Renungan Kebangsaan: Menoleh Perjuangan Figur Satria Wibisana Di Tengah Kebiadaban Para Raksasa Yang Menggunakan Hukum Rimba


Leluhur bangsa Indonesia telah memberikan nasehat lewat ceritera wayang tentang beberapa karakter penduduk dalam kehidupan bernegara. Ada contoh negara Ayodya dengan tokoh Dasarata, Sri Rama, Laksmana, Bharata dan Satrugna serta Dewi Sinta. Ada negara Kiskenda dengan tokoh Subali, Sugriwa dan Hanuman. Ada kerajaan Hastina dengan tokoh Drestarasta, Sakuni dan Duryudana. Ada Kerajaan Amarta dengan tokoh Pandawa. Dan kali ini diambil setting negara Alengka…… Wibisana adalah figur warga masyarakat yang sadar untuk selalu “meruwat”, mengembalikan sifat kemanusiaan dari pengaruh “diyu”, sifat raksasa yang masih ada dalam diri.

Dikisahkan bahwa Dewi Sukesi gagal dalam memaknai Kitab “Sastra Jendra Pangruwating Diyu”, dan bahkan hamil akibat buah cinta terlarangnya dengan Resi Wisrawa. Di kemudian hari dari rahimnya terlahir segumpal darah, bercampur sebuah wujud telinga dan kuku. Segumpal darah itu menjadi raksasa bernama Rahwana yang melambangkan nafsu angkara manusia. Sedangkan telinga menjadi raksasa sebesar gunung yang bernama Kumbakarna, yang meski pun berwujud raksasa tetapi hatinya bijak, ia melambangkan penyesalan ayah ibunya. Sedangkan kuku menjadi raksasa wanita yang bertindak semaunya bernama Sarpakenaka. Setelah beberapa lama, Wisrawa dan Sukesi melahirkan seorang putera bernama Wibisana. Anak terakhir ini berupa manusia sempurna yang baik dan bijaksana, karena terlahir dari cinta sejati, jauh dari hawa nafsu kedua orang tuannya. Ini adalah semacam tamsil bahwa dalam satu keluarga (negara) seperti Alengka hanya satu perempat masyarakat kita yang berjiwa satria seperti Wibisana, lainnya masih bersifat raksasa…….

Kisah tersebut juga dapat dimaknai bahwa seperempat masyarakat kita berkarakter seperti Rahwana. Rahwana adalah figur dari orang yang cerdas, yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya termasuk membeli para pendukungnya. Dia memberi jabatan kepada orang yang mendukung kepentingan pribadinya. Dia menyelamatkan pejabat yang bermasalah asal mendukungnya. Dia adalah orang yang tega mengorbankan siapa pun, termasuk mengorbankan teman kolega, koalisi, atau kelompoknya sendiri. Dia tega menghancurkan musuhnya dengan segala cara. Menghabisi mereka yang beda keyakinan, beda pendapat dengan dirinya……. Rahwana yang juga disebut Dasamuka bisa dimaknai mempunyai sepuluh kepala, sepuluh otak, sangat cerdas dan mempunyai keserakahan yang luar biasa. Rahwana merupakan perwujudan dari sifat rajas yang agresif dan di dominasi unsur alami api yang beraura kemerahan. Dalam sistem chakra, dia mewakili chakra ketiga yang berfokus pada kenyamanan yang berpusat di daerah sekitar perut.

Rahwana pernah mengutus Kala Maricha berganti rupa sebagai pelayan Dewi Tara, untuk menemui dan memprovokasi Subali, bahwa Sugriwa tidak menghormati istri anugerah dewa dengan layak. “Sang pelayan” juga mengingatkan tahta Kiskenda dan Dewi Tara yang seharusnya merupakan hak Subali yang telah berhasil melenyapkan musuh para dewa, membunuh Maesasura dan Jathasura. Atas dukungan moral Rahwana, Subali merebut tahta Kiskenda dan Dewi Tara dari Sugriwa. Karena itulah Rahwana diberi hadiah ilmu Pancasona sehingga Rahwana tidak bisa mati…….. Tindakan memecah belah persaudaraan negeri Kiskenda itulah yang menyebabkan, pada saatnya, negeri Alengka pun menderita hal yang sama, perpecahan antar saudara. Kumbakarna mengasingkan diri, Sarpakenaka mendukung tanpa reserve, sedangkan Wibisana berpihak pada Sri Rama…….. Demi mengejar titisan Bidadari Dewi Widowati yang dianggap menitis pada Dewi Kausalya, Rahwana membunuh Banasura, Resi Rawatmaja dan melukai Sempati. Demi titisan Dewi Widowati yang juga dianggap menitis menjadi Dewi Citrawati, Rahwana membunuh Patih Suwanda dari Kerajaan Maespati, menipu Dewi Citrawati sehingga bunuh diri, bahkan menyebabkan prabu Harjuna Sasrabahu putus asa dan mati dalam pertarungan dengan Ramaparasu…… Bahkan demi mengejar Dewi Sinta yang juga dianggapnya sebagai titisan Dewi Widowati, dia juga membunuh Jatayu. Sudah banyak deretan kesalahan Rahwana, sehingga Wibisana merasa harus bersuara……

Seperempat bagian masyarakat dapat digambarkan dengan figur Kumbakarna yang selain menuruti hasrat makan minum dan tidur, sebetulnya sudah muncul kesadaran tentang kebenaran. Dia tidak setuju dengan keserakahan Rahwana, tetapi dia tidak berani melawan dan malah melarikan diri dengan cara makan dan tidur. Kumbakarna didominasi unsur tanah beraura hitam yang tamas, malas. Dalam sistem chakra, dia mewakili cakra pertama, chakra dasar, yang berfokus pada kenikmatan makan dan minum yang berpusat pada sekitar dubur. Kumbakarna adalah putra Sukesi yang tidak mau berbuat jahat. Kelemahannya hanya suka makan dan tidur. Kumbakarna tidak menyetujui tindakan Rahwana menculik Dewi Sinta. Dia menolak perang melawan Sri Rama, akan tetapi karena diingatkan negaranya dalam bahaya, maka dia maju perang bukan untuk membela kebenaran tetapi untuk membela negara. Kumbakarna adalah figur dari orang-orang yang tidak setuju dengan ketidakbenaran yang dilakukan pemimpinnya, akan tetapi dia tak peduli, yang penting mereka tidak ikut-ikutan, dan mereka hanya memuaskan kesenangan fisiknya sendiri. Figur dari orang-orang yang tidak berani bersuara karena merasa nyaman berada dalam comfort zone. Mereka tidak sadar bahwa kenyamanan mereka hanya semu. Kumbakarna juga figur dari orang-orang yang mendiamkan ketidak benaran karena rasa korps. Orang-orang yang tahu boss mereka salah tetapi tetap melawan orang-orang yang menyerang instansinya.

Karakter ketiga dari sebagian masyarakat digambarkan dengan figur Sarpakenaka yang sangat kreatif, pragmatis, sehingga dapat mengubah wujud dirinya menjadi wanita cantik penggoda Sri Rama dan Laksmana. Seandainya saja Sarpakenaka bisa mentransformasikan energi seks menjadi energi yang kreatif, dirinya akan sangat berguna bagi bangsa. Sayangnya dia malah menjadi hiperseks, walau sudah mempunyai dua suami masih mempunyai “Pria Idaman Lain” yaitu Kala Maricha, komandan prajurit andalan Rahwana. Sarpakenaka melambangkan sifat keagresifan dan dominasi unsur api yang beraura kuning. Dalam sistem chakra dia berkaitan dengan chakra kedua yang berkaitan dengan seks. Sarpakenaka adalah figur dari orang-orang yang munafik, yang pandai mengubah citra diri guna mencapai ambisi mereka. Orang-orang yang memuaskan nafsu pribadinya dengan segala cara. Mereka berubah-ubah penampilannya demi ambisi pribadinya, gampang pindah ke kelompok lain yang menguntungkannya. Dia juga figur dari orang-orang yang pandai mencari pembenaran dari peraturan untuk memuaskan nafsunya.

Karakter masyarakat yang keempat digambarkan dengan figur Wibisana. Dalam sistem chakra, dia mewakili chakra keempat yang mewakili sifat kasih yang berkaitan dengan daerah sekitar dada. Energi Wibisana, sudah tidak berupa cairan yang mengalir ke bawah perut, tetapi berwujud uap yang mengarah ke atas, mengaktifkan chakra keempat, bersifat “satvik”, tenang dengan aura putih, dengan dominasi unsur angin. Wibisana sudah siap menjadi murid Sri Rama yang merupakan wujud insan yang telah melampaui unsur-unsur alami. Wibisana berani bersuara kepada Rahwana, bahwa tindakannya menculik Dewi Sinta itu tidak benar. Wibisana berani diusir dari istana gara-gara membela kebenaran. Wibisana tahu kejahatan yang merajalela harus dihentikan. Karena bila dibiarkan akan merusak masa depan bangsanya. Kesadaran Wibisana sudah berada di dada. Di Rasa. Dia sudah tidak memperhitungkan matematika untung rugi. Dia menjunjung tinggi kebenaran. Awalnya dia tidak memakai kekerasan dan hanya menyuarakan kebenaran. Akan tetapi setelah diusir maka dia melawan kejahatan demi penegakan kebenaran. Wibisana adalah figur dari orang-orang yang berani bersuara tentang kebenaran, mesti mereka diusir dari comfort zone nya. Dia paham comfort zone mereka yang diam seperti Kumbakarna, hanya comfort zone semu. Karena kejahatan yang merajalela ada batasnya. Kekuasaan pemimpin yang terlalu lama di negara-negara Timur Tengah maupun di seluruh dunia kena masalah. Wibisana adalah figur orang-orang yang berani menyuarakan kebenaran walau mendapat intimidasi oleh para raksasa yang ingin melanggengkan kekuasaan mereka. Wibisana mengingatkan tentang tokoh Bapak Anand Krishna yang tengah dizalimi para raksasa. Lihat http://freeanandkrishna.com

Ciri-ciri seorang satria seperti Wibisana dijelaskan dalam buku “Wedhatama Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka, 1999 yang menyampaikan…….. Ciri pertama seorang satria adalah dapat mengendalikan dirinya pada setiap saat, dalam keadaan apa pun. Ia dalam keadaan tenang, walaupun di tengah keramaian…. Dalam keadaan kritis, apabila Anda masih bisa mempertahankan ketenangan diri Anda, Anda baru bisa disebut seorang satria. Ciri kedua yang tidak kalah penting adalah bahwa satria selalu berupaya mempertahankan kesadarannya. Memang sulit sekali. Begitu Anda diberi seragam, begitu Anda diberi senjata, Anda pun langsung lupa daratan. Ciri ketiga, perilaku satria berlandaskan susila dan anoraga. Susila atau sushila bisa diartikan sebagai “tindakan yang bijak”. Ia yang berperilaku baik disebut Sushil. Dan anoraga atau anurag berarti “kasih”. Tidak sekadar cinta, tetapi kasih sayang. Sri Mangkunegoro IV masih belum puas dengan apa yang beliau katakan. Beliau harus menekankan lagi. Sebenarnya, orang seperti satria itulah yang patut disebut orang yang beragama…….

Sudah seharusnya kita mendukung Wibisana dan memperbesar barisannya. Seandainya media kita berani bersuara tentang hal-hal yang membahayakan integrasi bangsa, maka Indonesia akan cepat bangkit. Sri Rama jangan dimaknai sebagai negara asing yang akan menyerang negara kita. Kita tidak akan mendukung kekuatan asing baik dari Timur Tengah, dari India, dari China atau dari Barat. Karena kelompok Sri Rama pun berada di tengah-tengah bangsa. Sri Rama adalah simbol Kebenaran dan Persatuan Bangsa. Sedangkan Dewi Sita adalah simbol Ibu Pertiwi yang sekarang sedang disekap oleh para raksasa yang mengabaikan kebenaran demi hasrat pribadi diri dan kelompoknya.

Dalam diri manusia, Sri Rama adalah simbol Paramatman, Sang Jiwa Agung dan Sita adalah simbol atma, jiwa yang berada pada tubuh manusia. Alengka adalah simbol dari raga dengan segenap kemegahan dan kegemerlapan fisik. Sang jiwa tadinya selalu bersama Paramatman dalam mengarungi Dandaka – belantara kehidupan, akan tetapi karena sang jiwa menginginkan rusa emas – keduniawian, maka sang jiwa menjadi jauh dari Sang Jiwa Agung dan terperangkap dalam ego – Rahwana yang berada di kerajaan raga – Alengka. Sang Jiwa yang berada dalam tubuh ingin kembali ke Sang Jiwa Agung, tetapi para raksasa tidak memperbolehkannya. Rahwana simbol dari nafsu ego rajas yang dinamis, gairah meluap-luap. Kumbakarna mewakili nafsu tamas yang malas, diam. Wibisana merupakan simbol nafsu satvik yang tenang. Nafsu ego ini menahan Dewi Sinta dalam raga – Alengka agar tidak bergabung dengan Sang Jiwa Agung.

Terima kasih Bapak Anand Krishna atas inspirasi dari buku-bukunya…..

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

April 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: