Renungan Bhagavatam: Priyavrata Dan Rsaba, Raja Tanpa Keterikatan Dengan Dunia


Raja Barhishat atau Prachinabarhis mempunyai putra berjumlah sepuluh orang yang disebut Pracetasa bersaudara. Mereka mendapat perintah dari ayahnya untuk memperleh keturunan yang unggul. Mereka bertapa di dalam samudera dalam jangka waktu yang lama dan akhirnya ditemui oleh Narayana. Selesai bertapa, mereka kawin dengan Pramlocha, putri hasil perkawinan Resi Khandu dengan seorang Apsara. Dari Pramlocha lahir Daksha Prajapati. Seperti diketahui Daksha Prajapati telah berbuat salah di kahyangan dengan mengabaikan Shiva dan akhirnya harus lahir ke dunia sebagai putra dari Pracetasa bersaudara. Setelah Daksha dewasa dia dinobatkan sebagai raja dan Pracetas bersaudara melanjutkan perjalanan batin mengembara ke hutan sampai mencapai Narayana. Daksha kawin dengan Asikni dan mereka mempunyai 60 putri yang telah menjadi populasi dunia pada manvantara itu – Manvantara adalah 4.320.000 tahun manusia. Satu Brahma mengalami  14 Manvantara. Masing-masing manvantara diketuai oleh seorang Manu…….. Demikian pula setelah Daksha setelah memerintah beberapa lama, dia juga melanjutkan perjalanan batin mengembara ke hutan untuk menemukan Narayana.

 

Svayambhu Manu putra Brahman mempunyai 3 putri dan 2 putra. Ketiga putrinya adalah Dewahuti yang menjadi istri Kardama, Prasuti yang menjadi istri Daksha Prajapati, dan Akuti istri Resi Ruci. Putra keduanya adalah Uttanapada yang menurunkan Dhruva yang berputra Vatsara, Vatsara yang berputra Vena. Dari Vena diciptakan Prithu yang berputra Vijitashva, Vijitashwa berputra Havirdhana, Havirdhana berputra Barhishat. Kemudian Barhishat berputra Pracetasa bersadara yang mempunyai putra Daksha Prajapati……. Putra sulung Manu adalah Priyavatra yang sejak kecil sudah mendengar pelajaran dari Resi Narada sehingga dia tidak mau menjadi raja. Priyavrata meminta Uttanapada sebagai raja dan ia sendiri pergi ke hutan bertapa.

 

Sewaktu Daksha juga pergi ke hutan untuk melakukan tapa, Svayambhu Manu melihat sebuah negeri tanpa raja akan kacau, maka dia pergi menemui Priyavrata agar dia bersedia menjadi raja. Usahanya gagal sehingga Manu meminta Brahma, ayahnya agar membujuk Priyavrata agar bersedia menjadi raja. Usia manusia pada waktu awal-awal penciptaan sangat panjang, sehingga cukup sulit untuk membayangkannya bagi orang-orang di zaman Kaliyuga yang mempunyai usia hidup yang amat pendek.

 

Di dalam sebuah gua Priyavrata sedang berbicara dengan Resi Narada, pada saat Brahma datang. Priyavatra cepat menyambut kakeknya, demikian juga Resi Narada yang juga langsung memberi hormat. Brahma berkata, “Cucuku Priyavrata, dengarkanlah dengan seksama perkataanku. Tuhan memerintahkan manusia agar  dia patuh terhadap-Nya. Tuhan yang dipatuhi oleh kita semua menghendaki kau sebagai raja. Tubuh ini diberikan oleh Tuhan kepada kita untuk suatu tujuan. Masing-masing kita telah diciptakan untuk suatu tujuan. Lihatlah sapi jantan yang membajak tanah. Mereka mengenakan tali yang diikatkan pada hidung mereka. Ikatan tali menunjukkan bahwa dia harus patuh terhadap pengendalinya, tanpa ikatan tali dia tidak dapat mengerjakan pekerjaan yang berharga. Tanpa mengikuti tali yang digerakkan oleh majikannya, ia tidak punya kekuatan untuk membajak sawah. Demikian juga manusia dikendalikan untuk melakukan pekerjaan yang telah Dia pilih.”

 

Brahma melanjutkan, “Bagaimana pun, jika manusia bergerak mengikuti kehendak-Nya tanpa keterikatan terhadap dunia, maka ia adalah seorang “jeevanmukta”. Ia bergerak dalam dunia manusia selama Tuhan menghendakinya. Manusia seperti itu akan memandang kesenangan dan penderitaan seperti seseorang yang melihat mimpi setelah bangun tidur. Manusia seperti ini tidak akan mendapatkan “vasana”, kesan-kesan dalam pikiran yang menyebabkan kelahiran selanjutnya. Semua tindakannya dilakukan tanpa pamrih.”

 

Apabila kita memperhatikan kehidupan, kita akan memahami peran apa yang diberikan Tuhan kepada kita. Peran sebagai ayah atau ibu dari sebuah keluarga, peran sebagai sahabat, peran sebagai pekerja, peran sebagai warganegara dan sebagainya. Apa pun peran yang diberikan kepada kita apabila dapat kita jalani sebaik-baiknya tanpa rasa keterikatan, maka kita sudah menjalankan peran yang diberikan Tuhan kepada kita. Dalam buku “Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2003 disampaikan…….. 1. Jangan lupa tujuan Anda berada di atas panggung sandiwara kehidupan yaitu untuk menghibur. Inilah kesadaran. Aku berlindung pada Kesadaran Murni (menurut kami, berlindung pada Buddha berarti berlindung pada Kesadaran Murni yang ada di dalam diri); 2. Jangan lupa peranmu, lakonmu. Bermainlah sesuai dengan peran yang diberikan padamu. Aku akan selalu mematuhi dharma, peran yang diberikan padaku (menurut kami, berlindung pada dharma berarti melakoni dharma, peran yang diberikan kepada kita); 3. Jangan lupa bahwa kau berada di sini untuk menghibur diri dan menghibur orang lain, bukan untuk menyusahkan orang, mencelakakan orang. Aku selalu memikirkan komunitas (menurut kami berlindung pada sangha, adalah hidup sebaik-baiknya dalam komunitasnya)…….

 

Brahma melanjutkan, “Manusia yang tidak dapat mengendalikan inderanya seperti seseorang yang kehilangan tujuan dan mengembara tak tentu arah di dalam hutan. Enam musuh: kama-nafsu, krodha-marah, moha-kebodohan batin, lobha-serakah, mada-angkuh dan matsarya-iri hati akan selalu mengejarnya. Ia akan selalu terjerat dalam kelahiran dan kematian. Sebaliknya,  seorang manusia yang telah menaklukkan inderanya dan telah menyadari bahwa ia adalah paramatman, adalah seorang yang terbaik untuk hidup dalam dunia manusia. Ketidakterikatan dia dengan obyek duniawi, akan menjadikan ia manusia ideal dan banyak manusia dapat belajar darinya. Dan, jiwa yang bebas ini dapat membantu orang lain. Manusia yang ingin menaklukkan indera perlu hidup sebagai manusia biasa: menikah, memperoleh anak, dan pada waktu yang sama mencoba menaklukkan musuhnya. Sekali telah menaklukkan mereka, ia berjalan tanpa rasa takut di tengah-tengah manusia. Bayangkan bila suatu kota telah dikepung musuh, dan raja berlindung dalam benteng yang aman. Demikian juga bila manusia mencari perlindungan di kaki Tuhan. Ia dengan mudah mengusir ke enam musuhnya. Pada waktu yang sama ia dapat menikmati  hal-hal dunia yang telah diberikan kepada dia oleh Tuhan. Setelah masa hidupnya berakhir ia akan menjadi satu dengan-Nya. Jiwatman dan paramatman menjadi satu. Aku menceritakan ini agar kamu kembali ke dunia manusia dan memerintah negeri sebagai seorang raja. Kamu adalah jiwa yang bebas, kamu tidak pernah berada dalam bahaya kehilangan diri dalam kenikmatan dunia. Setelah melakukan tugasmu kamu dapat kembali ke sini dan memulai lagi pencarianmu terhadap kedamaian.”

 

Priyavrata melakukan kehendak-Nya dengan bersedia menjadi raja. Priyavrata menjadi raja yang tidak terikat dengan duniawi. Ia menikahi Barhismati putri Visvakarma melahirkan sepuluh putra dan seorang putri. Agnitra adalah putra sulung. Ketiga adik Agnitra menjadi sanyasi di usia yang sangat muda. Agnitra dan enam putranya yang lain diminta menjadi raja di tujuh pulau. Putri Priyavatra bernama Ojasvati yang dinikahkan dengan Resi Sukra dan mempunyai putri bernama Dewayani. Manakala waktu telah sampai Priyavatra meninggalkan istana pergi melanjutkan bertapa sampai saatnya mencapai Narayana……

 

Dalam buku “Sabda Pencerahan, Ulasan Khotbah Yesus Di Atas Bukit Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2004 disampaikan……… Yesus benar-benar mengatakan bahwa kedatangan Dia adalah untuk sesuatu yang jauh lebih berarti. la datang untuk memisahkan kita dari segala sesuatu yang membelenggu diri kita selama ini. Yang harus kita tinggalkan bukan isteri, bukan keluarga, tetapi rasa kepemilikan kita, keterikatan kita terhadap mereka. Nikmatilah dunia ini. Berkeluargalah, jika Anda inginkan. Tetapi jangan terikat pada sesuatu. Sadarlah bahwa semuanya itu hanya temporer. Jangan mengembangkan rasa kepemilikan terhadap benda-benda duniawi, karena semua itu tidak kekal. Nikmati semuanya, tanpa keterikatan, tanpa rasa kepemilikan……..

 

Dalam buku “Sandi Sutasoma Menemukan Kepingan Jiwa Mpu Tantular”, Gramedia Pustaka Utama Jakarta 2007 disampaikan……. Ia menjadi Jeevan Mukta. Ia hidup di dalam dunia ini, tetapi tidak terikat dengan dunia dan keduniawian. Ialah seorang Bodhisattwa. Seorang Jeevan Mukta atau Bodhisattwa juga tidak terpengaruh oleh pendapat siapa pun tentang dirinya. Ia selalu berusaha untuk berbuat baik. Kebaikan adalah sifatnya. Seorang Jeevan Mukta atau Bodhisattwa tidak berbuat baik untuk dipuji, atau untuk memperoleh penghargaan. Karena itu, jika sebagian masyarakat  tidak memahaminya, atau malah menghujatnya, ia pun tidak terpengaruh oleh hujatan itu……….

 

Dalam buku “Ah, Mereguk Keindahan Tak Terkatakan Pragyaa-Paaramitaa Hridaya Sutra Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2000 disampaikan…….. Demikian, wahai Sariputra, seorang Boddhisatva yang telah melampaui segala macam pengalaman dan tidak berkeinginan untuk mencapai sesuatu apa pun lagi, “hidup” tanpa gangguan (yang disebabkan oleh pikiran). Dan karena “hidup” tanpa gangguan (yang disebabkan oleh pikiran), ia tidak akan penah takut. Ia telah melampaui segala macam pengalaman yang bisa menakutkan, sehingga akhirnya ia mencapai Nirvana, Kasunyatan Sejati. Dengan cara itulah, para Buddha dari tiga jaman telah mencapainya……… Setelah menyadari “kebuddhaan diri”, kasunyatan diri, apa yang terjadi? Langsung mati? Badan terlepaskan? Tidak. Sang Buddha telah melampaui segala macam pengalaman dan tidak memiliki keinginan lagi akan hidup dalam keadaan “achitta varanah”. Saya menerjemahkannya secara bebas, “hidup tanpa gangguan yang disebabkan oleh pikiran”. Secara harfiah, chitta berarti “pikiran” mind. Kemudian, varanah berarti “bungkusan”. Nah, karena sebelum kata chitta ada “a”, maka achitta-varanah bisa diterjemahkan sebagai “tanpa bungkusan pikiran”. Hidup tanpa bungkusan pikiran. Seorang Boddhisatva “hidup tanpa bungkusan pikiran”. Apa maksud Sang Buddha? Sementara ini, kita belum pernah hidup bebas. Kita belum kenal kebebasan. Kita hidup dalam kurungan. Dan yang mengurungi kita adalah pikiran. Berlapis-lapis pikiran yang mengurungi kita. Apa maksud Sang Buddha? Sementara ini, kita belum pernah hidup bebas. Kita belum kenal kebebasan. Kita hidup dalam kurungan. Dan yang mengurungi kita adalah pikiran. Berlapis-lapis pikiran yang mengurungi kita. Ada tiga lapisan utama: Lapisan Pertama adalah yang ada warisi dari kelahiran sebelum ini. Obsesi-obsesi anda dari masa lalu, keinginan-keinginan yang tidak tercapai dalam masa kelahiran sebelumnya, sehingga anda masih harus lahir kembali. Lapisan Kedua adalah yang terbentuk dalam kelahiran ini. Keinginan-keinginan dan obsesi-obsesi baru. Lapisan ketiga adalah yang Anda peroleh dari masyarakat. Hukum negara, dogma agama, kode etik yang berlaku dalam kelompok anda semuanya ikut membentuk lapisan yang ketiga ini. Dan lapisan-lapisan tersebut bagaikan kurungan. Anda hidup dalam kurungan yang berlapis-lapis. Anda belum pernah hidup bebas……..

 

Putra Priyavrata adalah Agnitra yang mempunyai putra bernama Nabhi. Nabi melakukan persembahan untuk meminta seorang Putra. Narayana sendiri yang berkenan lahir dengan nama Rsaba. Setelah Rsaba dewasa dia dinobatkan menjadi raja dan Nabhi pergi ke Badarikashram dan mencapai kaki Narayana. Rsaba menikah dengan Jayanti putra dari Indra, dan menjadi ayah dari seratus putra. Anak sulungnya bernama Bharata dan negeri yang diperintahnya dikenal sebagai Bharatavarsa. Tujuan Rsaba adalah menunjukkan kepada manusia bahwa manusia bisa menjadi raja dikelilingi oleh kemewahan dan kekuasaan, hidup dengan wanita cantik dan banyak anak. Hidup sebagai seorang ghrihastha yang sempurna tetapi hidup secara sanyasi. Rsaba mengajar kepada putra-putranya, “Putra-putraku tubuh ini diberikan kepada kita bukan untuk menikmati hal-hal duniawi seperti binatang. Tetapi untuk maksud yang lebih tinggi, kemurnian pikiran. Karena beberapa tindakan yang dilakukan di kehidupan sebelumnya, maka manusia diberikan badan. Selama badan ada dan selama pikiran belum sadar maka kamu akan berada dalam badan. Avidya, ketidaktahuan menjadikan manusia masuk ke dalam perangkap karma. Aku dan milikku adalah dua musuh utama manusia. Dengarkan cerita tentang Tuhan. Peliharalah persahabatan dengan seorang pemuja Tuhan. Jangan benci kepada seorang manusia pun sebab semua orang adalah gambaran tentang Tuhan. Sendirilah dengan dengan diri kalian, kapan saja mendapatkan keheningan yang dapat membantumu berpikir tentang Tuhan. Lakukan tugasmu dengan baik . Adalah penting bahwa seorang Guru membimbing seorang siswa, murid. Dan bagi seorang putra tidak ada guru yang lebih besar daripada ayahnya. Adalah tugas seorang ayah membimbing putranya dan seorang raja untuk membimbing rakyatnya. Ia kemudian menobatkan Bharata sebagai raja dan ia pergi meninggalkan negrinya. Ia mengembara ke seluruh dunia menyebarkan ilmunya hingga kebebasannya datang.

 

Dalam buku “Membuka Pintu Hati, Surah Al-Fatihah Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2000 disampaikan…….. Keterikatan pada harta-kekayaan, pada kedudukan, pada keluarga semuanya harus dikikis sedikit demi sedikit. Tidak berarti kita menjadi asosial; tidak berarti kita meningkatkan keluarga. Tidak demikian. Yang penting adalah meninggalkan rasa kepemilikan. Yang penting ialah meninggalkan keterikatan. Dan untuk melepaskan keterikatan-keterikatan semacam itu, cara yang paling gampang adalah meningat kematian. Menyadari bahwasannya hidup ini bersifat fana, sementara, sesaat. Hadis Al-Dailami : Perbanyaklah mengingat kematian. Seorang hamba yang banyak mengingat mati maka Allah akan menghidupkan hatinya dan diringankan baginya akan sakitnya kematian. Selalu mengingat kematian merupakan salah satu cara meditasi yang sudah berusia ribuan tahun. Suatu cara kuno sekali, yang sudah lama dikenal oleh para mistik Timur. Selalu mengingat kematian juga merupakan salah satu cara yang paling gampang untuk memasuki alam tafakkur. Apa yang kita sebut “meditasi” dalam bahasa Arab disebut tafakkur. Selalu mengingat kematian tidak akan menjadikan kita pesimis terhadap kehidupan tidak sama sekali. Justru akan menjadikan kita sangat “dinamis”. Kita akan selalu sadar. Sadar sepenuhnya, sadar senantiasa sadar akan tanggung jawab kita terhadap lingkungan. Kita tidak akan mencelakakan orang lain demi kepentingan pribadi. Kita tidak akan bertindak keji, kejam terhadap makhluk-makhluk hidup. Kita tidak akan mencemari lingkungan. Dari kebersihan lingkungan sampai kelestarian alam kita akan memperhatikan segala sesuatu. Sebaliknya, ia yang tidak sadar akan selalu mencari jalan gampang untuk memperoleh kenikmatan duniawi, kenyamanan diri. Ia tidak peduli, apabila tindakan dia itu mencelakakan orang lain………

 

Demikian beberapa pandangan Bapak Anand Krishna yang bermanfaat bagi pemberdayaan diri seseorang agar dia secara sadar melakukan tugasnya di dunia sebaik-baiknya. Sayang pandangan tersebut tidak disukai oleh sekelompok orang yang tidak menyukai pandangan kebhinnekaan dan persatuan. Silakan lihat………

http://www.freeanandkrishna.com/in/

 

 

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Juni 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: