Mewujudkan Perdamaian Bangsa Ditengah-Tengah Tindakan Kekerasan Yang Cenderung Meningkat Tajam


Mencermati Ketidakadilan Dalam Sidang Pengadilan Bapak Anand Krishna

Sepasang suami-istri sedang berbincang-bincang dengan serius. Mereka membolak-balik file yang ada di laptop. Mereka prihatin dengan tindakan kekerasan yang akhir-akhir ini melanda negeri Indonesia.

Sang Istri: Direktur Eksekutif Wahid Institute, Yenny Wahid, putri Gusdur menilai negara telah gagap menghadapi berbagai kekerasan yang mengatasnamakan agama. Ia mengatakan kekerasan agama seolah telah mendapat legitimasi dan ditolerir oleh negara. Bahkan banyak dari masyarakat yang bersikap diam bahkan ada yang seolah-olah menyetujui. “Ini sikap pembiaran negara. Kenapa seolah-olah negara gagap menghadapi kekerasan, negara seolah-olah bingung bila berhadapan dengan umat,” kata Yenny Wahid dalam Temu Tokoh membahas Ritus Kekerasan Berbasis Agama: Mengapa Terus Terjadi? di Wahid Institute, Senin (28/2/2011). Padahal semua agama menyampaikan pesan-pesan kedamaian. Akibatnya, peristiwa serupa kerap terjadi bahkan telah mengalami peningkatan pada tiap tahunnya…….

Sang Suami: Prof.Dr. Ahmad Syafii Ma’arif sangat gundah dan bertanya mengapa bangsa ini begitu mudah kehilangan kesantunan, keramahan, dan penghargaan terhadap perbedaan. Mengapa sebagai anak bangsa kita mudah marah, tersinggung,merusak milik orang lain, membunuh, dan membakar? Mengapa perilaku kekerasan begitu cepat menjadi model dalam menyelesaikan segala masalah di negeri ini?……. Dan, pula ketika kerukunan beragama retak, selalu saja yang pertama diributkan adalah peraturan, akar persoalan tidak pernah ditangani. Ini adalah ciri khas bangsa kita, meributkan asap tanpa mau bersusah payah mencari sumbernya. Peraturan memang harus diperbaiki, tetapi yang jauh lebih penting adalah  membangun kesadaran untuk menghormati perbedaan keyakinan. Peraturan hanyalah bagian dari usaha membangun iklim kerukunan beragama, tetapi bukan persoalan pokok yang menyulut penindasan kelompok mayoritas terhadap minoritas…….

Sang Istri: Benar suamiku, mengapa tidak ada kerukunan, mengapa tidak ada kedamaian? Karena ada “division”, ada pembagian. Karena ada pembagian maka timbullah friksi, muncullah perkelahian. Pembagian, pengkotak-kotakan sudah terjadi menyeluruh dalam setiap kehidupan manusia, pembagian negara, agama, ras, warna kulit, geografi dan sebagainya. Semua orang menginginkan kedamaian, kebahagiaan, kemakmuran….. akan tetapi hanya kedamaian, kebahagiaan dan kemakmuran bagi kelompoknya dan mengabaikan kelompok lain di luar mereka, itulah sebabnya tidak pernah tercapai perdamaian……. Terlalu banyak pengkotak-kotakan dalam kehidupan, pada hal secara fundamental kita itu sama-sama manusia…… Harus ada transformasi, atau perubahan sikap mental, perubahan “attitude”…….

Sang Suami: Aku ingat buku “The Gospel of Michael Jackson”…… Kemanusiaan itu bukan hitam atau putih, atau keduanya. Kemanusiaan adalah satu. Anak adalah anugrah alam, keajaiban dan misteri. “Goresan” DNA berbeda, namun jika kita menilik cukup jauh ke belakang, kita akan temukan kita semua berasal dari satu sumber yang sama. Atom itu satu. Energi juga satu. Sumber segala kehidupan adalah satu. Perbedaan kita adalah geografis. Perbedaan biologis. Tetapi bukan perbedaan yang prinsipil. Pada dasarnya, kita semua satu. Jadi, kembali lagi pada kita. Bagaimana cara pandang kita? Apakah kita menyadari esensi yang satu dan sama, atau kita hanya melihat perbedaan-perbedaan di permukaan? Tiap orang dari kita adalah unik. Ya benar. Tetapi jangan biarkan keunikan ini memisahkan kita. Marilah kita selalu ingat bahwa pada intinya kita semua satu. Marilah kita rayakan keunikan individual kita. Namun janganlah lupa bahwa lantai dansa adalah satu juga. Kita tidak bisa berdansa tanpa lantai dansa  kesatuan ini. Keunikan tarian kita dapat terlihat hanya karena lantai dansa kesatuan. Tanpa lantai dansa ini, tidak mungkin ada tarian. Sesungguhnya, dalamnya inti, tidak ada hitam atau putih. Hitam dan putih tidak lagi menjadi masalah, atau dipandang sama rata. Melalui lagunya, sebenarnya dia sedang mengundang kita untuk masuk ke dalam diri dan menemukan esensi yang sesungguhnya………

Sang Istri: Itulah suamiku, Bapak Anand Krishna telah mengimplementasikan sebuah model kebersatuan. Sebuah contoh nyata telah dilakukan di Anand Ashram, orang-orang dari berbagai bangsa, suku, ras, berbagai profesi, berbagai usia, berbagai bahasa ibu, berbagai agama dapat bekerja sama meningkatkan kesadaran. Semuanya mempunyai visi satu bumi, satu langit dan satu umat manusia. Inilah contoh konkrit dalam mengimplementasikan “Bhinneka Tunggal Ika”, yang dimaknai “nampaknya beragam, pada hakikatnya satu jua”…… Ketika seorang Kristen mencintai seorang Muslim, atau seorang Buddhis mencintai seorang Hindu, atau seorang Hindu mencintai seorang Muslim, dan saat mereka sungguh-sungguh saling mencintai – hanya dua insan yang saling mencintai – maka mereka melupakan seluruh rintangan yang ada. Daripada bicara tentang Tuhan – yang beda-beda definisinya – lebih baik bicara tentang cinta. Begitu kita bicara cinta, kita mengembangkan rasa kesatuan dengan seluruh umat manusia, maka saat itulah (kita menyadari Kehadiran) Tuhan. Saat itulah semua masalah menghilang…….

Sang Suami: Visi satu bumi, satu langit dan satu umat manusia inilah nampaknya yang dianggap sebagai bagian dari pluralisme sehingga Bapak Anand Krishna mendapatkan ketidak adilan dalam bidang hukum…….. Bapak  Anand Krishna di laporkan oleh mantan muridnya atas tindak pelecehan seksual. Tanpa adanya visum, tanpa adanya saksi-saksi yang melihat sendiri terjadinya pelecehan seksual tersebut, Bapak Anand di jadikan tertuduh dan di adili di persidangan. Kesaksian mereka yang bersaksi terhadap kejadian tersebut berubah-ubah. Namun proses persidangan sendiri tidak kalah janggalnya dengan proses pemeriksaan Bapak  Anand Krishna hingga di tetapkan menjadi tersangka, dimana persidangan hanya 10% saja yang menyangkut kasus pelecehan seksual, selebihnya adalah perihal pemikiran dan aktivitas Bapak Anand Krishna sebagai pejuang pluralisme………. setelah persidangan yang berlarut-larut selama lima bulan yang selalu dilaksanakan beliau secara koperatif, Bapak Anand Krishna malah ditahan. Semenjak penetapan penahannya itu Bapak Anand Krishna melakukan protes puasa mogok makan, meski kondisi fisiknya terus menurun beliau tetap bertekat untuk terus melakukan protesnya tersebut hingga penetapan penahannya itu di cabut, dan proses persidangannya di jalankan dengan seadil-adilnya. Ini adalah upaya terakhir memecahkan kebuntuan hukum dan pada hari ke-8 saat mendatangi sidang beliau pingsan dan dibawa ke rumah sakit……..

Sang Istri: Aku ingat buku berbahasa Inggris “Voice of Indonesia” yang menyampaikan…….. Perdamaian tidak pernah menang melawan kekerasan kecuali beberapa interval singkat dalam sejarah umat manusia. Tetap tenang dan baca ulang sejarah dunia kita dengan fokus penuh, apa yang kita sebut dengan “dunia yang beradab” dan kita akan menemukan dalam setiap dan semua lembar-lembar sejarah ditulis dengan darah, ditulis dalam darah. Perdamaian selalu menjadi sebuah kemewahan. Orang paling berada dan paling religius diantara umat manusia di setiap zaman dapat melakukan pembunuhan dengan alasan apapun. Untuk sebidang tanah, untuk seorang wanita dan untuk apa yang disebut “kehormatan”, demi sebuah kekuasaan – untuk apapun dan semuanya yang dapat dibayangkan oleh seorang. Ya, hal-hal sepele dapat memicu sebuah konflik, sebuah perkelahiran, sebuah pertempuran dan sebuah perang. Dan pihak yang menang akan menulis sejarah sesuka hati mereka. Hal ini sudah berlangsung selama ribuan tahun. Pasti ada beberapa interval pendek-interval yang penuh damai. Tapi interval tersebut tidak mengubah sejarah kita. Bahkan setelah melalui sebuah interval, kita menjadi semakin penuh dengan kekerasan.

Sang Suami: Baik istriku kita berdiskusi memakai referensi buku “Voice of Indonesia”……… Lebih dari 3.000 konflik berdarah, pertempuran dan perang selama 2000 tahun sejarah dunia. Dan sampai saat ini dunia masih dilanda perang. Terdapat konflik di setiap benua. Tidak satu benuapun yang bersih dari konflik. Pertanyaannya adalah: Apa yang sudah kita pelajari dari masa lalu? Barangkali “tidak ada : tidak ada yang kita pelajari. Perdamaian masih tetap menjadi sebuah kemewahan. Perdamaian seperti sebuah “bulan saat berwarna biru” berlangsung. Perdamaian masih merupakan mimpi, yang tetap belum terlaksana……. Menyelenggarakan sebuah dialog, dialog internasional antar umat beragama? Dialog semacam itu sudah ada sejak agama-agama besar di dunia saling berhubungan satu dengan yang lain. Dan tidak banyak yang bisa dicapai dengan hal itu. Di universitas kita, para mahasiswa diajarkan ilmu “perbandingan”. Mereka sangat sibuk membandingkan kebenaran dari agama-agama yang berbeda. Disanapun, tidak ada sesuatu yang terjadi.

Sang Istri: Kekerasan adalah sebuah kualitas bawaan yang buruk yang kita warisi dari sebuah rantai evolusi yang panjang dimasa lalu…….. Dan tidak akan terjadi apapun apabila kita tidak menggali lebih dalam pada kesadaran kita dan menemukan akar penyebab kekerasan. Apa yang membuat kita melakukan kekerasan? Adalah “kelemahan” kita, sebuah jenis “kelemahan” yang mendasar yang dicampur dengan “rasa takut”-yang membuat kita melakukan kekerasan. Kita merasa takut terhadap keberadaan kita; kita mencemaskan keberadaan agama kita. Ini adalah sebuah kepalsuan, kepalsuan dalam sikap kita “mempertahankan diri” – hal ini yang membuat kita menjadi lemah. Kita harus mengatasi ketakutan ini, kelemahan ini. Kita harus melampaui kepalsuan dalam sikap kita mempertahankan diri. Kita jelas tidak mungkin mencapai hal ini, tidak mungkin mencapainya lewat sebuah dialog. Bahkan sebuah dialog akan membawa kita semakin jauh dari pemecahan masalah. Karena, pemecahannya berada dalam diri kita. Dan dialog dilakukan di luar diri kita……

Sang Suami: Kelemahan saya, ketakutan saya, konsep mempertahankan diri saya yang salah semuanya adalah “masalah saya”. Hal ini bukan masalah orang lain. Maka saya tidak dapat memecahkan masalah ini dengan mengadakan dialog dengan seseorang. Mengapa saya merasa sangat lemah dan karena itu tidak berdaya? Mengapa saya merasa seakan-akan seluruh beban untuk mempertahankan agama berada pada pundak saya? Mengapa saya mencemaskan keberadaan agama saya, keyakinan saya? Karena konsep “saya” dan “milik saya” –  yang sudah menyebabkan semua masalah kita……. Dengan mengikatkan diri pada “ego individual” dan rasa kebanggaan diri yang semua-kita menutup mata terhadap kenyataan bahwa dunia ini, alam semesta ini tidak diatur oleh ego saya dan rasa kebanggaan yang semu – kita lupa bahwa ada sebuah intelegensia yang lebih tinggi yang mengatur semua yang ada di alam ini. Keyakinan kita terhadap intelegensia tinggi semacam inilah yang harus dibangkitkan kembali.

Sang Istri: Bicara tentang perdamaian, tidak bisa tidak kita bicara tentang agama. Karena, lebih dari hal yang lain, agama atau sistem kepercayaan sudah sering menjadi alasan dibalik sebuah konflik. Hal ini merupakan sebuah kenyataan seperti yang terjadi 2000 tahun yang lalu. Kita harus dengan serius memperhatikan hal ini. Kita tidak dapat lagi mengabaikan point ini dengan menyatakan bahwa hal ini bukan karena agama, tapi para pelakunya yang bersalah……. Kita harus mengakuinya bahwa dalam agama dan sistem kepercayaan yang kita anut dapat memicu benih-benih kekerasan dalam diri kita. Kita harus mengesampingkan ajaran-ajaran kontekstual yang ada dalam agama kita, karena setiap dan seluruh agama adalah sebuah tanggapan terhadap isu-isu aktual pada jamannya…. Dan kita belajar untuk menghargai nilai-nilai universal yang ada. Nilai-nilai universal yang ada dalam setiap agama. Nilai-nilai universal inilah yang harus kita dukung, kita sebarluaskan dan kita yakini sebagai sari pati semua ajaran keagamaan.Dan dengan semangat saling menghargai inilah kita harus belajar untuk mengenal semua agama yang ada. Pengenalan semacam ini, pembelajaran semacam inilah yang sebaiknya menjadi bagian dari sistem pendidikan kita. Hal ini sebaiknya bagian dari sejarah yang diajarkan secara universal.

Sang Suami: Sejak usia dini, anak-anak kita harus belajar untuk menghormati semua nabi dan utusan dari semua agama. Agama harus melembutkan hati kita, menyembuhkan luka-luka kita dan membersihkan semua kebencian dari pikiran kita-jika tidak maka semua praktek keagamaan menjadi sebuah kesian-siaan. Saat semua dicapai, agama tidak lagi dapat diperalat untuk menciptakan sebuah konflik, ketidakharmonisan dan ketidakteraturan. Apakah dengan hal itu kedamaian akan mewujud kemudian? Tidak, tidak seketika. Tapi paling tidak kita sudah menyingkirkan salah satu penghalang utama dalam mewujudkan perdamaian. Dengan menangani penghalang jenis ini, akan lebih mudah bagi kita untuk menggali lebih dalam pada jiwa kita dan mencabut akar kekerasan.

Terima kasih Bapak Anand Krishna yang tak pernah lelah membangkitkan kesadaraan bangsa. Semoga Allah SWT selalu melindungi…….

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Maret 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: