Renungan Kebangsaan: Upacara Rajasuya Dan Akhir Kisah Dua Raksasa Penjaga Istana Waikunta


Di zaman mahabharata terdapat banyak kerajaan yang merdeka yang menjalankan pemerintahannya sendiri. Akan tetapi ada beberapa maharaja dari kerajaan besar yang diakui dan dihormati oleh para raja sekitarnya. Indraprasta sebagai salah satu kerajaan besar akan mengundang para raja untuk hadir dalam upacara Rajasuya. Begitu mereka hadir dan mengakui kedaulatannya, maka Yudisthira sah sebagai maharaja Indraprasta. Bila ada yang diundang dan tidak hadir, maka bisa terjadi peperangan, dan yang kalah akan tunduk. Akan tetapi sangat jarang seorang raja yang menganeksasi kerajaan lainnya. 5.000 tahun sebelumnya, Sri Rama mengalahkan Rahwana, akan tetapi dia tidak menganeksasi, dia menyerahkan pemerintahan Alengka kepada Wibisana, adik Rahwana. Yudisthira dengan dukungan para saudaranya disegani para raja, dan para raja tersebut menghadiri undangan upacara Rajasuya. Perayaan semakin semarak karena ke 95 raja bekas tawanan Jarasandha hadir sebagai rasa terima kasih kepada Pandawa.

Sebagai akhir dari upacara Rajasuya, dilakukan persembahan kepada tamu yang paling dihormati di antara semua raja-raja dan resi yang hadir. Yudisthira kebingungan, kepada siapa penghormatan itu diberikan. Dan menyeletuklah Bhisma, “Yudistira, hanya ada seorang yang pantas menerima kehormatan yaitu Sri Krishna.” Yudisthira menurut dan dia beserta Drupadi mulai mencuci kaki Sri Krishna dengan air bunga. Dan, kemudian air tersebut dipercikkan kepada kepala semua saudara-saudaranya.

Dalam buku “Mengungkap Misteri Air”, Anand Krishna dkk, One Earth Media, 2006 disampaikan…… Air mempunyai sifat membersihkan, dan mendinginkan. Dr. Masaru Emoto membuktikan bahwa air mempunyai kesadaran, apabila air mendengarkan lagu yang indah, didoakan, dihormati, atau mendapatkan getaran penuh kasih maka air akan membentuk kristal hexagonal yang indah. Pengetahuan ini penting, karena bumi ini mengandung air sekitar 70%, demikian pula organ-organ tubuh kita mengandung air yang bervariasi dengan rata-rata pada orang dewasa sekitar 70% juga. Sejak lahir hingga mati kita membutuhkan air. Setiap acara ritual keagamaan hampir selalu menggunakan air sebagai sarana ritual……….

Air yang mendapat vibrasi doa bersama dan diberkati seorang suci mempunyai pengaruh yang luar biasa…… Dalam kisah sungai Gangga diceritakan bahwa Sungai Gangga bertanya kepada raja  Bhagiratha, “Pertama, apakah ada yang sanggup menahan diriku apabila aku menggerojok ke bumi dari angkasa? Kedua, apa untungnya aku pindah ke Bumi, setiap orang yang punya kekotoran batin dengan niat yang sungguh-sungguh dapat aku sucikan. Akan tetapi siapa yang akan mensucikan diriku, bila semua kotoran berkumpul pada diriku?” Bhagiratha menjawab, “Duhai Dewi Gangga, apabila ada seorang di antara para resi suci, para penglihat agung, mereka yang telah melampaui perbudakan karma, mereka yang tidak punya pikiran selain Tuhan, manakala satu di antara mereka berendam di sungaimu mereka akan mensucikanmu. Masalah kekuatanmu ketika turun ke bumi, kami akan minta bantuan Mahadewa.” Konon Sungai Gangga yang turun ke bumi ditahan oleh rambut Shiva, sehingga tidak ada satu pun air yang menetes di bumi, Dewi Gangga mohon maaf dan air dialirkan oleh Shiva secara perlahan-lahan ke bumi……..

Bukan hanya air, akan tetapi makanan pun dapat merasakan vibrasi kasih. Para leluhur berdoa dengan duduk melingkar dengan pusat lingkaran berupa nasi tumpeng. Doa bersama akan memberikan getaran kasih kepada kandungan air dalam nasi tumpeng dan membuat nasi tumpeng tersebut membawa berkah. Berdoa sebelum dan sesudah makan juga memberikan getaran terhadap makanan sehingga membawa berkah bagi tubuh…….

Acara puncak Rajasuya mendekati akhir, kala Shishupala berteriak memecah keheningan, “Hanya karena Pandawa bersahabat dengan Krishna mereka meninggikan derajat dia daripada raja dan resi lainnya. Orang yang dihormati ini adalah seorang penggembala. Dan dia hanya meniup seruling mengiringi para Gopi desa yang menari dan menyanyi. Dia dilahirkan di penjara. Dia si pencuri. Sewaktu kecil mencuri keju, kala menjadi raja mencuri gadis untuk dijadikan istrinya. Dia membunuh pamannya sendiri. Dia tak ada harganya untuk dihormati. Pandawa pun bukan anak yang sah dari Pandu. Bhisma juga bukan anak putri raja, dikatakan anak bidadari, siapa yang bisa membuktikannya. Aku menolak mengakui Yudisthira sebagai maharaja.”……

Para tamu menyingkir dan menutupi telinganya, mereka tak mau mendengar ucapan yang menghina Gusti yang mewujud sebagai manusia. Hati Shishupala telah tertutup……. seorang kafir yang tidak memahami sama sekali tentang cinta kasih para Gopi kepada kekasihnya. Begitu angkuhnya dia sebagai seorang raja dan melecehkan derajat kasta-kasta di bawahnya….. Bhima sudah mau bergerak, tetapi ditahan Resi Bhisma, “Kau tidak tahu, Shishupala juga akan melakukan persembahan dan dia mempersembahkan nyawanya.”…… Sri Krishna menggerakkan cakranya dan tak lama kemudian Shishupala mati. Seberkas sinar keluar dari jasadnya dan lenyap di kaki Sri Krishna. Jaya sudah menyelesaikan perannya memusuhi Wisnu selama tiga kehidupan dan kembali bersatu dengan Wisnu untuk kembali menjadi penjaga istana Wisnu di Waikunta.

Beberapa minggu kemudian Arjuna juga mendengar, Salwa menuntut balas atas kematian Shishupala dan Salwa pun akhirnya mati kena cakra Sri Krishna. Salah satu sahabatnya, Dantavakra juga menuntut balas dan dia juga mati ditangan Sri Krishna. Dantavakra adalah titisan ketiga dari Wijaya salah seorang penjaga gerbang istana Waikunta yang mendapat kutukan Resi Sanaka untuk lahir di dunia menjadi musuh Wisnu. Tugas Dantavakra memusuhi Wisnu di dunia telah selesai dan dia kembali berkumpul dengan Jaya menjadi penjaga gerbang di Istana Waikunta.

Kita melihat gambar dua penjaga Raksasa Dwarapala di depan istana dalam “Gunungan” wayang kulit. Demikian juga di kiri-kanan gerbang gedung megah sering terdapat sepasang arca raksasa memegang gada. Dua raksasa yang bernama Jaya dan Wijaya tersebut juga diabadikan sebagai nama pegunungan di Papua sebagai pintu gerbang Indonesia dari sebelah timur oleh Presiden pertama RI, Soekarno……. Mereka adalah penjaga gerbang setia di Waikunta, Istana Wisnu. Dikisahkan Wisnu ingin suasana tak terganggu saat berdua dengan istrinya Lakshmi. Jaya dan Wijaya diinstruksikan untuk tidak mengizinkan semua pengunjung masuk istana. Empat tamu telah mempunyai janji untuk bertemu dengan Wisnu, akan tetapi Jaya dan Wijaya menolak mereka masuk ke dalam istana. Ke empat tamu tersebut marah dan salah satunya Resi Sanaka memberi kutukan bahwa ke dua raksasa penjaga tersebut akan turun di dunia dan lahir dua belas kali sebagai musuh Wisnu, dewa yang selama ini menjadi pelindungnya.

Wisnu keluar menemui kedua penjaganya yang sedang bertengkar dengan para tamu, dan mengatakan bahwa mereka berdua cukup lahir tiga kali sebagai musuh Wisnu dan akan kembali lagi bersama Wisnu. Jalan yang biasa ditempuh manusia untuk “Jumbuh Kawula Gusti”, bertemu dengan Gusti adalah dengan cara berbuat kebaikan. Jalan yang ditempuh Jaya dan Wijaya adalah jalan pintas tercepat, setiap saat dalam kehidupannya di dunia mereka hanya berpikir tentang musuhnya yaitu Wisnu, tak ada waktu senggangpun tanpa berpikir tentang Wisnu musuhnya. Pikiran, ucapan dan tindakan mereka hanya terfokus pada Wisnu, musuhnya di dunia dengan intensitas yang sangat tinggi. Onepointedness, ekagrata negatif….. itu sangat sulit…….. dan negatif atau positif itu adalah hasil pikiran kita, dan Dia itu Misteri Agung di luar pemikiran kita…… bagi Dia siapa tahu yang penting justru intensitasnya?

Jaya dan Wijaya pertama kali lahir sebagai saudara kembar iblis, Hiranyaksha dan Hiranyakashipu. Hiranyaksha mati dibunuh Wisnu yang mewujud sebagai Varaha, babi hutan raksasa, sedangkan Hiranyakashipu dibunuh oleh Wisnu yang mewujud sebagai Narasimha, raksasa yang berkepala singa. Jaya dan Wijaya kemudian mengambil kelahiran kedua sebagai Rahwana dan Kumbakarna, yang terbunuh oleh Wisnu yang mewujud sebagai Sri Rama. Akhirnya, di zaman Dwapara Yuga, Jaya dan Wijaya lahir sebagai Shishupala dan Dantavakra dibunuh oleh Wisnu yang mewujud sebagai Sri Krishna. Demikian cuplikan dari salah satu kisah dalam buku Srimad Bhagavatam yang terkait dengan Mahabharata.

Berkecamuklah berbagai pikiran di benak kita, pemimpin yang jahat pun ternyata adalah wujud Dia, demikian pula pemimpin yang baik, bahkan segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah manifestasi-Nya. Tidak ada yang lain selain Dia. Pikiran lah yang membuat kita menjadi terpisah dengan Dia. Meruwat, mengembalikan pikiran yang telah terkondisi kembali menjadi pikiran yang jernih, itulah kelahiran kembali.

Ada sebuah wejangan bijak yang perlu direnungkan bersama……. Selama masih ada “keakuan” – menurut Bhagavad Gita – selama itu pula tidak ada damai, kedamaian dan perdamaian. Karena keakuan ini memisahkan kita dari semesta. Ada “aku”, ada “dia”, ada “mereka”. Maka konflik terjadi. Lalu, apakah dalam keseharian hidup kita bisa hidup tanpa keakuan, tanpa “doership“? Apakah aku mesti berhenti berkarya? Apakah aku tidak boleh melawan kejahatan, karena pelakunya adalah DIA juga, wujud Allah juga? Gita menjelaskan berkaryalah, berjuanglah, lakukan segala apa yang mesti dilakukan, dengan menganggap dirimu sebagai “alat”. Lawan kejahatan karena kejahatan itu tidak selaras dengan alam yang maha baik. Bukan karena si jahat itu merugikan dirimu. Beda antara mereka yg bersifat dewa, nur, dan mereka yang bersifat danawa, nar – hanya satu. Dewa selaras dengan alam. Mereka berkarya tanpa keakuan. Api, air, angin, tanah semuanya dewa. Dan semuanya saling mendukung, sehingga alam semesta bertahan. Danawa tidak selaras, mereka merusak alam. Mereka berkarya dengan “keakuan”. Maka, jadilah Dewa, jadilah Malaikat Pewaris Nur…….

Tulisan ini dijiwai oleh beberapa wejangan Bapak Anand Krishna, sesuai dengan pemahaman kami sampai dengan saat ini. Silakan lihat….

http://anandkrishna.org/english/index.php?isi=about%2Findex.lbi

http://www.freeanandkrishna.com/

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Mei 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: