Renungan Bhagavatam: Kematian Ajamila Dan Kekuatan Nama Ilahi

Setelah mendengar kisah Raja Bharata dan sebelumnya kisah Puranjana, Parikesit bertanya kepada Resi Shuka putra Abhiyasa, mengapa fokus dan obsesi seseorang sesaat sebelum meninggal mempunyai pengaruh besar terhadap kehidupan berikutnya. Resi Shuka menjawab bahwa selama masih ada mind yang terkondisi, maka mind tersebut tersebut masih ingin menyelesaikan obsesi-obsesi yang belum diraihnya. Biasanya sebelum meninggal, seseorang terobsesi ataupun memikirkan  penyesalan terhadap tindakan dalam kehidupannya, dalam keluarganya, atau dalam pekerjaannya dan lain sebagainya yang belum diselesaikan atau dikerjakannya dengan benar. Oleh karena itu orang tersebut dilahirkan lagi untuk menyelesaikan obsesi dan hutang piutangnya. Para suci mengajari manusia dalam keadaan kritis untuk berpikir tentang Gusti, tentang Allah, tentang Narayana agar dia mencapai Tuhan. Kemudian Resi Shuka putra Abhiyasa menyampaikan kisah tentang cara termudah untuk melepaskan diri dari jerat duniawi yang membuat manusia terikat dalam maya yang menyebabkan penderitaan dan kesenangan tak ada habisnya. Resi Shuka berkata, “Mengucap nama Gusti dengan tulus akan menyelamatkan manusia dari semua marabahaya.”

 

Dalam buku “Shri Sai Sacharita”, Sai das, Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia, 2010 disampaikan………. Aku memenuhi keinginan setiap orang yang mengucapkan nama-Ku dengan tulus, dan meningkatkan kesadaran Kasih di dalam dirinya. Siapapun yang mengagungkan kisah kehidupan-Ku dan ajaran-Ku, akan kulindungi dari segala macam mara bahaya. Para bhakta, para penyembah yang telah berserah diri, dan menyerahkan hati dan jiwanya kepada-Ku sudah pasti bahagia ketika mendengar dan membaca kisah kehidupan-Ku…..… Yakinilah setiap kata yang Kukatakan, mereka yang menyampaikan dan menyebarkan kisah kehidupan-Ku ini akan memperoleh kepuasan diri yang tak terungkapkan lewat kata-kata, kebahagiaan yang mereka rasakan sungguh luar biasa! Setiap orang yang memuja-Ku dengan penuh keyakinan, dan berserah diri dengan pikirannya terpusatkan kepada-Ku sudah pasti meraih kebebasan sempurna, ini adalah janji-Ku, ini pula sifat-Ku. Mereka yang senantiasa mengingat-Ku, tak pernah tergoda oleh rayuan dunia benda. Aku membebaskan mereka dari kebendaan, dan kematian. Orang sakit yang mendengar cerita-cerita ini akan terbebaskan dari penyakit. Sebab itu, hendaknya kisah-Ku ini didengar dan disebarkan dengan penuh keyakinan. Inilah jalan menuju kebahagiaan abadi dan kepuasan diri. Hanya dengan membaca dan mendengar kisah kehidupan-Ku, para panembah terbebaskan dari rasa angkuh yang mencelakakan. Bila mereka lakukan itu dengan penuh keyakinan dan dengan pikiran yang terpusatkan, maka mereka akan menyatu dengan Kesadaran Murni, Kesadaran Semesta……..

 

Resi Shuka melanjutkan dengan menceritakan kisah tentang kematian Ajamila. Adalalah seorang Brahmana berbama Ajamila di negeri Kanyakubja. Dilahirkan di keluarga brahmana dan menjalankan hidup sebagai brahmana yang taat di waktu muda, pada suatu saat Ajamila telah kehilangan semua kebaikannya. Dia hidup bersama dengan seorang wanita nakal. Karena menuruti pasangannya, Ajamila menjadi tamak, kejam, suka menipu sehingga dibenci oleh semua orang…….. Waktu berlalu dan Ajamila menjadi tua, dia telah mempunyai sepuluh putra dari wanita pasangannya tersebut dan yang termuda diberi nama Narayana. Narayana adalah anak yang dikasihi oleh ayah dan ibunya. Narayana selalu berada dalam pikiran Ajamila. Selagi makan ia akan memanggil Narayana terlebih dahulu, apakah sang putra sudah makan atau belum. Manakala Ajamila minum, ia akan menawari sang putra terlebih dahulu. Dengan kecintaannya terhadap putra bungsunya, Ajamila tidak menyadari bahwa kematian sangat dekat dengannya. Kala kematian sudah di depan mata, dia teringat putranya dan dipanggilnyalah sang putra dengan penuh kasih, “Narayana kemarilah! Narayana!” dan kemudian Ajamila tak ingat apa-apa lagi. Baca lebih lanjut