Renungan Bhagavatam: Narada, Wujud Kerinduan Manusia Terhadap Yang Maha Pengasih


Bhagawan Abyasa, sang penyusun Veda, Purana, dan penulis Mahabharata suatu ajaran Veda dalam kisah yang mudah dipahami oleh masyarakat luas, ternyata sangat menghormati Resi Narada.

Pertama kali kita perlu memahami istilah Veda. Dalam buku “Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan”, Karya Terakhir Mahaguru Shankara “Saadhanaa Panchakam”, Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia oleh Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2006 disampaikan……. Veda berarti “pengetahuan”, pengetahuan yang senantiasa berkembang; pengetahuan yang maju dan memajukan; pengetahuan yang tidak kaku, tidak baku; pengetahuan yang tidak mengerdilkan jiwa. Hanya “pengetahuan” macam itu yang dapat dipelajari setiap hari; ditekuni dan didalami dari hari ke hari. Veda bukanlah dogma dan doktrin yang tak dapat diganggu gugat. Veda bukan dogma, bukan doktrin. Veda tidak memperbudak manusia. Veda tidak menjerat jiwa, tapi membebaskan jiwa manusia. Mempelajari Veda berarti mempelajari diri; mempelajari potensi diri, kemampuan diri; melakukan introspeksi dan evaluasi diri. Pengetahuan yang dimaksud bukanlah untuk pengetahuan mengenai hal-hal di luar diri, tetapi pengetahuan mengenai segala yang ada di dalam diri. Karena itu, Muhammad tidak bertentangan dengan Isa, dengan Musa, dengan Ibrahim. Mereka berdiri bersama. Tidak ada yang lebih rendah, maupun lebih tinggi. Mereka juga berdiri bersama Siddhartha, Krishna, dan Lao Tze. Mereka semua mengajak kita untuk menengok ke dalam diri. Mereka mengajak kita setelah sebelumnya mereka sendiri melakukan hal yang sama, sehingga penemuan mereka sama…….

 

Resi Narada memainkan peran penting dalam sejumlah Purana, terutama dalam Bhagavata Purana. Sang Resi biasa bepergian mengunjungi tiga alam dan dikenal sebagai Sang Pengembara Sejati. Beliau membawa alat musik yang dikenal sebagai vina sebagai pengiring nyanyian ilahi, doa dan mantra yang ditujukan kepada Narayana, salah satu sebutan Tuhan bagi dirinya. Sebutan bagi Tuhan adalah masalah rasa; ada yang merasa dekat saat menyebut Gusti Allah; ada yang merasakan kedamaian kala menyebut Hyang Widhi; ada yang secara formal menyebut Yang Maha Kuasa dan lain sebagainya. Yang penting manusia menjadi merasa dekat dengan-Nya, dia akan bergetar kala disebut nama-Nya…….. Kita kebanyakan bergetar kala disebut nama kekasih yang kita cintai, bahkan ada yang bergetar kala disebut akan mendapatkan rejeki nomplok yang besar, atau akan mendapatkan jabatan yang sangat didambakan…… Resi Narada bergetar setiap disebut Narayana.

Sang Bhagawan memahami kebenaran dalam nasehat Resi Narada, Sang Dewaresi, sehingga beliau mulai menulis Bhagavata Purana, Kisah-Kisah Keilahian. Kala Sang Bhagawan bertemu dengan Resi Narada, beliau mendengar kisah masa lalu Sang Dewaresi di kalpa sebelumnya…….

Resi Narada dianggap sebagai Manasa Putra, yang lahir dari pikiran Brahma. Pada kalpa sebelumnya Narada adalah putra seorang pelayan yang bekerja pada tempat persinggahan para Brahmana suci. Saat itu Narada baru berusia 5 tahun, dan dia nampak berbeda dengan anak-anak sebayanya yang masih suka bermain. Pada saat itu Narada membantu ibunya melayani beberapa brahmana suci yang singgah selama musim hujan. Narada melayani mereka dengan penuh bhakti, seakan-akan para brahmana tersebut adalah utusan Narayana yang sedang singgah di dunia. Dengan tenang Narada duduk agak jauh dari mereka, menunggu bila mereka memerlukan sesuatu. Narada juga memperhatikan bagaimana mereka melakukan persembahan, membaca mantra, berdoa dan menyanyikan lagu pujian. Bahkan Narada suka sekali mendengarkan pembicaraan di antara merea. Pada suatu hari seorang Brahmana memperbolehkan Narada makan “prasadam”, makanan kecil dalam ritual persembahan. Semenjak saat itu diri Narada berubah, dia menjadi begitu mencintai Narayana, nama Tuhan yang disebut oleh para Brahmana tersebut. Dalam beberapa bulan kemudian, Narada mulai dapat memahami pembicaraan mereka. Para Brahmana amat sayang kepada Narada, dan mereka melihat ketulusan dan kesucian di wajah bocah usia lima tahun tersebut.

Narada adalah putra seorang pelayan, demikian pula ibu dari Abyasa berasal dari keluarga nelayan, akan tetapi hal tersebut tidak mengurungkan niat mereka untuk mencapai ketinggian kesadaran. Karena mereka sebenarnya adalah manusia kualitas tinggi yang berada di tempat rendah. Kita banyak melihat orang-orang kualitas rendah yang berada di ketinggian dan mereka mengacaukan bangsanya dengan karakter rendahnya di saat mereka mendapat kekuasaan.

Ketika para brahmana meninggalkan tempat persinggahan tersebut, Narada sudah memahami tentang Narayana, yang selalu menggetarkan hatinya. Kala ibunya meninggal karena gigitan ular, dia merasa itu adalah Kehendak Narayana agar dia dapat terlepas dari ikatan ibunya. Dia kemudian mengembara di hutan, merenungkan tentang Kebenaran Hakiki. Dalam usia yang masih dini, Narada tidak berkeinginan dengan dunia, dengan keluarga dan sahabat, semuanya tidak bermakna baginya. Hanya Gusti yang bermakna, lainnya tidak. Narada sadar selama ada satu butir keinginan duniawi, Gusti belum hadir, karena ego masih berkuasa.

Pada suatu saat Narada duduk di bawah pohon dan bermeditasi di keheningan hutan kepada wujud Narayana sebagaimana yang telah diajarkan oleh para brahmana. Setelah beberapa lama Narada mengalami suatu visi dimana Narayana muncul di hadapannya. Rasa bahagia dan damai yang dialami Narada tidak dapat dijelaskannya. Dalam visi Narada, Narayana seakan-akan tersenyum begitu indah dan seakan-akan berkata begitu merdu, “Meskipun kau mendapat anugerah melihat-Ku pada saat ini, kau tidak akan dapat melihat-Ku lagi sampai saat kau meninggal dunia nanti. Kau kuberi kesempatan melihat wujud-Ku, agar keindahan dan kasih-Ku menjadi pemicu bagimu untuk bertemu dengan-Ku.” Dan visi Narada kemudian menghilang.

Dalam Buku “Cakrawala Sufi 3, Kembara Bersama Mereka Yang Berjiwa Sufi”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999 disampaikan……..Simbol-simbol keagamaan seperti salib, kaligrafi dan arca sebenarnya merupakan alat-alat, sarana-sarana untuk meditasi. Para rishi, para bhagavan di pegunungan Himalaya bahkan menciptakan yantra atau alat-alat untuk mengantar kita ke alam meditasi. Santo Fransiskus menggunakan “Wujud Yesus” sebagai sarana meditasi. Ia menggunakan “salib” sebagai alat meditasi. Dengan memusatkan kesadarannya pada “Wujud Yesus di atas Salib” ia bisa melampaui “keakuan” -nya. Hari itu, Fransiskus berhasil melampaui dirinya. Ia bersatu, menyatu dengan “Kristus”. Hari itu, Fransiskus menerima “stigmata” – luka-luka suci Yesus. Bukan hanya kesadarannya yang melebur dalam Kesadaran Kristus, tetapi wujud fisiknya pun menyatu dengan Wujud Yesus yang ia jadikan sarana untuk meditasi. Hari itu, kedua tangan Fransiskus, begitu pun kedua kaki dan lambungnya, tiba-tiba mengeluarkan darah segar. Persis seperti yang pernah terjadi pada Yesus di atas salib. Hari itu, Fransiskus lenyap sudah, mati sudah – yang tersisa adalah “Kesadaran Kristus”…….. Ramakrishna Paramahansa, guru Swami Vivekananda, pernah melakukan eksperimen. Setiap enam bulan sekali, ia mengubah sarana meditasinya. Kadang ia menjadikan zikir Islami sebagai sarananya, kadang mantra Hindu, kadang doa Kristen, kadang pemujaan Parsi. Dan ia menyimpulkan bahwa “pengalaman terakhir”, the ultimate experience yang ia peroleh sama sekali tidak berbeda – persis sama! Dia berupaya mencapai Kesadaran Kristus, lewat berbagai cara, berbagai jalan – dan Ia berhasil! Ada cerita-cerita lucu, dan ini bukan dongeng, tetapi kisah nyata: Pada suatu ketika, ia menjadikan “Hanuman” – Sang kera Sakti, pengabdi Betara Rama, sebagai sarana meditasinya. Dan, ia memperoleh ekor. Mulai tumbuh ekor di belakangnya! Sebuah fenomena yang tidak dapat dijelaskan secara ilmiah! Apabila ia menjadikan “Bunda Maria” atau “Devi Mahakali” sebagai sarana meditasinya,  tumbuh payudara – persis seperti wanita. Dalam manembah, dalam devosi, Anda menyatu dengan objek devosi Anda. Pada akhirnya, si panembah dan objek panembah – dua-duanya – lenyap. Yang tersisa adalah “panembah” itu sendiri……

 

Narada begitu bahagia melihat wujud Narayana, sekaligus merasa rindu untuk bertemu dengan-Nya. Nampaknya Narada tak sabar menunggu saat kematiannya untuk bertemu lagi dengan Narayana. Setiap menyebut dan setiap ingat Narayana hatinya tergetar……

Dalam buku “Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2006 disampaikan…….. Rasa rindu lahir “karena” cinta, tetapi “dari” rahim perpisahan. Bila cinta adalah ayah penebar benih, perpisahan adalah ibu yang mengandungnya. Rasa rindu adalah anak yang mengukuhkan cinta. Rasa rindu tidak pernah lahir karena cinta saja, atau karena perpisahan saja. Ada cinta, ada perpisahan, maka lahirlah rasa rindu. Prasyarat adanya cinta dan perpisahan mesti dipenuhi bila kita ingin menyaksikan kelahiran rasa rindu, bila kita ingin mengukuhkan cinta……..

 

Bagaimanakah sifat kerinduan kita? Dalam buku “Masnawi Buku Keempat, Bersama Jalaluddin Rumi Mabuk Kasih Allah”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan…… Sekadar berdoa dan merindukan Tuhan saja tidak cukup. Belum cukup. Bagaimana kita memperlakukan Ciptaan-Nya – itu yang menjadi tolok ukur keberagamaan kita. Kita ingin “memiliki” Tuhan. Bayangkan Tuhan pun ingin kita “miliki”! Betapa angkuhnya manusia. Kita belum berserah diri. Sadar atau tidak, kita malah berkeinginan agar Tuhan menyerahkan Diri-Nya kepada kita. Senantiasa siap sedia untuk mengabulkan setiap permohonan. Aneh! “Keinginanmu untuk “memiliki” Tuhan masih berasal dari kesadaran rendah, dari naluri hewani. Tingkatkan kesadaranmu. Jadilah “milik” Dia! Kemudian, orang yang sudah menjadi “milik-Nya”, berserah diri sepenuhnya akan selalu waspada. Dia akan menghormati dan mencintai Ciptaan-Nya. Dia tidak akan merusak lingkungan, mencelakakan atau menyakiti orang lain. Dia akan “menjalani” agama dalam hidup sehari-hari. Engkau masih belum kenal cinta. Masih bergulat dengan hawa nafsu……… Hawa nafsu adalah produk mind, pikiran. Keberadaan mind tidak bisa dielakkan. Menolak keberadaannya tidak akan membebaskan kita dari cengkeramannya, dari pengaruhnya. Mind tidak perlu ditolak. Mind juga tidak bisa dikosongkan……… Mind harus dikembalikan pada tugas pokoknya. Mind harus menjadi pembantu manusia. Sewaktu-waktu dibutuhkan bantuannya, kita menggunakan dia. Kemudian kalau tidak dibutuhkan, kita mengistirahatkan dia, meliburkan dia. Bahkan kalau perlu, mind bisa juga dipecat dan diganti dengan “yang baru” (created mind). Sementara ini, mind telah memposisikan dirinya sebagai majikan………

 

Kemudian selama sisa hidupnya Narada memusatkan perhatiannya kepada Narayana. Segala pikiran, ucapan dan tindakannya dipersembahkan kepada Narayana. Pada saat kerinduan di dadanya menggelegak, Narada menyanyikan lagu keilahian yang dapat menenangkannya barang sejenak. Tak jarang air matanya mengalir karena kerinduan yang tak terobati.

Dalam buku “Masnawi Buku Keempat, Bersama Jalaluddin Rumi Mabuk Kasih Allah”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan…… Kerinduan anda terhadap Tuhan membuktikan bahwa anda pernah “tinggal” di dalam-Nya. Berpisah dari Dia, anda menderita. Kita harus jujur benarkah kita merindukan Tuhan? Ada yang baru percaya. Dan dia percaya pula bahwa “kerinduan terhadap Tuhan” akan mempertemukan dia dengan Tuhan. Lalu dia berpura-pura merindukan Tuhan. Tidak, itu tidak akan membantu. Merindukan Tuhan berarti anda tidak mengharapkan “apa pun” dari Dia. Merindukan Tuhan berarti anda hanya mendambakan “Dia”. Doa anda bukan untuk meminta ini dan meminta itu, tetapi untuk bersatu dengan Dia. Keinginan untuk tampil sebagai pemenang, obsesi untuk mengalahkan orang lain, semua itu membuktikan bahwa kita masih “memiliki banyak waktu”. Waktu kita belum sepenuhnya “tersita” untuk merindukan Dia. Kita belum merindukan Tuhan. Banyak kelompok “perindu” di India bertemu seminggu sekali. Kemudian mereka menangis bersama. Tetapi ya itu, hanya seminggu sekali saja. Esoknya, semua normal kembali. Kerinduan mereka memang sudah terjadwalkan 1 x seminggu…….

 

Narayana memahami potensi Narada oleh karena itulah Dia mewujud dalam visi Narada, agar Narada semakin rindu dan semakin meningkatkan rasa bhaktinya. Seorang Sadguru pun memahami potensi yang ada pada muridnya. Dalam buku “The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2010 disampaikan…… Ketika seorang guru atau murshid mengatakan kepada kita bahwa ia merindukan kita, atau kangen pada kita, “I miss you” jelas bukanlah kangen-kangenan mesra-duniawi yang dimaksudnya. Ia merindukan “peningkatan kesadaran diri” kita. Karena, ia mengetahui persis potensi diri kita, potensi diri setiap manusia. Ya, potensi diri setiap manusia. Dan, potensi itu sama, tanpa kecuali. Setiap manusia, bahkan setiap makhluk hidup memiliki potensi yang sama untuk mencapai kesadaran tertinggi sesuai dengan wahana badan, pikiran, dan perasaan yang dimilikinya. Seorang anak manusia memiliki potensi untuk menjadi manusia sempurna, sebagaimana seekor anak anjing memiliki potensi untuk menjadi seekor anjing yang sempurna. Bila kita tidak meraih kesempurnaan dalam hidup, maka letak kesalahannya adalah pada diri kita sendiri. Kita tidak merindukan kesempurnaan. Kita puas dengan kondisi lumayan asal aman. Kita sudah terbiasa mencari rasa aman; itulah yang kita kejar selama ini. Kita tidak berani mengambil resiko. Kita tidak berani terbang tinggi, karena takut jatuh. Kita tidak berani menyelam lebih dalam, karena takut tenggelam. Inilah kelemahan kita. Dan, hal ini pula yang membuat hidup kita sengsara. Hidup kita adalah kendaraan atau jembatan yang dapat mengantar kita ke pantai seberang. Kita takut menggunakan kendaraan itu. Kita ragu melewati jembatan kehidupan. Mengapa? Karena, kita tidak tahu ada apa di pantai seberang. “Jangan-jangan di sana lebih sengsara. Sudah ah, di sini saja.”………

Demikian contoh dari beberapa pandangan Bapak Anand Krishna tentang pemberdayaan diri, agar kita semua percaya diri dalam menegakkan kebenaran. Sayang pandangan beliau sering disalahartikan oleh mereka yang tidak suka dengan pandangan kebhinekaan Bapak Anand Krishna. Silakan lihat….

http://www.ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=3815

http://varianews.com/varia-berita/hukum/115-hakim-hari-sasangka-diadukan-ke-ky

http://www.freeanandkrishna.com/

 

Setelah kematiannya, Narayana memberkatinya sebagai dewa yang melakukan tugas membagikan kebijaksanaan. Dalam kalpa yang baru, Narada dilahirkan oleh pikiran Brahma sehingga dia disebut Manasa Putra.

 

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Juni 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: