Dari Egois Menuju Pengasih, Dari Melayani Diri Menuju Melayani Sesama, Dari Personal Ke Transpersonal


Sifat bawaan hewani dalam diri membuat kita hanya memikirkan diri, keluarga dan kelompoknya sendiri, kikir terhadap pihak lain. Pengembangan sifat manusiawi membuat kita berubah dari sifat tamak memikirkan kepentingan diri sendiri, menuju sifat rahim, pengasih, memikirkan kepentingan orang lain. Setelah berkembang menjadi Manusia-Plus, dia akan berkata, “Wahai Gusti, kebutuhan pribadi kami telah Gusti cukupi, sudah cukup Gusti……. biarlah waktu, napas dan apa pun yang telah Gusti karuniakan kepada kami, kami persembahkan bagi pelayanan kepada sesama……… Dalam buku “Cakrawala Sufi 3, Kembara Bersama Mereka Yang Berjiwa Sufi” disampaikan……… Kepuasan batin yang kita peroleh setelah membantu, melayani orang lain sungguh tak terhingga nilainya. Hanya mementingkan diri sendiri dan bersikap “cuwek” terhadap kepentingan orang lain adalah sifat hewani. Naluri hewani yang masih tersisa dalam diri manusia membuat dia bersikap demikian. Mementingkan diri sendiri, tetapi pada saat yang sama peduli juga terhadap kepentingan orang lain adalah sifat manusiawi. Siapa saja bisa bersifat demikian. Seharusnya setiap makhluk yang disebut “manusia”, “insan” bersifat demikian. Demikianlah kodrat manusia. Yang bisa menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi adalah Manusia-Plus. Saya katakan Manusia-Plus, karena banyaknya orang yang “alergi” terhadap istilah “Manusia Ilahi”, “Manusia Allah”. Jangan mempermasalahkan kata, jangan terjebak dalam permainan kata. Yang penting adalah esensinya. Apa pun istilah yang Anda gunakan, dialah Manusia Sejati. Ia telah berhasil mengembangkan potensi dirinya. Ia berada pada lapisan atas kesadaran diri. Dan berada pada lapisan kesadaran tersebut, Anda menjadi “berkah” bagi lingkungan Anda. Berada pada lapisan kesadaran tersebut, Anda menjadi Duta Damai, Utusan Kasih. Kehadiran Anda saja sudah dapat menyejukkan suasana………

Ada perkembangan perasaan manusia dari kesadaran personal, ego-based ke kesadaran transpersonal, intelegensia-based. Pertama Antipati, “pokoknya mereka yang berbeda dengan pendapatku perlu dimusuhi.” Yang kedua adalah Apati, cuek, acuh tak acuh terhadap sesama, “pokoknya urusan itu tak ada kaitannya dengan diriku”. Ketiga Simpati, sudah menaruh belas kasihan terhadap sesama yang sedang menderita, tetapi pada pokoknya, “aku kasihan kepadamu, aku akan membantu sesuai mood hatiku, tetapi aku sendiri beruntung tidak mengalami peristiwa seperti yang dialami oleh kamu.” Dan yang keempat Empati, dapat merasakan penderitaan sesama, sehingga tergerak untuk membantu penuh kerelawanan. Dalam buku “Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan” disampaikan……… Empati – yang sebelumnya hanya dirasakan mulai dipraktekannya dalam keseharian hidup. Demikian ia memasuki terminal berikutnya melayani. Melayani berarti  berkarya bukan bagi dirinya sendiri, bukan bagi keluarganya saja – tetapi bagi orang lain, bagi seluruh umat manusia. Berkarya bagi sesama makhluk. la berkarya bagi Semesta………..

Dalam buku “Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999 disampaikan…… Jika tetangga tidak bisa tidur karena lapar, energinya yang terganggu itu sudah pasti mempengaruhi pola energi di rumah kita. Itu sebabnya Gibran menganjurkan, “Cobalah dengan tetanggamu.” Anda tidak serumah dengan dia, tetapi juga tidak jauh dengan dia. Dekat, tapi jauh. Jauh, tapi dekat. Dan, mencintai seorang tetangga sungguh sulit! Kahlil Gibran justru menjadikan “cinta dan simpati terhadap tetangga” sebagai tolok ukur sederhana mengenai “kasih” Anda. Ia tidak bicara tentang “bantuan”. Ia tidak bicara tentang “charity”, tentang sumbangan atau sedekah. Ia sedang bicara tentang “rasa”. Sedekah pun dapat anda berikan tanpa rasa kasih. Sumbangan pun dapat anda berikan untuk cari muka. “Charity” pun dapat anda lakukan untuk menjadi tenar. Melihat kemajuan tetangga, ikut bahagiakah anda? Atau justru iri? Anda harus jujur dengan diri sendiri. Apabila anda ikut berbahagia dan tidak iri, maka betul, anda menaruh simpati terhadap tetangga. Anda mengasihi dia. Dan kasih semacam itulah yang disebut Gibran lebih mulia daripada kebajikan yang anda lakukan di salah satu sudut biara. Lalu, mampukah anda menyebar-luaskan kasih semacam itu?

Salah satu program e-learning dari One Earth College (http://www.oneearthcollege.com/) adalah program Neo Transpersonal Psychology (http://stponline.oneearthcollege.com/) yang membahas tentang peningkatan kesadaran dari keadaan personal, ego-based menuju keadaan transpersonal, integensia-based. Kemudian program lainnya adalah Neo Interfaith  Studies (http://interfaith.oneearthcollege.com/) yang mempunyai tujuan agar para peserta program dapat memberikan apresiasi terhadap keyakinan yang berbeda. Kemudian ada satu program lagi yaitu Ancient  Indonesian History And Culture (http://history.oneearthcollege.com/) yang dimaksudkan agar para peserta program dapat mengetahui dan menghargai sejarah awal Kepulauan Nusantara. Ketiga program tersebut sebenarnya saling kait-mengkait.

Kebajikan tidak dimulai di Rumah demikian disampaikan dalam buku “Voice of Indonesia”………. Apa yang kita lakukan untuk kebutuhan kita, untuk rumah kita – tidak dapat dikategorikan sebagai kebajikan sama sekali. Itu sudah merupakan kewajiban kita, sudah merupakan tanggung jawab kita. Maka dari itu amal tidak dimulai di rumah. Kebajikan harus dimulai di luar rumah kita. Kebajikan lahir dari rasa belas kasihan terhadap mereka yang bukan merupakan saudara dan kerabat kita, orang yang asing bagi kita, orang yang tidak kita kenal secara pribadi.…. tetapi bagi mereka yang menderita, mereka yang membutuhkan pelayanan kita. Dengan melakukan kebijakan terhadap anggota keluarga kita, kita tidak membuktikan apapun. Bahkan kita telah menodai hubungan yang ada diantara kita sebagai anggota keluarga. Apa yang saya lakukan pada mereka adalah kewajiban saya kepada keluarga – tidak lebih dari itu. Dan ada waktunya kewajiban itu berakhir. Sebagai contoh Anda tidak berkewajiban untuk membiayai anak anda seumur hidupnya. Pada umur tertentu mereka harus berusaha untuk membiayai hidupnya sendiri. Kebajikan adalah semacam persembahan cinta yang dilakukan bukan karena kewajiban. Ketika Anda tidak berkewajiban untuk melakukan apapun, dan Anda tetap melakukannya – maka anda melakukan kebajikan. Sebuah sistem kepercayaan yang membuat anda berkewajiban untuk melakukan kewajiban, sebenarnya membentuk rasa kewajiban anda. Tidak sebuah sistem kepercayaan manapun yang dapat melahirkan hati yang dipenuhi rasa kebajikan. Seorang yang penuh rasa kebajikan tidak diharuskan untuk melakukan sebuah tindakan kewajiban. Dia tidak tergiur oleh kenikmatan surgawi setelah kematiannya. Dia tidak mempunyai pamrih apapun, pamrih apapun didalam dirinya untuk melakukan tindakan kebijakan………

Empati adalah Ungkapan Kasih. Dan, kita harus mulai dengan diri sendiri. Kita harus mulai berempati pada wakil rakyat yang masih belum puas dengan gaji yang puluhan juta per bulan. Kita menemukan bahwa mereka bergaul dengan orang-orang yang tidak menunjang kesadaran mereka sebagai wakil rakyat. Mereka berkonferensi di hotel-hotel mewah dengan kendaraan mewah untuk membahas soal kemiskinan – mereka tidak dekat dengan rakyat. Kita harus belajar dari kesalahan di masa lalu. Jangan memilih seorang wakil atau seorang pejabat hanya karena aliansi politiknya, latar belakang agamanya – tetapi atas dasar rasa empati dirinya terhadap masyarakat luas…….. Sesungguhnya ungkapan “menumbuhkan empati” tidak begitu tepat. Empati terjadi dengan sendirinya ketika ada cinta di dalam dirinya. Empati adalah ungkapan cinta. Dan cinta selalu memberi – memberi dan memberi. Selama seorang wakil rakyat atau pejabat negara masih tergantung pada apa yang dapat diperolehnya dari negara – maka jelas dia belum bercinta dengan negara. Dia belum mencintai bangsa ini. Bagi dia kedudukan sebagai wakil rakyat atau pejabat negara – adalah sebuah profesi. Padahal kedudukan sebagai wakil rakyat atau pejabat negara bukanlah sekedar profesi. Ini adalah sebuah pengabdian.

Melayani sesama adalah melayani Tuhan. Dalam buku “The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran” disampaikan……… Alkitab (Perjanjian Baru) Matius 25:35-40, “Sebab pada waktu Aku lapar, kalian memberi Aku makan, dan pada waktu Aku haus, kalian memberi Aku minum. Aku seorang asing, kalian menerima Aku di rumah kalian.” “Aku tidak berpakaian, kalian memberikan Aku pakaian. Aku sakit, kalian merawat Aku. Aku di penjarakan, kalian menolong Aku.” Lalu orang-orang itu akan berkata, “Tuhan, kapan kami pernah melihat Tuhan lapar lalu kami memberi Tuhan makan, atau haus lalu kami memberi Tuhan minum?” “Kapan kami pernah melihat Tuhan sebagai orang asing. Lalu kami menyambut Tuhan ke dalam rumah kami? Kapan Tuhan pernah tidak berpakaian, lalu kami memberi Tuhan pakaian? Kapan kami pernah melihat Tuhan sakit atau di penjarakan, lalu kami menolong Tuhan?” Raja itu akan menjawab, “Ketahuilah: waktu kalian melakukan hal itu, sekalipun kepada salah seorang dari saudara-saudara-Ku yang terhina, berarti kalian melakukannya kepada-Ku!” Melayani sesama dengan melayani Tuhan. Dan Tuhan pun bisa menggunakan tangan siapa saja untuk membantu kita, mengangkat kita dari keterpurukan. Mengapa kita masih juga meragukan hal ini? Karena kita belum yakin akan kemahahadiran-Nya. Kita belum cukup yakin akan kemahakuasaan-Nya. Kita belum dapat melihat wajah-Nya di mana-mana. Kita belum merasakan keagungan dan kemahabesaran-Nya……..

Dalam buku “Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2011 disampaikan…….. Dengan tidak mengharapkan hasil bagi dirinya, seorang pekerja transpersonal malah meraih apa yang tidak terbayangkan oleh pekerja personal. Seorang pekerja transpersonal ibarat menanam modal dalam Perusahaan Semesta – sementara itu seorang pekerja personal hanyalah bekerja untuk satu perusahaan kecil. Hasil mereka jelas beda. Tidak bisa sama. Mereka berkarya bagi semesta, bagi semua – maka hasil yang mereka peroleh pun dari segala penjuru semesta. Bukan dari satu penjuru saja. Seorang pekerja transpersonal meraih kebahagiaan dan kepuasan yang tidak dapat dibeli dengan uang. Kiranya kebahagiaan dan kepuasan seperti ini pula yang diperoleh para nabi, avatar, mesias dan buddha. Laku mereka adalah laku-transpersonal. Ajaran mereka adalah bagi kebaikan semua, bukan bagi kebaikan satu kelompok kecil saja…

Untuk Kebahagiaan Sejati, Ikuti Program Online Spiritual Trasnpersonal Psychology

http://www.oneearthcollege.com/

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://blog.oneearthcollege.com/

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Desember 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: