Renungan Kebangsaan: Kresna Duta, Alam Selalu Memperingatkan Dan Memberi Tenggat Waktu Sebelum Bencana Besar Terjadi


Para leluhur kita menghormati para Duta Kebenaran. Hanya para raksasa dan mereka yang berjiwa raksasa yang mengabaikan datangnya Duta Kebenaran. Hanuman adalah Duta ke negeri Alengka sebelum negeri  umat raksasa dihancurkan Sri Rama. Sri Krishna adalah Duta Kebenaran sebelum  perang  Bharatayuda dimulai, agar Korawa mengembalikan hak-hak Pandawa. Selanjutnya akan ada putaran cakra, ada tenggat waktu yang diberikan  untuk memilih Kebenaran yang sudah jelas nampak atau tetap memilih berkubang dalam adharma, sampai saat Kebenaran ditegakkan dengan paksa. Nabi Musa juga merupakan Utusan Ilahi bagi kaumnya Fir’aun, demikian pula Pesuruh Ilahi  lainnya sebagai pemberi peringatan terhadap kaumnya. Banyak umat yang mempertahankan ‘status quo’-nya tidak mau menerima perubahan dan tidak mau mendukung Kebenaran. Akan tetapi Utusan Ilahi tidak saja berwujud manusia, bisa berwujud apa saja, termasuk suara rakyat maupun bencana alam. Dan bencana seperti Tsunami adalah salah satu ayat-Nya yang perlu dipahami…….

Para leluhur kita juga mengungkapkan bahwa selain di luar diri, semuanya juga terjadi  di dalam diri. Guru Sejati di dalam yang menyentuh diri akan terungkap di luar sebagai Guru Ruhani. Duta Kebenaran juga berada dalam diri, Utusan Gusti yang memperingatkan diri lewat hati nurani. Diri yang masih dikuasai keserakahan Korawa, enggan menerima Kebenaran. Sesudah habis masa pengasingan diri, masa meditasi, diri kita perlu mendapatkan kembali haknya di Indraprasta, sudah saatnya Kebenaran memerintah semua indera kita………

Setelah dua belas tahun masa pembuangan, Pandawa  dan Drupadi menyamar di  Kerajaan Wirata. Setelah masa transisi genap satu tahun, Pandawa membuka rahasia penyamarannya. Untuk mempererat persaudaraan,  Abimanyu putera Arjuna, keponakan Prabu Kresna dikawinkan dengan Dewi Utari puteri Raja Wirata. Setelah persiapan pernikahan selesai maka dikirimlah undangan kepada semua sahabat dan kerabat, termasuk ke Raja Hastina dan para kerabatnya.

Prabu Duryudana dan kerabatnya, atas nasehat Patih Shakuni tidak hadir. Prabu Duryudana mengatakan bahwa para Korawa  sedang sibuk dengan urusan kerajaan Hastina sehingga tidak bisa pergi ke Wirata. Sementara Pandita Drona yang tidak ingin bertemu dengan Prabu Drupada memberi alasan bahwa dirinya sudah tua dan tidak kuat  bepergian jauh. Sehingga dari Hastina hanya Kakek Bhisma, Widura dan Ibu Kunti yang berangkat ke Wirata. Korawa menduga bahwa Pandawa sedang mempersiapkan negosiasi  untuk meminta haknya  dengan mereka, apabila Korawa datang ke pernikahan tersebut.

Setelah upacara pernikahan selesai  dan para tamu undangan pulang ke tempat masing-masing, Sri Krishna memanfaatkan kesempatan untuk bertemu dengan Pandawa dan kerabatnya. Yudisitira berkata bahwa dirinya akan meminta haknya kembali atas Indrapasta karena ‘masa pengasingannya’ telah usai.  Akan tetapi raja yang cinta damai tersebut ragu-ragu dan tidak ingin membuat kekacauan dunia dan akan mengembara saja apabila Korawa ingkar janji. Kemudian Sri Krishna memberi  nasehat bahwa sebagai seorang raja, dharmanya adalah memperhatikan rakyatnya. Kepentingan masyarakat luas tidak boleh dikalahkan kepentingan pribadi. Sang Prabu Yudistira memang masih mempunyai keterikatan pribadi pada pujian dari luar bahwa dirinya manusia unggul cinta damai.

Yudistira merenungkan nasehat Sri Krishna, perannya sebagai  raja dan sebagai saudara tertua Pandawa Yudistira harus memikirkan kesejahteraan bangsa, memikirkan saudara-saudaranya dan juga Drupadi istrinya. Apakah mereka akan dibawa mengembara selamanya, apa tidak kasihan kepada Drupadi. Yudistira mendapat sinar penerangan bahwa dirinya masih terikat dengan pujian di luar terhadap karakternya yang cinta damai dan bahkan hampir menyengsarakan bangsanya. Bima yang memang sudah panas menjawab dengan tegas “Kita hancurkan dan rebut dengan paksa” .

Kakek Bhisma yang sangat mencintai negeri Hastina menengahi  bahwa sebaiknya masalah ini dibicarakan dulu kepada Korawa di Hastina, Pandawa sebaiknya mengirim seorang duta untuk membicarakan masalah ini. Akhirnya disepakati Sri Krishna sebagai duta karena dirinya adalah raja yang adil bijaksana dan juga pandai berdiplomasi.

Prabu Kresna datang ke Hastina dan mengatakan bahwa maksud kedatangannya adalah sebagai duta, yang dalam hal ini Pandawa yang telah menjalani hukumannya dan kini meminta kembali haknya atas Indrapasta. Duryudana dan para Korawa yang telah mendapat bisikan dari Patih Shakuni  bertekad untuk tidak mengembalikan Indrapasta dengan berbagai alasan. Duryudana berkata bahwa Pandawa telah melanggar hukumannya untuk tidak muncul di hadapan umum. Ketika terjadi perselisihan antara Hastina dengan Wirata, para Pandawa telah menampakkan diri dan bahkan mengangkat senjata terhadap para Korawa kerabatnya sendiri. Sri Krishna menjelaskan bahwa saat itu menurut perhitungannya, para Pandawa sudah terlepas dari batas masa hukuman dan mereka mengangkat senjata karena saat itu mereka sedang mengabdi di Wirata dan sebagai penduduk Wirata. Adalah merupakan kewajiban mereka untuk mengangkat senjata demi membela negara.

Kakek Bhisma berusaha menengahi bahwa agar tidak terjadi perang saudara, sudah seharusnya sesama saudara menyelesaikan dengan kekeluargaan dan tidak menyimpan dendam. Duryudana kemudian menjawab bahwa Kakek Bhisma memang dari dulu lebih memilih Pandawa daripada Korawa. Widura yang kesal atas jawaban Duryudana berkata dengan keras “Duryudana, perkataanmu terhadap kakekmu sudah keterlaluan dan bukan tindakan seorang raja, aku tidak akan merestui semua tindakanmu”. Dengan ketus Duryudana menjawab “Saya juga tidak ingin restu dari paman”.

Melihat tindakan Duryudana yang melanggar etika terhadap Bhisma dan Widura, Sri Krishna meminta konfirmasi apakah Duryudana akan mengembalikan Indrapasta. Duryudana menjawab, “Pandawa telah menghina keluarga Korawa. Semua Korawa telah bersepakat tidak akan duduk setingkat dengan para Pandawa dan tidak akan mengembalikan Indrapasta”.  Jawaban ini membuat Prabu Kresna kesal dan berkata: “Duryudana, para tetua disini akan menjadi saksi atas perkataanmu, perkataanmu ini harus kau pertanggungjawabkan di kemudian hari.  Akan ada hari dimana mulutmu dikunci dan anggota tubuhmu akan dimintai pertanggungan jawab. ‘Sapa sing nandur bakal ngunduh ………Aku akan memberitahukan keputusanmu kepada Pandawa!”.

Saat Sri Krishna keluar dari istana, dia dibrondong anak panah oleh para pemanah gelap yang disiapkan Patih Shakuni. Sri Krishna ber-‘tiwikrama’, menjadi raksasa  untuk memberikan gambaran Raksasa Alam yang akan melenyapkan Korawa yang tidak tunduk terhadap Kebenaran. Sri Krishna masih berharap para Korawa segera menyadari hukum alam yang alan segera menyelesaikan hutang piutangnya. Melihat Prabu Kresna menjadi Raksasa, para Korawa dan Shakuni segera bersembunyi, sementara Resi Drona juga menggigil ketakutan. Kakek Bhisma dan Widura dengan tenang segera meninggalkan pertemuan. Para Dewa juga menjadi khawatir atas tindakan Sri Krishna dan menunggu apa yang akan terjadi sesudahnya. Setelah Sri Krishna merasa telah cukup menunjukkan bahwa apabila Korawa melanjutkan penolakan damai mereka akan dimangsa alam, kemudian mewujud menjadi Sri Krishna kembali. Akan tetapi para Korawa tetap tidak paham dengan datangnya Duta Utusan Kebenaran, sehingga perang bharatayuda tetap terjadi……

Sri Krishna diyakini sebagai Wisnu yang mewujud untuk menegakkan dharma kala adharma merajalela. Di India, Kekuasaan Ilahi untuk memelihara keseimbangan alam digambarkan dengan Wisnu yang bertangan empat. Satu tangan sedang mem-‘blessing’ dengan telapak tangan menghadap depan, satu tangan memegang kerang, semacam terompet, satu tangan memegang chakra dan satu tangan memegang gada. Alam mengingatkan manusia seperti cara Wisnu mengingatkan. Pertama, tangan mem-“blessing”, memaafkan kesalahan awal yang telah diperbuatnya. Kedua, tangan memegang terompet kulit kerang, Alam memberi tahu kesalahan yang telah diperbuat dengan peringatan keras. Ketiga, tangan memegang chakra, Alam memberi waktu untuk memperbaiki perbuatan yang salah yang telah diperbuat. Keempat, tangan membawa gada, begitu semua hal sudah dilaksanakan, masih ‘ndhendheng’, bebal, kepala batu, biarlah gada Alam yang berbicara.

Sekarang marilah kita dengan jernih melihat kondisi bangsa kita….. DPR, Korupsi di Pusat dan Daerah, ketidakadilan hukum, pendidikan, persatuan bangsa, kekerasan, kemunafikan semuanya serba semrawut….. Kondisi mencemaskan seperti ini sering terjadi baik di tahun 60-an, maupun di setiap menjelang keruntuhan beberapa dinasti kerajaan pada zaman dahulu, termasuk dinasti Brawijaya terakhir menjelang keruntuhan Majapahit. Selama kita tidak lulus dalam mengikuti ujian, kita harus mengulangi lagi….. Dan bangsa ini belum sadar, bahwa ujian sulit seperti ini sudah sering dialami dan kita tidak mau belajar dari sejarah….. Bahkan Pohon Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika yang berakar sangat dalam sampai lapisan zaman dahulu pun sengaja digoyang……

Ada beberapa status di Twitter dari seorang anak bangsa yang prihatin dengan kondisi bangsa kita…. yang perlu kita renungkan bersama…. Kita adalah anak-anak bangsa yang dicekik anyir darah dari masa lalu, luka masa kini, dan asa masa depan tanpa harapan…….. Reformasi lahir prematur dari selangkangan ibu pertiwi yang ringkih dan tanpa ayah. Kitapun jadi anak-anak haramnya yang kurang gizi……. Beberapa butir peluru mengubah jalan sejarah bangsa besar ini. Semoga kita tak beribu lagi pada peluru dan berbapak pada dendam…… Belum adakah peringatan dari Utusan Ilahi dalam wujud apa saja kepada kita? Masihkah kita semua suka berkubang dalam adharma?????

Kembali ke Sri Krishna. Para leluhur kita menggambarkan Sri Krishna mempunyai beberapa senjata andalan.

Pertama Senjata Cakra: Panah berujud cakra bulat seperti roda dan bergerigi tajam di ujung-ujung giginya. Senjata tersebut adalah hukum alam semesta tentang adanya Sebab-Akibat  yang akan mengejar siapa pun juga dan berada  dimanapun juga. Tidak ada tempat untuk sembunyi dari Cakra Sri Krishna, meninggalkan dunia pun tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Setelah seseorang memahami adanya Cakra Sri Krishna, maka dia akan menjalani hidup dengan penuh kesadaran. Perubahan pertama bagi seorang yang sadar adalah memahami bahwa apapun yang dihadapinya, hal tersebut adalah akibat dari perbuatannya di masa lalu. Bapak Anand Krishna memberikan beberapa wisdom:  Kebaikan yang kau lakukan pasti kembali padamu. Begitu jua dengan kejahatan. Kau dapat menentukan hari esokmu, penuh dengan kebaikan atau sebaliknya”……….. Kenapa mesti menangisi nasib? Kau adalah penentu nasibmu sendiri. Apa yang kau alami saat ini adalah akibat dari perbuatanmu di masa lalu. Apa yang kau buat hari ini menentukan nasibmu esok”……...

Kedua Senjata Bunga Wijaya Kusuma:  Bunga cinta kasih yang jaya, puncak karya pohon kehidupan, yang bisa menyembuhkan penyakit batin dan menghidupkan orang yang telah mati  jiwanya. Bagi mereka yang yakin kepada Sri Krishna, dia akan sembuh dari penyakit yang selama ini dialaminya, penyakit lupa diri karena hidup dalam dunia ilusi ‘mind’, maya. Bagi orang yang sadar, dia akan melakukan taubat, metanoia, dan Sri Krishna akan menghidupkan kembali jiwanya yang mati dan lahir penuh kasih. Mati dimaksudkan sebagai ego keras yang tidak dapat berubah. ‘Mind’ yang mengeras, sehingga sinar kasih Ilahi tak dapat diterimanya. Bapak Anand Krishna memberikan beberapa wisdom: Dengan menganggap dirimu lahir dari dan dalam dosa, kau menghujat Tuhan. Dirimu lahir dari dan dalam cinta, dan cinta itulah Tuhan, Allah”……... Isilah harimu dengan kasih, maka kau tak akan pernah salah. Kekuatan kasih itu, cahaya cinta itu akan menerangi pikiranmu dan mengarahkan setiap langkahmu”……... Awali harimu dengan cinta kasih, isilah harimu dengan cinta kasih, akhirilah harimu dengan cinta kasih, itulah jalan menuju Tuhan”…….. Kasih tidak mengharapkan imbalan. Kasih itu sendiri adalah imbalan. Kebahagiaan yang kau peroleh saat mengasihi itulah imbalan kasih”……..

Ketiga Senjata Cermin: Alam adalah salah satu wujud kasih Sri Krishna, juga merupakan cermin Sri Krishna. Manusia yang sadar dapat bercermin dari perilaku alam. Alam ini adalah cermin bagi diri, alam bersifat universal, tidak ‘pilih kasih’, bertindak sama terhadap semua makhluk. Alam bersifat kasih, hanya memberi. Bapak Anand Krishna memberikan beberapa wisdom: Men-cahaya-i diri saja tidak cukup. Cahaya yang menerangi dirimu itu mesti dibagikan dengan setiap orang yang membutuhkannya. Yakinlah bila kau mampu melakukan hal itu”……. Bertindaklah sebagai cermin dihadapan orang lain sehingga dia sadar akan wajah asli dirinya.

Keempat Aji Pameling : Kekuatan Yang Mengingatkan. Sri Krishna selalu mengingatkan manusia untuk berbuat Benar. Dia dapat memanggil dari jarak jauh, misalnya memanggil  Hanuman yang bertapa di Gunung Kendalisada. Bagi seorang yang bersih batinnya, dia akan mendengar panggilan Ilahi untuk kembali ke Kebenaran, kepada jati dirinya. Bapak Anand Krishna memberikan beberapa wisdom: Tuhan adalah gaung jiwamu. Bila jiwamu masih berkarat, maka kau akan menggaungkan Tuhan yang berkarat. Kau akan menciptakan sosok Tuhan yang berkarat. Bersihkan jiwamu”……..

Kelima Aji Kesawa:  Kekuatan untuk mengubah wujud menjadi Raksasa.  Dalam diri manusia terdapat potensi luarbiasa besar. Potensi  luarbiasa yang terpendam dalam diri. Sri Krishna paham dengan membangkitkan potensi luar biasa dalam diri akan bermanfaat bagi alam semesta. Bapak Anand Krishna memberikan beberapa wisdom: Kau adalah pusat dunia, bila kau berubah, dunia akan berubah. Fokuskan seluruh kesadaranmu pada perubahan diri. Jangan takut pada mereka yang menghalang-halangimu. Bila niatmu kuat dan keinginanmu untuk bekerja keras pun ada, maka ketahuilah bahwa tiada sesuatu yang dapat menghalangimu untuk mewujudkan impianmu”…….. Cukup sudah kau mengemis dan minta dikasihani. Sekarang berdirilah di atas kedua kakimu. Sepasang tangan dan kaki yang kau miliki itu hanya menunggu perintahmu untuk menggerakkan bukit-bukit dari tempatnya”……..

Demikian beberapa wisdom dari Bapak Anand Krishna untuk memberdayakan diri. Sayang sekali tindakan beliau untuk membangkitkan rasa percaya diri terhadap kebudayaan sendiri dan persatuan Indonesia atas dasar kebhinnekaan mendapatkan tentangan dari beberapa kelompok yang tidak suka Indonesia bersatu. Lihat berkas lengkap di http://freeanandkrishna.com/

 Bagaimana pun Bapak Anand Krishna tetap memaafkan dan mengajak mereka yang sadar untuk selalu mendoakan Jaksa dan para Hakim agar dapat menjalankan amanah yang diemban mereka untuk melaksanakan persidangan dengan fair…… Forgiving without being boastful about it – that is true forgiveness. That is spirituality. Lord, grant me the strength to do so…….

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Mei 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: