Hidup Selaras Dengan Alam Dari Kesadaran Personal Menuju Kesadaran Transpersonal

Seperti hewan, dalam diri manusia juga terdapat “basic instinct” yaitu insting untuk makan, minum, tidur dan seks. Sebenarnya tidak ada yang salah untuk memenuhi kebutuhan tersebut, karena hal-hal demikian merupakan pemenuhan kebutuhan fisik agar manusia dapat mempertahankan hidupnya. Akan tetapi hewan memenuhi kebutuhan dasar secukupnya berdasar kebutuhan, sedangkan sebagian manusia yang tidak bisa mengendalikan nafsunya penuh keserakahan dalam memenuhi kebutuhannya. Dalam buku “Otak Para Pemimpin Kita Dialog Carut Marutnya Keadaan Bangsa”, Anand Krishna dkk, One Earth Media, 2005 disampaikan……. Terdorong oleh Lymbic, hewan hidup secara alami. Kebutuhan mereka pun seolah terjatah. Berdasarkan kebutuhan, Lymbic mendorong mereka untuk makan dan minum secukupnya. Tidak lebih, tidak kurang. Dari film dokumenter tentang singa atau macan.Ternyata mereka hanya mencari mangsa dalam keadaan lapar. Kemudian, buruannya pun tidak dimakan sekaligus. la menyimpannya di dalam gua, dan memakannya sedikit demi sedikit sesuai dengan kebutuhannya…….

Manusia memiliki ego, sehingga ketika nafsunya selalu terpenuhi bisa muncul keangkuhan. Kemudian bila sudah terbiasa dengan pemenuhan nafsu tersebut bisa timbul keterikatan. Dan, setelah itu bisa meningkat menjadi keserakahan, tidak puas dengan yang ada dan selalu ingin menambah porsi pemenuhannya. Di pihak lain, apabila nafsunya tidak terpenuhi maka manusia dapat mengalami frustrasi dan marah. Kemudian ketika melihat orang lain terpenuhi keinginannya sedang dirinya tidak maka muncullah rasa sirik atau iri.

Nafsu bisa saja nampak terkendalikan karena keterbatasan yang dimiliki seseorang, akan tetapi bila kondisi memungkinkan bisa saja nafsu tersebut bergerak tanpa kendali. Dalam buku “Otak Para Pemimpin Kita Dialog Carut Marutnya Keadaan Bangsa”, Anand Krishna dkk, One Earth Media, 2005 disampaikan……. Kebutuhan insting itu kita penuhi sebatas kemampuan dan kekuatan kita. Bila tidak mampu, ya makan apa saja, minum apa saja, tidur di atas tikar saja. Tetapi, bila mampu, kita mencari makanan dan minuman yang lezat, ranjang yang empuk dan seterusnya. Selama kita tidak mampu, tidak memiliki cukup sarana, nafsu kita “seolah” masih terkendali. Insting-insting hewani kita “terasa” terkendali.  Padahal sama sekali tidak demikian. Coba diberi kesempatan menjadi pemimpin, menjadi penguasa  lalu lihat apa yang terjadi!? Insting-insting hewani di dalam diri, nafsu, semuanya bergejolak. Semuanya mengajukan tuntutan mereka masing-masing…….

Ego selalu ingin memenuhi kebutuhan dirinya sendiri tanpa memperdulikan orang lain. Pengotakan manusia berdasarkan suku, ras, agama, kepercayaan dan lain sebagainya lahir dari pikiran yang egosentris, pikiran yang belum dewasa. Masih sangat regional atau parsial, belum universal. Pikiran seperti inilah yang telah mengacaukan negeri kita saat ini. Kita hidup dalam kepicikan pikiran kita, dalam kotak-kotak kecil pemikiran kita. Kita masih hidup dengan ego kita, keangkuhan dan arogansi kita, kebencian dan amarah kita, kelemahan dan kekerasan hati kita. Dengan jiwa yang masih kotor itu, kita memperoleh kekuasaan, kedudukan, dan harta, maka jelaslah kita menghalalkan segala macam cara……..

Program e-learning Neo Transpersonal Psychology (http://stponline.oneearthcollege.com/) adalah salah satu program dari One Earth College (http://www.oneearthcollege.com/) yang membahas tentang peningkatan kesadaran dari kesadaran personal, ego-based menuju kesadaran transpersonal, intelegensia-based. Materi program e-learning dibuat oleh Bapak Anand Krishna.

Dalam buku “Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2011 disampaikan bahwa…….. Semangat Transpersonal Selaras dengan Alam. Inilah cara pandang seorang yogi, seorang Nishkaama Karma Yogi. Mudah, karena alami – selaras dengan hukum dan cara alam bekerja. Sebab itu, seorang yogi tidak membutuhkan upaya khusus untuk berkarya dengan semangat transpersonal. Ia tidak perlu melakukan sesuatu untuk itu. Ia hanya menyalaraskan dirinya dengan alam. Itu saja. Dan, segala apa yang dikerjakannya menjadi alami, transpersonal. Perhatikan apa yang hendak Bunda Semesta sampaikan kepada kita. Alam semesta ibarat kitab terbuka tentang karma yoga.  Sesungguhnya, Bunda Semesta adalah karma yogi. Ia mengajar dengan memberi contoh. Apa yang dilakukannya dapat kita lakukan saja. Kita semua, tanpa kecuali, adalah bagian dari alam yang satu dan sama. Kita adalah bagian dari keberadaan yang tunggal. Sesungguhnya kita mewarisi segala sifat yang dimiliki alam.

Kita dapat melihat lebah yang membuat madu yang banyak yang jauh melebihi kebutuhan dirinya? Ayam bertelur sebutir setiap hari, dan tidak semuanya dipergunakan untuk meneruskan kelangsungan jenisnya. Sapi juga memproduksi susu melebihi kebutuhan untuk anak-anaknya. Padi di sawah menghasilkan butir-butir gabah yang jauh melebihi kepentingan untuk mempertahankan kelangsungan kehidupan kelompoknya. Pohon mangga juga menghasilkan buah mangga yang jauh lebih banyak dari yang diperlukan untuk mengembangkan kelompoknya. Pohon singkong memberikan pucuk daunnya untuk dimakan manusia, ubinyapun juga dipersembahkan, mereka menumbuhkan singkong generasi baru dari sisa batang yang dibuang. Tanaman dan hewan bertindak berdasar naluri alam semesta. Egolah yang membuat manusia bertindak tidak selaras dengan alam semesta. Baca lebih lanjut

Iklan

Hirarki Kebutuhan Maslow Dan Karma Capitalism dari Personal Menuju Transpersonal

Dalam Wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/Abraham_Maslow) disampaikan bahwa Abraham Maslow menggunakan piramida hirarki kebutuhan dalam memvisualisasi gagasannya. Menurut Maslow, manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri).

Kebutuhan fisiologi ditempatkan pada tingkat yang paling bawah. Kebutuhan ini dinamakan juga kebutuhan dasar (basic needs) yang jika tidak dipenuhi bisa membuat manusia yang bersangkutan kehilangan kendali atas perilakunya sendiri. Sebaliknya, jika kebutuhan dasar ini relatif sudah tercukupi, muncullah kebutuhan yang lebih tinggi yaitu kebutuhan akan rasa aman (safety needs).

Kebutuhan Rasa Aman (safety needs) berhubungan dengan jaminan keamanan, stabilitas, perlindungan, struktur, keteraturan, situasi yang bisa diperkirakan, bebas dari rasa takut dan cemas dan sebagainya. Sama halnya dengan basic needs, kalau safety needs ini terlalu lama dan terlalu banyak tidak terpenuhi, maka pandangan seseorang tentang dunianya bisa terpengaruh dan pada gilirannya pun perilakunya akan cenderung ke arah yang makin negatif.

Kebutuhan Sosial (social needs) adalah kebutuhan ketiga setelah kebutuhan dasar dan rasa aman relatif dipenuhi. Setiap orang ingin mempunyai hubungan yang baik dengan orang lain. Setiap orang ingin setia kawan dan butuh kesetiakawanan. Setiap orang pun ingin mempunyai kelompoknya sendiri, ingin punya “akar” dalam masyarakat. Setiap orang butuh menjadi bagian dalam sebuah keluarga, sebuah kampung, suatu marga, dan lain-lain. Setiap orang yang tidak mempunyai keluarga akan merasa sebatang kara. Kondisi seperti ini akan menurunkan harga diri orang yang bersangkutan.

Kebutuhan Harga Diri (esteem needs) muncul bila kebutuhan sosial relatif sudah terpenuhi. Ada dua macam kebutuhan akan harga diri. Pertama, adalah kebutuhan-kebutuhan akan kekuatan, penguasaan, kompetensi, percaya diri dan kemandirian. Sedangkan yang kedua adalah kebutuhan akan penghargaan dari orang lain, status, ketenaran, dominasi, kebanggaan, dianggap penting dan apresiasi dari orang lain. Orang-orang yang terpenuhi kebutuhan harga dirinya akan tampil sebagai orang yang percaya diri, tidak tergantung pada orang lain dan selalu siap untuk berkembang terus untuk selanjutnya meraih kebutuhan yang tertinggi yaitu aktualisasi diri (self actualization).

Kebutuhan Aktualisasi Diri (self actualization) merupakan puncak dari hirarki kebutuhan oleh Maslow. Kebutuhan untuk mencapai potensi penuh seseorang sebagai makhluk hidup manusia di dunia, yang menyangkut keadilan, kebijaksanaan, kebajikan, dan kreativitas.

Dalam tahun-tahun berikutnya, Maslow menambahkan tingkat keenam dari hirarki kebutuhan, yaitu Kebutuhan Transendensi atau Transpersonal. Hal ini sebagai pengakuan atas realitas yang melampaui semua dari lima tingkat pertama termasuk tahap kelima Aktualisasi Diri. Sangat menarik bahwa lima kebutuhan Maslow telah dikenal secara luas, tetapi sangat sedikit yang mengetahui tentang tingkat keenam. Mengapa? Salah satunya adalah karena kelima hirarki Maslow berhubungan dengan ego. Walaupun sudah meningkat kualitasnya, tetapi semua kebutuhan tersebut masih berada dalam wilayah ego, sehingga mudah dipahami dan dilakoni. Sedangkan pada hirarki keenam tingkat  kesadaran sudah meningkat dan yang dipikir dan dilakoni bukan hanya kepentingan pribadi, tetapi kepentingan keseluruhan.

Karena berada dalam wilayah ego, maka dalam pemenuhan kebutuhannya manusia mudah terjebak ke dalam sifat-sifat negatif dari ego. Ketika kebutuhannya selalu terpenuhi bisa muncul keangkuhan dan juga keterikatan terhadap kebutuhan tersebut. Dan dari keterikatan bisa meningkat kepada keserakahan, yang hanya memikirkan diri sendiri dan mengabaikan pemenuhan kebutuhan orang lain. “Capitalism” tumbuh subur dalam masyarakat yang “ego-based”. Pada saat ini sudah disadari kelemahan-kelemahan sistem kapitalis dan masyarakat mulai mengubah prinsip “capitalism” menjadi “karma capitalism” Baca lebih lanjut

Mengendalikan Basic Instincts Dalam Diri, Dari Personal Menuju Transpersonal

Dalam diri manusia terdapat “basic instinct” yaitu instink untuk makan, minum, tidur dan seks. Sebenarnya tidak ada yang salah untuk memenuhi kebutuhan tersebut, karena hal-hal demikian merupakan pemenuhan kebutuhan fisik agar manusia dapat mempertahankan hidupnya. Akan tetapi apabila manusia hanya hidupnya hanya terfokus pada pemenuhan kebutuhan tersebut, maka manusia tersebut masih mempunyai kesamaan dengan hewan, bedanya hanya hewan mengkonsumsi makanan mentah sedangkan manusia mengkonsumsi makanan yang telah dimasak, hewan tidur di liang atau pohon sedangkan manusia tidur di rumah, hewan berhubungan seks dengan lawan jenisnya siapa saja di mana saja sedangkan manusia berhubungan seks yang memenuhi etika dan norma masyarakat.

Dalam buku “Otak Para Pemimpin Kita, Dialog Carut Marutnya Keadaan Bangsa”, Anand Krishna dkk, One Earth Media, 2005 disampaikan……….. Intelenjensia binatang masih sangat rendah. la baru mampu memahami, “apa” yang harus dimakannya, apa yang tidak; “siapa” yang harus dikawininya, siapa tidak. Dan, pilihan mereka masih sederhana sekali, antara jantan dan betina. Seekor binatang jantan mencari betina, dan betina mencari jantan. Kriterianya hanya satu: Lawan Jenis, itu saja. Bila kita hidup semata-mata untuk memenuhi kebutuhan insting, maka sesungguhnya kita masih animal, binatang. Taruhlah binatang plus, karena kita sudah berbadan seperti manusia. Juga karena kita sudah memiliki mind yang cukup berkembang, mind yang dapat menciptakan. Kita mampu menghiasi, memoles insting-insting kita. Kita bisa mengelabui orang lain. Sehingga binatang di dalam diri kita menjadi lebih buas, lebih bengis dan lebih ganas dari binatang beneran. Kebuasan binatang masih terbatas, kebuasan kita tak terbatas karena ketakterbatasan kemampuan mind kita. Manusia merupakan satu-satunya jenis makhluk yang hidup di bumi dan mampu berkembang terus. Pohon Kenari sepuluh juta tahun yang lalu seperti itu. Tidak terjadi perubahan apa. Anjing pun demikian, dari dulu begitu, sekarang pun sama. Lain halnya dengan manusia. Dulu la hanya bisa membuat kapak dari batu. Sekarang bisa membuat pesawat tempur. Dulu la tinggal di dalam gua, sekarang di dalam rumah. Dulu rumahnya biasa, sekarang mewah. Species manusia berkembang terus, berevolusi terus. Dengan Lymbic yang masih hewani pun, kita tetap berkembang. Hasilnya: Animal Plus, Binatang Plus. Perkembangan diri kita masih belum holistik, belum menyeluruh. Hewan di dalam diri barangkali menjadi sedikit lebih jinak, tetapi belum menjelma menjadi manusia. Hanya segelintir saja di antara kita yang berhasil memanusiakan dirinya……..

Problem muncul saat manusia berlebihan dalam memenuhi “basic instinct”-nya. Bila manusia tidak dapat mengendalikan “kama” atau nafsunya dalam memenuhi “basic instinct” maka dia akan dihadapkan pada banyak permasalahan. Ketika nafsunya selalu terpenuhi bisa muncul “muda” atau keangkuhan. Kemudian bila sudah terbiasa dengan pemenuhan tersebut bisa timbul “moha” atau keterikatan. Dan, setelah itu bisa meningkat menjadi “lobha” atau keserakahan, tidak puas dengan yang ada dan selalu ingin menambah porsi pemenuhannya. Di pihak lain, apabila “kama” atau nafsunya tidak terpenuhi maka manusia dapat mengalami “krodha” frustrasi dan marah. Kemudian ketika melihat orang lain terpenuhi keinginannya sedang dirinya tidak maka muncullah “matsarya” atau sirik atau iri. Ini semua adalah perjalanan dari ego dari manusia. “Basic instinct” yang belum terkendali  menyebabkan seseorang bersifat personal atau “ego based”. Untuk mengendalikan “basic instinct” yang sudah berkembang menjadi ego diperlukan “buddhi” atau “intelegensia”. Ada “mind”, ada “intelegensia”. Ada pikiran ada buddhi.

Dalam buku “Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001 disampaikan……. Proporsi mind dan intelegensia dalam diri setiap manusia bisa berubah-ubah. Bisa turun-naik. Bila proporsi mind naik, intelegensia akan turun. Bila intelegensia bertambah, mind berkurang. Bila proporsi mind mengalami kenaikan, manusia menjadi ego-sentris. Dia akan mengutamakan kebahagiaan, kesenangan, kenyamanan, kepentingan diri. Sebaliknya, intelegensia bersifat universal, memikirkan kebahagiaan, kenyamanan, kepentingan umum………. Mind atau mano selalu melihat dualitas; intelegensia atau buddhi selalu melihat kesatuan. Sebetulnya, buddhi juga melihat perbedaan, tapi ia melihat kesatuan di balik perbedaan. Sementara mind hanya melihat perbedaan. Budhi melihat isi; mano melihat kulit. Baca lebih lanjut