Cuci Otak Individual dan Cuci Otak Massal


Sepasang suami istri kembali berbicara dari hati ke hati mengenai program cuci otak yang tengah menjadi perbincangan hangat  di tengah masyarakat.

Sang Suami: Istriku, aku baru saja membaca berita online di:

http://www.detiknews.com/read/2011/04/11/120943/1613251/10/teknik-cuci-otak-ke-lian-cara-lama-penyebaran-ideologi

Teknik cuci otak seperti yang menimpa Lian Febriani (26) bisa dilakukan oleh siapa pun karena mudah dipelajari. Teknik cuci otak seperti inilah dinilai cara mudah untuk menyebarkan ideologi seseorang. “Ini cara lama. Cuma kali ini entry point-nya saja yang berbeda. Banyak orang yang belajar teknik seperti ini,” kata seorang hipnoterapis. Sang hipnoterapis menjelaskan teknik cuci otak ke Lian yakni dengan memberikan minimal 10 fakta dan 1 ide. Seorang target atau sasaran cuci otak akan diberi minimal 10 fakta apa pun di sekelilingnya. Si korban tentu akan membenarkan fakta-fakta yang diberikan orang tersebut. Setelah itu, pencuci otak akan memberikan idenya. Ide ini nantinya tidak akan bisa ditolak oleh korban. “Jadi otak manusia itu akan hang jika dicekoki dengan banyak hal. Misalnya saya bilang ini hari Senin, dijawab ya. Terus berlanjut fakta lainnya. Sampai akhirnya saya bilang nanti malam nonton yuk. Orang itu tidak akan menolaknya,” jelasnya…….

Tidak ada hal kebetulan di dunia ini. Coba kita sekarang lihat fakta persidangan Pak Anand yang sarat dengan masalah penanaman memori palsu, nama lain dari cuci otak……. Sesi Terapi yang diberikan pada Tara oleh Terapisnya sangat overdosis (45 kali dalam kurun 3 bulan) sehingga diduga bisa terjadi penanaman memori palsu secara sengaja, maupun tidak sengaja yang terkenal dengan sebutan cuci otak. Tara diisolasi dari dunia luar selama 3-4 bulan oleh terapisnya. Adanya unsur pengarahan yang diakui terapis ketika melakukan terapi pada Tara. Lihat berkas lengkap… di http://freeanandkrishna.com/

Terjadinya inkonsistensi pada Kesaksian Tara, yang berbeda-beda dari BAP 1 dan BAP 2 dan kesaksiannya di dalam sidang pengadilan. Gejala inkonsistensi kesaksian/pengakuan ini merupakan dampak langsung dari terjadinya Penanaman Memori Palsu. Misalnya dalam Surat Dakwaan tertulis : (1) Tempat Kejadian di Fatmawati, tapi di persidangan dikatakan oleh pelapor terjadi di Ciawi. (2) Waktu Kejadian antara April – Juni 2009, tapi di persidangan, pelapor ingat waktunya adalah tanggal 21 Maret 2009. Ini adalah bentuk inkonsistensi akibat Penanaman Memori Palsu atau Cuci Otak. Saksi Ahli Hipnoterapi yang ditampilkan mengaku TAAT UANG di dalam sidang pengadilan. Semoga Sang Ahli hipnoterapi dapat berkata jujur sesuai pengetahuannya di depan sidang pengadilan dan bukan karena dihipnotis oleh uang.

Sang Istri: Ilmu medis mengakui adanya kebiasaan-kebiasaan dan kecenderungan-kecenderungan khas yang ada dalam diri manusia. Stimulus atau rangsangan yang dilakukan berulang kali membentuk synap-synap saraf  baru dalam otak. Sesuatu hal yang dilakukan berulang kali menjadi sebuah kebiasaan. Kebiasaan yang dilakukan berulang kali menjadi perilaku dan bahkan karakter. Sesudah karakter terbentuk, maka setiap masalah yang dihadapi akan diselesaikan berdasarkan program yang telah menjadi karakter tersebut. Karakter tersebut sudah menjadi bagian dari Otak Bawah Sadar manusia……. Tanpa sadar telah terjadi conditioning dari programming  dalam masyarakat …… Cuci Otak Massal…… Sirkuit synap-synap saraf otak  hasil conditioning oleh orang tua, masyarakat, pendidikan, adat-istiadat, agama, iklan mass media dan lain sebagainya telah menjadi lebih permanen, stabil dan sulit dihilangkan. Dalam bahasa meditasi, inilah yang disebut mind. Manusia diperbudak oleh belenggu mind conditioning tersebut dan tidak bebas lagi untuk mengekspresikan dirinya.

Sang Suami: Setelah pikiran bawah sadar manusia terkondisi, maka dia pun akan selalu ingin memenuhi kebutuhan yang dianggapnya benar……. Manusia yang serakah, berbudaya tak kunjung cukup, keadaannya sama dengan orang yang kecanduan obat-obatan. Ketagihan oleh narkotika atau oleh uang, seks dan lain-lain, mekanismenya sama: dosisnya harus bertambah terus. Ketagihan stimulus pemenuh nafsu atau “property addict” persis sama dengan “narcotic drug addict”. Kecanduan kekerasan pun juga keadaannya tidak jauh berbeda…… Hal yang nampak nyata pada waktu seseorang mengalami “addiction”, adalah bahwa dia memenuhi kepentingan diri pribadi atau kelompoknya dan tidak peduli dengan orang lain. Sifat egois dirinya sangat menonjol, walau bisa berbungkus apa saja bahkan bisa berbungkus pembelaan terhadap Tuhan…… Seorang pejabat bank multinasional menggelapkan uang nasabah hanya memikirkan diri dan keluarganya dan tidak peduli dengan nasabah dan nama baik bank tempatnya bekerja….. Sekelompok orang yang merusak rumah dan membunuh beberapa orang dari kelompok minoritas, tidak peduli dengan kelompok lain dan tidak peduli dengan nama kelompoknya yang akan dikenal sebagai kelompok yang keras…… Satu orang anggota dewan yang melihat film esek-esek di tengah sidang hanya memikirkan kesenangannya dan tidak peduli dengan ratusan ribu rakyat yang diwakilinya dan tidak peduli dengan partainya yang dikenal sebagi pendukung UU Pornografi…… Para petugas negara berani menyalahgunakan wewenang yang diberikan kepadanya, karena pikiran bawah sadar mereka telah terhipnotis oleh uang dan ketakutan akan kemiskinan……. Itu semua terjadi dalam bawah sadar seseorang yang telah mengalami cuci otak massal .

Sang Istri: Aku ingat buku “Tetap Waras di Jaman Edan, Visi Ronggowarsito Bagi Orang Modern” yang menyampaikan bahwa………. Komputerisasi umat manusia sudah terjadi sejak ribuan tahun yang lalu. Mereka yang berkuasa, mereka yang menjadi pemimpin, mereka yang berada pada pucuk pemerintahan telah melakukan programming. Tentu saja, programming ini harus menguntungkan mereka, kita hidup dalam ketidaksadaran. Sepertinya dibawah pengaruh hipnotis massa. Tindakan, ucapan, pikiran bahkan perasaan kita pun sesuai dengan programming yang telah diberikan kepada kita……..

Sang Suami: Dalam buku “Dari Syari’at Menuju Mohabbat, Sebuah Dialog”  juga disampaikan…….. Kebiasaan menerima “kebenaran siap-saji” dapat disalahgunakan oleh penguasa, oleh imam agama apa saja. Kemudian, manusia menjadi robot. Ia dapat “disetel”, dapat “diprogram”, dapat diarahkan untuk berbuat sesuai dengan program yang diberikan kepadanya. Ini yang dilakukan oleh “para otak teroris”. Lewat lembaga-lembaga pendidikan agama yang mereka gelar di mana-mana, sesungguhnya mereka memprogram otak-otak yang masih segar, dan mematikan kemampuannya untuk ber-ijtihad. Kemudian, dengan sangat mudah mereka memasukkan program Jihad versi mereka”. Dan terciptalah sekian banyak pelaku bom bunuh diri yang siap membunuh siapa saja yang menurut programming mereka bertentangan dengan agama, dengan syariat, dengan apa yang mereka anggap “satu-satunya kebenaran.”

Sang Istri: Mereka semua telah mendapatkan pelajaran agama yang mengajarkan agar mereka tidak melakukan sesuatu yang  mereka tidak suka bila orang melakukannya kepada mereka. Bedanya pelajaran “tepa-slira” dan menghormati tetangga (seseorang atau sebuah kelompok di luar keluarga atau kelompoknya) itu hanya sebatas pengetahuan dan tidak dilakukan secara repetitif intensif…… Yang dilakukan secara repetitif intensif yang membentuk pola pikiran bawah sadar mereka adalah kenikmatan materi, bila kaya dihormati masyarakat; bahwa kelompok yang berbeda keyakinan bukanlah tetangga yang perlu dihormati tetapi orang kafir yang halal darahnya; bahwa kenikmatan seks seperti yang ada di film-film adalah manusiawi dan merupakan hiburan bagi mereka yang telah bekerja keras bagi bangsa dan diperolehlah ayat-ayat pendukung bagi pembenaran nafsunya.

Sang Suami: Mereka yang terlibat pada tindakan tersebut merasa tindakannya benar karena sudah menjadi kebiasaan mereka untuk memperoleh tujuan dengan segala cara dan tidak peduli dengan kondisi orang yang dirugikannya. Mereka telah kehilangan empati, bagaimana rasanya bila sanak keluarganya mengalami hal tersebut. Mereka telah menjadi egois dan kehilangan rasa kemanusiaannya…….. Para penegak hukum yang menyidik, menuntut dan menghakimi orang yang tidak bersalah juga hanya melakukan tindakan yang sudah terbiasa dilakukannya yang telah membentuk pola pikiran bawah sadarnya dan tidak peduli dengan orang yang dikerjainya. Mereka telah lupa dan tidak peduli dengan penderitaan orang lain.

Sang Istri: Itulah perlunya seseorang melakukan olah batin, meditasi, meniti ke dalam diri sehingga dia tidak mudah kena pengaruh conditioning yang terjadi dalam masyarakat. Semoga semakin banyak anggota masyarakat yang sadar……. Pak Anand telah melakukan banyak hal untuk menyadarkan masyarakat melalui buku-bukunya. Pak Anand menyampaikan bahwa masalah terbesar yang dihadapi oleh bangsa kita bukan masalah agama, tetapi masalah conditioning, masalah programming. Dan, masalah ini pula yang dihadapi oleh setiap bangsa, oleh seluruh umat manusia.  Kita sudah terkondisi, terprogram untuk mempercayai hal-hal tertentu……. Dan ironisnya, kini beliau telah memasuki hari ke 35 mogok makan….. Sumber: http://freeanandkrishna.com/

 

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

April 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: