Renungan Bhagavatam: Lanjutan Kisah Puranjana, Jalan Menuju Kebebasan


Resi Narada menguraikan ilmu Brahmawidya kepada raja Prachinabarhis bahwa satu-satunya cara yang telah membantu manusia untuk belajar tentang Kebenaran adalah bhakti kepada Narayana. Narayana adalah segalanya, Ia adalah tempat perlindungan dari semua penderitaan. Bhakti kepada Narayana membuat pikiran terlepas dari obyek duniawi sehingga dapat menyadari jatidiri. Atman, jiwa  sejatinya tidak berbeda dengan Paramatman, Jiwa Yang Agung.

Dalam bahasa yang berbeda Yesus menyampaikan hal yang sama bahwa manusia dan Tuhan adalah Roh yang sama. Dalam buku “A NEW CHRIST, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Re-editing. Terjemahan Bebas, dan Catatan oleh Anand Krishna”, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2010 disampaikan…….. Kita semua “terbuat” dari zat yang sama, substansi kita sama Roh. Namun, ketika “keluar” dari Roh, kita memperoleh kemampuan untuk berpikir secara terpisah. Kemampuan itu memberi kebebasan, sekaligus membuka kemungkinan bagi terjadinya kesalahan. Jika kita tidak menyadari hubungan kita dengan sumber, dengan Roh, dengan Allah Bapa, maka terjadilah kesalahan. Awalnya, pikiran kita yang salah, kemudian perbuatan. Tanpa kesadaran akan hubungan kita dengan sumber, dengan Roh, pandangan kita menjadi terbatas, sempit. Kita tidak bisa melihat kebenaran secara utuh sehingga kesimpulan kita sudah pasti salah. Merosotnya kualitas hidup, kekuatan diri, dan inteligensia atau kebijaksanaan kita selalu dalam proporsi yang persis sama dengan kemerosotan ke sadaran yang kita alami. Dan, dengan kemerosotan kesadaran yang dimaksud adalah kealpaan kita akan hubungan dengan Sumber Hyang Tunggal, Roh, Allah Bapa Hyang Maha Bijak, Kehidupan Abadi. Yesus menemukan dunia dalam keadaan sakit parah karena merosotnya kesadaran manusia. Kemerosotan itu pula yang menyebabkan manusia mengejar kenikmatan indra secara berlebihan; menimbulkan rasa takut dan khawatir; kemudian, tenggelam dalam lautan penuh derita…….

Resi Narada bercerita tentang Brahmana Avijnata yang berkata kepada Vidharbi, “Aku adalah Avijnata, sahabatmu yang paling dekat. Pada waktu kau tertarik masuk Kota Bhogawati, kamu melupakanku, melupakan alam keilahian. Beruntung, kamu lahir lagi, mempunyai suami yang taat kepada Tuhan yang dapat mempengaruhi dirimu sehingga kesadaranmu meningkat dan bisa bertemu kembali dengan-Ku. Sejatinya kau bukan Puranjana, bukan pula Vidharbi, kau adalah proyeksi dari-Ku. Pikiranmu membuat kau semakin menjauh dari-Ku”.

Resi Narada melanjutkan, “Dengarkan cerita tentang Tuhan dan berpikir tentang Dia siang dan malam, keduanya pasti melenyapkan kesengsaraan  yang disebut siklus kelahiran dan kematian. Vidharbi yang kawin dengan raja Pandya mempunyai satu putri dan tujuh putra. Putri itu adalah Asa, harapan untuk mendengarkan kisah Tuhan. Ketujuh putra adalah Sravana, Kirtana, Smarana, Padasevana, Archana, Vandana, dan Dasya. Berkumpul dengan seorang pemuja Narayana (Asa) akan membuat kamu akan mengambil tujuh jalan memuja Dia (7 saudara Asa).”

Dimulai dengan Shravana (mendengarkan cerita tentang Tuhan), Kirtana (mengucapkan syair berulang-ulang), Smarana (mengingat-Nya berulang-ulang dalam pikiran), Padasevana (berserah diri pada kaki-Nya), Archana (memuja-Nya sebagai persembahan), Vandana (hormat kepada-Nya) dan Dasya (melayani-Nya).

Apabila orang melakukan hal tersebut maka pikirannya akan terarahkan kepada Tuhan. Dan, Atman, Jiwa akan menyadari Paramatman, Tuhan. Sehingga Puranjana menjadi satu dengan Avijnata.

  1.  Sravana, mendengarkan cerita tentang Tuhan berarti mendengar dengan penuh perhatian terhadap kisah-kisah Ilahi. Dengan Sravana pikiran akan terfokus pada Tuhan. Srimad Bhagavatam menyatakan, “Telinga yang belum mendengarkan nama dan kemuliaan Tuhan lebih buruk dari anjing, babi, unta atau keledai”.
  2. Kirtana, mengucapkan syair berulang-ulang berarti menyanyikan merdu dan mengagungkan lagu-lagu Ilahi. Nyanyian penuh rasa terus menerus ini akan mengisi pikiran dengan Tuhan. Srimad Bhagavatam  menyatakan, bahwa “lidah yang tidak menyanyikan Leela (permainan) Ilahi adalah sebagai seperti lidah katak bernyanyi”.
  3. Smarana, mengingat-Nya berulang-ulang dalam pikiran berarti melakukan zikir nama Tuhan yang menyenangkan dan leela Tuhan tanpa penyimpangan dalam pikiran-Nya. Pikiran benar-benar ditarik dari objek duniawi, dan pikiran selain Tuhan itu diusir keluar dari pikiran. Bhagavad Gita menyatakan, “Wahai Partha, dia yang terus-menerus mengingat Aku”.
  4. Padasevana, berserah diri pada kaki-Nya berarti melayani dan menyembah kaki Ilahi. Tentang kaki Ilahi, Chhandogyopanishad mengatakan, “semua makhluk adalah kakinya. Jadi melayani semua makhluk dapat dianggap sebagai melayani dari kaki Tuhan”.
  5. Archana, memuja-Nya sebagai persembahan berarti melakukan persembahan bagi Tuhan. Ibadah ini juga dapat dilakukan dengan memusatkan pikiran pada setiap wujud Ilahi. Dalam Bhagavad Gita dinyatakan, “Barangsiapa menawarkan Tuhan dengan penuh pengabdian, daun, bunga, buah atau air, Dia akan menerima itu semua”.
  6. Vandana, hormat kepada-Nya berarti penghormatan pada Tuhan dan kepada setiap wujud Tuhan. Dikatakan dalam Srimad Bhagavatam bahwa “ruang, udara, api, air, bumi, bintang, pohon, sungai, lautan dan semua makhluk merupakan wujud Tuhan, maka seorang pemuja akan bersujud menerima mereka sebagai Ilahi”. Dengan mengetahui bahwa Tuhan bersemayam dalam segala sesuatu, seseorang harus menunjukkan hormat dengan penuh keyakinan, kasih dan pengabdian.
  7. Dasya, melayani-Nya berarti penyerahan diri sebagai hamba-Nya. Seseorang yang menerima dirinya sebagai hamba Tuhan akan melayani-Nya dan mematuhi petunjuk-Nya. Dalam semua tindakan ia merasa bahwa ia melayani Tuhan dan melaksanakan perintah-Nya dengan keyakinan penuh serta pengabdian dalam dirinya. Dia juga melayani semua makhluk sebagai wujud dari Tuhan.

Bila tujuh cara sudah dilakukan manusia akan sampai pada Sakhya, suka dan tidak suka sesuai kehendak-Nya dan Nivedana, menganggap dirinya sebagai persembahan.

Raja Prachinabarhis berkata, “Wahai Resi Narada, mohon dijelaskan perihal jiwa yang tidak menyadari ancaman yang sedang menyergapnya, karena kelengahannya dalam menikmati dunia.”

Resi Narada tersenyum dan merasa berbahagia, “Baik, akan kuambil contoh yang berbeda. Ada seekor rusa beserta pasangannya asyik merumput di taman rumput luas nan subur. Kembang yang berbau harum di padang tersebut membuat dia merasa sangat bahagia. Ia berpikir tak ada suatu hal yang akan merusak kebahagiaannya. Tetapi sang rusa tak sadar akan bahaya adanya serigala yang berada tak jauh di depannya yang siap menerkamnya sewaktu-waktu. Sang rusa juga tak pernah sadar bahwa di belakangnya juga ada seorang pemburu yang sudah membidikkan anak panahnya kepada dirinya. Kesenangan dunia adalah seperti wangi kembang dalam taman tersebut. Pria dan wanita  menjelajah dalam taman tersebut mencari kesenangan. Sementara sang kala, waktu dalam wujud srigala siap menerkamnya dari depan. Sedangkan di belakang dia ada berbagai penyakit  dalam wujud anak panah dari si pemburu yang sudah dibidikkan ke arahnya. Aku menceritakan kisah Raja Puranjana, agar kamu menyadari bahwa berbuat baik saja belum mengarahkan kamu kepada Kebenaran mutlak. Kamu tidak perlu mengejar perbuatan baik saja. Kamu perlu mengejar Tuhan, dan kenyamanan dunia akan diberikan kepadamu sebagai hasil hukum sebab-akibat dari tindakanmu. Berkumpul dengan para sadhu akan membuat kamu mempunyai rasa cinta terhadap kisah ilahi. Manakala kamu menempuh tujuh jalan kamu akan mencapai langkah terakhir yaitu penyerahan diri.

Raja Prachinabarhis langsung bersujud mencium kaki Resi Narada dan membasahi kaki sang resi dengan air matanya, “Terima kasih wahai resi Narada, kisah tersebut telah membuka hati nurani hamba.”  Narada berkata, “Wahai Raja, kisah ini adalah Brahmavidya, pengetahuan tentang keilahian.”

Dalam buku “A NEW CHRIST, Jesus: The Man and His Works, Wallace D Wattles, Re-editing. Terjemahan Bebas, dan Catatan oleh Anand Krishna”, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2010 disampaikan…….. Yohanes 10 : 15 “sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa”. “Mengenal” Allah Bapa berarti “sadar akan kemanunggalan diri dengan-Nya”, dengan Allah Bapa, Allah Roh Agung, Allah Roh Kudus, atau apa pun sebutannya. Tidak ada cara lain untuk memahami dan menjelaskan hal ini. Karena, hanyalah ketika “Aku” manunggal dengan “Allah”, dengan “Bapa”, atau “Roh” maka “Aku akan tahu” apa saja yang “diketahui Allah, Bapa, atau Roh”. Saat itu, apa yang diketahui-Nya, Ku-ketahui pula; apa yang dilihat-Nya, Ku-lihat pula; dan, apa yang dikerjakan-Nya, Ku-kerjakan pula! Betul, bila Bapa jauh lebih agung, jauh lebih tinggi, jauh lebih sempurna daripada diri-Ku; Aku berasal dari-Nya, Aku datang dari Dia… Namun, ketika Aku menyatu dengan-Nya dalam roh, atau kesadaran kosmis; ketika Aku manunggal dengan-Nya maka Dia berada di dalam diri-Ku dan Aku berada di dalam diri-Nya. Saat itu, Aku dan Dia satu adanya. Yesus menyatakan bila kesadaran kosmis adalah sumber segala kekuatan. Ia menunjukkan bila kesadaran kosmis adalah kesehatan yang sempurna bagi dirinya, maupun bagi orang lain yang disembuhkan oleh-Nya. Ia mengatakan bahwa. Dia dan Tuhan satu adanya dan, bahwasanya kita pun sesungguhnya sama. Sekarang, bagaimana menyatukan kemauan dan keinginan kita dengan kehendak-Nya itu saja; bagaimana kita bisa menerima kehendak-Nya secara utuh itu saja. Yesus berjanji, siapa saja yang berkehendak sesuai dengan kehendak Allah akan “mengetahui” maksud-Nya dan masuk ke dalam “Kerajaan Allah”. Ia melanjutkan : “…Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu… “ (Yohanes 14 : 12). Catatan : Menyelaraskan kemauan, keinginan, obsesi, dan impian pribadi dengan kehendak Allah membuat kita sadar, membuat kita “tahu” jatidiri kita. Ah, ternyata saya anak raja. Ternyata aku kaya raya. Ternyata semua ini disediakan bagi saya dan saudara-saudara saya. Kemudian, apa yang mesti saya khawatirkan? Kenapa mesti merampas hak saudara saya? Kesadaran seperti inilah yang dibutuhkan untuk memasuki Kerajaan-Nya. Yesus yakin betul bila kesadaran yang dimiliki-Nya dapat dimiliki setiap orang. Doa-Nya, sebagaimana kita baca dalam Yohanes 17:21 sungguh menarik. “… Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita…”Yesus tahu persis bahwa kita semua memiliki potensi yang sama untuk meraih kesadaran kosmis. Kita semua bisa manunggal dalam kesadaran ilahi, Allah Bapa, atau kesadaran kosmis tersebut. Dalam hal itu, tidak beda antara Dia dan kita……..

Demikian pandangan Bapak Anand Krishna yang meyakini bahwa esensi dari setiap agama adalah sama dan bersifat universal. Sehingga mereka yang telah sadar akan mengapresiasi semua agama. Sayang pandangan kebhinnekaan tersebut tidak disukai oleh beberapa kelompok tertentu, sehingga Bapak Anand Krishna harus menghadapi tuduhan pelecehan seksual dalam sidang pengadilan. Silakan lihat………

http://www.freeanandkrishna.com/in/

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Juni 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: