Renungan Bhagavatam: Kaliya, Mengendalikan Insting Hewani Dalam Diri Manusia

Stop Press: Sisters n Brothers terkasih, tanpa terasa kita sudah mendalami Renungan Bhagavatam dalam 56 artikel. Berhubung kesibukan kami, maka kami akan menghentikan sharing Renungan Bhagavatam dalam FB, kompasiana dan blog-blog lainnya. Mohon doa restu semoga akhir Oktober 2011 sudah terbit Buku Renungan Bhagavatam dalam versi yang lebih lengkap. Artikel ini sebagai penutup sharing Renungan Bhagavatam dan sampai jumpa dalam bentuk buku.

Salam Kasih __/__

 

 

Pada suatu hari Krishna dan teman-temannya menggembala sapi-sapi ke arah Sungai Yamuna. Balarama kali ini tidak menemani mereka. Krishna dan temannya bermain-main di tepi hutan dan karena hari sangat panas, beberapa teman Krishna kehausan dan pamit mencari minum ke Sungai Yamuna. Akan tetapi kali ini mereka salah jalan dan masuk ke daerah bahaya di Danau Madu. Di dasar Danau Madu tinggallah ular cobra raksasa berkepala lima bernama Kaliya yang hidup bersama  beberapa istrinya. Kaliya mengeluarkan racun yang berbahaya yang memenuhi danau tersebut dan bahkan sedikit demi sedikit air dari danau sudah mulai mencemari Sungai Yamuna. Sungai Yamuna mengalir ke hilir melalui Kota Mathura tempat Kamsa dan di hilirnya lagi melalui Kota Hastinapura. Semua tanaman disekitar danau terkena polusi dan pada kering. Burung-burung yang melintasi danau pun pada jatuh terkena uap beracun yang berada di atas danau.

Setelah lama menunggu teman-teman mereka yang pergi ke sungai dan tidak balik, Krishna dan teman-temannya mengikuti jejak teman-teman mereka dan sampailah mereka di danau Madu. Krishna melihat teman-teman mereka pingsan dan segera meminta teman-temannya memindahkan mereka menjauhi danau. Krishna segera memanjat Pohon Kadamba di tepi danau. Pohon besar yang kering tanpa daun tersebut tetap bertahan hidup. Teman-teman Krishna melihat Krishna sampai di pucuk pohon dan segera meloncat ke dalam danau. Semua teman-temannya khawatir akan keselamatan Krishna, dan ada yang lari ke desa memanggil Nanda, Yashoda dan orang-orang tua para gembala. Cukup lama Krishna berada di dasar dan tiba-tiba muncul di permukaan danau diserang oleh Kaliya. Dan terjadilah perkelahian yang seru. Krishna sangat lincah dan tahan uap beracun yang dikeluarkan oleh Kaliya. Pada akhirnya Krishna menari-nari di atas lima kepala Kaliya. Kaliya kelelahan dan dari mulutnya keluar darah karena telah kehabisan racun berbisanya. Kaliya sadar bahwa bila Krishna ingin membunuhnya, maka dia akan mati dengan mudah. Para istrinya keluar dan mohon pengampunan dari Krishna. Nanda, Yashoda dan para gembala bersorak sorai melihat Krishna menari-nari berlompatan di atas lima kepala Kaliya. Akhirnya Krishna berkata, “Kaliya, kau kumaafkan, akan tetapi segera pergi dari danau ini bersama istrimu ke tempat tinggalmu di Pulau Ramanaka. Kau tak perlu takut Garuda mengejarmu, melihat bekas tapak kakiku di kepalamu, Garuda akan melepaskanmu. Hiduplah yang baik, karena semua racunmu telah habis…….

Dalam Buku “The Gita Of Management, Panduan Bagi Eksekutif Muda Berwawasan Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007 disampaikan….. bahwa Kaliya adalah Kalaa Yavan, Si Hitam yang berasal dari Yunani yang berupaya melemahkan kerajaan-kerajaan di India dengan  meracuni Sungai Yamuna, dengan jalan masuk ke daerah pedalaman dan membuang racunnya sedikit demi sedikit. Dan, setelah Kaliya ditaklukkan dia lapor kepada Raja Yunani sehingga selama dua abad negara yang ekspansionis pada masanya tersebut tidak mengganggu India………

Sebagian Master memaknai Kaliya yang berkepala lima sebagi bahaya yang mengendap dalam pikiran manusia. Di danau pikiran manusia ada ular cobra raksasa beracun dengan lima kepala terus mengintai, menunggu kelalaian manusia. Kelima kepala ular cobra raksasa tersebut adalah  amarah, keinginan, keserakahan, keterikatan dan keangkuhan. Ketika manusia selalu ingat pada Tuhan dengan penuh penghayatan, maka ular cobra berkepala lima akan keluar dari kedalaman danau pikiran dan nampak di permukaan. Kemudian ular cobra tersebut dapat dibuat menjadi tenang…….. Dalam buku “Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2000 disampaikan…….. Tobat berasal dari suku kata taubah yang berarti “kembali”. Kembali pada diri sendiri, kembali meniti jalan ke dalam diri. Bertobat berarti “sadar kembali.” Dan, untuk meniti jalan ke dalam diri, untuk sadar kembali, dibutuhkan energi yang luar biasa. Sementara ini, seluruh energi kita habis terserap oleh perjalanan di luar diri. Rumi mengingatkan kita: Jangan pikir engkau bisa melakukan apa saja, kemudian bertobat dan selesai sudah perkaranya. Kalaupun taubah diterjemahkan sebagai “penyesalan”; yang menyesal haruslah hati, jiwa. Bukan mulut. Di atas segalanya, “penyesalan” berarti “kesadaran untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.”………….. Renungkan sebentar: Kesalahan-kesalahan yang kita buat mungkin itu-itu juga. Lagi-lagi kita jatuh di dalam lubang yang sama. Dalam hal membuat kesalahan pun rasanya manusia sangat tidak kreatif. Karena, sesungguhnya tidak banyak kesalahan yang dapat anda buat. Pendorongnya, pemicunya pun tidak terlalu banyak. Keinginan, amarah, keserakahan, keterikatan dan keangkuhan ya Panca-Provokator-itulah yang mendorong kita untuk berbuat salah. Yang kita sebut nabi, atau avatar, atau mesias, atau buddha telah menguasai kelima-limanya. Kita belum. Lalu, setelah menguasai kelima-limanya tidak berarti mereka tidak pernah berkeinginan atau marah. Mereka pun masih punya keinginan-setidaknya untuk berbagi kesadaran dengan kita. Mereka pun bisa marah kalau kita tidak sadar-sadar juga, padahal sudah berulang kali kupingnya dijewer. Keserakahan dan keterikatan mereka malah menjadi berkah bagi kita semua. Sampai mereka harus menurunkan kesadaran diri untuk menyapa kita, untuk membimbing kita, untuk menuntun kita. Kenapa? Karena mereka ingin memeluk kita semua. Keserakahan kita sebatas mengejar harta dan tahta; keserakahan mereka tak terbatas. Mereka mengejar alam semesta dengan segala isinya. Mereka ingin memeluk dunia, karena “tali persaudaraan “, karena “ikatan-persahabatan” yang mereka ciptakan sendiri. Keangkuhan dalam diri mereka merupakan manifestasi Kesadaran Diri. Ketika Muhammad menyatakan dirinya sebagai Nabi, dia tidak angkuh. Ketika Yesus menyatakan dirinya sebagai Putra Allah, dia pun sesungguhnya tidak angkuh. Ketika Siddhartha menyatakan bahwa dirinya Buddha, sudah terjaga, dia pun tidak angkuh. Ketika Krishna mengatakan bahwa dirinya adalah “Manifestasi Dia yang Tak Pernah Bermanifestasi, dia pun tidak angkuh. Keakuan kita lain – Ke-“Aku”-an mereka lain. Yang tidak menyadarinya akan membatui Muhammad, akan menyalibkan Yesus, akan meracuni Siddhartha, akan mencaci-maki Krishna……… Baca lebih lanjut

Iklan

Renungan Bhagavatam: Dhenukasura, Melepaskan Diri Dari Perbudakan Hawa Nafsu

Raja Parikesit masih termenung memikirkan kisah Krishna kecil yang mewujud sebagai para anak gembala, para anak sapi, pakaian dan peralatan para anak gembala. Sang Raja teringat Upanishad yang menyampaikan bahwa Tuhan meliputi segala sesuatu, mestinya bukan hanya kala itu Sri Krishna mewujud menjadi banyak hal. Bukankah segala sesuatu di alam ini pada hakekatnya adalah proyeksi dari Tuhan? Mata batin Raja Parikesit dapat merasakan bahwa apa pun yang nampak olehnya, semuanya adalah proyeksi Tuhan dan dia wajib melayani semuanya sebaik-baiknya……..

 

Para sufi juga bersaksi bahwa tak ada Yang Lain kecuali Allah. Einstein pun berkata bahwa semua materi pada hakikatnya adalah energi, yang ada hanya energi. Dia adalah Energi Agung. Dalam buku “Shri Sai Sacharita”, Sai das, Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia, 2010 disampaikan wejangan seorang Sadguru untuk melampaui dualitas……… Makanan yang kauberikan kepada anjing itu telah Kuterima. Anjing itupun wujud-Ku, sebagaimana hewan-hewan lain. Ia yang melihat-Ku dalam setiap makhluk adalah kekasih-Ku. Sebab itu lampauilah dualitas yang disebabkan oleh rupa dan nama. Layanilah setiap makhluk hidup, sebagaimana kau melayani anjing itu, karena Aku berada di mana-mana, di dalam diri setiap makhluk. Lihatlah Tuhan dalam diri setiap makhluk inilah non-dualitas. Inilah inti pesan setiap Guru Sejati. Kitab-kitab suci pun mengajarkan kita hal yang sama. Tiada sesuatu yang beda antara ajaran-ajaran yang tertulis dan apa yang disampaikan oleh para Sadguru………..

 

Raja Parikesit tergugah dari renungannya, kala Resi Sukhabrahma datang, duduk di depannya dan melanjutkan kisahnya………

Kala Krishna mencapai usia enam tahun Krishna dan Balarama sudah dipercaya untuk menggembala sapi, mereka tidak menggembalakan anak sapi lagi.  Krishna, Balarama dan teman-teman  sebayanya setiap hari menggembalakan sapi ke bukit Govardhana yang banyak rumputnya. Kemudian mereka bermain-main di tepi hutan. Kali ini Balarama agak capek dan tidur-tiduran di bawah pohon. Krishna memijit-mijit betis Balarama. Dan beberapa temannya melepaskan lelah di dekat mereka dan beberapa masih tetap bermain di hutan.

Sebuah lingkungan kehidupan yang berbahagia. Tanaman dan hewan banyak memberikan banyak persembahan kepada makhluk lainnya. Lebah membuat madu berlebihan yang jauh melebihi kebutuhan dirinya sebagai cadangan sewaktu tanaman sedang tidak berbunga. Kelebihannya dipersembahkan kepada manusia. Ayam bertelur sebutir setiap hari, dan tidak semuanya dipergunakan untuk meneruskan kelangsungan jenisnya. Sapi juga memproduksi susu melebihi kebutuhan untuk anak-anaknya. Padi di sawah menghasilkan butir-butir gabah yang jauh melebihi kepentingan untuk mempertahankan kelangsungan kehidupan kelompoknya. Pohon mangga juga menghasilkan buah mangga yang jauh lebih banyak dari yang diperlukan untuk mengembangkan jenisnya. Pohon singkong memberikan pucuk daunnya untuk dimakan manusia, akar ubinya pun juga dipersembahkan, mereka menumbuhkan singkong generasi baru dari sisa batang yang dibuang. Sifat alami alam adalah penuh kasih terhadap makhluk lainnya. Lebih banyak memberi kepada makhluk lainnya. Sikap yang altruistis memikirkan kepentingan orang lain selaras dengan alam. Egolah yang membuat manusia lebih mementingkan dirinya sendiri.

 

Dalam buku “The Gita Of Management, Panduan Bagi Eksekutif Muda Berwawasan Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007 disampaikan………. Alam tidak selalu “memperoleh”. Ia lebih banyak memberi. Apa sebenarnya perolehan alam? Apa yang dapat kita berikan padanya? Barangkali “perhatian” – itu saja. Lalu, apakah kita selalu memperhatikan alam? Tidak juga. Malah lebih sering mengabaikannya, tidak memperhatikannya. Kendati demikian, ia tidak kecewa. Ia tetap menjalankan tugas serta kewajibannya sebagai “pemberi”. Segala perolehan kita sesungguhnya datang dari alam, atau setidaknya “lewat” alam……….

 

Pada waktu itu, Sridharma, Subala dan Stoka, 3 orang anak gembala yang sedang bermain mendekati Krishna dan Balarama. Mereka berkata, “Wahai Krishna dan Balarama, tidakkah kau membaui harum buah-buahan yang terbawa oleh angin ke tempat ini? Mereka berasal dari Hutan Talavana. Hutan Talavana penuh pohon buah-buahan, akan tetapi hutan tersebut dijaga oleh Dhenukasura, Asura berwujud keledai dan gerombolannya. Mereka tidak makan dan menikmati buah-buahan yang ada di hutan tersebut, akan tetapi mereka menjaganya dengan ketat. Bahkan para binatang pun tidak berani memasuki  wilayah hutan tersebut. Wahai Krishna dan Balarama, tolonglah kami untuk mendapatkan buah-buahan dari hutan tersebut. Bila kalian menemani, kami berani mengambilnya.” Baca lebih lanjut

Renungan Bhagavatam: Dan Brahma Pun Ditaklukkan Krishna, Dan Di Atas Langit Pun Masih Ada Langit

Resi Sukhabrahma berkata kepada Raja Parikesit, “Setelah kematian Aghasura, para gopal kecil, para penggembala kecil bercerita kepada orang tua mereka setelah satu tahun berlalu!” Raja Parikesit tak dapat menahan diri dan bertanya, “Wahai Guru, bagaimana mungkin anak-anak kecil bisa menahan rahasia selama satu tahun? Para Gopal memang patuh pada Krishna, akan tetapi bagaimana mungkin menjaga kerahasiaan selama satu tahun?” Resi Sukahabrahma tersenyum dan melanjutkan kisahnya………

Setelah pembunuhan Aghasura, Krishna mengajak teman-temannya pergi ke tepi Sungai Yamuna dan di bawah sebuah pohon yang rindang mereka duduk melingkar dan Krishna berada di tengah-tengah lingkaran. Semua mengeluarkan bekal makanan dari rumah yang disiapkan oleh ibunya masing-masing dan mulai makan sambil bersenda-gurau. Dasar anak-anak yang polos, peristiwa besar yang mereka alami terlupakan saat mereka makan dan bersenda-gurau. Mereka tidak usah belajar “the Power of Now”, hidup total dalam kekinian, karena bersama Krishna, mereka memang hidup dalam kekinian, tidak terfokus pada masa lalu dan tidak terfokus bagaimana nanti pulang ke rumah, sekarang mereka menikmati makan dan bersenda-gurau.

Krishna sedang melatih para temannya untuk melampaui mind, tadinya yang ada di kepala banyak teman-temannya adalah pertempuran Krishna dengan Aghasura, tetapi hal tersebut tidak boleh terjadi terlalu lama, masih banyak pelajaran baru yang akan diberikan. Dan dengan begitu cepat para gembala kecil melupakan peristiwa besar dengan senda-gurau, sehingga mereka dapat hidup lagi dalam kekinian. Teringat pada sesuatu boleh, tetapi tidak baik menghabiskan memori otak dengan hanya berpikir pada sesuatu tersebut. Tindakan Krishna tersebut selaras dengan pengetahuan modern. Dalam Buku “Neo Psyhic Awareness”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2005 disampaikan bahwa otak kita terlalu banyak diisi memori yang tidak perlu yang hanya menghabiskan memori……… Sesungguhnya, saat ini pun otak kita sudah bekerja, sudah berfungi 100%. Memang, baru sebagian kecil dari kapasitasnya yang digunakan sehari-hari. Sisanya cuma untuk menyimpan data-data lama. Makin besar persentase yang digunakan dalam keseharian, walau hampir tak pernah melebihi 10%, membuat manusia makin cerdas, inteligen, makin sharp, makin tajam. Manusia seperti itulah yang menolak perbudakan. Manusia seperti itulah yang berkeinginan untuk hidup bebas merdeka. Manusia seperti itulah yang tidak mau lagi dikuasai oleh tradisi lama yang sudah usang, oleh doktrin dan dogma yang sudah tidak sesuai dengan martabat dan kesadaran manusia masa kini………. Mungkinkah kita menggunakan lebih besar persentase otak untuk keseharian? Mungkin, sangat mungkin, tetapi untuk itu kita harus menciptakan space. Persis seperti komputer, memori harus dibersihkan dulu. Program-program yang tidak terpakai harus di-delete, dihapus….. Ciptakan “ruang”! Saat ini jiwa kita penuh; pikiran kita penuh; otak kita penuh; hati kita penuh. Ya, penuh dengan memori lama, data yang sudah tidak dibutuhkan lagi. Beban pada jiwa kita sudah melampaui batas. Dalam keadaan seperti itu, bagaimana mengisinya dengan sesuatu yang baru? Otak yang penuh tidak dapat berpikir lagi. Ini yang terjadi pada kaum teroris. Otak mereka diisi dengan segala macam memori tentang masa lalu, sehingga mereka tidak dapat hidup dalam kekinian. Mereka tidak dapat berpikir tentang sesuatu yang mereka anggap lain dari isi kepala mereka. Barangkali hati mereka juga terbebani dengan rasa benci, amarah dan mereka tidak dapat merasakan sesuatu yang indah, karena bagi mereka segala sesuatu yang mereka anggap lain dari otak mereka tidak punya keindahan. Jiwa mereka diprogram untuk merusak, bukan untuk mencipta dan membangun. Para “pencipta” mereka menyadari betul hal ini. Sedemikian penuhnya mereka diisi, sehingga tidak ada lagi informasi baru yang dapat menembus diri mereka. Untuk memperoleh, atau lebih tepatnya, memasuki Alam Kesadaran Psikis, beban pikiran dan jiwa harus dikurangi. Bersihkan otakmu dari segala macam indoktrinasi……… Baca lebih lanjut

Renungan Bhagavatam: Aghasura, Dari Kesadaran Hewani Melewati Kesadaran Manusiawi Menuju Kesadaran Ilahi

Krishna adalah pemimpin para Gopala kecil, para anak-anak penggembala. Sore itu Krishna berkata bahwa besok pagi-pagi mereka akan mengadakan banyak permainan di hutan. Anak-anak sapi akan dibiarkan merumput di lapangan rumput tepi hutan dan mereka akan bermain penuh seharian di hutan dekat tempat tersebut. Anak-anak begitu bersemangat, sehingga pagi-pagi mereka bersama dengan Krishna dan Balarama menggiring rombongan anak-anak sapi mereka menuju lapangan rumput di tepi hutan. Para Gopala kecil tersebut percaya penuh terhadap Krishna, dan mereka sangat senang akan mendapatkan permainan baru, permainan tingkat lanjut. Kata-kata Krishna tentang permainan tingkat lanjut memberikan semangat kepada para Gopal kecil. Pertama kali Krishna berlari paling depan dan berkata tangkap aku dan semua anak-anak berlarian secepatnya mengejar Krishna. Latihan seperti inilah yang membuat fisik para Gopal menjadi kuat. Ketika Krishna membiarkan dirinya ditangkap, mereka bersorak-sorai, “Krishna terpegang, Krishna tertangkap!” Kemudian mereka beristirahat di tepi jalan sambil menirukan bermacam-macam suara penghuni hutan, ada yang meniru suara serigala melolong, ada yang meniru suara burung hantu, ada yang meniru suara harimau, ada yang meniru suara sapi dan ada juga yang menirukan suara katak. Kemudian mereka menceracau sendiri dengan kata-kata tanpa makna. Pada masa kini menceracau dengan kata tanpa makna disebut “Gibberish Meditation”. Para Gopala kecil sangat berbahagia dan kemudian  tertawa terpingkal-pingkal sepuasnya, sampai perut mereka mengeras. Setelah itu mereka diajak membayangkan bekas kampung halaman Gokula yang membuat mereka menangis haru bersama-sama. Dan, setelah itu mereka tentu saja diajak menari oleh Krishna…….

 

Dalam buku “Semedi 2, Meditasi untuk Peningkatan Kesadaran”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2002 disampaikan bahwa ada beberapa cara untuk mendapatkan kedamaian diri…….. Cara pertama adalah dengan mengalihkan kesadaran pada napas. Cara yang dipopulerkan oleh Buddha Gautama ini sudah teruji hasilnya. Ia menyebutnya Vipassana melihat ke dalam diri. Pada jamannya, cara ini memang merupakan cara yang paling efektif, tetapi sekarang ceritanya lain. Tingkat kegelisahan manusia begitu tinggi, sehingga cara ini hanya menjadi efektif, apabila terlebih dahulu kegelisahan dalam dirinya dimuntahkan ke luar. Program “Neo Self Empowerment I” menggunakan prinsip yang sama………. Cara kedua adalah dengan melelahkan mind. Cara ini tidak begitu efektif. Hasilnya bersifat temporer. Begitu pulih kembali, mind bekerja kembali. Dan bukan hanya itu, setelah istirahat sebentar, mind menjadi segar kembali. Ia semakin kuat. Cara kedua ini banyak digunakan di Indonesia, dan terakhir dipopulerkan oleh Maharishi Mahesh Yogi lewat apa yang beliau sebut “Transcendental Meditation”. Dalam metode ini Anda diharapkan mengulagi satu-dua kata atau satu kalimat singkat, terus-menerus…….. Cara ketiga adalah dengan menghabiskan mind. Cara ini merupakan Metode Milenia Mendatang. Cara ini akan menjadi semakin populer. Pada dasarnya, manusia masa kini kelebihan energi. Pekerjaan fisik telah berkurang banyak. Dan dengan perkembangan teknologi pekerjaan fisik itu akan semakin berkurang. Nah, energi yang berlebihan ini semakin mengaktifkan mind. Mind menjadi hiperaktif, sampai menyebabkan restlessness, kegelisahan. Kendati demikian, membendung arus energi yang berlebihan hampir mustahil. Untuk itu seluruh sistem harus diubah. Atau anda harus kembali ke masa lalu sesuatu yang tidak mungkin lagi. Atau anda harus melakukan lebih banyak pekerjaan manual. Makanan Anda harus lebih sederhana. Arus informasi yang anda harus dikurangi, karena informasi juga merupakan makanan bagi mind. Informasi juga memberi energi tambahan kepada mind. Semuanya itu tidak mungkin! Anda tidak dapat membendung kemajuan sains dan teknologi. Mau tidak mau, Anda akan tepengaruhi olehnya, kecuali jika Anda menyepi ke dalam hutan dan memutuskan hubungan dengan realita kehidupan. Satu-satunya jalan adalah secara rutin, setiap hari, Anda membuang energi yang berlebihan, yang tidak berguna, yang berpotensi menggelisahkan Ada. Dan ini pula yang kita lakukan, lewat latihan-latihan………… Tawa adalah emosi. Tangis adalah emosi. Senang dan sedih adalah emosi. Suka dan duka adalah emosi rasa panas dan rasa dingin adalah emosi. Dan, membendung emosi berarti membendung energi, padahal energi yang tertahan atau terbendung membuat kita gelisah. Jangan lagi membedakan antara energi positif dan energi negatif. Energi adalah energi. Positif dan negatif adalah interpretasi mind Anda. Energi berlebihan, entah diinterpretasikan positif oleh mind atau negatif, akan tetapi menggelisahkan Anda……..

 

Dalam Latihan “Neo Self Impowerment II” di Anand Ashram diadakan latihan secara bertahap:

Tahap Eksplorasi Diri: Sufi Whirling, Zikr/Chanting, Gibberish dan Offering Meditation.

Tahap Transformasi Diri: Cleansing, Chakra Empowerment, dan Toward Superconsciousness.

Tahap Annihilation, Penghancuran Ego: Laughing, Weeping, Cleansing, dan Dance Meditation. Baca lebih lanjut

Renungan Bhagavatam: Vatsasura Dan Bakasura, Kurangnya Pengendalian Diri Dan Berbuat Baik Dari Hasil Kejahatan

Para kepala keluarga di Gokula mengadakan pertemuan di rumah Nanda, kepala desa Gokula. Mereka membahas datangnya para Asura ke desa mereka. Mereka merasa bahwa desa mereka tidak aman dan mereka berpikir sebaiknya mereka pindah ke tempat lain. Adalah Upananda kakak dari Nanda yang menyarankan agar mereka pindah ke Brindavan. Ayah Upananda dan Nanda  bernama Parjanya pernah diminta Resi Narada untuk pergi ke Bukit Nandisvara. Parjanya melakukan pertapaan di sana selama bertahun-tahun. Setelah itu Parjanya tinggal di situ dengan keluarganya. Nanda dan komunitasnya pernah tinggal di daerah tersebut sebelum pindah ke Gokula.

Dan komunitas Nanda pun pindah dari Gokula ke Brindavan. Barisan pedati membawa barang-barang rumah tangga mereka. Para Gopi memakai pakaian terbagusnya, seakan-akan mereka sedang melakukan karnaval. Anak-anak menyanyikan lagu Krishna yang suka berkelakar dengan mereka. Para Brahmana sambil berjalan membaca mantra keselamatan. Rombongan sapi di belakang mereka dikawal para Gopala bersenjata busur dan panah. Para Gopala membunyikan terompet yang terbuat dari tanduk. Yashoda bersama Rohini berada dalam satu pedati bersama Krishna dan Rama. Perjalanan yang menyenangkan dan Bukit Nandisvara berbahagia menyambut kedatangan mereka.

Konon Shiva pernah berdoa kepada Narayana agar diizinkan untuk menyaksikan adegan-adegan kasih sayang antara Narayana dengan para bhaktanya. Shiva bertapa berabad-abad dan Narayana akhirnya mengabulkan permohonannya. Shiva akhirnya menjadi Bukit Nandisvara di Brindavan dimana para Gopi akan menginjak dia dan meninggalkan debu kaki padanya. Bukit kedua yang subur dan cocok untuk rumput para gembala adalah Bukit Govardhana, Go bermakna sapi dan Vardhana bermakna sumber makanan. Nama Brindavan berasal dari Brinda, Vrinda nama lain dari tanaman Tulasi. Pada waktu itu banyak sekali tanaman Tulasi di daerah tersebut. Di kaki bukit Nandisvara ada sebuah tempat pemujaan Narasimha Avatara dan Varaha Avatara. Nanda dinasehati Muni Garga agar memuja Narasimha Avatara dan Varaha Avatara agar mereka selamat dari gangguan para Asura.

Krishna tinggal di Gokula sampai dengan usia tiga tahun empat bulan. Kemudian tinggal di wilayah Brindavan sampai usia Krishna sekitar 10 tahun. Rama dikenal sebagai anak yang kuat sehingga sering dipanggil sebagai Balarama yang bermakna Rama yang kuat.

Dalam buku “The Gita Of Management, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007 disampaikan……… Di Vrindavan itulah, Krishna memulai Leelanya, permainannya! Para Gopi dan Gopaal yang rela meninggalkan rumah mereka di Gokul dan pindah bersama Nand dan Yashoda adalah insan-insan terpilih, manusia-manusia pilihan. Mereka hanya belasan keluarga, tetapi setiap orang dalam keluarga itu adalah para resi, para pencinta Allah, yang lahir kembali ke dunia hanya untuk mencicipi manisnya cinta! Ya, mereka hanya lahir kembali untuk satu urusan itu saja. Selama sekian masa kehidupan, mereka mengejar ilmu, mendalami spiritualitas, dan bermeditasi, tetapi mereka tetap kering. Pencapaian mereka tidak berlembab, malah banyak di antara mereka yang “jatuh” karena kealotan mereka sendiri. Kemudian, dibantu oleh para dewa atau malaikat yang memang bertugas sebagai pemandu atau guarding and guiding angels – akhirnya mereka sadar bahwa “Cinta” adalah Aksara Terakhir. Cinta adalah Aksara Tunggal yang mengandung semua makna…….. Baca lebih lanjut

Renungan Bhagavatam: Krishna Dan Pedagang Buah, Kemuliaan Dalam Memberi

Krishna dan Rama senang bermain dengan anak-anak sebayanya di halaman rumah dan dijalan. Para Gopi dan Gopala senang dengan anak-anak kecil lucu yang suka menari dan jenaka. Mereka juga senang main hujan-hujanan di kala musim hujan tiba. Rohini dan Yashoda sering kewalahan saat mereka bermain lumpur di dekat rumah mereka. Krishna dan Rama pandai bersandiwara, sehingga para orang tua dan remaja di Gokula tidak pernah tahu bahwa mereka berdua adalah para avatara yang mempunyai tugas khusus menegakkan dharma.

Pada suatu hari ada seorang perempuan Nisadha yang sudah tua sebagai pedagang buah datang ke rumah Nanda. Kita masih ingat bahwa Rajarishi Kausika pernah mengutuk putra-putra Resi Vasistha dan juga kelimapuluh putra raja Kausika sendiri untuk menjadi orang Nisadha. Orang-orang Nisadha berkehidupan sebagai para pemburu yang sering berpindah-pindah tempat. Para perempuan Nisadha kadang membawa buah-buahan ke desa dan menukarnya dengan butir-butir gandum. Kali ini tinggal beberapa butir buah-buahan yang tersisa dan dia menawarkannya di depan rumah Nanda.

Krishna kecil mendatangi pedagang buah tersebut dan minta barter buah-buahan yang dibawanya dengan butir-butir gandum dari rumahnya. Sang perempuan pedagang tersenyum dan mengangguk. Krishna kecil masuk ke rumah membawa butir-butir gandum dengan kedua telapak tangannya yang kecil menemui sang pedagang di jalan. Akan tetapi disepanjang perjalanan, butir-butir gandum tersebut berjatuhan dan tinggal sedikit tersisa di telapak tangan yang diserahkan ke sang pedagang. Sudah bolak-balik Krishna mengambil butir-butir gandum dari rumahnya dan membawanya ke sang pedagang dan selalu saja tercecer di jalan dan tinggal sedikit yang tersisa di telapak tangannya. Sang pedagang tersenyum penuh kasih kepada Krishna kecil. Butir-butir gandum tersisa diletakkan sang pedagang ke keranjang. Dan kali ini sang pedagang memegang kedua telapak tangan Krishna yang lucu dan kecil. Sang pedagang mengambil seluruh sisa buah yang ada di keranjangnya dan memberikan kepada Krishna kecil yang segera didekapkan ke dada kecil Krishna. Sang perempuan tua pedagang tersenyum bahagia dapat menyenangkan anak kecil yang sangat menawan. Sang pedagang kemudian pamit kepada anak kecil tersebut dan meneruskan perjalanannya. Sudah seharian sang perempuan pedagang berjalan dan dia ingin beristirahat di bawah pohon yang rindang. Kala itu sang perempuan terkesima, ternyata butir-butir gandum yang jumlahnya sedikit yang dibawa anak kecil tersebut berubah menjadi banyak permata yang sangat berharga…………

Sang perempuan tua pedagang buah-buahan segera menemui keluarga dan beberapa kerabat dalam kelompoknya. Dia menceritakan kejadian yang menimpanya. Kemudian mereka bersepakat menghentikan kehidupan mereka sebagai pemburu yang suka berpindah dan hidup berumah-tinggal di pinggir sebuah hutan. Mereka dapat hidup layak dengan banyak permata yang didapat perempuan tersebut. Mereka menanam pohon buah-buahan di sekitar tempat tinggal mereka. Mereka hidup berbahagia dan sang perempuan tua menjadi menjadi wanita bijak yang selalu berdoa kepada Narayana yang telah mengubah penghidupan mereka……….

Dalam Bhagavad Gita 9:26-34 disampaikan……… Jika seseorang yang berhati bersih dan penuh kasih mempersembahkan daun, bunga, buah atau air, “Aku” menerimanya. Apa pun yang kamu lakukan, lakukanlah sebagai persembahan kepada-Ku. Ia yang berkarya tanpa keterikatan duniawi pasti akan mencapai Kesadaran Tertinggi. “Aku” yang berada dalam diri setiap makhluk sesungguhnya satu dan sama. “Aku” tidak membenci ataupun menganggap seseorang lebih penting daripada yang lain. Namun, mereka yang berkarya dalam kasih, akan selalu merasakan kehadiran”Ku”. Seseorang yang tersesat pun, apabila menyadari kehadiran-”Ku” di mana-mana, akan segera mencapai Kesadaran Tertinggi, karena ia telah memahami hal yang benar. Ia tidak akan pernah sesat lagi. Disebabkan oleh karma yang kurang baik, apabila seseorang lahir dalam keadaan yang kurang menguntungkan, akan mencapai Tujuan yang Tertinggi pula, apabila menyadari Kehadiran “Aku” di mana-mana. Apalagi mereka yang memang sudah lahir dalam keadaan yang menguntungkan. Mereka tentu akan mencapai Puncak Kesadaran yang Tertinggi itu. Pusatkan kesadaranmu pada “Aku”. Berpalinglah pada”Aku”. Berkaryalah demi “Aku”. Demikian kau akan dengan sangat mudah mencapai Kesadaran Tertinggi…….. Baca lebih lanjut

Renungan Bhagavatam: Robohnya Kedua Pohon Kembar, Rahmat Tuhan dan Kekayaan Yang Bersifat Sementara

Yashoda adalah seorang ibu rumah tangga yang rajin, bila pembantunya sedang sibuk melakukan pekerjaan rumah tangga, maka dia tidak segan-segan bekerja sendiri membantu pembantunya. Pada suatu hari saat Yashoda mengaduk susu untuk membuat mentega di luar dapur, Krishna kecil yang merasa lapar mendatanginya. Krishna lama memandang wajah ibunya yang cantik yang sedang sibuk mengaduk susu dalam periuk. Yashoda tersenyum dan kemudian memangku Krishna kecil dan membiarkan tangan kecil Krishna ikut memegang pengaduk susu, selanjutnya bersama-sama dengan Krishna mengaduk susu dalam periuk. Ada rasa bahagia yang mengalir dalam diri Yashoda. Dia betul-betul merasa bahagia memiliki seorang anak yang menjadi sumber kebahagiaan dirinya.

Akan tetapi rasa bahagia tersebut terhenti, kala dia membaui adanya bau gosong masakan di dalam periuk di dapur. Yashoda segera meninggalkan Krishna kecil dan menengok masakannya di dapur. Setelah beberapa lama, ketika Yashoda balik ke tempat semula, dia melihat periuk sudah pecah dan mentega yang sudah jadi hilang dan Krishna tidak nampak. Yashoda tersenyum sambil berpikir bahwa Krishna telah memecahkan periuk dengan memukulnya memakai pengaduk, kemudian mengambil mentega dan bersembunyi.

Sambil membawa kayu pengaduk Yashoda mencari Krishna dan menemukannya sedang duduk di atas batu tempat menumbuk yang terletak di halaman sambil makan mentega. Ada beberapa kera di depannya yang juga diberi mentega olehnya. Yashoda berpikir Krishna kecil memang nakal, akan tetapi bila dipukul dengan pengaduk, walau pukulan pelan untuk menegur tindakannya, terbit juga rasa kasihan, anak kecil nakal kan sudah biasa. Kemudian Yashoda berupaya mendekati Krishna untuk menangkapnya. Tiba-tiba Krishna melihat Yashoda datang dengan kayu pengaduk dan Krishna lari, berpura-pura takut kepada Yashoda. Dan terjadilah kejar-mengejar antara Yashoda dengan Krishna. Krishna kecil sangat lincah dan cukup sulit bagi Yashoda untuk menangkapnya. Keringat Yashoda bercucuran dan ikatan rambutnya terlepas menambah kecantikannya. Akhirnya Krishna tersenyum dan membiarkan dirinya dipegang oleh Yashoda.

Yashoda berkata, “Krishna, kamu jangan nakal! Lain kali jangan memecahkan periuk dan mengambil mentega, mintalah padaku akan kuambilkan! Sekarang ibu akan ke dapur lagi, tetapi kau harus kuikat, agar tidak nakal lagi! Nanti setelah dari dapur akan kulepaskan ikatanmu!” Yashoda kemudian mengambil tali pengikat dan mengikat batu tempat menumbuk dan kemudian baru akan mengikat Krishna. Rencananya Krishna akan diikat dengan jarak tali sekitar 4 depa dari batu tempat menumbuk tersebut. Dalam pikiran Yashoda biarlah Krishna bisa bergerak, tetapi dalam jarak 4 depa saja. Akan tetapi Yashoda sempat kaget karena talinya kurang panjang untuk mengikat badan Krishna. Yashoda menyambung tali tersebut dengan tali lainnya akan tetapi tetap kurang panjang juga. Para Gopi berdatangan melihat kejadian tersebut. Yashoda sampai kewalahan menyambungnya dengan tali-tali lainnya. Krishna kecil hanya tersenyum dan setelah merasa cukup mempermainkan ibunya Krishna kemudian membiarkan dirinya diikat oleh Yashoda.

Kita melihat pesan yang disampaikan dalam kisah ini bahwa Rahmat Tuhan memegang peranan pokok. Bisakah kita mengikat Tuhan? Bisakah Tuhan diikat oleh Bhakta yang mengasihinya? Yashoda pun tidak berhasil mengikat Krishna kecil, kecuali saat Krishna membiarkan dirinya diikat. Walaupun bersedia diikat, apakah Dia patuh pada pengikatnya dan tidak bergerak? Tidak juga! Dia tetap bergerak sesuai kehendak-Nya! Dalam buku “Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2000 disampaikan……… Rumi menasehati kita, “Janganlah sombong, janganlah angkuh; Kendati kesadaranmu sudah meningkat, jangan mengira bahwa hal itu terjadi karena upayamu semata-mata. Tidak! Apa pun yang terjadi, karena Rahmat-Nya.”………. Dalam buku “Hidup Sehat Dan Seimbang Cara Sufi”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan…….. Dalam dunia ini, segala sesuatu dapat dibeli. Hanya satu yang tidak dapat dibeli Rahmat Allah. Yang satu ini kita dapatkan secara gratis, karena kita tidak mampu membayarnya entah itu dengan amal saleh atau kebajikan apa pun. Karena amal saleh, kebajikan dan ketekunan kita sepanjang umur hanya ibarat setetes air jika dibandingkan dengan lautan luas Kurnia Kasih-Nya……..

Setelah ngobrol dengan para Gopi, Yashoda kembali ke dapur dan para Gopi meninggalkan tempat tersebut. Krishna kecil hanya tersenyum melihat ibunya meninggalkan dia. Pikiran Yashoda masih terikat dengan Krishna. Sambil memasak dan melakukan rumah tangga lainnya, Yashoda selalu ingat pada Krishna kecil yang menyenangkan. Wajah Krishna yang tersenyum dengan jenaka tak dapat lepas dari pikirannya. Yashoda segera menyelesaikan pekerjaan di dapur sambil mengingat-Nya. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Yashoda segera kembali kepada-Nya. Ingat selalu kepada-Nya itulah zikir. Yashoda adalah contoh seseorang yang tidak tersibukkan oleh urusan dunia, dia selalu ingat kepada-Nya.

Dalam salah satu materi di Svarnadvipa Institute of Integral Studies (http://svarnadvipa.org/), Bapak Anand Krishna pernah menyampaikan……… Seorang pedagang yang sedang berkunjung ke kota lain boleh menikmati segala kenyamanan dan kemewahan hotel dimana ia sedang bermalam. Tapi, dia selalu ingat tujuannya berada di kota asing itu. Ia tidak larut dalam kenyamanan dan kenikmatan itu. Pagi-pagi ia sudah bangun. Meninggalkan kamar hotel, dan pergi ke pasar untuk berdagang. Ia tidak memiliki keterikatan dengan hotel itu, dengan segala kenyamanan kamarnya. Itulah sebab ketika urusannya selesai ia pun langsung checkout, tidak menunggu diusir, dan pulang ke “negeri asalnya”. Kiranya inilah arti ayat 11 dlm surat al-Fath, “harta dan keluarga kami merintangi”. Qur’an Karim mengingatkan para mukmin untuk tidak terikat dengan kenyamanan dan kenikmatan duniawi, dan untuk senantiasa mengingat tujuan hidup. Yaitu “berjuang” dalam, dan dengan kesadaran ilahi……….

Sayidina Umar sang panglima perang pernah berkata bahwa “Pada hakikatnya setiap orang di dunia ini adalah seorang tamu dan uang yang dimilikinya adalah pinjaman”. Seorang tamu pastilah cepat atau lambat akan pergi, dan pinjaman harus dikembalikan. Para leluhur mempunyai ungkapan “Urip mung mampir ngombe”, hidup hanya sesaat yang seakan hanya untuk minum beberapa tegukan. Untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju “sangkan paraning dumadi”, menuju ke asal dan juga akhir penciptaan. Ada sebuah SMS Wisdom yang menyampaikan, bahwa “manusia ditakdirkan menjadi peziarah, sayang sekali ia menjadi pengelana tak bertujuan”. Sebagai seorang peziarah kita tidak boleh terlenakan pada kenyamanan suatu tempat, kita harus ingat bahwa kita sedang berjalan menuju Dia, kita selalu mengingat Dia setiap saat. Dan, Bhagawan Abyasa memberikan contoh seorang Yashoda yang sangat sayang kepada Sri Krishna…….

Tidak berapa lama, Yashoda dan para Gopi mendengar ada bunyi pohon besar jatuh dua kali di halaman. Yashoda dan para Gopi berlarian datang dan mereka  menyaksikan Krishna kecil berada di antara dua pohon kembar di halaman rumah yang roboh. Krishna masih terikat dengan batu tempat menumbuk. Anak-anak kecil bercerita, bahwa mereka melihat Krishna menarik batu tempat dia diikat ke halaman dan batu tersebut tersangkut pada salah satu akar pohon, sehingga pohon tersebut menjadi roboh tertarik oleh Krishna. Krishna masih menarik lagi dan tersangkut pohon lainnya sehingga akhirnya kedua pohon itu roboh. Anak-anak kecil tersebut melihat ada dua manusia bercahaya berlutut didepan Krishna dan kemudian lenyap. Akan tetapi siapa yang percaya dengan cerita anak-anak kecil? Yang penting bagi Yashoda dan para Gopi adalah Krishna selamat dan mereka bersyukur pada Narayana.

Adalah sebuah kisah di balik kedua pohon kembar di depan rumah Nanda. Nalakuvera dan saudaranya Manigriva adalah anak-anak Dewa Kemakmuran Kubera. Sebagai putra-putra seorang kaya mereka suka berfoya-foya. Pada suatu hari Nalakuvera dan saudaranya sedang bermain air dengan gadis-gadis surgawi di sungai Gangga. Resi Narada kebetulan lewat di tempat tersebut. Ketika gadis-gadis tersebut melihat Narada, mereka segera berpakaian dan menghormat kepada sang resi. Akan tetapi kedua bersaudara putra Kubera tersebut begitu asyik sehingga hanya menoleh sebentar dan melanjutkan kesenangan mereka. Resi Narada kecewa dengan Nalakuvera dan Manigriva, yang lupa diri karena kelebihan harta dengan berfoya-foya dengan wanita dan anggur. Bila mereka terus melakukan hal yang demikian tanpa tobat, maka mereka semakin jauh dari jalan ilahi dan mudah tergabung dengan kelompok para Asura. Resi Narada kemudian mengutuk mereka menjadi pohon. Selama menjadi pohon, mereka bertapa, tanpa pindah tempat dan berbuat baik dengan melayani kebutuhan manusia. Pohon memberikan kayu, ranting, buah-buahan dan perlindungan dari teriknya matahari, serta dedaunannya menghasilkan oksigen bagi manusia. Mereka akan kembali ke kahyangan setelah bertemu Krishna, setelah kesalahannya diampuni, setelah sadar bahwa kenyamanan dunia hanya bersifat sementara, setelah sadar bahwa dunia ini hanya bayang-bayang-Nya, setelah sadar untuk memfokuskan diri pada Dia dan tidak memfokuskan diri pada bayang-bayang-Nya……..

Ketika Krishna kecil menyeret batu tempat penumbuk dengan tali dan tersangkut pada kedua pohon tersebut, pohon-pohon tersebut menjadi roboh dan mereka bebas dari hukuman. Keduanya segera menghormat kepada Krishna dan kembali ke kahyangan. Di sini pohon kembar adalah simbol dari keangkuhan karena memiliki banyak kekayaan. Dan keangkuhan tersebut dirobohkan oleh Sri Krishna…….

Sri Krishna Dvipayana, sebutan bagi Bhagawan Abyasa, menyampaikan sebuah mutiara dari kisah pohon kembar, sebuah perjalanan batin dari kedua putra Dewa Kubera yang terikat dengan harta benda yang akhirnya dapat melepaskan diri dari ikatan yang membelenggu mereka setelah bertemu dengan Sri Krishna. Dalam buku “Sabda Pencerahan,  Ulasan Khotbah Yesus Di Atas Bukit Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2004 disampaikan……. Ketenaran, kedudukan dan kekayaan – ‘tiga “K” ini merupakan perkembangan dari rasa kepemilikan kita. Rasa kepemilikan ini harus diganti dengan Kesadaran. Selama ini tidak terjadi, selama itu pula kita akan selalu terombang-ambing di tengah lautan kehidupan. Kita akan selalu menderita. Mengumpulkan harta di dunia berarti mengumpulkan tiga “K” tadi. Dan tiga “K” ini tidak langgeng, tidak abadi. Sewaktu kita masih memilikinya, kita senang. Begitu kehilangan, kita kecewa, kita sedih. Harta sorgawi yang dimaksudkan oleh Yesus adalah Kesadaran. Dalam lautan kesadaran, segala rasa terlarut dan jiwa kita menjadi bersih. Sekali rasa kesadaran ini terkembangkan, kita akan terbebaskan dari keterikatan-keterikatan duniawi……….

 

Demikian nasehat Bapak Anand Krishna untuk meningkatkan kesadaran putra-putri bangsa. Bapak Anand Krishna menyampaikan pandangannya sebagai manusia dan sebagai warga negara Indonesia. Sayang pandangan kebhinnekaan beliau tidak disenangi oleh beberapa pihak tertentu yang berusaha mendiskreditkan nama baiknya. Silakan lihat…..

 

http://www.freeanandkrishna.com/in/

 

 

Tadinya kedua putra Dewa Kubera merasa diri mereka berharga karena kekayaannya, tetapi akhirnya sadar bahwa kekayaannya hanya bersifat sementara. Dalam buku “Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2002 disampaikan…….. Hidup Anda terasa hampa, kosong, karena memang tidak ada isinya. Anda tidak pemah mengisinya dengan sesuatu yang indah. Hidup Anda tidak memiliki kedalaman. Kalaupun memiliki kedalaman, maka masih kosong. Kehampaan itu, kekosongan itu yang membuat anda gelisah. Kemudian, Anda berupaya untuk mengisinya dengan kekayaan, kedudukan dan ketenaran. Semuanya sia-sia, karena kekayaan, kedudukan dan ketenaran akan menguap dalam sekejap. Sesaat kemudian, Anda menjadi hampa kembali, kosong lagi. Lalu gelisah lagi! Anda tidak bisa mengisi diri anda dengan bayang-bayang. Anda harus mengisinya dengan sesuatu yang lebih berarti, lebih bermakna. Dan yang lebih berarti, yang lebih bermakna itu sesungguhnya sudah ada dalam diri Anda. Sudah ada dalam bentuk “potensi” – potensi diri yang masih belum berkembang, yang masih harus dikembangkan. Kembangkan potensi diri Anda, jadilah diri sendiri. Lalu, apabila I Ching menganjurkan agar anda meniru para bijak, yang dimaksudkan adalah “tirulah semangat mereka”. Meniru seorang Lao Tze atau seorang Buddha atau seorang Muhammad tidak berarti Anda menjadi photo-copy mereka. Tirulah kegigihan mereka dalam hal pengembangan diri. Jika itu yang anda lakukan, Anda akan selalu jaya, selalu berhasil!………

Akhirnya kedua putra Dewa Kemakmuran Kubera sadar dan tunduk kepada Sri Krishna. Dalam buku “The Ultimate Learning, Pembelajaran Untuk Berkesadaran”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2010, Sri Chaitanya selalu menyebut Sri Krishna sebagai Hyang Maha Menawan…….. Wahai Hyang Mahamenawan! Selama ini aku menjadi budak ambisi dan keinginan-keinginanku, Aku telah jatuh dalam lumpur hawa nafsu pancaindra. Gusti, aku tak mampu menggapaiMu, namun Kau dapat menemukanku. Aku tak berdaya, Engkau Mahadaya. Aku hanyalah debu dibawah kaki suciMu, angkatlah diriku dan berkahilah daku dengan kasihMu! Mengapa? Mengapa selama ini kita menjadi budak ambisi dan keinginan-keinginan kita sendiri. Karena kita terpesona oleh dunia benda, oleh bayangan Hyang Mahamenawan. Memang, bayanganNya saja sudah penuh pesona. Tapi alangkah tidak beruntungnya kita jika kita berhenti pada bayangan. Betapa meruginya kita jika kita tidak menatap Ia Hyang Terbayang lewat dunia benda ini. Ambisi dan keinginan kita sungguh tidak berarti, karena semuanya terkait dengan bayang-bayang. Kita mengejar bayangan keluarga, kekuasaan, kekayaan, kedudukan, ketenaran, dan sebagainya. Keinginan kita sungguh sangat miskin. Ambisi kita adalah ambisi para pengemis. Hyang Mahamenawan adalah raja segala raja. Ia adalah Hyang Terdekat, kerabat yang tak pernah berpisah, sementara kita masih menempatkan keluarga sejajar denganNya. Sungguh sangat tidak masuk akal. Silakan melayani keluarga. Silakan mencintai kawan dan kerabat. Tapi jangan mengharapkan sesuatu dari mereka semua, karena dinding kekeluargaan pun bisa retak. Persahabatan dapat berakhir. Kemudian, kau akan kecewa sendiri. Kekuasaan apa, kekayaan apa, kedudukan apa, dan ketenaran apa pula yang menjadi ambisimu? Jika kau menyadari hubunganmu dengan Ia Hyang Mahakuasa, dan Mahatenar adanya, saat itu pula derajadmu terangkat dengan sendirinya dari seorang fakir miskin, hina, dan dina menjadi seorang putra raja, seorang raja………..

Untuk Kebahagiaan Sejati, Ikuti Program Online Spiritual Trasnpersonal Psychology http://oeschool.org/e-learning/

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Agustus 2011