Renungan Bhagavatam: Daksha Putra Brahma, Keangkuhan Seorang Prajapati


Daksha adalah salah satu putra Brahma diantara 9 putra Brahma yang diangkat sebagai “prajapati”, yang mencipta dan menjaga kelestarian makhluk. Brahma kawin dengan Prasuti putri dari Swayambhu Manu dan mereka dikaruniai 15 putri. Sati adalah salah satu putrinya yang dikawinkan dengan Mahadewa. Pada suatu saat diadakan upacara Yajna Agung yang diketuai oleh Marici, kakak Daksha. Semua penduduk kahyangan hadir. Dan, pada saat Daksha masuk dia nampak begitu berwibawa seperti matahari yang menyinari ruangan upacara. Semua resi berdiri dan menghormat Daksha kecuali Brahma dan Mahadewa. Daksha kemudian bersujud mengambil debu di kaki Brahma, sang ayahanda dan meletakkannya di kepala. Akan tetapi Daksha tersinggung dan marah kepada Mahadewa yang tidak berdiri menyambutnya seperti resi-resi yang lain, padahal Mahadewa adalah menantunya.

Dalam buku “Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2005 disampaikan……. Kesadaran kita mengalami kemerosotan karena adanya rasa angkuh, karena ke “aku”an. Kesadaran dan ke “aku”an seolah berada pada dua ujung yang tak pernah bertemu, tak akan bertemu. Di mana ada ke “aku”an, di sana tidak ada kesadaran. Di mana ada kesadaran, di sana tak ada lagi ke “aku”an, keangkuhan……..

Daksha kemudian mengambil air di dengan telapak tangannya dan mengutuk, “Mahadewa ini adalah yang terburuk di antara semua dewa, dia tidak akan menerima bagian yajna seperti dewa yang lain.” Dan Daksha langsung pulang ke rumahnya. Para pengikut Mahadewa tersinggung dan Nandikeswara berkata, “Daksha ini orang bodoh, ia sangat angkuh dan melupakan Mahadewa. Sesungguhnya ia bernasib sial, ia jauh dari rahmat Tuhan. Ia tidak lebih baik dari binatang yang hidup hanya untuk kepuasan laparnya. Para resi yang setuju dengan kutukan Daksha akan menderita. Mereka akan mengalami siklus kelahiran dan kematian. Mereka akan disibukkan dengan urusan duniawi dan meninggalkan Tuhan. Mereka akan terlibat dalam banyak upacara agama, mereka akan kehilangan cinta mereka terhadap disiplin, tapa. Mereka akan menjadi peka terhadap bujukan pikiran dan juga terhadap ketidaktahuan sehingga mereka terlibat dalam hal-hal duniawi.”

Bhrigu saudara Daksha marah karena ada orang yang mengganggu upacara dan mengutuk, “Aku mengutuk para pengikut Mahadewa, mereka yang memuja dia sebagai yang terbesar disebut Prasandi, orang yang munafik. Mereka akan menentang Veda dan tidak aktif dalam upacara yang ditentukan oleh Veda. Mereka menjadi kotor. Mereka berpakaian seperti Mahadewa, memakai perhiasan yang dibuat dari tulang.”……. Mahadewa merasa sedih dan segera meningglakan tempat upacara tersebut.

Waktu terus berjalan dan Daksha telah diangkat oleh Brahma sebagai prajapati yang terkemuka. Daksa semakin angkuh, dan untuk menunjukkan penghinaannya kepada Mahadewa, maka dia mengadakan Yajna dengan nama Brihaspati Sava. Semua brahmaresi, dewaresi, pitri dan dewa diundang pada upacara tersebut. Rupanya dalam diri Daksha masih ada perasaan dendam terhadap Mahadewa. Daksha tidak sadar bahwa dirinya semakin terikat kepada penghormatan dari orang-orang di sekitarnya. Daksha tidak tahu alasannya mengapa Mahadewa tidak berdiri dan menghormatinya. Daksha gelisah mengapa Mahadewa, sang menantu bertindak demikian. Oleh karena itu dia mengadakan Yajna tanpa mengundang Mahadewa.

Dalam buku “Tantra Yoga”, Anand Krishna, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan……. Dalam tantra, kita mengenal istilah Klesha, yang berarti “kegelisahan”, “penderitaan”. Apa saja yang membuat manusia gelisah, menderita klesha. Dan menurut Tantra, ada lima penyebab klesha, yaitu: Pertama, Avidya atau ketidaktahuan. Kita tidak tahu bahwa api bisa membakar. Lalu memasukkan tangan ke dalam api. Maka tangan kita terbakar, luka. Dan kita pun menderita, gelisah. Kedua, Asmita atau ego, keangkuhan. Kita menganggap diri sudah hebat, sempurna. Selalu benar. Kemudian ada yang menegur, “Jangan sombonglah. Lihat tuh kesempurnaan ada di mana-mana. Bukan kamu saja yang hebat. Kebenaran pun bukan monopoli seseorang.” Ego kita terusik. Kita tidak bisa menerima kenyataan dan oleh karena itu, kita gelisah, menderita. Ketiga, Raga atau keterikatan. Sudah terlalu sering kita membicarakan keterikatan. Keterikatan pada apa saja, siapa saja hanya menghasilkan kegelisahan, penderitaan. Keempat, Dvesha. Yang satu ini agak sulit diterjemahkan. Dvesha berarti non affirmation. Tidak mengiyakan Keberadaan. Kebalikan sikap nrimo. Dvesha berati tidak mengalir bersama kehidupan. Menentang arus kehidupan. Menentang keberadaan. Dvesha berasal dari suku kata “Dvi” dwi, dualitas. Salah satu kamus Sanskerta-Inggris menerjemahkan dvesha sebagai “kebencian”. Bisa. Kendati bukan sekedar kebencian. Kebencian muncul dari penolakan. Kita tidak menyukai sesuatu, maka kita membencinya. Ada alasan untuk tidak menyukai. Dan alasan itu disebabkan oleh double vision, oleh mata batin yang “sakit”, sehingga “satu” tampak “dua”. Ada yang kehilangan pasangan, pacar, dan dia tidak bisa menerima kenyataan. Maka dia gelisah, menderita. Sikap menentang, menolak dan tidak menerima itulah Dvesha. Kelima, Abhinivesha, yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai clinging to life. Ini salah. Seharusnya adalah clinging to body atau lebih tepat lagi clinging to body consciusness. Bila anda cling, berpegang teguh pada life atau kehidupan, anda tidak akan gelisah, tidak akan menderita, karena Kehidupan adalah Keberadaan. Berpegang teguh pada Kehidupan berarti menerima Kehidupan secara utuh. Menerima suka dan duka sebagai bunga-bunga Kehidupan. Demikian Anda akan selalu bahagia………

Sati mendengar upacara Yajna yang akan diselenggarakan ayahandanya minta ijin suami untuk menghadiri upacara tersebut, “Aku tahu Kau adalah Tuhan yang mendaur ulang alam semesta. Akan tetapi aku adalah seorang perempuan yang ingin datang ke upacara yang diadakan ayahandaku. Aku tahu Kau akan berkata bahwa kita tidak diundang. Akan tetapi bukankah orang baik akan datang walaupun dia tak diundang untuk datang ke rumah seseorang?

Mahadewa tersenyum dan berkata, “Orang selalu berubah, dia memang ayahmu, akan tetapi ayahmu menjadi sangat angkuh. Ia mabuk kekuasaan. Ayahmu memiliki kualitas agung dalam hal pengetahuan, tapa, kekayaan, keindahan badan, usia dan kelahiran mulia. Semua kualitas ini jika terdapat dalam orang yang baik akan menjadi berkah alam semesta. Bagaimana pun ayahmu telah menjadi sombong karena memiliki semua itu. Seseorang yang berkata bahwa aku pandit, terpelajar, aku tapasvi, pertapa, pemikiran seperti ini sudah membuat dia sombong. Dan, ayahmu tidak rela dengan kebesaran-Ku.”……… “Ayahmu lebih mencintai kau dibanding kepada saudari-saudarimu. Akan tetapi dia membenci diriku. Sehingga dia tidak akan memperlakukanmu dengan penuh kasih sayang seperti yang kau harapkan. Kamu mungkin belum tahu mengapa aku tidak berdiri kala ayahmu masuk ketempat upacara Yajna. Manakala seseorang berdiri dan melakukan namaskara, kedua tangan ditangkupkan kepada orang lain, maka di dalam hati orang tersebut berkata, Gusti dalam diriku sedang menyambut Gusti yang berada dalam dirimu. Dan Gusti dalam diriku adalah Gusti yang sama dengan yang ada dalam dirimu. Rasa hormat tidak diberikan kepada manusia, kepada tubuh yang dipakai manusia, tetapi kepada Gusti yang ada dalam diri setiap orang. Hanyalah ayahmu yang berpendapat bahwa mereka menghormati dirinya. Aku tidak bisa melakukan itu. Manakala manusia baik menemui orang lain yang penuh ego, maka ego tersebut seperti awan yang menutupi Gusti yang ada dalam dirinya. Itulah sebabnya aku tidak berdiri dan menghormatinya, agar dia menyadari kesalahannya yang dengan angkuh merasa orang menghormatinya dan bukan menghormati Gusti yang berada dalam dirinya.”…….. “Dulu , manakala ayahmu meremehkan aku dan berbicara tajam menghina aku di hadapan semua orang, dan aku tidak diberi bagianku dalam upacara tersebut, dia memang ayahmu akan tetapi dia adalah musuhku. Demikian pula para pengikutnya. Jika kamu mengabaikan perkataanku dan ingin datang ke upacara tersebut, kamu tidak akan disambut oleh mereka. Kamu bukan lagi anaknya, tetapi kamu adalah istri dari Mahadewa.”

Dalam diri sati terjadi perang batin dan akhirnya Sati memenangkan perasaan kewanitaannya dan mendatangi upacara Yajna yang diadakan oleh ayahandanya. Sati melihat upacara yang agung dan semua kursi kehormatan telah terisi. Sati melihat semua orang dan melihat ke arah ayahnya, akan tetapi ayahnya seolah-olah tidak melihat dirinya. Tak seorang pun yang berani mengingatkan Daksa, dan tak seorang pun yang datang menyambut Sati. Hanya ibu dan sudari-saudarinya yang menyambutnya dengan pelukan. Daksha melakukan Yajna sebagai persembahan kepada Tuhan, akan tetapi dia tak sadar bahwa dia masih mempunyai rasa kemarahan dan keangkuhan terhadap Mahadewa. Rasa kemarahan dan keangkuhan adalah rasa bahwa dirinya besar, padahal melakukan persembahan mestinya dilakukan dengan tulus ikhlas dan menjadikan diri kita seperti seorang kawula di hadapan Majikan Agung.

Dalam buku “Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan…….. Menyadari kehadiran serta keterlibatan-Nya setiap saat tidak segampang berdoa sekian kali setiap hari atau setiap minggu, karena saat ini apa yang kita anggap berdoa hanya melibatkan fisik kita. Lapisan kesadaran mental dan emosional pun sering tidak terlibat. Itu sebabnya saat berdoa, kita masih bisa berpikir tentang hal-hal yang tidak berkaitan dengan ibadah kita. Lalu bagaimana berserah diri sepenuhnya? Bagaimana berdoa dengan khusuk? Dalam sutra ini, Narada menyebut tiga hal – keinginan, amarah dan keangkuhan. Saat berdoa pun ketiga-tiganya masih ada. Misalnya berdoa untuk memperoleh sesuatu. Entah sesuatu itu rumah di Simprug atau kapling di Surga, keinginan tetaplah keinginan. Kemudian, amarah. Bila ada keinginan yang tidak terpenuhi, doa pun bisa menjadi luapan amarah. Dan, keangkuhan… Saat berdoa, “aku” masih hadir. “Aku” berdoa. “Aku” rajin berdoa.

Demikian beberapa kutipan dari buku-buku Bapak Anand Krishna yang membangkitkan semangat seseorang untuk memberdayakan diri. Sayang pemahaman beliau sering disalahpahami. Silakan lihat…..
http://hukum.kompasiana.com/2011/06/14/jalan-mendaki-lagi-sukar-yang-ditempuh-anand-krishna-dalam-mencari-keadilan-bagian-1/

http://hukum.kompasiana.com/2011/06/14/jalan-mendaki-lagi-sukar-yang-ditempuh-anand-krishna-dalam-mencari-keadilan-bagian-2/

http://hukum.kompasiana.com/2011/06/14/jalan-mendaki-lagi-sukar-yang-ditempuh-anand-krishna-dalam-mencari-keadilan-bagian-3/

Sati sadar bahwa Yajna ini ditujukan untuk menghina Mahadewa. Dengan bibir gemetar menahan kemarahannya Sati berkata, “Seorang bodoh seperti ayahanda memusuhi Tuhan yang tak ada bandingnya di alam semesta ini. Hanya orang bodoh yang melakukan hal ini. Makin baik seseorang maka mereka mengabaikan kesalahan dan mempertimbangkan kebaikan orang lain. Perilaku ayahanda tidak mempengaruhi suamiku, akan tetapi aku tidak bisa menerima itu. Suamiku disebut Shiva, segala sesuatu yang murni, baik dan suci. Ayah membencinya karena ayah adalah asiva. Aku malu badanku ini berasal dari ayahanda penghina Shiva. Aku tidak ingin dikenal sebagai Dakshayani, putri Daksha di alam selanjutnya. Badan ini cukup lama dipakai diriku dan sekarang kulepaskan. Sati duduk dalam posisi yoga dan badannya mulai terbakar api yang dipanggilnya. Sati menjadi abu.

Para pengawal Sati menyerang Daksha, akan tetapi Bhrigu tidak ingin orang merusak upacara dan segera membaca mantra. Dan, dari api persembahan keluar makhluk yang menghalau para pengawal Sati. Resi Narada mendatangi Mahadewa dan menceritakan apa yang terjadi pada Sati. Mahadewa tidak terkejut karena dia telah tahu apa yang akan terjadi. Shiva kemudian mencabut rambutnya dan melemparkannya ke tanah dan rambut itu berubah wujud menjadi Virabhadra makhluk tinggi besar yang menyala-nyala. Ia mempunyai seribu lengan dan memakai kalung tengkorak seperti Shiva. Dia melakukan perintah Shiva untuk membunuh Daksha dan menghancurkan segalanya di sana. Bhrigu yang mengutuk pengikut Mahadewa dicabut kumisnya oleh Virabhadra. Pusan yang mengetawakan Shiva giginya semua lepas karena pukulan Virabhadra. Bhaga yang telah menghasut Daksa untuk mengabaikan Sati matanya dihancurkan. Daksha akan dipancung tetapi tidak bisa dan Virabhadra sadar bahwa hal tersebut terjadi karena Daksha sedang mengadakan Yajna. Maka kepala Daksha dilepas dengan tangannya dan dilemparkannya ke api sebagai persembahan. Setelah itu Yirabhadra dan pengawal Shiva kembali ke Kailasha.

Mereka yang selamat menceritakan bencana yang menimpa mereka kepada Brahma. Brahma dan Wisnu tidak hadir dalam acara Yajna karena mereka tidak akan hadir dalam upacara yang tidak dihadiri oleh Mahadewa. Brahma kemudian minta mereka supaya minta ampun kepada Mahadewa. Mahadewa telah diperlakukan secara tidak adil, dan Sati mati karena Daksha. Brahma berkata jika Shiva tetap marah dunia akan berakhir. Brahma kemudian mendatangi Shiva di Kailasha. Shiva berkata, “Aku tidak marah dengan mereka yang mengambil bagian dalam Yajna, aku hanya ingin menghukum Dakhsa. Ia harus diobati kesombongan dan keangkuhannya. Kata-kata kutukan Nandikeswara tak dapat dibatalkan. Daksha akan hidup lagi dengan kepala kambing. Pikiran Daksha akan dibersihkan dan yang terpisah akan utuh kembali.”

Mereka semua bersama Wisnu dan Brahma datang ketempat Yajna. Daksa mau berkata akan tetapi suaranya berhenti di kerongkongan. Air matanya mengalir bukan karena kepalanya sudah berganti dengan kepala kambing, akan tetapi dia ingat akan kematian Sati…….. Akhirnya Daksha bisa bicara dengan patah-patah, “Aku telah menghina-Mu dan dunia berpikir Engkau sudah menghukum aku untuk itu. Akan tetapi pada kenyataannya Engkau telah membersihkan pikiranku, Engkau sudah memberikan aku kelahiran baru. Aku sudah bisa menggunakan tubuhku dengan lebih baik. Aku mohon ampun kepada-Mu.”……… Yajna dilanjutkan dan ketiga dewa mengetuai upacara tersebut. Narayana juga berkenan menampakkan diri….. Kita bisa melihat secara simbolis bahwa kesalahan Daksha adalah keangkuhan disebabkan pemahaman pikirannya yang salah. Oleh karena itu, Mahadewa menghilangkan sifat keangkuhan Daksha, yang digambarkan dengan mengganti kepala yang angkuh dengan kepala kambing yang patuh……..

Dalam buku “Mengikuti Irama Kehidupan Tao Teh Ching Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan…….. Sebagaimana seorang ahli pahat dapat mengubah kayu gelondongan menjadi sesuatu yang sangat berguna, begitu pula para bijak dapat mengubahmu menjadi pemimpin yang berguna, dan berperilaku sesuai dengan Tao. Apabila Anda polos dan masih gelondongan, seorang bijak dapat mengubah Anda menjadi pemimpin yang berguna. Metafor yang digunakan oleh Lao Tze: kayu gelondongan. Seorang ahli pahat tidak pernah menambah sesuatu. Yang dia lakukan hanyalah membuang bagian-bagian yang tidak dibutuhkan, dan hasilnya adalah patung yang indah, peralatan rumah tangga yang berguna. Itu pula yang dilakukan oleh para bijak. Mereka tidak menambah sesuatu pada diri kita. Tidak diberikan jimat atau dibacakan mantra atau disuruh mengorbankan hewan. Mereka hanya membuang bagian-bagian yang tidak penting dalam diri kita. Mereka membuang naluri hewani yang ada dalam diri kita. Keangkuhan, ketamakan, keserakahan-semua itu yang dibuang. Dan lahirlah seorang insan yang baru, seorang pemimpin yang bertindak sesuai dengan hukum alam……..

Situs artikel terkait
http://www.oneearthmedia.net/ind/
https://triwidodo.wordpress.com
http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo
http://www.kompasiana.com/triwidodo
http://twitter.com/#!/triwidodo3

Iklan

24 Tanggapan

  1. barang siapa yg suci hatinya akan melihat Tuhan.

    Ada Dua hukum utama yg ada dlm injil..

    1 sembahlah Tuhan Allahmu dgn segenap hatimu dan fikiranmu.

    2 kasihilah sesamamu manusia spt mengasihi dirimu sendiri.

    apakah ajaran diatas sesuai dgn ajaran hindu…

    • Terima kasih Saudara Arif, menurut pemahaman kami sampai dengan saat ini. Bila seseorang meyakini bahwa ada banyak pandangan yang berbeda maka dia menghargai pluralitas. Bila seseorang menghayati bahwa yang banyak dan berbeda/plural itu esensinya sama (nampaknya berbeda esensinya sama) maka menurut kami dia adalah seorang interfaith.
      Dalam diri setiap orang ada Roh (Kudus), sejatinya diri kita Ruh, karena mempunyai pikiran maka gaubungan Roh dan pikiran menjadikan kita manusia (manusia terdiri dari kata manas, pikiran dan isha, Dia yang Tunggal).
      Menyembah dengan segenap hatimu dan pikiranmu menurut pendapat pribadi kami adalah mengendalikan hati dan pikiran agar tidak terfokus pada dunia, tetapi terfokus pada Dia yang Isha, Ruh (Kudus).
      Kasihilah sesamamu manusia spt mengasihi dirimu sendiri, menurut pendapat pribadi kami adalah bahwa sesama manusia dan juga sesama makhluk hidup adalah sama-sama percikan dari Dia Yang Tunggal.
      Teman-teman bali mempunyai keyakinan ttg Tri Hita Karana, Hubungan dengan Tuhan, Hubungan dengan sesama dan hubungan dengan alam sekitar. Menurut pendapat pribadi kami bila kita fokus hubungan baik dengan Tuhan, maka kita akan juga mempunyai hubungan baik dengan sesama dan alam sekitar, karena baik sesama dan alam sekitar tersebut semua diliputi oleh Tuhan, mereka adalah percikan Tuhan.
      Terima kasih.

      • Kalau manurut saya, orang yang baik pada sesama tentu akan baik hubungannya dengan Tuhan, tetapi orang yang baik kepada Tuhan belum tentu baik hubungannya dengan sesama. Sebagai contoh, ada orang yang rajin sembahyang kepada Tuhannya berjam-jam, tetapi memusuhi dan tidak toleran dengan orang lain yang tidak sealiran keyakinannya dengan dirinya. Ini banyak kita lihat dalam kehidupan di sekitar kita.

  2. tu si arif ngapain bilang seperti itu, Agamamu agamamu Agamaku agamaku,

    • Setiap orang lahir dengan membawa genetik bawaan, dan kemudian memperoleh pengetahuan kebenaran dari orang tua, pendidikan dan lingkungan. Tidak sepantasnya seseorang angkuh, karena kebenaran yang dia yakini sebenarnya kebenaran menurut kerangka pemikirannya. Bila dia lahir di negara lain, orang tua yang lain, pendidikan yang lain, maka pemahamannya tentang kebenaran akan berbeda. Kita perlu menghormati pemahaman kebenaran menurut orang lain. Kebenaran yang diyakininya masih terpengaruh oleh conditioning yang menyertainya. Kebenaran tersebut hanya menjadi bagian bawah sadarnya karena pemahaman yang diberikan secara repetitif-intensif sejak kecil.
      Bila seseorang sudah tidak terpengaruh lagi oleh conditioning maka dia baru mempunyai pemikiran yang jernih. Menurut pendapat pribadi kami lebih elegan mengatakan bahwa bagiku ini pemahamanku dan bagiku pemahamanmu. Karena “agama” yang dimaksud adalah “pemahaman agama”. Terima kasih.

      • Salam sejahtera,,saya orang bodoh yg haus pengetahuan,,termasuk pengetahuan tentang agama2 lain..!!! Saya seorang muslim,,dan saya ingin mengetahui tentang agama2 yg ada di dunia ini.!!! Tpi diantara semua agama yg ada selain agama saya,saya sangat tertarik dgan pengetahuan agama hindu.

      • Saya sangat senang melihat anda membalas pertanyaan,wlw sedikit menyindir agama anda,,tpi anda membalas dgan ilmu dan kebaikan.Sama seperti Dewa SHIVA,,tidak pernah marah walaw dihina,malah dibalas dengan ramah dan ilmu pengetahuan.

      • Saya sering melihat dan boleh di bilang penggemar berat Serial TV MAHADEWA atw kalaw di India negara asal nya ber nama Devon ke Dev Mahadev,sampai2 saya tidak pernah melewat kan satu episode pun.Saya sangat suka dengan dengan sifat dan kepribadian Dewa SHIVA.Apa anda mau berbagi pengetahuan dgan saya tentang Dewa SHIVA..?

      • Yang pertama kali yg ingin saya tanyakan adalah apakah Dewa Shiva itu tuhan,atw malaikat,atw manusia yg khusuk bertapa menjauhi duniawi,dan bertemu dgan Tuhan,Lalu tuhan menganugrahi nya dengan kehendak Tuhan.
        Tpi sebelum nya saya minta maaf yg sebesar2 nya apabila ada kata2 saya yg membuat anda tr singgung,seperti yg saya bilang sebelum nya_saya hanya orang bodoh yg haus pengetahuan..
        Mohon di balas nya pertanyaan saya,saya pasti menunggu jawaban anda.
        Trima kasih.

      • Terima kasih Mas Dikhy Khadafy atas pertanyaan yang “berat”, dan kami mencoba menjawabnya panjang lebar dan tidak to the point.
        Apakah Dewa Shiva itu tuhan,atw malaikat,atw manusia yg khusuk bertapa menjauhi duniawi,dan bertemu dgan Tuhan,Lalu tuhan menganugrahi nya dengan kehendak Tuhan?
        Mohon maaf kami mencoba menyampaikan pandangan kami sampai dengan saat ini, mungkin saja dengan perkembangan waktu pemahaman kami juga bisa berubah.

        Kisah tentang Mahadeva tercatat dalam Kitab Srimad Bhagavatam. Srimad Baghavatam adalah kumpulan kisah yang disampaikan Resi Shuka kepada Raja Parikesit yang mengingatkan akan keilahian manusia. Srimad Baghavatam ditulis oleh Abhiyasa (Vyaasa) yang walaupun telah menulis Mahabharata, dirinya belum puas juga. Dengan bimbingan Resi Narada, Abhiyasa diingatkan menulis tentang Pustaka Keilahian, dan jadilah Kitab Srimad Bhagavatam.
        Silakan baca:
        https://triwidodo.wordpress.com/2009/08/15/raja-parikesit-resi-shuka-dan-srimad-baghavatam/

        Pertama sekali tentang makna kata Tuhan. Apakah Tuhan dapat dirumuskan dengan kata-kata? Kata-kata mempunyai makna yang terbatas, pikiran kita juga terbatas. Kata-kata adalah ibarat pohon bonsai yang berupaya menggambarkan pohon yang sesungguhnya. Misalkan kita berkata “itu Gunung Merapi” dengan beberapa kalimat penjelasan. Apakah penjelasan tersebut sudah sempurna mewakili Gunung Merapi yang sesungguhnya?
        Berikut kami cuplikkan dari buku: (Krishna, Anand. (2002). Masnawi Buku Kelima, Bersama Jalaluddin Rumi Menemukan Kebenaran Sejati. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama)
        Kebenaran bagaikan pohon Beringin yang lebat. Supaya bisa tumbuh didalam pot dan dapat kita pasang di atas meja kerja, pohon itu harus di-“bonsai”. Kebenaran yang disampaikan lewat kata-kata seperti bonsai pohon Beringin. Sama-sama Beringin, tapi tidak “sama”. Yang satu tumbuh sesuai dengan kodratnya. Yang satu lagi, tidak. Itu sebabnya, jiwa mereka yang hanya percaya pada kata-kata tidak tumbuh sesuai dengan kodratnya. Mereka mandeg (percaya pada kata-kata). Kemudian, mereka me-“mutlak”-kan kebenaran bonsai yang kecil itu. Mereka menutup diri terhadap Beringin yang ada di alun-alun. Atau bahkan ada di depan rumah mereka sendiri.
        Seorang Rumi “datang” untuk berbagi rasa. Untuk menyampaikan sesuatu yang sungguh berharga : “Lihatlah, di depan rumahmu ada pohon beringin yang lebat, rindang.” Kita malah berang, “Beringin ada di dalam rumah-‘ku’. Beringin apa lagi yang sedang kau bicarakan? Engkau menduakan kebenaran.” Ke-”aku”-an kita terusik. Dan kita menolak Rumi, kita menolak seorang wali. Kita tidak sadar………

        Oleh karena itu menurut pandangan kami sampai dengan saat ini, orang-orang suci, apa pun sebutannya, sering berbagi cerita. Cerita melampaui kata-kata/definisi yang terbatas. Semakin tinggi kesadaran seseorang, maka pemahamannya tentang cerita juga semakin dalam.
        Kisah-kisah yang diketengahkan diharapkan dapat menggugah rasa, diharapkan dapat meningkatkan kesadaraan kita semua. Dari sangkar ke kamar, dari kamar ke pekarangan rumah, dan dari pekarangan rumah ke alam bebas – itulah perjalanan jiwa. Sangkar adalah pikiran (terbatas), pekarangan rumah adalah alam rasa… dan alam bebas adalah alam Kesadaran Murni (tidak terbatas). Antara pikiran dan kesadaran ada alam rasa.
        Silakan baca:
        http://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2013/07/28/pengantar-blog-kisah-spiritual-yang-tak-lekang-zaman-2/

        Kisah Mahadeva disampaikan agar kita dapat memetik pelajaran dari kisah tersebut. Yang namanya cerita dimaksudkan untuk mengembangkan alam rasa, bukan kemudian dibonsai dalam pikiran kita dan dibandingkan dengan pemahaman kita sebelumnya. Perjalanan spiritual, dimulai dari “aku” yang terbatas menuju “kita” yang terus menerus meluas. Ini adalah langkah pertama dalam perjalanan spiritual. Langkah kedua adalah dari “kita” menuju “Dia” Tuhan, ataupun dipanggil dengan sebutan apa pun.

        Jadi apakah Dewa Shiva itu tuhan,atw malaikat,atw manusia yg khusuk bertapa menjauhi duniawi,dan bertemu dgan Tuhan,Lalu tuhan menganugrahi nya dengan kehendak Tuhan?
        Apakah kesadaran seseorang dapat begitu tinggi sehingga mencapai Kesadaran Murni? Mengapa ada yang mengatakan bahwa Nabi pun pernah berkata bahwa aku adalah arab tanpa ain (rab), ahmad tanpa mim (ahad)? Mungkinkah Nabi telah mencapai Kesadaran Murni? Wallahu alam bisssawab. Mengapa Isa berkata aku dan Dia adalah Satu? Semua orang adalah putra-putra Allah? Mungkinkah itu dimaksudkan bagi orang-orang yang telah mencapai Kesadaran Murni?
        Mengapa ada pemahaman tentang Tauhid, Sesungguhnya tidak ada Dia yang lain, Yang Ada hanyalah Dia. Mengapa ada pemahaman tentang advaita bahwa segala sesuatu itu diliputi oleh Dia? Apakah kita ini hanya bagian kecil buih dari samudra yang luas. Yang ada hanyalah samudra (Dia)? Kita hanyalah percikan (buih) dari Dia?
        Mengapa ada yang memahami kisah Adam dan Hawa, yang tadinya ada di surga dan karena mereka mengikuti pikiran/nafsu (digambarkan sebagai ular) sehingga tercampak dari surga. Untuk kembali ke surga maka manusia harus bisa menguasai pikiran/nafsunya?
        Mengapa ada kisah Dewi Sita yang tadinya selalu bersama Sri Rama, akan tetapi karena terpikat “kijang emas duniawi”, maka akhirnya dia terjerembab ke dalam kekuasan Rahwana. Ada yang memahami bahwa Rahwana dengan kepala sepuluh mewakili ego kita? Hanya dengan bantuan bhakti (Hanuman) Sita kembali ke Sri Rama.
        Semuanya disampaikan dengan kisah dan bukan definisi.
        Terima kasih.

  3. mksh ats smua informasi nya
    menarik the bestt poko nya

  4. siip,, mksih ni, saya enggan berkomentar ah. maklum pengetahuan saya sangat minim. cuma cuap-cuap aja, saya menyadari dr kita ini memang banyak perbedaan dari suku, agama, bahasa aeh laen2 deh. saya fikir kalo didunia ini ga diciptakan perbedaan, apa akan ada keindahan? peradaban ada karena perbedaan, apa yang bisa menyatukan kita salah satunya dengan? dangdut miusik of my country
    maksh salam kenal

  5. wow

  6. saya bukan agama ini, tapi terimakasih infonya saya jadi agak paham dengan alur cerita mahadewa. bukan karena kita berbeda kita harus saling membenci bukan? saya suka dengan kisah cinta sejati nya dei sati kepada dewa siwa..

    • “Renungan Triwidodo………………………………………………… satu bumi, satu langit, satu um

    • Due, lau anda agak paham tentang mahadewa. Yang saya mau tanyakan adalah ganesha anak dari siapa,,,,??sedangkan prajapari membuat upacara yajna sati belum mempunyai anak dari dewa siwa. Lalu sati membakar diri y sendiri. Ini kisah benaran atau rekayasa manusia semata

      • Terima kasihSaudara Bochy Papua. Pada waktu seorang meninggal, maka yang meninggal adalah tubuh fisiknya, sedangkan jiwanya tidak meninggal. Tubuh Fisik adalah ibarat kendaraan bagin jiwa, kendaraan selagi anak-anak berbeda dengan kendaraan sewaktu dewasa. bagaimana bila kendaraan rusak akan tetapi jiwa belum mencapai tujuannya? jiwa akan memerlukan kendaraan baru lagi. seseorang yang meninggal dengan masih mempunyai obsesi misalnya tentang keluarganya, atau perusahaannya, maka setelah tubuh fisik mati, dia akan memerlukan tubuh baru untuk melanjutkan obsesi sebelumnya. Demikian pula Sati mati, akan tetapi keinginan dia belum selesai. dikisahkan dia akan lahir lagi sebagai Parvati, Parvati inilah yang akan menjadi istri Shiva dan mempunyai putra Ganesha.Ceritanya masih panjang. kisah dimaksudkan agar manusia yang mendengar atau membayangkan kejadiannya daapat menarik pelajaran bagi dirinya. Bagi yang percaya Kitab Srimad Bhagavatam yang memuat kisah-kisah keilahian diantaranya tentang Shiva-Parvati ini adalah kisah suci sejak awal zaman. sudah ada 4 zaman, pertama zaman satya yuga awal-awal kelahiran dewa, sampai kelahiran manusia dan dewa masih bertemu manusia, kedua zaman treta yuga zaman Sri Rama, manusia bermusuhan dengan para raksasa Rahwana cs, ketiga zaman dwapara yuga, raksasa sudah tinggal sedikit akan tetapi ada sekelompok manusia misalnya kaum kaurawa yang bersifat raksasa yaitu zaman sampai berakhirnya perang bharatayudha dan keempat zaman kali yuga dimana sifat raksasa dan sifat kesatria sudah berada dalaam diri setiap manusia. perang bharatayuda terjadi di dalam diri manusia. tentu saja yang namaanya kisah maka bisa ditambah dikurangi oleh manusia sipemberi cerita. akan tetapi aslinya adalaah kisah sungguhan. Seperti perang antara Sri Rama melawan Rahwana raja Alengka terjadi sekitar 8.000 tahun sebelum masehi. kemudian perang bharataayuda sekitar 3.000 tahun sebelum masehi. perang bharatayuda adalah perang nuklir. hanya orang yang menceritakan tehnologinya belum memahaminya. Misalnya gatotkaca terbang dibayangkan pakai sayap, padahal waktu itu adalaah pesawat tempur. yang membunuh Gatotkaca adalah senjata Karna yang mengejar Gatotkaca ke manapun adalah semacam peluru kendali. bekas-bekas peperangan tersebut masih ada di sekitar India. Terima kasih.

      • Terima kasih untuk jawaban dari bpk triwidodo. saya seorang Hindu akan memberikan beberapa jawaban yg mngkin dapat memberikan jawaban kpd bpk bochy papua.
        kisah mahadewa sesunggungnya satu kesatuan dari kisah ramayana dan bharatayudha karena kisah ini dituangkan langsung di kitab sruti. dalam Hindu ada 2 jenis weda yaitu kitab smerti dan sruti. Kitab sruti itu sendiri kitab yg dituangkan oleh para resi yg telah mencapai kesempurnaan dalam tapa shingga lepas dari keduniawian dan selanjutnya resi suci ini mendapatkan wahyu dari Tuhan yang selanjutnya dituangkan dalam kitab suci weda. dalam kitab sruti terdapat kitab2 yg menjelaskan tentang kisah mahadewa, baratayudha, dan ramayana. maka semua kisah yang anda nikmati itu sesungguhnya kisah dari wahyu secara langsung dari Tuhan atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang diwahyukan langsung kepada para resi
        sama seperti kitab-kitab suci lainnya dari berbagai agama sering menimbulkan pertanyaan apakah kisah yg ada di kitab itu pernah terjadi atau tidak sesungguhnya.
        tetapi sebagai insan yg beragama kita percaya terhadap isi kitab suci yg kita percaya sebagai wahyu langsung dari Tuhan
        Terima Kasih

  7. OM NAMAH SIVAYA. Sejatinya Tuhan itu adalah satu tiada duanya, namun orang bijaksana menyebut;NYA dengan banyak nama suci. Karena ITU (TAT/Brahman/Tuhan) tiada bernama. tidak ada satupun menandingi NYA. Dialah Maha segalanya.

  8. Reblogged this on Wahana08’s Weblog and commented:
    sebuah pemaparan yang sangat menarik…..

  9. keren,, saya sangat setuju dgn apa yg di katakan pak widodo

  10. Sy penganut katolik sy suka dgn film mahadewa,kebencian,kesombongan dan keangkuhan yg mbt sgl bentuk khdpn mnjd tdk seimbng..mgkn sj dunia ini akn kekal mnjd milik manusia namun krn keangkuhn manusia jualah yg akn mengakiri sgl bentuk kehidupan ini…mari kt belajar utk slng menghormati satu sm lain krn dalam perbedaan kt menemukan misteri tentang Tuhan..ALLAH ADALAH KASIH DAN KASIH ITU KURBAN.

  11. Sebelum meraih kebaikan dalam diri, maka kita harus berusaha menghilangkan keburukan yang ada dalam diri kita dahulu. Agar setiap pencapaian yang kita raih tidak berbuah kesombongan. Karena kesombongan awal kekalahan. Salam..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: