Renungan Bhagavatam Resi Markandeya Dan Rahasia Maya

Bhagavata Purana dikisahkan dari waktu ke waktu, dari Bhagawan Abhyasa ke Shuka dan murid-muridnya. Kita mengetahui bahwa lewat Resi Shuka, Parikesit mendengar kisah Bhagavata Purana. Romaharsana, murid Abhyasa menyampaikan kisah kepada Ugrasrava, putranya dan kemudian Ugrasravamenyampaikannya kepada Saunaka. Saunaka bertanya kepada Ugrasrava, “Wahai Resi Ugrasrava, aku mendengar bahwa Bhagawan Abhyasa mendapatkan kisah Purana ini dari Brahma. Kemudian aku mendengar tentang kisah banjir besar, akhir pralaya dari kalpa sebelumnya dan dilanjutkan dengan dengan kisah Matsya Avatara. Yang membingungkan aku adalah kisah Resi Markandeya putra Markandu dari Dinasti Bhargawa(Bhrigu). Kita menyaksikan kehidupannya dan kita tidak pernah mengalami banjir besar. Bagaimana mungkin ada kisah Resi Markandeya bisa selamat dari banjir besar sepanjang Pralaya?” Resi Ugrasrava tersenyum dan kemudian menyampaikan kisah Resi Markandeya……

Resi Markandeya putra Markandu adalah seorang yang menguasai Veda dan juga pertapa yang sempurna. Pikirannya tenang dan terfokus pada Narayana. Indra meragukan kekuatan tapa sang resi dan ingin mengganggunya. Ia mengirimkan rombongan penggoda yang terdiri dari para Gandharva untuk menyanyi, para Apsara untuk menari, dan Manmatha, dewa cinta sebagai pemimpin rombongan. Markandeya sedang berada dalam yoga dan apsara cantik Pujikastali menari di depannya. Manmatha memungut busurnya yang terbuat dari tebu dengan anak panah berkepala lima dan menunggu mata Markandeya terbuka yang dengan segera dilepaskannya. Akan tetapi semua usaha Manmatha dan yang lain sia-sia. Mereka melarikan diri dengan penuh kengerian melihat mata Markandeya. Bagaimana pun Markandeya tidak mengutuk mereka, itulah salah satu sifat agung dalam dirinya.

Selanjutnya Narayana datang dalam wujud Nara dan Narayana yang berkulit hitam dan putih.  Markandeya menghormati mereka dan berkata, “Tuhan, Engkau meliputi alam semesta. Engkau adalah Brahma, Mahadewa, Wisnu dan juga Atman dalam diri manusia. Bentuk kembar ini telah Kau ambil untuk kepentingan dunia.” Nara dan Narayana kemudian berkata, “Tapa dan bhaktimu kepada kami telah menjadikanmu seorang Siddha dan aku sangat terhibur olehmu. Mintalah apa pun dan aku akan mengabulkannya!” Markandeya menjawab, dapatkah manusia mempunyai keinginan lainnya setelah menyaksikan-Mu? Bagaimana pun adalah tidak hormat menolak perintah Tuhan. Oleh karena itu mohon diberitahukan kepada kami “Maya” yang menyebabkan ketidaktahuan dalam pikiran manusia. Nara dan Narayana tersenyum dan berkata, “Semoga demikian!” dan mereka lenyap.

Resi Markandeya meneruskan meditasinya di tepi sungai Puspabhadra dengan tekun setiap hari. Pada suatu hari, mendadak angin kencang bertiup yang berubah menjadi angin topan bersamaan dengan turunnya hujan yang sangat lebat. Bumi nampak tertelan oleh samudera. Ia menemukan dirinya terapung-apung diatas permukaan samudera. Ia merasa sakit, sedih dan menderita dan datang rasa takut mengalami kematian. Resi Markandeya telah menaklukkan kematian, ia telah memahami kematian, akan tetapi dalam keadaan demikian rasa takut menyelimutinya. Mendadak Markandeya melihat pohon Asvattha dikejauhan yang terlihat sangat indahnya. Dalam salah satu daunnya ia melihat seorang anak bayi yang sangat agung. Sang bayi memegang kakinya dan menempatkannya pada mulutnya seperti sedang mencium bunga teratai. Markandeya memperhatikan anak bayi tersebut dan segala rasa sakit, derita dan takut musnah. Markandeya merasakan nafas anak tersebut menghisapnya masuk lubang hidungnya. Manakala markandeya berada di dalam tubuh anak bayi tersebut dia menemukan dunia seperti aslinya sebelum topan datang. Ia melihat surga dan langit bertaburan bintang, samudera dan pulau-pulau. Ia melihat para dewa dan para asura. Ia melihat Himalaya dan Sungai Puspabhadra. Baca lebih lanjut

Iklan