Zaman Kegelapan Bagi Dharma Kebenaran Yang Berusaha Tegak Di Tengah-Tengah Ketidakberdayaan Bangsa


Mencermati Ketidakadilan Dalam Sidang Pengadilan Bapak Anand Krishna

Sepasang suami istri sedang berbincang-bincang di beranda rumah mereka.  Mereka prihatin dengan kasus persidangan Pak Anand yang berlarut-larut. Mereka membuka file tentang uraian Pak Anand tentang kondisi zaman dahulu kala yang nampaknya belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan hingga saat ini…..

Sang Suami: Dalam buku “Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara”, Pak Anand menceritakan kisah Raja Parikesit sekitar 5.000 tahun yang lalu yang nampaknya saat ini, masih juga kita menghadapi maslah yang sama……. Dikisahkan setelah Prabu Kresna dan Pandawa meninggal, tinggallah Raja Parikesit cucu Arjuna yang menjadi raja Hastina. Dengan kewaskitaannya, Raja Parikesit seakan-akan melihat “Bunda Dharma” sebagai sapi berkaki satu. Kaki pertama tapa, pengendalian diri sudah rusak karena manusia bertindak tanpa pengendalian diri. Kaki kedua “kesucian diri dalam pikiran, ucapan dan tindakan”. Kesucian pun gugur ternodai keterikatan pancaindera. Kaki ketiga welas asih. Dan, welas asih pun telah musnah karena tertutup oleh hawa nafsu. ……… Hanya tinggal satu kaki yang masih bisa membuat dirinya tegak, yaitu “kaki kebenaran”. Akan tetapi kaki yang tinggal satu “kaki kebenaran” pun sedang diserang oleh Sang Kala Betul-betul memasuki Zaman Kegelapan, Kali Yuga……… Raja Parikesit sangat marah terhadap Sang Kala yang tidak henti-hentinya berupaya menjatuhkan dharma………. “Bunda Bumi” dan “Bunda Dharma” sangat berharap akan diri Sang Raja. Dan, Raja Parikesit menghela napas, “Apakah raja-raja penggantiku di seantero bumi dapat memahami kondisi ini? Banyak manusia akan lalai, tidak waspada terhadap  keadaan genting berbahaya yang tidak disadarinya.  Sang Kegelapan siap menerkamnya dari depan, dari belakang dari atas dan dari bawah dirinya bahkan dari dalam pikirannya. Sang Kala telah mengalir bersama darah dalam tubuhnya. Kebajikan dan kualitas mulia telah meninggalkan diri manusia dengan perginya Prabu Kresna.”

Sang Istri: Iya aku ingat…… Kaki Kebenaran yang masih dapat menegakkan Dharma pun terus dilukai dengan kebohongan oleh Sang Kala…… Seakan Kegelapan atau Sang Kala paham akan pikiran Sang Raja Parikesit. Selanjutnya dia jatuh bersimpuh di depan kaki sang raja, “Hamba tahu, keturunan Arjuna tidak akan menyakiti seorang pemohon yang jatuh di kakinya. Hamba tahu, paduka tidak ingin hamba tinggal di dalam kerajaan paduka. Paduka merasa, sekali saja hamba tinggal maka semua sahabat hamba: ketamakan, kebohongan, pencurian, kejahatan, kemunafikan, pertengkaran dan semua yang menyebabkan keburukan dan kebencian akan ikut menumpang.”…… “Tetapi ijinkan kami berbicara terlebih dahulu. Paduka raja, seluruh bumi telah paduka kuasai. Gusti Yang Maha Kuasa yang menciptakan kebaikan juga menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah bayang-bayang kebaikan. Hamba telah diciptakan, dan hamba tetap membutuhkan ruang agar diri hamba tetap eksis. Berikan hamba tempat di paling sudut yang paling tertutup. Bagaimana pun sudah merupakan bawaan hamba untuk tetap mendatangi pintu-pintu yang dibuka sendiri oleh manusia. Para manusia yang telah mengundang hamba dan sudah menjadi kewajiban hamba untuk tidak menolak undangan mereka”…….. Raja Parikesit, termenung lama, “Ada benarnya juga ucapan Sang Kegelapan.”……  “Baik, kamu harus pergi kecuali manusia membuka pintu untukmu, tetapi pintu-pintu tersebut hanyalah pintu judi,   pintu mabuk, pintu zinah dan pintu pembunuhan.”……… “Mohon tambahkan satu pintu lagi Paduka!”……… “Baik satu pintu lagi, pintu emas, kekayaan. Emas akan menyebabkan ketamakan, kebohongan, keangkuhan, gairah, kebencian dan kebengisan.”…… Sang Kegelapan pergi dan tertawa dalam hati, “Aku hidup selamanya, sedangkan Raja Parikesit terbatas kehidupannya. Dia lupa kondisi manusia limaribu tahun setelah kejadian ini. Hampir seluruh manusia akan kukuasai. Ada beberapa saat, kala seorang suci menebarkan dharma, aku ditinggalkan, akan tetapi tak lama sesudahnya aku akan kembali lagi. Bahkan aku pun akan merasuk dalam ajaran sang suci sehingga setelah dia tak ada, ajaran-ajarannya menjadi sesat. Raja Parikesit tak akan tahu, bahwa akan banyak ajaran berkembang dan musnah selama lima ribu tahun. Dan mereka mengklaim ajaran mereka paling benar. Padahal terbukti ajaran-ajaran kuno telah ditinggalkan, demikian pula ajaran-ajaran baru tanpa pembaharuan akan menjadi kuno dan ditinggalkan juga.”

Sang Suami: Iya inilah adalah pintu-pintu masuknya Sang Kegelapan yang diuraikan dalam buku “Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara”…….. Pintu Pertama, Pintu Judi Pengaruh Kegelapan dapat mengubah apa saja menjadi perjudian. Bank-bank, supermall beramai-ramai memberi hadiah dengan undian. Score pertandingan sepak bola, bahkan pemilihan kepala daerah pun ada suara-suara dijadikan bahan perjudian. Manusia berharap  memperoleh ‘lebih’ daripada apa yang menjadi haknya. Harapan itu spekulasi itu apa lagi kalu bukan berjudi?……… Pintu Kedua, Pintu Mabuk. Pengaruh Kegelapan masuk dalam keadaan manusia yang sedang mabuk. Bukan hanya mabuk narkoba dan minuman keras, akan tetapi mabuk harta, mabuk takhta dan mabuk wanita. Bahkan juga termasuk mabuk spiritualitas merasa paling hebat……… Pintu Ketiga, Pintu Zinah. Bagi Sang Kegelapan, ‘perzinahan’ tidak sebatas penyelewengan yang dilakukan seseorang terhadap pasangannya. Bagi Sang Kegelapan, ‘zinah’ berarti memaksakan kehendak diri. Mewujudkan keinginan dengan cara apa saja. Kadang memaksa dengan cara kasar dan keras. Kadang dengan cara halus, lembut—dengan merayu dan merengek. Menaklukkan hati orang, kemudian memperbudaknya, atau mempengaruhi pikiran orang demi kepentingan diri—semua itu perzinahan, adultery……… Pintu Keempat, Pintu Pembunuhan. Bagi Kegelapan, pintu keempat ini terjadi di mana-mana. Ada yang dibunuh dan ada yang bunuh diri. Ada yang membunuh orang lain, ada yang membunuh nuraninya sendiri. Tidak mendengarkan suara hati merupakan aksi pembunuhan terhadap nurani…….. Pintu Kelima, Pintu Emas. Pintu Harta Berlebihan. Bila uang mengalir, Kegelapan tidak mampu mempengaruhi kesadaran. Bila harta tidak mengalir, berhenti, tertimbun di suatu tempat Sang Kegelapan masuk. Bila harta mengalir, roda ekonomi pun akan berputar dengan baik. Harta berlebihan yang ditimbun, tidak hanya menyusahkan, karena pengaruh Kegelapan dapat menyeret kesadaran ke titik terendah, menyusahkan orang lain. Bahkan menjadi sinterklas pun, telah merampas kemandirian orang lain, karena ketergantungan mereka terhadap diri sang sinterklas………

Sang Istri: Suamiku, apa yang dihadapi Raja Parikesit, sedang dihadapi oleh bangsa kita…… Pak Anand mengajari kita semua untuk meniti ke dalam diri, mencari jatidiri…… Dan setelah pikiran dan pancaindera dapat dikendalikan kepedulian terhadap masyarakat akan semakin besar…… Akan tetapi mengubah pandangan masyarakat itu bukan pekerjaan mudah……. Suamiku, mari kita berdiskusi tentang perbaikan karakter bangsa……

Sang Suami: Baik istriku, dalam buku Genom, Kisah Species Manusia oleh Matt Ridley terbitan Gramedia 2005, disebutkan bahwa Genom Manusia – seperangkat lengkap gen manusia – hadir dalam paket berisi dua puluh tiga pasangan kromosom yang terpisah-pisah. Genom manusia adalah semacam otobiografi yang tertulis dengan sendirinya – berupa sebuah catatan, dalam bahasa genetis, tentang semua nasib yang pernah dialaminya dan temuan-temuan yang telah diraihnya, yang kemudian menjadi simpul-simpul sejarah species kita serta nenek moyangnya sejak pertama kehidupan di jagad raya. Genom telah menjadi semacam otobiografi untuk species kita yang merekam kejadian-kejadian penting sesuai dengan keadaan sebenarnya. Kalau genom dibayangkan sebagai buku, maka buku ini berisi 23 Bab, tiap Bab berisi beberapa ribu Gen. Buku ini berisi 1 Milyar kata, atau kira-kira 5.000 buku dengan tebal 400-an halaman. Dan setiap orang mempunyai sebuah buku unik tersendiri…… “Kesadaran” untuk memperbaiki perilaku itu menjadi modal utama. Potensi kekerasan boleh jadi masih ada dalam genetik suatu bangsa, akan tetapi kita mempunyai pilihan untuk  mengembangkan potensi kekerasan tersebut atau tidak mengembangkannya. Nampaknya kesadaran kolektif bangsa kita belum meningkat. Insting hewani tersisa dalam DNA, seperti mau menang sendiri, memuaskan keserakahan pribadi tanpa kerja keras, seperti terwujud dalam berbagai kasus mafia rekayasa, penggunaan kekerasan, politik uang dalam pemilihan pejabat, rezim keluarga dalam pilkada dan sebagainya masih terjadi seluruh negeri…….

Sang Istri: Dalam buku “Neospirituality & Neuroscience” disampaikan bahwa synap-synap saraf manusia mengantar muatan informasi dari satu sel ke sel lainnya.  Informasi yang melemahkan manusia diinformasikan dari sel ke sel bahkan diwariskan kepada anak keturunannya……. Bila kita sadar dan membombardir diri dengan informasi yang baik, yang memberdayakan jiwa, kita mempunyai kesempatan untuk memperbaiki genetik. Perbaikan karakter bangsa dimulai dari diri sendiri, dan diturunkan kepada anak keturunannya. Kemudian seorang yang sadar, mulai menyebarkan “virus kesadaran”- nya agar orang lain yang kontak dengannya dapat tumbuh kesadaran dari dalam dirinya. Seseorang yang telah sadar membangkitkan benih kesadaran dalam diri orang lain lewat buku-buku karyanya, lewat  jejaring masyarakat maupun jejaring di dunia maya……. Akan tetapi seseorang yang menyebarkan Kebenaran, selalu mendapat  penentangan dari masyarakat yang masih terbelenggu pola lama dan belum mau berubah. Mereka juga melakukan tindakan repetitif-intensif dengan mengatakan bahwa Kebenaran yang disampaikan seorang pembaharu adalah sesat, mereka memelihara masyarakat agar tidak berubah pandangannya. Dia yang membuka wacana baru tentang Kebenaran diserang dengan berbagai cara. Bukankah Gusti Yesus dipermalukan masyarakat yang berpegang pola lama pada masa itu dengan memberikan hukuman yang paling memalukan pada zamannya? Disuruh memanggul salib yang akan dipakai sebagai tempat penyalibannya? Bukankah Baginda Rasul dan semua nabi di awal kerasulan/kenabiannya juga mendapat tentangan dari masyarakat? Bukankah Galileo Galilei yang mengatakan bumi mengelilingi matahari pun hampir dihukum mati karena masyarakat pada zamannya belum dapat memahami pandangannya?

Sang Suami: Menjadi “sadar” itu tidak mudah, karena kita tidak pernah menyadari bahwa kita telah dibelenggu oleh pola pikiran akibat warisan genetik. Seseorang yang mempunyai warisan genetik dari orang tua, kakek-nenek bahkan beberapa generasi sebelumnya yang menganggap keyakinannya paling benar, dalam dirinya sudah terbentuk genetik yang menganggap keyakinan tersebut paling benar. Usaha mengubahnya tentu tidak mudah. Seseorang yang sejak balita, dimana perkembangan otaknya paling maksimal bahkan pada perkembangan awal sampai usia lulus sekolah dasarnya didikte bahwa keyakinannya paling benar, maka sudah terbentuk pola pikiran bawah sadar yang hampir stabil. Itulah sebabnya ketika membaca artikel yang dapat diperoleh di dunia maya: “Ketika Para Koki Digusur Tukang Sayur: Menumbuhkan Sikap Kritis dalam Beragama”, terungkap bahwa banyak mahasiswa cerdas dan para profesor pengkonsumsi makanan rohani “sajian para koki kelas internasional” tunduk pada ucapan “para tukang sayur” yang kurang kompeten dalam penyajian masakan…….. Para mahasiswa cerdas dan beberapa profesor tersebut “tidak berani” keluar dari kungkungan pola lama yang telah membelenggunya. Ada benarnya…….. banyak orang pandai yang takut bersuara, karena statusnya sebagai “public figure”, mereka nyaman dalam “comfort zone”. Dan mereka takut pada “para tukang sayur” yang bersuara keras……. Mereka lupa comfort zone mereka hanya zona kenyamanan yang semu, mereka akan sadar setelah memahami kondisi di Pakistan yang penuh kekerasan dan penuh ketidaktenangan….. Semoga tidak terjadi…….

Sang istri: Kembali ke masalah Pak Anand…… ada 3 hal mengapa seseorang bisa ditahan: 1 . Takut menghilangkan barang bukti, 2. Takut melarikan diri, 3. Takut mengulangi lagi perbuatannya. Pak Anand tidak melakukan ke-3 hal tersebut. Justru selama ini sangat kooperatif. Fakta persidangan pun tidak menunjukkan sama sekali bahwa ada indikasi terjadinya pelecehan seksual. Jadi bagaimana bisa terjadinya “pengulangan”? Selain itu ketetapan penahanan juga cacat hukum karena hakim “menduga keras”! dalam bahasa hukum berarti hanya berdasar feelingnya saja! Itu sudah tidak menggunakan azas praduga bersalah. Inilah sebabnya mengapa Pak Anand memperjuangkan keadilan dengan puasa yang menyebabkannya pingsan pada hari kedelapan……..

Sang Suami: Seorang sahabat membandingkan kasus dugaan pelecehan seksual Pak Anand dengan film “Indictment : The  Mc Martin Trial”, sebuah film yang diangkat dari sebuah kisah nyata. Sahabat tersebut menulis bahwa dia melihat pola yang sangat mirip dengan kasus yang menimpa Bapak Anand Krishna. Mulai dari awal munculnya kasus dimana sang terapis mengaku sudah memberikan terapi kepada TR lebih dari 40 kali selama 3 bulan dan tidak ada kontak dengan dunia luar (dikarantina) hingga kemudian disimpulkan bahwa TR mengalami pelecehan seksual. Sesuatu yang terasa ganjil, mengapa TR baru mengaku mengalami pelecehan setelah diterapi? Dan setelah ditelusuri, ternyata terapisnya lulusan PIO (Psikologi Industri dan Organisasi), sertifikat terapi yang konon dari Universitas Maryland, tidaklah diambil secara langsung namun dengan mengikuti kuliah jarak jauh (sama dengan universitas yang diambil oleh terapis dalam film). Setahu dia, pelecehan seksual adalah salah satu kasus klinis yang harus ditangani minimal seorang psikolog lulusan klinis dewasa yang sudah mempunyai pengalaman terapi bertahun-tahun, bukannya lulusan PIO, yang mengambil sertifikat hypnoterapi dengan sistem jarak jauh karena tidak semua kasus dapat diselesaikan dengan hypnotherapy. Salah-salah, yang terjadi justru bukan membangkitkan memori yang terkubur, tapi justru malah membuat memori yang ada menjadi bias atau distorsi sehingga yang muncul justru persepsi yang salah terhadap suatu peristiwa apalagi dari pengakuan terapis sampai dilakukan puluhan kali…… Dari stimulus ini, bisa berkembang persepsi yang keliru yang kemudian berkembang menjadi suatu beliefs yang tertanam melalui suatu proses terapi secara intensif dan repetitif seperti terapi puluhan kali dan pasien tidak boleh kontak dengan dunia luar. Namun sekali lagi, karena memang peristiwa itu tidak pernah terjadi, akhirnya informasi yang disampaikan pun menjadi berubah-ubah seperti yang terjadi di persidangan. Dia menjadi lebih yakin setelah membaca berbagai artikel mengenai kasus-kasus nyata terkait dengan false memory implant yang terjadi di luar negeri. Keyakinan dia bertambah setelah membaca hasil penelitian Mazzoni, et.all (1999) mengenai bagaimana seorang therapist bisa menanamkan memori palsu terhadap pasien (http://www.spring.org.uk/2008/02/therapists-can-implant-false-beliefs.php). Kesamaan lain dari kasus Mc Martin Trial dalam film indictment adalah kasus ini besar karena peran media. Belum ada keputusan hukum, pihak Pak Anand sudah di hakimi bersalah oleh masyarakat. Padahal proses hukum masih berjalan, dan belum ada keputusan yang resmi. Sepertinya, istilah “asas praduga tak bersalah” itu hanya slogan kosong belaka. Persis sama dengan apa yang dialami oleh keluarga Mc Martin. Dalam kasus ini jelas bukan Pak Anand yang diserang, tapi kebhinekaan, pluralisme, multikulturalisme………

Terima kasih Pak Anand yang tak pernah lelah membangkitkan kesadaraan bangsa. Semoga Allah SWT selalu melindungi…….

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Maret 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: