Renungan Kebangsaan:Dewi Gendari, Kisah Seorang Ibu Dari Para Pelaku Kekerasan Dalam Mahabharata


Dewi Gendari adalah putri dari Prabu Gandhara dari negari Gandharadesa, atau Khandahar, di daerah Afghanistan. Dia mempunyai tiga orang saudara dan salah satunya bernama Shakuni yang mengikutinya pergi ke daerah Bharat, India.

Sebagai putri raja Gandhara dia berharap dipersunting oleh Pandu, Sang Maharaja Hastina, akan tetapi oleh Pandu dia dihadiahkan kepada saudaranya Drestarastra yang buta. Pandu memilih permaisuri Dewi Kunti putri Prabu Basudewa yang telah diambil anak angkat oleh Prabu Kuntiboja. Ada rasa sakit hati dalam hati Dewi Gendari yang tadinya berharap menjadi permaisuri seorang maharaja, kemudian menjadi istri dari seorang buta saudara sang raja. Dia makin sakit hati kala Pandu menurut saja disuruh Bhisma mengambil Madri, putri raja Mandrapati sebagai istri kedua. Mengapa dia tidak dijadikan istri kedua, karena pada saat itu seorang raja jamak beristri dua atau tiga untuk menjamin kelanggengan sebuah dinasti.

Pada saat Dewi Gendari hamil, Dewi Kunti pun sedang hamil juga. Akan tetapi Dewi Kunti dengan mudah melahirkan Yudistira, Bhima dan Arjuna, sedangkan dirinya belum melahirkan juga. Dalam kegelisahan yang memuncak, dari rahimnya lahirlah segumpal daging yang belum berbentuk janin. Atas Bantuan Bhagawan Abyasa yang menguasai ilmu kloning, maka daging tersebut diubah menjadi 100 orang bayi Korawa…….. Kejadian 5.000 tahun sebelumnya, kala Dewi Sukesi melahirkan segumpal darah bercampur telinga dan kuku yang menjadi Rahwana, Kumbakarna dan Sarpakenaka seakan terulang lagi. Setting panggung dunia jelas sudah berubah, dulu di zaman Sri Rama perbedaan antara raksasa dan manusia jelas, sedangkan di zaman Sri Krishna praktis raksasa tinggal sedikit, tetapi sifat keraksasaan tersebut sudah merasuk ke diri manusia.

Pengaruh kejiwaan seorang ibu hamil sangat berpengaruh kepada calon putra yang dikandungnya. Kegelisahan seorang ibu dapat mempengaruhi janin yang dikandungnya, bahkan dapat membuat sang ibu melahirkan secara prematur. Demikian pula rasa emosi kebencian sang ibu terhadap seseorang membuat sang bayi terpengaruh olehnya. Oleh karena itu sejak dalam kandungan para Korawa sudah membawa bibit kebencian terhadap keluarga Pandawa. Hal tersebut ditambah lagi karena mereka sejak kecil diasuh oleh adik Gendari, Shakuni yang memang mempunyai rasa dendam terhadap Pandu dan Dewi Kunti. Shakuni pernah mengharapkan Dewi Kunti sebagi istrinya tetapi kalah saingan dengan Pandu. Dewi Gendari sendiri lebih sering merawat dan memperhatikan suaminya yang buta.

Saat Pandu meninggal, dan Drestarastra diangkat sebagai maharaja pengganti sampai Pandawa dewasa, jalan Shakuni menuju kekuasaan semakin lempang. Patih Hastina, Gandamana dianjurkannya pergi inspeksi ke daerah perbatasan, akan tetapi dijebak masuk perangkap dan terjatuh ke dalam sumur yang dalam. Shakuni kemudian diangkat sebagai patih Hastina. Karena Prabu Drestarastra buta, maka praktis kekuasaan berada padanya, hanya Kakek Agung Bhisma dan Widura, adik tiri Prabu Drestarastra yang menjadi ganjalan baginya. Pandita Drona yang masih perlu harta untuk menyenangkan putranya mudah dikendalikannya. Demikianlah para Korawa dididik Shakuni menjadi pemuda-pemuda yang ambisius dan menggunakan segala cara untuk mencapai keinginannya. Kurang perhatian dari sang ibu menyebabkan para Korawa tidak dapat mengembangkan potensi kelembutan di dalam diri mereka.

Sejak peristiwa melahirkan segumpal daging yang penuh dengan penderitaan dan kecemasan, sampai hatinya memperoleh ketenangan setelah Bhagawan Abyasa mengubah segumpal daging tersebut menjadi 99 orang putra dan satu orang putri, Dewi Gendari sadar bahwa memang demikianlah suratan kehidupan yang harus dijalaninya. Dewi Gendari tidak iku campur masalah pemerintahan, dia lebih memperhatikan Prabu Drestarastra yang buta dan mengalami banyak masalah. Dia menjadi tempat tumpuan keluh kesah suaminya, dan itu disadari sepenuhnya oleh Dewi Gendari.

Bahkan pada akhirnya Gandari menutup kedua matanya dan tidak lagi mau melihat keindahan dunia. Dirinya hanya memperhatikan suaminya dan menyediakan diri sebagai tempat curhat suaminya. Para pelayannya pernah berkata kepada Drestarastra bahwa kedua mata Dewi Gendari telah lengket. Syaraf-syaraf matanya yang tidak digunakan sudah mengalami penurunan fungsi. Sudah menjadi buta sungguhan. Dan Dewi Gendari tidak menyadarinya. Setiap habis mandi penutup matanya selalu diganti. Dan tak ada secercah keinginan pun untuk melihat barang sesuatu. Seorang istri yang amat setia. Yang telah menyatu dengan diri suaminya. Pikirannya hanya pada Destarastra. Bila sang suami sedih, dia pun ikut sedih.

Dewi Gendari sangat percaya kepada Bhagawan Abyasa yang telah menyelesaikan permasalahan kelahiran putra-putranya. Apa pun nasehat Sang Bhagawan diingat-ingat dan dilaksanakannya. Sang Bhagawan menasehati agar dia selalu setia dan penuh kasih kepada suaminya. Sang Bhagawan berkata bahwa nanti akan terjadi peristiwa besar yang mengubah kehidupan Drestarastra, dan hanya dia yang dapat mengobatinya.

Pada saat Widura tersinggung dengan ucapan dan tindakan Duryudana yang tidak mau berdamai dengan Pandawa, Widura pergi melakukan tirtayatra, perjalanan ke tempat-tempat suci. Akan tetapi dia meminta putranya Sanjaya yang juga merupakan cucu kesayangan Bhagawan Abyasa untuk menjadi kepala rumah tangga Drestarastra. Dari Sanjaya, Dewi Gendari mendapat butir-butir kebijaksanaan Sang Bhagawan. Pada saat perang Bharatayuda berlangsung, Sanjaya diberkati ilmu oleh Sang Bhagawan  Abyasa untuk melaporkan progres peperangan kepada Drestarastra. Sang Bhagawan menguasi Wedha dan mengumpulkan kitab-kitab Wedha sehingga dia menguasi banyak pengetahuan. Sepertinya, bila zaman sekarang Sang Bhagawan sudah memasang CCTV di langit Kurukshetra, sehingga pergerakan apa pun dapat dipantau oleh Sanjaya dan dilaporkan kepada Drestarastra.

Selesai perang Bharatayuda, para Pandawa tetap menghormati Drestarastra dan Dewi Gendari layaknya orang tua mereka. Para pelayan begitu menghormati bekas raja yang buta dan istrinya yang selalu menutup matanya dengan kain hitam. Sepasang orang tua aneh yang menjadi bahan perbincangan seluruh kraton. Bhima yang kasar pun selalu tunduk begitu melihat mereka berdua berjalan dipandu pelayan mereka, dan menyapa dengan lembut. Tidak ada satu pun warga istana yang cemburu pada mereka dan semuanya melihat sepasang insan tua tersebut dengan penuh kasih sayang.

Pada suatu hari, Dewi Gendari berkata, “Suamiku, aku sudah mengabdikan diri padamu, apa pun yang kau rasakan dapat kurasakan. Ingatkah suamiku akan nasehat Ayahanda Abiyasa sebelum perang Bharatayuda? Semuanya pada hakikatnya adalah manifestasi dari Hyang Widhi. Hanya ada satu tempat yang bisa menyangkal keberadaan-Nya dan itu ada di pikiran kita.” Dengan lirih Dewi Gendari meneruskan, “Dulu kita belum paham, akan tetapi segala penderitaan yang kita alami ini, membuat kita dapat memahami ucapan Ayahanda Abiyasa…… Aku telah beberapa kali bertemu dengan Adinda Kunti. Dia berkata dengan tegas bahwa tugasnya di dunia telah selesai. Tugas dia adalah mendampingi para putranya kala memperjuangkan kebenaran, tetapi dia tak ingin menikmati kemenangan duniawi. Menikmati kemenangan bukan dharma dia, dia bertekad akan menyerahkan sisa hidupnya kepada Hyang Widhi dan meninggalkan kemewahan istana…… Apakah kita tidak malu, bahwa dia yang putranya menang perang tidak mau menikmati kenyamanan hidup, sedangkan kita yang putranya kalah perang malah menikmati kenyamanan istana? Dalam darahmu ada warisan genetik dari Ayahanda Abiyasa yang bijak dan Kakek Resi Parasara yang suci. Kesucian ada dalam dirimu, suamiku! Mari kita lampaui penderitaan akibat pola pikiran kita yang salah….. Kita bukan pikiran, kita dapat memperhatikan gerak pikiran, kita dapat mengendalikan pikiran, jati diri kita pasti melampaui pikiran.”

Dalam buku “Soul Quest, Pengembaraan Jiwa dari Kematian Menuju Keabadian”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2004 disampaikan……. Perjalanan adalah Tuhan, kejadian adalah Tuhan. Semua ini Tuhan. Adakah sebuah tempat di mana tidak ada Tuhan? Ya, ada. Ya dan tempat itu adalah mind manusia. Mind bisa menerima Tuhan, bisa juga menolaknya. Ia bisa menempatkan Tuhan begitu jauh, bisa pula mendekatkan-Nya. Mind adalah bagian kekuatan Tuhan yang membuatmu statis berada dalam satu tingkat kesadaran. Dan tingkatan itu bisa keduniawian, keilahian, bisa juga bersifat seperti malaikat dan bisa juga bersifat kebinatangan. Mind adalah halangan dari perjalanan. Mind membuatmu berjalan di tempat…..

Drestarastra mengangguk pelan, “Benar isteriku, aku tak sanggup menanggung penderitaan ini tanpa dirimu, pikiran itu berlari kesana-kemari, dan kini aku sadar bahwa aku harus berpegang pada Hyang Widhi agar dapat tenang. Aku pernah menolak-Nya. Ya, karena merasa bebas dan tidak bisa merasakan-Nya.”

Dalam buku “Soul Quest, Pengembaraan Jiwa dari Kematian Menuju Keabadian”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2004 disampaikan……. bahwa mind itu tidak pernah bisa diam di satu tempat. Ia bergerak sepanjang waktu. Seperti seekor ternak yang diikat pada sebuah pohon. Jika tali ikatannya panjang, ternak itu bisa berlarian ke sana kemari dan tak menyadari ikatannya. Kebebasan geraknya dibatasi oleh panjang tali ikatannya. Dan pohon yang digunakan untuk mengikat ternak itu adalah “pohon Tuhan”.

Demikian sepotong uraian Bapak Anand Krishna tentang spiritualitas. Beliau berbicara tentang esensi yang  menembus sekat-sekat perbedaan keyakinan. Secara universal ada benang merah persamaan di antara banyak keyakinan dan beliau mencari persamaannya demi persatuan Indonesia. Nampaknya beraneka ragam, esensinya satu jua. Bhinneka Tunggal Ika. Sayang, Pandangan Bapak Anand Krishna mendapatkan tentangan dari kelompok yang tidak setuju dengan persatuan. Lihat berkas lengkap di http://freeanandkrishna.com/

Dewi Gendari berbisik lirih, “Beberapa hari lagi saudaramu Widura akan datang. Ajak dia bicara empat mata. Sampaikan permasalahan kejiwaan kita. Dia telah lama melakukan tirtayatra, perjalanan ke tempat-tempat suci dan dia tak mau melihat pertempuran di antara keponakan-keponakannya, mungkin ada solusi. Kita masih ingat bahwa  Widura kala itu minta Duryudana agar jangan berperang. Dan dia dipermalukan anak kita di depan orang banyak,  dikatakan bahwa setiap garam dalam makanan Widura berasal dari raja, mengapa dia tidak menurut pada raja. Dan, Widura langsung meletakkan busur panahnya dan pergi meninggalkan Hastina tanpa seucap kata pun.”

Tiga hari setelah Widura menginap di Hastina dan saling melepaskan kerinduan dengan seluruh kerabat, malam itu Widura mengajak bicara empat mata dengan Destarastra, “Adinda masih mempunyai tugas Ilahi. Bertemu kakanda adalah misi hidup adinda sebelum melepaskan tubuh tua ini. Adinda sudah tidak mempunyai keinginan yang lain lagi. Kakanda, tinggalkan semua kenyamanan semu ini dan pergilah ke hutan. Sang Kala berjalan cepat ke arah kita. Tidak ada kata yang yang dapat membujuk Sang Kala untuk membatalkan tugasnya. Kenyamanan istana ini bagaimana pun akan ditinggalkan kakanda juga. Waktu kita sangat pendek, jangan mengikuti mereka yang masih muda usia. Tidak ada gunanya menyesali kesalahan besar kita di masa lalu atau membanggakan diri rencana kebaikan besar kita di masa depan. Kita sudah jenuh dengan kenikmatan maupun penderitaan duniawi. Sebagai orang lanjut usia, kita harus memilih jalan tercepat, jalan bhakti, semua pikiran, ucapan dan tindakan hanya bagi Dia. Sisa hidup ini hanya bagi Dia semata, Ekagrata.”

Dalam buku “Soul Quest, Pengembaraan Jiwa dari Kematian Menuju Keabadian”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2004 disampaikan…… Sungai kehidupanmu memang kotor, juga sempit. Tapi itu pun sungai juga. Kau melihat kotorannya. Kau melihat airnya yang kehitaman, tapi kau tak melihat sungai yang mengalir………. Jangan lupa, bersih atau kotor, sungai kehidupanmu jauh lebih dekat dengan laut. Ia lebih beruntung dari sungai pegunungan yang indah dan jernih. Memang bersih dan para perawan pun tidak ragu berendam di dalamnya, tetapi perjalanannya masih  panjang. Begitu juga denganmu. Ya, kau semakin dekat dengan tujuanmu. Kau tak bisa lebih dekat dengan Tuhan. Tuhan tak pernah menjauh darimu. Tuhan tidak berada di akhir perjalananmu. Perjalanan inilah Tuhan. Takdirlah yang menuntunmu ke tujuanmu!

Destarastra minta ijin Widura untuk berbicara pada istrinya dan tidak lama kemudian istrinya berbicara dengan Dewi Kunti, malam itu juga mereka bertiga meninggalkan Hastina. Sedangkan Widura setelah bertemu dengan Drestarastra langsung pergi meneruskan perjalanannya. Keesokan harinya Istana Hastina geger, mereka kehilangan Ibunda Kunti dan sepasang orang tua, Drestarastra dan Gendari yang sudah menyatu dalam kehidupan mereka. Pamanda Widura di kamar tamu pun telah raib. Bhagawan Abyasa datang dan berkata pada Yudistira, “Jangan dicari! Mereka akan berada di asrama para resi di tempat pertemuan tujuh sungai. Beberapa bulan lagi, Drestarastra akan  melepaskan jasadnya berbarengan dengan kebakaran hutan tempat mereka bertapa yang akan membakar Dewi Gendari dan Dewi Kunti. Widura pada saat ini sedang menuju Badarikasrama dan melepaskan jasadnya di sana!”

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://twitter.com/#!/triwidodo3

 

Mei 2011

Iklan

2 Tanggapan

  1. Sangat bagus buat pedoman semua orang tua

  2. luar biasa bagusnya..untuk pelajaran hidup.ternyata didunia ini g ada yg kekal.
    Semuanya kembali kepadanya..pada akhirnya kebenaran akan selalu menang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: