Renungan Bhagavatam: Keangkuhan Indra Dan Pengorbanan Resi Dadhici


Dikisahkan, beberapa waktu setelah menjadi raja para dewa, Indra berubah menjadi angkuh. Saat itu Indra duduk dengan Saci, sang istri di sampingnya dan sedang mendengarkan nyanyian para gandharwa dan menikmati tarian para apsara. Seluruh dewa dari empat penjuru menghormatinya. Brihaspati Agung, guru para dewata datang ke istana dan Indra tidak bangun untuk menghormati gurunya. Brihaspati kemudian merasa tidak berhasil mendidik muridnya dan segera meninggalkan  istana. Sesaat kemudian Indra sadar dan segera mencari gurunya, akan tetapi tidak berhasil menemukannya. Brihaspati bahkan tidak berada di ashramnya.

 

Dalam buku “Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2005 disampaikan…… Kesadaran kita mengalami kemerosotan karena adanya rasa angkuh, karena ke”aku”an. Kesadaran dan ke”aku”an seolah berada pada dua ujung yang tak pernah bertemu, tak akan bertemu. Di mana ada ke”aku”an, di sana tidak ada kesadaran. Di mana ada kesadaran, di sana tak ada lagi ke”aku”an, keangkuhan………

 

Dalam buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan……. Banyak orang khususnya para “pakar” menyalahpahami “Aku” sebagai ego. Ego adalah mind. “Aku” adalah Kesadaran Murni. Ego akan membuat Anda angkuh, sombong, arogan. “Aku” adalah jati diri Anda sendiri. Kesadaran Murni justru melembutkan jiwa. “Aku” adalah Kesadaran murni yang melembabkan jiwa. Kemudian dengan jiwa berlembab itu, Anda mengenal Kasih, dan mengasihi setiap orang sebagaimana mengasihi diri sendiri……..

 

Kabar menyebar begitu cepat, dan mengambil keuntungan dari keadaan Indra yang ditinggalkan gurunya, para Asura murid dari Sukracharya segera menyerang istana para dewa. Dan, Indra beserta para dewa dikalahkan. Para dewa kemudian berlindung kepada Brahma yang menyarankan agar Indra minta Asura Visvarupa, putra Tvasta untuk membantu mereka. Indra dan para dewa kemudian mendatangi Visvarupa yang lebih muda dibanding dengan Indra untuk membantu mereka. Visvarupa mengatakan bahwa peran guru tidak baik bagi Asura seperti dirinya, karena akan meningkatkan egonya. Akan tetapi memenuhi permintaan orang yang membutuhkan pertolongan adalah sebuah dharma, maka akhirnya dia menyanggupi Indra untuk membantu para dewa. Visvarupa memberikan Indra  baju pelindung besi yang kuat bernama “Narayana Kavacha”. Para dewa juga diajari membaca mantram suci kavacha, “Om Namo Narayanaya”. Setiap bagian tubuh, diliputi pikiran dan perasaan yang terfokus terhadap Narayana, sehingga jiwanya dilindungi oleh Narayana. Dengan baju pelindung besi tersebut, maka Indra dapat mengusir para Asura dari istana para dewa.

 

Dalam buku “Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan”, Gramedia Pustaka Utama  2002 disampaikan perbedaan tentang sifat mulia, divine, divya, dewa dan sifat tidak terpuji, asura, demonic…….. Krishna menjelaskan: Tidak takut, kemuliaan jiwa, teguh dan tekun dalam meditasi, memberi bantuan kepada mereka yang membutuhkannya, pengendalian diri, ketulusan hati. Tidak menyakiti siapa pun, kebenaran, tidak adanya amarah, ketentraman, kasih kesederhanaan, tak tergoyahkan. Memaafkan mereka yang bersalah, tidak adanya rasa benci terhadap siapa pun, tidak sombong, dan lain sebagainya – merupakan sifat-sifat yang mulia (divine). Keangkuhan, kemunafikan, amarah, ketidaktahuan, dan lain sebagainya, merupakan sifat-sifat yang tidak terpuji (demonic, asuric). Memang ada dua jenis manusia dalam dunia ini. Mereka yang bersifat mulia telah kujelaskan dengan panjang lebar. Sekarang dengarkan tentang mereka yang memiliki sifat yang tak terpuji. Mereka yang memiliki sifat tak terpuji tidak dapat memilah mana yang baik dan mana yang tidak baik. Mereka menganggap alam ini tanpa basis Ketuhanan dan mengira kehidupan berasal dari nafsu birahi. Demikian mereka tidak meyakini keberadaan “Sang Aku”. Dengan pemahaman yang salah seperti itu, tindakan-tindakan mereka akan merugikan seluruh umat manusia. Penuh dengan segala macam keinginan, kemunafikan, keangkuhan, dan kesombongan, mereka berperilaku tanpa rasa peduli terhadap lingkungan, makhluk hidup, dan lain sebagainya. Mereka menganggap pencapaian keinginan-keinginan duniawi sebagai tujuan hidup dan selalu mengharapkan sesuatu. Demikian, dengan cara apa pun mereka akan mengumpulkan harta-benda, guna memuaskan nafsu mereka. Mereka ingin memiliki semuanya, untuk selama-lamanya. Mereka gila akan kekuasaan dan selalu terlibat dalam aksi penindasan kalangan di bawah mereka. Kekayaan dan harta -benda duniawi membuat mereka lupa daratan. Mereka menyombongkan diri mereka sebagai penolong, pemberi sedekah, dan penyumbang. Mereka sebenarnya tidak sadar, tersesat, dan pada akhirnya selalu menderita. Apabila mereka melakukan persembahan, itu pun dengan tujuan dan untuk memamerkan kekuasaan mereka. Mereka tidak peduli akan “Sang Aku” yang bersemayam dalam diri mereka dan dalam diri setiap makhluk……..

 

Demikian beberapa pandangan Bapak Anand Krishna untuk meningkatkan kesadaran manusia. Bapak Anand Krishna mengapresiasi semua agama, akan tetapi beliau tidak memakai atribut agama. Beliau menggunakan atribut sebagai manusia untuk meningkatkan kesadaran manusia. Sayang pandangan beliau tidak disukai oleh beberapa kelompok tertentu……

Silakan lihat…..

http://www.freeanandkrishna.com/in/

 

Sejatinya Visvarupa adalah seorang Asura, maka dalam suatu upacara persembahan dia mendahulukan keperluan asura lebih dahulu daripada para dewa. Indra yang emosional langsung membunuh Visvarupa. Akan tetapi kembali Indra sadar dan menyesal telah membunuh seorang brahmana yang bahkan telah membantu dirinya. Kemudian Indra membagi akibat kesalahan membunuh seorang brahmana kepada tanah, air, pohon dan wanita. Karena itu sebagian tanah menjadi gurun, sebagian pohon mengeluarkan getah yang dilarang meminumnya, sebagian air saat menjadi gelembung tidak dapat dimanfaatkan, dan wanita tak tersentuh saat periode datang bulannya.

 

Agak sulit juga memahami Indra, Raja Dewa, yang sering melakukan kesalahan. Yang jelas dalam buku tebal Srimad Bhagavatam, belum ada satu penjelasan pun bahwa Indra mencapai keabadian. Perannya menjadi Spesialis Dewa.  Padahal Raksasa Jaya dan Wijaya sudah lahir kedunia tiga kali sebagai pasangan Hiranyaksa-Hiranyakasipu, Rahwana-Kumbakarna, Sisupala-Dantavakra, yang membenci Tuhan, Narayana, akan tetapi pada akhirnya telah mencapai kaki Narayana. Demikian pula Kamsa yang takut dengan Tuhan, Narayana, sehingga membunuh anak-anak Dewaki-Vasudewa dan selalu berusaha mencelakai Sri Krishn,a malah sudah mencapai kaki Narayana. Demikian pula Asura Vritra yang telah melepaskan dualitas dengan menguasai pengetahuan Brahmawidya telah mencapai Narayana.

 

Tvasta sangat marah melihat anaknya dibunuh oleh Indra dan melakukan upacara persembahan untuk menciptakan musuh Indra berupa asura tinggi besar bersenjata trisula yang bernama Vritra. Vritra memimpin para asura menyerang istana para dewa. Vritra tak dapat dibunuh oleh senjata kayu maupun logam lainnya. Para dewa kewalahan dan mendatangi Narayana. Narayana meminta para Dewa mendatangi resi Dadhichi. Dhadhici adalah putra Brahmana Atharvana dengan istri Chitti putri dari Kardama. Dadhici telah mengajar Brahmawidya kepada Dewa Aswin kembar, sehingga dia diberikan hidup keabadian. Dadhichi juga telah memberikan baju pelindung besi “Narayana Kavacha” kepada Tvasta. Tvasta memberikan baju tersebut kepada Visvarupa dan Visvarupa memberikan baju pelindung tersebut kepada Indra. Dadhichi sangat kuat tapanya dan selalu membaca mantra kavacha, sehingga tulangnya menjadi sangat kuat. Dadhici sangat menghormati Shiva, sehingga ketika dia tahu Shiva tidak diundang dalam upacara persembahan oleh Daksha, dia adalah resi pertama yang menolak undangan Daksha. Narayana memberi nasehat kepada para dewa agar minta Dadhici merelakan tulangnya dijadikan senjata Indra untuk melawan Vritra.

 

Para dewa bersimpuh di hadapan Resi Dadhici, “Paduka Resi adalah manusia agung penuh rasa kasih kepada mereka yang sedang menderita. Hanya jika seseorang tidak dapat menyelesaikan masalahnya sendiri maka dia akan mohon bantuan. Kami sadar bahwa permohonan kami tidak pantas dan terasa sangat kejam, tetapi  menurut Gusti Narayana, hanya hal ini yang dapat menyelamatkan para dewa.” Resi Dadhici segera menutup mata, larut dalam keheningan, dan beberapa saat kemudian menghela napas panjang, “Kematian adalah hal yang paling tidak disukai, bahkan bagi manusia yang paling tenang sekali pun.  Sekalipun Narayana sendiri yang memintanya, manusia mengalami kesulitan untuk menyerahkannya. Apalagi bagiku yang telah diberi keabadian. Bagaimana pun, kalian telah mengingatkan diriku, bahwa seseorang tidak dapat mencapai dunia yang lebih tinggi ketika menolak “swadharma”-nya. Seorang manusia yang dapat membantu kebaikan tetapi diam saja sama halnya dengan sebatang pohon. Ribuan tahun mendatang, akan kalian temukan banyak manusia yang diam saja melihat ketidakadilan, diam saja walau diberi kesempatan untuk melakukan dharma.  Bahkan sekedar bersuara saja diurungkannya. Mereka mempunyai otak, tetapi diam seperti pohon”……… Resi Dadhichi berhenti sejenak, menutup matanya dan kemudian membuka matanya seraya berkata, “Baru saja Gusti memenuhi diriku dengan semangat pengabdian. Aku rela menyerahkan tulangku ini kepada Indra. Tulangku ini berguna bagi kebajikan. Tulangku akan menjadi alat dharma yang abadi. “

 

 

Resi Dadhici menitikkan air mata, hatinya hanya tertuju pada Narayana, “Apa yang dapat kami persembahkan Gusti? Pada hakikatnya segalanya adalah milik Gusti. Biarlah tulang yang diamanahkan pada diriku ini memberi andil bagi kebajikan. Aku rela, aku ikhlas…… Gusti.” Indra dan seluruh dewa terharu,  suara terisak-isak memenuhi ruangan.  Dinding-dinding, lantai dan atap bergetar, suara Resi Dadhici disimpan oleh mereka.  Peristiwa agung tersebut direkam oleh alam. Ternyata ada manusia yang berjiwa begitu agung……… Suara Resi Dadhici adalah suara Dia yang bersemayam dalam hati sang resi. Resi Dadhici melakukan yoga dan memfokuskan semua pikirannya kepada Narayana, dan jiwanya meninggalkan raga mencapai Narayana.   Visvakarma arsitek para dewa membentuk tulang kuat Dadhici sebagai Vajra, senjata Indra.

 

Dalam buku “Menyelami Samudra Kebijaksanaan Sufi”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan…….. Pencerahan menuntut pengorbanan. “aku” yang kecil ini harus melebur, menyatu dengan “Aku” Semesta. Niat kita, hasrat kita, kesiapan diri kita merupakan modal utama. Apabila Anda siap terjun ke dalam api penyucian, Ia Yang Maha Esa akan mempersiapkan api itu bagi Anda. Apabila Anda siap meleburkan ego Anda, Ia Yang Maha Kuasa pun siap untuk menerima Anda. Allah, Tuhan, Widhi menggunakan berbagai cara untuk menguji kesiapan diri Anda. Semesta ini bagaikan unversitas terbuka, dimana Anda sedang menjalani program, sedang mempelajari seni kehidupan. Bukan hanya mereka yang menyenangkan hati Anda, tetapi juga mereka yang melukai jiwa Anda, yang mencaci Anda, yang memaki Anda, sebenarnya diutus oleh Kebenaran untuk menguji kesiapan diri Anda. Pasangan Anda, istri Anda, suami Anda, orang tua dan anak dan cucu Anda, atasan dan bawahan Anda, mereka semua adalah dosen-dosen pengajar. Mereka yang melacurkan diri demi kepingan emas dan mereka yang melacurkan jiwa demi ketenaran dan kedudukan, mereka semua adalah guru Anda. Anjing jalanan dan cacing-cacing di got, lembah yang dalam, bukit yang tinggi dan lautan yang luas, semuanya sedang mengajarkan sesuatu…….

 

Dadhichi dianggap dalam Purana sebagai salah satu leluhur manusia yang terkenal karena pengorbanan dirinya demi pembebasan penderitaan dari kelompok yang bersifat asura, manusia yang baru setengah jadi. Dalam sejarah umat manusia selalu saja ada manusia agung yang rela mengorbankan dirinya demi pembebasan penderitaan manusia dari kelompok Asura. Dan itu dimulai dari pengorbanan Resi Dadhici………

 

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Juli 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: