Menanti Saat Jatuhnya Buah Tindakan Kejahatan Di Tengah Bangsa


Sepasang suami istri berbicara di depan laptop yang terhubung dengan dunia maya yang dapat memberikan gambaran dunia dalam sekejap.

Sang Istri: Alam ini penuh misteri yang bila dinalar kadang kita menjadi frustasi. Coba lihat apa yang terjadi pada panggung pertunjukan bangsa. Seorang pencuri ayam yang sudah menderita kekurangan selama hidupnya mendapatkan sangsi hukuman badan, belum lagi sewaktu ditangkap sudah babak belur dipukuli masyarakat, sedangkan mereka yang bergelimang kenyaman sepanjang hidupnya dan ketahuan bersalah hanya dihukum ringan. Kita ingin alam bertindak adil secara instan, tetapi rupanya alam punya mekanisme tersendiri. Kata leluhur kita, semuanya ada “saat”-nya.

Sang Suami: Ada beberapa pandangan tentang keadilan dalam bidang kemakmuran masyarakat. Ada kelompok manusia yang menyatakan bahwa secara alami ada individu yang kuat dan ada individu yang lemah, oleh karena itu kekuasaan tidak perlu ikut campur, biarlah yang kuat mendapatkan porsi sesuai kemampuannya, tidakkah itu sudah adil?  Dan kita lihat misalkan Pemerintah mengusahakan kenaikan pendapatan 10%, maka yang berpendapatan Rp 2 juta naik Rp 200 ribu sedangkan yang berpendapatan Rp 100 juta naik Rp 10 juta. Kenaikan harga kebutuhan sehari-hari sekitar 15 % tidak terasa bagi yang bergaji besar, tetapi sangat terasa bagi yang berpendapatan kecil….. Ada pandangan lain, sebaiknya pendapatan sama untuk semua orang sehingga tidak terjadi jurang perbedaan. Akan tetapi karena yang malas dan yang rajin berpendapatan sama, terasa juga ketidakadilannya….. Ada juga kelompok yang mengambil kepantasan minimum, mereka yang berpenghasilan rendah harus dapat hidup layak, bila menganggur harus disubsidi pemerintah, sedangkan yang berpenghasilan tinggi biarlah mendapatkan sesuai prestasinya…… Bagaimana pun semua sistem tersebut mempunyai kelemahan dan tergantung juga pada pelaku sistem tersebut apakah dia konsekuen atau tidak…… Yang lebih parah lagi ada yang berbicara hal yang menyenangkan pada tingkat wacana agar mendapat citra yang baik, akan tetapi pelaksanaannya amburadul.

Sang Istri: Realita yang terjadi di dunia, rejeki dan keberuntungan tiap orang tidak sama dan tidak selalu yang terkuat menjadi yang paling beruntung. Apakah ada aturan alam yang mendasarinya? Aku teringat pesan leluhur siapa yang menanam benih dia akan memetik buahnya. Menanam padi menunggu 4 bulan baru panen. Menanam biji pohon mangga menunggu 6 tahun baru panen. Menanam pohon jati menunggu 25 tahun baru panen. Setiap saat manusia menanam benih, kapankah “saat” benih kebaikan atau benih keburukan panen? Pertanyaannya mengapa yang jahat semakin meraja lela dan yang baik terpojok. Aku membaca berita file-file di  http://freeanandkrishna.com/

Pak Anand sampai puasa makan yang menginjak hari ke-27. Tidak mungkin seseorang yang mementingkan diri sendiri mampu melakukan perbuatan itu, padahal beliau tahu dia telah menderita komplikasi penyakit yang parah. Coba baca salah satu file di  

http://megapolitan.kompas.com/read/2011/04/01/11405895/Pendukung.Anand.Tuntut.Hakim.Diganti

Sang Suami: Kita melihat beberapa penguasa dan dinastinya yang terlampau lama berkuasa di Timur Tengah yang dilanda krisis. Kita belajar dari sejarah berapa lama Hitler berkuasa. Banyak sekali contoh tentang berapa lama kekuasaan para penguasa, akan tetapi sebetulnya penghitungan bagi negara itu hitungannya bukan dalam tahun tetapi dalam abad. Sriwijaya berkuasa lebih dari 10 abad, Majapahit 3-4 abad, Demak beberapa tahun, penjajahan Belanda 3.5 abad. Bukankah kejayaan para Pharaoh di Mesir, Negara Atlantis ataupun Imperium Romawi yang bertahan beberapa abad pun mengalami penurunan…… Dikisahkan bahwa setelah perang Bharatayuda usia, Sri Krishna memberi tahu raja Drishtaratha yang buta dan kehilangan 100 putranya dalam medan perang Kurukshetra, bahwa 50 kali kehidupan sebelumnya, dia sebagai seorang pemburu pernah membunuh anak-anak burung di sebuah hutan, dan juga membutakan mata burung-burung dewasa dengan asap bara apinya. Untuk menjadi raja dan mendapatkan 100 putra dia harus lahir 50 kali dan memperoleh karma-karma baik, sebelum akibat karma buruk perbuatannya datang menerpa…….

Sang Istri: Tuhan tidak menganiaya hambanya, perbuatan dirinya sendirilah yang menjadi sebab penderitaannya. Ada hukum sebab-akibat yang bersifat pasti di dunia ini. Mereka yang paham dan menghayati adanya hukum sebab-akibat ini tindakannya akan lebih baik, akan tetapi dia tetap harus waspada, nafsu yang berkobar dapat menutupi kesadaran tersebut…. Tetapi itu bagi kita, para manusia yang hidupnya berada dalam dualitas. Tidak demikian bagi mereka yang suci. Kita tetap tidak dapat menjelaskan…. misalnya mengapa Gusti Yesus disalib….. Mengapa Sang Buddha diracun…. Mungkin saja para suci memberi pelajaran lewat tindakannya yang kita tidak dapat memahaminya…. Kemungkinan mereka melakukan Kehendak-Nya dan bukan kehendak pikiran mereka…..

Sang Suami: Aku ingat sebuah wejangan bijak…… Dalam Dhammapada Buddha jelas sekali mengatakan bahwa jika seorang pelaku kejahatan berupaya mencelakakan orang yang tidak bersalah, maka ia sendiri yang akan celaka. Lalu apa yang kita lihat selama ini dan di sekitar kita? Seolah pelaku kejahatan bisa merajalela, dan mereka yang tidak bersalah bisa seenaknya dianiaya. Untuk itu Buddha menjelaskan dalam bahwa ada juga perbuatan-perbuatan jahat yang “belum matang”. Ketika buah kejahatan itu matang, maka ia jatuh sendiri. Tinggal tunggu waktu. Segala penganiayaan dan kezaliman yang terjadi pada diri kita, marilah kita tetap mengirimkan getaran kasih kepada para pelakunya, karena mereka bodoh. Mereka tidak tahu bahwa pada suatu ketika mereka akan terhancurkan oleh perbuatan mereka sendiri. Di saat yang sama kita juga mesti menolak kejahatan, tidak berkompromi, dan melindungi diri dari pengaruh jahatnya.

Sang Istri: Bagaimana pun juga kejahatan adalah kejahatan, kalau kita membiarkan kejahatan merajalela maka kita bersalah terhadap bukan saja diri sendiri tapi juga terhadap pelaku kejahatan yang akan makin tidak sadar dan makin banyak orang tercelakakan olehnya. Maka kita harus menghadapi kejahatan secara tegas, tapi dengan cara kasih dan tanpa kekerasan….. itulah yang dicontohkan Pak Anand kepada kita semua……

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Maret 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: