Renungan Bhagavatam: Putana, Kematian Asura Wanita Pembunuh Oleh Bayi Krishna


Mahamaya telah memberikan peringatan kepada Kamsa dan kemudian menghilang. Akan tetapi peristiwa tersebut memberikan pengaruh luar biasa kepada Kamsa. Nampaknya Kamsa menjadi sadar tentang tindakan yang dilakukannya. Kamsa kemudian melepaskan rantai belenggu dari tangan Vasudeva dan juga rantai yang membelenggu Devaki. Kamsa berkata, “Aku menyesal atas perbuatanku kepada kalian, demi ketakutan terhadap kehilangan nyawaku, aku telah bertindak kejam kepada kalian. Aku banyak berpikir pada kehidupanku masa lalu sebagai Kalanemi yang dibunuh Narayana. Kemudian aku mengkhawatirkan masa depan dimana aku akan dibunuh oleh anak kalian. Aku larut dalam kehidupan masa lalu dan terbelit dengan bayangan kehidupan masa depan sehingga aku tidak bisa menikmati masa kini dengan penuh kewajaran.

 

Banyak manusia yang tidak sadar dan bertindak seperti Kamsa. Karena ketakutan akan penderitaan di masa lalu dan ketakutan akan mengalami penderitaan di masa depan, maka dia tidak fokus pada tindakan saat ini, sehingga sering memilih tindakan yang salah yang bahkan akan mengacaukan kehidupannya. Dalam buku “Kehidupan, Panduan Untuk Meniti Jalan Ke Dalam Diri”, Gramedia Pustaka Utama Jakarta 2002 disampaikan……… Orang yang berkembang berkelana menembus kehidupan, seperti mengemudi mobil. Dia akan menggunakan kaca spion, kaca depan, segala sesuatu yang membantunya sewaktu mengemudi. Menyilahkan orang lain mendahului, bukan tanda kemunduran. Dia tidak hidup di masa lampau, Dia juga tidak hidup di masa datang. Dia menggunakan seluruh tenaganya untuk hidup pada masa kini, untuk mengendarai mobilnya. Dia mungkin mendengarkan musik, dia mungkin bercanda dengan seorang teman yang duduk di sampingnya, dia bahkan mungkin sedang memikirkan begitu banyak hal; tetapi dia juga sadar bahwa dia sedang mengemudi. Ini sesungguhnya adalah tindakan meditasi. Orang yang bekembang berada dalam kondisi meditasi yang tak terganggu. Musik, pembicaraan apa pun tidak dapat menghilangkan kesadarannya, kesadaran bahwasanya ia sedang mengemudi. Dia tahu persis bahwa hilangnya kesadaran dapat berakibat fatal. Sesungguhnya, untuk orang yang berkembang, meditasi menjadi sangat mudah dan tanpa pemaksaan……..

 

Dalam buku “The Gita Of Management, Panduan Bagi Eksekutif Muda Berwawasan Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007 disampaikan…….. Apa yang disebut “masa lalu” tidak terputuskan dari “masa kini”. Apa yang disebut “masa depan” juga terkait dengan “masa kini”, walau tidak atau belum nampak; bukan karena ia belum ada, tetapi karena kita belum bisa melihat sejauh itu. Dapatkah kita memisahkan masa lalu dari masa kini? Apakah kita ada masa depan tanpa masa kini? Apakah kita dapat menciptakan garis pemisah yang jelas dan tegas antara masa kecil dan remaja; antara masa remaja, lebih dewasa, lebih matang, kemudian menua? Dengan berlalunya masa kecil, apakah kekanakan di dalam diri kita ikut berlalu juga? Tidak. Kekanakan itu masih ada di dalam diri kita. Keinginan untuk bermain masih ada. Permainannya sudah beda; alat mainnya lain, tetapi keinginannya sama. Masa kecil yang kita anggap sudah berlalu itu sesungguhnya tidak pernah berlalu. Ia hanya mengendap. Kemudian, yang muncul di permukaan adalah masa lain. Masa depan yang tidak atau belum nampak itu pun sesungguhnya tidak muncul pada suatu saat tertentu. Kita semua sedang menuju ke masa depan; masa depan kita sedang dalam proses “menjadi”. It is a happening. Ya, masa depan tidak terjadi pada saat tertentu, tetapi adalah proses menjadi dari saat ke saat……… Apa yang kita lakukan pada masa kini menentukan apa yang dapat terjadi pada diri kita masa kemudian………

 

Kamsa berkata, “Aku percaya kepada suara dari langit, sehingga aku membunuh putra-putra saudaraku. Sebetulnya itu semua adalah akibat keserakahanku sendiri. Aku merasa bahwa diriku adalah pikiranku. Dan pikiranku selalu mencari keamanan dan keuntungan bagi diriku dan mengabaikan rasa orang lain. Aku masih merasa sebagai asura yang hanya ingin memuaskan keinginan diri tanpa memperdulikan kesusahan orang lain akibat perbuatanku. Aku sadar bahwa badan ini seperti mangkuk dari tembikar, kala mangkuk ini pecah maka badan ini juga hancur. Akan tetapi isi dari mangkuk tersebut adalah udara yang tak pernah mati. Kalian berdua mengetahui bahwa seseorang dilahirkan karena karma, perbuatannya di masa silam. Orang bodoh merasa bahwa seseorang membunuh atau dibunuh, akan tetapi kalian tahu bahwa Atman tidak bisa dibunuh. Kejadian memang harus terjadi karena adanya hukum sebab-akibat dan aku tahu aku akan menerima akibat perbuatanku di masa depan. Maafkan aku dan kalian sekarang kubebaskan dari penjara!”

 

Nampaknya terbit kesadaran dalam diri Kamsa, bahwa jatidiri manusia itu kekal abadi. Akan tetapi sekedar menyadari saja tidak cukup. Kesadaran tersebut harus dilakoni dengan tindakan dalamkeseharian. Dalam program online di Svarnadvipa Institute of Integral Studies, Bapak Anand Krishna menyampaikan salah satu materi……… “Diri”-mu tidak pernah mati. “Diri”-mu kekal abadi, tak tersayat oleh senjata, tak terbakar oleh api, tak tercerai-berai atau mengering oleh angin, dan tak hanyut dalam air. Kenalilah “diri” yang maha daya itu, maka dengan sendirinya kau akan melampaui kelemahan-kelemahan raga, pikiran, dan rasa. Tapi – Krishna mengatakan dalam Gita – tidak cukup jika kita sekedar menyadari hal tu. Kesadaran itu mesti diterjemahkan dalam keseharian hidup. Apakah perbuatanku mencerminkan kemahadayaanku? Berhasilkah aku menjalani tugas kewajibanku dalam hidup dengan baik? Berhasilkah aku dalam pekerjaan yang sedang kutangani? Tekanan Gita pada karma, atau tiniakan nyata – adalah  sesuatu yg sering terlupakan. Kita sudah cukup puas dengan menyadari “diri”. Untuk apa kesadaran itu, jika tidak di”pakai” dalam hidup? Kenali diri, sadari kemampuanmu, dan bertindaklah………

 

Kesadaran Kamsa tidak bertahan lama, begitu dia kembali kepada para menterinya, maka pola pemikiran lama menggusur kesadaran seketika. Kamsa setuju dengan saran para menterinya, bahwa untuk mempertahankan kekuasaan Kamsa dan mereka yang berada didekatnya, maka mereka harus membunuh semua bayi yang berusia di bawah satu tahun yang sedang menyusui. Kamsa juga mendengar tentang Nanda, sahabat Vasudeva dan kelompok para gembala yang tinggal di Gokula. Dia juga berpikir apakah anak Devaki dibawa ke Gokula. Akan tetapi Nanda adalah kepala desa yang termasuk bawahannya dan dia juga termasuk keturunan Yadu sehingga Kamsa lebih berhati-hati.

 

Kesadaran Kamsa tidak bertahan lama, karena dia mempunyai pergaulan yang tidak menunjang kesadaran. Manusia selalu terpengaruh oleh pergaulannya. Dan pergaulan yang tidak menunjang peningkatan kesadaran seperti layaknya pembentukan karat pada jiwa kita. Dalam buku “Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan…….. Tuhan bagaikan magnet. Senantiasa siap untuk “menarik” kita. Jiwa kita saja yang karatan, sehingga tidak “ketarik”. Kehadiran para suci di dalam hidup membantu kita membersihkan jiwa. Itu saja. Selanjutnya, tidak perlu mencari Tuhan. Mencari ke mana? Di mana? Dia Maha Dekat dan Maha Hadir Ada-Nya, tidak pernah menghilang. Jiwa yang sudah karatan harus dibakar. Ya, dimasukkan ke dalam api. Tidak ada cara lain untuk membersihkannya. Itu sebabnya proses pembersihan selalu menyakitkan. Bila tidak sakit, berarti karat jiwa kita belum terbakar. Jangan harap “pertemuan” dengan para suci menyelesaikan perkara. Tidak. Sebaliknya, pertemuan itu justru membuka perkara. Jiwa kita dibuka, ditelanjangi. Borok-borok kita diperlihatkan. Pertemuan dengan para suci memang sulit. Hanya terjadi bila dikehendaki oleh Allah. Dan yang lebih sulit lagi, bagaimana mempertahankan pertemuan itu. Bagaimana bertahan menghadapi “ulah” para suci. Mereka tidak pandang bulu, tidak pilih kasih. Berusia tua atau muda, kaya atau miskin, berpangkat atau tidak, semua sama. Mau dibakar (karatnya), ya dibakar. Mau ditelanjangi, ya ditelanjangi. Tidak ada perbedaan antara Dia dan kepunyaan-Nya. Antara Dia dan umat/ciptaan-Nya. Narada boleh berkata demikian, kenyataannya apa? Dia bagaikan magnet. Kita bagaikan besi karatan. Perbedaan ini tampak jelas. Jangankan perbedaan antara Dia dan ciptan-Nya, lihat saja perbedaan antara kita dengan seorang Mahatma Gandhi, Mother Teresa. Antara saya dan Inayat Khan. Apa yang membedakan kita dengan mereka? Lagi-lagi, jawabannya: “Lapisan karat pada jiwa kita”. Lalu lapisan karat ini berasal dari mana? Dari alam sekitar kita, dari air dan angin dan elemen alami lainnya. Dari segala sesuatu yang terciptakan oleh unsur-unsur alami tersebut. Dari pergaulan. Dari masyarakat luas……….

 

Demikian beberapa pandangan Bapak Anand Krishna untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Sayang pandangan beliau yang menyangkut esensi spiritualitas yang menembus sekat-sekat yang terbentuk oleh kotak-kotak keyakinan, tidak disukai oleh beberapa kelompok dan mereka berupaya mendiskreditkan beliau. Silakan lihat…….

 

http://www.freeanandkrishna.com/in/

 

Rohini telah melahirkan putra setahun sebelumnya, putra yang tampan bersinar seperti putra Yashoda yang baru saja lahir. Dikisahkan Nanda sangat berbahagia dengan kelahiran anak mereka. Nanda kemudian mengadakan upacara upacara pensucian bernama Jatakarma. Bumi dibersihkan oleh kala, waktu. Tubuh dibersihkan oleh air. Brahmana dibersihkan oleh persembahan. Kekayaan dibersihkan oleh memberi. Pikiran dibersihkan oleh tapa, pengendalian diri dan anak yang baru lahir dibersihkan dengan Jatakarma.

 

Setelah selesai mengadakan acara Jatakarma, Nanda segera pergi ke kota untuk membayar upeti kepada bendahara istana. Dan di kota tersebut dia bertemu Vasudeva. Nanda mengungkapkan rasa belasungkawa atas nasib yang diterima Vasudewa dimana keenam putranya telah dibunuh Kamsa sambil mengabarkan bahwa Rohini telah melahirkan seorang putra. Nanda juga mengatakan bahwa Yashoda telah melahirkan seorang putra pula. Vasudeva mengucapkan selamat dan berkata bahwa sebaiknya Nanda cepat pulang karena dia melihat malapetakan akan datang ke Gokula. Oleh karena itu lebih baik Nanda cepat pulang ke istri dan anaknya.

 

Dikisahkan bahwa Kamsa memanggil salah seorang penasehatnya bersama isterinya yang bernama Putana. Putana adalah seorang Asura Perempuan. Dan Kamsa meminta Putana untuk membunuh bayi-bayi yang sedang menyusui yang usianya di bawah satu tahun. Putana kemudian berkeliling desa dan membunuhi bayi-bayi yang tidak bersalah. Pada suatu saat sampailah Putana di desa Gokula. Dengan kekuatan mayanya, Putana mengubah dirinya sebagai wanita cantik. Putana masuk ke halaman rumah Nanda dan melihat bayi kecil dalam ayunan. Segera bayi itu dipangkunya, layaknya seorang wanita yang mencintai anak kecil. Orang-orang yang melihatnya agak heran tetapi terkesan dengan kecantikan dan kasih sayang yang ditunjukkan wanita tersebut kepada bayi putra Yashoda. Putana melonggarkan bajunya dan mulai memberi susu kepada sang bayi. Putana berpikir bahwa bayi tersebut akan segera mati setelah minum air susu beracunnya. Akan tetapi dia kaget sekali tatkala sang bayi menghisap semua susu yang ada dalam dadanya dengan keras. Dia berteriak-teriak agar tindakan sang bayi tidak dilanjutkan, akan tetapi dia terlambat dan dia merasakan nyeri yang tak tertahankan dan kemudian mati. Mayat wanita cantik tersebut kemudian berubah wujud menjadi Asura Perempuan yang tinggi besar dan menyeramkan. Warga Gokula kemudian memotong-motong tubuh dan membakar mayatnya. Pada saat pembakaran mayat tersebut keluar bau harum yang mereka tidak tahu berasal dari mana.

 

Saat Nanda pulang dari kota dia mendengar cerita tentang kematian seorang Asura Perempuan. Nanda menceritakan bahwa Vasudeva,sahabatnya adalah seorang yang dikaruniai kewaskitaan sehingga sudah melihat akan ada kejadian besar di Gokula sehingga dia diminta cepat pulang.

 

Dikisahkan bahwa Putana dalam kehidupan sebelumnya bernama Ratnamala dan merupakan putri Raja Bali. Ketika pertama kali melihat Vamana Avatara, Ratnamala ingin mengambil Vamana sebagai putranya dan ingin menyusuinya. Akan tetapi kala Vamana minta Raja Bali untuk memenuhi permintaan tiga langkahnya yang membuat Raja Bali takluk, maka Ratnamala berubah pikiran dan ingin membunuh Vamana. Sri Krishna memenuhi keinginannya dalam kehidupan selanjutnya untuk menyusui Avatara Wisnu dan kehendak untuk membunuhnya. Beruntunglah Putana, sang bayi tidak hanya menyedot air susunya, tetapi juga menyedot semua kesalahannya, sehingga dia menjadi bersih suci kembali. Konon itulah sebabnya pada saat pembakaran mayatnya keluar bau harum. Bagaimana dengan Yashoda dan para Gopi yang memberi Sri Krishna kecil makanan dan  buah-buahan? Para Gopi dan Gopala pun akan mengalami moksha. Bukan suatu kebetulan bahwa para Gopi dalam kehidupannya yang lampau adalah para Gyaani yang sudah melakoni hidupnya sesuai Gyaana, pengetahuan tentang kesadaran dan mereka hanya perlu lahir sekali lagi untuk melaksanakan bhakti terhadap Narayana.

 

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Agustus 2011

 

Manusia tidak berubah, tetapi cara kita memahami kejiwaannya berubah. Psikologi konvensional Freudian yang banyak dipakai para motivator kontemporer dari Covey hingga Hicks ternyata tidak membantu memperindah dunia ini. Para ilmuwan modern seperti Ken Wilber mulai menengok ke belakang dan mempelajari kembali pandangan-pandangan Wiliam James dan Aurobindo, maka ilmu psikologi pun memasuki level baru, yaitu Transpersonal Psikologi yang sekarang sudah diakui oleh Inggris maupun AS. Berarti selama 100 tahun lebih kita menyalahpahami jiwa manusia. Dengan hasil yang sangat berbahaya, yaitu solusi-solusi kita pun salah. Dalam waktu dekat kita akan memulai program online baru, yang bahkan akan memasuki level transpersonal yang lebih advance, yaitu “Spiritual Transpersonal Psychology”. Silakan datang ke http://oeschool.org/e-learning/

Setelah program online oleh Bapak Anand Krishna di Svarnadvipa Institute of Integral Studies ( http://svarnadvipa.org ) yang dimulai Februari 2011, kini One Earth Integral Education Foundation yang juga bernaung di bawah Yayasan Anand Ashram akan memulai program e-learning. Program online Bapak Anand Krishna baru “Online Spiritual Transpersonal Psychology” ( http://oeschool.org/e-learning/ ). Akan dimulai bulan September 2011. Program dan pembahasan bilingual. Ada 12 materi biweekly/dua mingguan. Kualifikasi minimal S1/Diploma. Usia tidak terbatas. Siapa saja boleh ikut!! Besarnya biaya Rp 720.000 (Tujuh ratus dua puluh ribu rupiah). Bagi yang membayar lunas sebelum tanggal 7 Agustus 2011 diberikan early bird discount sehingga hanya membayar Rp 540.000 (lima ratus empat puluh ribu rupiah). Admin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: