Renungan Bhagavatam: Pertarungan Antara Dewa Indra Dan Asura Vritra


Pertempuran antara Indra dengan para dewa melawan Vritra dengan para asura berlangsung sangat seru. Para dewa tidak mempan dilukai oleh senjata asura, mereka seperti manusia baik yang tahan dan tidak terluka oleh kata-kata para manusia picik. Para dewa unggul dalam pertempuran dan para asura melarikan diri dari pertempuran. Melihat penurunan moril anak buahnya Vritra berteriak dengan keras, “Kematian adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Sekali kamu dilahirkan, maka kamu pasti mati. Kematian datang dengan berbagai bentuk, dan tidak dapat dihindari. Manakala masalahnya seperti itu, kematian karena membawa kebenaran dan nama baik membawa akibat yang baik di kehidupan kemudian. Keinginan banyak orang adalah mati dalam keadaan yoga, akan tetapi pada waktu kalian melarikan diri dari perang, kematian bisa mendatangi kalian selagi berada dalam keadaan memalukan dan fokus terakhir sebelam kematian adalah melarikan diri, sehingga kalian akan lahir lagi sebagai seorang pengecut. Pilihan mati dalam yoga atau mati dalam keadaan berperang tidak mungkin didapat oleh semua orang. Kalian tidak perlu takut terhadap kematian!”

 

Vritra tidak takut mati. Dalam buku “Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999 disampaikan…… Kematian adalah “Maling Kelas Wahid”-The Thief! Tidak ada maling sehebat dia. Ia “mencuri” nyawa anda-sesuatu yang tidak bisa dicuri oleh siapa pun juga, selain dia. Hanya seorang “pemberani”, seorang “pahlawan” yang tidak takut menghadapi kematian. Banyak diantara kita hanya “mengaku” tidak takut. Di balik pengakuan kita, tersembunyi “rasa takut” yang amat sangat mencekam. Kenapa kita takut mati? Apa yang membuat kita takut? Kita takut karena mengganggap kematian sebagai titik akhir. Kita takut karena kita pikir kematian akan merampas segala-galanya dari kita – bahkan “kekitaan” itu sendiri. Dan kalau anda merenungkan sejenak, rasa takut pun muncul karena “ego”. Seolah-olah kalau anda mati, dunia ini akan kekurangan sesuatu. Kita takut mati karena tidak memahami kematian itu apa……..

 

Melihat para asura yang tidak memperhatikan kata-katanya, Vritra kemudian maju menyerang dan berkata, “Para dewa jangan melawan para asura yang ketakutan, lawanlah aku!” dan Vritra mengeluarkan raungan perkasa yang menggetarkan nyali para dewa. Indra melemparkan tongkat kebesarannya yang dapat ditangkap Vritra yang kemudian digunakan untuk melukai gajah Airavata yang digunakan Indra, sehingga gajah tersebut terluka dan mundur. Melihat Indra tidak memakai senjata, maka tongkatnya pun dilepaskan. Vritra berkata, “Kamu telah membunuh saudaraku, Brahmana Visvarupa dan aku ingin membalaskan kematiannya. Wahai Indra, mengapa kamu tidak memakai senjata vajra mu. Vajra dibuat dari tulang Resi Dadhichi dan menurut instruksi dari Narayana sendiri. Aku tahu dimana saja Tuhan ada akan kemenangan. Apakah kau ragu dengan vajramu? Vajramu telah diberkati Tuhan, maka kau pasti akan berhasil membunuhku. Selama ini aku berpikir tentang Tuhan dan tidak ada yang lain. Jika aku dibunuh aku hanya menyerahkan tubuh penuh dosa ini. Aku tidak berduka!”

 

Indra dan para dewa tertegun mendengar kata-kata Vritra yang nampak menguasai Brahmawidya, pengetahuan keilahian dan mempraktekkannya dengan tanpa rasa takut. Indra dan para dewa kembali mendengar ucapan Vritra, “Bagiku , aku ingin menempatkan pikiranku pada Narayana, dan manakala aku dibunuh aku akan melepaskan tubuh yang hanya merupakan suatu perbudakan. Aku akan mencapai apa yang para yogi mencapainya melalui tapa mereka. Tuhan manakala mencintai para bhaktanya, Dia tidak akan memberi kekayaan dari tiga dunia kepadanya. Ia mengetahui bahwa kekayaan adalah penyebab kebencian, ketakutan dan sakit mental, keangkuhan, pertengkaran dan ketidakbahagiaan. Tuhan memberi kebebasan kepada para bhaktanya. Kesadaran seperti itu jarang dimiliki oleh seorang yang kaya.”

 

Dalam buku “Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999 disampaikan……. Sesungguhnya orang yang tamak, yang merampas hak orang lain amat sangat lemah. Dengan merampas hak orang lain, ia pikir, ia bisa menjadi kuat. Mereka yang melakukan agresi, ingin merebut hak atas tanah, atas kedudukan, sebenarnya adalah orang-orang lemah. Mereka ingin menjadi kuat. Tetapi cara yang mereka tempuh salah. Mereka belum sadar bahwa sumber kekuatan ada dalam diri mereka. Mereka tak melihat bahwa merebut hak orang dan menambah kepemilikan bukanlah cara yang tepat untuk menyadari kekuatan diri. Untuk menyadari kekuatan diri, anda tidak perlu merebut atau merampas sesuatu milik orang lain. Yang dibutuhkan adalah perenungan, meditasi. Anda harus menyelami diri sendiri, meniti jalan ke dalam diri. Dengan begitu baru akan anda ketahui bahwa ternyata apa pun yang anda cari ada dalam diri sendiri. Dan kesadaran itu akan seketika membebaskan anda dari ketamakan, dari rasa iri, dari main sikut-sikutan, dari saling dorong-mendorong. Sadarilah bahwa anda sesungguhnya tidak lemah. Selama ini anda pikir anda lemah. Lalu anda mempercayai “pikiran” itu. Kelemahan diri anda hanya ada dalam pikiran. Bangkitlah-bangunlah-sadarlah! Dan setelah menyadari kekuatan diri, jangan duduk diam. Jangan memikirkan diri sendiri melulu. Share your awareness! Bagikan kesadaran anda, pencerahan anda. Jangan mengharapkan imbalan. Jangan mengharapkan pula bahwa mereka akan mendengarkan anda. Suara anda terdengar atau tidak, mereka sadar atau tidak, itu bukan urusan anda. Lakukan apa yang harus anda lakukan – just that! Hanya itu saja. Selanjutnya, terserah mereka………

 

Dalam keadaan bertempur dan siap menghadapi kematian pun Vritra tetap berbagi kesadaran kepada anak buah dan musuh-musuhnya. Vritra berdoa, “Tuhan, buat aku menjadi pembantu dari pembantu-Mu. Buatlah pikiranku hanya terfokus kepada-Mu. Biarkan nyanyianku bersama suaraku hanya untuk memuji kebesaran-Mu. Biarkan tubuhku melaksanakan kehendak-Mu. Aku hanya ingin Kamu. Tidak ada sepercik keinginanku untuk menjadi Brahma atau Dhruva. Aku tidak ingin menjadi raja di tiga dunia. Aku tidak ingin moksha. Aku tidak ingin ketrampilan yoga. Tuhan aku merindukan kamu seperti anak burung merindukan induknya. Aku ditangkap dalam pusaran yang disebut kelahiran. Tolong berikan aku kebebasan. Beri aku kesempatan untuk mencintai bhakta-Mu, karena itu adalah jalan yang pasti untuk mencapai-Mu. Oleh karena selubung maya yang Kaulemparkan kepadaku, aku terikat kasih sayang dengan tubuhku, istriku, anak-anakku, rumahku dan kepemilikanku yang lain. Tolong tarik selubung ini dan bantu aku mematahkan keterikatanku pada dunia ini!”

 

Dalam buku “Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan…….. Adalah seorang pencinta. Cinta tanpa syarat, tak terbatas. Dia seorang pengasih. Kasih sejati, kasih Ilahi. Kenikmatan tiga dunia pun sudah tidak bisa mengikat dirinya. Apa pula yang dimaksud dengan tiga dunia? dalam tradisi India kuno, alam semesta dibagi dalam 3 bagian utama. Bhu atau Bumi. Bhuvah atau alam di bawah tanah. Svaha atau alam di atas bumi, di luar bumi. Tiga bagian utama itu kemudian dibagi lagi dalam sekian sub-bagian. Tiga Loka atau tiga dunia, tiga alam, bisa jugaditerjemahkan sebagai tiga masa – masa lalu, masa kini dan masa depan.  Seorang meditator, seorang pencinta, tidak terikat dengan kenikmatan tiga dunia. Dia tidak mencintai karena ingin masuk surga atau karena ingin jiwanya diselamatkan. Dia mencintai karena cinta itu sendiri. Dia tidak perlu diberi iming-iming surga di mana dirinya akan dilayani oleh bidadari-bidadari cantik. Dia tak tertarik dengan sungai-sungai susu, madu dan arak yang mengalir di sana……..

 

Indra dan Vritra bertempur dan salah satu tangan Vritra yang memegang trisula terpotong. Dengan tangan lainnya Vritra memukul dengan tongkat besinya yang membuat Gajah Airavata kaget dan vajra Indra terlepas. Malu pada dirinya, Indra tidak segera mengambil vajranya.  Vritra berkata,  “Indra kenapa kamu ragu? Pungutlah vajramu!” Kemenangan dan kekalahan, Indra, sehari-hari terjadi dalam kehidupan seseorang. Orang tidak bisa menang selamanya. Semua ada di tangan Tuhan yang mengendalikan dunia. Orang bodoh tidak mengetahui kebenaran dan menganggap badan adalah akhir dan tujuan eksistensi kita. Indra, tanganku telah kau potong, akan tetapi permainan ini belum berakhir, tidak ada yang pasti, semuanya hanya merupakan spekulasi. Semua tergantung pada dawai-dawai yang digerakkan oleh Yang Maha Kuasa. Mari kita lepaskan dari hasil akhir, atau pengakuan para dewa. Mari kita menjalankan tugas kita untuk bertempur. Mari kita teruskan pertarungan.”

 

Indra berkata, “Aku kagum akan pada keagunganmu. Pikiranmu jauh dari hal-hal duniawi. Kamu adalah seorang siddha, kamu sudah melampaui maya yang memperdaya semua manusia. Kamu tidak mempunyai sifat asurika apa pun dalam dirimu. Kamu adalah orang satvik murni tidak seperti asura yang mengedepankan sifat rajas. Pikiranmu telah hilang di dalam Tuhan. Aku memberikan hormat pada keagunganmu.”

 

Bhagavan Abyasa penulis buku Srimad Bhagavatam nampaknya menceritakan beberapa tindakan Dewa Indra yang kadang-kadang seakan-akan membuat kesalahan dan kadang-kadang melakukan tindakan mulia adalah untuk membuat manusia selalu waspada dengan “Pancaindra” dalam dirinya. Kenapa gelisah dengan perbuatan indra? Biarlah indra melakukan pekerjaanya. Itu kewajiban mereka. Kita tidak perlu mencampuri urusan mereka. Pancaindra adalah ciptaan Tuhan. Setiap indra diberi tugas tertentu. Setiap indra punya tugas, dan punya kewajiban. Dunia yang indah pun ciptaan Tuhan. Adalah kewajiban kita untuk menghargai, mengapresiasi keindahan yang diciptakan-Nya. Dalam buku “Dalam buku “Shri Sai Sacharita”, Sai das, Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia, 2010 disampaikan……….  Sifat pikiran memang seperti itu. Tidak perlu khawatir, tidak perlu gelisah, tidak perlu berkecil hati. Jika hatimu bersih, apa yang kau khawatirkan ? Jika pikiranmu tidak jahat, apa pula yang kau gelisahkan? Biarlah indra mata melakukan pekerjaanya, kenapa kamu mesti malu, dan gelisah? Tidak ada persoalan, tidak ada masalah, tidak ada kesulitan apa pun jika hatimu  bersih, dan pikiranmu baik……… Mind, atau pikiran manusia selalu berubah-ubah, tidak pernah tetap. Itulah sifat mind. Apa yang dapat dilakukan adalah pengendalian pikiran, supaya tidak liar. Itu saja. Ia tidak dapat dihentikan. Mengikuti gerak-gerik pikiran, indra manusia bisa terpicu juga. Badan bisa terpengaruh pula. Sebab itu, ketika mesti mengawasinya selalu. Kita tidak boleh ikut menjadi gelisah. Indra selalu tertarik dengan pemicu-pemicu di luar. Hendaknya kita tidak mengikuti ketertarikannya dan berkeinginan untuk memilikinya. Sesungguhnya kita bisa mengendalikan pikiran. Prosesnya perlahan, bertahap, tapi pasti. Kegelisahan pikiran yang disebabkan oleh ketertarikannya pada sesuatu, bisa diatasi, bisa dilampaui. Hendaknya kita tidak terkendali oleh pikiran, tapi justru kitalah yang mengendalikan pikiran. Ketika pikiran terkendali, indra pun akan ikut terkendali. Tidak perlu menekan indra, tidak perlu pula menafikan mereka. Tidak bisa. Gunakan mereka sesuai dengan fungsi mereka, dan untuk kebutuhan kita. Indra mata diciptakan untuk melihat dan mengapresiasi keindahan. Gunakanlah mata untuk itu. Kenapa mesti malu menatap atau mengapresiasi keindahan? Kenapa mesti takut dan ragu? Kita hanya menjaga satu hal saja, yaitu tidak melayani pikiran jahat. Pikiran yang terkendali dan tidak menuntut melulu, adalah pikiran yang baik, tidak jahat. Dengan pikiran seperti itu, nikmatilah keindahan yang diciptakan oleh Tuhan. Apresiasilah keindahan itu. Ingatlah selalu bahwa semuanya itu, keindahan itu, berasal dari Tuhan. Dialah sumber keindahan. Jika kita menikmati keindahan dengan cara itu, maka semakin dekatlah diri kita dengan Tuhan. Setiap objek yang indah akan mengingatkan kita pada Hyang Maha Indah. Singkatnya, waspadalah selalu. Waspadailah indramu, pikiranmu, supaya tidak terikat dengan objek-objek di luar… Jika itu terjadi, maka terbebaslah kita dari lingkaran kelahiran dan kematian. Untuk itu, hendaknya kita menggunakan viveka, fakultas kesadaran di dalam diri kita untuk memilih apa yang tepat bagi kita, dan apa yang tidak tepat. Biarlah viveka menjadi sais kereta badanmu; kendalikan kuda, idra yang menarik kereta ini dengan tali pikiran. Demikian, kita akan sampai di tujun dengan selamat. Menyatu kembali dengan Hyang Maha Kuasa, itulah tujuan akhir kita………

 

Demikian pandangan Bapak Anand Krishna tentang perlunya meningkatkan kesadaran dengan cara pemberdayaan diri. YM Bhikku Sanghasena dari Mahabodhi International Meditation Center dengan spontan mengucapkan, “Wonderful!”, dan menyampaikan penghormatan pada Anand Ashram. Beliau sangat kagum dengan sebuah contoh nyata yang dilakukan di Anand Ashram, orang-orang dari berbagai bangsa, suku, ras, berbagai profesi, berbagai usia, berbagai bahasa ibu, dari berbagai agama dapat bekerja sama meningkatkan kesadaran. Anand Ashram memiliki sebuah visi universal – Satu Bumi, Satu Langit, Satu Umat Manusia. Ini adalah sebuah contoh kebersamaan yang dapat dikembangkan di dunia, kata beliau……. Sayang tindakan nyata Bapak Anand Krishna sering disalahpahami sebagian kelompok. Silakan lihat…..

 

http://www.freeanandkrishna.com/in/

 

Mereka berperang sampai tangan lain Vritra terpotong dan kemudian Indra ditelan oleh Vritra. Indra dapat selamat dan berhasil membunuh Vritra. Semua dewa dan asura melihat nyawa Vritra melayang menuju kaki Narayana……… Sebuah kisah Bhagawan Abyasa yang membuka diri manusia, bahwa spiritualitas pun dapat dimiliki oleh seorang Asura yang pada umumnya dianggap jahat oleh manusia. Spiritualitas memakai bahasa rasa terdalam dan bukan berbahasa pikiran…..

 

Dalam buku “Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999 disampaikan……. Mereka yang tidak menguasai ilmu, atau penguasaan ilmunya masih tanggung, akan selalu mengagumi hal-hal yang berbau ilmiah. Mereka yang “sudah” menguasai ilmu tahu persis bahwa Allah dan Keillahiannya tidak dapat di-“ilmiah”-kan. Paradoksal! Tetapi memang begitulah adanya. Setiap upaya untuk mengilmiahkan spiritualitas sudah pasti akan gagal. Spiritualitas melampaui sains dan ilmu pengetahuan. Spiritualitas bahkan melampaui pikiran dan rasa. Karena itu, diantara para doktor dan professor dan pakar anda, tidak ada seorang pun yang sekaliber Gibran atau Tagore. Tidak seorang pun yang bisa menyaingi Rumi dan Gandhi. Spiritualitas bukanlah suatu cabang ilmu yang dapat dikuasai oleh intelek. Dan oleh karenanya, ke-“doktor”-an anda di bidang teologi dan ilmu agama sangat tidak berarti. Spiritualitas harus diselami. Seorang Gibran menyelaminya. Dan ia menulis dari pengalamannya: “Segala sesuatu dalam alam ini ada dalam dirimu. Dan apa yang ada dalam dirimu juga ada dalam alam ini. Tidak ada perpisahan antara kamu dan sesuatu yang dekat dengan kamu. Tidak ada pula perpisahan antara kamu dan sesuatu yang sangat jauh darimu. Dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi, dari yang paling kecil sampai yang paling besar, semuanya ada dalam dirimu.” Kalau yang tersirat anda temukan, anda akan paham bahwa sesungguhnya “Kehidupan” itu “Satu” Ada-Nya. Berarti Yang Satu itu Adalah Kehidupan! Berarti anda tidak pernah terpisahkan dari Allah. Berarti Tuhan tidak pernah jauh dari anda!

 

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Juli 2011

Iklan

2 Tanggapan

  1. Mohon ijin di share, terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: