Perbaikan Software Otak Manusia, Dari Kesadaran Personal Menuju Kesadaran Transpersonal


Mind itu ibarat perangkat lunak (software) komputer. Ia tidak bisa berfungsi sendiri. Harus ada perangkat keras agar dia bisa berfungsi. Otak adalah perangkat keras (hardware) yang dibutuhkannya. Kemudian, selama kita masih memiliki otak, perangkat lunak itu (mind) dapat di-over write dapat dirancang kembali, dapat diubah total, sehingga sama sekali berada dari aslinya. Ini yang disebut proses deconditioning dan re-creating mind yang sudah diulas dalam buku Atisha, Seni Memberdaya Diri-3. Isi mind bukanlah harga mati. Kita bisa mengubahnya. Mind itu sendiri tidak lebih dari sebuah ilusi. Diatas apa yang ditulis, kita dapat menulis ulang apa saja. Mind itu rewritable! …….. Demikian kutipan dari buku “Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2005 yang membuat kita optimis untuk dapat mengubah karakter kita yang kurang baik menjadi lebih baik. Karakter sendiri awalnya berupa tindakan yang dilakukan terus menerus yang menjadi kebiasaan yang akhirnya mengubah synap syaraf otak menjadi hampir permanen. Untuk mempunyai karakter baik kita harus melakukan perbuatan baik secara berulang-ulang secara repetitif-intensif sehingga membentuk synap-synap syaraf otak yang baru. Apabila sudah terbentuk synap syaraf otak baru, maka kala kita menghadapi suatu persoalan, maka kita akan melakukan tindakan sesuai kerangka baru yang sudah ada dalam synap syaraf tersebut.

Kekacauan yang terjadi dengan bangsa ini, sesungguhnya dapat dilacak dari otak manusia. Manusia memiliki tiga otak yang merupakan bagian dari evolusinya, yaitu Batang Otak (otak reptilia), lymbic (otak mamalia) dan neo cortex (otak baru). Beberapa ahli mengatakan bahwa batang otak dan lymbic adalah satu kesatuan, yang mengatur kebutuhan dasar manusia, seperti makan, minum, tidur, seks. Sebagian besar dorongan, perilaku dan kebiasaan manusia lahir dari lymbic ini. “Old Brain” (lymbic) adalah otak lama bawaan dari evolusi hewani. Sementara “New Brain (neo-cortex) adalah suatu hardware yang memang digunakan untuk memikirkan hal-hal yang lebih besar daripada yang terpikirkan oleh hewan. Selama kita belum “membersihkan” Lymbic, selama itu pula kita menjadi hamba kehewanian dalam diri kita. Para pemimpin yang rakus harta, tahta dan wanita, kendati pintar dan terlihat santun, sesungguhnya masih seorang “budak Lymbic”. Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa seseorang yang masih terpengaruh sekali oleh lymbic berada dalam kesadaran personal, dan tidak memperdulikan kepentingan umum. Walaupun diajari ilmu agama, akan tetapi selama “lymbic” belum terkendalikan seseorang akan melakukan tindakan-tindakan yang pada hakikatnya bertentangan dengan agama yang diajarkan kepadanya. Kita dapat melihat contoh beberapa wakil-wakil rakyat yang tindakannya bertentangan dengan prinsip-prinsip agama yang diyakininya.

Salah satu program e-learning dari One Earth College of Higher Learning (http://www.oneearthcollege.com/) adalah program Neo Transpersonal Psychology (http://stponline.oneearthcollege.com/) yang membahas tentang peningkatan kesadaran dari keadaan personal, ego-based menuju keadaan transpersonal, integensia-based. Kemudian program lainnya adalah Neo Interfaith  Studies (http://interfaith.oneearthcollege.com/) yang mempunyai tujuan agar para peserta program dapat memberikan apresiasi terhadap keyakinan yang berbeda. Kemudian ada satu program lagi yaitu Ancient  Indonesian History And Culture (http://history.oneearthcollege.com/) yang dimaksudkan agar para peserta program dapat mengetahui dan menghargai sejarah awal Kepulauan Nusantara. Ketiga program tersebut sebenarnya saling kait-mengkait.

Dalam sebuah artikel di Radar Bali, 16 Juli 2008 “Pancasila dan Otak Manusia” Bapak Anand Krishna menulis bahwa…….. Hanyalah manusia yang memiliki bagian otak yang disebut Neo-Cortex. Hewan-hewan jenis lain hanya memiliki bagian yang disebut Lymbic. Manusia adalah jenis hewan yang boleh disebut “super” – ia adalah super-animal. Memiliki Lymbic maupun Neo-Cortex. Lymbic bersifat “statis”, dalam pengertian ia hanya melakukan pekerjaan rutin, tidak bisa berkembang. Maka, seekor katak lahir sebagai katak, dan sudah pasti mati sebagai katak. Sejak zaman dahulu mereka hidup di kolam, sekarang pun sama. Lain halnya dengan manusia, dulu dia hidup di dalam gua, sekarang tidak. Dulu, rumahnya gubuk, sekarang villa. Seluruh keberhasilan manusia ini terkait dengan perkembangan Neo-Cortex. Makin berkembangnya bagian tersebut, makin majunya manusia, makin progresif dirinya. Lymbic di dalam diri manusia – persis seperti hewan-hewan lain – hanya memikirkan makan, minum, tidur, dan seks. Ia tidak dapat berpikir lebih jauh, dan lebih luas lagi. Manusia masih memiliki bagian itu, karena ia pun masih membutuhkan apa yang dibutuhkan hewan-hewan lain. Namun, di luar urusan itu – manusia memiliki kesempatan untuk berkembang lebih jauh. Ini yang tidak dimiliki oleh hewan-hewan jenis lain. Maka, manusia bisa membangun. Hewan-hewan lain tidak bisa. Manusia bisa dididik atau mendidik diri untuk menjadi super-human, dan tidak berhenti pada tataran super-animal. Hewan-hewan lain tidak bisa……….. Hazrat Isa mengingatkan kita, “He, kalian tidak hidup untuk roti saja lho…” Nabi Muhammad mengingatkan bilamana kita tidak peduli terhadap keamanan dan kesejahteraan tetangga maka kita belum cukup beragama. Dalam hal ini, tentunya yang dimaksud beliau dengan rasa aman dan sejahtera jauh melebihi definisi-definisi kita yang sempit. Buddha mengajak kita untuk berdamai dengan semua. Krishna menyerukan kesatuan dan persatuan antara umat manusia dan seluruh bentuk kehidupan yang ada, baik yang bergerak atau energi, maupun yang tidak bergerak atau materi. Karena, pada dasarnya kehidupan itu satu adanya. Segala apa yang saya lakukan terhadap Anda akan kembali kepada saya lagi. Kejahatan kembali sebagai kejahatan. Kebajikan pun sama…… Marx dan Machiavelli, dan para penganut mereka – jelas tidak dapat melihat sesuatu di luar kebutuhan lymbic. Dua-duanya bicara tentang kesejahteraan materi. “Urusi perut dan berikan sedikit hiburan”, seru Machiavelli, “dan kau dapat menguasai siapa saja”. Marx hanya mengembangkan apa yang pernah disampaikan oleh Machiavelli. Banyak diantara kita yang masih percaya bahwa urusan negara ini akan langsung terselesaikan bila kebutuhan rakyat akan materi terpenuhi. Tanpa disadari, kepercayaan itu sesungguhnya menempatkan kita berada bersama Machiavelli dan Marx. Machiavelli dan Marx akan membenarkan segala cara untuk, apa yang mereka anggap, kesejahteraan rakyat. Mereka bisa menolak agama dan kepercayaan, bisa juga menggunakan agama dan kepercayaan untuk mengelabui kita. Ini yang saat ini terjadi di negeri kita.……… Salah satu kelemahan lymbic adalah ia “penakut”. Ia selalu merasa dirinya dalam keadaan bahaya – eksistensinya terancam. Bila ia memeluk agama atau memiliki ideologi, maka agama dan ideologi itu dirasakannya dalam keadaan gawat, darurat, maka mesti di-“bela”. Padahal ajaran-ajaran justru “turun” untuk memfasilitasi dirinya menjadi manusia yang lebih baik dengan memanfaatkan neo-cortex. Kelemahan lain adalah ia selalu berpikir dalam kotak. Ia tidak bisa berpikir diluar kotak. Ia akan selalu mencari orang-orang yang sejenis dengannya, yang sama-sama hanya menggunakan lymbic. Wawasan mereka sempit….

Ibarat sebuah komputer, maka program yang dimasukkan saat anak-anak mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap mind manusia. Dalam ilmu medis, kita ketahui bahwa pembentukan paling aktif “sarung saraf ” atau mielin sheet terjadi pada usia 0-5 tahun. Setelah itu kreativitasnya berangsur-angsur berkurang, namun berjalan terus sampai usia 20 tahun bahkan 40 tahun. Dalam buku “Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan” disampaikan bahwa……… Ketika kita masih kanak-kanak, di bawah usia lima tahun, hal-hal yang diajarkan oleh orang tua atau masyarakat menjadi bagian dari Neo-Cortex. Apa saja yang diamati atau sekadar dilihat oleh seorang anak dalam usia itu akan terekam dengan sendirinya. Kemudian antara usia 5 hingga 12 tahun terjadi muatan-muatan baru lewat sistem pendidikan. Hingga usia 12 tahun disebut Golden Years, Usia Emas, karena banyak sekali muatan ditambahkan pada Neo-Cortex yang kelak digunakan hingga akhir hayat. Pengertian “manipulasi” hendaknya tidak dikaitkan dengan sesuatu yang bersifat negatif atau jelek karena manipulasi bisa juga untuk sesuatu yang baik. Dan sesungguhnya kita semua telah mengalami “manipulasi” serupa ketika masih berusia di bawah 12 tahun………

Kita perlu menyimak tentang usaha pembentukan karakter manusia yang terjadi di masyarakat. Selama menuntut ilmu, kita dipaksa untuk “berlomba”. Kejuaraan menjadi tolok ukur keberhasilan manusia. Dalam buku “Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran” disampaikan……… Selama bertahun-tahun, dari TK sampai Universitas, kita di kondisikan dan diprogram untuk berlomba. Dan programming tersebut tidak berakhir dengan gelar sarjana yang kita peroleh, tetapi berlanjut sampai akhir hayat. Apa pun yang kita lakukan, di mana pun kita berada, kita sibuk berlomba……. Dalam buku “Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan” disampaikan………. Dengan dalih memotivasi anak supaya menjadi pintar, kita menciptakan perlombaan dalam segala bidang. Segala sesuatu termasuk pelajaran agama dan keagamaan dinilai dengan angka. Padahal, urusan angka dan hitung-menghitung itu adalah urusan Otak Bagian Kiri. Sementara urusan keagamaan, nilai-nilai agama atau spiritualitas adalah urusan Otak Bagian Kanan. Semuanya diputar balik, sehingga kehilangan makna……. Dalam buku “Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan” disampaikan…… Orang yang gila akan kekuasaan akan selalu berlomba. Ia ingin menjadi nomer satu dan demi tercapainya keinginan itu, ia akan selalu melibatkan dirinya dalam perlombaan. Ia lebih mirip kuda-kuda yang digunakan di pacuan kuda. Jangan jadi hewan, jadilah manusia. Perlombaan, persaingan – semuanya itu sifat-sifat hewani. Manusia memiliki harga diri; ia cukup mempercayai dirinya sendiri. Ia tidak usah terlibat dalam perlombaan. Setiap manusia unik, tidak ada satu pun manusia yang persis sama seperti orang lain………

Kita perlu menyimak lebih lanjut tentang pendidikan anak-anak kita. Dalam buku “Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan” disampaikan……. Pendidikan yang salah tidak hanya mencelakakan seorang anak didik saja tetapi akan turun temurun mencelakakan generasi berikutnya. Karena kesalahan itu terekam dalam DNA dan akan diteruskan kepada generasi berikutnya, kecuali jika segera diperbaikinya. Sesungguhnya, kita sendiri sudah menjadi korban kesalahan yang sama. Kita mewarisinya lewat muatan DNA dari orangtua kita. Dan mereka mewarisinya dari orangtua mereka. Celakanya, jika suatu kesalahan sudah turun-temurun menjadi rekaman DNA maka kesalahan itu lebih sulit untuk diperbaikinya. Rekaman lama itu ibarat pohon lebat yang sudah kuat sekali cengkeraman akarnya. Tidak berarti pohon rekaman itu tidak dapat ditebang juga. Bisa saja, tetapi membutuhkan upaya yang luar biasa……… Sesungguhnya kita semua, tanpa kecuali sadar atau tidak, tengah memetik buah dari masa lalu kita. DNA yang merancang hidup kita saat ini sudah memiliki muatan informasi yang diperolehnya dari gen orangtua kita. Kemudian ditambah dengan apa saja yang kita peroleh dari pengalaman-pengalaman dalam hidup ini sejak usia kanak-kanak atau bahkan sebelumnya……. Muatan-muatan yang relatif baru adalah muatan-muatan yang tengah dirancang saat ini. Program-program atau rancangan-rancangan baru ini tidak hanya mempengaruhi diri. Tetapi kelak akan menentukan sifat genetik anak cucu kita nanti. Mereka akan memperolehnya sebagai warisan sebagaimana kita pun memperolehnya sebagai warisan beberapa generasi. Demikian lingkaran genetika ini tak terputuskan kecuali ada upaya sungguh-sungguh yang intensif untuk memutuskannya dan mengubahnya. Bahkan membentuk lingkaran baru dan membuang lingkaran lama……..

Dulu sewaktu kami masih kecil, Budi Pekerti diajarkan di sekolah. Dan, pelajaran Budi Pekerti masuk ke dalam ranah Transpersonal, anak-anak tidak dididik untu menyalahkan anak dengan keyakinan lain. Pendidikan yang terkotak-kotak sewaktu anak-anak akan terbawa-bawa sampai dewasa dan menyebabkan banyak konflik. Dalam buku “Youth Challenges And Empowerment”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2010 disampaikan……. Nilai-nilai luhurbudaya, nilai-nilai universal keagamaanlah yang mesti diajarkan di sekolah. Inilah pelajaran Budi Pekerti yang dicetuskan oleh Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara. Tidak perlu memisahkan anak-anak kita karena agama. Cerita-cerita dari semua agama yang bersifat mendidik dan universal patut diceritakan kepada semua anak. Mereka harus mengenal nilai-nilai universal yang ada dalam setiap agama. Mereka harus menghormati para tokoh dari semua agama, setiap agama. Kasih Sayang, Kebenaran, Kejujuran, Kesetiakawanan, Kebersamaan, Kedamaian, Kebajikan, dan nilai-nilai lain yang bersifat universal ada dalam setiap agama. Nilai-nilai ini yang mesti ditonjolkan supaya kita bisa menumbuhkembangkan kesetiakawanan sosial di dalam diri generasi penerus. “Bumi Pertiwi Indonesia adalah Ibuku – Dunia adalah rumahku,” inilah slogan yang dapat menjamin kejayaan negeri kita tercinta……..

Untuk Kebahagiaan Sejati, Ikuti Program Online Spiritual Trasnpersonal Psychology

http://www.oneearthcollege.com/

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://blog.oneearthcollege.com/

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Desember 2011


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: