Renungan Bhagavatam: Raja Saudasa Putra Bhagiratha, Perjuangan Menuju Hidup Berkesadaran


Raja Saudasa putra Raja Bhagirata adalah raja yang adil dan bijaksana. Pada suatu hari dia pergi berburu di hutan, bertemu dengan seorang raksasa dan membunuhnya. Pada saat dia kembali ke istana dia tidak sadar bahwa ada saudara raksasa tersebut ingin membalas dendam kepadanya dan kemudian masuk ke istana menyamar sebagai seorang juru masak istana.

Pada suatu ketika Vasistha. Guru Saudasa datang berkunjung dan sang raja menawari gurunya untuk makan bersama. Sang raksasa yang menjadi juru masak istana, memasak daging manusia untuk makanan yang disajikan kepada Resi Vasistha. Resi Vasistha murka kala tahu bahwa dia disuguhi makanan dari daging manusia dan kemudian mengutuk sang raja bahwa tidak sepantasnya seorang raja menyuguh gurunya daging manusia, hanya seorang raksasa yang berbuat demikian. Kemudian Resi Vasistha sadar bahwa mungkin saja sang raja tidak tahu bahwa yang disuguhkan adalah daging manusia, mungkin saja hal tersebut adalah kesalahan juru masaknya. Oleh karenanya Resi Vasistha mengubah kutukan sehingga sang raja akan menjadi raksasa selama 12 tahun.

Raja Saudasa merasa tersinggung karena tidak merasa bersalah, dan mengambil air dan siap untuk ganti mengutuk Resi Vasistha. Adalah permaisuri raja, Madayanti yang mengingatkan bahwa tak baik mengutuk seorang guru. Mungkin saja di kehidupan dahulu sang raja pernah berbuat salah sehingga dalam kehidupan ini harus menyelesaikan hutang karma. Dengan mengutuk maka sang raja akan membuat karma baru lagi sehingga hutang karmanya tak pernah terselesaikan dan bahkan akan mendapatkan anak keturunan yang kurang baik. Sang raja sadar bahwa peringatan isrinya ada benarnya sehingga dia mengurungkan mengutuk gurunya dan airnya dijatuhkan ke kakinya. Kakinya menjadi hitam, gelap sehingga sang raja mendapat nama “Kalmasapada”, kaki malam.

Salah satu syarat untuk meniti ke dalam diri adalah menerima ketidakadilan yang menimpa kita. Dalam kehidupan masa lalu mungkin saja kita berbuat tidak adil sehingga kita menerima ketidakadilan masa kini. Bisa juga seseorang menerima ketidakadilan, karena Keberadaan ingin menunjukkan kepada orang banyak bagaimana seseorang dapat menghadapi ketidakadilan dengan bijaksana. Yang jelas kita tidak dapat membersihkan lantai dengan air yang kotor. Terima, hadapi, selesaikan tanpa kehilangan kesadaran. Dalam buku “Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2005 disampaikan tentang kemampuan untuk menerima ketidakadilan………… Bila kita selalu ingin diperlakukan secara adil, kita belum pantas memasuki alam meditasi. Seorang siswa yang sedang digembleng oleh gurunya mengeluh. Berlakulah adil kepadaku. Guru!” Guruberkata: “Kau memanggilku Master dan mengharap aku bertindak adil terhadapmu? Tidak bisa. Bila aku menggunakan paradigma, persepsi, dan definisimu tentang keadilan, lalu bertindak sesuai itu, kau akan berhenti di tempat. Kau tak akan maju selangkah pun. Tindakanku yang terasa tidak adil, tidak fair itu justru akan mendorongmu untuk memasuki alam meditasi lebih cepat.” Selama definisi kita tentang keadilan dan fairness belum berubah, janganlah mengharapkannya dari Keberadaan dan para Bodhidharma. Seorang Bodhidharma adalah Hard Task Master, dia bukanlah seorang kompromis……….. Ada pohon yang berbuah dalam sekian bulan, atau sekian tahun. Persis seperti itu pula dengan perbuatan-perbuatan kita. Ada kalanya kita berbuat jahat, dan langsung dijatuhi hukuman. Pada saat itu seharusnya kita bersyukur, berterima kasih: “Ya Allah, sungguh beruntunglah diriku, tidak perlu menunggu lama untuk menyelesaikan hutang-piutang perbuatanku”………….

Sang raja kemudian menjalani kutukan sebagai raksasa di hutan dengan penuh kesadaran. Pada suatu ketika ada seorang brahmana berduaan bersama istrinya di hutan tersebut. Sebagaimana kebiasaan raksasa, maka dia berkeinginan untuk makan daging brahmana tersebut. Istri sang brahmana mengingatkan bahwa diri sejatinya adalah seorang raja manusia, agar dia bertindak sebagai seorang raja manusia dan agar tidak membunuh suaminya. Sang raja dalam kehidupannya sebagai raksasa tidak dapat mengendalikan sifat keraksasaannya, sehingga dia nekat membunuh sang brahmana. Istri sang brahmana kemudian membakar sisa tulang suaminya dan bunuh diri dalam api pembakaran, mengikuti sang suami. Sang istri brahmana sempat mengutuk, bahwa karena sang raja karena membunuh brahmana dan istrinya, maka dia tidak akan bisa berhubungan suami istri dengan sang permaisuri.

Demikian pula kita, dalam pola pikiran raksasa yang masih melekat dalam diri kita, maka kita juga sulit mengendalikan diri menghadapi hal-hal yang sudah terbiasa dalam kehidupan kita. Mengikuti naluri adalah perbuatan alami, dan bertindak penuh kesadaran adalah upaya penuh perjuangan. Baru setelah perjuangan tersebut dilaksanakan dan menjadi kebiasaan, kita dapat mengubah karakter baru yang selaras dengan kesadaran. Dalam buku “Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2005 disampaikan………… Pengendalian Diri bukanlah sesuatu yang terjadi secara alami. Untuk itu, kita harus bekerja keras. Terkendalinya diri oleh keadaan adalah sesuatu yang sangat alami. Bila kita masih belum dapat mengendalikan diri, dan masih terkendali oleh keadaan it makes sense, sangat alami. Bukanlah kita semua makhluk hidup? Bila makhluk hidup terkendali oleh kehidupan, apa salahnya? Kelak, bila kau berhasil mengendalikan hidupmu tidak perlu kau gembar-gemborkan juga. Saat itu, pengendalian dirimu menjadi sesuatu yang alami!………..

Setelah 12 tahun menjalani kehidupan sebagai seorang raksasa, sang raja kembali menjadi manusia dan memerintah kerajaannya lagi. Sang raja menceritakan pengalamannya kepada permaisuri bahwa dia telah membunuh suami-istri brahmana, dan mendapat kutukan dari istri brahmana tersebut yang menyebabkan dia tak bisa lagi berhubungan dengan istrinya. Sepasang suami istri tersebut menyadari bahwa tidak mudah membayar karma dalam satu kehidupan akibat kesalahan yang telah dibuatnya pada masa lalu. Selalu saja terjadi banyak kemungkinan seseorang akan membuat karma baru dalam kehidupan kini. Setiap orang perlu menjaga agar dapat hidup bereksadaran.

Dalam buku “The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2010 disampaikan………. Selama ini kita menjadi budak ambisi dan keinginan-keinginan kita sendiri. Karena kita terpesona oleh dunia benda, oleh bayangan Hyang Mahamenawan. Memang, bayanganNya saja sudah penuh pesona. Tapi alangkah tidak beruntungnya kita jika kita berhenti pada bayangan. Betapa meruginya kita jika kita tidak menatap Ia Hyang Terbayang lewat dunia benda ini. Ambisi dan keinginan kita sungguh tidak berarti, karena semuanya terkait dengan bayang-bayang. Kita mengejar bayangan keluarga, kekuasaan, kekayaan, kedudukan, ketenaran, dan sebagainya. Keinginan kita sungguh sangat miskin. Ambisi kita adalah ambisi para pengemis. Hyang Mahamenawan adalah raja segala raja. Ia adalah Hyang Terdekat, kerabat yang tak pernah berpisah, sementara kita masih menempatkan keluarga sejajar denganNya. Sungguh sangat tidak masuk akal. Silakan melayani keluarga. Silakan mencintai kawan dan kerabat. Tapi jangan mengharapkan sesuatu dari mereka semua, karena dinding kekeluargaan pun bisa retak. Persahabatan dapat berakhir. Kemudian, kau akan kecewa sendiri. Kekuasaan apa, kekayaan apa, kedudukan apa, dan ketenaran apa pula yang menjadi ambisimu? Jika kau menyadari hubunganmu dengan Ia Hyang Mahakuasa, dan Mahatenar adanya, saat itu pula derajadmu terangkat dengan sendirinya dari seorang fakir miskin, hina, dan dina menjadi seorang putra raja, seorang raja!………..

Mereka berdua kemudian menyerahkan diri mereka kepada Vasistha, guru mereka agar mereka dapat menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran. Dengan bantuan Vasistha akhirnya mereka mempunyai putra bernama Asmaka dan Saudasa beserta istrinya mencapai kebebasan. Dalam garis keturunan Asmaka lahir raja bijak Khatvanga yang konon dapat mencapai Narayana dalam waktu satu muhurta, 48 menit saja. Khatvanga mempunyai putra Dirghabahu. Dirghabahu mempunyai putra Raghu. Raghu mempunyai putra Aja. Aja mempunyai putra Dasaratha yang kemudian mempunyai putra Sri Rama, Laksmana, Bharata dan Satrugna.

Dalam buku “Think In These Things, Hal Hal Yang Mesti Dipikirkan Seorang Anak Bangsa”, Anand Krishna, Koperasi Global Anand Krishna, 2008 disampaikan tentang Hidup Berkesadaran……….. Living Consciously atau Hidup Berkesadaran.

Pertama: Pengendalian Diri. Tidak membiarkan napsu merajalela, memperbudak dan mengendalikan dirimu, tetapi menggunakan napsu untuk menggairahkan hidupmu, memberimu semangat untuk hidup dan berkarya. Untuk mencapai tujuan itu, yoga memberi beberapa tips: Satu, Kenali Dirimu. Temukan Jati Dirimu – Kebenaran Diri. Yaitu, menginventaris diri, kemampuanku seberapa, kelemahanku apa saja, dan meningkatkan kemampuan diri bila perlu, mengatasi kelemahan yang pasti. Dua, Menghindari kekerasan dalam segala hal. Janganlah engkau membenarkan jalan yang tidak mulia, sekalipun tujuanmu mulia. Bom bunuh diri, aksi terorisme yang membunuh dan merugikan banyak pihak tidak dapat dibenarkan, semulia apapun tujuannya. Tiga, Meragukan dari ekstrimitas, karena segala sesuatu yang ekstim menegangkan jiwa secara berlebihan. Dan, dengan syaraf-syaraf yang tegang kau tidak dapat berkarya, kau tidak dapat berpikir dengan jernih. Tapi, jangan tiru ekstrimitas dalam tindakan seperti yang dilakukan oleh kawan-kawan kita para teroris yang masih bisa cengengesan-cengingisan setelah membunuh, membantai sesama manusia. Empat, Melampaui keserakahan. Terakhir, Lima, Melampaui keterikatan. Orang yang serakah tidak segan merampas hak orang lain demi kepentingan dirinya. la tidak malu menjadi wakil rakyat dan menghamburkan uang rakyat, sementara rakyat yang diwakilinya masih kelaparan. Dan, dengan melampaui keterikatan, seseorang baru dapat mengasihi tanpa syarat. la tidak pilih kasih lagi. la juga tidak lagi mementingkan keluarga dan mertuanya di atas kepentingan rakyat jelata.

Kedua: Mawas Diri. Tips-tips yang diberi dalam yoga masih amat sangat relevan dengan zaman kita. Misalnya: Satu, Menjaga kebersihan diri. Yang dimaksud tentu bukanlah sekadar kebersihan fisik, tetapi kebersihan jiwa, pikiran, dan lingkungan. Dua, Memelihara kesederhanaan. Hidup sederhana dengan keinginan-keinginan yang terbatas, itulah kunci hidup bahagia. Tiga, Kepuasan diri, karena orang yang tidak merasa puas dengan apa yang diperolehnya secara wajar, cenderung akan menjadi korup, penyeleweng, manipulator. la menjadi perampas hak orang, perampok, pencuri – maling! Empat, Introspeksi diri, berarti tidak selalu mencari pembenaran dengan menyalahkan keadaan dan orang lain. Bertanggung jawab atas setiap tindakan, ucapan, bahkan pikiran – itu yang dimaksud dengan introspeksi diri. Terakhir, last but not least, Lima, Penyerahan diri secara total pada kehendak Ilahi. Berbuat maksimal sebatas kemampuan kita, dan yang terbaik tentunya, tetapi tidak ngotot perkara hasilnya. Serahkan perkara hasilnya pada Yang Maha Kuasa, apa pun sebutanmu bagi-Nya, Allah, Bapa di Surga, Buddha, Tao, Hyang Widhi, Atau bila suka dengan bahasa yoga: “Ia Yang Bersemayam dalam Dirimu”, karena “Dia Yang lebih Dekat dari Urat Lehermu” itu, senantiasa menjadi “Sang Saksi” akan setiap perbuatanmu, ucapanmu, pikiranmu, dan perasaanmu. Selanjutnya, yoga mengajak kita untuk melatih diri dengan berbagai cara untuk mencapai tujuan akhir yoga – yaitu Hidup Berkesadaran. Hidup Seimbang, tidak ikut terombak-ambik oleh pasang-surutnya samudera kehidupan. Hidup berkesadaran dalam pengertian seluas-luasnya berarti termasuk hidup yang peduli lingkungan, peduli tetangga, peduli nasib bangsa dan gegara – PEDULI. Tidak hidup sembrono, tetapi hidup dengan penuh kepedulian terhadap sesama, Ya, sesama, bukan sekadar sesama manusia, tetapi juga sesama makhluk hidup, terhadap flora dan fauna, terhadap alam dengan seluruh isinya. Terhadap udara – tidak mencemarinya dengan asap rokok. Terhadap air – tidak mengotorinya dengan membuang sampah secara sembarang. Terhadap tanah – tidak meracuninya dengan bahan-bahan kimia termasuk pupuk buatan segala. Mungkin Lao Tze memahami betul konsep yoga ini, sehingga Beliau berkata bahwa segala upaya manusia untuk memperbaiki alam, justru merusaknya. Alam sudah balk. Tak ada yang salah dengan alam. Yang dibutuhkan justru penyelarasan diri kita dengan alam. Bagaimana hidup harmonis dengan alam – itulah HIDUP DALAM YOGA. Yoga berarti “Mempersatukan”. Yoga berarti “Mengutuhkan” – mengutuhkan manusia melalui penyelarasan diri dengan semesta. Mempersatukan ucapan dan tindakannya dengan pikirannya yang sudah terkendali, dengan perasaannya yang telah lembut.  “Bila kau seorang yogi,” seorang sufi dari Sindh (Pakistan), Shah Abdul Latif berkata, “maka lampauilah segala dualitas, hiduplah dalam Yang Tunggal, Satu.”……….

Demikian beberapa nasehat Bapak Anand Krishna dalam beberapa bukunya untuk meningkatkan kesadaran manusia. Sayang pandangan beliau yang lintas kepercayaan dan menyangkut hakikat yang universal tersebut sering disalahpahami beberapa kelompok masyarakat yang tidak menyukai kebhinnekaan. Silakan lihat…….

http://www.freeanandkrishna.com/in/

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Juli 2011

Numpang Promo: Setelah program online di Svarnadvipa Institute of Integral Studies ( http://svarnadvipa.org ) yang dimulai Februari 2011, kini One Earth Integral Education Foundation akan memulai program e-learning. Program online baru “Online Spiritual Transpersonal Psychology”. Akan dimulai paling lambat tgl 1 September 2011. Program dan pembahasan bilingual. Ada 12 materi biweekly/dua mingguan. Kualifikasi minimal S1. Usia tidak terbatas. Siapa saja boleh ikut. Biaya untuk program 12 lesson Rp 720,000. Pendaftaran terakhir tgl 15 Agustus 2011. Mereka yang mendaftar sebelum tanggal 7 Agustusi dan sudah melunasi, mendapatkan early bird discount dan hanya membayar Rp 540,000. Contact Person: Triwidodo, HP; 081326127289 email tdjokorahardjo@yahoo.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: