Renungan Bhagavatam: Wiswamitra, Perjuangan Tak Kenal Lelah Seorang Brahmarishi

Alkisah pada suatu hari, Raja Kausika putra mendiang Raja Gadhi, beserta pasukannya mengunjungi Resi Vasistha. Mereka dijamu Resi Vasistha dengan hidangan berlimpah. Raja Kausika heran bagaimana caranya Resi Vasistha dapat menyiapkan hidangan begitu lezat yang mencukupi seluruh kebutuhan pasukannya. Kemudian Resi Vasistha memanggil lembu Ilahi Sabala yang merupakan sumber segala kebutuhan yang tak ada habisnya, dan menjelaskan kepada Raja Kausika bahwa Sagala lah yang menyediakan hidangan tersebut.

Raja Kausika berkata, “Wahai Resi, lembu ini lebih bermanfaat bagi kerajaan daripada berada di ashram pedesaan, biarlah lembu ini saya bawa ke istana.” Karena Resi Vasistha merasa berkerkeberatan, maka Raja Kausika memerintahkan para prajuritnya menyeret Sabala. Keinginan untuk memiliki Sabala, dan keinginan untuk mempertahankan kenikmatan dari Sabala, membuat Raja Kausika lupa diri dan mencari pembenaran dengan mengatakan bahwa istana lebih butuh Sabala daripada ashramnya Resi Vasistha.

Lembu Ilahi Sabala meneteskan air mata, dia sangat sedih, mengapa Resi Vasistha yang sudah dianggap sebagai orang tuanya melepaskan dia begitu saja mengikuti sang raja. Tergerak oleh rasa kasih, Resi Vasistha kemudian berkata kepada Sabala, “Sabala keluarkan pasukan untuk mengalahkan pasukan Raja Kausika.” Sabala kemudian menciptakan pasukan yang sebanding kekuatannya dengan pasukan Raja Kausika. Dan, pasukan Raja Kausika mengalami kekalahan telak dari pasukan ciptaan Sabala.

Raja Kausika merasa malu, ternyata kekuatan seorang raja tidak dapat mengalahkan kekuatan seorang resi. Raja Kausika pulang ke istana, menyerahkan kekuasaan kepada putra mahkotanya dan pergi bertapa mohon senjata dari Shiva. Dengan tapa kerasnya Shiva berkenan memberikan senjata Bramastra. Dengan panah Bramastra anugerah dari Shiva tersebut, Raja Kausika kembali mendatangi padepokan Resi Vasishta. Dengan panahnya padepokan tersebut dihancurkan menjadi abu dan akhirnya berhadapanlah Raja Kausika dengan Resi Vasistha. Resi Vasistha memakai tongkatnya sebagai senjata. Ternyata panah Bramastra pun terserap ke dalam tongkat Brahmadanda dari Resi Vasistha. Kembali Raja Kausika menderita kekalahan dari Resi Vasistha. Dan sang raja kembali bertapa ribuan tahun agar dapat menjadi seorang resi yang dapat menandingi Resi Vasistha.

Dikisahkan bahwa Raja Trisanku dari dinasti Surya, yang merupakan leluhur Sri Rama tidak ingin mati berpisah dari raganya, dan ingin ke surga bersama raganya. Dia meminta Resi Vasistha mengabulkan permohonannya, tetapi dia ditolak. Ketika sang raja mohon kepada para putra Vasistha, mereka bahkan mengutuknya menjadi seorang chandala, sehingga tak ada seorang pun yang mengenalinya, dan dia pergi mengembara dan tidak kembali ke istana.

Dalam pengembaraannya, sang chandala bertemu dengan Resi Kausika yang sedang bertapa. Kausika mengenali bahwa sang chandala adalah Raja Trisanku. Raja Trisanku berkata, “Sewaktu menjadi raja, aku selalu berbuat baik dan tak pernah menyimpang dari dharma, tetapi putra Vasistha telah mengutukku, kami mohon pertolongan Bapa Resi.” Resi Kausika membantu Raja Trisanku, dan bahkan mengusahakan Raja Trisanku dapat naik ke surga bersama tubuhnya. Ketika Raja Trisanku naik ke surga dan dan ditolak Indra, Resi Kausika kemudian membuatkan surga khusus bagi Trisanku, dan para dewa terpaksa menyetujuinya karena takut kepada kesaktian Resi Kausika. Begitu banyak galaxy di alam semesta dan sampai saat ini jumlahnya milyaran dan masih berkembang terus. Dalam sebuah galaxy pun ada milyaran matahari. Bhagawan Abyasa mengingatkan bahwa alam semesta ini sangat luas. Bahkan bumi pun hanya setitik debu dalam kebesaran alam semesta. Oleh karena itu jangan sekali-kali merasa angkuh terhadap kekuasaan Yang Maha Kuasa.

Pada suatu saat Resi Kausika terketuk oleh pengorbanan Resi Ajigarta yang merelakan putranya menjadi persembahan Varuna, agar cucu Raja Trisanku yang menjadi putra mahkota selamat. Resi Kausika kemudian memanggil seratus putranya agar ada salah satu yang sanggup berkorban menggantikan putra Resi Ajigarta. Separuh putranya menolak dan beralasan mengapa putra seorang rajaresi menggantikan putra resi tak terkenal sebagai korban persembahan. Kemudian kelimapuluh putranya dikutuk menjadi pengikut suku liar Nisadha, pemakan anjing selama 1.000 tahun. Kutukan tersebut bisa dimaknai, bahwa seorang putra yang tidak patuh dan tidak berbakti kepada orang tuanya, akan lahir kembali selama beberapa kehidupan sebagai penjaga setia yang patuh kepada majikan, layaknya anjing yang patuh pada tuannya. Hutangnya adalah kesetiaan mengabdi, sehingga karena tidak mengabdi kepada orang tua, maka dia harus mengabdi pada seorang majikan dalam beberapa generasi. Baca lebih lanjut

Iklan

Renungan Bhagavatam: Parashurama Avatara, Memimpin Perubahan Dalam Pembersihan Adharma

Renuka adalah istri dari Resi Jamadagni, Resi Besar dari Dinasi Bhrigu. Renuka mempunyai putra empat orang akan tetapi kesemuanya tidak mempunyai karakter kesatria. Padahal Satyawati, ibu mertuanya menceritakan bahwa salah seorang putranya akan mempunyai karakter seorang kesatria sejati. Pada saat itu Renuka mengandung calon putra yang kelima, para resi datang menyampaikan berita bahwa putranya akan menjadi brahmana yang bersifat kesatria dan akan membersihkan dunia dari para kesatria yang telah berkubang dalam tindakan adharma. Pada saat itu para kesatria yang menjadi penguasa yang seharusnya melindungi rakyat, malah menindas rakyatnya. Akhirnya putra kelima lahir diberi nama Rama, yang bermakna Dia Yang Berada di Mana-Mana. Setelah besar dia dikenal sebagai Parashurama, karena dia bersenjatakan “parashu”, kapak. Dia juga dikenal sebagai Rama Barghava karena merupakan keturunan dari Dinasti Bhrigu. Sejak kecil sudah diramalkan para resi bahwa dia adalah avatara, Sang Pemelihara Alam yang mewujud untuk menegakkan dharma.

Dunia selalu berubah dan Sang Pemelihara Alam juga mengubah wujudnya dalam menegakkan dharma. Dia mewujud sebagai ikan, binatang air – Matsya Avatara, sebagai kura-kura, binatang amphibi – Kurma Avatara, dan mewujud sebagai celeng raksasa, binatang berkaki empat – Varaha Avatara. Kemudian mewujud sebagai setengah binatang dan setengah manusia – Narasimha Avatara. Selanjutnya Sang Pemelihara Alam mewujud sebagai Brahmana pada waktu menjadi Vamana Avatara. Kemudian kala mewujud sebagai Parashurama adalah sebagai Brahmana dengan karakter kesatria. Nantinya Sang Pemelihara Alam akan mewujud sebagai kesatria untuk menegakkan dharma sebagai Rama dan Krishna. Dan kemudian sebagai Buddha yang lahir sebagai kesatria tetapi kemudianmenjadi brahmana………

Perkembangan terus-menerus itulah hukum alam. Orang yang ingin bertahan dengan dogma-dogma lama untuk menunjukkan konsistensi diri, sesungguhnya berada pada posisi yang salah. Kenapa orang yang seperti itu berada pada posisi yang salah? Karena, perubahan adalah hukum alam. Sementara mereka yang fanatik terhadap dogma-dogma, dan tidak memahami nilai-nilai luhur di baliknya, terperangkap oleh ego mereka sendiri. Ego yang ingin membuktikan dirinya konsisten. Dalam buku “Be The Change, Mahatma Gandhi’s Top 10 Fundamentals For Changing The World”, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2008 disampaikan……. Konsistensi dianggap nilai-nilai luhur, padahal tidak demikian. Apa yang konsisten di dalam dunia ini? Apa yang konsisten dalam diri kita? Setiap beberapa tahun, bahkan seluruh sel di dalam tubuh kita berubah total. Dari zaman ke zaman, ajaran-ajaran luhur pun perlu dimaknai kembali, dikonstektualkan. Kebiasaan-kebiasaan lama mesti diuji terus apakah masih relevan, masih sesuai dengan perkembangan zaman. Ah, tapi kita malas. Kita tidak mau berijtihad, tak mau berupaya, lalu menerima saja apa yang disuapkan kepada kita. Padahal kitab-kitab suci pun melarang kita mengikuti seseorang secara membabibuta, walaupun orang itu rahib atau mengaku sebagai agamawan atau rohaniwan……….

Dikisahkan ada seorang raja sakti mandraguna dari kerajaan Hehaya yang beribukota di Mahismati bernama Kartawiryarjuna atau Sahasrarjuna. Karta wiryarjuna sakti, karena mendapatkan anugerah kesaktian dari Dattatreya yang merupakan “Amsa” dari Wisnu. Dikenal sebagai Sahasrarjuna, oleh karena kesaktiannya dia dianggap mempunyai “sahasrara”, seribu lengan. Para leluhur kita menyebutnya Harjuna Sasrabahu dari istana Maespati. Pada suatu hari raja Kartawirya dijamu air susu oleh Resi Jamadagni, dan sesampai di istana dia mengutus pasukannya untuk mengambil paksa sapi Jamadagni yang menghasilkan susu yang nikmat tersebut. Parasurama yang mendengar hal tersebut langsung membawa kapaknya dan membunuh sang raja serta para prajurit yang melindunginya.

Resi Jamadagni berkata pada Parashurama, “Putraku, tindakanmu akan disalahpahami sebagai seorang yang telengas, mudah membunuh. Padahal aku tahu alasanmu. Seorang raja yang sering melakukan kejahatan besar, kalau dibiarkan hidup terlalu lama, maka  perbuatannya akan semakin parah.  Dan, dalam kehidupan mendatang dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya, sehingga hidupnya akan sangat sengsara.  Pembunuhan yang kaulakukan adalah pembunuhan penuh kasih. Agar hutang sang penjahat sudah terbayar dengan kematiannya di dunia. Selain itu dengan  dibunuhnya para raja yang jahat, maka masyarakat yakin adanya keadilan, bahwa kejahatan apa pun akan dikalahkan. Pandangan hidupmu akan sering disalahpahami. Bahkan mungkin saja kau punya alasan sendiri yang tidak kuketahui. Karena kau adalah Sang Pemelihara Alam yang mewujud untuk menegakkan dharma.” Resi Jamadagni kemudian minta agar Parasurama melakukan ziarah ke semua sungai suci selama satu tahun. Baca lebih lanjut

Renungan Bhagavatam: Raja Gadhi Dan Resi Ruchika, Kebrahmanaan Ditentukan Oleh Karakter Bukan Oleh Status Kelahiran

Raja Gadhi adalah generasi ke 14 dari keturunan Raja Pururawa. Sang raja sudah lama belum mempunyai putra, walau sudah mempunyai putri seorang gadis bernama Satyawati. Adalah seorang resi bernama Ruchika yang merupakan resi besar anak keturunan Resi Brighu putra Brahma, melamar sang putri. Sang raja menyetujui asalkan sang resi dapat memberikan 1.000 ekor kuda putih yang telinganya berwarna hitam sebagai mas kawin. Resi Ruchika bertapa dan meminta kepada Varuna, raja samudra untuk membantunya. Dengan bantuan Varuna, sang resi berhasil membawa persyaratan tersebut dan dia menjadi suami dari Satyawati.

Pada masa itu, para resi dipandang sebagai manusia terhormat yang tidak begitu terikat dengan keduniawian dan tugasnya mengajar manusia ke arah kebaikan. Sedangkan para kesatria dan para raja yang berkuasa pada masa itu sering menyalahgunakan kekuasaannya. Raja Gadhi sendiri adalah seorang raja yang bijaksana yang dihormati para resi dan seluruh rakyatnya. Bila sebelumnya Resi Shukabrahma menceritakan kisah-kisah Srimad Bhagavatam kepada Parikesit  yang lebih terfokus kepada kisah para dewa dan para asura, kisah selanjutnya sudah lebih terfokus pada para resi dan para raja kesatria.

Kedua ibu dan anak, Permaisuri Raja Gadhi dan Satyawati, minta tolong Resi Ruchika, suami Satyawati agar dapat membantu mereka memperoleh putra. Resi Ruchika kemudian mempersiapkan dua mangkuk berisi air untuk diminum istrinya dan ibu mertuanya. Kemudian sang resi pergi ke sungai melaksanakan ritual doa saat matahari mulai tenggelam.

Dikisahkan sang permaisuri curiga bahwa Resi Ruchika mesti akan memberikan putra yang terbaik bagi istrinya, maka kemudian sang permaisuri minta kepada putrinya untuk bertukar mangkuk dan selanjutnya mereka meminumnya. Ketika Resi Ruchika pulang dari sungai, Satyawati berkata bahwa ibunya telah memintanya bertukar mangkuk. Resi Ruchika menyampaikan bahwa Kehendak Tuhan-lah yang terjadi dan bukan kehendak manusia. Resi Ruchika menyampaikan bahwa air dalam mangkuk yang diperuntukkan bagi ibunya bertujuan agar sang permaisuri memperoleh keturunan seorang kesatria yang berkarakter tegas yang cocok sebagai seorang putra mahkota. Sedangkan air dalam mangkuk yang diperuntukkan bagi Satyawati bertujuan agar dia memperoleh keturunan yang berkarakter brahmana yang teguh yang cocok bagi keturunan mereka.

Satyawati menyesal, rupanya dia tidak menginginkan putranya menjadi kesatria yang sakti yang sering menyalahgunakan kekuasaan dan bertindak sewenang-wenang karena kekuasaannya. Selanjutnya, Satyawati memohon kepada Resi Ruchika agar keadaan tersebut dapat diperbaiki. Resi Ruchika mengatakan bahwa dia bisa mengusahakan agar kejadian tersebut digeser tetapi hanya dalam satu generasi, sehingga cucu mereka akan menjadi kesatria walaupun keturunan Brahmana. Pikiran manusia memang terbatas pada bayangan yang dapat digambarkannya. Satyawati akhirnya mempunyai seorang putra yang mempunyai karakter seorang brahmana sejati dan nantinya salah seorang cucunya mempunyai sifat seorang kesatria sejati………

Bila Shraddadewa dari Dinasti Surya menginginkan seorang putra dan istrinya menginginkan seorang putri yang akhirnya dalam Srimad Bhagavatam dikisahkan bahwa setiap bulan sang anak berganti kelamin, satu bulan sebagai Pangeran Sudyumna dan satu bulan kemudian menjadi Putri Ila. Lima belas generasi berikutnya maka permasalahannya adalah apakah seorang putra akan memiliki karakter  kesatria atau brahmana. Baca lebih lanjut

Renungan Bhagavatam: Raja Pururawa, Kehendak Kuat Dalam Menggapai Tujuan

Pururawa adalah putra Buddha dari dinasti Chandra denga Ila dari dinasti Surya. Pururawa terkenal mempunyai ketampanan seperti Soma, sang kakek akan tetapi mempunyai kebijaksanaan seperti Buddha, sang ayah. Dikisahkan Dewaresi Narada sedang bercerita tentang kebaikan dan ketampanan Raja Pururawa, ketika seorang bidadari cantik Urvasi menjadi jatuh cinta kepada sang raja.

Dalam Bhagavata Purana sering dikisahkan intervensi para dewa yang kawin dengan putri manusia, atau bidadari yang kawin dengan putra manusia. Boleh jadi ada kemungkinan bahwa hal tersebut juga untuk meningkatkan evolusi manusia ke arah kesempurnaan. Hal tersebut juga bisa menjadi jawaban, mengapa ada kelompok manusia yang sudah berperadaban sangat maju dan masih ada kelompok manusia yang seakan-akan masih mengalami peradaban manusia purba karena terisolir. Karena bila hanya berdasar evolusi saja mestinya peradaban di seluruh dunia akan sama. Dalam alam semesta ini ada ratusan milyar galaxy. Dan dalam satu galaxy ada ratusan milyar matahari. Dalam satu matahari ada beberapa planet. Mungkin sekali di alam semesta ada makhluk-makhluk yang sangat tinggi peradabannya dan datang ke bumi dengan pesawat yang lebih cepat dari kecepatan cahaya. Siapa tahu mereka mengintervensi kita, datang dengan kereta-kereta dewa seperti vimana dan dibayangkan dalam tulisan lama dengan naik kereta yang ditarik kuda. Seperti tulisan lama yang menggambarkan Gatutkaca terbang pakai sayap yang digantung di kedua pundaknya, padahal semestinya Gatotkaca memakai jet tempur, karena perang Bharatayuda adalah perang nuklir. Hal tersebut terjadi dikarenakan karena pada saat tersebut sang penulis belum bisa membayangkan bepergian tanpa kereta atau terbang tanpa sayap.

Zaman dahulu, kita bisa bergaul dengan para dewa, para manusia atau para raksasa, tetapi itu adalah zaman dulu.  Dalam buku “Five Steps To Awareness 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan”, Karya Terakhir Mahaguru Shankara “Saadhanaa Panchakam”, Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia oleh Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2006 disampaikan……….. Dulu, kita masih bisa memilih, mau berteman, bersahabat, bergaul dengan para dewa, para malaikat, manusia, atau pada raksasa, para danawa. Sekarang, hal itu sudah tidak mungkin lagi, karena ketiga sifat malaikat, manusia dan raksasa berada dalam porsi yang sama dalam diri insan. Dalam diri kita semua terdapat sifat-sifat malaikat, manusia, dan raksasa. Karena itu, hendaknya kita mengembangkan ketiga nilai luhur “dam, data dan daya”, pengendalian diri, memberi atau berbagi, dan mengasihani……….

Pada saat Pururawa ketemu bidadari Urvasi mereka saling jatuh cinta. Akan tetapi Urvasi mengajukan dua syarat kepada Pururawa yang berniat memperuntingnya. Pertama, Urvasi mempunyai kambing kesayangan yang harus dilindungi. Kedua Urvasi tidak boleh melihat sang raja telanjang, kecuali saat mereka sedang bercinta saja. Pururawa menyanggupi dan jadilah mereka suami istri yang bahagia.

Adalah Dewa Indra yang selalu mengganggu ketenangan hidup manusia. Mungkin bukan mengganggu tetapi menguji apakah manusia selalu berada dalam kesadaran, atau sekali waktu masih menuruti pancaindra, pikiran dan perasaannya. Dikisahkan bahwa setelah beberapa bulan, Indra merasa surga menjadi muram dengan kehilangan Urvasi dan Indra berusaha mengembalikan Urvasi ke surga. Pada suatu ketika, sewaktu Pururawa dan Urvasi tidur nyenyak, datang para gandharwa utusan Indra untuk mengambil kambing Urvasi. Sang kambing mengembik karena ditarik dengan paksa. Urvasi berteriak bahwa ada pencuri yang mengambil kambing kesayangannya. Dalam keadaan buru-buru Pururawa mengambil senjatanya dan meloncat keluar dalam keadaan telanjang. Urvasi melihat suaminya dalam keadaan telanjang dan sebagaimana janjinya dahulu, maka dia menghilang. Para gandharwa segera melepaskan melepaskan sang kambing, tetapi Urvasi telah lenyap. Baca lebih lanjut

Renungan Bhagavatam: Kisah Awal Dinasti Candra, Pria Dan Wanita Mempunyai Keunggulan Berbeda

Resi Sukabrahma telah menceritakan Kisah-Kisah Ilahi tentang anak keturunan Dinasti Surya kepada Parikesit. Dan, kini mulai menceritakan tentang kisah-kisah dari Dinasti Chandra.

Soma atau Chandra adalah putra Resi Atri dan merupakan cucu dari Brahma. Dia adalah penguasa osadhi, tanaman obat dan bintang. Dia demikian tampan sehingga banyak wanita yang jatuh cinta kepadanya. Soma melarikan Tara, istri dari Brihaspati guru para dewa. Brihaspati minta agar Tara dikembalikan akan tetapi Soma tidak mau. Para Asura dibawah didikan Guru Shukra tidak senang dengan Brihaspati putra Resi Angirasa, sehingga mereka melindungi Soma. Dan, terjadilah peperangan antara para asura dengan para dewa. Brahma turun tangan datang ke Soma, mengambil Tara dan mengembalikan kepada Brihaspati. Brihaspati sangat mencintai Tara, sehingga menerima kondisi Tara yang sedang hamil. Seorang putra yang sangat tampan dilahirkan dan Brihaspati sangat sayang kepada anak tersebut. Akan tetapi Soma merasa bahwa putra tersebut adalah anaknya. Para resi dan para dewa menanyakan kepada Tara siapa bapak dari anak tersebut, akan tetapi dia diam seribu bahasa. Anak yang baru dilahirkan kemudian langsung berbicara, “Ibu, kenapa engkau diam? Engkau tidak setia terhadap suamimu dan keberatan menceritakan siapa ayahku? Aku ingin kebenaran dibuka, berbicaralah kepadaku!” Tara akhirnya berbicara kepada sang anak. Brahma kemudian bertanya kepada sang anak siapakah bapaknya yang dijawab Chandra. Brahma kemudian mengambil sang anak dan diberikan kepada Chandra. Brahma menyebut anak tersebut sebagai Budha, ia yang mengetahui kebenaran. Dan anak tersebut akhirnya menjadi remaja yang bijaksana yang menjadi cikal bakal dinasti Chandra.

Kisah-kisah Bhagavata Purana erat dengan kisah perbintangan/astronomi. Dan, para leluhur kita mempunyai keyakinan bahwa planet-planet ikut mempengaruhi suasana kehidupan. Candra, atau Soma adalah penguasa Bulan, dan leluhur kita menamakan hari yang dipengaruhi bulan sebagai Soma, Senin, Monday, hari yang dipengaruhi “moon”, “manas”. Selasa dipengaruhi oleh planet Mars, leluhur kita menyebut Anggara. Rabu dipengaruhi oleh planet Mercurius, yang dalam bahasa Jawi Kuno hari Rabu disebut Budha, Planet Mercurius. Kamis dipengaruhi oleh planet planet Yupiter, Dewanya Brihaspati, guru para dewa, leluhur kita menyebutnya Respati. Jum’at dipengaruhi oleh planet Venus, Dewanya adalah Sukracharya, leluhur kita menyebut hari Jum’at sebagai Sukra. Saptu dipengaruhi oleh planet Saturnus, sehingga disebut Saturday, leluhur kita menyebutnya Tumpak atau Saniscara. Sedangkan Minggu dipengaruhi oleh Matahari, Surya, Ra, sehingga harinya disebut Sunday, para leluhur kita menyebut Radite.

Budh” sendiri mempunyai makna jaga, terjaga, sadar. Juga mempunyai makna perhatian dan pemahaman. Juga bermakna mempunyai insight dan pengertian yang mendalam. “Budha” mempunyai makna bijak, yang terjaga, intelegent. Bila Soma mewakili samudera pikiran atau keluasan “mind”, “manas”, “moon”, maka Budha adalah intelegensia. Dalam diri manusia ada genetik bawaan dari Soma dan Budha, berupa pikiran dan intelegensia. Bahkan kita juga membawa genetik sebelum kakek Soma yaitu Brahma, genetik pencipta. Hanya proporsinya berbeda-beda bagi setiap manusia, tergantung pengalaman dan perjuangannya dalam meningkatkan evolusinya. Bila seseorang merasa angkuh, kaya, tampan/cantik dan suka pada wanita/pria milik orang lain, maka dia mencontoh Soma. Proporsi mind besar. Bila seseorang menginginkan kebenaran dan senang hidup berkesadaran, maka dia mencontoh Budha. Proporsi intelegensia besar.

Dalam buku “Atma Bodha, Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan perbedaan antara mind-mano dan intelegensia-budhi…….. Ada mind, ada intelejensia. Bukan intelek, tetapi intelejensia, karena intelek masih merupakan bagian dari mind. Penghalusan mind itulah intelek. Mind bersifat “khas”, pribadi. Cara berpikir Anda dan cara berpikir saya berbeda. Tidak bisa 100% sama. Sebaliknya intelegensia bersifat universal.misalnya: apa yang Anda anggap indah dan apa yang saya anggap indah mungkin berbeda. Definisi kita tentang keindahan mungkin bertolak belakang, karena definisi adalah produk mind, produk pikiran. Tetapi, ketertarikan kita pada keindahan bersifat universal. Anda suka yang indah-indah. saya pun menyukai keindahan. Nah, menyukai keindahan ini berasal dari intelegensia. Anda ingin bahagia, saya ingin bahagia, kita semua ingin bahagia. Nah, keinginan untuk hidup bahagia berasal dari intelegensia. Bila Anda menemukan kebahagiaan dari “A” dan saya menemukan dari “B”, perbedaan itu disebabkan oleh mind……….. Proporsi mind dan intelegensia dalam diri setiap manusia bisa berubah-ubah. Bisa turun-naik. Bila proporsi mind naik, intelegensia akan turun. Bila intelegensia bertambah, mind berkurang. Bila proporsi mind mengalami kenaikan, manusia menjadi ego-sentris. Dia akan mengutamakan kebahagiaan diri, kesenangan diri, kenyamanan diri, kepentingan diri. Mind hidup dalam dualitas. Bagi mind, Anda adalah Anda, saya adalah saya. Sebaliknya, intelegensia bersifat universal. Seorang ber-“intelegensia” akan memikirkan kebahagiaan umum, kesenangan dan kenyamanan umum, kepentingan umum. Dalam satu kelompok atau satu organisasi level intelegensia setiap anggota biasanya mirip-mirip. Jelas tidak bisa sama, tetapi ya kurang lebihlah! Bila tidak, akan selalu terjadi kesalahpahaman dan pertikaian………… Bangsa kita saat ini sedang mengalami krisis intelegensia, krisis “budhi”, krisis kesadaran. Ada yang berintelegensia tinggi dan bisa menerima perbedaan, tetapi ada juga yang berintelegensia sangat rendah, sehingga tidak bisa menerima perbedaan. Mereka ingin menyeragamkan segala sesuatu. Akibatnya, kita berada di ambang disintegrasi. Jalan keluarnya hanya satu: yang berintelegensia rendah meningkatkan intelegensia diri. Atau yang berintelegensia tinggi turun ke bawah. Bergabung dengan mereka yang berintelegensia rendah. Perbedaan keduanya cukup jelas, mind atau mano selalu melihat dualitas; intelegensia atau budhi selalu melihat kesatuan. Sebetulnya, budhi juga melihat perbedaan, tapi ia melihat kesatuan di balik perbedaan. Sementara mind hanya melihat perbedaan. Budhi melihat isi; mano melihat kulit……… Baca lebih lanjut

Renungan Bhagavatam: Raja Saudasa Putra Bhagiratha, Perjuangan Menuju Hidup Berkesadaran

Raja Saudasa putra Raja Bhagirata adalah raja yang adil dan bijaksana. Pada suatu hari dia pergi berburu di hutan, bertemu dengan seorang raksasa dan membunuhnya. Pada saat dia kembali ke istana dia tidak sadar bahwa ada saudara raksasa tersebut ingin membalas dendam kepadanya dan kemudian masuk ke istana menyamar sebagai seorang juru masak istana.

Pada suatu ketika Vasistha. Guru Saudasa datang berkunjung dan sang raja menawari gurunya untuk makan bersama. Sang raksasa yang menjadi juru masak istana, memasak daging manusia untuk makanan yang disajikan kepada Resi Vasistha. Resi Vasistha murka kala tahu bahwa dia disuguhi makanan dari daging manusia dan kemudian mengutuk sang raja bahwa tidak sepantasnya seorang raja menyuguh gurunya daging manusia, hanya seorang raksasa yang berbuat demikian. Kemudian Resi Vasistha sadar bahwa mungkin saja sang raja tidak tahu bahwa yang disuguhkan adalah daging manusia, mungkin saja hal tersebut adalah kesalahan juru masaknya. Oleh karenanya Resi Vasistha mengubah kutukan sehingga sang raja akan menjadi raksasa selama 12 tahun.

Raja Saudasa merasa tersinggung karena tidak merasa bersalah, dan mengambil air dan siap untuk ganti mengutuk Resi Vasistha. Adalah permaisuri raja, Madayanti yang mengingatkan bahwa tak baik mengutuk seorang guru. Mungkin saja di kehidupan dahulu sang raja pernah berbuat salah sehingga dalam kehidupan ini harus menyelesaikan hutang karma. Dengan mengutuk maka sang raja akan membuat karma baru lagi sehingga hutang karmanya tak pernah terselesaikan dan bahkan akan mendapatkan anak keturunan yang kurang baik. Sang raja sadar bahwa peringatan isrinya ada benarnya sehingga dia mengurungkan mengutuk gurunya dan airnya dijatuhkan ke kakinya. Kakinya menjadi hitam, gelap sehingga sang raja mendapat nama “Kalmasapada”, kaki malam.

Salah satu syarat untuk meniti ke dalam diri adalah menerima ketidakadilan yang menimpa kita. Dalam kehidupan masa lalu mungkin saja kita berbuat tidak adil sehingga kita menerima ketidakadilan masa kini. Bisa juga seseorang menerima ketidakadilan, karena Keberadaan ingin menunjukkan kepada orang banyak bagaimana seseorang dapat menghadapi ketidakadilan dengan bijaksana. Yang jelas kita tidak dapat membersihkan lantai dengan air yang kotor. Terima, hadapi, selesaikan tanpa kehilangan kesadaran. Dalam buku “Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2005 disampaikan tentang kemampuan untuk menerima ketidakadilan………… Bila kita selalu ingin diperlakukan secara adil, kita belum pantas memasuki alam meditasi. Seorang siswa yang sedang digembleng oleh gurunya mengeluh. Berlakulah adil kepadaku. Guru!” Guruberkata: “Kau memanggilku Master dan mengharap aku bertindak adil terhadapmu? Tidak bisa. Bila aku menggunakan paradigma, persepsi, dan definisimu tentang keadilan, lalu bertindak sesuai itu, kau akan berhenti di tempat. Kau tak akan maju selangkah pun. Tindakanku yang terasa tidak adil, tidak fair itu justru akan mendorongmu untuk memasuki alam meditasi lebih cepat.” Selama definisi kita tentang keadilan dan fairness belum berubah, janganlah mengharapkannya dari Keberadaan dan para Bodhidharma. Seorang Bodhidharma adalah Hard Task Master, dia bukanlah seorang kompromis……….. Ada pohon yang berbuah dalam sekian bulan, atau sekian tahun. Persis seperti itu pula dengan perbuatan-perbuatan kita. Ada kalanya kita berbuat jahat, dan langsung dijatuhi hukuman. Pada saat itu seharusnya kita bersyukur, berterima kasih: “Ya Allah, sungguh beruntunglah diriku, tidak perlu menunggu lama untuk menyelesaikan hutang-piutang perbuatanku”………….

Sang raja kemudian menjalani kutukan sebagai raksasa di hutan dengan penuh kesadaran. Pada suatu ketika ada seorang brahmana berduaan bersama istrinya di hutan tersebut. Sebagaimana kebiasaan raksasa, maka dia berkeinginan untuk makan daging brahmana tersebut. Istri sang brahmana mengingatkan bahwa diri sejatinya adalah seorang raja manusia, agar dia bertindak sebagai seorang raja manusia dan agar tidak membunuh suaminya. Sang raja dalam kehidupannya sebagai raksasa tidak dapat mengendalikan sifat keraksasaannya, sehingga dia nekat membunuh sang brahmana. Istri sang brahmana kemudian membakar sisa tulang suaminya dan bunuh diri dalam api pembakaran, mengikuti sang suami. Sang istri brahmana sempat mengutuk, bahwa karena sang raja karena membunuh brahmana dan istrinya, maka dia tidak akan bisa berhubungan suami istri dengan sang permaisuri.

Demikian pula kita, dalam pola pikiran raksasa yang masih melekat dalam diri kita, maka kita juga sulit mengendalikan diri menghadapi hal-hal yang sudah terbiasa dalam kehidupan kita. Mengikuti naluri adalah perbuatan alami, dan bertindak penuh kesadaran adalah upaya penuh perjuangan. Baru setelah perjuangan tersebut dilaksanakan dan menjadi kebiasaan, kita dapat mengubah karakter baru yang selaras dengan kesadaran. Dalam buku “Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2005 disampaikan………… Pengendalian Diri bukanlah sesuatu yang terjadi secara alami. Untuk itu, kita harus bekerja keras. Terkendalinya diri oleh keadaan adalah sesuatu yang sangat alami. Bila kita masih belum dapat mengendalikan diri, dan masih terkendali oleh keadaan it makes sense, sangat alami. Bukanlah kita semua makhluk hidup? Bila makhluk hidup terkendali oleh kehidupan, apa salahnya? Kelak, bila kau berhasil mengendalikan hidupmu tidak perlu kau gembar-gemborkan juga. Saat itu, pengendalian dirimu menjadi sesuatu yang alami!……….. Baca lebih lanjut

Renungan Bhagavatam: Hikayat Sungai Gangga, Perjuangan Tak Kenal Lelah Demi Leluhur

Raja Bahuka dari dinasti Surya meninggal dan salah seorang istrinya akan masuk tempat pembakaran mayat. Sang istri dihentikan para resi karena mereka mengetahui bahwa ia sedang hamil. Isteri yang lain kemudian menjadi iri karena hanya dia yang hamil. Berarti hanya istri tersebut yang akan menurunkan seorang putra mahkota. Para istri Bahuka lainnya mencampur racun dalam makanan istri Bahuka yang sedang hamil tersebut. Harapan mereka gagal, sang anak tetap lahir dan menjadi putra mahkota. Dia dinamakan Sagara, dia yang beracun.

Sagara akhirnya menjadi maharaja dan melakukan ritual Asvamedha, ritual menggunakan kuda diikuti pasukan lengkap. Para raja yang tidak berani mengganggu kuda tersebut berarti menyatakan tunduk kepada maharaja. Mereka yang berani mengganggu akan langsung diperangi pasukan raja tersebut. Alkisah kuda yang dipakai sebagai ritual tersebut dicuri Dewa Indra dan diletakkan dalam gua tempat Resi Kapila bertapa. Para putra Sagara yang berjumlah 60.000 orang mencari jejak kuda dan akhirnya sampai ke gua Resi Kapila. Para putra raja merasa sangat marah karena ada orang yang berani mencuri kuda ritual Aswamedha. Mereka tersinggung, karena orang yang mencuri kuda tersebut berarti menantang maharaja. Mereka menemukan kuda yang dicari berada di belakang Resi Kapila yang sedang bertapa. Mereka berkata, “Lihat pencuri kuda ini, berpura-pura bertapa setelah mencuri kuda, mari kita bunuh dia beramai-ramai!” Dalam keadaan marah karena ada yang mengganggu acara Asvamedha, mereka tidak dapat melihat seorang Resi Suci yang mungkin tidak tahu permasalahannya. Resi Kapila yang terganggu tapanya, membuka mata dan sorotan mata sang resi membuat 60.000 putra Sagara menjadi debu. Bhagawan Abyasa, sang penulis menyampaikan bahwa kemarahan yang tak dapat dikendalikan akan membunuh diri sendiri.

Kemarahan tanpa kendali akan menghancurkan diri sendiri. Dalam buku “Bersama J.P Vaswani, Hidup Damai & Ceria”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2002 Bapak Anand Krishna menyampaikan perihal amarah……….. Saat seseorang marah, ia mengaktifkan beberapa kelenjar dalam tubuhnya. Hal ini menyebabkan terjadinya kelimpahan adrenalin dan beberapa hormon stres yang lain, dengan efek-efek yang nyata pada fisik Anda. Wajah menjadi merah, tekanan darah semakin tinggi, nada suara kita menjadi tinggi, pernafasan kita menjadi cepat, detak jantung tidak teratur dan otot-otot kaki maupun tengan mulai tegang. Seluruh tubuh kita merasakan perubahan semacam ini. Apabila seseorang sering marah, keadaan itu akan berulang terus dan pada akhirnya dapat menimbulkan masalah-masalah kesehatan yang serius. Situasi seperti ini dapat menyebabkan timbulnya penyakit-penyakit seperti tekanan darah tinggi, stroke, penyakit jantung, maag, dan lain sebagainya. Karena itu, demi kebaikan Anda sendiri, hendaknya Anda mengendalikan emosi kemarahan ini………… Ada tiga cara untuk menangani kemarahan. Yang pertama adalah dengan cara mengekspresikannya. Para ahli ilmu berpendapat bahwa ini adalah cara yang terbaik. Dengan menyatakan atau mengekspresikan kemarahan, kita membagi beban pikiran kita dengan orang lain dan karena beban atau sebagian beban itu terangkat dari kita, kita lalu merasakan ketenteraman. Pendapat itu memang benar, namun keadaan semacam ini tidak langgeng. Kita tidak pernah bebas dari kegelisahan. Pada akhirnya, kemarahan menjadi kebiasaan dan Anda menjadi budak amarah. Anda menjadi budaknya dan amarah adalah atasan yang kejam. Saya pernah mendengar tentang seorang ibu yang membakar anaknya hanya karena marah. Cara kedua adalah dengan menahan atau menekan kemarahan. Ini pun tidak bagus, karena menekan kemarahan hanya memaksanya untuk menjadi bagian dari alam bawah sadar kita, dan dapat membahayakan kita. Cara ketiga dan cara yang benar adalah dengan memaafkan. Maafkan dan bebaskan diri Anda dari kegelisahan! Setiap malam sebelum tidur, renungkan kembali sejenak kejadian-kejadian sepanjang hari yang telah Anda lalui. Apakah ada seseorang yang menipu Anda? Apakah ada yang menyinggung perasaan atau menghina Anda? Kalau ada, ucapkan namanya dan katakan, “Sdr. X, saya maafkan Anda.” Baca lebih lanjut