Renungan Bhagavatam: Bharata, Keterikatan Manusia Menjelang Kematian

Bharata adalah putra Rsaba. Ia memerintah kerajaan dengan benar dan baik dan dicintai oleh rakyatnya. Bahkan kerajaannya dikenal sebagai Bharatavarsa. Bharatavarsa mengalami zaman keemasan dibawah kepemimpinan Raja Bharata. Bharata adalah seorang panembah Narayana. Di dalam hatinya hanya ada Narayana dan tak ada yang lain selain Narayana. Setelah beberapa lama memerintah, dia menobatkan putranya sebagai raja penggantinya dan dia pergi ke Haridwar ke ashram Pulaha. Bharata hidup sendiri di sana dalam kedamaian dan tidak punya rasa keterikatan terhadap duniawi. Hari-hari dilewati hanya berpikir tentang Narayana.

 

Pada suatu hari, manakala Bharata sedang duduk akan melakukan meditasi pagi di tepi sungai Mahanadi, dia melihat seekor rusa betina yang tengah hamil sedang membungkukkan kepalanya untuk minum air sungai. Tiba-tiba terdengar raungan seekor singa yang sangat keras yang mengagetkannya. Karena ketakutan yang amat sangat sang rusa melompat dengan sekuat tenaga menuju seberang. Akhirnya sampai juga sang rusa betina di seberang. Dalam keadaan lunglai bercampur cemas, anaknya lahir prematur dan kemudian sang rusa betina meninggal. Bharata segera menghampiri anak rusa yang kemudian digendongnya ke ashram dan diberinya susu dengan penuh kasih seperti halnya seorang ibu yang mengasihi putranya. Hari-hari lewat dan Bharata menjadi semakin tua, akan tetapi rasa kasihnya terhadap anak rusa semakin bertambah. Ia menjadi sangat terikat dengan sang anak rusa. Ia berpikir, “Anakku tanpa ayah dan tanpa ibu, kecuali diriku. Aku adalah satu-satunya tempat perlindungannya.”…….. Kasih sayang terhadap rusa tersebut membuat Bharata lupa terhadap terhadap kegiatan rutinnya untuk selalu berdoa, meditasi dan melakukan persembahan kepada Narayana.  Hari demi hari berlalu dan akhirnya Bharata mengalami kematian. Sebelum meninggal pikirannya terpusat kepada sang rusa. Akhirnya Bharata dilahirkan sebagai rusa……..

 

Beruntung tumpukan kebaikan telah dilakukan Bharata dalam kehidupan-kehidupan sebelumnya, sehingga dia dapat menyadari mengapa dia terlahir sebagai rusa. “Aku telah meninggalkan keterikatan terhadap keluarga dan istana dan hidupku semata-mata kupersembahkan kepada Narayana. Kemudian aku merasa kasihan kepada anak rusa yang lahir menderita, sehingga hidupku terfokus padanya. Aku telah salah jalan, melepaskan keterikatan yang satu dan mengikatkan diri pada keterikatan yang lain, sehingga aku tidak menjadi seorang Brahmi melainkan menjadi seekor rusa. Aku harus menyelesaikan kehidupanku sebagai seekor rusa ini dengan mendekati para resi yang sedang mendekatkan diri kepada Narayana.”…….. Sang rusa memilih hidup di sekitar para resi. Setiap malam mendengarkan mereka menyanyikan kirtan, lagu-lagu pujian. Dia juga memperhatikan mereka yang sedang berdoa di waktu pagi dan menjelang senja. Hidupnya hanya terfokus pada Narayana. Atas rahmat Ilahi, akhirnya sang rusa meninggal dan ia lahir lagi sebagai putra seorang Brahmana, Resi Angirasa. Resi Angirasa mempunyai 9 orang putra dari istri pertamanya dan dari istri keduanya mempunyai seorang putri dan seorang putra yaitu Bharata. Baca lebih lanjut

Renungan Bhagavatam: Priyavrata Dan Rsaba, Raja Tanpa Keterikatan Dengan Dunia

Raja Barhishat atau Prachinabarhis mempunyai putra berjumlah sepuluh orang yang disebut Pracetasa bersaudara. Mereka mendapat perintah dari ayahnya untuk memperleh keturunan yang unggul. Mereka bertapa di dalam samudera dalam jangka waktu yang lama dan akhirnya ditemui oleh Narayana. Selesai bertapa, mereka kawin dengan Pramlocha, putri hasil perkawinan Resi Khandu dengan seorang Apsara. Dari Pramlocha lahir Daksha Prajapati. Seperti diketahui Daksha Prajapati telah berbuat salah di kahyangan dengan mengabaikan Shiva dan akhirnya harus lahir ke dunia sebagai putra dari Pracetasa bersaudara. Setelah Daksha dewasa dia dinobatkan sebagai raja dan Pracetas bersaudara melanjutkan perjalanan batin mengembara ke hutan sampai mencapai Narayana. Daksha kawin dengan Asikni dan mereka mempunyai 60 putri yang telah menjadi populasi dunia pada manvantara itu – Manvantara adalah 4.320.000 tahun manusia. Satu Brahma mengalami  14 Manvantara. Masing-masing manvantara diketuai oleh seorang Manu…….. Demikian pula setelah Daksha setelah memerintah beberapa lama, dia juga melanjutkan perjalanan batin mengembara ke hutan untuk menemukan Narayana.

 

Svayambhu Manu putra Brahman mempunyai 3 putri dan 2 putra. Ketiga putrinya adalah Dewahuti yang menjadi istri Kardama, Prasuti yang menjadi istri Daksha Prajapati, dan Akuti istri Resi Ruci. Putra keduanya adalah Uttanapada yang menurunkan Dhruva yang berputra Vatsara, Vatsara yang berputra Vena. Dari Vena diciptakan Prithu yang berputra Vijitashva, Vijitashwa berputra Havirdhana, Havirdhana berputra Barhishat. Kemudian Barhishat berputra Pracetasa bersadara yang mempunyai putra Daksha Prajapati……. Putra sulung Manu adalah Priyavatra yang sejak kecil sudah mendengar pelajaran dari Resi Narada sehingga dia tidak mau menjadi raja. Priyavrata meminta Uttanapada sebagai raja dan ia sendiri pergi ke hutan bertapa.

 

Sewaktu Daksha juga pergi ke hutan untuk melakukan tapa, Svayambhu Manu melihat sebuah negeri tanpa raja akan kacau, maka dia pergi menemui Priyavrata agar dia bersedia menjadi raja. Usahanya gagal sehingga Manu meminta Brahma, ayahnya agar membujuk Priyavrata agar bersedia menjadi raja. Usia manusia pada waktu awal-awal penciptaan sangat panjang, sehingga cukup sulit untuk membayangkannya bagi orang-orang di zaman Kaliyuga yang mempunyai usia hidup yang amat pendek.

 

Di dalam sebuah gua Priyavrata sedang berbicara dengan Resi Narada, pada saat Brahma datang. Priyavatra cepat menyambut kakeknya, demikian juga Resi Narada yang juga langsung memberi hormat. Brahma berkata, “Cucuku Priyavrata, dengarkanlah dengan seksama perkataanku. Tuhan memerintahkan manusia agar  dia patuh terhadap-Nya. Tuhan yang dipatuhi oleh kita semua menghendaki kau sebagai raja. Tubuh ini diberikan oleh Tuhan kepada kita untuk suatu tujuan. Masing-masing kita telah diciptakan untuk suatu tujuan. Lihatlah sapi jantan yang membajak tanah. Mereka mengenakan tali yang diikatkan pada hidung mereka. Ikatan tali menunjukkan bahwa dia harus patuh terhadap pengendalinya, tanpa ikatan tali dia tidak dapat mengerjakan pekerjaan yang berharga. Tanpa mengikuti tali yang digerakkan oleh majikannya, ia tidak punya kekuatan untuk membajak sawah. Demikian juga manusia dikendalikan untuk melakukan pekerjaan yang telah Dia pilih.” Baca lebih lanjut

Renungan Bhagavatam: Lanjutan Kisah Puranjana, Jalan Menuju Kebebasan

Resi Narada menguraikan ilmu Brahmawidya kepada raja Prachinabarhis bahwa satu-satunya cara yang telah membantu manusia untuk belajar tentang Kebenaran adalah bhakti kepada Narayana. Narayana adalah segalanya, Ia adalah tempat perlindungan dari semua penderitaan. Bhakti kepada Narayana membuat pikiran terlepas dari obyek duniawi sehingga dapat menyadari jatidiri. Atman, jiwa  sejatinya tidak berbeda dengan Paramatman, Jiwa Yang Agung.

Dalam bahasa yang berbeda Yesus menyampaikan hal yang sama bahwa manusia dan Tuhan adalah Roh yang sama. Dalam buku “A NEW CHRIST, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Re-editing. Terjemahan Bebas, dan Catatan oleh Anand Krishna”, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2010 disampaikan…….. Kita semua “terbuat” dari zat yang sama, substansi kita sama Roh. Namun, ketika “keluar” dari Roh, kita memperoleh kemampuan untuk berpikir secara terpisah. Kemampuan itu memberi kebebasan, sekaligus membuka kemungkinan bagi terjadinya kesalahan. Jika kita tidak menyadari hubungan kita dengan sumber, dengan Roh, dengan Allah Bapa, maka terjadilah kesalahan. Awalnya, pikiran kita yang salah, kemudian perbuatan. Tanpa kesadaran akan hubungan kita dengan sumber, dengan Roh, pandangan kita menjadi terbatas, sempit. Kita tidak bisa melihat kebenaran secara utuh sehingga kesimpulan kita sudah pasti salah. Merosotnya kualitas hidup, kekuatan diri, dan inteligensia atau kebijaksanaan kita selalu dalam proporsi yang persis sama dengan kemerosotan ke sadaran yang kita alami. Dan, dengan kemerosotan kesadaran yang dimaksud adalah kealpaan kita akan hubungan dengan Sumber Hyang Tunggal, Roh, Allah Bapa Hyang Maha Bijak, Kehidupan Abadi. Yesus menemukan dunia dalam keadaan sakit parah karena merosotnya kesadaran manusia. Kemerosotan itu pula yang menyebabkan manusia mengejar kenikmatan indra secara berlebihan; menimbulkan rasa takut dan khawatir; kemudian, tenggelam dalam lautan penuh derita…….

Resi Narada bercerita tentang Brahmana Avijnata yang berkata kepada Vidharbi, “Aku adalah Avijnata, sahabatmu yang paling dekat. Pada waktu kau tertarik masuk Kota Bhogawati, kamu melupakanku, melupakan alam keilahian. Beruntung, kamu lahir lagi, mempunyai suami yang taat kepada Tuhan yang dapat mempengaruhi dirimu sehingga kesadaranmu meningkat dan bisa bertemu kembali dengan-Ku. Sejatinya kau bukan Puranjana, bukan pula Vidharbi, kau adalah proyeksi dari-Ku. Pikiranmu membuat kau semakin menjauh dari-Ku”.

Resi Narada melanjutkan, “Dengarkan cerita tentang Tuhan dan berpikir tentang Dia siang dan malam, keduanya pasti melenyapkan kesengsaraan  yang disebut siklus kelahiran dan kematian. Vidharbi yang kawin dengan raja Pandya mempunyai satu putri dan tujuh putra. Putri itu adalah Asa, harapan untuk mendengarkan kisah Tuhan. Ketujuh putra adalah Sravana, Kirtana, Smarana, Padasevana, Archana, Vandana, dan Dasya. Berkumpul dengan seorang pemuja Narayana (Asa) akan membuat kamu akan mengambil tujuh jalan memuja Dia (7 saudara Asa).”

Dimulai dengan Shravana (mendengarkan cerita tentang Tuhan), Kirtana (mengucapkan syair berulang-ulang), Smarana (mengingat-Nya berulang-ulang dalam pikiran), Padasevana (berserah diri pada kaki-Nya), Archana (memuja-Nya sebagai persembahan), Vandana (hormat kepada-Nya) dan Dasya (melayani-Nya).

Apabila orang melakukan hal tersebut maka pikirannya akan terarahkan kepada Tuhan. Dan, Atman, Jiwa akan menyadari Paramatman, Tuhan. Sehingga Puranjana menjadi satu dengan Avijnata. Baca lebih lanjut

Renungan Bhagavatam Kisah Puranjana, Kelengahan Manusia Dalam Mengikuti Kemauan Pikiran Dan Pancaindra

Prithu adalah salah seorang raja dunia yang berhasil mengadakan upacara seratus aswamedha menyamai upacara yang dilakukan oleh Dewa Indra. Dalam upacara seratus aswamedha Prithu tersebut Indra mencoba menggagalkan upacara dengan mencuri sebuah kuda dengan berpura-pura menjadi sebagai seorang sadhu. Peristiwa ini dianggap sebagai mulainya tindakan munafik di dunia, yaitu seseorang yang berniat jahat yang bepura-pura berpenampilan sebagai orang baik. Tindakan Indra ini digagalkan oleh Resi Atri yang menyuruh putra Prithu untuk mengejar pencuri kuda dan diminta tidak perlu ragu melihat wujud pencuri sebagai seorang sadhu. Putra Prithu berhasil mengembalikan kuda ke seratus dari aswamedha ini sehingga dikenal sebagai Vijitashwa.

Setelah ribuan tahun memerintah sebagai raja, Prithu merasa usianya sudah tua dan sudah merasa waktunya untuk meninggalkan tubuh fisiknya. Prithu mengangkat Vijitashwa sebagai pengganti, kemudian dia melakukan yoga pelepasan dirinya yang diikuti oleh Archis, istri setianya. Putra Vijitashwa bernama Havirdhana tidak ingin menjadi raja, maka sebagai raja pengganti Vijitashwa ditunjuk Barhishat, putra sulung dari Havirdhana. Raja Barhishat terkenal dengan sebutan Prachinabarhis, prachina berarti arah ke timur dan barhis berarti rumput Kusa untuk persembahan. Raja Prachinabarhis terobsesi oleh upacara ritual yajna. Begitu selesai suatu upacara dia melanjutkan lagi dengan upacara ritual berikutnya. Demikian ritual demi ritual dilakukannya sepanjang waktu. Resi Narada paham bahwa niat dari raja Prachinabarhis adalah baik, maka sang dewaresi mendatangi sang raja dan bertanya mengapa dia mempunyai obsesi untuk melakukan ritual tanpa henti. Sang raja menjawab bahwa kebanyakan manusia terperangkap dalam jaring perasaan sehingga terikat dengan istri, anak-anak, rumah, kekayaan dan kerajaan. Kebanyakan manusia tidak mengetahui bagaimana mencapai dunia yang lain, oleh karena itu sang raja melakukan ritual terus-menerus agar tidak sempat berpikir terhadap jaring perasaan tersebut.

Kedatangan Narada membuat sang raja sadar bahwa mungkin sekali tindakannya tersebut tidak tepat maka segera dia memohon sang dewaresi untuk memberi petunjuk. Resi Narada berkata, “Wahai raja, engkau mempunyai niat untuk melepaskan diri dari keterikatan, dan niat itu benar. Engkau berupaya melepaskan diri dari keterikatan terhadap istri, anak, kekayaan dan kekuasaan. Akan tetapi engkau justru terikat dengan upacara ritual, sebuah keterikatan yang lain.” Dengan kekuatan yoganya, kemudian Resi Narada menunjukkan ribuan sapi yang telah dibunuh untuk keperluan ritual. “Wahai raja, ribuan sapi sedang menantikan kematianmu untuk membalas dendam kepadamu.” Sang raja kaget dan menjadi sadar bahwa dia telah berbuat kesalahan. Kemudian Resi Narada menyampaikan kisah Raja Puranjana kepada sang raja……..

Dalam buku “Mawar Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena”, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2007 disampaikan…….. Kenapa kita terikat pada sesuatu? Karena kita melihat sesuatu itu di luar diri kita, dan timbul keinginan untuk memilikinya. Pernahkah kita merasa terikat dengan ginjal, hati, dan jeroan kita? Tidak, karena kita tahu semua itu ada dalam diri kita. Kita bahkan tidak pernah memikirkan mereka. Tidak pernah peduli tentang jantung dan paru, hingga pada suatu ketika kita jatuh sakit…. dan baru mengaduh-aduh. Kenapa? Karena saat itu kita “merasa kehilangan” kesehatan. Kita tidak pernah merasa terikat dengan sesuatu yang kita yakini sebagai milik kita. Sebab itu seorang suami bisa tidak terikat dengan istrinya, tetapi terikat dengan selirnya. Keterikatan menimbulkan keinginan untuk memiliki dan mempertahankan sesuatu, keadaan maupun orang. Keinginan itu tidak selaras dengan alam. Alam tidak memiliki keinginan untuk mempertahankan sesuatu. Alam membiarkan terjadinya perubahan, bahkan malah memfasilitasinya, mendukungnya. Kita terikat dengan rambut lebat yang masih hitam, maka uban dan botak sudah pasti menyedihkan. Kita terikat dengan harta benda yang terkumpul selama hidup, maka kematian menjadi sulit. Sementara itu, alam tidak pernah sedih karena pergantian musim. Alam tidak pernah menolak perubahan yang terjadi setiap saat……..

Pada suatu waktu, ada seorang raja terkenal bernama Puranjana. Dia mempunyai sahabat bernama Awijnata, ‘yang tak diketahui’. Mereka selalu tak terpisahkan, sampai suatu kali Puranjana berkeinginan untuk mencari tempat tinggal yang sesuai dengan seleranya. Akhirnya Puranjana menemukan sebuah kota bernama Bhogawati, ‘kota kesenangan’. Kota tersebut mempunyai sembilan gerbang untuk memenuhi kebutuhan penduduk kota. Kota tersebut juga dijaga oleh lima pasang penjaga dan seekor ular raksasa berkepala lima. Kota tersebut dihuni seorang putri yang amat menawan bernama Puranjani. Tak sabar Puranjana bertanya tentang asal-usul sang putri yang dijawab bahwa dia tidak tahu orang tuanya siapa. Dia hanya tahu bahwa dia telah berada di kota tersebut. Mereka yang berada di sekeliling dirinya adalah sahabat-sahabatnya, mereka menjaga dirinya di kala dia sedang tidur. Sang putri mengucapkan selamat datang ke kotanya dan berkata bahwa tamunya akan mendapat banyak harta dan kenikmatan di dalam kota. Akhirnya sang raja tinggal di kota tersebut dan putri tersebut diambilnya sebagai isteri. Puranjana lupa akan waktu dan larut dalam keasyikan hidup di kota Bhogawati bersama isterinya. Baca lebih lanjut

Renungan Bhagavatam: Raja Agung Prithu, Kemurahan Hati Ibu Pertiwi Dan Kesalahan Manusia Sebagai Penyebab Bencana

Kala Prithu dilahirkan musik surgawi terdengar dan semua dewa menyambut kelahiran Prithu. Brahma berkata bahwa Prithu membawa tanda lahir cakra pada telapak tangannya dan tanda bunga teratai pada kakinya. Prithu adalah penjelmaan Narayana untuk melindungi dunia. Setelah Prithu dewasa dia dinobatkan sebagai raja dan seluruh alam semesta membawa hadiah untuk sang raja. Akan tetapi Prithu tak mau dipuji karena dia belum punya pengalaman untuk memerintah kerajaan. Prithu berkata bahwa dia mau dipuji saat dia nanti berhasil sebagai raja dunia. Prithu mengakui bahwa dia menjadi raja dalam kondisi yang sangat sulit. Ia mengetahui bahwa rakyatnya sangat lemah dan dalam kondisi kelaparan yang parah. Rakyatnya berkata, “Wahai raja pelindung dunia kami menderita kelaparan, berilah kami makanan. Kami dimakan oleh rasa lapar seperti pohon yang dimakan oleh api yang tersembunyi dalam batangnya. Kami telah diberitahu oleh para resi bahwa kau dilahirkan untuk melindungi kami. Lindungilah kami wahai raja!”

Prithu berpikir keras dan akhirnya menemukan penyebab dari kelaparan rakyatnya. Bunda Bumi telah menelan semua tanaman yang mengandung makanan, dan semua benihnya dan tidak dibiarkan tumbuh. Prithu sampai pada keputusan untuk menghukum Bunda Bumi. Ia memungut busur dewatanya dan mengarahkan anak panahnya ke arah Bunda Bumi. Bunda Bumi mewujud sebagai sapi yang melarikan diri menjauhi Prithu. Bunda Bumi tahu bahwa anak panah tersebut dapat menghabisi nyawanya. Bunda Bumi begitu panik sehingga permukaan bumi terasa menggigil, terjadi gempa di mana-mana. Prithu mengejarnya kemana saja Bunda Bumi melarikan diri. Bunda Bumi tak dapat menemukan tempat berlindung, sehingga akhirnya dia memutuskan untuk menemui Prithu dan bersujud di hadapannya. “Wahai raja dunia, aku berlindung padamu. Engkau adalah raja yang adil dan mestinya Engkau tidak mengganggu seorang perempuan sepertiku. Sekalipun bersalah seorang perempua tidak harus dibunuh. Mengapa Engkau berusaha membunuhku, padahal aku tidak berbuat kejahatan terhadapmu? Dan jika Engkau membunuhku dimana Engkau akan meletakkan kerajaan-Mu?

Prithu berkata, “Engkau telah melakukan kesalahan, itulah sebabnya aku harus menghukummu. Di dalam upacara persembahan yang dilakukan manusia, engku mendapatkan bagianmu. Akan tetapi engkau tidak memberi manusia makanan. Dalam wujud sapi engkau makan rumput akan tetapi engkau tidak memberikan susu kepada manusia. Engkau sudah mengabaikan peraturan yang dibuat olehku. Maka aku perlu menghukummu. Hukum harus ditegakkan di atas dunia. Engkau juga telah menyembunyikan tanaman obat pemberian Brahma. Rakyatku menjadi menderita karenanya. Seseorang yang tidak berpikir tentang kebaikan terhadap orang lain harus dibunuh oleh seorang raja. Perbuatan tersebut bukan perbuatan adharma. Dagingmu akan kubagikan kepada manusia dan aku tidak cemas tentang tempat kerajaanku yang musnah, dengan yogaku aku mampu mendirikan kerajaanku.”

Bunda Bumi gemetaran karena ketakutan dan berkata, “Aku tahu Engkau adalah Gusti. Engkau sudah menciptakan aku, sehingga aku menjadi rumah bagi seluruh kehidupan. Engkau sudah menjadikan aku sebagai bunda bagi semua makhluk. Manakala aku tenggelam dalam lautan di dunia bawah, Engkau mewujud sebagai Varaha Avatara mengangkat aku ke atas. Akan tetapi sekarang Engkau mengangkat anah anak panah yang mengerikan. Tindakan Gusti tak dapat dipahami oleh aku yang bodoh. Kasihanilah aku. Dengarkanlah aku dulu wahai raja dunia. Seekor lebah dengan gigih mengumpulkan sari bunga dari berbagai bunga untuk membuat madu. Manusia yang bijaksana akan mengumpulkan berbagai fakta kebenaran dari banyak pikiran berbeda-beda untuk merumuskan kebijaksanaannya. Demikian juga untuk mendapatkan yang terbaik dariku diperlukan upaya yang gigih.”…… Prithu menyimak dengan seksama kata-kata Bunda Bumi. Dan, Bunda Bumi melanjutkan, “Para resi telah menetapkan beberapa tugas bagi manusia. Beberapa upacara persembahan dilakukan untuk mendapatkan hasil yang baik. Mereka yang sudah mengikuti kebenaran ini, mereka yang sudah mengikuti peraturan yang berasal dari zaman dahulu ini dengan sungguh-sungguh, telah mampu memperoleh manfaatnya.”

Tanaman dan hewan memberikan banyak persembahan kepada makhluk lainnya. Sumber makanan lebah adalah nektar dari bunga-bungaan. Karena bunga hanya mekar pada musimnya, maka lebah menyimpan nektar yang mereka kumpulkan dengan menambah cairan khusus yang dikeluarkan oleh tubuh mereka untuk dipergunakan sebagai makanan pada saat pohon tidak berbunga. Campuran yang bergizi inilah yang disebut madu. Untuk menjaga kualitasnya, temperatur madu dipertahankan sekitar 350C. Pada waktu kondisi panas mereka berkumpul untuk mengipasi madu dengan sayapnya. Untuk mencegah makhluk asing masuk mereka mempunyai penjaga yang akan mengusir mereka yang mengganggu. Agar bakteri tidak mengganggu, mereka mengeluarkan ”resin” yang sekaligus dapat mengeraskan sarang mereka. Pertanyaannya adalah mengapa lebah membuat madu berlebihan yang jauh melebihi kebutuhan dirinya? Bahkan menjaga kemurnian madunya yang sebagian besar justru dipersembahkan kepada manusia?………. Ayam bertelur sebutir setiap hari, dan tidak semuanya dipergunakan untuk meneruskan kelangsungan jenisnya. Sapi juga memproduksi susu melebihi kebutuhan untuk anak-anaknya. Padi di sawah menghasilkan butir-butir gabah yang jauh melebihi kepentingan untuk mempertahankan kelangsungan kehidupan kelompoknya. Pohon mangga juga menghasilkan buah mangga yang jauh lebih banyak dari yang diperlukan untuk mengembangkan jenisnya. Pohon singkong memberikan pucuk daunnya untuk dimakan manusia, akar ubinya pun juga dipersembahkan, mereka menumbuhkan singkong generasi baru dari sisa batang yang dibuang. Sifat alami alam adalah penuh kasih terhadap makhluk lainnya. Lebih banyak memberi kepada makhluk lainnya……. Baca lebih lanjut

Renungan Bhagavatam: Vena, Kisah Kegagalan Para Resi Memberikan Solusi Bagi Kesemrawutan Negeri

Setelah 30 ribu tahun memerintah, maka Dhruva telah mempersiapkan sistem pemerintahan yang baik, serta sebuah institusi dari kumpulan para resi sebagai Dewan Pertimbangan Agung Kerajaan. Segala sesuatu telah dipersiapkan dengan baik dan mestinya pemerintahan selanjutnya akan berjalan dengan lancar. Akan tetapi sebuah sistem yang baik tetap memerlukan manusia yang handal untuk menjalankan sistemnya. Ternyata tidak mudah mendapatkan seorang raja yang baik yang melindungi negara dan rakyatnya serta sekaligus menjadi bhakta yang saleh. Utkala adalah putra Dhruva yang menggantikannya sebagai raja. Utkala adalah seorang ahli filsafat dan di usia muda sudah mendapat gelar Brahmi. Namun ia tidak begitu memperhatikan kepemerintahan. Dia tidak menjaga kemuliaan dan kewibawaan sebagai seorang raja.

Para resi akhirnya memilih Vatsara, adik Utkala sebagai penggantinya. Selanjutmya setelah Utkala sudah merasa tua maka dia menunjuk putranya, Anga sebagai raja penggantinya. Pada suatu hari, Anga yang belum dikaruniai seorang putra mengadakan upacara Aswamedha, persembahan kepada Narayana, akan tetapi sampai akhir upacara tidak ada dewa yang hadir. Sang Raja merasa sangat sedih dan bertanya kepada para bijak, apakah kesalahannya sehingga para dewa tidak berkenan hadir. Para resi menjawab, bahwa tidak ada sesuatu yang salah dalam upacara tersebut. Bisa jadi dikarenakan kesalahan sang raja dalam kelahiran sebelumnya. Kemudian para resi menyarankan sebaiknya raja mengadakan upacara yang lain untuk meminta putra terlebih dahulu.

Sebagai seorang raja tentu saja dia berhasrat mempunyai seorang putra yang dapat meneruskan tahtanya setelah dia memasuki usia tua. Sang raja tidak sadar bahwa waktunya belum tepat. Sang raja masih diliputi suasana kekecewaan dan kemarahan kepada para dewa yang tidak berkenan menerima persembahannya. Sang raja dan para resi mempersiapkan Upacara Yajna untuk memohon putra. Manakala upacara berakhir, keluar sebuah bentuk api yang memakai perhiasan serba keemasan dan membawa periuk emas menuju sang raja. Raja menerima “payasa”, sejenis makanan dari beras bercampur susu. Payasa tersebut kemudian diberikan kepada Sunita sang permaisuri untuk dimakannya. Setelah beberapa waktu seorang putra lahir dan dinamakan Vena. Sejak kecil Vena ternyata mempunyai sifat adharma. Ia suka sekali membunuh binatang, walaupun binatang yang tidak berbahaya dan tidak mengganggu manusia. Ia ringan tangan dan sangat kejam sehingga semua orang menghindarinya. Bila ada orang yang tidak disenanginya, maka dia tak segan untuk membunuhnya. Sang raja telah berupaya mendidiknya dan mendatangkan para resi untuk menunjukkan jalan yang benar. Akan tetapi semuanya kewalahan, karena Vena mempunyai sifat kepala batu dan selalu merasa paling benar sendiri.

Sang raja sangat sedih dan makan hati melihat kelakukuan putranya. Dia berkata pada dirinya sendiri, “Adalah salahku sendiri yang mempunyai obsesi untuk memperoleh seorang putra. Akan tetapi putraku sangat mengecewakan diriku. Ternyata lebih berbahagia orang yang tidak punya putra dibandingkan dirinya yang mempunyai putra yang memalukan. Orang menganggap aku seorang raja yang tidak mampu mendidik putraku sendiri. Aku telah menerima aib dan kebencian dari semua rakyatku karena perbuatan putraku.” Perasaan tersebut sangat menggelisahkannya, sampai suatu saat datang sebuah kesadaran kepada sang raja, “Bagaimana pun jahatnya anakku, manakala aku berpikir tentang Tuhan, kurasakan bahwa Tuhan telah sangat berbaik hati kepadaku. Tuhan telah membimbingku ke arah yang benar. Kusadari bahwa selama ini aku telah begitu terikat dengan kemewahan dan kemegahan istana serta melupakan-Nya. Kesadaran seseorang yang selalu mengalir keluar seperti diriku, tidak mungkin membuatku mengenal Tuhan yang berada dalam diriku. Ternyata kesenangan pikiran dan indra manusia terhadap obyek yang di luar itu tidak pernah membahagiakan. Aku menderita kala upacara Aswamedha tidak diterima para dewa. Dan kemudian datang kebahagiaan saat aku mendapatkan seorang putra. Sekarang aku menderita karena ulah kejahatan putraku. Tuhan telah berbuat baik hati kepadaku dengan memberikan putra yang tidak baik. Karena ketidakbaikan putraku, aku menjadi tidak suka terhadap istana dan kehidupan duniawiku. Aku menjadi sadar sudah waktunya bagiku untuk meniti kembali ke dalam diri. Keterikatanku pada istana dan keluarga telah dipotong oleh pisau tajam kejahatan putraku.” Dan akhirnya, pada suatu malam sang raja Anga meninggalkan istana dan tidak pernah kembali…….. Baca lebih lanjut

Renungan Bhagavatam: Dhruva, Kegigihan Seorang Anak Dalam Upaya Menggapai Keilahian

Uttanapada putra Manu mempunyai dua istri: Suniti dan Suruchi. Suniti mempunyai putra bernama Dhruva dan Suruchi mempunyai putra bernama Uttama. Pada suatu saat Raja bermain dengan Uttama dan sang putra duduk dalam pangkuannya. Dhruva datang dan ingin duduk di pangkuan ayahnya juga. Suruchi, ibu tiri Dhruva mendatangi Dhruva, menyeretnya menjauhi suaminya dan berkata, “Dhruva, kamu adalah putra raja juga, akan tetapi kamu bukan putraku, kau tidak akan memperoleh perlakuan yang sama dengan Uttama. Kau adalah anak sial. Kesialanmu adalah karena kamu putra perempuan yang bukan diriku. Jika ingin mendapat perlakuan yang sama dengan Uttama, maka kau harus bertapa agar dikehidupan berikutnya kau lahir dari Suruchi bukan lahir lewat ibumu!”
Raja mendengarkan, akan tetapi dia diam saja, karena dia memang lebih sayang kepada Suruchi daripada Suniti. Dhruva kecil sakit hati atas kata-kata kejam ibu tirinya dan menoleh kepada ayahnya yang hanya diam saja. Dhruva kemudian lari menuju ibunya dan menangis terisak-isak. Suniti langsung memangkunya dan ikut menangis. Suniti berkata, “Dhruva, ada dua jalan untuk menyelesaikan kekecewaan, jalan pertama berupaya memenuhi keinginanmu, akan tetapi raja memang lebih suka pada Suruchi daripada aku. Ada benarnya juga kata Suruchi, bahwa ini terkait dengan masalah sebab-akibat di masa lalu, sehingga kau dapat memperbaiki nasib dengan jalan berbuat kebaikan. Jalan kedua adalah jalannya orang yang gigih, jalannya orang bijak yaitu tidak berkeinginan lagi terhadap sesuatu. Bila seseorang sudah menyaksikan Narayana, maka dia sudah tidak menginginkan apa-apa lagi. Putraku, berdoalah kepada Narayana Yang Agung, tempat perlindungan bagi semua yang menderita. Setelah bertemu dengannya, maka kau tidak menginginkan yang lainnya lagi.” Suniti tidak pernah mengira bahwa perkataannya untuk menenangkan Dhruva, menjadi pemicu baginya untuk menemukan Narayana.

Dalam buku “Medina, Sehat Dalam Sekejap”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2008 disampaikan…….. Ribuan tahun sebelum lahirnya psikologi modern, para pujangga di Timur sudah mulai memikirkan masalah-masalah psikis dan efeknya terhadap kesehatan manusia. “Amarah”, misalnya, oleh Sri Krishna dijelaskan sebagai akibat dari rasa kecewa. Dan rasa kecewa itu sendiri merupakan akibat dari keinginan-keinginan yang tak terpenuhi. Jadi, sesungguhnya “amarah” adalah akibat keinginan manusia. Karena itu, untuk mengatasi amarah, hanya ada dua jalan. Memenuhi setiap keinginan atau tidak berkeinginan sama sekali. Yang pertama, memenuhi setiap keinginan jelas mustahil. Kursi presiden hanya satu. Yang menginginkannya sekian banyak. Jelas, yang tidak memperolehnya akan kecewa. Yang kedua, tidak berkeinginan. Tidak mustahil, tetapi sulit sekali. Kesadaran kita harus selalu prima dan berada pada lapisan yang teratas, sehingga kita bisa menerima “ada adanya”, tanpa keinginan pribadi. Dalam keadaan ini, kita sudah berserah diri sepenuhnya kepada Kehendak Ilahi, no question asked, not mine but let Thy will be done! Kita tidak lagi mempertanyakan kebijakan-Nya, tetapi menerima sepenuhnya…….. Para avatar, para mesias, para nabi, para master dan para Buddha berada dalam kelompok kedua. Mereka tidak memiliki keinginan pribadi. Karena itu, mereka tidak pernah marah. Tidak pernah marah “seperti” kita. Kualitas amarah mereka berbeda. Baca lebih lanjut