Renungan Kebangsaan: Pasopati, Senjata Arjuna Sebagai Pengendali Keserakahan Diri Dalam Perang Bharatayuda


Pandawa menjalani pembuangan di hutan selama 12 tahun, dan Bhagawan Abyasa, sang kakek yang bijak menemui mereka di awal tahun pembuangan. Sang Bhagawan memberi nasehat, pada saat para Korawa menikmati gemerlapnya kekuasaan yang memabokkan, Pandawa perlu merasakan pengalaman hidup di hutan agar jiwa dan raga mereka lebih kuat dan kesadaran mereka meningkat. Di saat Korawa menghabiskan waktu untuk menikmati dan memuaskan kemewahan duniawi, para Pandawa harus memanfaatkan waktu untuk meningkatkan kemampuan pengendalian diri. Dalam Hidup adalah suatu proses, tujuan hidup bukanlah untuk memuaskan keinginan duniawi, tetapi untuk mengembangkan jiwa dan meningkatkan kesadaran agar hidup bermakna bagi sesama dan bagi alam semesta. Dan pengendalian diri adalah modal utama untuk mencapai kesuksesan.

Dalam buku “Be The Change, Mahatma Gandhi’s Top 10 Fundamentals for Changing the World”, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2008 disampaikan…….. Jadikanlah pengendalian diri sebagai tujuan hidup, sebagai jihad… Bersungguh-sungguhlah untuk mengupayakan hal itu, kemenangan akan selalu ada di genggaman, dan kesempurnaan dalam hidup ini akan dapat diraih. Jadikanlah pengendalian diri sebagai kebiasaan, maka perangkap dunia yang ilusif ini tidak akan membelenggu kita. Dunia yang saat ini ada, dan sesaat kemudian tidak ada, ini tidak akan memerangkap kita. Pengendalian diri adalah kekuatan. Bila berhasil mengandalikan diri, kita akan dapat mengendalikan kekerasan dan ketakberesan di luar diri. Orang yang berhasil mengendalikan dirinya tak akan terkendali oleh orang lain. Ia tidak bisa dibeli, tidak bisa digoda, tidak bisa dirayu. Ia memiliki kepercayaan diri yang luar biasa. Jadilah orang itu.

Sang Bhagawan minta agar Arjuna bertapa dan mohon karunia Bathara Guru untuk mendapatkan senjata yang sakti untuk memperkuat keyakinan diri. Dikisahkan bahwa Arjuna bertapa di gunung Indrakila dan tujuh bidadari utusan Bathara Indra dengan kecantikan tak tertandingi menggoda Arjuna. Walaupun demikian, karena Arjuna telah berhasil mencapai  keteguhan-hati,  maka ia tidak terganggu oleh godaan para bidadari jelita tersebut. Ia tidak menukar cita-citanya demi bidadari-bidadari yang cantik. Selanjutnya Bathara Indra sendiri yang menguji apakah Arjuna seorang ksatria yang penuh keyakinan, ataukah seseorang yang sedang melarikan diri dari kesulitan dunia. Bathara Indra menyamar sebagai seorang pengemis tua yang memperolok dan menggugah rasa kesatriaan Arjuna. Ia muncul dan menghardik Arjuna, bahwa dengan segala tapa bratanya Arjuna belum mencapai kesempurnaan, karena sebetulnya Arjuna hanya mengejar pembebasan dirinya sendiri dari kesulitan dunia. Dengan teguh Arjuna menjawab, bahwa tujuannya bukanlah untuk keselamatan diri, juga bukan untuk kepentingan keluarga Pandawa, melainkan untuk menyelamatkan kebenaran, menegakkan dharma melawan adharma. Demi keyakinannya akan kebenaran, Arjuna berani menghadapi apa saja, bahkan kematian sekalipun akan dihadapinya.

Dalam buku “Be The Change, Mahatma Gandhi’s Top 10 Fundamentals for Changing the World”, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2008 disampaikan…….. Hidup adalah sebuah perjuangan. Berjuanglah terus-menerus demi penegakan dharma, demi hancurnya adharma. Kita tidak di sini untuk saling jarah-menjarah, atau saling rampas-merampas. Kita tidak mewarisi budaya kekerasan dan barbar seperti itu. Jangan berjuang untuk tujuan-tujuan kecil yang tidak berguna. Jangan berjuang untuk memperoleh kursi yang dalam beberapa tahun saja menjadi kadaluarsa. Jangan berjuang untuk memperoleh suara yang tidak cerdas. Berjuanglah untuk tujuan besar untuk sesuatu yang mulia. Berjuanglah untuk memperoleh tempat di hati manusia, ya manusia, bukan di hati raksasa……. Berjuanglah untuk mencerdaskan sesama anak manusia, supaya mereka memahami arti suara mereka, supaya mereka dapat menggunakan hak suara mereka sesuai dengan tuntutan dharma. Perjuangan kita adalah perjuangan sepanjang hidup. Perjuangan kita adalah perjuangan abadi untuk melayani manusia, bumi ini dengan seluruh isinya, bahkan alam semesta.

Bathara Indra berbahagia, karena telah menemukan seorang kesatria berbudi-luhur yang akan mampu menghadapi Niwatakawaca, Raksasa Angkara Murka yang mengancam Kahyangan, Istana para Dewa. Sang pengemis kemudian mengubah wujudnya menjadi Bathara Indra dan memberkati Arjuna, dan memintanya untuk meneruskan perjalanannya mendaki Gunung menemui Shiwa yang dikenal sebagai Bathara Guru. Bathara Indra berpesan nantinya setelah bertemu Bathara Guru agar kembali menemui dirinya untuk membantu para Dewa melawan Raksasa Niwatakawaca.

Ujian Arjuna berikutnya adalah Mamang Murka, Babi hutan raksasa utusan Prabu Niwatakawaca yang menyerangnya dengan ganas. Mereka bertarung dan akhirnya babi hutan raksasa tersebut mati dipanah oleh Arjuna. Persoalan timbul, karena babi hutan tersebut mati karena dua buah anak panah. Ternyata ada seorang kesatria yang juga membidikkan anak panah ke babi hutan raksasa tersebut. Sudah selayaknya, Arjuna yang bertarung mati-matian dengan babi hutan lebih berjasa dari pada seorang kesatria tanpa perkelahian sebelumnya yang langsung memanah babi hutan tersebut.  Akan tetapi, sang kesatria malah mengajak berperang tanding, mengadu kesaktian untuk menentukan siapa yang lebih berhak mengaku sebagai pembunuh babi hutan tersebut. Bagi Arjuna nama bukan masalah utama, siapapun yang mendapatkan nama dan berhak mendapat karunia tidak menjadi persoalan. “Wahai kesatria, apabila kamu merasa berhak sebagai pembunuh Mamang Murka, dan mau melaporkan ke Kahyangan silakan. Bagiku, ada wujud adharma yang mati itu sudah memadai, itu bentuk kasihku terhadap kebenaran”.  Arjuna ingat nasehat Sang Bhagawan Abyasa, “Kasih tidak mengharapkan imbalan. Kasih itu sendiri adalah imbalan. Kebahagiaan yang kau peroleh saat mengasihi itulah imbalan kasih”.

Sang kesatria merasa dipermalukan dengan pernyataan Arjuna yang menohok kecongkakannya, dan menyerang Arjuna sehingga terjadilah perang tanding yang luar biasa. Akhirnya baju perang Arjuna hancur, akan tetapi Arjuna berhasil mendekap kedua kaki musuhnya, sehingga musuhnya terjatuh dan perkelahian terhenti. Dan, kesatria tersebut mengubah wujudnya menjadi Bathara Guru. Bathara Guru sangat terkesan atas kerendahan hati Arjuna. Arjuna telah lulus ujian pendadaran dan oleh Bathara Guru, Sang Kuasa Pengajar Sejati, Arjuna diberi hadiah seperangkat senjata panah bernama Pasopati. Pashu adalah hewan, pati adalah raja sehingga Pasopati adalah senjata andalan para raja untuk menaklukkan sifat kehewanan dalam diri. Arjuna kemudian meneruskan perjalanan menemui Bathara Indra memenuhi permintaannya untuk menaklukkan Raksasa Niwatakawaca.

Jauh berbeda dengan Arjuna, pembawaan Sang Raksasa Niwatakawaca penuh dengan hawa napsu keangkara-murkaan. Dalam keangkuhan dan kesombongan dirinya Sang Raksasa berniat untuk menghancurkan kahyangan dan menundukkan para dewa. Seseorang yang merasa sangat berkuasa, dimana segala kehendaknya harus terpenuhi, sebetulnya dia tengah melawan kahyangan, pusatnya kekuasaan suci yang berada di hati nurani. Walaupun orangnya berpenampilan kesatria, tetapi tindakan melawan hati nurani, oleh para leluhur digambarkan sebagai Raja Raksasa yang melawan kahyangan, pusatnya kekuasaan sejati yang bersemayam di dalam hati nurani. Mereka yang mau menang sendiri, mereka yang menggunakan kekuasaannya untuk mendapatkan kenikmatan duniawi dengan segala cara sejatinya adalah para raksasa yang berwujud manusia.

Dalam buku “Be The Change, Mahatma Gandhi’s Top 10 Fundamentals for Changing the World”, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2008 disampaikan…….. Pengotakan manusia berdasarkan suku, ras, agama, kepercayaan dan lain sebagainya lahir dari pikiran yang masih belum dewasa. Pikiran yang masih hidup dalam masa lampau, masih sangat regional atau parsial, belum universal. Pikiran seperti inilah yang telah mengacaukan negeri kita saat ini. Kita hidup dalam kepicikan pikiran kita, dalam kotak-kotak kecil pemikiran kita, tetapi ingin menguasai seluruh Nusantara, bahkan kalau bisa seluruh dunia. Jelas tidak bisa. Kita masih hidup dengan ego kita, keangkuhan dan arogansi kita, kebencian dan amarah kita, kelemahan dan kekerasan hati kita. Dengan jiwa yang masih kotor itu, kita memperoleh kekuasaan, kedudukan, dan harta, maka jelaslah kita menghalalkan segala macam cara…….

Demikian beberapa kutipan nasehat dari Bapak Anand Krishna dalam salah satu bukunya. Beliau sudah menulis lebih dari 140 buku. Sayang, pandangan kemanusiaan tersebut banyak disalahpahami kelompok tertentu, dan kemudian ingin membungkam suara beliau. Silakan lihat….

http://anandkrishna.org/english/index.php?isi=about%2Findex.lbi

http://www.freeanandkrishna.com/

Prabu Niwatakawaca dianugerahi  kesaktian dan dia tidak  akan  mati di tangan Dewa dan Raksasa. ‘Mind’, ego yang serakah tidak dapat ditundukkan dengan kelembutan hati nurani dan tidak takut dengan ancaman dari ego individu lainnya. Yang dapat mengalahkannya hanya Arjuna yang suka bertapa dan mempunyai senjata pengendali kehewanan diri yang sakti. Hanya pengendalian diri, kesabaran dan pemahaman tentang sifat kehewanan diri yang dapat mengalahkan ‘mind’, ego yang serakah dan penuh kecongkakan. Sang Niwatakawaca adalah makhluk ‘pashu’, hewan yang ‘pasha’, terikat oleh maya, ilusi dunia. Dalam keangkaramurkaannya ia ingin menghancurkan kahyangan, menundukan Bhatara Indra, Kuasa Kebenaran dan merebut Dewi Suprabha, cahaya ilahi. Rajas, keangkaramurkaan napsu dan tamas, kegelapan batin yang menyelimuti jiwanya selalu gagal dalam memperoleh Suprabha, cahaya ilahi.

Bagaimanapun saktinya, Prabu Niwatakawaca tidak tahan terhadap bujuk rayu Dewi Suprabha, sehingga terpancinglah keluar rahasia kelemahan dirinya yang terdapat  di ujung  lidahnya. Bagaimana pun cahaya ilahi tetap berusaha untuk mencari kelemahan ‘mind’, ego yang serakah. Dan akhirnya ketahuan juga bahwa kelemahan Raksasa ‘Mind’ Niwatakawaca adalah di ujung lidahnya.

Rasa makanan sudah terbentuk di lidah. Lidah yang hanya selalu makan yang enak saja, akan sulit menerima rasa makanan yang kurang enak. Keterikatan paling nyata bagi manusia dewasa adalah selera makanan. Orang dewasa yang terbiasa makan nasi gudeg yang manis akan sulit menerima masakan India yang penuh rempah-rempah. Lain halnya dengan anak kecil yang keterikatannya terhadap pola tertentu belum addiktif. Kenikmatan berbicara memutar lidah, yang ditandai dengan respeknya orang terhadap pembicaraan kita membuat kita addiktif, kecanduan. Untuk menarik orang tak jarang kita mulai menambah-nambah bumbu terhadap fakta, yang tanpa kita sadari menjadi kebiasaan bahkan karakter kita. Kesadaran tentang keterikatan lidah, bisa berkembang menjadi keterikatan duniawi lainnya.

Dengan bantuan Dewi Suprabha, maka Arjuna dapat mengetahui kelemahan Prabu Niwatakawaca yaitu dilidahnya. Dalam perang tanding, Arjuna sengaja jatuh berguling-guling yang membuat Prabu Niwatakawaca tertawa terbahak-bahak. Pada waktu kegirangan tersebut, lidahnya nampak dan segera dieksekusi dengan anak panah oleh Arjuna.

Selanjutnya, Arjuna kembali ke kahyangan untuk merayakan kemenangannya melawan Prabu Niwatakawaca. Arjuna menerima karunia untuk melaksanakan wiwaha, pernikahan dengan ketujuh bidadari termasuk Dewi Suprabha. Setelah berada di kahyangan selama tujuh purnama, kembalilah Arjuna ke alam Marcapada untuk berkumpul dengan saudara-saudaranya dengan rasa penuh percaya diri untuk menghadapi resiko perang bharatayuda di kemudian hari…..

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Mei 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: