Renungan Bhagavatam: Nabhaka, Kepolosan Seorang Putra Raja

Salah seorang keturunan Manu adalah Nabhaka. Nabhaka sangat tekun mengikuti gurunya, sehingga bertahun-tahun tidak pernah nampak di istana. Pada saat sang ayah berhenti sebagai raja dan meninggalkan istana menjalankan wanaprastha, maka seluruh harta kekayaan ayahnya dibagi oleh saudara-saudaranya. Pada saat pembagian kekayaaan tersebut, Nabhaka ditinggal oleh para saudara-saudaranya sehingga dia tidak mendapat bagian kekayaan. Pada saat Nabhaka kembali dari berguru dan pulang ke istana, para saudaranya berkata bahwa seluruh harta kekayaan sang ayah telah dibagi oleh mereka. Para saudaranya berkilah bahwa menurut kesepakatan bersama, maka seorang anak yang sudah lama tidak muncul dianggap sudah meninggal dunia. Mereka menetapkan hak warisan berdasarkan peraturan tersebut dan sudah terlambat untuk membaginya lagi. Semua kekayaan sudah habis terbagi. Yang belum dibagi adalah ayahnya, maka Nabhaka diminta mengambil ayahnya sebagai hasil pembagian kekayaannya.

Kejadian seperti ini terjadi berulang kali dalam kehidupan manusia. Berkilah melakukan sesuatu berdasar peraturan, akan tetapi pada hakikatnya orang yang melakukannya tahu bahwa dia melakukan atas dasar pikiran pribadi yang mau menang sendiri dan tidak berdasar keadilan sejati sesuai dengan kata hati nuraninya. Dalam buku “Jangka Jayabaya, Saatnya Bertindak Tanpa Rasa Takut dan Meraih Kejayaan”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2005 disampaikan…….. Kita bisa jatuh pada ironi yang luar biasa: kelihatannya membela agama, tetapi sedang menginjak-injaknya, tampaknya menjunjung tinggi, tetapi pada kenyataannya sedang merendahkannya.  Yang ditentang adalah nilai-nilai ajaran yang ada dalam semua agama. Sekarang, agama sekedar menjadi asesoris, perlengkapan standar untuk menciptakan kesan kemegahan, kegagahan, kesalehan. Atribut-atribut luaran setiap agama ditonjolkan. Agama mengajarkan kedamaian dan kasih, tetapi kita melakukan aksi terror atas nama agama. Agama mengajarkan kesederhanaan, tapi kita suka pamer. Agama mengajarkan kepasrahan pada kehendak Ilahi, tapi kita malah menjadi tamak, serakah. Agama mengajarkan kepolosan dan keluguan, tapi kita ingin dikenal sebagai cendikiawan dan ahli tafsir, ahli teologi. Agama mengajarkan persatuan, tapi kita percaya pada perbedaan. Dengan mudah kita mengabaikan ketidakadilan yang dilakukan oleh sesama umat, karena “bagaimanapun mereka masih seiman dengan kita”. Kita tidak sadar bahwa ulah kita itu menyebabkan ketakadilan. Padahal keadilan merupakan salah satu nilai dasar setiap agama………

Nabhaka dengan polos datang kepada ayahnya dan menceritakan pernyataan para saudaranya tentang pembagian harta sang ayah dan bahwa dia mendapat bagian berupa sang ayah sendiri. Sang ayah berkata bahwa saudara-saudaranya telah terlalu tamak terhadap harta. Sang ayah berkata bahwa dirinya tidak seperti harta kekayaan yang dapat membantunya memperoleh kenyamanan. Akan tetapi karena hal demikian telah terjadi, maka sang ayah hanya akan membantu pemikiran. Sang ayah berkata, “Anakku di dekat sini Resi Angirasa sedang mengadakan upacara persembahan yajna Abhiplava dan Prasthya selama enam hari. Di akhir hari keenam, Resi Angirasa tidak akan mampu menghapal sebuah mantra yang sangat panjang, padahal tanpa mantra tersebut, upacara yajna tidak dapat diselesaikan. Kamu agar tetap berada dalam upacara yajna tersebut dan hapalkan dua mantra yang akan kuberikan kepadamu. Bila mereka sukses dengan upacara tersebut, mereka akan mencapai surga, sehingga mereka akan sangat berterima kasih kepadamu yang telah memberikan kedua mantra tersebut. Selanjutnya mereka akan memberikan kepadamu seluruh barang berharga yang ditinggalkan dalam upacara Yajna tersebut. Dengan cara seperti itu maka kamu akan mendapat kekayaan.”

Nabhaka melakukan perintah ayahnya dengan patuh dan seperti perkiraan ayahnya, Resi Angirasa memberikan semua kekayaan yang ditinggalkan dalam upacara yajna tersebut. Manakala Nabhaka sedang mengumpulkan kekayaan tersebut, datanglah Seorang berkulit hitam dari arah utara yang berkata bahwa dia tidak boleh mengumpulkan kekayaan tersebut, karena kekayaan tersebut adalah miliknya. Nabhaka menceritakan bahwa Resi Angirasa telah memberikan semua kekayaan tersebut kepadanya. Tetapi orang berkulit hitam tersebut tetap pada pendapatnya. Nabhaka kemudian berkata bahwa dia hanya menuruti perintah ayahnya, bila dia langsung menyerahkan pada orang tersebut, maka dia telah berlaku tidak patuh terhadap orang tuanya. Nabhaka meminta izin untuk menanyakan hal tersebut kepada ayahnya lebih dahulu. Apa pun keputusannya, Nabhaka akan menerimanya. Sang pria berkulit hitam dapat menerimanya dan menunggu Nabhaka bertanya kepada ayahnya. Baca lebih lanjut

Iklan