Menyambut Ramadhan Dalam Kebhinnekaan

Catatan Kecil Orasi Budaya di Candi Plaosan Juli 2011

 

Orasi Budaya  dan Doa Bersama bertajuk “Menyambut Ramadhan dalam Kebhinekaan” dilaksanakan di Candi Plaosan, Yogyakarta pada Kamis (28/7/2011). Acara tersebut terselengggara berkat kerjasama Komunitas Pecinta Anand Ashram, National Integration Movement (NIM), Lingkar Pelangi Nusantara, Aliansi Jogja untuk Indonesia Damai (AJI Damai), Gerakan Moral Rekonsiliasi Pancasila, Lembaga Studi Islam dan Politik (LSIP), AFSC(American Friends Service Committee), dan Paguyuban Tri Tunggal.

Acara dibuka oleh dr. Wayan Sayoga, selaku Direktur Eksekutif National Integration Movement (NIM). Ramadhan sebagai bulan suci umat Muslim merupakan sarana kembali ke dalam diri. Sebuah momentum untuk melihat kembali perjalanan hidup kita selama ini. Kita mempunyai founding father Ir. Sukarno yang visioner. Dan visi tersebut berdasarkan pengalaman sebuah bangsa. Kita merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, akan tetapi sebagai sebuah bangsa kita mempunyai pengalaman yang panjang. Bangsa Indonesia pernah mengalami kejayaan sewaktu Sriwijaya yang berdagang ke luar negeri dengan armada milik kerajaan sendiri. Bukan bangsa asing yang datang yang jual beli dengan menentukan harga atau persyaratan seperti yang dikehendakinya dengan memakai armadanya, akan tetapi Sriwijaya mempunyai bargaining position yang tinggi.

Romo FX. Agus S. Gunadi, Pastor Paroki Bintaran dan Pringgolayan tersebut mengajak peserta saling meneguhkan komitmen kebhinekaan di antara sesama anak bangsa. Dosen Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma ini berpendapat bahwa perbedaan merupakan keniscayaan yang menambah keindahan hidup. Ibarat simponi musik gamelan, setiap instrumen saling berpadu menyajikan suatu harmoni. Keindahan gamelan disebabkan kebhinnekaan suara dari banyak alat yang berbeda. Biarlah semua pihak menyuarakan dengan alatnya masing-masing. Tidak perlu orang menyuarakan alat yang bukan miliknya. Yang mempersatukan suara adalah keinginan untuk menyatukan diri dalam sebuah irama kesepakatan.

Pada hakikatnya banyak suara membuat keindahan yang menjadikan beragam suara menjadi satu musik. Kembali pernyataan Romo FX. Agus S. Gunadi selaras dengan Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa. Yang mempersatukan kebhinnekaan adalah Cinta Kasih. Cinta Kasih terhadap Tuhan dan Cinta Kasih terhadap sesama. Cinta Kasih diperoleh jika manusia mendekatkan diri pada Tuhan. Romo FX. Agus S. Gunadi juga memberikan ilustrai dengan jeruji-jeruji roda sepeda, dimana semakin mendekat ke pusat, maka perbedaan semakin sedikit. Demikian pula semakin dekat dengan Tuhan, semakin dalam rasa kasih, maka perbedaan semakin sedikit.

Kyai Jadul Maulana, Pengasuh Pondok Pesantren Kali Opak, Bantul menyatakan bahwa setiap orang sedang mengejar kesempurnaannya sebagai manusia. Proses ini disimbolisasikan lewat lakon-lakon wayang. Tema acara ini sama dengan tema peringatan 500 tahun Sunan Kalijaga yang digelar oleh Nahdatul Ulama (NU) di Alun-alun Utara Yogyakarta pada saat ini. Ada tiga hubungan yang harus dijaga, hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan sesama manusia dan hubungan manusia dengan alam semesta. Puasa merupakan ibadah yang mengandung misteri, karena hanya Tuhan sendiri yang akan menilainya. Puasa berarti menahan diri. Dengan menahan diri maka yang tahu perbuatan kita hanya Tuhan dan diri kita sendiri.

Pendiri Yayasan LKiS ini mengisahkan metafor telaga Al Kautsar. Barang siapa meminum setetes airnya maka ia tak akan merasa haus lagi. Ia akan puas, bersyukur dan tidak berkeinginan duniawi lagi. Intinya adalah Yang Satu melahirkan keberagaman. Dan keberagaman pada akhirnya kembali lagi pada yang satu. Bila ini dilakukan maka manusia akan merasakan Al Kautsar, minum setetes saja sudah tidak akan merasa haus lagi. Puasa adalah untuk menghayati pemahaman ini. Baca lebih lanjut

Iklan

Renungan Bhagavatam: Dewi Gangga Dan Para Vasu, Berbeda Paham Karena Berbeda Program Yang Ditanamkan

Ada seorang raja agung di bumi bernama Mahabhishak. Sang raja pernah ke istana Dewa Indra untuk mendapat penghargaan. Kala itu Dewi Gangga, seorang bidadari datang ke istana dan terpesona oleh ketampanan sang raja. Indra berkata, “ Sesungguhnya kamu seorang penghuni kahyangan, akan tetapi kamu menyenangi wajah manusia. Oleh karena itu kamu harus lahir ke dunia dan menjadi pasangan raja ini dalam kelahiran berikutnya.” Dalam kegalauan hatinya, Dewi Gangga berjumpa dengan delapan Vasu, delapan dewa yang mewakili unsur-unsur alam. Mereka adalah Agni-api, Prithvi-bumi, Vayu-angin, Antariksha-atmosfir, Aditya-Surya, Dyaus-langit (kadang disebut Prabhasa-fajar), Chandra-Bulan, Nakstrani-bintang-bintang (kadang disebut Dhruva-bintang kutub). Mereka berkata bahwa mereka dikutuk Resi Vasistha sehingga mereka harus lahir di bumi.

Para Vasu sedang menikmati perjalanan di hutan, kala istri Dyaus melihat seekor sapi yang sangat elok. Sang istri membujuk Dyaus, suaminya untuk mencurinya dengan bantuan Raja Prithu. Ketujuh Vasu yang lain tidak mengingatkan dan membiarkan saja terjadinya pencurian tersebut. Akan tetapi sapi tersebut ternyata milik Resi Vasistha, dan sang resi tahu bahwa para Vasu telah mencuri sapinya. Kedelapan Vasu kemudian dikutuk harus lahir ke dunia. Para Vasu kemudian mohon maaf dan Resi Vasistha meringankan kutukannya. Tujuh dari Vasu akan bebas dari kelahiran di bumi dalam tahun kelahirannya, sedangkan Vasu Dyaus harus menerima hukuman penuh dan dia di bumi akan disebut Dewabrata, bhakti seorang dewa. Brata bisa berarti bhakti atau janji. Kesalahan 7 Vasu adalah mengetahui pencurian sapi, tetapi tidak mengingatkan dan membiarkan Vasu Dyaus mencurinya. Kesalahan tersebut dapat diperingan sehingga setelah kelahiran di bumi, pada tahun itu juga bisa kembali ke kahyangan. Sedangkan kesalahan Vasu Dyaus adalah mencuri sapi dengan mengikuti keinginan isterinyanya. Sehingga Vasu Dyaus dihukum harus hidupa di bumi sebagai manusia sampai meninggalnya.

Para Vasu minta tolong kepada Dewi Gangga, “Bunda Mandakini, mohon melakukan tindakan kebaikan kepada kami. Kami mohon dilahirkan sebagai putramu, akan tetapi kami ngeri memikirkan untuk hidup di dalam dunia. Oleh karena itu, buang kami ke sungai Gangga, setelah Bunda melahirkan kami. Tindakan tersebut akan membuat kami memenuhi kutukan yang telah diberikan kepada kami. Dewi Gangga menyetujui permintaan para Vasu.

Demikianlah kepiawaian Bhagawan Abyasa dalam mendongengkan kisah-kisah ilahi. Sang Bhagawan sudah menceritakan kisah Raja Prithu Yang Agung dengan Bunda Bumi yang berwujud sapi. Raja Prithu berhasil memakmurkan bumi bagi penduduk dunia, sehingga Bunda Bumi disebut sebagai putri Prithu, Prthvi, Ibu Pertiwi. Kemudian Sang Bhagawan juga sudah menceritakan tentang sapi milik Resi Vasistha yang membuat Raja Kausika berubah hidupnya, menjadi seorang rajarishi dan bahkan akhirnya menjadi Brahmarishi bergelar Resi Wiswamitra. Dan kini, Sang Bhagawan menghubungkan kisah Resi Vasistha dengan sapinya dengan Raja Prithu dan kelahiran Dewabrata. Dan tetap saja Sang Bhagawan bercerita bahwa Air adalah sumber kehidupan semua makhluk di dunia.

Dikisahkan Raja Mahabhishak lahir lagi sebagai Prabu Santanu, salah seorang raja generasi ke sembilan belas dari Dinasti Bharata. Prabu Santanu kawin dengan Dewi Gangga dengan perjanjian bahwa sang raja tidak akan mempertanyakan apa yang dilakukan Dewi Gangga terhadap putra-putranya. Sebanyak tujuh putra lahir dari Dewi Gangga yang kemudian dilemparkan ke sungai. Pada waktu Dewi Gangga melahirkan anak kedelapan, Prabu Santanu, tidak kuat menahan diri, melihat kekejaman istrinya dan bertanya, mengapa hal tersebut dilakukan. Dewi Gangga kemudian menyampaikan kisah para Vasu yang minta tolong kepada dirinya agar mereka tidak usah berlama-lama hidup di dunia. Bayi kedelapan tidak dibuang ke sungai dan harus hidup di dunia dan diberi nama Dewabrata. Kemudian oleh karena Prabu Santanu telah ingkar janji kepada Dewi Gangga, maka dia kembali ke kahyangan meninggalkan sang raja beserta putranya. Sang raja sangat sedih ditinggalkan sang bidadari yang kembali ke surga. Dia sering menggendong sang putra berjalan-jalan di Sungai Gangga.

Prabu Santanu tidak bisa memahami mengapa seorang anak yang dilahirkan Dewi Gangga harus dibuang ke sungai. Kejadian tersebut seakan diulangi dalam kisah Nabi Musa dalam mengikuti Nabi Khidir. Musa telah berjanji tidak akan bertanya tentang tindakan yang diambil oleh Nabi Khidir. Nabi Khidir akhirnya menjelaskan kepada Nabi Musa bahwa dia menghancurkan perahu yang mereka tumpangi karena perahu itu dimiliki oleh seorang yang miskin dan di daerah itu tinggal seorang raja yang suka merampas perahu miliki rakyatnya. Kemudian, Nabi Khidir menjelaskan bahwa dia membunuh seorang anak karena kedua orang tuanya adalah pasangan yang beriman dan jika anak ini menjadi dewasa dapat mendorong bapak dan ibunya menjadi orang yang sesat dan kufur. Kematian anak ini digantikan dengan anak yang shalih dan lebih mengasihi kedua bapak-ibunya. Dalam kejadian yang ketiga, Nabi Khidir menjelaskan bahwa rumah yang dindingnya diperbaiki itu adalah milik dua orang kakak beradik yatim yang tinggal di kota tersebut. Didalam rumah tersebut tersimpan harta benda warisan mereka berdua. Ayah kedua kakak beradik ini telah meninggal dunia dan merupakan seorang yang shalih. Jika tembok rumah tersebut runtuh, maka harta yang tersimpan tersebut akan ditemukan oleh orang-orang di kota itu sedangkan kedua kakak beradik tersebut masih terlalu kecil untuk mengelola peninggalan harta ayahnya. Baca lebih lanjut

Renungan Bhagavatam: Pangeran Rantidewa, Rasa Kasih Terhadap Sesama Makhluk Di Dunia

Dalam Dinasti Bharata ada seorang pangeran bernama Rantidewa. Ia mempunyai kekayaan yang tak terkira, tetapi ia selalu membaginya kepada orang yang membutuhkannya. Di balik materi yang dimiliki Pangeran Rantideva, terdapat rasa kasih yang begitu besar. Semua harta benda yang diberikan kepadanya, dibagikan kepada mereka yang membutuhkannnya. Pangeran Rantideva sudah tidak mempunyai rasa ‘aku’ dan ‘milikku’. Pangeran Rantidewa sudah mengalahkan egonya, jiwanya sudah tidak sakit. Gusti Hyang Maha Kuasa juga menganugerahkan kepadanya istri dan anak-anak yang memahami jiwa sang pangeran.

Dikisahkan ada suatu saat Pangeran Rantidewa pernah sudah tidak mempunyai apa pun juga. Pada saat itu tubuh pangeran Rantidewa sangat lemah. Sudah empat puluh delapan hari sang pangeran tanpa memiliki suatu apa pun. Bahkan tidak ada makanan yang tersedia di depan Pangeran Rantidewa beserta isteri dan anak-anaknya. Yang tersisa pada sang pangeran hanya rasa kepuasan diri setelah membantu mereka yang membutuhkan bantuan.

Pada hari keempat puluh sembilan, dikisahkan sang pangeran memperoleh makanan. Setelah selesai berdoa dan bersiap untuk  makan, seorang brahmana datang meminta makanan. Rantidewa berkata kepada dirinya sendiri, “Hyang Widhi ada di mana-mana dan sekarang Ia telah datang kepadaku meminta makanan. Merupakan kebahagiaan bagi diriku untuk dapat melayani Hyang Widhi di balik wujud sang brahmana.” Dan, sebagian makanan diserahkan kepada tamunya. Kemudian,  isteri dan anaknya mendapatkan sebagian.

Dan, ketika Pangeran Rantidewa mulai makan sebagian dari bagiannya, seorang sudra datang minta makanan. Pangeran Rantideva menyadari bahwa pada dasarnya semua orang adalah Brahman. Manusia dan dunia ini adalah proyeksi dari Brahman. Sejatinya yang ada hanyalah Brahman. Tidak ada yang lain kecuali Brahman. Dan dia memberi bagian makanan miliknya kepada orang sudra tersebut.

Dalam buku “Panca Aksara, Membangkitkan Keagamaan Dalam Diri Manusia”, Anand Krishna, Pustaka Bali Post, 2007 disampaikan bahwa Hyang Widhi selalu memberi, memberi dan memberi…….. Anugerah-Nya berlimpah, seolah Tangan-Nya selalu terbuka untuk memberi dan memberi dan memberi. Kita tidak mampu menghitung pemberian-Nya, berkah-Nya. Ia memberi tanpa menampakkan Diri. Hendaknya kita belajar dari sifat-Nya yang satu ini: Memberi tanpa menampakkan diri, tanpa bergembar-gembor. Tidak perlu publisitas. Berilah karena cinta, karena kasih. Bukan karena pengakuan oleh masyarakat, oleh institusi, ataupun karena anjuran si Fulan. Berilah karena memang memberi adalah sifatmu…………

Setelah sebagian nasi diberikan kepada orang sudra tersebut, dan Pangeran Rantidewa belum sempat makan sisanya, datang pengemis bersama empat anjingnya minta diberi makanan. Rantidewa memberikan semua sisa makanan yang ia punyai dan ia senang karena telah mengurangi rasa lapar dari tamu dan binatang piaraannya.

Dalam buku “Shri Sai Sacharita”, Sai das, Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia, 2010 disampaikan wejangan seorang Sadguru untuk melampaui dualitas……… Makanan yang kauberikan kepada anjing itu telah kuterima. Anjing itupun wujud-Ku, sebagaimana hewan-hewan lain. Ia yang melihat-Ku dalam setiap makhluk adalah kekasih-Ku. Sebab itu lampauilah dualitas yang disebabkan oleh rupa dan nama. Layanilah setiap makhluk hidup, sebagaimana kau melayani anjing itu, karena Aku berada di mana-mana, di dalam diri setiap makhluk. Lihatlah Tuhan dalam diri setiap makhluk inilah non-dualitas. Inilah inti pesan setiap Guru Sejati. Kitab-kitab suci pun mengajarkan kita hal yang sama. Tiada sesuatu yang beda antara ajaran-ajaran yang tertulis dan apa yang disampaikan oleh para Sadguru……….. Baca lebih lanjut

Renungan Bhagavatam: Raja Dusyanta Dan Dewi Shakuntala, Kisah Leluhur Para Pandawa

Raja Dusyanta adalah salah seorang raja bijaksana dari dinasti Puru. Dia dihormati seluruh rakyatnya. Pada suatu kali dalam perjalanan inspeksi di wilayah kerajaannya, sang raja mampir ke ashram Resi Kanwa. Raja Dusyanta bertemu dengan seorang putri cantik yang memperkenalkan diri sebagai putri angkat Resi Kanwa. Shakuntala adalah putri dari Rajarishi Kausika dengan Bidadari Menaka. Rajarishi Kausika melanjutkan pertapaannya untuk mencapai derajat Brahmarishi. Dan, nantinya Sang Rajarishi akan mencapai Brahmarishi bergelar Resi Wiswamitra. Pada suatu hari Menaka harus kembali ke kahyangan dan meninggalkan bayi perempuan kecil di dekat ashram Resi Kanwa, sahabat dari Rajarishi Kausika. Resi Kanwa menemukan bayi perempuan kecil ditemani burung-burung shakunta, maka anak tersebut diberi nama Shakuntala dan diangkat sebagai putri angkatnya.

Raja Dusyanta berbahagia kala mendengar bahwa Shakuntala adalah putri Rajarishi Kausika. Dusyanta melamar sang putri menjadi istrinya dan berjanji putra mereka akan menjadi putra mahkota. Shakuntala meminta agar mereka menunggu kepulangan Resi Kanwa, tetapi sang raja terus mendesaknya. Karena kedua hati telah bertaut, maka mereka mengadakan perkawinan secara gandharwa. Pada masa itu seorang kesatria diperbolehkan kawin secara gandharwa. Setelah beberapa lama, Raja Dusyanta kembali ke istana dengan rasa penuh ketakutan terhadap Resi Kanwa. Ada beberapa senjata yang paling ditakuti orang di masa itu, senjata raja adalah pasukannya, sedangkan senjata resi adalah kutukannya. Resi Kanwa datang setelah Raja Dusyanta pergi. Shakuntala masuk kamar, malu menemui ayah angkatnya. Dengan mata batinnya, sang resi paham apa yang telah terjadi. Sang resi berkata, “Shakuntala, aku tidak marah, aku merestui perkawinanmu. Dusyanta adalah raja besar yang adil bijaksana. Ia raja terbaik. Kamu akan menjadi ibu dari putra yang akan menjadi maharaja agung.”

Tahun demi tahun berlalu, Sarwadamana, sang putra menjadi besar dan nampak aura kewibawaan yang memancar darinya.  Tetapi Dusyanta belum datang juga. Shakuntala merasa waktu berjalan sangat lambat……..

Dalam buku “Si Goblok, Catatan Perjalanan Orang Gila”, Anand Krishna, Koperasi Global Anand Krishna, 2009 disampaikan………. Semua hanyalah permainan pikiran belaka. Orang bisa fokus pada satu waktu kemudian menjadi tidak fokus. Momen waktu menjadi sangat kuat melebihi apa pun. Orang lahir pada satu waktu kemudian mati pada satu waktu juga. Ada saat bahagia dan juga saat sedih. Suatu momen bisa bertahan selamanya, tetapi bisa juga berakhir mendadak. Saat Anda bahagia, banyak yang bilang, waktu berlalu begitu cepat. Saat Anda sedih, waktu seolah-olah merayap bagai siput. Jadi, waktu itu apa? Waktu hanyalah cerminan pikiran Anda, kondisi mental Anda. Kita mungkin hidup di rentang sejarah yang sama, tetapi masing-masing dari kita sebenarnya hidup dalam unit waktunya sendiri. Benar, unit waktu saya bisa jadi berbeda dengan unit waktu Anda. Saya mungkin melewati tahun 2009 ini dengan perasaan sedih, dan Anda mungkin sebaliknya. Waktu bisa saja berlalu begitu lambat bagi saya namun begitu cepat bagi Anda………

Akhirnya Resi Kanwa memanggil Sarwadamana, “Cucuku, dari pihak ibumu kau adalah cucu dari Rajarishi Kausika yang agung, yang penuh semangat meniti ke dalam diri, bahkan meninggalkan tahta, membantu orang yang kesusahan dan dihormati bahkan oleh seluruh dewa. Dari pihak ayahmu, Dusyanta mempunyai garis keturunan dari Raja Puru putra Yayati yang bijaksana. Kamu mempunyai genetika bawaan sempurna sebagai raja, sekarang bawa ibumu menghadap ayahmu. Kau jangan memaksa ayahmu menerima dirimu sebagai putranya. Bila dia belum menerima, jangan paksa, yakinlah ada waktunya dia akan memelukmu memanggilmu putra. Aku segera melakukan samadhi mencoba menghubungi kakekmu yang masih bertapa. Dia akan membantumu dari jauh. Yakinlah.”

Shakuntala kemudian menurut saja digandeng sang putra menuju istana. Sang putra berkata, “Ibu aku telah dipesan kakek, sebaiknya ibu menceritakan kisah sebenarnya kepada ayahanda. Setelah itu jangan menangis. Diterima atau tidak diterima ayahanda adalah urusan Gusti. tetapi masalah ini harus terselesaikan. Sehingga arah hidupku menjadi jelas menjadi putra raja atau mengikuti kakek menjadi seorang pertapa.” Sepanjang perjalanan semua orang memperhatikan mereka dengan penuh penghormatan. Seorang ibu muda yang anggun bak dewi kahyangan dengan putra yang tampan dan memancarkan aura kewibawaan. Wajah sang putra tidak asing bagi mereka, itu adalah wajah raja Dusyanta.

Sampai di istana mereka melihat sang raja sedang duduk di singgasana. Sang putra segera mengajak sang ibunda bersujud menghormati Gusti yang mewujud sebagi raja. Shakuntala kemudian mengingatkan sang raja tentang kejadian sewaktu sang raja berkunjung ke rumah Resi Kanwa, “Demikian Paduka Raja Dusyanta, ini adalah putramu hasil paduan kasih dari kita berdua.” Sang Raja kaget, dan tegang luar biasa, “Tidak, aku tidak ingat benar siapa engkau, nampaknya kita pernah bertemu tetapi aku lupa.” Kelemahan dari perkawinan gandharwa adalah tidak adanya saksi atas perkawinan tersebut. Raja Dusyanta bingung, bagaimana dia dapat memberi pemahaman kepada para menterinya tentang kejadian tersebut. Siapa yang dapat membuktikan bahwa remaja tersbut adalah benar-benar putranya? Ini adalah masalah besar bagi kerajaan. Begitu diakui, maka otomatis sang remaja menjadi putra mahkota. Yang tahu betul putra siapa adalah ibunya, tetapi apakah ibunya dapat dipercaya atau tidak? Dan Dusyanta kebingungan……. Baca lebih lanjut

Renungan Bhagavatam: Puru Putra Yayati, Kebesaran Jiwa Seorang Putra Raja

Raja Yayati mengalami ketuaan karena kutukan Resi Sukra yang tersinggung karena sang raja yang sudah menjadi menantunya mengabaikan nasehat sang resi untuk tidak menikahi Sarmishta. Resi Shukra menyatakan bahwa penyakitnya bisa sembuh bila ada salah seorang putranya yang sanggup menukar kemudaannya dengan ketuaan sang raja. Raja Yayati kemudian mendatangi para putranya. Pertama Yayati mendatangi Yadu putra sulung hasil perkawinannya dengan Dewayani. Yadu berkata, “Ayahanda, aku ingin melaksanakan tugas sehari-hari dengan baik. Apa yang akan terjadi saat rambutku memutih dan tenagaku lemah? Umur tua tidak menyenangkan Ayahanda dan aku tidak mau bertukar usia dengan Ayahanda!” Kemudian Yayati mendatangi Turvasu, putra keduanya. Turvasu berkata, “Tidak Ayahanda, aku tidak ingin umur tua menghilangkan kekuatanku dan ketampananku!” Yayati kemudian mendatangi Druhyu dan Anu, putra sulung dan putra kedua dari perkawinannya dengan Sarmistha. Akan tetapi keduanya juga menolak menukar usia mudanya dengan usia tua ayahandanya. Ketika Yayati mendatangi putra bungsu dari perkawinannya dengan Sarmistha, dia sudah siap menerima penolakannya dan berupaya akan menerima usia tuanya dengan sebaik-baiknya.

 

Raja Yayati menemui Puru, putra bungsunya. Sang raja menceritakan semua kejadian yang telah menimpanya sejak pertemuannya dengan Dewayani dan Sarmishta, sampai dirinya dikutuk oleh Resi Sukra menderita penyakit tua dan hanya akan kembali muda bila ada seorang putranya yang sanggup menukar usia mudanya dengan ketuaan dirinya. “Putraku aku telah menjelaskan semuanya kepadamu, agar kamu dapat menarik hikmah dari kejadian yang telah kualami.” Tidak ada yang perlu disesali, semuanya sudah terjadi, yang penting tidak diulangi. Keinginan-keinginan duniawiku membuat siklus hidupku semakin panjang. Aku tidak begitu berhasrat lagi untuk memintamu menggantikan diriku menerima kutukan Resi Sukra. Aku akan menerimanya dan sisa waktuku yang lebih sedikit akan kugunakan untuk bertapa.”

 

Puru berkata, “Ayahanda, keempat kakakku menolak menukar usia mudanya dengan ketuaan Ayahanda dan mereka juga telah kau tolak sebagai putra mahkota. Diriku pun masih terlalu muda untuk menjadi penggantimu bila ayahanda pergi bertapa. Demi ibunda, demi ayahanda, demi kerajaan ini aku merelakan usiaku menjadi tua, kuterima tugas menggantikan diri Ayahanda untuk menjalani kutukan. Semoga ayah dapat memperoleh seorang putra lagi untuk menjadi putra mahkota. Semoga ayah menyelesaikan tugas-tugas yang masih tertunda……” Jawaban Puru membuat Raja Yayati kaget, terharu dan butir-butir air matanya bercucuran.

 

Puru masih remaja dan belum banyak mengenal shastra, buku-buku suci. Akan tetapi Puru dengan tulus mengikuti suara hatinya. Tak ada rasa takut, tak ada penyesalan di dalam hatinya. Puru bahagia melihat ayahandanya bahagia, kemudian ibundanya akan berbahagia dan seluruh rakyat pasti akan berbahagia pula, karena masih mempunyai raja yang kuat. Tanpa disadari dalam diri Puru sudah bangkit “Rasa Kasih”. Dalam buku “Menyelami Samudra Kebijaksanaan Sufi”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan………. Cinta adalah jalan, sekaligus tujuan. Kasih adalah penuntun yang mengantar kita ke tujuan akhir kita. Dan tujuan akhir itu adalah kasih pula, cinta juga………… Tujuan hidup ini apa? Lahir, dibesarkan oleh orang tua, meraih pendidikan, bekerja, bekerluarga, banting tulang bagi orang lain, lantas pada suatu hari ajal tiba dan Malaikat Maut datang menjemput kita. Apakah hidup ini bertujuan? Anda boleh-boleh saja menetapkan tujuan-tujuan ilusif. Anda boleh-boleh saja membayangkan suatu tujuan. Setiap tujuan yang Anda bayangkan, tanpa kecuali, pada akhirnya toh akan mengantar Anda ke liang kubur. Rabiah tidak berbicara tentang tujuan. Ia sedang memberikan “makna” pada kehidupannya. Pada saat kita lahir, Keberadaan Allah Yang Maha Kuasa memberikan selembar kertas kehidupan yang masih kosong. Apa yang akan Anda tulis di atas kertas ini sepenuhnya menjadi pilihan Anda. Anda bisa saja memilih untuk tidak menulis sesuatu apa pun. Anda bisa saja membiarkan lembaran itu tetap kosong. Anda bisa juga mengisinya dengan coretan-coretan yang tidak berguna. Ramai, tetapi tidak berarti sama sekali. Anda bisa mengisi kehidupan Anda dengan selusin mobil, setengah lusin rumah, sekian banyak deposito, beberapa anak dan sebaiknya dan sebagainya. Anda bisa pula mengisinya dengan beberapa ijazah, beberapa penghargaan, jabatan-jabatan tinggi dan sebagainya dan sebagainya. Rabiah sedang mengisi lembaran kehidupannya dengan Cinta, dengan Kasih Allah. Ia memenuhi lembaran kehidupannya dengan kasih Allah. Ia tidak menyisihkan sedikitpun tempat untuk sesuatu yang lain, di luar Allah. Rabiah bukan seorang cendikiawan. Seorang cendikiawan tidak bisa menjadi Rabiah. Seorang cendikiawan akan berusaha memahami Tuhan. Seorang Rabiah akan menyelami Tuhan. Seorang cendikiawan menggunakan egonya untuk mengkonsepkan Tuhan. Seorang Rabiah akan meleburkan egonya, dan melepaskan segala macam konsep…….. Baca lebih lanjut

Renungan Bhagavatam: Raja Yayati, Antara Putri Brahmana Dan Putri Raja Asura

Resi Sukra adalah Guru dari Raja Asura Varsaparwa. Dewayani putri Resi Sukra berteman dengan Sarmishta putri Raja Varsaparwa. Pada suatu hari mereka dengan beberapa temannya mandi di sungai. Mendadak angin besar bertiup yang membuat pakaian mereka mulai terbang. Para gadis segera naik ke pinggir sungai mengejar pakaiannya dan segera pulang sambil berlari. Tanpa sadar Dewayani bertukar baju dengan Sarmistha. Kemudian terjadilah keributan, Dewayani menganggap Sarmishta tidak sopan karena seorang asura mengapa berani memakai pakaian putri seorang brahmana. Padahal sang brahmana, Resi Sukra adalah Guru dari raja asura. Karena dibimbing Resi Sukralah  maka kaum asura menjadi jaya. Sarmishta tidak menerima Dewayani menghina ayahandanya dengan mengatakan, bahwa bagaimanapun ayahnyalah yang memberi makan sang resi, sehingga sang resi dapat diibaratkan sebagai seorang pengemis. Mereka adu mulut, dan karena angin bertambah besar Sarmistha berlari duluan pulang. Sedangkan Dewayani yang berlari dalam keadaan angin yang bertiup semakin kencang, kemudian  terperosok masuk ke dalam sumur.

 

Pada hari itu Raja Yayati putra Raja Nahusa sedang berburu. Dan, tanpa sadar sang raja  mengendalikan kudanya menjauh dari rombongannya. Ketika sampai pada sebuah sumur, dia mendengar suara perempuan terisak-isak. Ditolongnya perempuan cantik tersebut yang mengenalkan diri sebagai Dewayani, putri Resi Sukra. Ketika sang raja mau pergi, Dewayani menangis. Dewayani mengatakan bahwa dia adalah seorang perawan dan sang raja telah menolongnya keluar sumur dengan memegang tangan kanannya. Sudah seharusnya sang raja menjadi suaminya. Raja Yayati bingung, Resi Sukra adalah seorang mahaguru yang dihormati tiga dunia. Raja Asura Varsaparwa, dirinya sebagai raja manusia dan Indra sebagai  raja dewa pun menghormati Resi Sukra. Sang raja berkata bahwa dia tidak berani menjadi suami Dewayani sebelum Resi Sukra mengizinkannya. Sang Raja takut apabila Resi Sukra tidak berkenan dia akan terkena kutukannya………

 

Ketika Sarmishta melaporkan kejadian keributan antara dirinya dengan Dewayani kepada ayahnya, ayahnya khawatir Resi Sukra tidak akan berkenan menjadi guru para asura lagi. Kemudian raja Varsaparwa mengajak Sarmistha beserta seribu dayangnya diajak mendatangi rumah Resi Sukra. Pada waktu itu Dewayani juga sedang melaporkan kejadian adu mulut dengan Sarmistha kepada Resi Sukra. Sang raja berkata kepada Dewayani, “Kekuatanku dan kekayaanku diperoleh atas bantuan Resi Sukra. Asura yang mati dalam peperangan dihidupkan kembali oleh sang resi sehingga asura mengalami kejayaan. Perintahkan kepadaku apa yang harus kulakukan agar Resi Sukra tetap menjadi mahaguru kaum Asura.”

 

Selanjutnya, Dewayani meminta agar Sarmishta beserta seribu dayangnya menjadi pelayan Dewayani dan mengikuti kemana pun dia pergi. Ketika Sarmishta ditanya ayahandanya mengenai kesanggupannya dalam  menjalani perintah Dewayani, Sarmishta berkata, “Sudah sewajarnya seseorang yang mendapat masalah harus mencari jalan keluar penyelesaiannya. Akan tetapi pengorbanan ini dilakukan demi seorang raja yang kebetulan menjadi ayahnya dan juga demi rakyat di kerajaan ayahandanya. Saya patuh pada permintaan Dewayani.” Sejak saat itu Sarmishta dan seribu dayangnya menjadi pelayan Dewayani.

 

Dewayani berpikir bahwa menjadikan Sarmistha sebagai pelayannya akan menyenangkan dirinya. demikian pula kita semua yang mempunyai keinginan untuk membahagiakan diri kita. Dalam buku “Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan……… Obyek pencarian kita tampak beragam. Ada yang mencari uang. Ada yang mencari jodoh. Ada yang mencari kedudukan. Ada yang mencari ketenaran. Tetapi, bila ditarik benang ke belakang, apa pun yang kita cari semata-mata untuk membahagiakan diri. Yang sedang mencari uang berpikir bahwa uang bisa membahagiakan dirinya. Yang mencari jodoh berpikir bahwa jodoh dapat membahagiakan dirinya. Begitu pula dengan mereka yang sedang mencari kedudukan dan ketenaran……….. Baca lebih lanjut

Renungan Bhagavatam: Nahusa, Taubat Adalah Perjuangan Kembali Ke Jalan Ilahi

Pururawa mempunyai Putra bernama Ayu. Dan Nahusa adalah putra Ayu yang menggantikan tahta sebagai raja. Nahusa adalah seorang raja yang baik dan bijaksana. Kekayaannya tak terukur dan wilayah kekuasaanya sangat luas. Nahusa melakukan beberapa yajna dan sudah dianggap setara dengan Indra.

Pada saat Indra membunuh Brahmana Asura Visvarupa yang pernah membantu para dewa, hanya karena sebagai asura dalam pemujaannya mendahulukan asura daripada dewa, maka Indra telah melakukan Brahmahatya, pembunuhan brahmana. Dikisahkan Indra berbagi akibat kesalahan membunuh seorang brahmana kepada tanah, air, pohon dan wanita. Karena itu sebagian tanah menjadi gurun, sebagian pohon mengeluarkan getah yang dilarang diminum, sebagian air saat menjadi gelembung tidak dapat dimanfaatkan, dan wanita tak tersentuh saat periode datang bulannya. Selanjutnya pada saat Indra membunuh Vritra seorang brahmana asura titisan dari Raja Chitraketu yang berjiwa besar, maka kesalahan Indra sangat besar. Bumi tidak lagi sanggup menanggung kesalahan Indra seperti kala membunuh Visvarupa. Para resi menyampaikan kepada Indra, bila dia melakukan ritual Aswamedha maka kekhawatiran akan hilang. Apalagi Indra membunuh demi kebaikan. Dikisahkan bahwa Brahmahatya seakan-akan mengejar-ngejar Indra untuk membalas dendam dan Indra sangat menderita karena perasaan tersebut. Indra melarikan diri dan masuk Danau Manasa yang dijaga oleh Laksmi dan Brahmahatya tidak bisa mendekati danau tersebut. Selama seribu tahun Indra berlindung di danau Manasa dan Indra kemudian melakukan tapa selama seribu tahun di Danau Manasa. Setelah melakukan tapa penebusan dosa selama seribu tahun, Indra akhirnya dibersihkan dari Brahmahatya dan dipanggil ke surga oleh Brahma. Selama ketidakhadiran Indra, Raja Nahusa telah diminta para dewa untuk memerintah para dewa di surga seperti halnya Indra.

Dengan  berjalannya waktu, Nahusa menjadi angkuh. Ia menyimpang dari kebenaran karena mulai mabuk dengan kekuasaan. Selama Nahusa menjadi caretaker Indra dia dihormati dan pergi ke mana pun selalu memakai tandu yang dipanggul para resi. Dan, Nahusa lupa bahwa para resi menghormati pada statusnya sebagai pejabat sementara Raja Dewa. Nahusa mabuk kekuasaan. Bahkan dia mulai berkeinginan mengambil Saci, istri Indra sebagai istrinya. Dia menyuruh para resi memanggul tandu menuju tempat Saci. Nahusa tidak sabar dengan jalannya para resi dia berkata, “Lebih cepat, lebih cepat, Sarpa, Sarpa!”

Resi Agastya mengetahui apa yang ada dalam pikiran Nahusa, dan segera menghentikan tandu dan berkata. “Kamu tidak mengetahui apa yang sedang kamu katakan dan apa yang akan kamu lakukan. Kamu akan menjadi sarpa, bukan sarpa yang dapat bergerak untuk mendapatkan makanannya. Akan tetapi, kamu akan menjadi ular sanca yang harus menunggu makanannya datang. Kamu akan berada di hutan Dwaitavana, hutan dualitas selama ribuan tahun!” Ketika dikutuk Resi Agastya, Nahusa dibersihkan dari keangkuhannya dan kemudian dengan kerendahan hati Nahusa berkata, “Aku layak mendapat hukuman yang lebih buruk. Mohon berkahi diriku!” Resi Agastya sadar bahwa semuanya harus terjadi, dia hanyalah “Alat” dari Gusti Yang Maha Kuasa. Resi Agastya berkata, “Kutukan tidak dapat ditarik. Kamu akan lepas dari kutukan pada zaman Dwapara Yuga. Dalam garis keturunanmu akan ada kesatria agung bernama Yudistira. Ia merupakan “amsa” dari Dharma. Ia akan melepaskanmu dari kutukan dan pikiranmu menjadi jernih kembali. Dan, kamu akan kembali ke surga.

Resi Agastya, salah seorang Chiranjiwin, yang dikaruniai usia panjang, dikenal di tanah air sebagai Rama Semar, sadar bahwa dirinya hanyalah alat Hyang Maha Kuasa. Manusia pun perlu menyadari bahwa dirinya hanyalah alat Hyang Maha Kuasa. Baca lebih lanjut