Bangsa Yang Menjadi Kasar Dan Keras Karena Telah Kehilangan Rasa Empati


Sepasang suami istri berbicara di depan laptop yang terhubung dengan dunia maya yang dapat memberikan gambaran dunia dalam sekejap.

Sang Suami: Ada yang merasa bangga di panggil sebagai wakil rakyat, akan tetapi apakah mereka dapat merasakan penderitaan rakyat yang diwakilinya? Buktinya mereka membangun gedung trilyunan rupiah dari uang rakyat yang sangat berguna untuk mensejahterakan rakyat?…… Ada contoh lain yang masyarakat kurang begitu peduli…… Baru saja aku baca…

http://megapolitan.kompas.com/read/2011/03/30/17583980/Anand.Krishna.Keluar.Rumah.Sakit

http://www.detiknews.com/read/2011/03/30/190721/1605134/10/dinyatakan-pulih-anand-krishna-kembali-ke-rutan-cipinang

…..Contoh yang dialami orang yang dianggap biasa yang pada umumnya orang tidak peduli akan beritanya, padahal beliau sedang berjuang demi bangsanya. Pak Anand Krishna telah diperlakukan dengan tidak adil, sidang pengadilan yang sedang berjalan selama lebih dari 5 bulan, yang menyangkut pelecehan seksual yang dituduhkan kepada beliau hanya sekitar 10%, yang lainnya memeriksa pandangan beliau tentang kebhinnekaan. Yang 10 % pun belum ada buktinya, karena saksinya berubah-ubah seperti layaknya sandiwara. Pak Anand tetap menjalaninya dengan patuh. Akan tetapi tiba-tiba, hakim minta pak Anand ditahan. Bang Buyung (Adnan Buyung Nasution) pun sampai mengatakan hakim ceroboh. Pak Anand tidak mau emosional, beliau melakukan protes dengan caranya puasa makan yang sampai hari ini sudah hari ke 23. Kala penahanannya mencapai tujuh hari yang berarti beliau sudah puasa makan selama tujuh hari, beliau tetap datang ke sidang pengadilan dan beliau pingsan. Beliau memang menderita komplikasi jantung, gula, maag, tekanan darah tinggi dan pernah mengalami leukimia. Beliau dibawa ke RS Fatmawati, kemudian dipindahkan ke RS Polri Kramat Jati. Tiba-tiba beliau yang masih puasa makan dan masih diinfus dipindahkan kembali ke Rutan Cipinang…. Astaghfirullah……

Sang Istri: Nenek moyang mengajarkan sebuah kaidah emas: “Tepo-sliro” – “Jangan melakukan suatu tindakan yang kamu tidak suka tindakan tersebut dilakukan terhadapmu”……. Inilah empati……. Kita merasakan satu dengan orang lain dan identitas yang memisahkannya lenyap. Hausnya orang lain menjadi haus kita, laparnya orang lain menjadi lapar kita, sukacitanya orang lain menjadi sukacita kita. Keterhubungan hati yang sangat dalam. Kita bisa bisa bepikir aku Hindu, aku Buddha, aku Muslim, aku Kristen, Aku Indonesia, Aku China, Aku Amerika, “tetapi itu kerja mind bukan kerja hati”. Hati kita tak mempunyai identitas yang berbeda-beda. Hati adalah hati…… dan nenek moyang kita selalu berkata “hati-hati”, bukan “pikir-pikir”…….

Sang Suami: Empati sudah sangat jarang empati terjadi sehingga manusia telah kehilangan rasa kemanusiaannya. Kehilangan empati menjadikan kita makhluk yang tidak spiritual. Kita hanya bisa simpati. Simpati berarti aku menaruh rasa kasihan terhadapmu. Empati berarti aku merasakan penderitaanmu. Mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing dan menjawab sendiri pertanyaan itu. Jangan lupa, kita semua, pada suatu ketika, harus mempertanggungjawabkan setiap perbuatan kita. Amal-ibadah, dana-punia, apa pun yang kita lakukan, hanya mengantar kita hingga satu tertentu. Perjalanan selanjutnya kita lakukan sendiri, dan setiap anggota badan, jiwa, pikiran, serta perasaan kita akan dimintai pertanggunganjawab……….. Manusia baru bisa disebut “beragama” jika ia berakhlak. Tanpa akhlak yang penuh kasih dan empati – manusia tidak lebih baik dari hewan. Peng-“agama”-an adalah sebuah proses yang harus diupayakan terus-menerus. Manusia tidak dapat diagamakan hanya dengan dipaksa untuk beribadah, berpakaian, beratribut atau berpenampilan dengan cara tertentu. Tidak, tidak bisa. Peng-“agama”-an Manusia Indonesia berarti mengembalikan dirinya kepada nilai-nilai luhur yang telah ditinggalkannya selama ini, kepada Jati dirinya………

Sang Istri: Sekarang sudah zaman modern, cukup cari berita polling, support seseorang yang tengah dizalimi. Minimal kita sudah bersuara….. banyak orang yang takut, karena ini menyangkut hal yang peka antara mereka yang bersuara keras agar bangsa kita seragam dan mereka yang dipojokkan yang mengusung kebhinnekaan. Apa pun alasannya, nyatanya sebagian besar bangsa kita sudah kehilangan emapati, sudah mengabaikan nasehat nenek moyang: “Jangan melakukan suatu tindakan yang kamu tidak suka tindakan tersebut dilakukan terhadapmu”.

Sang Suami: Kehilangan empati menyebabkan bangsa kita semakin keras, semakin kasar. Aku ingat buku “Tao Teh Ching Bagi Orang Modern”…….. Kita sudah terbiasa memilah: yang ini batiniyah, yang ini lahiriyah. Bagaimana kita dapat memisahkan yang lahiriyah dan yang batiniyah? Kita bicara soal persatuan, keadilan sosial, dan toleransi antar agama, dan begitu banyak hal yang lain. Namun, begitu kena hasutan sedikit, Anda pun langsung siap membunuh dan dibunuh. Kita begitu cepat merasa resah. Kita begitu cepat terganggu. Pernahkah kita merenungkan, di mana kesalahannya? Selama ini kita diajar untuk memisahkan yang rohani dari yang duniawi. Sesuatu yang mustahil. Ritual yang kita lakukan beberapa kali setiap hari di tempat-tempat ibadah harus diterjemahkan sebagai kasih nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kita membunuh sesama, membakar tempat-tempat ibadah mereka, mengacaukan ketenteraman sosial mengakibatkan kerugian bagi negara dan bangsa, bertindak tanpa perikemanusiaan. Esok harinya kita kembali berdoa lagi – siapa yang hendak kita bodohi? Tuhan Yang Maha Mengetahui?

Sang Istri: Aku ingat sebuah wejangan bijak…… Empati adalah Ungkapan Kasih. Dan, kita harus mulai dengan diri sendiri. Kita harus mulai berempati pada wakil rakyat yang masih belum puas dengan gaji yang puluhan juta per bulan. Ada apa dengan mereka? Ketika kita berempati dengan mereka, kita menemukan bahwa mereka bergaul dengan orang-orang yang tidak menunjang kesadaran mereka sebagai wakil rakyat. Mereka berkonferensi di hotel-hotel mewah untuk membahas soal kemiskinan – mereka tidak dekat dengan rakyat. Mereka tidak dekat dengan Ibu Pertiwi. Mereka tidak dekat dengan bangsa Indonesia. Maka, kedekatan dengan institusi bernama negara menjadi sia-sia. Ketika kita memisahkan negara dari bangsa, maka negara menjadi sapi perah. Kesadaran kita terpusatkan pada bagaimana menciptakan sebuah proyek dan bagaimana menghasilkan keuntungan bagi diri……… Sebab itu, mari kita terlebih dahulu belajar berempati terhadap mereka yang tidak memahami arti empati. Kemudian dengan landasan empati itu, kita menegur mereka. Menjewer telinga mereka jika tidak sadar juga, maka demi empati terhadap kepentingan yang lebih luas, kita harus belajar dari kesalahan di masa lalu. Jangan memilih seorang wakil atau seorang pejabat hanya karena aliansi politiknya, latar belakang agamanya – tetapi atas dasar rasa empati dirinya terhadap masyarakat luas…….. Sesungguhnya ungkapan “menumbuhkan empati” tidak begitu tepat. Empati terjadi dengan sendirinya ketika ada cinta di dalam dirinya. Empati adalah ungkapan cinta. Dan cinta selalu memberi – memberi dan memberi. Selama seorang wakil rakyat atau pejabat negara masih tergantung pada apa yang dapat diperolehnya dari negara – maka jelas dia belum bercinta dengan negara. Dia belum mencintai bangsa ini. Bagi dia kedudukan sebagai wakil rakyat atau pejabat negara – adalah sebuah profesi. Padahal kedudukan sebagai wakil rakyat atau pejabat negara bukanlah sekedar profesi. Ini adalah sebuah pengabdian.

Sang Suami: Aku ingat buku “Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan”…… Jika tetangga tidak bisa tidur karena lapar, energinya yang terganggu itu sudah pasti mempengaruhi pola energi di rumah kita. Itu sebabnya Gibran menganjurkan, “Cobalah dengan tetanggamu.” Anda tidak serumah dengan dia, tetapi juga tidak jauh dengan dia. Dekat, tapi jauh. Jauh, tapi dekat. Dan, mencintai seorang tetangga sungguh sulit! Kahlil Gibran justru menjadikan “cinta dan simpati terhadap tetangga” sebagai tolok ukur sederhana mengenai “kasih” Anda. Ia tidak bicara tentang “bantuan”. Ia tidak bicara tentang “charity”, tentang sumbangan atau sedekah. Ia sedang bicara tentang “rasa”. Sedekah pun dapat anda berikan tanpa rasa kasih. Sumbangan pun dapat anda berikan untuk cari muka. “Charity” pun dapat anda lakukan untuk menjadi tenar. Melihat kemajuan tetangga, ikut bahagiakah anda? Atau justru iri? Anda harus jujur dengan diri sendiri. Apabila anda ikut berbahagia dan tidak iri, maka betul, anda menaruh simpati terhadap tetangga. Anda mengasihi dia. Dan kasih semacam itulah yang disebut Gibran lebih mulia daripada kebajikan yang anda lakukan di salah satu sudut biara. Lalu, mampukah anda menyebar-luaskan kasih semacam itu?

Sang Istri: Yang membuat mereka jahat adalah kelemahan diri mereka. Yang membuat seseorang melacurkan diri adalah kurangnya rasa percaya diri. Dan yang membutuhkan perhatian, kepedulian, kasih, justru mereka-mereka ini. Kasih menuntut agar kita “mengasihi” tetangga kita, demi “kasih” itu sendiri. Inilah Kebenaran! Kebenaran tidak pernah memecah-belah. Kebenaran selalu mempersatukan. Tetapi, kata Kahlil Gibran: Seorang pencari Kebenaran akan selalu menderita. Upayanya untuk mengungkapkan Kebenaran itu kepada masyarakat luas akan mengundang penderitaan……. Beliau tahu persis hal ini, karena itu pula yang terjadi terhadap diri beliau. Kendati demikian, beliau tidak mundur selangkah pun………..

Sang Suami: 23 hari bertahan tanpa makan merupakan perjuangan tanpa kekerasan yang sangat luar biasa dan tidak mungkin dilakukan oleh mereka yang mementingkan dirinya sendiri……

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Maret 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: