Renungan Bhagavatam: Kelahiran Marut, Pupusnya Dendam Ibu Para Asura

Diti dan Aditi adalah putri-putri dari Daksha yang kawin dengan Resi Kasyapa, cucu dari Kardama dan Dewahuti. Diti menurunkan para Asura, sedangkan Aditi menurunkan para dewa. Pada suatu saat Diti sangat sedih saat melihat para asura banyak yang dibunuh oleh Indra dan para dewa, sehingga dia dendam kepada Indra. Diti bertapa agar dapat menurunkan putra yang dapat membunuh Indra. Diti kemudian selalu bertindak untuk menyenangkan hati Resi Kasyapa, sehingga pada suatu hari Kasyapa berjanji akan memenuhi apa pun yang diminta oleh Diti. Diti kemudian menyampaikan keinginan untuk mempunyai putra yang dapat membunuh Indra. Resi Kasyapa kalah janji, dan bagaimana pun dia tetap akan memenuhi janjinya. Resi Kasyapa berkata, “Aku akan memberi pelajaran tentang mantra dan kamu harus melakukan tapa brata sepanjang tahun. Jika kamu melakukan hal itu, maka pada akhir tahun kamu akan melahirkan putra yang menjadi jawaban dari doamu. Tidak lama kemudian Diti mengandung anak dari Kasyapa dan dia melakukan tapa brata dengan keras. Indra mengetahui kemarahan Diti dan dia juga tahu bahwa Diti sedang melakukan tapa brata yang keras untuk melahirkan putra yang dapat membunuhnya. Indra adalah seorang dewa tetapi dia merasakan ketakutan menghadapi ancaman kematian.

 

Dalam buku “Seni Memberdaya Diri 1, Meditasi Untuk Manajemen Stres dan Neo Zen Reiki”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2003 disampaikan……. Kehidupan ini sangat misterius. Tidak ada cara lain menghadapi kehidupan ini, kecuali dengan menjalaninya, melakoni-nya. Mengikuti arus dan mengalir terus, bagaikan sungai. Selama saya masih melawan maut, melawan arus, saya justru menambah kegelisahan saya. Saya buang begitu banyak tenaga, namun hasilnya nihil. Saya mencari sandaran, mencari rakit, mencari papan yang dapat saya jadikan alat bantu, tidak saya dapatkan. Begitu saya melepaskan segala macam harapan, begitu saya melepaskan segala macam harapan, begitu saya membiarkan diri saya terbawa oleh arus, saya pun menjadi lega. Ketegangan hilang, kegelisahan lenyap. Tidak ada lagi rasa khawatir, tidak ada lagi rasa takut. Sekarang saya siap menerima apa saja……..

 

Entah siapa yang membimbing Indra, kemudian setiap hari Indra datang membawa buah-buahan, bunga dan rumput persembahan dan diberikannya pada Diti, bibinya. Bahkan Indra selalu membawakan air suci untuk keperluan ritual Diti. Kewanitaan Diti tersentuh oleh perhatian Indra, sang kemenakannya. Tanpa terasa kemarahan Diti terhadap Indra sudah jauh berkurang. Indra sendiri selama setahun mulai paham kesusahan seorang wanita saat anak keturunannya dibunuh olehnya. Mungkin ada kemunafikan yang terjadi dalam diri Indra, dia memperhatikan kebutuhan bibinya untuk mengadakan ritual bagi kelahiran seorang putra yang akan membunuh dirinya. Bahkan Indra tahu semakin dekat dengan hari kelahiran, selama bibinya taat pada ritual yang diajarkan ayahandanya, maka calon sang putra semakin tambah sakti. Diti mulai memaafkan kesalahan Indra, akan tetapi dia tetap menjalankan tapa bratanya untuk melahirkan putra yang dapat membunuh Indra. Indra hanya melakoni apa pun yang dirasakannya sebagai suara nuraninya…….

 

Pada suatu hari, Diti sangat kelelahan, karena dalam keadaan hamil dan bertapa brata dengan keras selama berbulan-bulan. Diti tertidur sebelum mandi dan melakukan salah satu ritual. Indra segera memanfaatkan kelalaian ini, dengan yoganya dia segera masuk ke dalam kandungan Diti. Indra melihat calon bayi yang bersinar keemasan. Kemudian Indra mengambil vajranya dan memotongnya menjadi tujuh bagian. Potongan-potongan mulai berteriak dan Indra berkata, “Ma Ruda”, jangan menangis. Kemudian masing-masing potongan tersebut dipotongnya masing-masing tujuh bagian. Semua potongan berubah menjadi bayi kecil yang berkata, “Indra! Mengapa kamu melakukan hal ini, bukankah kami adalah saudara-saudaramu. Kami semua selama berada dalam kandungan makan sari makanan dari buah-buahan yang kau berikan kepada ibuku. Sebagian air suci yang diminum ibuku yang diperoleh darimu telah menjadi bagian dari tubuh kami.” Indra menjawab, “Jangan takut saudara-saudaraku, aku melakukan ini agar kalian menjadi saudara-saudaraku. Kalian akan menjadi satu denganku. Kalian bukan Detya, Asura akan tetapi kalian akan tinggal di istana para dewa dan kalian akan disebut Marut.   Baca lebih lanjut