Renungan Bhagavatam: Dan Brahma Pun Ditaklukkan Krishna, Dan Di Atas Langit Pun Masih Ada Langit


Resi Sukhabrahma berkata kepada Raja Parikesit, “Setelah kematian Aghasura, para gopal kecil, para penggembala kecil bercerita kepada orang tua mereka setelah satu tahun berlalu!” Raja Parikesit tak dapat menahan diri dan bertanya, “Wahai Guru, bagaimana mungkin anak-anak kecil bisa menahan rahasia selama satu tahun? Para Gopal memang patuh pada Krishna, akan tetapi bagaimana mungkin menjaga kerahasiaan selama satu tahun?” Resi Sukahabrahma tersenyum dan melanjutkan kisahnya………

Setelah pembunuhan Aghasura, Krishna mengajak teman-temannya pergi ke tepi Sungai Yamuna dan di bawah sebuah pohon yang rindang mereka duduk melingkar dan Krishna berada di tengah-tengah lingkaran. Semua mengeluarkan bekal makanan dari rumah yang disiapkan oleh ibunya masing-masing dan mulai makan sambil bersenda-gurau. Dasar anak-anak yang polos, peristiwa besar yang mereka alami terlupakan saat mereka makan dan bersenda-gurau. Mereka tidak usah belajar “the Power of Now”, hidup total dalam kekinian, karena bersama Krishna, mereka memang hidup dalam kekinian, tidak terfokus pada masa lalu dan tidak terfokus bagaimana nanti pulang ke rumah, sekarang mereka menikmati makan dan bersenda-gurau.

Krishna sedang melatih para temannya untuk melampaui mind, tadinya yang ada di kepala banyak teman-temannya adalah pertempuran Krishna dengan Aghasura, tetapi hal tersebut tidak boleh terjadi terlalu lama, masih banyak pelajaran baru yang akan diberikan. Dan dengan begitu cepat para gembala kecil melupakan peristiwa besar dengan senda-gurau, sehingga mereka dapat hidup lagi dalam kekinian. Teringat pada sesuatu boleh, tetapi tidak baik menghabiskan memori otak dengan hanya berpikir pada sesuatu tersebut. Tindakan Krishna tersebut selaras dengan pengetahuan modern. Dalam Buku “Neo Psyhic Awareness”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2005 disampaikan bahwa otak kita terlalu banyak diisi memori yang tidak perlu yang hanya menghabiskan memori……… Sesungguhnya, saat ini pun otak kita sudah bekerja, sudah berfungi 100%. Memang, baru sebagian kecil dari kapasitasnya yang digunakan sehari-hari. Sisanya cuma untuk menyimpan data-data lama. Makin besar persentase yang digunakan dalam keseharian, walau hampir tak pernah melebihi 10%, membuat manusia makin cerdas, inteligen, makin sharp, makin tajam. Manusia seperti itulah yang menolak perbudakan. Manusia seperti itulah yang berkeinginan untuk hidup bebas merdeka. Manusia seperti itulah yang tidak mau lagi dikuasai oleh tradisi lama yang sudah usang, oleh doktrin dan dogma yang sudah tidak sesuai dengan martabat dan kesadaran manusia masa kini………. Mungkinkah kita menggunakan lebih besar persentase otak untuk keseharian? Mungkin, sangat mungkin, tetapi untuk itu kita harus menciptakan space. Persis seperti komputer, memori harus dibersihkan dulu. Program-program yang tidak terpakai harus di-delete, dihapus….. Ciptakan “ruang”! Saat ini jiwa kita penuh; pikiran kita penuh; otak kita penuh; hati kita penuh. Ya, penuh dengan memori lama, data yang sudah tidak dibutuhkan lagi. Beban pada jiwa kita sudah melampaui batas. Dalam keadaan seperti itu, bagaimana mengisinya dengan sesuatu yang baru? Otak yang penuh tidak dapat berpikir lagi. Ini yang terjadi pada kaum teroris. Otak mereka diisi dengan segala macam memori tentang masa lalu, sehingga mereka tidak dapat hidup dalam kekinian. Mereka tidak dapat berpikir tentang sesuatu yang mereka anggap lain dari isi kepala mereka. Barangkali hati mereka juga terbebani dengan rasa benci, amarah dan mereka tidak dapat merasakan sesuatu yang indah, karena bagi mereka segala sesuatu yang mereka anggap lain dari otak mereka tidak punya keindahan. Jiwa mereka diprogram untuk merusak, bukan untuk mencipta dan membangun. Para “pencipta” mereka menyadari betul hal ini. Sedemikian penuhnya mereka diisi, sehingga tidak ada lagi informasi baru yang dapat menembus diri mereka. Untuk memperoleh, atau lebih tepatnya, memasuki Alam Kesadaran Psikis, beban pikiran dan jiwa harus dikurangi. Bersihkan otakmu dari segala macam indoktrinasi………

Demikian pandangan Bapak Anand Krishna untuk memberdayakan diri putra-putri bangsa. Sayang ada beberapa kelompok yang tidak menyukai pandangan Beliau yang universal dan berupaya untuk mendiskreditkan namanya. Silakan lihat….

http://www.freeanandkrishna.com/in/

Selagi mereka makan, ada anak yang berteriak, “Mana sapi-sapi kita kok tidak nampak?” Krishna berkata agar teman-temannya tenang-tenang saja melanjutkan makan, dia akan mencari dan mengembalikan anak-anak sapi tersebut. Krishna mencari anak-anak sapi di sekitar tempat tersebut, tetapi tidak ketemu dan kemudian kembali ke tempat anak-anak yang sedang makan dan mereka juga lenyap. Tiba-tiba Krishna kecil tersenyum, saat dia membunuh Aghasura, para dewa menyaksikan peristiwa tersebut dan bersorak-sorai di kahyangan. Brahma muncul karena ada keramaian dan merasa kagum dengan keberanian Krishna kecil. Brahma kemudian ingin menguji Krishna, maka ketika mereka makan, anak-anak sapi-sapinya disembunyikan olehnya. Saat Krishna kecil sedang mencari anak-anak sapi, para Gopala kecil juga disembunyikan olehnya juga. Anak-anak sapi dan penggembalanya dikumpulkan Brahma dalam satu goa. Krishna tahu bahwa ini adalah pekerjaan Brahma.

Krishna kemudian mengeluarkan mayanya, Krishna yang satu mewujud menjadi anak-anak sapi, para penggembala kecil dan juga peralatan para penggembala, semuanya lengkap persis seperti semula. Krishna kecil memimpin para gembala dan anak-anak sapi yang sebetulnya adalah wujud dari Krishna kembali ke rumah orang tua mereka masing-masing. Pesta topeng tersebut berjalan selama satu tahun. Para orang tua merasa sangat sayang kepada putra-putranya, para induk sapi merasa sangat sayang kepada anak-anak sapinya.Semua rumput, semua jalan setapak, semua pohon, semua buah-buahan yang dimakan anak-anak merasa sangat berbahagia. Semua air yang diminum, semua baju yang dipakai anak-anak merasa berbahagia yang tak terkatakan. Beruntunglah semua makhluk di Brindavan yang dapat melayani Krishna…….. Nama Krishna memang bisa bermakna Dia Yang Menawan atau juga Dia Yang Selalu Berada Dalam Kebahagiaan dan Menganugerahkan Kebahagiaan………

Pada suatu hari tatkala, Krishna dan Balarama sedang menggembala anak-anak sapi di bukit Govardhana, sejumlah induk sapi melihat mereka dan induk-induk sapi tersebut berlari melupakan para gembalanya ingin menyusui anak-anak sapinya. Para gembala yang kaget kemudian mengikuti sapi-sapi tersebut dan melihat putra-putra kecil mereka sedang menggembalakan anak-anak sapi mereka. Para gembala mendatang putra-putra mereka, dan terjadilah adegan kasih sayang antara para orang tua dengan para putranya, dan para sapi dengan para anak sapinya. Balarama menjadi tersadarkan, “Ini pasti perbuatan Krishna!” Balarama mengambil kesimpulan demikian, karena dia melihat para gembala kecil dan para anak-anak sapi adalah Krishna sendiri. Krishna kemudian menyampaikan kejadian sebenarnya kepada Balarama…….

Para Gopi dan Gopala dalam kelahiran sebelumnya di zaman Krta Yuga adalah para resi yang bisa melihat Tuhan (darshan). Dalam Treta Yuga, mereka adalah para kera yang membantu Sri Rama yang bisa melihat (darshan) dan berbicara dengan Tuhan (Sambhashan). Sedang dalam Dwapara Yuga mereka adalah para Gopi dan Gopala yang dapat melihat (darshan), berbicara (sambhashan) dan menyentuh Tuhan (sparshan).

Dikisahkan setelah Brahma menyembunyikan anak-anak sapi dan para gembala kecil, dia balik ke Satyaloka. Akan tetapi para penjaga rumahnya melarangnya masuk. Brahma marah dan berkata bahwa ia adalah Brahma pemilik Satyaloka. Para penjaga menjawab bahwa Brahma memang mirip dengan pemilik rumah, akan tetapi sang pemilik rumah sudah berada di dalam rumahnya. Brahma penasaran dan menengok ke dalam rumah, dan dia melihat Brahma sedang bercengkerama dengan Saraswati yang sedang memainkan vina. Brahma kemudian pergi ke Brindavan dan melihat adegan kasih sayang antara para anak-anak sapi dengan induk-induk sapinya dan para gembala kecil dengan orang tuanya. Brahma kaget, “ Tidak mungkin terjadi! Anak-anak sapi dan para gembala kecil sedang tidur di goa tempat aku menyembunyikan mereka!” Brahma bergegas menuju goa dan melihat anak-anak sapi dan para gembala kecil sedang tidur. Brahma segera kembali ke bukit Govardhana dan melihat anak-anak sapi dan para gembala kecil di sana……..

Krishna merasa sudah cukup mempermainkan Brahma, dan kemudian Brahma dapat melihat bahwa yang ada di Govardhana sebagai anak-anak sapi dan para gembala kecil adalah Krishna sendiri.  Brahma takluk, jatuh di kaki Krishna dan mohon maaf atas senda-guraunya. Krishna memaafkan Brahma dan menyuruh Brahma segera kembali ke Satyaloka. Brahma Sang Pencipta Alam pun tunduk dan tidak mengetahui seberapa besar kekuatan Krishna, Dia Yang Tak Dapat Diserupakan Dengan Apa Pun Juga. Bagi Brahma pun, Tuhan adalah misteri………. Masihkah kita angkuh dan merasa diri kita paling benar saat menjelaskan tentang Tuhan? Tuhan yang bisa dijelaskan adalah Tuhan hasil konsep pikiran kita……… Dia tak dapat diserupakan dengan apa pun juga, “tan kena kinaya ngapa”, kata para leluhur.

Krishna, kemudian mengumpulkan anak-anak sapi dan para gembala kecil dan kembali ke rumah mereka masing-masing. Para gembala kecil teman Krishna pulang ke rumah dan menceritakan pengalaman mereka yang melihat Krishna membunuh Aghasura. Mereka tidak pernah sadar bahwa mereka telah setahun meninggalkan Brindavan……….

Raja Parikesit tertegun. Dan, dari matanya menetes butiran-butiran air mata keharuan, dia langsung meletakkan kepalanya di tanah dan air matanya deras mengalir membasahi tanah. Sang raja bersyukur telah mendengarkan kisah yang menyentuh kalbu dari Sang Guru. Dan, Resi Sukhabrahma pun terlelap dalam pikiran tentang Tuhan…………

Dalam buku “Surah Surah Terakhir Al Qur’an Bagi Orang Modern”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2000 disampaikan……. Biarkan saya bicara. Biarkan saya memberikan pandangan saya tentang apa yang Anda sebut “wahyu”. Anda tidak perlu sependapat, tidak perlu menerimanya. Silakan menolak saya. Tetapi 50 tahun kemudian, generasi penerus Anda, cucu dan cicit Anda akan menerima pandangan ini. Saya sedang bicara 50 tahun sebelum waktunya, karena sudah tidak tahan lagi melihat ketololan manusia. Tolol tetapi angkuh! Sepertinya la sudah hebat. Sepertinya ia adalah makhluk terpilih. Tidak ada yang melebihi dia. Jika pandangan Anda tidak berubah, Tuhan yang Anda sembah, Allah yang Anda puja, tidak dapat disebut Maha Pengasih dan Maha Penyayang lagi. Jelas-jelas la pilih kasih. Sekarang terserah Anda, mau Anda apa? Memperluas wawasan, pandangan dan pemahaman tentang Tuhan, atau menyatakan bahwa la tidak Maha Pengasih, la tidak Maha Penyayang. la Mengasihi manusia di atas segala makhluknya yang lain……….

“Wahyu” adalah getaran-getaran Ilahi. Seperti siaran radio. Gelombang radio ada di mana-mana. Siaran dari setiap setasiun dari seluruh dunia berada dalam ruangan di mana anda berada saat ini. Bahkan, berada dalam setiap ruangan, di setiap tempat, di manapun anda pernah ada, dan akan berada. Untuk menerima siaran-siaran itu, yang dibutuhkan adalah sebuah receiver, alat penerima-radio. Nah, sekarang tergantung betapa canggihnya alat penerima anda. Semakin canggih radio yang anda miliki, semakin banyak siaran yang dapat anda terima. Anehnya, semakin pendek gelombang radio, semakin luas jangkauannya. Short wave bisa menerima siaran dari manca-negara, tetapi FM dan AM hanya bisa menerima siaran dalam negeri……..

Sesuai dengan gambaran itu, mari kembali kepada apa yang kita sebut “wahyu”. “Wahyu” adalah Getaran-Getaran Ilahi yang bergelombang amat sangat pendek. Semakin dalam anda meniti diri sendiri, semakin jelas penerimaan anda. Karena itu, mereka yang sibuk mengejar ilmu pengetahuan dari luar diri – yang “bergelombang panjang” – tidak pernah menerima wahyu. Yang menerima siapa? Muhammad, seorang yatim piatu, seorang pedagang yang buta huruf. Siapa lagi? Seorang Yesus, seorang Isa-anak tukang kayu! Siddhartha harus meninggalkan istana, melepaskan segala macam atribut luaran, untuk menerimanya. Krishna adalah seorang gembala sapi. Merekalah para penerima wahyu. Mereka ini meniti jalan ke dalam diri. Mereka menemukannya dalam diri sendiri……

Perbedaan yang terlihat antara Al-Qur’an dan Veda, antara Dhammapada dan Zend Avesta, antara Taurat dan Guru Granth, disebabkan oleh “alat penerima”. Apalagi dalam hal ini, setiap “alat penerima” adalah manusia dengan berbagai budaya yang berbeda! “Alat penerima” wahyu di Timur Tengah berbeda sedikit dari “alat penerima” di India. Begitu pula dengan “alat penerima” di Cina, tentu saja berbeda dari “alat-alat penerima” yang lain. Setiap “alat penerima” dipengaruhi oleh budaya setempat. Nabi Muhammad dipengaruhi oleh budaya Arab. Buddha dipengaruhi oleh budaya India. Lao Tze dipengaruhi oleh budaya Cina. Musa dipengaruhi oleh budaya Mesir. Getaran-Getaran Ilahi atau “wahyu” yang diterima oleh masing-masing “alat penerima” oleh masing-masing nabi, avatar, mesias, dan buddha diterjemahkan dalam bahasa setempat. Juga dikaitkan dengan kondisi setempat, dengan kejadian-kejadian kontemporer. Itu sebabnya, setiap kitab suci-apakah itu Al-Qur’an, Veda, Dhammapada, Injil, Zend-Avesta, Taurat, Zabur, Guru Granth selain mengandung ajaran-ajaran yang bersifat universal, juga mengandung ayat-ayat yang bersifat sangat kontekstual…….

Untuk Kebahagiaan Sejati, Ikuti Program Online Spiritual Trasnpersonal Psychology http://oeschool.org/e-learning/

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Agustus 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: