Mewaspadai Pemrograman Anak-Anak Bangsa Menjadi Pendukung Kekerasan Yang Militan


Mencermati Ketidakadilan Dalam Sidang Pengadilan Bapak Anand Krishna Dan Penyerangan Terhadap Para Tokoh Yang Memperjuangkan Pluralisme

Sepasang suami-istri sedang berbincang-bincang dengan serius. Mereka membolak-balik file yang ada di laptop. Mereka prihatin dengan tindakan kekerasan yang akhir-akhir ini melanda negeri. Setelah konflik meletus dalam kasus Ahmadiyah di Cikeusik Pandeglang Banten, perusakan gereja di Temanggung, perusakan komunitas muslim di Pasuruan dan baru saja kiriman bom bagi Ulil Ashar Abdalla, Yapto, Gories Mere dan Ahmad Dhani.

Sang Suami: Istriku, perhatikan tulisan seorang sahabat dari Pakistan di FB tentang kondisi penuh kekerasan di Pakistan yang tak ada habis-habisnya…….. Ambil seorang anak lelaki kecil dan tempatkan dia di madrasah terpencil. Jauhkan dia dari masyarakat dan halangi dia agar tidak berinteraksi dengan manusia. Doktrin dia dengan agama versi yang ekstrim dan ceritakan bahwa dia bukan milik dunia. Ajari dia tentang dunia indah  yang menunggunya di surga,  dan bahwa dalam rangka mencapai surga dia harus memusnahkan semua hal yang menghalanginya, termasuk tubuh miliknya…… Pada saat dia berusia enam belas, anak ini telah menjadi lebah jantan: pria yang bukan manusia. Selain remaja segar, mereka adalah pemuda-pemuda patuh semacam Cyborg (Cybernetic Organism) di film-film action, tetapi mereka benar-benar manusia, yang siap meledakkan diri atas pesanan khusus……. Berkembang pesat  di Pakistan, ini adalah eksperimen menakutkan dalam pencucian otak dan setaraf apabila tidak lebih buruk daripada perbaikan keturunan versi Nazi Jerman. Mereka berbuat atas nama ilmu pengetahuan; dan di Pakistan, dilakukan atas nama Tuhan dan Agama. Dalam skala yang sangat besar, keberhasilan eksperimen yang luar biasa ini mempertahankan kemenangan secara alami……… “Beri saya anak lelaki usia tujuh tahun, dan saya akan memperlihatkan padamu manusia tersebut setelah dewasa,” ujar kaum Jesuit zaman dulu. Mungkin sangat sinis, kata-kata kaum Jesuit tersebut, akan tetapi, faktanya tidak ada orang yang lebih memahami kerentanan otak anak kecil selain para pendeta. Di satu pihak, kita menyaksikan kewaspadaan orang tua kala guru datang ke rumah mengajar kitab suci kepada anak-anak mereka; dan di pihak lain ada orang-orang tua dari masyarakat yang sama yang memberikan anaknya ke madrasah yang dikelola pengajar sebelum anaknya berusia tujuh tahun, bahkan sampai mencapai usia 14 atau 15 atau selamanya……….  Anak-anak kami menghadapi ketakutan masa depan bukan karena Taliban, mereka sangat sedikit, tetapi karena gelombang agama ultra konservatif yang telah melanda negara ini. Madrasah-madrasah terpencil mungkin mengubah anak-anak lelaki menjadi lebah jantan. Ada ribuan madrasah di seluruh pedesaan Pakistan yang memproduksi lebah-lebah baru yang mungkin tidak semuanya menjadi pelaku bom bunuh diri tetapi tetap tidak selaras dengan kehidupan dunia. Anak-anak ini perlu diselamatkan. Demikian cerita sahabat dari Pakistan…… Semoga putra-putri bangsa segera bangkit untuk memperbaiki kondisi saat ini…….

Sang Istri: Mungkin belum separah itu di negeri kita, walaupun demikian ada baiknya para orang tua waspada……. Sejak kecil, anak-anak sudah dimasukkan dalam sekolah dengan azas agama tertentu, diminta belajar mengaji pada mereka yang mungkin saja ada yang mengajarkan kekerasan. Ada saja yang mengajari bahwa teman sesama agama adalah saudara. Mereka tanpa sadar mengucilkan teman-temannya yang berbeda agama. Dan ini sudah berjalan lama, pemahaman sewaktu kecil ini akan dibawa-bawa hingga anak-anak dewasa. Mereka lupa kita semua adalah satu saudara dan hidup di bumi Indonesia. Kita diberi makan-minum, tempat tinggal, pekerjaan di bumi Indonesia, akan tetapi kita tidak sadar ada tindakan kita yang membawa masalah bagi bangsa. Bukan masalah kecil tetapi masalah besar bagi kebersatuan bangsa…….. Sebagian dari anak-anak kecil ini setelah dewasa merasa benci terhadap agama lainnya. Dapat kita lihat di internet diskusi tentang perbedaan agama, sudah sangat mengkhawatirkan. Majalah-majalah yang bernuansa religius pun banyak yang isinya menyebar kebencian pada agama yang lain, belum lagi selebaran yang diperuntukkan bagi kalangan sendiri. Mantan pengikut suatu keyakinan  bila memberikan kesaksian di depan kelompok keyakinan yang baru, seperti barisan sakit hati yang haus popularitas. Kita tidak pernah sadar hal tersebut membahayakan eksistensi bangsa.

Sang Suami: Memang banyak orang lebih suka membanding-bandingkan dan menjelek-jelekan agama orang lain. Mereka lebih banyak membicarakan agama orang lain dibandingkan membicarakan agama sendiri dan juga membicarakan moral perilaku para pengikutnya sendiri. Jika seperti itu perilakunya, kapan bangsa kita bisa bersatu? Kita merasa para penjajah zaman dahulu menggunakan politik “devide et impera”, memecah belah bangsa. Akan tetapi kita tidak sadar bahwa saat ini perbuatan kita sendiri telah memecah belah bangsa……. Bangsa ini menghadapi suatu penyakit ganas yang siap merusak tubuhnya. Kita tidak sadar tindakan kita sendiri telah membuat tubuh menderita sakit parah di masa depan. Jika tidak ada apresiasi terhadap agama lain, jika tak segera ditangani, seakan-akan kita menunggu waktu saja….. Bukankah orang yang berbeda agama adalah bangsa Indonesia juga? Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika seakan-akan sudah tidak digunakan sebagai alat pemersatu lagi. Semoga para pemuka agama mempunyai kesadaran berbangsa dan menyebarkannya ke seluruh umatnya. Kita rindu sosok Gus Dur yang mencintai bangsanya………

Sang Istri: Bapak Anand Krishna mendukung Gerakan Integrasi Nasional, National Integration Movement (NIM). Orang-orang Indonesia dari berbagai latar belakang agama, suku, etnis, gender dan pendidikan yang punya kepedulian tinggi terhadap masalah persatuan dan kesatuan bangsa. NIM merespon atas adanya ancaman terhadap integrasi bangsa, terutama yang disebabkan karena pertikaian atas nama agama dan etnis, di berbagai wilayah Indonesia. Berbekal hati nurani dan akal sehat, NIM bermaksud mengkritisi sekaligus memberi sumbangan tenaga dan pikiran atas berbagai soal yang muncul di masyarakat, pada setiap aspek, kehidupan, yang dinilai membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa – untuk kemudian disuarakan secara lugas, jelas dan terbuka…….  Proklamasi kemerdekaan fisik oleh para founding fathers di tahun 1945 dan diteruskan melalui pembangunan di segala bidang kehidupan, bukanlah sebuah proses yang sudah selesai. Lebih mendasar dari itu, kemerdekaan jiwa bagi setiap anak bangsa harus terus diwujudkan dan diperbaharui, sebagai pondasi utama dalam membangkitkan Indonesia, yang akan memainkan peranan aktif menuju sebuah masyarakat dunia yang tidak mengenal diskriminasi dalam bentuk apapun. Visi yang digunakan adalah satu bumi, satu langit dan satu umat manusia…….. Mereka yang tidak setuju akan kebhinekaan nampaknya menyerang beliau….. Di Pakistan pun beberapa tokoh moderat yang menghormati minoritas difitnah melakukan pelecehan sosial dan bahkan ada yang dibunuh…… Semoga masyarakat sadar…….

Sang Suami: Visi satu bumi, satu langit dan satu umat manusia inilah nampaknya yang dianggap sebagai bagian dari pluralisme sehingga Bapak Anand Krishna mendapatkan ketidak adilan dalam bidang hukum…….. Bapak  Anand Krishna di laporkan oleh mantan muridnya atas tindak pelecehan seksual. Tanpa adanya visum, tanpa adanya saksi-saksi yang melihat sendiri terjadinya pelecehan seksual tersebut, Bapak Anand di jadikan tertuduh dan di adili di persidangan. Kesaksian mereka yang bersaksi terhadap kejadian tersebut berubah-ubah. Namun proses persidangan sendiri tidak kalah janggalnya dengan proses pemeriksaan Bapak  Anand Krishna hingga di tetapkan menjadi tersangka, dimana persidangan hanya 10% saja yang menyangkut kasus pelecehan seksual, selebihnya adalah perihal pemikiran dan aktivitas Bapak Anand Krishna sebagai pejuang pluralisme………. setelah persidangan yang berlarut-larut selama lima bulan yang selalu dilaksanakan beliau secara koperatif, Bapak Anand Krishna malah ditahan. Semenjak penetapan penahannya itu Bapak Anand Krishna melakukan protes puasa mogok makan, meski kondisi fisiknya terus menurun beliau tetap bertekat untuk terus melakukan protesnya tersebut hingga penetapan penahannya itu di cabut, dan proses persidangannya di jalankan dengan seadil-adilnya. Ini adalah upaya terakhir memecahkan kebuntuan hukum dan pada hari ke-8 saat mendatangi sidang beliau pingsan dan dibawa ke rumah sakit……..

Sang Istri: Ada 3 syarat yang harus terpenuhi agar peristiwa kejahatan terlaksana. Syarat pertama: adanya kesempatan, syarat kedua: adanya kemampuan pelaku kejahatan,  dan syarat ketiga: adanya kemauan atau niat dari pelaku kejahatan……. Syarat pertama, seseorang dapat melakukan kejahatan karena mendapatkan kesempatan. Dari manakah kesempatan itu muncul? Dari keamanan yang lemah. Berbagai peraturan dibuat para penyelenggara negara, akan tetapi peraturan tersebut belum dilakukan secara konsekuen?……. Syarat kedua, meskipun ada kesempatan namun bila tidak mempunyai kemampuan, maka tidak mungkin terjadi kejahatan. Tayangan adegan kekerasan, baik dalam bentuk pemberitaan kasus kriminalitas maupun film, bahkan film kartun untuk anak-anak pun bisa membangkitkan potensi kehewanian yang masih ada di dalam diri. Selanjutnya, fasilitas untuk melakukan kejahatan yang mudah diperoleh. Peledakan bom terjadi karena ada kemampuan merakit bom yang didapat dari pengalaman ikut konflik di Ambon dan Poso, demikian menurut berita-berita di tv…… Syarat ketiga adanya niat dari pelaku kejahatan. Niat inilah yang digarap oleh para sutradara kejahatan. Mereka memanipulasi otak terutama kepada anak-anak dari keluarga yang kurang bahagia……

Sang Suami: Dalam buku “The Gospel of Obama” disampaikan…….. Setelah berkembang dari amoeba dan berjuang menjadi makhluk bersel satu, seperti yang diyakini para ilmuwan, kekerasan sudah menjadi tabiat kita. Kekerasan adalah insting hewaniah yang dimiliki seluruh anggota kerajaan hewan. Anti-kekerasan, dan kedamaian bukanlah hal alami bagi kita, belum. Ini adalah potensi tersembunyi manusia, yang harus dimunculkan ke permukaan. Keduanya ibarat biji yang bisa tumbuh menjadi pohon besar, tetapi kita harus merawatnya. Kita harus menyiraminya dengan cinta dan welas asih. Tidak selalu mudah untuk mempraktikan anti-kekerasan. Tetapi, inilah nilai ideal yang harus kita sadari…….. Bapak Anand Krishna menasehati agar masyarakat harus menggunakan seluruh energi untuk menciptakan Masyarakat yang Tercerahkan, “Enlightment Society”. Dengan dilandasi oleh prinsip cinta, perdamaian, dan keselarasan, Love-Peace and-Harmony. Dan, kita harus merealisasika  impian ini, visi ini, melalui cara-cara anti-kekerasan. Kita tidak boleh membenarkan kekerasan untuk mencapai tujuan kita………. Kita bisa “hidup bersama dalam damai”. Rumusnya sederhana: Bebaskan dari  nafsu keserakahan dan kendalikan keinginan. Kita jangan diperbudak oleh keinginan. Fokus pada faktor-faktor pemersatu yang mengikat kita semua sebagai satu keluarga besar. Jangan berfokus pada perbedaan. Yang penting, mari kita kembangkan cinta; mari kita tumbuhkan rasa welas asih antar sesama. Mari kita percaya akan persahabatan, bukan permusuhan…………..Apa pun sukumu, Engkau orang Indonesia. Apa pun agamamu, Engkau orang Indonesia. Terang atau gelap kulitmu, Engkau orang Indonesia. Mancung, pesek, sipit, belo, Engkau orang Indonesia. Aku cinta Kau………….

Sang Isteri: Demi menuju masyarakat baru yang kita cita-citakan itu, kita perlu meneguhkan komitmen untuk menjaga dan mempertahankan keutuhan bangsa dari ancaman disintegrasi yang datang dari dalam maupun luar negeri. Dengan bersenjatakan Pancasila yang merupakan rumusan jenius nilai-nilai luhur budaya bangsa yang tersebar di seluruh penjuru negeri, kita semua, Putra-Putri Ibu Pertiwi, harus bersatu membangkitkan bangsa ini dan membersihkan setiap jengkal tanah air Indonesia dari belukar kesadaran rendah yang tidak mampu melihat kesatuan di balik keragaman budaya Nusantara……

Sang Suami: Dalam konteks ini perlu dipahami, bangsa dan negara hanyalah sebuah konsensus. Bila konsensus tidak lagi diakui, maka eksistensi bangsa dengan sendirinya hilang, dan bersamaan dengan itu negara pun akan rontok. Semoga anak-anak bangsa sadar dan bergerak ke arah persatuan bangsa…….. Semoga……….

Terima kasih Bapak Anand Krishna yang tak pernah lelah membangkitkan kesadaraan bangsa. Semoga Allah SWT selalu melindungi…….

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Maret 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: