Renungan Bhagavatam: Raja Pururawa, Kehendak Kuat Dalam Menggapai Tujuan


Pururawa adalah putra Buddha dari dinasti Chandra denga Ila dari dinasti Surya. Pururawa terkenal mempunyai ketampanan seperti Soma, sang kakek akan tetapi mempunyai kebijaksanaan seperti Buddha, sang ayah. Dikisahkan Dewaresi Narada sedang bercerita tentang kebaikan dan ketampanan Raja Pururawa, ketika seorang bidadari cantik Urvasi menjadi jatuh cinta kepada sang raja.

Dalam Bhagavata Purana sering dikisahkan intervensi para dewa yang kawin dengan putri manusia, atau bidadari yang kawin dengan putra manusia. Boleh jadi ada kemungkinan bahwa hal tersebut juga untuk meningkatkan evolusi manusia ke arah kesempurnaan. Hal tersebut juga bisa menjadi jawaban, mengapa ada kelompok manusia yang sudah berperadaban sangat maju dan masih ada kelompok manusia yang seakan-akan masih mengalami peradaban manusia purba karena terisolir. Karena bila hanya berdasar evolusi saja mestinya peradaban di seluruh dunia akan sama. Dalam alam semesta ini ada ratusan milyar galaxy. Dan dalam satu galaxy ada ratusan milyar matahari. Dalam satu matahari ada beberapa planet. Mungkin sekali di alam semesta ada makhluk-makhluk yang sangat tinggi peradabannya dan datang ke bumi dengan pesawat yang lebih cepat dari kecepatan cahaya. Siapa tahu mereka mengintervensi kita, datang dengan kereta-kereta dewa seperti vimana dan dibayangkan dalam tulisan lama dengan naik kereta yang ditarik kuda. Seperti tulisan lama yang menggambarkan Gatutkaca terbang pakai sayap yang digantung di kedua pundaknya, padahal semestinya Gatotkaca memakai jet tempur, karena perang Bharatayuda adalah perang nuklir. Hal tersebut terjadi dikarenakan karena pada saat tersebut sang penulis belum bisa membayangkan bepergian tanpa kereta atau terbang tanpa sayap.

Zaman dahulu, kita bisa bergaul dengan para dewa, para manusia atau para raksasa, tetapi itu adalah zaman dulu.  Dalam buku “Five Steps To Awareness 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan”, Karya Terakhir Mahaguru Shankara “Saadhanaa Panchakam”, Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia oleh Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2006 disampaikan……….. Dulu, kita masih bisa memilih, mau berteman, bersahabat, bergaul dengan para dewa, para malaikat, manusia, atau pada raksasa, para danawa. Sekarang, hal itu sudah tidak mungkin lagi, karena ketiga sifat malaikat, manusia dan raksasa berada dalam porsi yang sama dalam diri insan. Dalam diri kita semua terdapat sifat-sifat malaikat, manusia, dan raksasa. Karena itu, hendaknya kita mengembangkan ketiga nilai luhur “dam, data dan daya”, pengendalian diri, memberi atau berbagi, dan mengasihani……….

Pada saat Pururawa ketemu bidadari Urvasi mereka saling jatuh cinta. Akan tetapi Urvasi mengajukan dua syarat kepada Pururawa yang berniat memperuntingnya. Pertama, Urvasi mempunyai kambing kesayangan yang harus dilindungi. Kedua Urvasi tidak boleh melihat sang raja telanjang, kecuali saat mereka sedang bercinta saja. Pururawa menyanggupi dan jadilah mereka suami istri yang bahagia.

Adalah Dewa Indra yang selalu mengganggu ketenangan hidup manusia. Mungkin bukan mengganggu tetapi menguji apakah manusia selalu berada dalam kesadaran, atau sekali waktu masih menuruti pancaindra, pikiran dan perasaannya. Dikisahkan bahwa setelah beberapa bulan, Indra merasa surga menjadi muram dengan kehilangan Urvasi dan Indra berusaha mengembalikan Urvasi ke surga. Pada suatu ketika, sewaktu Pururawa dan Urvasi tidur nyenyak, datang para gandharwa utusan Indra untuk mengambil kambing Urvasi. Sang kambing mengembik karena ditarik dengan paksa. Urvasi berteriak bahwa ada pencuri yang mengambil kambing kesayangannya. Dalam keadaan buru-buru Pururawa mengambil senjatanya dan meloncat keluar dalam keadaan telanjang. Urvasi melihat suaminya dalam keadaan telanjang dan sebagaimana janjinya dahulu, maka dia menghilang. Para gandharwa segera melepaskan melepaskan sang kambing, tetapi Urvasi telah lenyap.

Pururawa sangat berduka, akan tetapi hal itu sebagai pembangkit semangat untuk bertemu lagi dengan Urvasi. Dan kemudian Pururawa bertapa dan mengembara mencari jejak berita dari Urvasi. Pada suatu ketika sang raja bisa bertemu dengan para bidadari dan mendengar kabar bahwa pada akhir tahun Urvasi akan datang selama satu malam sambil menyerahkan putranya. Akhirnya Pururawa dapat bertemu dengan Urvasi yang membawa putranya sebagai obat kerinduan dan juga penerus keturunannya. Tanpa keturunan dari Urvasi maka tidak akan ada dinasti Bharata………. Resi Shukabrahma putra Bhagawan Abyasa berkata kepada Parikesit, bahwa Pururawa adalah nenek moyang Parikesit yang juga nenek moyang dirinya. Itulah sebabnya Bhagawan Abhyasa, ayahnya tidak mau tergoda oleh bidadari, karena tidak mau mengalami kejadian seperti nenek moyangnya tersebut.

Dalam kisah tentang raja-raja Mataram Yogyakarta juga disebutkan bahwa nenek-moyangnya juga seorang bidadari……… Jaka Tarub adalah pemuda sederhana yang patuh terhadap ibu angkatnya dan mempunyai obsesi mempunyai istri seorang bidadari yang cantik dan berjiwa suci agar dia dapat mempunyai anak keturunan yang mulia. Pada suatu hari, dia pergi ke puncak gunung yang dianggap keramat oleh penduduk desa setempat. Ternyata di puncak gunung tersebut ada sebuah telaga kecil yang indah. Ketika dia mendekat ternyata ada tujuh bidadari sedang mandi bersenda-gurau di telaga tersebut. Jaka Tarub mendekat ke arah tumpukan pakaian bidadari dan mengambil salah satu selendang dari para bidadari tersebut. Selesai mandi ketujuh bidadari berpakaian mengambil selendang dan terbang, hanya salah seorang tetap tinggal karena kehilangan selendang dan tidak bisa terbang dengan bidadari lainnya.

Jaka Tarub datang dan menyarankan agar lebih baik tinggal di rumahnya, daripada berjalan kaki pergi sendirian yang berbahaya. Bidadari tersebut menurut, bahkan akhirnya bidadari yang bernama Dewi Nawangwulan tersebut bersedia menjadi isteri Jaka Tarub. Mereka dikaruniai putri cantik  bernama Retno Nawangsih. Konon sebagai seorang istri Dewi Nawangwulan cukup memasak dengan sebutir beras yang menghasilkan nasi sebakul. Dewi Nawangwulan berpesan agar tidak ada seorang pun yang membuka tutup penanak nasi tersebut. Pada suatu hari, Jaka Tarub melanggar pesannya dan membuka tutup penanak nasi. Akibatnya sejak saat itu, Dewi Nawangwulan menanak nasi seperti biasa. Pada suatu hari karena persediaan lumbung beras semakin sedikit, maka Dewi Nawangwulan menemukan selendang bidadarinya disembunyikan di bawah lumbung tersebut. Akhirnya Dewi Nawangwulan mengetahui kalau suaminya yang sengaja mengambil selendang bidadari agar dia tak bisa terbang. Akhirnya Dewi Nawangwulan pergi ke langit dan tak ada kabar beritanya lagi.

Hubungan jiwa dengan bidadari meningkatkan spiritualitas Jaka Tarub. Jaka Tarub menjadi seorang yang bijak dan berpengaruh di desanya, bahkan bersahabat dengan Prabu Brawijaya dari Majapahit. Ki Ageng Tarub juga memahami tentang seluk-beluk perawatan “keris”, dan pada suatu hari sang prabu mengutus Ki Buyut Mahasar dan putra angkatnya bernama Bondan Kejawan untuk belajar tentang “keris” pada Ki Ageng Tarub. Ki Ageng Tarub mengetahui bahwa Bondan Kejawan sebenarnya adalah salah satu putra kandung dari Sang Prabu Brawijaya yang sengaja dijadikan anak angkat Ki Buyut Mahasar demi tujuan tertentu. Kini sang pangeran diminta belajar dari dirinya dan hidup di desa. Ki Ageng Tarub memahami, putrinya adalah sebuah wadah yang suci, sedangkan Raden Bondan Kejawan mempunyai darah penguasa Nusantara. Kombinasi keduanya akan menurunkan putra-putri yang perkasa. Ketika Retno Nawangsih tumbuh dewasa, keduanya pun dinikahkan. Setelah Ki Ageng Tarub meninggal dunia, maka Raden Bondan Kejawan menggantikan kedudukan mertuanya sebagai Ki Ageng Tarub yang baru. Retno Nawangsih melahirkan seorang putra, yang setelah dewasa disebut  Ki Getas Pandawa. Ki Getas Pandawa kemudian mempunyai putra bergelar Ki Ageng Sela, yang merupakan kakek buyut Panembahan Senapati, pendiri Kerajaan Mataram.

Kembali ke kisah Pururawa, putra Pururawa dan Urvasi adalah Ayu. Putra Ayu adalah Nahusa. Putra Nahusa adalah Yayati. Pura Yayati adalah Puru. Setelah 14 generasi lahirlah Dusyanta. Dusyanta mempunyai putra Bharata.

Raja Pururawa tidak larut dalam kesedihan setelah ditinggalkan Urvasi. Dia bertapa dan mengembara untuk menemukan Urvasi. Dia tahu bahwa Urvasi telah hamil saat menjadi istrinya. Dia hanya mempunyai satu calon putra mahkota penerus dinastinya dan itu adalah putra dirinya dengan Urvasi. Dia berjuang mencari tahu kapan ada bidadari yang turun ke bumi dan ingin agar mereka menyampaikan pesannya kepada Urvasi agar dia kembali ke dunia bersama putranya. Dia tidak pernah berkeluh-kesah dan bertindak pesimis terhadap kehendaknya. Akhirnya walau hanya semalam, Raja Pururawa berhasil bertemu kembali dengan Urvasi dan Urvasi menyerahkan putranya yang diberi nama Ayu kepadanya. Dalam kisah Jaka Tarub juga dikisahkan bahwa pemuda desa bernama Tarub memiliki obsesi  punya anak keturunan yang akan menjadi pemimpin Nusantara, sehingga dia menemukan bidadari yang akan menurunkan keturunan tersebut. Dalam buku “Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing , dan Catatan Oleh  Anand Krishna”, Gramedia Pustaka Utama, 2010 disampaikan perlunya “will power” untuk mencapai tujuan………. Bhakti Seva penulis buku “Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment menerjemahkan kata “sankalpa” dalam bahasa Sanskerta sebagai “keinginan” atau “desire”. Adalah “sedikit” lebih tepat jika kata tersebut diterjemahkan sebagai “will power” atau “kehendak yang kuat”. Saya katakan “sedikit” lebih tepat karena memang sulit menerjemahkan “sankalpa”. Pengertiannya adalah “kehendak kuat yang selaras dengan Kehendak Ilahi”. Orang yang ber-sankalpa sesungguhnya telah hanyut dalam kesadaran ilahi. Hal ini telah saya jelaskan dalam A New Christ, terjemahan, dan ulasan saya terhadap karya monumental, terpenting, dan terbaik Wallace Wattles, penulis The Science of Getting Rich, inpirasi di balik buku dan film The Secret. Selanjutnya, saya mesti melakukan revisi seperlunya, supaya pengertian umum yang sudah terlanjur salah mengaitkan “keinginan” atau “desire” dengan hukum ketertarikan atau law of attraction. Keinginan saja tidak cukup walau dibungkus rapi dengan keyakinan. Keinginan kita juga mesti selaras dengan seperangkat hukum alam yang lain, dan di atas segalanya adalah Hukum Sebab Akibat. Sankalpa adalah ‘kehendak kuat” yang selaras dengan Hukum Sebab-Akibat tersebut-a.k.

Dalam buku “Spiritual Astrology, The Ancient Art of Self Empowerment, Bhakti Seva, Terjemahan Bebas, Re-editing , dan Catatan Oleh  Anand Krishna”, Gramedia Pustaka Utama, 2010 juga disampaikan………. Berkehendak yang kuat tentang apa yang sungguh-sungguh diinginkan, itulah langkah pertama menuju kebahagiaan dalam hidup. Para astrolog di wilayah peradaban Sindhu atau Hindia selalu menasihati supaya kita betul-betul memusatkan seluruh pikiran/kesadaran kita pada apa yang kita hendaki. Itulah satu-satunya cara untuk mewujudkan kehendak menjadi kenyataan dalam hidup. Dalam hal ini, keberhasilan seseorang sangat tergantung pada: Harapan, Kesabaran, dan Keteguhan Hati. Keberhasilan kita melatih diri dalam ketiga hal ini memastikan keberhasilan kita dalam hidup. Kemudian, kesehatan, kekayaan, ketenaran, dan kebahagiaan semuanya menjadi milik kita………. Seorang yang selalu berkeluh kesah atau menaruh rasa iri terhadap keberhasilan orang lain tidak pernah sukses. Dunia ini tidak kekurangan sesuatu apa pun jua. Segala apa yang diinginkan ada di sini. Kekayaan yang berlimpah, kesehatan, kebahagiaan, semuanya ada. Orang yang berkeluh-kesah sungguh memiliki sikap pesimistis. Dan, seorang pesimistis tidak pernah dicintai, tidak pernah dihargai. Siapa yang mau bersahabat dengan orang seperti itu? Siapa yang man membantu orang seperti itu? Seorang pesimistis sungguh menjijikkan. Dan, dunia tidak membutuhkan orang-orang yang menjijikkan. Pesimis meracuni hidupnya dengan pesimisme. la menolak segala berkah dari alam. la menyengsarakan dirinya. Para dewa atau malaikat selalu membantu mereka yang optimistis; mereka yang penuh dinamisme; mereka yang cerah dan ceria; mereka yang menghendaki kebaikan. Sementara itu, orang-orang yang pesimistis dan malas, yang hanya bisa berkeluh kesah, dikerumuni oleh kekuatan-kekuatan rendah dan merendahkan. Kekuatan-kekuatan inilah yang menjauhkan mereka dari segala kebaikan di dalam dunia yang baik ini………… Di balik setiap akibat ada sebab. Bukanlah tanpa alasan jika sebagian orang meraih keberhasilan dan kebahagiaan; sementara itu sebagian lagi gagal, sakit-sakitan, hidup dalam kemelaratan, kesengsaraan, dan penderitaan. Oleh sebab itu, memang ada baiknya kita belajar dari kejadian-kejadian di masa lalu sehingga tidak mengulangi kesalahan-kesalahan lama. Tetapi, sangat tidak baik jika kita bernostalgia terus dan menghabiskan waktu untuk menyesali kesalahan-kesalahan di masa lalu. Janganlah melemahkan diri, dan mengendurkan semangatmu dengan mengenang terus kesalahan-kesalahan yang terjadi di masa lalu. Sekarang, saatnya kau bersemangat kembali, dan menghadapi tantangan hidup dengan penuh keceriaan. Dengan hati yang tenang tapi teguh ucapkan afirmasi ini: Terjadilah apa yang kuinginkan. Keberhasilan dan kebahagiaan mewarnai hidupku. Kesalahan-kesalahan di masa lalu tidak mengendurkan semangatku. Aku justru memanfaatkan pengalaman pengalaman itu sebagai anak tangga untuk meraih Keberhasilan Sejati, dan Kebenaran Abadi……….. Keteguhan hati, kesabaran, dan semangatmu akan mengundang kekuatan-kekuatan alam untuk membantumu sehingga kau dengan mudah meraih kesehatan, kekayaan, keberhasilan, dan kebahagiaan sejati……….

Demikian pandangan Bapak Anand Krishna dalam hal pemberdayaan diri. Sayang pandangan beliau disalahpahami oleh sekelompok orang yang berusaha menghancurkan nama baiknya. Silakan lihat…….

http://www.freeanandkrishna.com/in/

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Juli 2011

Numpang Promo: Setelah program online di Svarnadvipa Institute of Integral Studies ( http://svarnadvipa.org ) yang dimulai Februari 2011, kini One Earth Integral Education Foundation  akan memulai program e-learning. Program online baru “Online Spiritual Transpersonal Psychology”. Akan dimulai paling lambat tgl 1 September 2011. Program dan pembahasan bilingual. Ada 12 materi biweekly/dua mingguan. Kualifikasi minimal S1. Usia tidak terbatas. Siapa saja boleh ikut. Biaya untuk program 12 lesson Rp 720,000. Pendaftaran terakhir tgl 15 Agustus 2011. Mereka yang mendaftar sebelum tanggal 7 Agustusi dan sudah melunasi, mendapatkan early bird discount dan hanya membayar Rp 540,000. Contact Person: Triwidodo, HP; 081326127289 email tdjokorahardjo@yahoo.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: