Renungan Bhagavatam: Wiswamitra, Perjuangan Tak Kenal Lelah Seorang Brahmarishi

Alkisah pada suatu hari, Raja Kausika putra mendiang Raja Gadhi, beserta pasukannya mengunjungi Resi Vasistha. Mereka dijamu Resi Vasistha dengan hidangan berlimpah. Raja Kausika heran bagaimana caranya Resi Vasistha dapat menyiapkan hidangan begitu lezat yang mencukupi seluruh kebutuhan pasukannya. Kemudian Resi Vasistha memanggil lembu Ilahi Sabala yang merupakan sumber segala kebutuhan yang tak ada habisnya, dan menjelaskan kepada Raja Kausika bahwa Sagala lah yang menyediakan hidangan tersebut.

Raja Kausika berkata, “Wahai Resi, lembu ini lebih bermanfaat bagi kerajaan daripada berada di ashram pedesaan, biarlah lembu ini saya bawa ke istana.” Karena Resi Vasistha merasa berkerkeberatan, maka Raja Kausika memerintahkan para prajuritnya menyeret Sabala. Keinginan untuk memiliki Sabala, dan keinginan untuk mempertahankan kenikmatan dari Sabala, membuat Raja Kausika lupa diri dan mencari pembenaran dengan mengatakan bahwa istana lebih butuh Sabala daripada ashramnya Resi Vasistha.

Lembu Ilahi Sabala meneteskan air mata, dia sangat sedih, mengapa Resi Vasistha yang sudah dianggap sebagai orang tuanya melepaskan dia begitu saja mengikuti sang raja. Tergerak oleh rasa kasih, Resi Vasistha kemudian berkata kepada Sabala, “Sabala keluarkan pasukan untuk mengalahkan pasukan Raja Kausika.” Sabala kemudian menciptakan pasukan yang sebanding kekuatannya dengan pasukan Raja Kausika. Dan, pasukan Raja Kausika mengalami kekalahan telak dari pasukan ciptaan Sabala.

Raja Kausika merasa malu, ternyata kekuatan seorang raja tidak dapat mengalahkan kekuatan seorang resi. Raja Kausika pulang ke istana, menyerahkan kekuasaan kepada putra mahkotanya dan pergi bertapa mohon senjata dari Shiva. Dengan tapa kerasnya Shiva berkenan memberikan senjata Bramastra. Dengan panah Bramastra anugerah dari Shiva tersebut, Raja Kausika kembali mendatangi padepokan Resi Vasishta. Dengan panahnya padepokan tersebut dihancurkan menjadi abu dan akhirnya berhadapanlah Raja Kausika dengan Resi Vasistha. Resi Vasistha memakai tongkatnya sebagai senjata. Ternyata panah Bramastra pun terserap ke dalam tongkat Brahmadanda dari Resi Vasistha. Kembali Raja Kausika menderita kekalahan dari Resi Vasistha. Dan sang raja kembali bertapa ribuan tahun agar dapat menjadi seorang resi yang dapat menandingi Resi Vasistha.

Dikisahkan bahwa Raja Trisanku dari dinasti Surya, yang merupakan leluhur Sri Rama tidak ingin mati berpisah dari raganya, dan ingin ke surga bersama raganya. Dia meminta Resi Vasistha mengabulkan permohonannya, tetapi dia ditolak. Ketika sang raja mohon kepada para putra Vasistha, mereka bahkan mengutuknya menjadi seorang chandala, sehingga tak ada seorang pun yang mengenalinya, dan dia pergi mengembara dan tidak kembali ke istana.

Dalam pengembaraannya, sang chandala bertemu dengan Resi Kausika yang sedang bertapa. Kausika mengenali bahwa sang chandala adalah Raja Trisanku. Raja Trisanku berkata, “Sewaktu menjadi raja, aku selalu berbuat baik dan tak pernah menyimpang dari dharma, tetapi putra Vasistha telah mengutukku, kami mohon pertolongan Bapa Resi.” Resi Kausika membantu Raja Trisanku, dan bahkan mengusahakan Raja Trisanku dapat naik ke surga bersama tubuhnya. Ketika Raja Trisanku naik ke surga dan dan ditolak Indra, Resi Kausika kemudian membuatkan surga khusus bagi Trisanku, dan para dewa terpaksa menyetujuinya karena takut kepada kesaktian Resi Kausika. Begitu banyak galaxy di alam semesta dan sampai saat ini jumlahnya milyaran dan masih berkembang terus. Dalam sebuah galaxy pun ada milyaran matahari. Bhagawan Abyasa mengingatkan bahwa alam semesta ini sangat luas. Bahkan bumi pun hanya setitik debu dalam kebesaran alam semesta. Oleh karena itu jangan sekali-kali merasa angkuh terhadap kekuasaan Yang Maha Kuasa.

Pada suatu saat Resi Kausika terketuk oleh pengorbanan Resi Ajigarta yang merelakan putranya menjadi persembahan Varuna, agar cucu Raja Trisanku yang menjadi putra mahkota selamat. Resi Kausika kemudian memanggil seratus putranya agar ada salah satu yang sanggup berkorban menggantikan putra Resi Ajigarta. Separuh putranya menolak dan beralasan mengapa putra seorang rajaresi menggantikan putra resi tak terkenal sebagai korban persembahan. Kemudian kelimapuluh putranya dikutuk menjadi pengikut suku liar Nisadha, pemakan anjing selama 1.000 tahun. Kutukan tersebut bisa dimaknai, bahwa seorang putra yang tidak patuh dan tidak berbakti kepada orang tuanya, akan lahir kembali selama beberapa kehidupan sebagai penjaga setia yang patuh kepada majikan, layaknya anjing yang patuh pada tuannya. Hutangnya adalah kesetiaan mengabdi, sehingga karena tidak mengabdi kepada orang tua, maka dia harus mengabdi pada seorang majikan dalam beberapa generasi. Baca lebih lanjut