Renungan Bhagavatam: Vatsasura Dan Bakasura, Kurangnya Pengendalian Diri Dan Berbuat Baik Dari Hasil Kejahatan


Para kepala keluarga di Gokula mengadakan pertemuan di rumah Nanda, kepala desa Gokula. Mereka membahas datangnya para Asura ke desa mereka. Mereka merasa bahwa desa mereka tidak aman dan mereka berpikir sebaiknya mereka pindah ke tempat lain. Adalah Upananda kakak dari Nanda yang menyarankan agar mereka pindah ke Brindavan. Ayah Upananda dan Nanda  bernama Parjanya pernah diminta Resi Narada untuk pergi ke Bukit Nandisvara. Parjanya melakukan pertapaan di sana selama bertahun-tahun. Setelah itu Parjanya tinggal di situ dengan keluarganya. Nanda dan komunitasnya pernah tinggal di daerah tersebut sebelum pindah ke Gokula.

Dan komunitas Nanda pun pindah dari Gokula ke Brindavan. Barisan pedati membawa barang-barang rumah tangga mereka. Para Gopi memakai pakaian terbagusnya, seakan-akan mereka sedang melakukan karnaval. Anak-anak menyanyikan lagu Krishna yang suka berkelakar dengan mereka. Para Brahmana sambil berjalan membaca mantra keselamatan. Rombongan sapi di belakang mereka dikawal para Gopala bersenjata busur dan panah. Para Gopala membunyikan terompet yang terbuat dari tanduk. Yashoda bersama Rohini berada dalam satu pedati bersama Krishna dan Rama. Perjalanan yang menyenangkan dan Bukit Nandisvara berbahagia menyambut kedatangan mereka.

Konon Shiva pernah berdoa kepada Narayana agar diizinkan untuk menyaksikan adegan-adegan kasih sayang antara Narayana dengan para bhaktanya. Shiva bertapa berabad-abad dan Narayana akhirnya mengabulkan permohonannya. Shiva akhirnya menjadi Bukit Nandisvara di Brindavan dimana para Gopi akan menginjak dia dan meninggalkan debu kaki padanya. Bukit kedua yang subur dan cocok untuk rumput para gembala adalah Bukit Govardhana, Go bermakna sapi dan Vardhana bermakna sumber makanan. Nama Brindavan berasal dari Brinda, Vrinda nama lain dari tanaman Tulasi. Pada waktu itu banyak sekali tanaman Tulasi di daerah tersebut. Di kaki bukit Nandisvara ada sebuah tempat pemujaan Narasimha Avatara dan Varaha Avatara. Nanda dinasehati Muni Garga agar memuja Narasimha Avatara dan Varaha Avatara agar mereka selamat dari gangguan para Asura.

Krishna tinggal di Gokula sampai dengan usia tiga tahun empat bulan. Kemudian tinggal di wilayah Brindavan sampai usia Krishna sekitar 10 tahun. Rama dikenal sebagai anak yang kuat sehingga sering dipanggil sebagai Balarama yang bermakna Rama yang kuat.

Dalam buku “The Gita Of Management, Panduan bagi eksekutif muda berwawasan modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2007 disampaikan……… Di Vrindavan itulah, Krishna memulai Leelanya, permainannya! Para Gopi dan Gopaal yang rela meninggalkan rumah mereka di Gokul dan pindah bersama Nand dan Yashoda adalah insan-insan terpilih, manusia-manusia pilihan. Mereka hanya belasan keluarga, tetapi setiap orang dalam keluarga itu adalah para resi, para pencinta Allah, yang lahir kembali ke dunia hanya untuk mencicipi manisnya cinta! Ya, mereka hanya lahir kembali untuk satu urusan itu saja. Selama sekian masa kehidupan, mereka mengejar ilmu, mendalami spiritualitas, dan bermeditasi, tetapi mereka tetap kering. Pencapaian mereka tidak berlembab, malah banyak di antara mereka yang “jatuh” karena kealotan mereka sendiri. Kemudian, dibantu oleh para dewa atau malaikat yang memang bertugas sebagai pemandu atau guarding and guiding angels – akhirnya mereka sadar bahwa “Cinta” adalah Aksara Terakhir. Cinta adalah Aksara Tunggal yang mengandung semua makna……..

Pada suatu hari Krishna dan Balarama bersama anak-anak lainnya menggembalakan anak-anak sapi di tepi Sungai Yamuna. Adalah seorang Asura suruhan raja Kamsa datang untuk membunuh Krishna. Vatsasura, sang asura tersebut berwujud sebagai anak sapi dan ikut rombongan anak sapi yang digembalakan oleh Krishna, Balarama dan teman-temannya. Krishna menggamit Balarama, agar memperhatikan anak sapi perwujudan dari Vatsasura. Mereka berpura-pura tidak mengetahui perwujudan sang asura. Setelah dekat Krishna memegang kaki kanan anak sapi tersebut, memutar-mutarnya dan melemparkannya pada pohon mangga, dan anak sapi tersebut mati. Seberkas cahaya dari anak sapi tersebut jatuh di kaki Krishna dan kemudian lenyap.

Dalam kehidupan sebelumnya, dikisahkan bahwa Vatsasura adalah putra dari Asura Mura bernama Pramil. Setelah menaklukkan para dewa, dia menjelajahi banyak desa, dan pada suatu ketika sampai ke ashram Resi Vasistha. Pramil melihat Sapi Nandini yang merupakan anak perempuan dari Sapi Kamadhenu. Dia berhasrat memiliki Sapi Nandini, tetapi takut mencurinya, karena dia pernah mendengar cerita tentang para Vasu yang membiarkan Vasu Dyaus  mencuri sapi milik Vasistha. Dikisahkan para Vasu kemudian dikutuk harus lahir di dunia dan bahkan Vasu Dyaus harus hidup lama di bumi sebagai Dewabrata. Pramil kemudian mengubah wujudnya sebagai seorang brahmana yang datang untuk meminta Sapi Nandini. Resi Vasistha mengetahui siapa sejatinya sang brahmana dan berkata, “Saya tahu kau adalah Pramil anak Mura dan bukan brahmana. Karena kau ingin memiliki anak sapi dengan menipu maka lebih pas kiranya bahwa kau melakukannya dalam tubuh anak sapi!” Seketika Pramil berubah wujud menjadi anak sapi yang kemudian menangis karena menyesal dan mendekati Sapi Nandini. Pramil dalam wujud anak sapi mengiba, “Selamatkan aku, selamatkan aku!” Nandini berkata pelan, “Kutukan Resi Vasistha tidak dapat ditarik, kutukan tersebut hanya sebuah cara agar kau sadar, menyesali perbuatanmu dan bertobat! Kau belum dapat mengendalikan keinginanmu! Kau harus belajar mengendalikan dirimu! Kau harus melakukan tapa sebagai anak sapi! Aku akan memberkati kamu, sehingga di Zaman Dwapara Yuga, kau akan berbaur dengan sapi milik Krishna dan kau akan dibebaskan!”…….

Vatsasura adalah simbol mentalitas kekanak-kanakan yang tidak dapat mengendalikan diri untuk memenuhi semua kinginannya. Sifat keserakahan yang disebabkan oleh ketidakbisaan manusia dalam mengendalikan diri tersebut dilenyapkan oleh Sri Krishna, asalkan dia sanggup bertapa, melatih pengendalian diri. Dalam buku “Wedhatama Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka, 1999 disampaikan………. Definisi tapa sering disalahartikan sebagai “pelarian diri dari keramaian dunia dan menyendiri di suatu tempat yang terpencil”. Tapa berarti “pengorbanan”. Apa yang harus kita korbankan? Keangkuhan kita, hawa nafsu kita, ketamakan dan keserakahan kita. Semua itu yang harus dikorbankan, dilepaskan. Tapa tidak berarti pelarian diri dari dunia. tapa berarti pelepasan diri dari keterikatan duniawi – tetap berada di dunia ini, menikmati segalanya, tetapi tidak terikat pada apa pun. Mereka yang sanggup melakukan hal itu, baru bisa disebut Pertapa………..

Dalam buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal”, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan…….. Tapa berarti “latihan-latihan untuk mengendalikan diri”. Jadi seorang Tapasvi atau “praktisi tapa” adalah seseorang yang telah berhasil mengendalikan dirinya. Yang bisa disebut tapa bukanlah latihan-latihan untuk mengembangkan tenaga dalam. Bukan juga latihan-latihan untuk menambah kewaskitaan Anda. Menambah atau mengembangkan berarti Anda masih “mengejar” sesuatu. Anda belum tenang, Anda masih gelisah. Berarti Anda belum ber-tapa. Tapa juga berarti “disiplin”. Kendati latihannya sudah benar, tujuannya pun sudah betul—untuk mengendalikan diri—jika Anda tidak melakukannya secara teratur, Anda belum ber-tapa. Hari ini latihan untuk mengendalikan diri, besok tidak. Lusa latihan lagi, lalu berhenti lagi. Ini pun belum bisa disebut tapa. Latihan untuk mengendalikan diri secara teratur, itulah tapa. Berlatih untuk mengendalikan diri pada setiap saat, itulah tapa………..

Para leluhur kita juga sering memberi nasehat kepada putra-putranya agar melakukan tapa untuk introspeksi ke dalam diri. Dalam buku “Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan”, Anand Krishna, Pustaka Bali Post, 2007 disampaikan……… Tapa bukanlah “Tapa-Brata” modern, dimana kita memisahkan diri dari keramaian dan melakukan perenungan, kontemplasi, meditasi, semedi, atau apa pun sebutannya. Kata Ta dalam Tapa adalah Tyaag – Melepaskan. Apa pula yang dilepaskan? Adalah ego, keakuan, keangkuhan yang kita lepaskan. Adalah ketergantungan pada logika dan pikiran, mind, yang kita lepaskan………….

Demikian beberapa pandangan Bapak Anand Krishna untuk memberdayakan diri. Sayang pandangan beliau tersebut sering disalahpahami oleh kelompok yang tidak menyenangi pandangan tersebut. Mereka berupaya mendiskreditkan nama beliau. Silakan lihat:

http://www.freeanandkrishna.com/in/

 

Di lain kesempatan, kala Krishna dan teman-temannya membawa anak-anak sapi ke Sungai Yamuna, mereka bertemu dengan sebuah bukit besar di tepi sungai. Rupanya Bukit besar tersebut adalah wujud dari burung bangau raksasa yang sedang duduk menunggu mangsa. Adalah Bakasura, seorang Asura pembunuh suruhan Kamsa duduk menunggu Krishna di tepi sungai. Tatkala Krishna datang, dia langsung membuka paruhnya dan menelan Krishna. Semua anak-anak kaget dengan kejadian yang tak disangka-sangka ini. Dan Bakasura sendiri juga kaget, karena seakan-akan tubuh Krishna berubah menjadi gumpalan api yang berjalan di tenggorokannya. Bakasura kesakitan seperti menelan bola api dan segera memuntahkannya. Dengan marah dia mematuk Krishna dengan paruhnya yang seperti gunting baja raksasa. Krishna memegang paruh sang bangau dan membukanya dengan paksa. Mulut bangau raksasa tersebut terbelah dan matilah Bakasura……..

Konon, Bakasura dalam kehidupan sebelumnya adalah seorang Gandharwa pemuja Sri Wisnu. Karena ingin memberikan persembahan sebaik-baiknya kepada Sri Wisnu, maka dia memetik bunga teratai dari danau milik Parwati, istri Shiva. Seorang penjaga menangkap sang gandharwa dan membawanya ke tempat Shiwa. Karena dia telah mencuri maka dia mendapat hukuman terlahir di dunia sebagai Asura yang ingin memperoleh segala sesuatu dengan instan. Akan tetapi karena dia mempersembahkan bunga tersebut kepada Sri Wisnu, maka di zaman Dwapara Yuga, Bakasura akan mendapatkan pembebasan dari Sri Krishna yang merupakan avatara Wisnu……..

Bakasura adalah simbol dari orang yang mencampuradukkan antara pikiran dan nurani. Bhagawan Abyasa mengungkapkan bahwa benih tindakan buruk akan membawa keburukan dan benih tindakan baik akan menghasilkan kebaikan. Hukum alam tidak seperti matematika, yang dihitung jumlah kebaikan dan dikurangi dengan jumlah keburukannya. Masing-masing tindakan, baik atau buruk akan mendapatkan ganjarannya masing-masing. Dalam kehidupannya di masa lalu Bakasura sebagai seorang gandharwa mempersembahkan teratai hasil curian. Seakan-akan tindakan tersebut diulangi oleh para gandharwa masa kini yang melakukan persembahan kepada Tuhan dengan uang hasil keburukan. Di sini kesalahan sang gandharwa adalah bahwa ia lebih mempercayai pikirannya daripada keyakinannya pada Tuhan. Dia memilih menggunakan pikiran, dia memilih meninggalkan Tuhan, dia menuhankan pikirannya, melupakan nuraninya. Seakan-akan Tuhan akan membiarkan dia mencuri karena sebagian curian akan dipersembahkan kepada Tuhan. Itu adalah Tuhan dalam konsep pikirannya, Tuhan yang selaras dengan pikirannya, Tuhan yang mau membenarkan tindakan dirinya sendiri. Dalam buku “ISA, Hidup dan Ajaran Sang Masiha”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2005 disampaikan……… Mereka yang melupakan Allah—melupakan “kemuliaan diri”—akan menjadi minder. Mereka kehilangan percaya diri. Lalu mereka akan mencari sandaran. Lalu mereka akan berkolusi dan berkorupsi. Ia yang percaya diri—ia yang meyakini Keberadaan Allah—tidak akan melakukan kolusi dan korupsi. Ia yang melakukan kolusi dan korupsi sesungguhnya “menduakan” Allah. Ia mulai meyakini kebijakan manusia. Mereka-mereka inilah pemuja berhala………

Sebagai seorang gandharwa pemuja Sri Wisnu, mestinya Bakasura tidak melakukan tindakan mencuri bunga teratai milik orang lain. Dalam buku “Sabda Pencerahan,  Ulasan Khotbah Yesus Di Atas Bukit Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2004 disampaikan……. Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Ini merupakan peringatan bagi Anda yang menganggap diri Anda sebagai murid Yesus, sebagai pencinta Yesus, apa pun agama Anda. Ini adalah peringatan bagi saya dan bagi Anda, bagi kita semua. Menteri, pejabat yang mengaku dirinya sebagi hamba Allah, sebagai pencinta Nabi – entah itu Nabi Isa atau Nabi Muhammad, Buddha atau Krishna, masih juga terlibat dalam kolusi, korupsi dan hal-hal yang merugikan orang lain, ia bagaikan garam yang telah kehilangan rasanya. Mereka yang sedikit-sedikit bersumpah, mereka yang menyebut dirinya hamba Allah, tetapi tidak berperilaku sesuai suara hati-nuraninya, yang nota-bene adalah Suara Allah, akan mengalami nasib sama seperti garam yang tawar………..

Untuk Kebahagiaan Sejati, Ikuti Program Online Spiritual Trasnpersonal Psychology http://oeschool.org/e-learning/

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Agustus 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: