Menyambut Ramadhan Dalam Kebhinnekaan


Catatan Kecil Orasi Budaya di Candi Plaosan Juli 2011

 

Orasi Budaya  dan Doa Bersama bertajuk “Menyambut Ramadhan dalam Kebhinekaan” dilaksanakan di Candi Plaosan, Yogyakarta pada Kamis (28/7/2011). Acara tersebut terselengggara berkat kerjasama Komunitas Pecinta Anand Ashram, National Integration Movement (NIM), Lingkar Pelangi Nusantara, Aliansi Jogja untuk Indonesia Damai (AJI Damai), Gerakan Moral Rekonsiliasi Pancasila, Lembaga Studi Islam dan Politik (LSIP), AFSC(American Friends Service Committee), dan Paguyuban Tri Tunggal.

Acara dibuka oleh dr. Wayan Sayoga, selaku Direktur Eksekutif National Integration Movement (NIM). Ramadhan sebagai bulan suci umat Muslim merupakan sarana kembali ke dalam diri. Sebuah momentum untuk melihat kembali perjalanan hidup kita selama ini. Kita mempunyai founding father Ir. Sukarno yang visioner. Dan visi tersebut berdasarkan pengalaman sebuah bangsa. Kita merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, akan tetapi sebagai sebuah bangsa kita mempunyai pengalaman yang panjang. Bangsa Indonesia pernah mengalami kejayaan sewaktu Sriwijaya yang berdagang ke luar negeri dengan armada milik kerajaan sendiri. Bukan bangsa asing yang datang yang jual beli dengan menentukan harga atau persyaratan seperti yang dikehendakinya dengan memakai armadanya, akan tetapi Sriwijaya mempunyai bargaining position yang tinggi.

Romo FX. Agus S. Gunadi, Pastor Paroki Bintaran dan Pringgolayan tersebut mengajak peserta saling meneguhkan komitmen kebhinekaan di antara sesama anak bangsa. Dosen Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma ini berpendapat bahwa perbedaan merupakan keniscayaan yang menambah keindahan hidup. Ibarat simponi musik gamelan, setiap instrumen saling berpadu menyajikan suatu harmoni. Keindahan gamelan disebabkan kebhinnekaan suara dari banyak alat yang berbeda. Biarlah semua pihak menyuarakan dengan alatnya masing-masing. Tidak perlu orang menyuarakan alat yang bukan miliknya. Yang mempersatukan suara adalah keinginan untuk menyatukan diri dalam sebuah irama kesepakatan.

Pada hakikatnya banyak suara membuat keindahan yang menjadikan beragam suara menjadi satu musik. Kembali pernyataan Romo FX. Agus S. Gunadi selaras dengan Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa. Yang mempersatukan kebhinnekaan adalah Cinta Kasih. Cinta Kasih terhadap Tuhan dan Cinta Kasih terhadap sesama. Cinta Kasih diperoleh jika manusia mendekatkan diri pada Tuhan. Romo FX. Agus S. Gunadi juga memberikan ilustrai dengan jeruji-jeruji roda sepeda, dimana semakin mendekat ke pusat, maka perbedaan semakin sedikit. Demikian pula semakin dekat dengan Tuhan, semakin dalam rasa kasih, maka perbedaan semakin sedikit.

Kyai Jadul Maulana, Pengasuh Pondok Pesantren Kali Opak, Bantul menyatakan bahwa setiap orang sedang mengejar kesempurnaannya sebagai manusia. Proses ini disimbolisasikan lewat lakon-lakon wayang. Tema acara ini sama dengan tema peringatan 500 tahun Sunan Kalijaga yang digelar oleh Nahdatul Ulama (NU) di Alun-alun Utara Yogyakarta pada saat ini. Ada tiga hubungan yang harus dijaga, hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan sesama manusia dan hubungan manusia dengan alam semesta. Puasa merupakan ibadah yang mengandung misteri, karena hanya Tuhan sendiri yang akan menilainya. Puasa berarti menahan diri. Dengan menahan diri maka yang tahu perbuatan kita hanya Tuhan dan diri kita sendiri.

Pendiri Yayasan LKiS ini mengisahkan metafor telaga Al Kautsar. Barang siapa meminum setetes airnya maka ia tak akan merasa haus lagi. Ia akan puas, bersyukur dan tidak berkeinginan duniawi lagi. Intinya adalah Yang Satu melahirkan keberagaman. Dan keberagaman pada akhirnya kembali lagi pada yang satu. Bila ini dilakukan maka manusia akan merasakan Al Kautsar, minum setetes saja sudah tidak akan merasa haus lagi. Puasa adalah untuk menghayati pemahaman ini.

Bhikku Sasana Bodhitera, Direktur Sekolah Tinggi Agama Buddha (STIAB) Boyolali menyatakan apresiasinya terhadap acara ini. Acara inklusif  semacam ini memberi harapan pada bangsa yang besar, plural, dan gemah ripah loh jinawi. Kepala Vihara Gunung Kidul tersebut menandaskan bahwa setiap peserta yang hadir mewakili seluruh komponen bangsa. “Kita bisa membawa pesan persatuan ini ke komunitas kita masing-masing,” ujarnya. Ironisnya, dalam beberapa dekade terakhir, ada beberapa “anak nakal” yang mengadu domba dan hendak menikmati sendiri anugerah kekayaan bangsa kita. Mereka berebutan menjadi pejabat, padahal perlu ada juga yang menjadi anggota masyarakat. Menurut Bhikku, sebaiknya kita bertanya pada diri sendiri, “Persembahan apa yang telah kita berikan pada Ibu Pertiwi?”

Selanjutnya dari perwakilan umat Hindu. I Wayan Sumerta, selaku Ketua PHDI Yogyakarta menyampaikan dalam orasinya bahwa dalam Hindu ada istilah Brata. Mirip seperti puasa, intinya ialah mawas diri untuk kembali pada Sang Pencipta. Ada unsur Pradana dan Purusa dalam diri manusia. Pradana adalah badan fisik yang penuh “klesha”, kegelapan. Purusa atau Chitta, nilai-nilai ketuhanan. Manusia perlu mawas diri. Dalam brata, jauhi klesha menuju Chitta. Dari keberagaman menuju Satu. Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa. Dari pradana menuju chitta, Kesadaran Murni.

Selanjutnya Bapak Anand Krishna menyampaikan orasi budayanya. Tokoh humanis lintas agama ini bercerita tentang pengalamannya. Ia sempat diundang dalam sebuah acara formal yang dihadiri ratusan orang. Salah satu  pembicara berkata bahwa bangsa ini tak memiliki budaya Nusantara, yang ada budaya Jawa, budaya Sumatra, budaya Sunda dan lain-lainnya. Saat mendapat giliran berbicara, penulis produktif 140 buku tersebut mengingatkan pembicara terdahulu. Ia menyitir pendapat Ki Hadjar Dewantara yang menyatakan bahwa Pancasila merupakan nilai-nilai luhur budaya yang berasal dari seluruh kepulauan Indonesia. Dalam setiap budaya di Nusantara, selalu saja dijumpai nilai-nilai luhur seperti sila-sila dalam Pancasila. Jadi Pancasila adalah nilai-nilai luhur budaya bangsa.

Oleh sebab itulah, saat menjadi duta bangsa dalam forum internasional Parliament of the World’s Religions di Melbourne, Australia pada 2009, ia menawarkan Pancasila sebagai solusi bagi dunia. Menurut beliau, Bhinneka Tunggal Ika – Tan Hana Dharma Mangrwa bermakna nampaknya berbeda tapi esensinya sama.

Bapak Anand Krishna mengingatkan bahwa kita tidak perlu berkecil hati dengan kuantitas yang kecil, yang penting adalah kualitas yang dimiliki. Beliau menyampaikan bahwa untuk membuat 1 liter yogurt hanya diperlukan hanya 1 sendok teh Bibit Yogurt. Bila memakai 2 sendok teh Bibit Yogurt justru yogurt tidak jadi. Sewaktu Baginda Nabi Hijrah juga hanya dengan belasan orang, justru Baginda Nabi bisa mengubah sejarah dunia. Angka 0 (nol, zero) berasal dari daerah India (shunya) tetapi diperkenalkan oleh kaum muslim ke Eropa. Bila kita masih memakai huruf Rumawi, tanpa angka nol akan sulit menghitung jarak dari bumi ke bintang-bintang. Bahkan kala Indonesia diproklamirkan hanya perlu dua orang atas nama Bangsa Indonesia. Sekarang karena melibatkan terlalu banyak orang maka tidak jadi-jadi.

Simbol Cinta Kasih yang dipakai di Kementrian Kesra adalah Tat Twam Asi. Aku adalah engkau, engkau adalah aku. Secara sosiologis Tat Twam Asi merepresentasikan makna hadist: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi yang lain.” Secara psikologis Tat Twam Asi menjanjikan suatu kebahagiaan yang sejati, yakni kebahagiaan yang diperoleh ketika kita mampu membahagiakan orang lain. Secara spiritual, Tat Twam Asi adalah implementasi dari sabda Nabi: “ Belumlah beriman di antara kamu, sehingga mampu mencitai orang lain sebagaimana mencintai diri sendiri. Tidaklah berlebihan kiranya kalau Tat Twam Asi dikatakan sebagai puncak dari kasih sayang.

Perhatikan kata Bhinneka Tunggal Ika, Bhin-beda, Eka-satu, Tunggal-satu, Ika-satu. Appearing many essentially one. Nampak beragam esensinya satu. Einstein menyatakan materi berasal dari energi. Pada hakikatnya beragam materi berasal dari satu energi. Baginda Nabi mengatakan bukan seorang muslim jika membuat tetangganya terancam dan bukan seorang muslim jika seseorang makan kenyang, sedang tetangganya perutnya keroncongan. Jesus menyatakan cintailah tetanggamu seperti mencintai dirimu sendiri. Buddha menyampaikan bahwa setiap benda sedang berproses menuju kebuddhaan. Batu pun sedang berproses menuju kebuddhaan. Sehingga kita harus menghormati Trihita Karana, hubungan dengan Tuhan, hubungan sesama manusia dan hubungan dengan lingkungan alam semesta.

Bapak Anand Krishna di akhir sambutan menyanyikan syair Tulsidas dalam Shree hanuman Chalisa yang terdapat kata Ramadhan. Rama adalah Tuhan yang ada di mana-mana, sedang dhana adalah kemakmuran. Kemakmuran paling besar adalah menyaksikan bahwa Tuhan berada di Timur, di Barat dan di mana-mana. Seperti pernyataan Bapak Kayi Jadul Maulana, bahwa dari satu menjadi beragam dan dari beragam menjadi satu. Bhinneka Tunggal Ika Tan hana Dharma Mangrwa.

Acara di Candi Plaosan ini diakhiri dengan doa bersama. Masing-masing tokoh agama memimpin prosesi sakral tersebut. Ratusan peserta yang hadir berdiri dan mengikuti dengan penuh hikmat. Walau berdoa dengan cara yang berbeda, tapi sejatinya kita berdoa pada Dia yang satu adanya. Suatu peristiwa budaya yang indah menyambut bulan suci Ramadhan.

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Juli 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: