Renungan Bhagavatam: Matsya Avatara dan Para Avatara Pemelihara Alam


Pada akhir kalpa sebelumnya Brahma mengantuk dan tidur. Pada waktu itu Asura Hayagriva mencuri Veda dari mulut Brahma dan masuk ke dalam samudera pralaya. Sesaat Brahma bangun tidur di kalpa yang baru dan bertanya-tanya bagaimana dia akan melakukan tugas penciptaan tanpa adanya Veda. Brahma kemudian berlindung pada Wisnu, dan Wisnu dengan wujud seekor ikan raksasa membunuh Hayagriva dan menyelamatkan Veda dan memberikannya kepada Brahma.

Tuhan yang tak dapat diserupakan dengan apa pun juga mewujud untuk menyelamatkan dunia dari adharma yang merajalela. Urutan dari wujud avatara merupakan evolusi spesies:

Matsya – ikan yang hidup di air, memulihkan pengetahuan sejati, Veda dari banjir keangkuhan, egoisme.

Kurma – kura-kura yang hidup di air dan di darat, mengaduk samudera pengalaman dengan pengetahuan.

Varaha – Babi Hutan berkaki empat yang hidup di darat, pengorbanan duniawi untuk berfokus pada Ilahi.

Narasimha – Manusia berkepala singa yang menyelamatkan mereka yang beriman kepada Tuhan.

Vamana – manusia kecil, yang memberikan contoh bahwa hanya dengan penyerahan total “milikku” dan “aku, seseorang dapat mencapai keilahian.

Parasurama – manusia yang menghancurkan kejahatan yang dilakukan oleh para raja yang agresif.

Rama – manusia yang dapat mencapai keilahian dengan patuh terhadap dharma.

Krishna – manusia yang menyampaikan nyanyian ilahi, kabar gembira bahwa diri sejati itu tidak dapat mati dan setiap orang perlu menjalankan peran yang diamanahkan kepadanya menuju derajat keilahian.

Buddha – manusia yang menaklukkan keinginan dan penuh kasih.

Kalki – prajurit perkasa mengalahkan ketidakbenaran.

Menjelang pralaya adalah seorang raja bernama Satyavrata. Dia adalah seorang panembah Narayana dan sedang bertapa brata keras dengan hanya minum air saja. Pada saat melakukan persembahan di sungai Kertamala ia melihat ikan kecil dalam tangannya. Ia segera melepaskan ikan tersebut ke sungai, akan tetapi ikan tersebut berkata, “Wahai raja pengasih, saya seekor ikan kecil yang akan dimangsa para ikan besar, jangan lepaskan aku di sungai.” Sang raja menempatkan dalam mangkuk dan dibawa pulang ke tempat tinggalnya. Esoknya sang ikan yang sudah tumbuh membesar memenuhi mangkuk berkata, “Tolong tempatkan aku di tempat yang lebih besar, mangkuk ini sudah tidak cukup bagiku!” Kemudian sang raja menempatkan dalam bejana yang lebih besar, akan tetapi ikan tersebut cepat membesar dan memenuhi bejana tersebut. Kemudian ikan tersebut diletakkan dalam kolam, dan ikan tersebut juga cepat membesar memenuhi kolam. Kemudian sang ikan dipindah ke danau dan lagi-lagi sang ikan membesar sebesar danau. Dan akhirnya, ikan tersebut akhirnya diletakkan di samudera. Sang ikan bercanda, “Ada banyak buaya besar dan makhluk lainnya di laut, tidak tepat meninggalkan aku di sini!” Raja mengerti bahwa Ia bukan ikan biasa, “Wahai Ikan perkasa, aku yakin paduka adalah Narayana sendiri dalam bentuk ikan dengan tujuan yang aku tidak mengetahui. Tuhan, aku memberikan hormat kepada-Mu dan mohon perlindunganmu!”

Matsya Avatara berkata, “Benar aku mengambil wujud ini dengan tujuan untuk menyelamatkan bhaktaku. Dalam tujuh hari ke depan dunia akan tenggelam. Manakala kamu melihat sebuah perahu, kumpulkan semua benih tanaman dan bersama tujuh resi kamu segera naik perahu tersebut. Akan ada kegelapan total, yang ada hanya sinar dari para resi. Kamu akan terombang-ambing, tetapi jangan takut. Manakala kamu melihat aku segera ikat perahumu dengan tandukku dengan bantuan Vasuki.”……… Kemudian Sang Matsya lenyap dari pandangan sang raja.

Raja Satyavrata sedang menunggu waktu yang diramalkan oleh Narayana dengan bermeditasi pada Tuhan. Pada saat itu, hujan turun dengan cara yang sangat mengerikan dan air laut menggunung menutupi tanah di pantai dan perlahan-lahan menutupi seluruh bumi. Karena sangat takut, raja mulai mencari tempat berlindung. Tiba-tiba ia melihat sebuah perahu besar telah datang kepadanya. Raja segera mengambil semua biji yang telah disiapkannya dan kemudian naik perahu bersama dengan tujuh resi. Para resi meminta raja untuk bermeditasi pada Narayana mohon perlindungan dari bahaya. Setelah bermeditasi beberapa lama, sang raja melihat Matsya Avatara muncul. Tubuhnya satu juta mil (400.000 krosas) panjang, bersinar seperti emas, dan Dia memiliki tanduk di kepala-Nya. Sesuai instruksi, sang raja menggunakan Vasuki sebagai tali pengikat perahu dan mengikatnya pada tanduk ikan raksasa……. Para resi berkata, “Wahai raja jangan takut! Tuhan akan membantu kita dalam perjalanan berbahaya ini.” Mereka kemudian menyanyikan lagu-lagu pujian……… Raja Satyavrata kemudian dilahirkan lagi sebagai Shraddadewa putra Surya dan menjadi Manu dalam Vaivasvata Manvantara.

Dalam buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan…….. Avatar berarti “Ia yang turun”. Lalu, oleh mereka yang tidak mengetahui artinya diterjemahkan sebagai “turun dari sono”. Entah dari mana! Sebenarnya, tidak demikian. Avatar berarti “ia yang turun dari tingkat Kesadaran Murni”. Seorang avatar harus menurunkan kesadarannya untuk berdialog dengan kita. Untuk berkomunikasi dengan kita. Dan karena itu, bukan hanya Rama, Krishna, dan Buddha, tetapi Yesus juga seorang Avatar. Muhammad dan Zarathustra juga demikian. Mereka semua harus turun dari tingkat Kesadaran Murni yang telah mereka capai, untuk bisa menyampaikan sesuatu kepada kita. Memang, bahasa Krishna lain. Bahasa Buddha lain. Bahasa Yesus lain. Bahasa Muhammad lain. Memang harus begitu, karena mereka sedang berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda, dengan mereka yang tingkat kesadarannya berbeda-beda………

Ibarat seorang pilot yang menurunkan pesawat ke bumi untuk kemudian membawa penumpang ke ketinggian angkasa, para avatar tidak pernah lupa akan jatidirinya. Dalam buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan…….. Kendati seorang avatar, atau seorang nabi, harus menurunkan kesadarannya untuk bisa berkomunikasi dengan kita, sesungguhnya dia tidak pernah lupa akan Jati Dirinya—bahwasanya “Matahari Kesadaran Murni” itulah Kebenaran Diri dia. Ini yang membedakan mereka dari kita. Kita pun sering mengalami peningkatan kesadaran sesaat……… Dalam alam meditasi, kita pun sering mencapai tingkat Kesadaran Murni, tetapi hanya untuk sesaat saja. Lagi-lagi kita “jatuh” kembali. Sengaja saya menggunakan istilah “jatuh”, karena memang itu yang terjadi. Setiap orang yang pernah mencapai tingkat Kesadaran Murni tahu persis bahwa tidak ada yang lebih “nikmat” (?—entah kata apa yang harus saya gunakan untuk menjelaskan sesuatu yang tak terjelaskan oleh kata-kata) dari pengalaman itu. Pada saat itu, gelombang kelahiran dan kematian tidak eksis lagi. Anda menyatu dengan Samudra Kehidupan. Sayang, hanya untuk sesaat. Dan Anda jatuh kembali. Lalu Anda berupaya keras untuk mendapatkan pengalaman yang sama. Tetapi tidak berhasil……..

Dalam buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan…….. Para avatar, para nabi, para mesias, para buddha tidak “jatuh seperti Anda. Mereka “turun” dengan penuh kesadaran. Karena itu, wajah mereka berkilau cemerlang. Karena itu, berada dekat seorang avatar saja sudah cukup. Anda akan ketularan virus kesadaran. Tidak bisa tidak. Virus kesadaran yang ditularkan oleh seorang avatar ibarat benih yang ia tanam dalam jiwa Anda. Seterusnya, Anda masih harus menyiraminya dan memupukinya. Jika tidak, biji itu tidak akan tumbuh sehat. Bahkan bisa tidak tumbuh sama sekali. Anda harus mempersiapkan lahan diri, sehinga biji kesadaran bisa tumbuh subur………

Tidak mudah menterjemahkan sebuah istilah, karena karena sebuah istilah mencakup sebuah uraian detail yang dimiliki suatu bahasa berdasar pengalamannya. Contohnya di Barat hanya dikenal “rice” sedangkan di Indonesia, dikenal nasi, nasi liwet, nasi ketan, bubur, nasi aking, dedhak, bekatul, menir dan sebagainya. Demikian juga istilah “Gyaana” dari bahasa sansekerta atau bahasa Jawi Kuno. Dalam buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan…….. Banyak penerjemah, termasuk para swami, para guru besar, menerjemahkan “Gyaana” sebagai knowledge atau pengetahuan. Lebih tepat jika Gyaana diterjemahkan sebagai knowingness. Bagaimana menerjemahkan knowingness dalam bahasa Indonesia? Saya tidak tahu, maka terpaksa saya menerjemahkannya sebagai “kesadaran”. Sungguh tidak masuk akal, jika Gyaana diterjemahkan sebagai pengetahuan. “Latihan Pengetahuan” apa yang dimaksudkan oleh Shankara? Jika pengetahuan bisa membersihkan diri manusia, para ahli kitab tidak akan menolak Yesus. Buddha dan Muhammad pun akan mereka terima. Ternyata tidak demikian. Yang menolak para avatar, para nabi dan para mesia selalu orang-orang yang berpengetahuan………

Ada yang berpendapat bahwa sesuai evolusi manusia, maka manusia sudah tidak membutuhkan mesias atau avatar lagi. Pemahaman demikian pun dapat dipahami. Dalam buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan…….. Para nabi, mesias dan avatar dibutuhkan oleh manusia yang masih “bayi”. Sekarang sudah tidak ada “manusia bayi” lagi. Sekarang sudah menjadi dewasa. Dan proses kematangan atau kedewasaannya ini saya sebut proses kebuddhaan. Bisa juga disebut proses “kekristusan”, atau proses apa saja—terserah Anda. Karya Sri Shankara yang satu ini ditulis untuk para calon buddha. Ciri-ciri mereka pun dijelaskan. Pertama, dia sudah terbebaskan dari kegelisahan. Kedua, dia sudah menjadi tenang….. Ketiga, tidak menagih sesuatu, tanpa craving. Keempat, berkeinginan tunggal untuk memperoleh kebebasan……….

Demikian beberapa pandangan Bapak Anand Krishna dalam hal pemberdayaan diri manusia, agar manusia sadar tentang jatidirinya dan dapat membhaktikan kehidupannya demi kemanusiaan. Sayang visi Bapak Anand Krishna: Satu Bumi, Satu Langit dan Satu Umat Manusia, yang universal mendapat tentangan dari beberapa kelompok yang tidak suka pandangan kebhinnekaan. Silakan lihat………

http://www.freeanandkrishna.com/in/

Dalam Buku Srimad Bhagavatam setiap peristiwa selalu terkait dengan doa-doa terhadap Tuhan. Dalam buku “Neo Psychic Awareness”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2005 disampaikan……… Energi yang tercipta dari doa, jauh lebih dahsyat, besar, tinggi dan mulia daripada energi yang tercipta dari otot manusia atau alat-alat buatannya. Karena itu, sungguh patut disayangkan bila energi sedahsyat itu saya gunakan untuk kepentingan-kepentingan sepele. Doa bukanlah sekadar ritus yang saya lakukan sesuai dengan anjuran agama, tetapi esensi dari agama serta keagamaan saya. Karena itu, doa saya sungguh tidak bermakna bila saya hanya melakukannya karena kewajiban. Saya “suka” berdoa, maka saya berdoa. Doa juga berarti memberkati, bila hidup saya tidak menjadi berkah bagi sesama manusia, sesama makhluk hidup, dan lingkungan di mana saya berada, sia-sia doa saya. Doa meningkatkan kesadaran saya, sehingga saya dapat melihat Wajah-Nya di mana-mana. Di atas segalanya, bagi saya doa adalah napas hidup. Tiada kehidupan tanpa napas, tiada napas tanpa doa. Doa dapat menambah kepekaan diri kita, mengantar kita pada kesadaran yang lebih bermakna. Karena itu, setiap agama menganjurkan pengulangan, bukan karena Tuhan “suka” dengan pengulangan, tetapi supaya kita tidak lupa makna dan tujuan kita berdoa. Bagaimana doa dapat menambah kepekaan diri? Bagaimana doa dapat mengantar kita pada kesadaran lebih tinggi? Jawabannya: Dengan mengistirahatkan pikiran. Dengan menciptakan jarak antara pikiran dan tindakan. Kepekaan diri bertambah saat saya menafikan pikiran dengan penuh kesadaran; saat saya istirahatkan pula otak saya. Saat itu, saat berdoa, terjadilah “kontak” batin antara diri saya dan Sang Pribadi Tunggal. Bagaimana terjadinya? Bagaimana prosesnya? Saya tidak tahu. Setiap kitab suci memang merupakan sebuah surat cinta kepadamu lewat para nabi, para avatar, para mesias, dan para Buddha.” Maka, pengajian, paath seperti itu, menjadi doa bagi saya. Karena saat itu terdengar jelas oleh jiwa saya bisikan Dia yang saya cintai……..

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Juli 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: