Renungan Bhagavatam: Kisah Awal Dinasti Candra, Pria Dan Wanita Mempunyai Keunggulan Berbeda


Resi Sukabrahma telah menceritakan Kisah-Kisah Ilahi tentang anak keturunan Dinasti Surya kepada Parikesit. Dan, kini mulai menceritakan tentang kisah-kisah dari Dinasti Chandra.

Soma atau Chandra adalah putra Resi Atri dan merupakan cucu dari Brahma. Dia adalah penguasa osadhi, tanaman obat dan bintang. Dia demikian tampan sehingga banyak wanita yang jatuh cinta kepadanya. Soma melarikan Tara, istri dari Brihaspati guru para dewa. Brihaspati minta agar Tara dikembalikan akan tetapi Soma tidak mau. Para Asura dibawah didikan Guru Shukra tidak senang dengan Brihaspati putra Resi Angirasa, sehingga mereka melindungi Soma. Dan, terjadilah peperangan antara para asura dengan para dewa. Brahma turun tangan datang ke Soma, mengambil Tara dan mengembalikan kepada Brihaspati. Brihaspati sangat mencintai Tara, sehingga menerima kondisi Tara yang sedang hamil. Seorang putra yang sangat tampan dilahirkan dan Brihaspati sangat sayang kepada anak tersebut. Akan tetapi Soma merasa bahwa putra tersebut adalah anaknya. Para resi dan para dewa menanyakan kepada Tara siapa bapak dari anak tersebut, akan tetapi dia diam seribu bahasa. Anak yang baru dilahirkan kemudian langsung berbicara, “Ibu, kenapa engkau diam? Engkau tidak setia terhadap suamimu dan keberatan menceritakan siapa ayahku? Aku ingin kebenaran dibuka, berbicaralah kepadaku!” Tara akhirnya berbicara kepada sang anak. Brahma kemudian bertanya kepada sang anak siapakah bapaknya yang dijawab Chandra. Brahma kemudian mengambil sang anak dan diberikan kepada Chandra. Brahma menyebut anak tersebut sebagai Budha, ia yang mengetahui kebenaran. Dan anak tersebut akhirnya menjadi remaja yang bijaksana yang menjadi cikal bakal dinasti Chandra.

Kisah-kisah Bhagavata Purana erat dengan kisah perbintangan/astronomi. Dan, para leluhur kita mempunyai keyakinan bahwa planet-planet ikut mempengaruhi suasana kehidupan. Candra, atau Soma adalah penguasa Bulan, dan leluhur kita menamakan hari yang dipengaruhi bulan sebagai Soma, Senin, Monday, hari yang dipengaruhi “moon”, “manas”. Selasa dipengaruhi oleh planet Mars, leluhur kita menyebut Anggara. Rabu dipengaruhi oleh planet Mercurius, yang dalam bahasa Jawi Kuno hari Rabu disebut Budha, Planet Mercurius. Kamis dipengaruhi oleh planet planet Yupiter, Dewanya Brihaspati, guru para dewa, leluhur kita menyebutnya Respati. Jum’at dipengaruhi oleh planet Venus, Dewanya adalah Sukracharya, leluhur kita menyebut hari Jum’at sebagai Sukra. Saptu dipengaruhi oleh planet Saturnus, sehingga disebut Saturday, leluhur kita menyebutnya Tumpak atau Saniscara. Sedangkan Minggu dipengaruhi oleh Matahari, Surya, Ra, sehingga harinya disebut Sunday, para leluhur kita menyebut Radite.

Budh” sendiri mempunyai makna jaga, terjaga, sadar. Juga mempunyai makna perhatian dan pemahaman. Juga bermakna mempunyai insight dan pengertian yang mendalam. “Budha” mempunyai makna bijak, yang terjaga, intelegent. Bila Soma mewakili samudera pikiran atau keluasan “mind”, “manas”, “moon”, maka Budha adalah intelegensia. Dalam diri manusia ada genetik bawaan dari Soma dan Budha, berupa pikiran dan intelegensia. Bahkan kita juga membawa genetik sebelum kakek Soma yaitu Brahma, genetik pencipta. Hanya proporsinya berbeda-beda bagi setiap manusia, tergantung pengalaman dan perjuangannya dalam meningkatkan evolusinya. Bila seseorang merasa angkuh, kaya, tampan/cantik dan suka pada wanita/pria milik orang lain, maka dia mencontoh Soma. Proporsi mind besar. Bila seseorang menginginkan kebenaran dan senang hidup berkesadaran, maka dia mencontoh Budha. Proporsi intelegensia besar.

Dalam buku “Atma Bodha, Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan perbedaan antara mind-mano dan intelegensia-budhi…….. Ada mind, ada intelejensia. Bukan intelek, tetapi intelejensia, karena intelek masih merupakan bagian dari mind. Penghalusan mind itulah intelek. Mind bersifat “khas”, pribadi. Cara berpikir Anda dan cara berpikir saya berbeda. Tidak bisa 100% sama. Sebaliknya intelegensia bersifat universal.misalnya: apa yang Anda anggap indah dan apa yang saya anggap indah mungkin berbeda. Definisi kita tentang keindahan mungkin bertolak belakang, karena definisi adalah produk mind, produk pikiran. Tetapi, ketertarikan kita pada keindahan bersifat universal. Anda suka yang indah-indah. saya pun menyukai keindahan. Nah, menyukai keindahan ini berasal dari intelegensia. Anda ingin bahagia, saya ingin bahagia, kita semua ingin bahagia. Nah, keinginan untuk hidup bahagia berasal dari intelegensia. Bila Anda menemukan kebahagiaan dari “A” dan saya menemukan dari “B”, perbedaan itu disebabkan oleh mind……….. Proporsi mind dan intelegensia dalam diri setiap manusia bisa berubah-ubah. Bisa turun-naik. Bila proporsi mind naik, intelegensia akan turun. Bila intelegensia bertambah, mind berkurang. Bila proporsi mind mengalami kenaikan, manusia menjadi ego-sentris. Dia akan mengutamakan kebahagiaan diri, kesenangan diri, kenyamanan diri, kepentingan diri. Mind hidup dalam dualitas. Bagi mind, Anda adalah Anda, saya adalah saya. Sebaliknya, intelegensia bersifat universal. Seorang ber-“intelegensia” akan memikirkan kebahagiaan umum, kesenangan dan kenyamanan umum, kepentingan umum. Dalam satu kelompok atau satu organisasi level intelegensia setiap anggota biasanya mirip-mirip. Jelas tidak bisa sama, tetapi ya kurang lebihlah! Bila tidak, akan selalu terjadi kesalahpahaman dan pertikaian………… Bangsa kita saat ini sedang mengalami krisis intelegensia, krisis “budhi”, krisis kesadaran. Ada yang berintelegensia tinggi dan bisa menerima perbedaan, tetapi ada juga yang berintelegensia sangat rendah, sehingga tidak bisa menerima perbedaan. Mereka ingin menyeragamkan segala sesuatu. Akibatnya, kita berada di ambang disintegrasi. Jalan keluarnya hanya satu: yang berintelegensia rendah meningkatkan intelegensia diri. Atau yang berintelegensia tinggi turun ke bawah. Bergabung dengan mereka yang berintelegensia rendah. Perbedaan keduanya cukup jelas, mind atau mano selalu melihat dualitas; intelegensia atau budhi selalu melihat kesatuan. Sebetulnya, budhi juga melihat perbedaan, tapi ia melihat kesatuan di balik perbedaan. Sementara mind hanya melihat perbedaan. Budhi melihat isi; mano melihat kulit………

Demikian salah satu pandangan Bapak Anand dalam hal pemberdayaan diri agar terbangun masyarakat berkesadaran. Sayang pandangan beliau mungkin belum bisa ditangkap dan dianggap sesat, sehingga ada usaha sekelompok orang untuk menjatuhkan nama baik beliau. Silakan lihat…..

http://www.freeanandkrishna.com/in/

Sraddhadewa dari dinasti Surya lama tidak mempunyai keturunan dan meminta Vasistha, gurunya untuk melakukan upacara yajna mohon bantuan Mitra dan Varuna. Akan tetapi Istri Sraddhadewa menginginkan kelahiran seorang putri, sehingga ketika proses yajna sedang berlangsung dia meminta bantuan Hota agar anak yang lahir menadi seorang putri. Dan lahirlah seorang putri yang dinamakan Ila. Vasistha menjelaskan kepada raja bahwa Hota telah mengubah mantra. Akan tetapi Resi Vasistha sanggup mengubah kelamin Ila menjadi laki-laki dengan kekuatan tapanya. Dan, kemudian Ila berubah menjadi pangeran bernama Sudyumna.

Di suatu lereng Meru dikisahkan Mahadewa sedang bercengkerama dengan Parvati. Pada suatu ketika, para resi yang ingin bertemu dengan Mahadewa masuk ke tempatnya tanpa memberitahu lebih dahulu. Pada waktu itu Parvati sedang duduk di pangkuan Mahadewa tanpa pakaian. Parvati sangat malu atas kejadian tersebut, dan Mahadewa kemudian berkata bahwa mereka yang masuk ke dalam hutan tersebut akan berubah menjadi wanita. Para resi berubah menjadi wanita dan Parvati menjadi lega. Dengan berjalannya waktu tak ada lelaki yang berani memasuki hutan tersebut. Pada suatu ketika Pangeran Sudyumna kebetulan masuk ke hutan tersebut, dan dia berubah menjadi wanita lagi atau menjadi Ila. Sang Raja minta bantuan Resi Vasistha lagi. Dan, Resi Vasistha kemudian berdoa kepada Mahadewa agar Ila dapat berubah menjadi laki-laki lagi. Mahadewa mengatakan bahwa dalam satu bulan putra Sraddhadewa akan menjadi putri Ila dan satu bulan berikutnya menjadi pangeran Sudyumna. Dikisahkan saat menjadi putri Ila, Pangeran Buddha, putra Candra jatuh hati kepadanya, sehingga akhirnya mereka menikah. Dari Buddha dan Ila lahirlah Pururawa, raja pertama dari Dinasti Chandra yang merupakan nenek moyang Pandawa dan Korawa………

Dalam kisah ini Bhagawan Abhyasa mengetengahkan kisah tentang pria dan wanita dan kelucuan perubahan kelamin Putri Ila menjadi Pangeran Sudyumna dan kemudian berganti-ganti setiap bulan. Nampaknya Bhagawan Abyasa ingin mengingatkan para orang tua bahwa anak laki-laki atau perempuan sama saja dan keduanya dapat membawa nama baik orang tua. Sang Bhagawan juga secara tersirat menyatakan bahwa sesungguhnya pria dan wanita adalah penampilan fisiknya akan tetapi ruh tidak bersifat pria atau tidak wanita. Ada sebuah simbol persatuan antara pria dan wanita yang disebut Ardhanarishvara. Setengah Shiva dan setengan Parvati. Shiva merupakan simbol Purusha adalah prinsip maskulin, kekuatan pasif alam semesta, sementara Parvati merupakan simbol Prakriti, kekuatan aktif perempuan, keduanya merangkul satu sama lain, seperti inti dengan elektron. Persatuan Purusha (Shiva) dan Prikriti (energi Shiva, Shakti) menghasilkan alam semesta, yang disimbolkan dengan persatuan antara Lingga dan Yoni menciptakan alam semesta. Ardhanarishvara mengungkapkan bahwa Shiva dan Shakti adalah satu dan sama, interpretasi tersebut juga dinyatakan dalam prasasti yang ditemukan bersama dengan gambar Ardhanarishvara di pulau Jawa. Dalam Negarakertagama pupuh 43 bait 6, disampaikan bahwa di Candi Makam Sagala terdapat arca Ardhanareswara, sebuah arca dwitunggal sebagai lambang kesatuan raja Kertanegara dengan Bajradewi. Disebutkan Ardhanareswara diwujudkan dalam simbol kesatuan Shiva dengan Shaktinya Dewi Parwati.

Dalam buku “The Gospel Of Obama”, Anand Krishna, Koperasi Global Anand Krishna Bekerjasama dengaYayasan Anand Ashram, 2009 disampaikan……….. Jiwa sendiri pada dasarnya sempurna. Di sini, kita membicarakan tubuh, yang sekali lagi, hanyalah perwujudan jiwa dalam bentuk yang paling kasar. Kekasaran inilah yang sedang kita bahas. Dalam bentuknya yang paling mendasar, dalam bentuk jiwa, laki-Iaki dan perempuan masih setara. Tidak berbeda. Tetapi dalam bentuk tubuh, keduanya benar-benar berbeda. Kekasaran bentuk inilah perbedaannya. Dan oleh sebab itu, kita harus cermat mengamati kekasaran bentuk ini………. Dalam banyak hal kaum perempuan Iebih. unggul daripada laki-laki. Dengan kata lain, bahwa laki-laki juga unggul dalam bidang tertentu. Ada bidang-bidang di mana kaum perempuan Iebih unggul, dan ada bidang-bidang di mana kaum laki-laki lebih unggul. Masing-masing memiliki keunikan. Masing-masing memiliki kualitas khusus. inilah yang membuat mereka cocok. Inilah yang membuat perempuan dan laki-Iaki saling melengkapi. Jadi, pertama-tama mari kita tinggalkan perdebatan mengenai siapa yang unggul dan yang tidak. Perempuan tidak Iebih rendah daripada laki-laki, begitu pun sebaliknya. Keduanya sama-sama unggul dalam caranya sendiri, dan bidangnya masing-masing. Namun, tulisan ini tentang perempuan, maka saya akan membahas berbagai keunggulan perempuan dan hanya menyinggung sedikit tentang laki-laki, itu pun jika diperlukan. Untuk itu, kita harus kembali ke tema “kekasaran bentuk” dan bagaimana hal ini bisa membuat perempuan lebih unggul dibandingkan laki-laki dalam banyak hal……… Mari  kita telaah otaknya dulu. Bukti ilmiah, biologis lebih tepatnya, menunjukkan bahwa bagian otak Pre-Frontal perempuan lebih besar daripada laki-laki. Bagian ini juga lebih cepat matang daripada laki-laki. Menariknya, bagian ini berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan  pengendalian diri. Anda bisa buka berbagai kitab, entah itu Veda, Tao, Buddhis, Jain, Kristen, dan Islam, atau apa pun semuanya sepakat bahwa “Pengendalian Diri” ini menjadi “Kebaikan Tertinggi”. Sungguh disayangkan dari adanya miskonsepsi dan misinterpretasi dari mereka yang menyitir kitab yang sama untuk membuktikan bahwa kaum laki-laki lebih unggul dari perempuan seharusnya tunduk pada laki-Iaki. Anggapan seperti itu akan menyalahi pernyataan universal yang disampaikan  semua kitab suci. Memang dengan adanya kebaikan ini, kaum perempuan bisa menjadi pemimpin yang bijak. Jika mereka mengembangkan kemampuan rnenyusul dan mengelola, mereka bisa mencapai apa pun. Dan kabar baiknya, kaum perempuan bisa melakukannya lebih awal dan  lebih cepat daripada laki-laki. Amigdala dalam otak perempuan membuatnya kurang agresif dan tidak mudah terpancing amarah. Dan yang terakhir, Bagian Insula dalam otak perempuan lebih besar dan aktif, sehingga membuatnya lebih intuitif. Tidak seperti laki-laki, perempuan bisa menangkap “kebenaran”, dan tidak semata-mata memperhatikan fakta saja. Dengan demikian, kaum perempuan bisa menjadi hakim, jaksa, dan pengacara yang lebih mumpuni, dan kinerjanya lebih baik dalam pekerjaan yang melibatkan pengambilan keputusan……….. Perempuan memiliki massa otot yang lebih rendah sehingga tentu saja tidak cocok untuk menjadi kuli atau buruh angkut. Pekerjaan-pekerjaan seperti ini bisa dilakukan para laki-Iaki. Tidak masalah. Perempuan mungkin lemah dalam hal berargumentasi dan berfilsafat, jadi biarkanlah para laki-laki yang menjadi Socrates dan Plato. Tak masalah juga. Perempuan lebih bisa merasa, dia lebih bisa mengerti, dia lebih bisa mengasihi dan itulah yang sekarang dibutuhkan dunia. lnilah yang benar-benar dibutuhkan. Perempuan bisa memenuhi kebutuhan ini……….. Kromosom perempuan adalah X-X, 23-23 – dia sempurna. Kromosom laki-Iaki adalah X-Y, 23-22, dia kehilangan satu poin. Sudah diketahui bersama bahwa kromosom “X” pada laki-laki diturunkan dari ibunya. X adalah energi Feminin, yang menggerakkan kita. Seorang laki-laki tidak akan tercipta tanpa X, dia tidak bisa hidup hanya dengan kombinasi Y-Y. Sedangkan perempuan bisa hidup tanpa Y, dia bisa  hidup hanya dengan kombinasi X-X. Di balik kesuksesan seorang laki-laki ada perempuan yang berperan. Dan pernyataan ini pun memang benar karena perempuan merupakan personifikasi dari Sumber Kekuatan. Dalam tradisi Veda, ini disebut Shakti. Dan, Shakti bermakna Energi, Sumber Kekuatan. Kekuatan perempuan terletak pada kelembutan dan kehalusan budinya, yang membuatnya penuh kasih dan empati. Kaum perempuan oleh, karena itu bisa menjadi perawat yang hebat. Mereka lebih perhatian. Sebagai ibu, dia merawat. Sebagai saudari, dia mendukung. Sebagai istri atau kekasih, dia memperkuat.  Saya penasaran dengan mereka yang bersikukuh bahwa kaum perempuan harus tunduk pada laki-laki. Sadarkah mereka akan kenyataan ini? Atau, barangkali  justru karena sadar, mereka ingin menundukkan kaum perempuan. Mereka tahu bahwa mereka akan kalah bersaing dengan perempuan. Di sebagian negara, kaum perempuan banyak yang dibelenggu atas alasan ini. Mereka tidak boleh bergerak, berkembang. Mereka hanya bisa leluasa di balik pintu yang terkunci rapat, di balik selubung cadar. Mereka dibatasi oleh empat penjuru tembok. Betapa sumpeknya! Sayangnya, sebagian perempuan menganggap hal ini sebagai takdir mereka. Memalukan. Sangat memalukan bagi mereka yang meyakini dan bagi kita yang melihat mereka yakin. Tidak ada kehinaan yang lebih buruk daripada ini. Kaum perempuan harus menyadari kekuatannya. Mereka harus memahami perannya dalam membentuk nasib dunia, masa depan dunia. Mereka bukanlah makhluk tak berdaya yang hidup dari belas kasih bumi laki-laki. Mereka hadir di dunia ini untuk secara setara berbagi beban dan berperan serta dalam berbagai urusan. Dunia ini bukan milik laki-laki semata. Ini adalah milik laki-laki dan perempuan. Milik makhluk-makhluk di darat dan burung di udara. Seorang perempuan, yang tidak menyadari hal ini berarti tidak mengapresiasi kehadiran dan perannya dalam Keberadaan jelas-jelas menodai keperempuanannya. Dan, perempuan seperti itu tidak bisa ditolong lagi. Seorang perempuan memang tidak butuh bantuan, siapa pun juga. Dia dapat membantu dirinya sendiri. Oleb karena itu, berhentilah berjuang untuk emansipasi. Ketahuilah bahwa hal ini hanya membuang-buang waktu dan pikiran. Keperempuananmu sudah menjadi milikmu; tidak perlu lagi diperjuangkan. Dan keperempuananmu itulah kekuatanmu. Engkau sudah kuat. Yang diperlukan hanyalah kesadaran, sadar akan kekuatanmu. Itu saja………..

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Juli 2011

Numpang Promo: Setelah program online di Svarnadvipa Institute of Integral Studies ( http://svarnadvipa.org ) yang dimulai Februari 2011, kini One Earth Integral Education Foundation  akan memulai program e-learning. Program online baru “Online Spiritual Transpersonal Psychology”. Akan dimulai paling lambat tgl 1 September 2011. Program dan pembahasan bilingual. Ada 12 materi biweekly/dua mingguan. Kualifikasi minimal S1. Usia tidak terbatas. Siapa saja boleh ikut. Biaya untuk program 12 lesson Rp 720,000. Pendaftaran terakhir tgl 15 Agustus 2011. Mereka yang mendaftar sebelum tanggal 7 Agustusi dan sudah melunasi, mendapatkan early bird discount dan hanya membayar Rp 540,000. Contact Person: Triwidodo, HP; 081326127289 email tdjokorahardjo@yahoo.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: