Renungan Bhagavatam: Asura Hiranyakasipu, Bhakta Prahlada Dan Wujud Narasimha Avatara

Diti putra Daksha kawin dengan Resi Kasyapa putra putra Marici dan mempunyai dua putra Hiranyaksa dan Hiranyakasipu. Hiranyaksa mati di tangan Avatara Varaha yang merupakan wujud Narayana untuk mengangkat bumi dari dasar samudera. Hiranyakasipu sangat marah atas terbunuhnya saudaranya. Hiranyakasipu kemudian meminta para Asura untuk mengganggu para pemuja Narayana. Dimana para brahmana berkumpul untuk mengadakan upacara yajna, upacara persembahan agar dibubarkan. Para asura diminta melakukan segala sesuatu agar dharma dihancurkan. Untuk mengalahkan Narayana, Hiranyakasipu melakukan tapa keras selama bertahun-tahun untuk memuaskan Brahma. Hiranyaksipu memahami bahwa Brahma dengan tapa kerasnya mampu menciptakan alam semesta  dan dia yakin apabila dia bertapa dengan keras maka dia akan dapat menjadi Brahma. Dia akan membuat dunia sendiri, dimana para asura menjadi dewa dan kejahatan akan dianggap sebagai kesucian.

Brahma datang kepada Hiranyakasipu yang sedang bertapa dan berkata bahwa dia senang dengan tapa kerasnya dan bertanya apa yang diminta Hiranyaksipu kepadanya. Hiranyakasipu hanya minta satu hal yaitu agar dia dapat hidup abadi. Brahma mengatakan bahwa dia sendiri tidak abadi, akan tetapi bila Hiranyakasipu minta semacam kekebalan maka yang demikian dapat dikabulkannya. Hiranyakasipu yang sangat cerdas minta kepada Brahma, bahwa tidak ada satu pun makhluk ciptaan Brahma yang dapat membunuhnya. Hiranyakasipu tahu bahwa Celeng Raksasa, Varaha Avatara yang membunuh Hiranyaksa “keluar” dari hidung Brahma. Tidak ada hewan atau manusia yang dapat membunuhnya. Dia minta dia tidak akan mati di dalam rumah atau di luar rumah dan juga tidak bisa mati sepanjang siang dan sepanjang malam. Tidak ada satu pun senjata yang dapat dapat membunuhnya. Brahma mengabulkan permintaan Hiranyakasipu dan kemudian lenyap dari pandangan Hiranyakasipu.

Hiranyakasipu tidak mau mati, karena hidupnya terfokus pada kenikmatan akan kekuasaan yang ada di luar diri. Sebetulnya ketertarikan terhadap materi adalah alami disebabkan adanya kekuatan tarik gravitasi oleh bumi. Dalam buku “Rahasia Alam Alam Rahasia”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2003 disampaikan…….. Materi memang penting dan dibutuhkan selama anda masih hidup, tetapi tidak perlu menjadi materialis. Seorang materialis menempatkan materi di atas segalanya. Terlupakan banyak hal lain yang tidak kalah penting. Ketertarikan pada materi pun sungguh alami, disebabkan gravitasi bumi. Yang tidak alami dan dapat dicegah adalah keterikatan dan ketergantungan pada materi. Itu terjadi bila kita menyalahpahami fungsi elemen-elemen alami. Atau karena menempatkan fungsi salah satu elemen di atas elemen-elemen lain…….. Apa yang terjadi bila kita mengalami ketidakseimbangan elemen-elemen alami, atau bila salah satu elemen menonjol sekali?

Satu: Bila elemen api melebihi kebutuhan kita dan kebutuhan setiap orang berbeda, kita menderita penyakit kama, hawa nafsu yang membara. Dalam hal itu, kita harus berhati-hati dengan makanan yang mengandung unsur api. Daging, bawang-bawangan dan segala sesuiatu yang sangat pedas, manis, asin dan asam. Minumlah air putih sebanyak satu setengah hingga dua liter setiap hari.

Dua: Bila elemen angin melebihi kebutuhan kita, muncul penyakit kedua yaitu krodha atau amarah. Latihan Pavanamuktasana dapat membantu kita.

Tiga: Bila elemen tanah melebihi kebutuhan kita, muncul penyakit yang ketiga lobha, keserakahan. Lantai di rumah dilapisi karpet atau diganti dengan kayu.

Empat: Bila elemen air melebihi kebutuhan kita, muncullah penyakit moha atau keterikatan. Cairan dalam diri anda, darah, sperma, sumsum menyebabkan keterikatan. Bahkan air liur dapat menyebabkan keterikatan. Berjemur di bawah matahari pagi akan membantu terjadinya keseimbangan unsur air dalam diri.

Lima: Bila elemen ruang melebihi kebutuhan kita muncullah penyakit ahamkara atau ego, keakuan. Bukan hanya para ilmuwan, para rohaniwan pun bisa kelebihan unsur ini. Karena mereka harus lebih banyak berbuat dari pada berbicara. Dalam hal ini perbuatan yang dimaksud adalah pelayanan, belajar untuk melayani sesama…………. Baca lebih lanjut