Renungan Kebangsaan: Perjalanan Batin Yudistira Dari Filosofi Ke Penegakan Dharma Di Dunia Nyata


Semasa remaja, Pandawa dan Korawa belajar bersama pada guru yang sama. Dalam hal ilmu perang guru mereka adalah Pandita Drona, dan Arjuna menjadi murid terpandai. Kemudian para remaja tersebut mempelajari  ilmu agama, hukum, dan tata negara kepada Resi Krepa. Dan, dalam ini, Yudistira tampil sebagai murid terpandai, sehingga Resi Krepa sangat mendukung agar tahta Hastinapura diserahkan kepada Sulung Pandawa tersebut.

Di masa mudanya, hanya satu kelemahan diri yang belum dapat diatasi Yudistira, yaitu kegemaran untuk bermain dadu. Bermain dadu dan memegang janji taruhan sebagai dharma. Kerancuan pikiran inilah yang membuat Pandawa terlunta-lunta karena Yudistira kalah bermain dadu dengan Korawa akibat kelicikan Shakuni. Pandawa harus menyerahkan kerajaan Indraprasta beserta isinya dan menjalani hidup di hutan selama 12 tahun dan kemudian hidup menyamar selama 1 tahun. Yudistira telah berjudi secara pribadi tetapi mengorbankan seluruh negara dan keluarganya dengan anggapan telah mengikuti dharma……

Pada suatu hari menjelang berakhirnya masa pembuangan, Yudistira dan keempat adiknya membantu seorang brahmana yang kehilangan peralatan upacaranya karena tersangkut pada tanduk seekor rusa liar. Dalam pengejaran terhadap rusa itu, kelima Pandawa merasa haus. Yudistira pun menyuruh satu per satu dari adik-adiknya mencari air minum. Yudistira semakin cemas karena keempat adiknya tidak ada yang kembali. Yudistira kemudian berangkat menyusul adik-adiknya dan menjumpai mereka telah tewas di tepi sebuah telaga. Kemudian terdengar suara seorang Yaksha yang mengaku sebagai pemilik telaga itu. Sang Yaksha menceritakan bahwa keempat saudaranya tewas keracunan air telaga karena mereka menolak menjawab pertanyaan Sang Yaksha sebagai pemilik danau, tetapi langsung minum air karena kehausan. Kemudian sambil menahan haus, Yudistira mempersilakan Sang Yaksha untuk bertanya. Satu per satu, pertanyaan demi pertanyaan berhasil dia jawab.

….. Yang menyebabkan matahari selalu bersinar adalah Brahman…… Keberanian menyelamatkan manusia dari marabahaya…… Membaca kitab-kitab belum membuat orang menjadi bijak, bergaul dengan para bijak bisa memperoleh kebijaksanaan….. Ibu yang melahirkan dan membesarkan anak-anaknya lebih mulia daripada bumi….. Hanya dharma yang mendampingi manusia dalam kematian…. Kebahagiaan adalah buah dari perbuatan baik….. Dengan meninggalkan keangkuhan manusia akan dicintai sesama…… Dengan menghilangkan amarah manusia tidak akan dikejar kesedihan….. Dengan meninggalkan hawa nafsu manusia akan menjadi kaya….. Yang paling mengherankan adalah bahwa setiap orang pernah melihat orang lain pergi menghadap Yama tapi orang tersebut selalu lupa bahwa Yama pun sedang menunggui dirinya……

Akhirnya, Sang Yaksha mengakui ketepatan jawaban Yudistira, namun ia hanya sanggup menghidupkan satu orang saja. Oleh karena itu Yudistira diminta memilih siapa yang akan dihidupkan kembali. Dalam hal ini, Yudistira memilih Nakula untuk dihidupkan kembali. Sang Yaksha heran karena Nakula adalah adik tiri, bukan adik kandungnya. Yudistira menjawab bahwa dirinya harus berlaku adil. Ayahnya, Pandu memiliki dua orang istri. Karena Yudistira lahir dari Kunti, maka yang dipilihnya untuk hidup kembali harus putera yang lahir dari Madrim, yaitu Nakula. Sang Yaksha terkesan pada keadilan Yudistira. Ia pun kembali ke wujud aslinya, yaitu Dewa Yama, “Yudistira ingat-ingatlah peristiwa ini. Engkau sudah tidak lagi hanya paham teori dharma, akan tetapi telah mempraktekkannya dengan memilih Nakula agar dihidupkan kembali. Engkau sudah dapat mendengar suara hati nuranimu dan kau praktekkan suara hati nuranimu ke dalam tindakan nyata. Berkat tindakanmu yang  nyata-nyata berdasarkan keadilan dan ketulusan, maka tidak hanya Nakula, melainkan Bima, Arjuna, dan Sadewa pun kuhidupkan……

Pada waktu masa perjanjian Pandawa telah selesai, Yudistira masih ragu untuk berperang dengan Korawa. Sri Krishna yang menjadi penasehatnya menyampaikan bahwa sebagai seorang raja, dharmanya adalah memperhatikan rakyatnya. Kepentingan masyarakat luas tidak boleh dikalahkan kepentingan pribadi. Yudistira tersadarkan, “Aku masih mempunyai keterikatan pribadi pada pujian luar bahwa aku adalah manusia unggul, suci, sabar dan cinta damai. Dan atas nama reputasi yang tanpa makna tersebut aku telah membawa keluargaku dalam penderitaan lahir batin. Kini aku sadar dharmaku adalah sebagai maharaja yang memperhatikan kepentingan masyarakat luas dan terutama menegakkan kebenaran. Kini aku sudah tidak terikat lagi dengan rasa egoku.”

Dalam buku “Fear Management, Mengelola Ketakutan, Memacu Evolusi Diri”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007 disampaikan…… Apa yang dimaksud dengan ketakterikatan? Dan, apa pula keterikatan itu? Keterikatan adalah ketergantungan dan kepercayaan kita pada pujian, pada imbalan, pada penghargaan dan pengakuan. Selama kita masih mengejar semuanya itu, kita masih terikat. Dan, selama kita masih terikat, kita masih takut. Lapisan Inteligensia kita memperoleh energi dari dua sumber utama, sumber dalam diri: dari rasa percaya diri yang tidak tergantung pada pujian dan makian orang dan sumber di luar diri: dari pujian dan pengakuan. Ketika pujian berubah menjadi hujatan, dan pengakuan menjadi penolakan, lapisan inteligensia kita kehausan energi. Saat itu menjadi ganas. Kita akan melakukan apa saja untuk memperoleh pujian dan pengakuan. Selama masih mengejar, kita masih terikat. Janganlah tergantung pada sumber energi di luar diri. Gunakan energi yang berasal dari dalam dirimu sendiri. Ketidaktergantungan pada sesuatu di luar diri inilah yang disebut ketidakterikatan……..

 

Yudistira merenung, “Aku ingat pesan Bathara Yama agar aku bertindak sesuai hati nurani, jangan ragu karena pengaruh pikiran yang selalu bersifat ragu-ragu.” Dan, tiba-tiba Yudistira tersadarkan, “Nasehat Sri Krishna adalah suara nuraniku. Sejatinya Sri Krishna adalah wujud dari nuraniku. Rasa keadilan dan ketulusan dalam diriku yang terdalam, innermost feeling mengungkap keluar sebagai Sri Krishna. Mengikuti Sri Krishna, adalah mengikuti hati nuraniku sendiri. Terima kasih Gusti!”……… Yudistira sadar, “Aku telah memperoleh ‘dharsan’, memperoleh insight – penglihatan, pendalaman, visi yang mendalam saat bertemu Sri Krishna. Sri Krishna adalah berkah bagiku, Dia lah suara hati nuraniku, mengikuti nasehatnya adalah mengikuti hati nurani dan menafikan ego pikiranku.”

Dalam buku “Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena”, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2007 disampaikan……. Inilah satu-satunya cara untuk menafikan ego. Tidak ada cara lain. Kehadiran seorang Guru dalam hidup kita semata-mata untuk membantu kita tidak menjadi egois. Guru bagaikan katalisator, “perantara yang ada dan tidak ada”. Ia bagaikan  awan yang “menyebabkan” keteduhan untuk sejenak dan berlalu. Awan “tidak memberi” keteduhan, ia “tidak membuat” teduh: ia “menyebabkan” terjadinya teduh. Itulah Guru. Bagi Maria, kesadaran identik dengan Guru. Bagi dia, pencerahan identik dengan Yesus yang dicintainya. Di balik kejadian itu ia tidak melihat andil dirinya sama sekali. Ia tidak merasa melakukan sesuatu yang luar biasa untuk memperoleh pencerahan itu. Apa yang terjadi atas dirinya semata-mata karena “berkah”, karena rahmat, karena anugerah Sang Guru! Kelak, Nanak pun mengatakan hal yang sama. Bertahun-tahun setelah kejadian: Ik Omkaar, Sadguru Prasaad – Hyang Tunggal Itu kutemui berkat rahmat Guruku!…….

 

Bhisma memimpin pasukan Korawa dalam perang Bharatayuda selama sepuluh hari. Setelah ia tumbang, kedudukannya digantikan oleh Pandita Drona, yang mendapat instruksi dari Prabu Duryudana supaya menangkap Prabu Yudistira hidup-hidup. Drona senang atas tugas tersebut, dan memahami niat Duryudana menjadikan Yudistira sebagai sandera untuk memaksa koalisi Pandawa menyerah. Berbagai cara dilancarkan Drona untuk menangkap Yudistira. Tidak terhitung banyaknya sekutu Pandawa yang tewas di tangan Drona karena melindungi Yudistira, termasuk Prabu Drupada, sahabat masa kecil yang dibenci Drona yang juga merupakan ayah mertua Yudistira.

Yudistira dihadapkan pada pergolakan batin lagi setelah menerima nasehat dari Sri Krishna. Pandita Drona adalah gurunya, guru yang harus dijaga kehormatannya, karena murid bisa pandai karena ada gurunya. Akan tetapi berkata jujur pada Drona akan merugikan dharma. Akan tetapi pikiran Yudistira hanya bergolak sebentar, Sri Krishna adalah guru sejati dalam dirinya yang mengungkap di luar. Mengikuti Sri Krishna adalah mengikuti dharmanya. Pada hari ke-15, Sri Krishna menyampaikan cara untuk mengalahkan Drona, yaitu dengan mengumumkan berita kematian seekor gajah bernama Aswatama. Aswatama juga merupakan nama putera tunggal Drona. Kemiripan nama tersebut dimanfaatkan oleh Sri Krishna.

Mereka yang tengah berperang mendengar suara Bhima yang membahana… “Aswatama mati!!!” Dan, kala Drona bertanya kepadanya, Yudistira menjawab, “Benar Aswatama mati”……. Drona menjadi limbung, hilang keperkasaannya dan merasa hidupnya tak berharga setelah merasa Aswatama, sang putra terkasihnya meninggal……. Dan kesempatan itu dimanfaatkan oleh Drestayumna, putra Drupada untuk membunuh Drona….

Yudistira sadar bahwa dirinya adalah maharaja yang sedang berperang melawan adharma. Dan, awan pikiran yang selalu ragu dalam mengambil keputusan pun dilampauinya. Yudistira sudah bebas dari rasa takut berdusta, ia yakin terhadap Sri Krishna, suara hati nurani, sang pikiran jernih dalam diri. Yudistira sibuk bekerja memimpin pasukan. Ia telah sepenuhnya melibatkan diri dalam kehidupan saat ini. Ia sudah tidak punya waktu lagi untuk bernostalgia tentang masa lalu atau memikirkan harapan masa mendatang. Ia larut dalam tugasnya pada saat ini……..

Pada hari ke-18 perang Bharatayuda, Prabu Salya diangkat sebagai Panglima Koalisi Korawa oleh Duryudana. Prabu Salya adalah kakak Dewi Madrim ibu dari Nakula dan Sadewa. Ketika masih muda Prabu Salya bernama Narasoma, beliau kawin dengan Endang Pujawati, putri cantik seorang Resi Raksasa bernama Bagaspati ,yang hidup berdua dengan sang putri karena istrinya telah  meninggal dunia. Sebagai seorang putra mahkota raja yang muda dan tampan, Narasoma malu mempunyai mertua raksasa walaupun amat sakti. Pada suatu hari dia menyampaikan permintaan kepada istrinya, apabila bapaknya yang berhati suci dan telah terkenal mempunyai darah putih yang mengalir di tubuhnya, mestinya berkenan memberikan ilmunya kepada sang menantu. Bagaspati mendengar percakapan tersebut, bahkan kemudian mewariskan aji Candrabirawa kepada menantunya yang menyebabkan kematiannya.

Bagaspati boleh ikhlas, tetapi alam tidak akan demikian, alam bertindak dengan adil. Tidak berarti kalau ada seseorang yang kita sakiti dan dia telah memaafkan, diri kita terlepas dari hukum sebab-akibat. Bagaspati selalu berbuat kebaikan dan berdarah putih. Dan, Sri Krishna paham bahwa hanya Yudistira yang selalu berbuat kebaikan dan berdarah putih yang dapat mengalahkan Prabu Salya. Sesaat ada rasa takut di hati Yudistira melihat kesaktian Prabu Salya, tetapi keyakinannya terhadap Sri Krishna mengatasi ketakutannya.

Dalam buku “The Gita Of Management, Panduan Bagi Eksekutif Muda Berwawasan Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007 disampaikan…….. Rasa takut bagi Sri Krishna adalah penyakit lama, penyakit yang kita warisi dari evolusi panjang kita sebagai binatang. Rasa takut adalah naluri dalam setiap makhluk hidup. Manusia semestinya mampu melampaui nalurinya, sehingga dapat meningkatkan lapisan-lapisan lain kesadarannya. Rasa takut disebabkan oleh: 1.Ketidak tahuan tentang potensi diri, potensi manusia; 2. Kemalasan atau keengganan untuk mengembangkan potensi itu; 3.Hilangnya rasa percaya diri……. Berarti rasa takut mempengaruhi tiga lapisan utama dalam diri manusia. Pertama: Lapisan Intelegensia, akal sehat atau pikiran jernih yang sesungguhnya tahu persis tentang potensi diri. Kedua: Lapisan Fisik yang malas dan enggan untuk mengembangkan potensi itu. Ketiga: Lapisan Rasa, yaitu induk dari percaya diri. Solusinya juga dengan menggunakan jasa pikiran dan perasaan. Berusahalah supaya pikiran dan perasaan selalu selaras, harmonis. Bila terjadi konflik, cepat-cepat diselesaikan. Untuk itu, solusi yang paling tepat adalah dengan cara memahami hukum-hukum alam. Dengan begitu, muncul kesadaran bahwa apa pun yang terjadi sudah sesuai dengan hukum alam. Jika lebih suka dengan istilah Kehendak Ilahi, percayalah bahwa segala sesuatu terjadi atas Kehendak-Nya. 1.Apa pun yang saat ini kita miliki, pernah dimiliki oleh orang lain. Kepemilikan kita tidak langgeng…. Lalu kehilangan apa yang mesti ditakuti?; 2. Suami, istri, anak, saudara, orang tua, kawan, kerabat , semuanya adalah hubungan-hubungan yang “terjadi” dalam hidup ini, dan di dunia ini. Saat aku lahir, tak seorang pun menemaniku. Kelak, ketika aku mati, perjalanan selanjutnya pun mesti kutempuh seorang diri; 3. Aku lahir seorang diri, dan mati seorang diri. Hidupku antara dua titik kelahiran dan kematian. Penolakan, penerimaan, pengakuan, pujian, maupun makian seseorang tak mampu memengaruhi kualitas hidupku. Aku sendiri yang menentukan kualitas hidupku.

 

Demikian selintas pandangan Bapak Anand Krishna tentang pemberdayaan diri. Sayang pandangan tersebut disalahpahami oleh beberapa pihak yang tidak senang dengan beliau. Silakan lihat….

http://anandkrishna.org/english/index.php?isi=about%2Findex.lbi

http://www.freeanandkrishna.com/

 Prabu Salya mengerahkan ilmu Candrabirawa berupa raksasa kerdil yang mengerikan, yang jika dilukai jumlahnya justru semakin bertambah banyak. Ratusan prajurit Padawa binasa. Dan, tiba-tiba Prabu Salya berhadapan dengan Prabu Yudistira. Dalam pandangan Prabu Salya, Prabu Yudistira nampak berubah sebagai almarhum mertuanya, Resi Raksasa Bagaspati yang tersenyum padanya. Ilmu Candrabirawanya seketika lumpuh dan tiba-tiba dadanya merasa sakit, saat Yudistira melemparkan senjatanya mengenai dadanya. Prabu Yudistira menggumam pelan, “Gusti, Sang Guru Sejati, tanganku tidak  membunuh manusia, Engkaulah yang memakai tubuhku sebagai alat. Ramanda Prabu Salya juga hanya tubuhnya yang meninggal, ruh nya akan melanjutkan perjalanan evolusinya. Sri Krishna, Guru Sejatiku yang mewujud, senyatanya aku tunduk kepada-Mu.”…….

 

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Mei 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: