Renungan Kebangsaan: Menaklukkan Jarasandha, Sasaran Antara Untuk Memperkuat Koalisi Pandawa


Yudistira, merasa sangat berat untuk menyampaikan keinginannya untuk melakukan Upacara Rajasuya kepada Sri Krishna.  Rajasuya adalah suatu Upacara Agung yang dilakukan oleh seorang calon maharaja dan penobatannya sebagai tanda bahwa kedaulatannya tidak dipersoalkan lagi. Yudistira sudah merasakan pahit getirnya diperangkap dalam istana kayu yang dibakar dan kemudian mengembara menjauhi pasukan gelap para Korawa yang ingin membunuh mereka. Setelah menjadi menantu dari Raja Drupada, dan dukungan para raja dinasti Yadawa, keluarga ibunya maka posisi Pandawa menjadi kuat. Drestarastra akhirnya memberikan tanah kepada Pandawa yang kemudian dikenal sebagai Indraprasta. Setelah Indraprasta mulai menampakkan kemajuan, saudara-saudaranya mengingatkan perlunya kedaulatan mereka diakui raja-raja lainnya. Ada dua macam cara menjadi maharaja. Pertama upacara Aswameda, seorang maharaja melepaskan seekor kuda diikuti pasukan, dan apabila raja yang wilayahnya dilalui mendiamkan, maka raja tersebut mengakui kedaulatan sang maharaja, dan bila tidak mau dilewati, maka akan terjadi perang antar pasukan sampai ada yang menang. Yang kedua upacara Rajasuya, tidak perlu memakai kuda, langsung para kesatria mendatangi raja-raja setempat, mau mengakui kedaulatan atau tidak? Bila mengakui maka mereka akan datang pada acara upacara Rajasuya.

Banyak raja yang menyetujui Yudistira sebagai Maharaja, karena dia putra Maharaja Pandu. Dan yang tidak setuju takut dengan saudara-saudaranya yang perkasa. Arjuna mendesak Yudistira, “Kakanda, Berbicaralah dengan Sri Krishna, kakanda adalah tetua Pandawa, Kakanda adalah murid terpandai dari Guru Krepa yang mengajar ilmu pemerintahan. Kakanda mewakili Pandawa, mohon jangan terlalu sungkan untuk meminta pengakuan para raja.” Esoknya, Arjuna mendengar permintaan Yudistira kepada Sri Krishna, “Kakanda Sri Krishna yang kami hormati, Mendiang Ayahanda Pandu Dewanata belum sempat mengadakan upacara Rajasuya sebelum mangkat. Beliau memberi wasiat agar kami sulung Pandawa melakukannya, mohon pertimbangan Kakanda.”

Sri Krishna menjawab, “Sepertinya bukan karakter Adinda Yudistira berambisi menjadi seorang maharaja. Akan tetapi seorang pemimpin harus mengalahkan karakter pribadinya, mengikuti amanah rakyatnya. Aku bangga Adinda telah dapat menaklukkan sifat lembut dan pemalu Adinda. Seorang raja harus demikian. Saya yakin para raja akan mengakui Adinda sebagai maharaja. Akan tetapi pada saat ini ada Raja Jarasadha yang akan melakukan upacara Rundamala yang mengerikan. Sudah 95 raja ditawan olehnya dan setelah mencapai seratus orang, mereka semua akan dikorbankan untuk dijadikan karangan  bunga yang terbuat dari tengkorak para raja. Bila dia berhasil mengadakan upacara, maka sejak saat itu 100 kerajaan akan tunduk ketakutan terhadap Jarasadha dan raja-raja yang lain akan mudah ditundukkannya. Jarasandha mempunyai dua orang putri yang dinikahkannya dengan Raja Kamsa. Jarasandha begitu dendam denganku karena aku telah membunuh Kamsa. Koalisi antara Jarasandha dan Kamsa bertujuan untuk menguasai dunia. Sudah tujuh belas kali pasukannya menyerang Mandura, tetapi pasukannya selalu dikalahkan dan dirinya menyusun kekuatan kembali untuk menghancurkan diriku dan Baladewa. Untuk itulah agar masyarakat tenang, aku mendirikan Istana di Dwarawati yang lebih bisa berkembang tanpa kecemasan yang mengganggu masyarakat.”

Dalam buku “Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan”, PT Gramedia Pustaka Utama, 2002 disampaikan……. Membaca cerita Mahabharata, saya baru sadar bahwa dunia ini sebenarnya tidak pernah berubah. Skenario dasar atau alur ceritanya tidak pernah berubah. Para pelakunya berubah, settingnya berubah, dekornya berubah, namun panggungnya tetap sama. Ceritanya itu-itu saja. Perang disebabkan oleh keserakahan. Selama manusia masih serakah, perang tidak dapat dihindari. Anda boleh saja bicara tentang kedamaian; Anda boleh saja mengukuhkan undang-undang untuk kerukunan antar kelompok, tetapi selama keserakahan masih ada, persaingan akan selalu ada. Selama itu pula perang dan kerusuhan tidak dapat dihindari…….

Arjuna melihat Bhima, kakaknya berbicara dengan penuh semangat, “Kanda Krishna, biarlah mayat Jarasandha kupersembahkan pada-Mu. Kita akan menyelamatkan 95 raja yang nantinya akan mendukung Yudistira sebagai maharaja, dan tidak perlu ada lagi pasukan Jarasandha yang mengorbankan nyawanya dalam peperangan melawan Madura.”

Hari itu Arjuna, Bhima dan Sri Krishna berpakaian Brahmin menuju Giripraja, benteng Jarasandha. Di tengah perjalanan Sri Krishna bercerita tentang kelahiran Jarasandha…….. “Brihadrata raja Magadha pergi ke hutan bertapa, kedua istrinya sudah lama belum mempunyai putra sebagai calon penggantinya. Keinginannya sangat kuat untuk mendapatkan seorang putra perkasa. Keinginannya begitu kuat sehingga dia lupa memohon agar dirinya dikaruniai seorang putra yang bijaksana. Seorang Resi memberikan buah dengan pesan agar berhati-hati, buah tersebut harus dijaga penuh kelembutan dan jangan memakai kekerasan terhadapnya. Sang Resi melanjutkan, “Biarlah buah tersebut dimakan isterimu, maka putramu akan lahir”……. Kebimbangan menyelimuti sang raja. Istrinya ada dua orang dan sama-sama dicintainya. Demi keadilan maka buah tersebut dibelah dengan pisau dan dibagi menjadi dua untuk diserahkan kepada kedua istrinya. Sang raja lupa bahwa dia telah melakukan kekerasan terhadap buah pemberian sang resi. Sang raja sangat gembira setelah beberapa bulan nampak kedua istrinya bersamaan hamil…… Akan tetapi, seluruh istana dirundung duka yang dalam ketika kedua istrinya melahirkan. Mereka hanya melahirkan masing-masing separuh bayi. Dengan penuh kedukaan sang raja meletakkan kedua belahan bayi di hutan dan mohon ampun atas kesalahannya  karena tidak memperhatikan pesan sang resi.

Seorang Raksasa bernama Jara memperhatikan sang raja yang meletakkan sesuatu di tengah hutan. Pada malam harinya, Jara mendatangi barang tersebut dan menemukan kedua belahan bayi . Kedua belahan bayi tersebut ditangkupkan dan sebuah keajaiban terjadi. Sang bayi menangis dan menjadi hidup. Jara kemudian mendatangi sang raja dan mengatakan dia bahwa dia tidak bisa makan bayi yang hidup, dan menyerahkan bayi tersebut kepada sang raja. Bayi tersebut kemudian diberi nama Jarasandha……

“Jarasandha walau terkenal telengas dan kejam akan tetapi dia sangat menghargai brahmana, apa pun permintaan brahmana yang datang kepadanya akan dipenuhinya. Itulah sebabnya kita semua memakai pakaian brahmin”, kata Sri Krishna…….

Jarasandha menemui mereka dan setelah mengamati para tamunya dia berkata,  “Aku tahu, kalian masih muda bahkan ada yang tinggi besar seperti diriku. Pakaian kalian seperti Brahmin, tetapi tangan dan tubuh kalian adalah kepunyaan para ksatriya. Bagaimana pun aku menghormati Brahmin. Kalian silakan minta apa saja dan akan kupenuhi. Aku sudah mendengar kisah tentang Raja Bali pada zaman Kreta Yuga yang memberikan kekayaan dan dirinya kepada Brahmin Vamana. Aku tidak takut untuk mengulangi hal yang sama.” Sambil memperhatikan muka Sri Krishna Jarasandha berucap, “Aku ingat sekarang kau adalah Krishna dalam pakaian Brahmin. Apakah kau akan mengulangi kejadian Brahmin Vamana kepada Raja Bali? Karena aku telah terlanjur berjanji?”

Krishna menjawab dengan penuh wibawa, “Benar aku adalah Krishna, ini Bhima dan Arjuna. Raja Jarasandha, zaman telah banyak berubah, sekarang adalah zaman Dwapara Yuga, Zaman Kreta Yuga sewaktu Bali ketemu Vamana telah lama lewat. Zaman Treta Yuga sewaktu Sri Rama melawan Rahwana juga sudah berlalu. Tidak raja, aku hanya menantang berduel dengan kamu. Tanpa melibatkan prajuritmu. Itu saja.”

Penyelesaian peperangan yang dilakukan lewat duel para wakil pasukan yang berperang sudah ada pada zaman Mahabharata, hal tersebut juga dilakukan oleh bangsa Yunani dalam kisah Troya, antara Paris dan Menelaus, maupun Achilles melawan Hector.

Jarasandha menjawab dengan bersemangat, “Baik tantanganmu kuterima. Aku tidak suka melawan orang licik seperti kamu, Arjuna pun terlalu halus. Biarlah Bhima bertarung denganku.”……… Sebuah pertarungan yang luar biasa, saling gantian menjatuhkan, akan tetapi selalu saja sewaktu malam tiba, belum ada yang kalah di antara mereka. Mereka makan malam bersama dan melanjutkan pertarungan keesokan harinya…… Pada malam hari kedelapan dan Sri Krishna mengajak Bhima dan Arjuna menolak makan bersama Jarasandha. Dalam keheningan malam, Bhima berkata, “Krishna kakandaku, sudah delapan hari dan tidak ada yang kalah antara aku dan Jarasandha. Ada kejenuhan dalam diriku, mungkin demikian juga yang dialami Jarasandha. Tetapi pertarungan ini adalah persembahan Pandawa kepada Sri Krishna dan aku tidak boleh lemah semangat!” Sri Krishna tersenyum, “Aku sudah melihat keteguhanmu dalam mewujudkan  persembahan bagiku. Sudah cukup upaya persembahanmu, besok pagi lebih bersemangatlah….. tolong jangan lupa perhatikan aku kala kau dalam posisi unggul”……..

Sri Krishna adalah Sadguru bagi Pandawa bersaudara. Dalam buku “Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo”, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2006 disampaikan ilustrasi tentang Sadguru……. Seperti seorang anak nelayan yang baru pertama kali berenang di laut, kemahiran berenang sudah ada di dalam gen dia. Ia telah mewarisinya dari kedua orang tuanya, namun kemahiran itu masih berupa potensi yang terpendam; seperti benih yang masih berupa biji, belum ditanam. Ia masih harus menanamnya, dan menanamnya sendiri. Sang ayah bangga melihat anaknya terjun ke dalam laut tanpa bantuan. Ia meneriaki anaknya dari jauh saat menghadapi ombak besar… bagaimana ia harus merenggangkan otot-ototnya, and just let go! Tetapi, ia tidak ikut terjun, karena ia yakin akan kemampuan anaknya. Anak itu adalah perluasan dari jiwanya; jiwa seorang nelayan. Ia membiarkan anaknya terombang-ambing, karena ia yakin bahwa anaknya tidak akan tenggelam. Ia juga mempercayai kemampuannya sendiri, dengan instingnya sebagai nelayan. Bila anak itu sudah mulai tenggelam dan tidak mampu membantu dirinya, sang ayah akan mengetahuinya dan akan langsung terjun ke laut untuk menyelamatkannya. Seperti sang nelayan itulah Sadguru, Guru Sejati, Master, Murshid!……….

Demikian contoh penjelasan Bapak Anand Krishna tentang Guru, seseorang yang penuh kasih kepada sesama dan memandu kesadaran mereka yang datang kepadanya. Hubungan Guru dan mereka yang percaya kepadanya adalah hubungan rasa. Rasa bersifat universal, lintas usia, lintas profesi, lintas gender, lintas agama. Di Ashram banyak orang dari anak kecil sampai dewasa, berbeda profesi, berbeda suku, berbeda ras, berbeda agama dapat bekerja bersama, meningkatkan kesadaran dalam suasana bahagia……. Lihat  http://anandkrishna.org/english/index.php?isi=about%2Findex.lbi

http://www.freeanandkrishna.com/

Berbicara masalah kedamaian dunia. Mengapa kedamaian semakin menjauh? Karena ada “division”, ada pembagian. Karena ada pembagian maka timbullah friksi, muncullah perkelahian. Pembagian, pengkotak-kotakan sudah terjadi menyeluruh dalam setiap kehidupan manusia, pembagian negara, agama, ras, warna kulit, geografi dan sebagainya. Semua orang menginginkan kedamaian, kebahagiaan, kemakmuran, betul demikian semuanya…… akan tetapi hanya kedamaian, kebahagiaan dan kemakmuran bagi kelompoknya. Kelompok Amerika hanya memperjuangkan bagi Amerika, demikian pula Eropa, Asia. Suatu agama hanya memperjuangkan kedamaian, kebahagiaan dan kesejahteraan bagi umat seagamanya saja. Dan selalu kita hanya memikirkan kelompok kita dan mengabaikan kelompok lain di luar kita, itulah sebabnya tidak pernah tercapai perdamaian……. Terlalu banyak pengkotak-kotakan dalam kehidupan, pada hal secara fundamental kita itu sama-sama manusia…… Harus ada transformasi, atau perubahan sikap mental, perubahan “attitude”. Itulah yang diingatkan oleh Bapak Anand Krishna……Tuhan telah memberikan benih atau  potensi damai dalam diri manusia, dan manusialah yang harus mengolahnya agar benih atau potensi tersebut berkembang menjadi pohon yang mengeluarkan buah yang berguna……

Sepanjang malam Arjuna dan Bhima berpikir keras dan tetap saja menemui jalan buntu. Kemudian Arjuna dan Bhima menenangkan diri, mengatur napas dan berserah diri kepada Gusti, “Sri Krishna aku percaya kepada-Mu.” Dan, mereka tertidur lelap…..

Esoknya Bhima kembali bertarung melawan Jarasandha. Bhima berhasil membanting Jarasandha hingga tubuhnya terpisah menjadi dua, akan tetapi kedua tubuh tersebut bertaut kembali, dan Jarasandha hidup lagi. Sekali lagi Bhima membanting Jarasandha dan kemudian memperhatikan Sri Krishna yang sedang mengambil satu helai daun dan menyobek tepat ditengahnya dan membuang keduanya ke tempat terpisah. Bhima sekejap berpikir dan tiba-tiba dia membelah Jarasandha. Sebuah raungan kesakitan membahana, dan Bhima segera membuang kedua bagian tubuh Jarasandha ke tempat berjauhan. Kekerasan yang dilakukan Jarasandha telah mendapatkan balasan yang setimpal. Jarasandha mati tak dapat hidup lagi dan Bhima membebaskan 95 raja yang ditawan. Ke 95 raja berterima kasih dan berjanji akan datang pada upacara Rajasuya bagi Yudistira dan akan mengakui kedaulatannya. Ke 95 raja ini nantinya akan bergabung dalam koalisi Pandawa dalam perang Bharatayuda……

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Mei 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: