Merebaknya Aji Mumpung di Tengah Bangsa Dan Buku Kamasutra


Sepasang suami istri sedang membicarakan protes mogok makan Pak Anand Krishna yang sudah memasuki hari ke 36. (http://freeanandkrishna.com)

Mereka gelisah karena hanya sedikit sekali masyarakat yang peduli, dan mulai hari ini mereka ingin mengungkapkan pandangan-pandangan Pak Anand Krishna tentang kemanusiaan dan kebangsaan. Syukur ada yang tertarik dan membenahi diri, bila tidak ada pun , mereka tidak akan kecewa karena minimal mereka telah bersuara………

Sang Suami: aku baru saja browsing tentang korupsi di negeri kita dan berhenti di berita:

http://cetak.kompas.com/read/2010/10/27/02432065/indeks.korupsi..stagnan

Angka Indeks Persepsi Korupsi Indonesia tahun 2010 tetap 2,8 atau berada di peringkat ke-110 dari 178 negara yang disurvei. Nilai ini sama persis dengan tahun 2009 sehingga bisa dimaknai pemberantasan korupsi di negeri ini jalan di tempat. Nilai Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia sama dengan Bolivia, Gabon, Benin, Kosovo, dan Kepulauan Solomon. IPK Indonesia lebih rendah dibandingkan Singapura (9,3) yang tertinggi di Asia Tenggara, Brunei Darussalam (5,5), Malaysia (4,4), dan Thailand (3,5). Indonesia hanya lebih baik dibandingkan Vietnam (2,7), Timor Leste (2,5), Filipina (2,4), Kamboja (2,1), dan Myanmar (1,4). Stagnannya pemberantasan korupsi disebabkan sistem hukum dan politik di Indonesia masih korup. Anggota DPR, DPRD, dan pemilu kepala daerah harus umbar duit. Pemberantasan korupsi melalui penindakan atau pencegahan juga tidak terintegrasi.

Sang Istri: Mungkinkah ini ada hubungannya dengan kebiasaan bangsa kita untuk menggunakan “aji mumpung”, memanfaatkan peluang selagi ada kesempatan? Aji mumpung adalah “menggunakan peluang yang ada untuk keuntungan diri sendiri”. Aji mumpung untuk menggunakan wewenang, kekayaan, kepandaian, garis keturunan, jalur politik dan segala kelebihan yang dimiliki untuk menguntungkan diri sendiri……..

Sang Suami: Berbagai Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Daerah, Kode Etik, Dewan Kehormatan sudah banyak dibuat, akan tetapi para oknum selalu mencari celah kelemahan dari berbagai peraturan yang ada. Mengapa peraturan kurang efektif membendung aji mumpung? Mengapa?……. mumpung masih menjabat, berupaya mengembalikan investasi yang pernah dikeluarkan untuk memperoleh jabatannya, untuk memperkaya diri, untuk mempertahankan kekuasaan sebelum kekuasaan hilang; mumpung ada aturannya dan paham celah-celah untuk menerobos pagar peraturan; mumpung tersedia anggaran yang dikelola dan pimpinan maklum serta hanya bilang yang penting aman secara administratif; mumpung para pemeriksa anggaran juga mau mengerti; mumpung masyarakat pemilih bodoh atau diam sehingga bisa mengumpulkan dana untuk pemilihan mendatang dan mengisi rekening, nanti kalau sudah mendekati pemilihan masyarakat dapat didekati lagi dengan uang………

Sang Istri: Baginda Rasul memberi nasehat agar manusia berbuat baik: mumpung masih hidup sebelum mati, mumpung masih muda sebelum tua, mumpung masih sehat sebelum sakit, mumpung masih punya sebelum miskin, mumpung masih ada kelonggaran sebelum menderita kesempitan….. Akan tetapi nasehat bijak tersebut cukup dihapalkan dan disuarakan di depan umum, prakteknya mumpung mendapatkan tempat basah, nanti keburu ada mutasi……

Sang Suami: Apakah hal-hal tersebut terjadi karena di dalam diri ada hasrat yang bergelora untuk memuaskan diri pribadi, sehingga ego kita selalu memanfaatkan peluang yang muncul? Dalam buku “Jalan Kesempurnaan melalui Kamasutra”, karya Pak Anand Krishna, terbitan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2004 disampaikan bahwa……. Manusia mewarisi naluri hewani, animalistic instinct, naluri yang hanya berkepentingan dalam diri sendiri. Naluri yang dapat mendesak manusia berbuat apa saja demi keuntungan pribadi. “Nota Sakti” yang sering dikeluarkan oleh para pejabat tinggi, lobbying, korupsi suap-menyuap, penyelewengan, nepotisme, dan masih banyak hal-hal lain semua berasal dari naluri hewani……..  Selanjutnya Pak Anand menjelaskan 7 lapisan kesadaran manusia……. Lapisan Kesadaran pertama, Kesadaran Dasar Manusia, berkaitan dengan “makanan”. Begitu seorang bayi lahir, kesadaran awalnya adalah “rasa lapar”, dan dia mulai mencari makanan. Kesadaran Awal ini oleh para praktisi yoga dikaitkan pula dengan “pembuangan”. Karena itu, secara simbolis diletakkan di sekitar dubur. Ada pemasukan, ada pengeluaran. Binatang akan puas jika diberi makanan apa saja. Sebaliknya, manusia sudah bisa memilih. Mau ini, tidak mau itu. Seseorang yang sangat mementingkan makanan dan dapur, sesungguhnya masih berada pada lapisan kesadaran yang satu ini………..

Lapisan Kesadaran Kedua, Kesadaran Diri Sebagai Energi, berkaitan dengan “seks”. Bayi yang kita pikir “belum tahu apa-apa” bisa main-main dengan alat kelaminnya. Karena itu, Lapisan Kesadaran Kedua ini secara simbolik diletakkan di sekitar alat kelamin. Kebutuhan seks dalam binatang bersifat biologis. Begitu butuh, mereka akan langsung mencari.  Dan asal dapat, entah dari mana dan dari siapa saja, mereka akan menikmatinya. Manusia bisa memilih. Dia bisa menahan diri. Tetapi pada saat yang sama, naluri yang satu ini juga berkembang lebih jauh menjadi “hawa napsu”. Keinginan untuk menimbun harta, untuk memperoleh kedudukan dan ketenaran semuanya masih merupakan pengembangan dari lapisan kesadaran kedua………

Lapisan Kesadaran Ketiga berkaitan dengan kebutuhan akan “tidur”. Bagi binatang, tidur pun sekedar kebutuhan biologis. Begitu capai, mengantuk, mereka bisa tertidur di mana saja. Lapisan kesadaran ini secara simbolik ditempatkan di sekitar pusar. Dalam diri manusia, lapisan kesadaran ini berkembang menjadi kebutuhan akan “kenyamanan”, bukan sekedar tidur, sehingga jika mengantuk ia akan mencari ranjang yang empuk, ruangan yang nyaman, baru tidur. Selain itu, kebutuhannya akan kenyamanan diri sering kali membuatnya menjadi egois. Ia bisa mencelakakan orang lain, bisa mengabaikan kepentingan orang lain demi kenyamanan diri, demi kepentingan pribadi……. Jadi aji mumpung yang negatif adalah pengembangan dari sifat dasar manusia pada Lapisan Kesadaran Pertama, Kedua dan Ketiga yang masih mewarisi sifat-sifat hewani.

Sang Istri: Dalam buku “Jalan Kesempurnaan melalui Kamasutra” tersebut juga disampaikan  Lapisan Kesadaran Keempat……… Dalam lapisan kesadaran ini, kita baru mengenal Cinta. sesungguhnya yang membedakan kita dari binatang adalah rasa yang satu ini, Cinta! Oleh karena itu, secara simbolik dikaitkan dengan dada. Mereka belum kenal cinta, sehingga setia macam apa pun, seekor anjing bisa melupakan majikan lama dan melayani majikan baru dengan mudah, asalkan ia memperoleh perhatian yang sama………….

Lapisan Kesadaran Kelima membantu kita mengatasi kelemahan-kelemahan manusiawi. Berada pada lapisan kesadaran ini, jiwa menjadi semakin bersih. Peletakan simbolik ini disekitar leher……….

Lapisan Kesadaran Keenam merupakan manifestasi Kesadaran murni dalam diri manusia, dan dikaitkan dengan suatu titik di tengah-tengah kedua alis mata. Lapisan kesadaran yang satu ini memang menghantar kita pada Kesadaran Ilahi………..

Lapisan Kesadaran Ketujuh berkaitan dengan perayaan, dengan tarian dan nyanyian. Secara simbolik, peletakannya di atas kepala. Berada pada lapisan kesadaran ini, kita memperoleh keseimbangan diri. Pengalaman suka dan duka, panas dan dingin, akan kita hadapi dengan senyuman. Hidup menjadi sebuah perayaan yang tak pernah berakhir. Gelombang kelahiran dan kematian tidak mempengaruhi kita lagi.

Sang Suami: Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa menurut ajaran-ajaran Tantra, kita tidak usah melepaskan yang duniawi untuk mencapai kesadaran rohani. Dunia merupakan anak tangga yang dapat mengantar kita ke puncak kesadaran rohani. Seseorang yang dapat mencapai kesadaran spiritual adalah seseorang yang sudah puas dengan segala sesuatu yang bersifat duniawi. Kalau belum puas, kalau masih ada obsesi terhadap benda-benda duniawi, kita tidak akan berhasil meningkatkan kesadaran. Berbagai keinginan dan obsesi yang tidak terpenuhi akan menghantui kita. Perjalanan rohani hampir tidak mungkin…….  Obsesi dengan harta atau kekayaan, dengan nama atau ketenaran atau kekayaan, dengan nama atau ketenaran dan dengan jabatan atau kedudukan semuanya adalah passion, napsu. Semuanya ini terjadi apabila kita belum mengalami peningkatan kesadaran. Mereka yang terobsesi oleh seks, oleh harta, oleh nama, oleh jabatan tidak akan pernah mengalami cinta dalam kehidupan. Mereka belum tahu cinta itu apa. Mereka belum punya cinta dalam diri mereka. Dari seks, dari birahi ke cinta dan dari cinta ke kasih, peningkatan kesadaran ini yang dibutuhkan oleh dunia kita saat ini. Kasih atau compassion adalah birahi terhadap alam semesta. Bila napsu birahi terhadap seorang dapat ditingkatkan menjadi birahi terdapat alam semesta, kita adalah seorang pengasih. Passion dan compassion, kedua kata dalam bahasa Inggris ini, berasal dari suku kata yang sama. Compassion berasal passion terhadap alam semesta, terhadap Tuhan, terhadap Yang Abstrak, Yang Tak Dapat Dijelaskan.

Sang Istri: Memang ironis sekali, pandangan yang bijak tersebut ingin dijatuhkan dengan aji mumpung sekelompok orang. Pandangan Pak Anand tentang kemanusiaan dan kebangsaan sudah tersebar dalam 140 buah bukunya yang terjual laris di pasaran. Mumpung ada mahasiswi mengalami permasalahan keluarga, sebuah kelompok mendapatkan amunisi untuk menjatuhkan nama baik Pak Anand, tokoh nasional yang berjiwa kebangsaan. Mumpung jadi pengacara, ada order khusus  serta jaminan suaranya akan diblow-up mass media, maka tanpa dasar hukum yang kuat dia berani mendiskreditkan seorang tokoh yang memperjuangkan kebhinekaan. Mumpung para penegak hukum bisa dinegosiasi wewenangnya, kelompok tersebut merusak nama baik Pak Anand…… . (http://freeanandkrishna.com)

Semoga semakin banyak putra-putri bangsa yang sadar…. Semoga kita dapat mengungkapkan pandangan-pandangan bijak Pak Anand dalam buku-bukunya…….

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

April 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: