsi, tapi dia sendiri melakukan KKN. Ciri kedua manusia Indonesia, segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya. Atasan menggeser tanggung jawab atas kesalahan kepada bawahan dan bawahan menggeser kepada yang lebih bawah lagi. Menghadapi sikap ini, bawahan dapat cepat membela diri dengan mengatakan, saya hanya melaksanakan perintah atasan…….  Saat ini sudah 34 tahun berlalu namun kondisi tersebut tidak berubah kalau tidak dikatakan semakin parah. Kemajuan pembangunan bisa terlihat tetapi kemajuan ruhani anak-anak bangsa belum bergeming, belum beranjak sejak dulu. Pada prinsipnya terjadi kemunafikan dan ketidakjujuran di tengah bangsa, demikian juga dalam bidang hukum dan peradilan bangsa.

Sang Istri: Sebenarnya mass media mempunyai peran strategis untuk meningkatkan kesadaran bangsa. Pertama mass media adalah jendela bagi masyarakat agar bisa melihat suatu peristiwa. Kedua, mass media sebagai cermin yang dapat merefleksikan kejadian sebenarnya. Ketiga, mass media sebagai filter penjaga layak atau tidaknya sebuah berita diterbitkan. Keempat, mass media sebagai pemandu, penunjuk arah bagi masyarakat dengan pembuatan opini. Kelima, mass media sebagai forum umpan balik dan komunikasi interaktif. Isi dan informasi yang disajikan, mempunyai peran yang signifikan dalam proses sosial. Isi media massa merupakan konsumsi otak bagi khalayaknya, sehingga apa yang ada di media massa akan mempengaruhi masyarakat. Gambaran tentang “realitas” yang dibentuk oleh isi media massa inilah yang nantinya mendasari respon dan sikap khalayak terhadap berbagai objek sosial. Informasi yang salah dari media massa akan memunculkan gambaran yang salah pula tentang suatu peristiwa. Karenanya media massa dituntut menyampaikan informasi secara akurat dan berkualitas. Kualitas informasi inilah yang merupakan tuntutan etis dan moral penyajian mass media.

Sang Suami: Aku ingat beberapa gelintir media pernah melupakan amanahnya pada salah satu kasus yang terkenal “penghakiman oleh mass media”. Ini pernah terjadi dan menimpa seorang yang sekarang diberi gelar masyarakat pahlawan pluralisme, Gus Dur, Presiden RI ke-4. Beliau waktu itu diberitakan telah melakukan perzinahan dengan seorang janda, bahkan ada fotonya segala saat beliau sedang memangku sang janda. Namun, akhirnya terbukti juga menurut seorang pakar informasi bahwa foto tersebut cuma rekayasa komputer. Tuduhan ini, tak sekalipun dibuktikan melalui proses hukum yang adil. Apakah ada pihak mass media, yang telah memberitakan tuduhan tanpa bukti itu meminta maaf kepada Gus Dur? Semoga kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi, kami yakin akan komitmen mass media.

Sang Istri: Untuk itu aku ingat sebuah pandangan mendasar tentang manusia. Dalam buku “Otak Para Pemimpin Kita, Dialog Carut Marutnya Keadaan Bangsa”, Anand Krishna dkk, One Earth Media, 2005, disampaikan……… Kembali pada insting dasar…. Institusinya ada di otak. Lembaga yang mengendalikannya adalah bagian otak yang disebut Lymbic. Bagian ini yang menciptakan gairah atau drive. Dorongan nafsu serta keinginan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar kita, insting-insting hewani kita, berasal dari Lymbic. Saat ini, hidup kita masih didominasi oleh insting-insting hewani. Seolah kita hidup semata-mata untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Berarti kita baru beda penampilan dari binatang. Insting kita masih sama. Mereka memiliki insting hewani dan berpenampilan seperti hewan. Kita memiliki insting hewani, tapi berpenampilan seperti manusia. Boleh dibilang kita adalah binatang, hewan berkedok manusia. Kita baru berpura-pura menjadi manusia. Sungguh munafik!

Sang Suami: Baik istriku mari kita berdiskusi dengen referensi buku “Otak Para Pemimpin Kita, Dialog Carut Marutnya Keadaan Bangsa” tersebut……. Manusia memiliki bagian otak yang disebut Neo Cortex. Neo berarti “baru”, dan bagian ini memang “baru” dimiliki oleh hewan “jenis manusia”. Setidaknya dalam bentuk yang jauh lebih sempurna dari hewan. Neo Cortex inilah yang menciptakan sistem nilai dan bertanggung jawab pula atas pengembangan intelektualitas kita. Terdorong oleh Lymbic, hewan hidup secara alami. Kebutuhan mereka pun seolah terjatah. Berdasarkan kebutuhan, Lymbic mendorong mereka untuk makan dan minum secukupnya. Tidak lebih, tidak kurang. Dari film dokumenter tentang singa atau macan.Ternyata mereka hanya mencari mangsa dalam keadaan lapar. Kemudian, buruannya pun tidak dimakan sekaligus. la menyimpannya di dalam gua, dan memakannya sedikit demi sedikit sesuai dengan kebutuhannya. Intelenjensia binatang masih sangat rendah. la baru mampu memahami, “apa” yang harus dimakannya, apa yang tidak; “siapa” yang harus dikawininya, siapa tidak. Dan, pilihan mereka masih sederhana sekali, antara jantan dan betina. Kebutuhan insting itu kita penuhi sebatas kemampuan dan kekuatan kita. Bila tidak mampu, ya makan apa saja, minum apa saja, tidur di atas tikar saja. Tetapi, bila mampu, kita mencari makanan dan minuman yang lezat, ranjang yang empuk dan seterusnya. Selama kita tidak mampu, tidak memiliki cukup sarana, nafsu kita “seolah” masih terkendali. Insting-insting hewani kita “terasa” terkendali.  Padahal sama sekali tidak demikian. Coba diberi kesempatan menjadi pemimpin, menjadi penguasa  lalu lihat apa yang terjadi!? Insting-insting hewani di dalam diri, nafsu, semuanya bergejolak. Semuanya mengajukan tuntutan mereka masing-masing.

Sang Istri: Bila kita hidup semata-mata untuk memenuhi kebutuhan insting, maka sesungguhnya kita masih animal, binatang. Taruhlah binatang plus, karena kita sudah berbadan seperti manusia. Juga karena kita sudah memiliki mind yang cukup berkembang, mind yang dapat menciptakan. Kita mampu menghiasi, memoles insting-insting kita. Kita bisa mengelabui orang lain. Sehingga binatang di dalam diri kita menjadi lebih buas, lebih bengis dan lebih ganas dari binatang beneran. Kebuasan binatang masih terbatas, kebuasan kita tak terbatas karena ketakterbatasan kemampuan mind kita. Manusia juga merupakan satu-satunya jenis makhluk yang hidup di bumi ini dan mampu berkembang terus. Pohon Kenari sepuluh juta tahun yang lalu seperti itu, sekarang pun sama. Tidak terjadi perubahan apa. Anjing pun demikian, dari dulu begitu, sekarang pun sama. Lain halnya dengan manusia. Dulu la hanya bisa membuat kapak dari batu. Sekarang bisa membuat pesawat tempur. Dulu la tinggal di dalam gua, sekarang di dalam rumah. Dulu rumahnya biasa, sekarang mewah. Species manusia berkembang terus, berevolusi terus. Dengan Lymbic yang masih hewani pun, kita tetap berkembang. Hasilnya: Animal Plus, Binatang Plus. Perkembangan diri kita masih belum holistik, belum menyeluruh. Hewan di dalam diri barangkali menjadi sedikit lebih jinak, tetapi belum menjelma menjadi manusia. Hanya segelintir saja di antara kita yang berhasil memanusiakan dirinya…….

Sang Suami: Semoga para manusia Indonesia mampu mengendalikan insting-insting hewaninya dan berkembang sifat-sifat manusiawinya……. tidak berarti kita tetap diam. Aku Ingat pesan dalam buku “The Gospel of Michael Jackson”,………. Kezaliman, ketidakadilan dan kekejaman di sekitar kita harus dihentikan. Tidak bisa berharap seorang nabi diutus untuk membersihkan masalah yang kita buat sendiri. Kita harus berdiri dan bergerak! Berdiri saja dengan cukup. Kita harus bertindak, dan menjadi aktivis. Seorang kritikus kerjanya mengkritik, dan dia berhenti di situ. Seorang penulis ya menulis, dan juga berhenti di situ. Analis juga begitu. Banyak orang yang memiliki kemampuan seperti itu, namun tetap saja dengan terjadi perubahan yang berarti. Mengapa? Karena dengan berhenti. Dengan tidak berdiri, tidak bergerak; tidak bertindak dan menjadi aktivis. Kita tidak kekurangan humanis yang merasakan dan menangisi penderitaan umat manusia. Namun itu saja tidaklah cukup. Kita harus menghapus air mata itu. Michael Jackson membujuk kita untuk menjadi aktivis, “berdiri, bergerak” untuk menyembuhkan dunia ini……. Heal the World….. Mamasuh Malaning Bhumi, Mangasah Mingising Budhi, Mamayu Hayuning Bawono…….. Menyembuhkan Borok Bangsa, Mengasah Akal-Budi Yang Jernih dan Mempercantik Negeri…….

Terima kasih Bapak Anand Krishna yang tak pernah lelah membangkitkan kesadaraan bangsa. Semoga Allah SWT selalu melindungi…….

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Maret 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: