Renungan Bhagavatam: Dattatreya, Kegigihan Pasangan Suami Istri Atri Dan Anusuya Dalam Menggapai Cita-Cita


Kardama dan Dewahuti adalah manusia-manusia pilihan yang melahirkan putra Kapila yang merupakan wujud dari Narayana sendiri untuk mengajar pengetahuan keilahian kepada umat manusia. Bukan hanya Kapila, kesembilan putri hasil perkawinan Kardama dengan Dewahuti adalah putri-putri yang luar biasa pula. Kesembilan putri Kardama dan Dewahuti tersebut kawin dengan para resi pilihan dan menurunkan keturunan-keturunan yang masih dikenang sampai dengan saat ini. Kala kawin dengan Resi Marici mempunyai anak Kasyapa dan Daksa. Shradda kawin dengan Resi Angirasa mempunyai anak Bhrihaspati. Havirbu kawin dengan Resi Pulastya mempunyai anak Agastya dan Visrawa. Khati kawin dengan Resi Pulaha. Kriya kawin dengan Resi Kratu mempunyai anak Valakhilya. Urja kawin dengan Vasishta. Siddhi dengan Athawarna mempunyai anak Dhadhyang. Khyati dengan Resi Bhrigu mempunyai anak Sukracharya. Sedangkan Anasuya yang kawin dengan Resi Atri mempunyai anak Datta, Durwasa dan Soma.

Maharesi Atri adalah salah seorang putra Brahma yang mempunyai kegigihan luar biasa dalam mencapai cita-citanya. Resi Atri berdoa kepada Narayana agar diberikan putra yang hebat seperti Narayana. Dan, doa tersebut diupayakan dengan suatu tapa yang sangat keras. Resi Atri melakukan tapa ribuan tahun lamanya. Demikian pula dengan Anasuya sang istri yang setia melayani suami dan juga melakukan tapa yang sangat keras. Anasuya sendiri terkenal sebagai wanita pertapa yang keras yang meningkatkan derajat wanita. Pasangan suami-istri tersebut adalah pasangan yang bersemangat dalam menggapai cita-cita mereka. Dan upaya mereka adalah selaras dengan keyakinan yang teguh akan kekuasaan-Nya dan upaya mereka bukan untuk meminta pahala dunia.

Dalam buku “Total Success Meraih Keberhasilan Sejati”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2009 disampaikan……… Enthusiasm, lebih dari sekadar semangat untuk berkarya, tetapi antusias untuk berkarya. Keberhasilan tak dapat dipisahkan dari antusiasme atau semangat yang membara untuk berkarya supaya niat atau kehendak yang kuat mewujud menjadi kenyataan. Ini adalah proses alchemy, kimiawi spiritual. Niat atau kehendak yang kuat adalah energi. Antusiasme atau semangat yang membara mengubah energi menjadi materi, supaya dapat dinikmati……..

Resi Atri dan Anasuya yakin pada potensi mereka dan gigih untuk mendapatkan apa yang mereka harapkan. Hidup menjadi sangat bermakna bagi mereka. dalam buku “Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2002 disampaikan……. Hidup anda terasa hampa, kosong, karena memang tidak ada isinya. Anda tidak pemah mengisinya dengan sesuatu yang indah. Hidup anda tidak memiliki kedalaman. Kalaupun memiliki kedalaman, maka masih kosong. Kehampaan itu, kekosongan itu yang membuat anda gelisah. Kemudian, anda berupaya untuk mengisinya dengan kekayaan, kedudukan dan ketenaran. Semuanya sia-sia, karena kekayaan, kedudukan dan ketenaran akan menguap dalam sekejap. Sesaat kemudian, anda menjadi hampa kembali, kosong lagi. Lalu gelisah lagi! Anda tidak bisa mengisi diri anda dengan bayang-bayang. Anda harus mengisinya dengan sesuatu yang lebih berarti, lebih bermakna. Dan yang lebih berarti, yang lebih bermakna itu sesungguhnya sudah ada dalam diri anda. Sudah ada dalam bentuk “potensi” – potensi diri yang masih belum berkembang, yang masih harus dikembangkan. Kembangkan potensi diri anda, jadilah diri sendiri. Lalu, apabila I Ching menganjurkan agar anda meniru para bijak, yang dimaksudkan adalah “tirulah semangat mereka”. Meniru seorang Lao Tze atau seorang Buddha atau seorang Muhammad tidak berarti anda menjadi photo-copy mereka. Tirulah kegigihan mereka dalam hal pengembangan diri. Jika itu yang anda lakukan, anda akan selalu jaya, selalu berhasil!

Brahman adalah sesuatu yang tak dapat diserupakan dengan apa pun juga. Pada saat Brahman mencipta Dia disebut Brahma. Pada saat memelihara dan melindungi ciptaannya Dia disebut Wisnu. Sedangkan pada saat Dia mendaur-ulang ciptaannya Dia disebut Shiwa atau Mahadewa. Ketiga penguasa dunia sebenarnya sebenarnya adalah satu jua. Melihat betapa kerasnya tapa Resi Atri maka Brahma, Wisnu dan Mahadewa mewujud dan datang menemuinya. Resi Atri yang tengah bertapa tidak sadar bahwa sebagai dampak dari tapanya yang keras dari kepalanya keluar api yang memanaskan seluruh dunia. Sehingga Trimurti berkenan mewujud dan menemuinya.

Resi Atri tertegun dengan kedatangan ketiga wujud ilahi yang datang ke tempatnya dan dia memberikan penghormatan penuh kepada mereka. Resi Atri sangat berterima kasih atas karunia yang luar biasa besarnya dengan kedatangan mereka dan berkata bahwa dia bertapa agar yang terbaik dari mereka berkenan lahir menjadi putranya. Mereka bertiga adalah idola dari Resi Atri. Mereka bertiga tidak mau mengecewakan Resi Atri dan mengatakan bahwa mereka bertiga adalah aspek dari Brahman dengan tugas-tugas yang berbeda. Mereka bertiga bersedia lahir sebagai putranya, itulah sebabnya mereka datang bertiga, “Kami adalah wujud Brahman dan tidak dapat dibeda-bedakan. Kamu akan menjadi bapak dari tiga putra yang merupakan “amsa”, percikan ilahi dari kami. Mereka akan terkenal di dunia dan membuat kamu memiliki nama besar. Anasuya, istrimu akan melahirkan Soma yang penuh semangat merupakan amsa Brahma, Datta yang penuh kebaikan merupakan amsa Wisnu dan Durwasa seorang ilmuwan yang merupakan amsa Mahadewa.”

Setelah beberapa lama Anasuya melahirkan 3 bayi, Soma, Durwasa dan Datta. Konon pada hari kedua kelahirannya, jiwa Soma menyatu dengan Datta dan kemudian dia sendirian pergi ke langit. Demikian pula jiwa Durvasa juga menyatu dengan Datta dan kemudian pergi bertapa. Sehingga yang tertinggal adalah Datta yang merupakan inkarnasi dari Brahma, Wisnu dan Mahadewa. Datta juga dikenal sebagai Dattatreya, Datta putra Atri. Dattatreya adalah penyusun dari purana Avadhoota Gita. Soma adalah nenek-moyang dari Dinasti Bharata. Sedangkan Durwasa adalah Resi yang memberikan mantra kepada Dewi Kunti untuk melahirkan putra dari unsur alami.

Ada kisah lain yang mengungkapkan kegigihan Anasuya dalam bertapa untuk menggapai cita-citanya. Dikisahkan ada seorang pertapa wanita bernama Chandili yang mengabdi kepada Kausika, suaminya tanpa pamrih. Suaminya adalah seorang laki-laki yang menderita sakit parah sehingga tidak dapat berjalan. Pada suatu hari sang suami ingin berkenalan dengan seorang wanita cantik di kota. Adalah suatu keinginan dari seorang pria yang sedang sakit parah untuk melihat dari dekat kecantikan seorang wanita untuk menghibur dirinya. Chandili begitu besar kasihnya kepada suaminya, sehingga sang suami dimasukkan keranjang, dipanggul di pundaknya dan dibawanya berjalan melalui jalan setapak yang gelap gulita menuju kota. Tanpa sengaja keranjang yang berisi suaminya menyenggol Resi Mandavya yang sedang bertapa dan merusak tapanya. Sang Resi mengutuk, besok kala matahari terbit suami yang dicintainya akan mati. Sedih atas kutukan sang rsesi mereka tidak jadi melanjutkan perjalanan ke kota dan kembali ke pondok mereka. Kisah ini bisa jadi merupakan kisah simbolis bahwa setelah matahari kesadaran terbit, maka segala keinginan akan mati…….. Chandili adalah seorang pertapa besar dan dia berdoa khusyuk agar matahari tidak terbit supaya suaminya tidak mati. Dan doa Chandili terkabulkan sehingga terjadilah kekacauan dunia, pagi tidak pernah datang dan dunia mengalami kegelapan total. Narayana menyuruh Brahma mendekati Anasuya, putri Kardama yang sudah menjadi istri dari Resi Atri. Anasuya adalah seorang pertapa besar wanita yang kuat tapanya seperti suaminya. Anasuya mohon ijin sang suami dan kemudian mereka berdua menemui Chandili dan suaminya. Chandili sadar bahwa dia telah menyusahkan dunia dan sangat bahagia melihat pertapa besar Anasuya dan Resi Atri mendatanginya. Dia meminta Anasuya menggerakkan lagi matahari supaya kembali terbit seperti sedia kala. Anasuya bersedia dan bahkan dia bersama suaminya membuata tawar kutukan dari Resi Mandavya. Sebagai rasa terima kasih Brahma kepada Anasuya dan Resi Atri, maka Brahma mengabulkan permintaan mereka agar putra mereka merupakan amsa dari Brahma.

Resi Atri adalah salah satu dari Sapta Resi, tujuh makhluk bijak yang bercahaya, yang kekal, yang bertugas membantu Brahma dalam mengurus dunia. Resi Atri juga erat kaitannya dengan perang Bharatayuda. Kala Resi Drona menjadi panglima Korawa menggantikan Bhisma, dia bertindak telengas dan membunuh ribuan prajurit Pandawa. Drona seperti kesetanan dan membunuh musuh-musuhnya yang tak berdaya dengan kesaktiannya. Dewaresi Atri sangat khawatir akan hal ini, sehingga dia mengajak 6 dewaresi lainnya turun menemui Drona. Pada saat itu Drona sedang frustrasi mendengar kematian Aswatama, putranya dari mulut Yudistira. Drona kehilangan harapan dalam hidupnya dan siap mengamuk dengan kemarahan yang luar biasa besar. Pra prajurit di sekitarnya merasakan bahaya yang sangat besar yang siap meledak dari diri Resi Drona…….. Resi Atri datang menghibur Drona dan berkata, “Resi Drona, kamu adalah seorang pandita bijak, tindakanmu pada perang ini tidak selaras dengan status kebrahmanaanmu. Resi Drona, kamu adalah pandita yang terpandang dalam pengetahuan Veda, sehingga tidak pantas melakukan tindakan yang kejam. Segera letakkan senjatamu dan kembali berpikirlah tentang Sanatana Dharma. Aku menyesal melihat engkau membantai dengan kejam prajurit yang tidak bersalah.”…….. Drona sadar dan segala kemarahan serta rasa dendamnya lenyap. Pikirannya menjadi jernih dan murni. Resi Drona duduk dalam posisi yoga dan mulai bermeditasi. Ia berfokus pada Narayana dan memejamkan mata dan dia tidak akan pernah mebuka mata lagi, karena pedang Drestayumna, putra Raja Drupada telah membunuhnya. Ruh Drona meninggalkan tubuhnya dan menuju kahyangan…..

Anasuya selain sebagai pertapa yang keras, dia juga merupakan manusia dengan imajinasi yang sangat tinggi. Anasuya selalu dapat memanfaatkan kejadian yang dialaminya menjadi sebuah benih yang dikembangkan untuk mendukung cita-citanya. Dengan imajinasinya Anasuya selalu membayangkan dirinya sudah melahirkan Brahma, Wisnu dan Mahadewa sebagai putra-putranya……. Dikisahkan Saraswati, Laksmi dan Parvati iri terhadap keberhasilan tapa Anasuya, dan tidak suka terhadap kehendak Anasuya untuk melahirkan putra-putra sekualitas dengan suami-suami mereka. Maka mereka minta suami mereka, Brahma, Wisnu dan Mahadewa menguji kesetiaan Anasuya. Ketiga dewa tersebut mengubah diri mereka menjadi tiga brahmana yang tampan yang mohon diberikan makanan oleh Anasuya. Anasuya berjanji akan memenuhi keinginan mereka, saat mereka kemudian berkata bahwa mereka hanya akan mau menerima makanan bila Anasuya telanjang bulat. Anasuya yang bijak tahu, ini adalah ujian dari tapanya dan paham bahwa ketiga brahmana tersebut adalah penjilmaan dari ketiga dewa idolanya. Dengan kesaktiannya, Anasuya mengubah ketiga brahmana tersebut menjadi anak-anak kecil yang baru latihan berjalan dan Anasuya tidak masalah memberi makan mereka dengan bertelanjang. Ketiga dewi bingung mengapa suami mereka tidak pulang-pulang, sehingga mereka datang ke pondok Anasuya dan Atri. Setelah tahu apa yang menimpa diri ketiga suaminya, mereka memohon agar suami mereka dikembalikan ke wujud mereka sebelumnya dan berjanji bahwa Anasuya akan melahirkan putra-putra sekualitas dengan suami-suami mereka. Dattareya putra Atri dan Anasusuya sering digambarkan sebagai seorang anak dengan tiga kepala dan enam lengan merupakan inkarnasi dari Brahma, Wisnu dan Shiwa. Dattatreya dikenal sebagi penyusun Purana Avadhoota Gita.

Swami ViveKananda pernah memberi tanggapan tentang Avadhoota Gita, “Men like the one who wrote this song keep religion alive. They have actually self-realized; they care for nothing, feel nothing done to the body, care not for heat, cold, danger, or anything. They sit still enjoying the bliss of Brahman.”………..

Dalam buku “Total Success Meraih Keberhasilan Sejati”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2009 disampaikan……… Jangan berimajinasi tentang apa yang ingin kau capai, tetapi berimajinasi seolah kau telah mencapai apa yang kau inginkan. Berarti imajinasi kita mesti dilandasi oleh keyakinan yang kuat, yang tak tergoyahkan. Tanpa kekuatan itu, kita berarti tidak memiliki visi yang kreatif. Banyak yang mengeluh bahwa mereka kurang imajinatif. Mereka terlalu rasional. Sesungguhnya, setiap orang dapat berimajinasi. Setiap orang memiliki rasio dan imajinasi. Kesalahannya, selama ini hanyalah rasio yang dikembangkan. Imajinasi tidak diurusi. Mereka yang mengeluh kurang imajinatif itu rata-rata tidak mempercayai kekuatan imajinasi. Mereka tidak dapat membedakan antara imajinasi dan lamunan. Dari pengamatan saya, ada kalanya orang melamun justru karena tidak menindaklanjuti imajinasinya. la tidak memiliki niat yang kuat dan tidak cukup antusias untuk mewujudkan imajinasi menjadi kenyataan, kemudian malah melamun. Kreativitas lahir dari imajinasi. Kemudian, kreativitas itu menambah kekuatan dan kemampuan seseorang untuk berimajinasi. Kreativitas dan imajinasi saling menunjang. Bila imajinasi tidak ditindaklanjuti, manusia menjadi sangat tidak kreatif. Pikirannya menjadi stagnan. la menjadi keras, membatu. la tidak menghasilkan apa-apa. Alam semesta ini adalah “imajinasi” Tuhan. la mengatakan “terjadilah”, maka alam ini terjadi. Kepercayaan-kepercayaan yang lahir dan berkembang di padang pasir maupun di lembah hijau, semuanya menyatakan demikian…….

Demikian beberapa pandangan Bapak Anand Krishna yang kami kutip dari beberapa bukunya yang berjumlah sekitar 140-an. Sayang pandangan Beliau sering disalahpahami mereka yang tidak senang dengan nasehat pemberdayaan diri agar seseorang menyadari potensi dirinya. Silakan lihat…..
http://www.ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=3815
http://www.freeanandkrishna.com/

Sri Mangkunegara IV telah menulis sebuah tembang pucung yang sangat terkenal di masyarakat pada zamannya…….. Ngelmu iku kalakone kanti laku lekase lawan kas tegese kas nyantosani. Setya budya pengekese durangkara. Pengetahuan dapat terlaksana/terwujud dengan laku, upaya keras dan diawali dengan semangat. Kebenaran akan tetap jaya…….. Dan nasehat dalam tembang tersebut sesuai dengan pengetahuan modern tentang sukses. Untuk mendapatkan kesuksesan, pertama kali harus adan Power of Will, kehendak yang luarbisa, Iccha Shakti; kedua harus ada Power of Knowledge/Knowingness, pengetahuan/kesadaran, Gyaana Shakti. Dan, ketiga Power of Action, kekuatan pelaksanaan, Kriya Shakti….. Resi Atri dan Anasuya contoh pasangan suami-istri yang sukses……

Situs artikel terkait
http://www.oneearthmedia.net/ind/
https://triwidodo.wordpress.com
http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo
http://www.kompasiana.com/triwidodo
http://twitter.com/#!/triwidodo3
Juni 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: