Renungan Bhagavatam: Keteladanan Dewahuti, Sebagai Putri, Istri, Ibu Dan Sekaligus Hamba Yang Berbhakti


Kardama telah pergi melanjutkan perjalanan spiritualnya
sebagai Sanyasin. Dan, Kapila sudah menginjak remaja kala Dewahuti teringat kehidupannya
di masa lalu. Dewahuti adalah seorang putri yang baik yang patuh terhadap kedua
orang tuanya, Svayambhu Manu dan Satarupa. Sejak kecil Dewahuti begitu yakin
bahwa Gusti Yang Maha Pengasih akan membimbing dirinya lewat orang-orang yang
yang berada di dekatnya. Dewahuti yakin bahwa ayah dan ibunya adalah guru
pemandu yang diutus Gusti untuk membimbingnya saat dirinya lahir ke dunia.
Setelah Dewahuti kawin dengan Kardama dan ditinggalkan oleh kedua orang tuanya,
Dewahuti menganggap Kardama sebagai guru spiritualnya. Dan, setelah Kardama
pergi, maka Dewahuti merasa yakin bahwa Kapila, putranya sendiri adalah wujud
Narayana yang akan memandu dirinya yang tidak mengenal Veda dan ilmu keilahian
lainnya kecuali hanya berbekal pengabdian yang tulus.

 

Dewahuti teringat pesan Brahma, sang mertua pada saat
dirinya dan Kardama menikahkan putri-putrinya, “Menantu terkasihku, Narayana
berkehendak mengajarkan Brahmawidya, ilmu tentang keilahian kepada dunia. Oleh
karena itu, Narayana akan lahir sebagai putramu. Dia akan mengajari ilmu itu
pertama kali kepadamu, agar kau terbersihkan dari Avidya, ketidaktahuan yang menjadi
penyakit di dunia ini! Mereka yang sakit jiwanya merasa dirinya hampa, akan
selalu mengejar kedudukan, ketenaran dan kekayaan. Seseorang yang ingin
menonjolkan dirinya pun,  sedang
menderita sakit.”

 

Dalam buku “Mawar
Mistik, Ulasan Injil Maria Magdalena
”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka
Utama, 2007 disampaikan…….. Ketakselarasan dengan alam membuat kita tidak
nyaman, sakit. Ketakselarasan pula yang menyebabkan kelahiran dan kematian.
Keselarasan akan membuat kita kekal, abadi – bebas dari kelahiran dan kematian.
Keselarasan kita dengan alam adalah Rencana Allah bagi kita – Kehendak Ilahi.
Ketakselarasan kita dengan alam adalah buatan kita. Lalu, apakah kita dapat
berbuat sesuatu yang bertentangan dengan Rencana Allah, dengan Kehendak Ilahi?
Apakah kita dapat melakukan sesuatu yang kemudian menjauhkan kita dari Allah?
Jawabannya “Tidak”. Tetapi kenyataannya di lapangan, fakta di depan mata
berbicara yang lain. Ternyata kita memang jauh dari Allah, setidaknya kejauhan
itu “terasa”. Ternyata tindakan kita memang tidak selaras dengan alam. Apa yang
terjadi? Apa yang membuat kita merasa jauh? Apa yang menjadi penyebab
ketakselarasan kita dengan alam? Keterikatan pada materi menimbulkan keinginan
dan ketakselarasan dengan alam. Kemudian berbagai macam masalah pun muncul………
Yesus Sang Guru, ibarat seorang dokter. Setiap orang yang datang kepada-Nya
akan diperiksa satu per satu. Kemudian Ia meracik dan memberi obat sesuai
dengan penyakit dan kebutuhan masing-masing orang. Karena itu, obat yang
diberikan kepada Petrus, belum tentu cocok untuk Maria atau Miriam. Obat yang
diberikan kepada Yudas belum tentu cocok untuk Yohanes. Ada kalanya Ia hanya
memberi “vitamin atau obat penenang” kepada para penderita penyakit
ringan………

 

Dewahuti berkata kepada Kapila, “Putraku, bunda tahu bahwa
kau adalah Narayana sendiri. Aku minta kau membantu ibundamu. Aku lelah dan
muak hidup dengan hanya memuaskan kesenangan indera dan pikiran. Kamu adalah
matahari yang dapat mengusir kegelapan pikiran orang awam seperti diriku. Di
dalam badan yang terdiri dari 5 elemen alami, sudah Kau tanamkan rasa “aku” dan
“milikku”. Berilah aku jalan untuk menuju kedamaian dan keselamatan.”

 

Kapila tersenyum dan berkata, “Wahai ibunda, menurutku hanya
ada satu yoga yang  mengakhiri
penderitaan atau samsara. Aku telah mengajarkannya kepada para resi yang sudah
siap pada kalpa lalu. Dan, Aku akan memberi pelajaran yang lebih mudah. Bunda,
adalah pikiran yang menyebabkan perbudakan atau kebebasan. Manakala pikiran di
arahkan keluar diri, ia akan mengembara menjauhi Atman. Akan tetapi jika
pikiran berbalik ke dalam diri, mengarah kepada-Ku, maka ia akan menjadi
penyebab kebebasan dari jerat indera. Ini adalah langkah pertama menuju tujuan.
Manakala rasa “aku” dan “milikku” lenyap, pikiran akan bebas dari nafsu,
kemarahan dan lain-lainnya. Pikiran menjadi murni. Kesenangan dan penderitaan
dunia tidak akan mempengaruhinya. Keterikatan pada dunia dilepaskan dengan jalan
bhakti terhadap-Ku dan mempertahankan kesadaran kebenaran tentang Aku, maka selanjtnya
pikiran dapat merasakan keilahian. Dari semua jalan kepada-Ku, Bhakti adalah
yang paling mudah. Para bijak mengatakan keterikatan adalah salah satu sifat
yang tak dapat dipisahkan dari manusia. Keterikatan selalu ada, maka ubahlah
obyek keterikatan dari obyek luar diri kepada obyek di dalam diri, dari obyek duniawi
menjadi keterikatan pada-Ku.

 

Dalam buku “Nirtan
Tarian Jiwa Hazrat Inayat Khan
”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka, 2003
disampaikan…… Yang dibutuhkan hanyalah peralihan kesadaran. Dari luar ke
dalam diri, itu saja. Bila kita memperoleh sesuatu dari “luar”, kita akan
tergantung pada “suatu di luar diri”. Dan, ketergantungan dalam bentuk apapun
memperbudak jiwa kita. Seorang sufi, seorang yogi, seorang bikku, seorang
santo, santa, sudah bebas dari perbudakan semacam itu. Ia sudah tidak
tergantung pada sesuatu di luar diri. Dalam bahasa kami di ashram, ia telah
“memberdayakan diri”-nya. Anak-anak muda di ashram yang sudah terbebaskan dari
ketergantungan pada narkoba, napsa, tahu persis bahwa “kebahagiaan, ketenangan,
kedamaian” yang mereka cari lewat obat-obatan itu, dapat diperoleh dari dalam
diri………

 

Kapila melanjutkan, “Wahai ibunda proses memindahkan
keterikatan dari yang rendah kepada yang lebih tinggi merupakan proses yang
bertahap. Untuk itu langkah terbaik adalah “sadhusangha”,
berkumpul dengan para sadhu. Bagaimana mengenali para sadhu? Mereka tidak
terpengaruh penderitaan dan rasa sakit. Mereka penuh rasa kasih terhadap semua
makhluk. Mereka damai dengan diri mereka sendiri. Pemikiran mereka hanya
terfokus kepada-Ku. Mereka tertarik hanya pada cerita tentang Aku. Dan mereka
merasa bahagia saat menceritakan tentang Aku kepada orang lain. Bunda! Bila
pikiranmu terfokus pada mereka, maka mereka mampu  membantumu untuk melepaskan keterikatan yang
lain.”

 

“Berkumpul dengan para sadhu secara terus-menerus membuat
Bunda akan terbiasa dengan cerita tentang Aku. Cerita yang menyenangkan telinga
dan membahagiakan hati. Kebahagiaan dalam dalam cerita ini akan membimbing
Bunda menuju diri-Ku. Keterikatan pada diri-Ku akan akan menyebabkan Bunda
terlepas dari perangkap alami disekitar Bunda dan integensia akan semakin
tajam. Tidak ada lagi keterikatan kepada obyek indera. Menyerahkan diri
seluruhnya kepada-Ku akan menjadi satu dengan Aku, bahkan di dalam kelahiran
kali ini!”

 

Dalam buku “Bhaja
Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara
”, Anand Krishna,
Gramedia Pustaka Utama, 2004 disampaikan………. “Dengan Satsang, pergaulan
baik atau “good company” kata
Shankara, “bebaskan dirimu dari keterikatan.” Berarti pergaulan yang baik
justru membebaskan jiwa manusia, tidak membelenggu dirinya. Tidak menambah
keterikatannya. Dan, pergaulan yang tidak baik, bad company atau Kusanga
menambah keterikatannya, membelenggu jiwanya. Gunakan tolok ukur ini untuk
mengevaluasi persahabatan Anda selama ini…….

 

Dewahuti menyimak seluruh perkataan Sang Putra dan larut
dalam pemahaman-Nya, “Putraku, ceritakan bagaimana wanita bodoh seperti aku
yang belum belajar Veda dan kebenaran yang lain, dapat mencapai-Mu. Jalan mana
yang paling mudah membimbing ke arah-Mu?”

 

Dengan sabar Kapila menjelaskan, “Jalan Bhakti Bunda. Para
sadhu berpikir hanya melayani Aku. Terikat hanya pada Aku. Melaksanakan
tindakan hanya untuk Aku. Berbicara hanya cerita tentang Aku. Mereka sangat
berbahagia dengan memikirkan Aku. Mereka tidak tertarik dengan kemuliaan
duniawi dan surgawi, akan tetapi  Aku
memberikan kepada mereka semua yang berhak mereka peroleh. Para bhakta-Ku tidak
akan pernah binasa. Waktu yang adalah senjataku tidak berdaya sejauh mereka
bersatu dengan Aku. Aku sayang kepada mereka sebagai sayangnya ayah terhadap putra-putranya.
Bhakta-ku tidak punya rasa takut kepada siapa pun. Karena segalanya di alam
semesta ini ada di bawah kekuasaanku……..  Untuk bebas dari maya dan mencapai keadaan
dimana kekuatan dunia tidak tidak dapat mempengaruhi jiwa, satu jalan sudah
cukup, yaitu jalan bhakti. Berpikirlah tentang Tuhan sepanjang waktu. Bhakti
akan dengan sendirinya memberimu Jnana,
pengetahuan/kesadaran dan Vairagya,
ketidakterikatan. Engkau tidak perlu mencarinya. Mencintai Tuhan akan membuatku
tidak peduli terhadap cinta yang lain. Manakala seorang Bhakta tujuan hidupnya
hanya Tuhan, maka ia telah belajar Kebenaran. Avidya, ketidaktahuannya telah lenyap. Orang yang menyadari ini
adalah Brahman sendiri. Menyadari Brahman bukan pengetahuan tetapi suatu
keadaan. Engkau akan mengetahui bahwa engkau adalah Brahman. Wahai ibunda, aku
telah mengajarimu jalan yang mudah.”

 

Untuk memahami tingkatan-tingkatan kesadaran, dalam buku “Shangrila, Mengecap Sorga di Dunia”,
Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2000, Bapak Anand Krishna
menyampaikan pandangannya……. Dalam bahasa Sankerta, ada sebuah kata yang
sangat sulit diterjemahkan: Atman. Kalian
tahu dalam bahasa Inggris kata itu diterjemahkan sebagai Self – Diri. Bagi seorang yang berada pada lapisan kesadaran fisik,
Atman adalah badannya. Bagi yang
berada pada lapisan kesadaran energi, Atman
adalah energinya. Dan energi tidak bisa mati, tidak bisa dibunuh. Jadi, bagi
dia badan itulah materi. Bagi orang yang berada pada lapisan kesadaran mental, Atman adalah mind, pikiran. Oleh karena itu mereka selalu mengagung-agungkan
kekuatan pikiran. Ada lagi yang menganggap ‘rasa’ atau lapisan emosi sebagai Self Atma. Lapisan ini sudah jauh lebih halus, jauh lebih lembut dari
lapisan-lapisan sebelumnya sebagai materi. Bagi dia, ‘Cinta’, ‘Rasa’ adalah
kekuatan sejati – energi murni. Lalu ada yang menganggap lapisan intelegensia
sebagai Self – Atma. Rasa pun telah
mereka lampaui. Bagi dia, badan, energi, pikiran, rasa – semuanya masih
bersifat ‘materi’. Bagi dia ‘kesadaran’ itu sendiri merupakan ‘kekuatan’ –
energi. Seorang Buddha mengatakan bahwa semua lapisan tadi masih bersifat
‘materi’. Bagi seorang Buddha, Self atau
Atma yang identik dengan
lapisan-lapisan yang masih bisa dijelaskan harus terlampaui. Bagi dia, ketidakadaan
atau kasunyatan adalah kebenaran sejati. Itulah ‘energi yang tak terjelaskan.
Itulah ‘kesadaran murni’ yang tak terungkapkan……..

 

Dalam buku “Five
Steps To Awareness 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan
”, Karya Terakhir Mahaguru Shankara “Saadhanaa
Panchakam”
, Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia oleh Anand Krishna,
Gramedia Pustaka Utama, 2006 disampaikan…… Senantiasa beradalah dalam
kesadaran Ilahi. Sadarkah, kita bahwa kita tidak berada di luar-Nya? Kita tidak
bisa berada di luar-Nya. Kesadaran Ilahi meliputi keseluruhan diri kita. Ia
berada di luar dan didalam diri kita. I
am Brahman, Aham Brahmaasmi, Soham
, Itulah Aku kebenaran Hakiki itulah
kebenaranku. Tidak ada kebenaran yang rendah dan kebenaran yang tinggi. Hanya
ada satu kebenaran. Dan, aku tak terpisah dari kebenaran tunggal itu. “Akulah
Brahman” berarti aku tidak tercela. Air tidak bisa membasahi diriku, hanya
badanku yang menjadi basah. Api tidak mampu membakar jiwaku; hanyalah ragaku
yang terbakar. Kita menjadi lebih percaya diri, lebih percaya pada kesucian
diri dan menjadi lebih mudah bagi kita untuk memastikan kesucian tindakan serta
ucapan kita karena pemahaman ini. “Aku berasal dari-Nya, dan aku akan kembali
kepada-Nya.” Kepercayaan kita pada kalimat ini membebaskan diri kita dari rasa
takut terhadap neraka. Kita juga tidak tergiur oleh tawaran surga. Karena aku
sadar bahwa ia berada di atas surga dan neraka. Ia melampaui keduanya. Ia jauh
lebih besar daripada keduanya……..

 

Setelah selesai mengajarkan Samkhya lewat ibunya, maka Kapila pamit dan segera meninggalkan
ibunya. Dewahuti sudah ditinggalkan 9 putrinya, kemudian suaminya, dan terakhir
putranya. Akan tetapi dia telah mendapatkan pelajaran tentang bhakti langsung
oleh Narayana sendiri yang mewujud sebagai Kapila, putra terkasihnya. Dia
melaksanakan ajaran Kapila dengan sepenuh hati. Pikirannya terfokus pada
Narayana. Rasa suka dan duka tidak mempengaruhinya lagi. Dan ia telah menyatu
dengan Narayana bahkan sebelum maut menjemputnya…… Tempat dimana Dewahuti
mencapai Brahman menjadi tempat suci. Badan Dewahuti menjadi sebuah sungai suci
yang disebut Siddhapada.

 

Dalam buku “Vedaanta
Harapan Bagi Masa Depan
”, Anand Krishna, Pustaka Bali Post, 2007
disampaikan……. Bhagavad Gita menjelaskan bahwa seorang Bhakta, seorang
Pengabdi atau Pecinta Allah selalu sama dalam keadaan suka maupun duka.
Keseimbangan dirinya tak tergoyahkan oleh pengalaman-pengalaman hidup. Ilmu apa
yang dikuasai oleh seorang Bhakta sehingga ia tidak terombang-ambing oleh
gelombang suka dan duka? Temyata, ilmu matematika yang sangat sederhana. Seluruh
kesadaran seorang Bhakta terpusatkan kepada la yang dicintainya. Kesadaran dia
tidak bercabang. la telah mencapai keadaan Onepointedness
– Ekagrataa. One
, Eka – Satu…. la sudah melampaui dualitas. la telah
menyatu dengan Hyang dicintainya. la telah menyatu dengan Cinta itu sendiri.
Pecinta, Hyang dicintai, dan Cinta – tiga-tiganya telah melebur dan menjadi
satu…….

Demikian beberapa pandangan Bapak Anand Krishna yang kami
kutip dari beberapa bukunya yang berjumlah sekitar 140-an. Sayang pandangan
Beliau sering disalahpahami mereka yang tidak senang dengan ilmu pemberdayaan
diri yang berguna bagi seseorang untuk menyadari jatidirinya. Silakan
lihat…..

http://www.ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=3815

http://www.freeanandkrishna.com/

 

Kisah Dewahuti adalah perjalanan hidup seorang wanita yang
melayani orang tua dengan penuh bhakti, melayani suami dengan penuh hormat dan
melayani putra-putrinya dengan penuh kasih. Dewahuti menganggap mereka semua
sebagai Tuhan yang mewujud di dalam keluarganya sebagai pemandunya, dan akhirnya
Dewahuti dibimbing oleh Tuhan sendiri untuk menyatu dengan-Nya.

Namaste, Gusti dalam diriku menghormati Gusti yang
bersemayam dalam dirimu __/\__

 

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Juni
2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: