Renungan Kebangsaan: Dendam Drupadi Dan Hukum Pembalasan Bagi Korawa


Dewi Drupadi adalah putri prabu Drupada, saudara dari Drestadyumna dan Srikandi. Dewi Drupadi adalah istri Pandawa, akan tetapi karena budaya kita tidak mengenal poliandri, maka leluhur kita menyebutkan bahwa Drupadi adalah istri Yudistira. Leluhur kita juga menyebutkan Drupadi berputra Pancawala, yang sebenarnya berarti lima anak….. (dari lima bersaudara Pandawa). Kebiasaan di India pada masa itu memang berbeda, mereka memanggil Arjuna bukan putra Pandu tetapi putra Kunti. Mereka juga mengakui bahwa anak seorang permaisuri akan menjadi putra mahkota, walaupun suaminya telah meninggal sebelum memberikan keturunan. Pandu dan Drestarastra adalah putra dari permaisuri Ambika dan Ambalika hasil hubungan dengan Abyasa, karena suaminya, Prabu Wicitrawirya meninggal sebelum memberikan keturunan kepada mereka.

Pandawa yang selamat dari jebakan kebakaran di istana kayu yang diskenario oleh Korawa meneruskan perjalanan di tengah hutan, menyamar sebagai brahmana menjauhi pasukan Korawa. Mereka mendengar bahwa Prabu Drupada dari negeri Panchala mengadakan sayembara mencari suami bagi putrinya, Drupadi. Arjuna berhasil memenangkan sayembara tersebut dan Drupadi menjadi istri Pandawa. Kedudukan Pandawa menjadi kuat karena merupakan menantu Prabu Drupada dan mereka juga didukung raja-raja dari keluarga Kunti, seperti Sri Krishna dan Baladewa yang merupakan keponakan Kunti. Drestarastra akhirnya mengambil keputusan memberikan tanah  Kandawaprasta, bekas istana para leluhur Bharata kepada Pandawa….. Tanah tersebut dibangun kembali oleh Pandawa dan diberi nama Indraprasta. Pandawa memerintah Indraprasta selama tigapuluh enam tahun sehingga Indraprasta makmur sejahtera di bawah pimpinan Yudistira yang merupakan ahli tatanegara.

Setelah beberapa lama, para raja mendesak Yudistira untuk melaksanakan “upacara rajasuya” dan mengambil gelar maharaja. Korawa semakin iri dengan Pandawa yang telah berhasil menjadi maharaja berkat dukungan banyak raja-raja sekutunya. Kemudian Korawa mengundang Yudistira untuk bermain dadu melawan Shakuni yang licik dan Yudistira dikalahkan. Yudistira yang kalah bahkan harus menyerahkan Indraprasta, seluruh Pandawa menjadi budak dan bahkan juga harus menyerahkan permaisuri Drupadi.

Dursasana saudara Duryudana dari Korawa menyeret Drupadi dengan menarik rambutnya. Drupadi berkata kepada para kesatria Korawa, “Jika kalian menghormati ibu kalian, saudara-saudara perempuan kalian dan putri-putri kalian, maka jangan perlakukan aku seperti ini!” Tetapi para Korawa tidak mempedulikannya, mereka bahkan mengatakan pakaian yang dikenakan Pandawa dan Drupadi pun sudah menjadi milik Korawa. Dursasana pun segera menarik “kemben”, pakaian Drupadi. Drupadi merasa sudah tak ada gunanya minta tolong kepada para suaminya yang telah menjadi budak. Dia minta tolong pada Resi Bhisma yang juga hanya diam seribu basa. Akhirnya dia memohon pada Hyang Widhi dan jatuh pingsan. Dan, keajaiban pun terjadi pakaian Drupadi yang ditarik oleh Dursasana selalu digantikan dengan pakaian yang baru sehingga Dursasana kewalahan, karena pakaian Drupadi sudah setinggi gunung. Bhima hanya bisa mengutuk, “Aku tidak akan mati sebelum meremukkan dada Dursasana dan meminum darahnya yang telah memalukan dinasti Bharata.”

Prabu Drestarastra yang merasa bahwa peristiwa ini akan memalukan dinasti Kuru mengatakan bahwa perjudian dibatalkan dan Pandawa serta Drupadi agar balik ke Indraprasta. Akan tetapi atas desakan Shakuni dan Duryudana akhirnya Drestarastra menarik kembali ucapannya dan memanggil kembali Pandawa untuk main dadu sekali lagi. Pandawa kalah dan harus menjalani pengasingan di hutan selama 12 tahun dan kemudian harus masa transisi penyamaran selama 1 tahun, apabila penyamaran terbuka sebelum 1 tahun Pandawa harus mengulangi pengasingan di hutan selama 12 tahun lagi…..

Di hari-hari akhir dari perang Bharatayuda, Shakuni dan Dursasana mati oleh Bhima yang bertindak seperti kesurupan, kemarahannya memuncak kala ingat bahwa Drupadi pernah dipermalukan oleh Dursasana. Dursasana dibanting ke tanah kedua tangannya yang pernah menarik kain Drupadi dihancurkan. Dia minum darah darah Dursasana dan Korawa semakin ketakutan. Bhima berteriak, “Aku tinggal mencari Duryudana”……. Perang selalu mengerikan dan etika banyak yang terabaikan. Para Korawa yang dulu selalu bertindak sewenang-wenang kini dicekam ketakutan akan datangnya hari pembalasan….. adalah suatu pelajaran bagi mereka yang selalu melakukan kekerasan dan pembunuhan tanpa berperikemanusiaan kala dia berada di “atas angin”….. bahwa dia pun akan mengalami kecemasan yang sama saat masa pembalasan tiba…..

Duryudana pun di hari terakhir perang juga roboh setelah pahanya remuk dipukul gada Bhima dan dibiarkan tergeletak menunggu ajal. Saat Duryudana menunggu ajal menjemput, pada malam harinya, Aswatama putra Drona datang dan berjanji akan membunuh semua putra Pandawa, sehingga kemenangan Pandawa akan sia-sia. Duryudana sedikit bergembira dan kemudian menghembuskan napas yang terakhir. Aswatama mengendap-endap masuk ke perkemahan Drestadyumna dan dibunuhnya kesatria yang membunuh Drona, ayahandanya. Kemudian Aswatama menuju kemah putra-putra Pandawa dan semua dibunuhnya. Hanya tinggal satu keturunan Pandawa, putra Abimanyu, cucu Arjuna yang masih berada dalam kandungan Dewi Utari. Senjata terakhir Aswatama diarahkankan kepada sang janin, akan tetapi janin tersebut selamat karena dilindungi Sri Krishna. Itulah satu-satunya keturunan yang meneruskan dinasti Pandawa. Bayi tersebut nantinya diberi nama Parikesit,  dari kata pariksa karena sejak kecik di memeriksa semua orang, dia mencari kakeknya Sri Krishna yang telah menyelamatkannya.

Drupadi yang mengetahui bahwa semua putranya telah meninggal terbunuh dirundung kesedihan dan kemarahan…. “Tidak adakah orang yang membalaskan kematian anak-anakku?” Kesedihan Drupadi sangat mendalam hingga dia jatuh pingsan…..

Dalam keadaan setengah sadar Drupadi ingat pesan terakhir Eyang Bhisma kepadanya……. “Tidak semua keinginan manusia terlaksana, yang terlaksana adalah kehendak Hyang Widhi  bukan kehendak manusia”……… Drupadi ingat bahwa dia pernah protes dengan menangis terisak-isak: “Mengapa kakek Bhisma bisa memberikan penjelasan tentang dharma dan adharma kepada Yudistira sedemikian bagusnya, sedangkan sewaktu hamba dipermalukan oleh Dursasana, Kakek diam seribu bahasa?” Bhisma yang dalam keadaan terluka parah dan puluhan anak panah yang menancap di tubuhnya serta sedang menunggu hari yang baik untuk meninggalkan jasadnya berucap pelan….. ”Cucuku Drupadi, aku tahu apa yang menjadi ganjalan hatimu. Pada waktu itu aku dijamu makan oleh Duryudana, pengaruh makanan tersebut sangat besar. Nuraniku memberontak melihat engkau dipermalukan Dursasana, tetapi pengaruh makanan membuat aku tak berdaya. Maafkan aku Drupadi”…….. “Tidak semua keinginan manusia terlaksana, yang terlaksana adalah kehendak Hyang Widhi  bukan kehendak manusia”……….

Drupadi menjadi malu sendiri. Dalam perang Bharatayuda, Kakek Bhisma tidak mau membunuh Pandawa, para suaminya. Kakek Bhisma juga tidak mau melawan wanita, akan tetapi Srikandi, adiknya justru memanahnya, sehingga dia terluka dan kemudian beliau bisa dipanah oleh Arjuna. Drupadi menjadi semakin malu, sang kakek tidak protes kepadanya, bahkan menjawabnya dengan tulus. Drupadi merenung dalam……… Pandita Drona merasa dipermalukan oleh Prabu Drupada, ayahnya. Kemudian Pandita Drona ganti mempermalukan ayahnya dan mengambil sebagaian tanah kerajaannya. Pandita Drona kalah karena ditipu Yudistira yang mengatakan Aswatama mati dan dalam keadaan shock dibunuh oleh Drestadyumna, adiknya. Kini Aswatama membunuh Drestadyumna…… Para Korawa yang diam saja saat dia dipermalukan sudah mati semua. Duryudana dan Dursasana yang mempermalukan dirinya pun sudah terbunuh….. Kini semua anak-anaknya terbunuh…….

Kekalutan pikiran Drupadi, membuat kesadarannya meningkat….. Tiba-tiba Drupadi sadar bahwa semuanya tadi hanyalah catatan-catatan dari pikirannya…… Dia marah, dia sedih, dia kecewa karena catatan pikirannya. Dia menganggap catatan pikirannya sebagai dirinya. Dia mulai memahami mengapa Bunda Kunti, ibu mertuanya jiwanya lebih tenang….. pikiran Bunda Kunti bergejolak sebentar, tetapi kemudian mengheningkan diri dan kembali tenang. Padahal kedua putra kandung Bunda Kunti baru saja bertempur dan Karna meninggal dipanah oleh Arjuna…. Bunda Kunti sudah menyerahkan segalanya kepada Sri Krishna, apa pun yang terjadi adalah akibat dari tindakan masa lalunya. Bunda Kunti pernah menceritakan kepadanya bahwa beliau pernah menelantarkan Karna dengan meletakkan Karna yang masih bayi di atas perahu dibawa arus sungai Gangga, demi untuk menjaga nama baik diri beliau. Bunda Kunti yakin dengan kebijaksanaan Sri Krishna putra dari Prabu Basudewa, kakaknya. Bunda Kunti hanya mengikuti arus kehidupan dan selalu berpegang kepada Sri Krishna, keponakan yang sudah menjadi guru pemandunya…..

Dalam buku “Shangrila, Mengecap Sorga di Dunia”, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, tahun 2000, disampaikan…….. Dalam bahasa Sanskerta, ada sebuah kata yang sangat sulit diterjemahkan: Atman. Kalian tahu dalam bahasa Inggris kata itu diterjemahkan sebagai Self – Diri. Bagi seorang yang berada pada lapisan kesadaran fisik, Atman adalah badannya. Bagi yang berada pada lapisan kesadaran energi, Atman adalah energinya. Bagi orang yang berada pada lapisan kesadaran mental, Atman adalah mind, pikiran. Ada lagi yang menganggap ‘rasa’ atau lapisan emosi sebagai Self – Atma. Lapisan ini sudah jauh lebih halus, jauh lebih lembut dari lapisan-lapisan sebelumnya sebagai materi. Bagi dia, ‘Cinta’, ‘Rasa’ adalah kekuatan sejati – energi murni. Lalu ada yang menganggap lapisan intelegensia sebagai Self – Atma. Rasa pun telah mereka lampaui. Bagi dia, badan, energi, pikiran, rasa – semuanya masih bersifat ‘materi’. Bagi dia ‘kesadaran’ itu sendiri merupakan ‘kekuatan’ – energi. Seorang Buddha mengatakan bahwa semua lapisan tadi masih bersifat ‘materi’. Bagi seorang Buddha, Self atau Atma yang identik dengan lapisan-lapisan yang masih bisa dijelaskan harus terlampaui. Bagi dia, ketidakadaan atau kasunyatan adalah kebenaran sejati………

Dalam buku “Wedhatama Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka, tahun 1999 disampaikan bahwa……… Sri Mangkunagoro menjelaskan tentang kesadaran fisik, jasmani. Apabila kesadaran kita hanya mencapai tingkat ini, kita akan selalu mementingkan materi. Kita tidak bisa melepaskan diri kita sepenuhnya dari tarikan-tarikan hawa nafsu. Kita masih terobsesi oleh keduniawian. Kemudian, kesadaran psikis, enersi. Tingkat ini lebih tinggi daripada tingkat sebelumnya. Berada pada tingkat ini, seseorang mulai melihat persamaan antara segala sesuatu yang kelihatannya berbeda. Bentuk fisik kita berbeda, tetapi proses pernapasan kita sama. Bumi di mana kita berpijak juga sama.  Alam ini satu dan sama. Berada pada tingkat ini, kita akan sangat terbuka. Kita bisa mempelajari setiap agama tanpa harus meninggalkan agama kita sendiri. Pada tingkat ini, cinta mulai bersemi. Kita akan mencintai sesama makhluk, bukan hanya sesama manusia. Kita mulai sadar bahwa segala sesuatu itu ciptaan Tuhan yang satu dan sama. Yang terakhir adalah kesadaran Adhyatmika. Lapisan kesadaran ini akan membuat kita semakin dekat dengan Tuhan, dengan alam semesta. Tingkat ini hanya dapat dirasakan, tidak dapat dijelaskan. Menurut Sri Mangkunagoro, “sruning brata kataman wahyu dyatmika”: dengan latihan-latihan tertentu, Anda akan menerima wahyu yang berasal dari kesadaran Adhyatmika. Berarti, Anda akan dituntun oleh kesadaran Anda sendiri………

Bapak Anand Krishna mencoba menyampaikan hal-hal yang universal yang juga sudah disampaikan oleh para leluhur……. Hanya saja Bapak Anand Krishna menerima perlakuan yang tidak adil. (lihat berkas lengkap di http://freeanandkrishna.com/)….. Bapak Anand Krishna tetap mengajak mereka yang sadar untuk selalu mendoakan Jaksa dan para Hakim agar dapat menjalankan amanah yang diemban mereka untuk melaksanakan persidangan dengan fair…… If u truly love me, then love those who r hostile twrds me. For, it is the power of love alone that cn clean the dirt of hostility………

……..Drupadi sadar…. Kakek Bhisma yang perkasa yang telah melakukan sumpah yang mengerikan demi mempersatukan Dinasti Kuru pun, cita-citanya tidak kesampaian……. Mengapa pula dirinya harus membunuh Aswatama? ……. “Tidak semua keinginan manusia terlaksana, yang terlaksana adalah kehendak Hyang Widhi  bukan kehendak manusia”……… Setelah Aswatama tertangkap, Drupadi berubah pikiran…… “Arjuna, semuanya terjadi karena Kehendak Hyang Widhi….. aku dapat merasakan kesedihan seorang ibu yang putranya meninggal. Bunda Gendari telah kehilangan seluruh putranya, Bunda Kunti telah kehilangan putranya, Karna. Para ibu banyak yang telah kehilangan putra-putranya dalam perang Bharatayuda ini termasuk diriku…… Aku tidak mau menambah kesedihan Ibu Aswatama. Lepaskanlah Aswatama!”……

Pandawa menunggu keputusan Sri Krishna kala mendengar permintaan Drupadi. Sri Krishna mengangguk……. Dan, batu permata di dahi Aswatama dilepas dan dia diusir ke derah padang pasir Arvashtan….. Bagi Aswatama ini adalah penghinaan yang sangat berat, dia merasa lebih baik dibunuh daripada diperlakukan demikian…… Tetapi demikianlah Kehendak Hyang Widhi………

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

Mei 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: