Tega Menganiaya Saudara Sebangsa Sendiri, Renungan Tindakan Kekerasan Dari Mesuji


Bill Gates pada tahun 2007 berpesan: “Kita sedang melintasi suatu batas teknologi yang akan senantiasa merubah cara kita baik tentang: belajar; bekerja; bergaul; berbelanja. Teknologi tersebut akan mempengaruhi dan lebih merasuk pada cara hidup kita yang belum kita kenal  sebelumnya”. John Naisbitt dalam Megatrends 2000 mengungkapkan: komputer akan menghuni setiap rumah; kita bahkan saling terhubung dalam suatu jaringan informasi. Jaringan media facebook sebagai media alternatif memberikan kemudahan para penggunanya untuk mengetahui peristiwa yang tengah terjadi di tempat lain dalam hitungan menit.

Dan kini kita dapat melihat tayangan kekerasan  yang dilakukan oleh anak bangsa terhadap saudara sebangsanya. Perpustakaan Youtube menjadi saksi perbuatan biadab yang akan tercatat dalam sejarah selama internet masih aktif. Di masa depan, salah seorang anak cucu kita di depan laptop yang canggih bisa browsing kekerasan yang terjadi di zaman leluhurnya dan muncullah salah satu tayangan dari youtube yang penuh aura kekerasan di Mesuji maupun daerah lainnya. Kekerasan dapat terkait dengan apa saja, dari bisnis, kejahatan dan bahkan agama. Rekaman seperti inikah yang akan kita wariskan terhadap anak-cucu kita? Kita tidak bisa memperbaiki sejarah yang sudah terjadi, tetapi kita kita bisa mulai sekarang memperbaikinya. Kita bisa mulai mengupayakan sejarah baru, sejarah tanpa kekerasan.

Melihat tayangan video kekerasan di bumi pertiwi, terasa ada yang hilang pada bangsa kita, yaitu budipekerti yang halus. Inikah putra-putri bangsa keturunan Majapahit atau Sriwijaya atau kerajaan lain di Nusantara. Dalam DNA kita masih tersimpan potensi genetik kebesaran sebuah bangsa. Tetapi potensi tersebut tidak terkembangkan dengan baik, bahkan budaya kekerasan telah melanda negeri kita. Demi tuntutan pekerjaan, tuntutan laba perusahaan, demi pemahaman agama yang disebarkan secara tidak benar, anak-anak bangsa kita sanggup menganiaya saudara-saudaranya sebangsa dan setanah-air dengan keji. Binatang saja dibunuh langsung, akan tetapi kini saudara sebangsa dianiaya. Penyerangan terhadap kelompok minoritas, tawuran antar preman, tawuran antar warga, telah mengisi lembaran kelam sejarah bangsa dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam psikologi adalah istilah “Bigot”. “Bigot” adalah orang yang sangat kuat dan merasa dirinya anggota dari kelompok tertentu, agama, ras, etnik, partai politik, sekolah, kampus, kampung dan sebagainya. Ini adalah bagian dari rasa eksistensi dalam diri manusia. “Bigot” sama sekali tak punya toleransi terhadap golongan lain yang yang tidak sepaham dengannya. Berbagai kerusuhan dan kekerasan di tanah air dan di seluruh dunia semuanya berawal dari loyalitas kelompok yang sangat kuat. Benar atau salah, kelompoknya harus tetap benar. Dalam hal ini seperti debat kusir yang tak mau kalah, tetapi ini menggunakan kekerasan. Bagi para penganiaya di Mesuji mungkin mereka merasa benar, mereka bekerja sesuai profesi mereka menjaga wilayah perkebunan sesuai peraturan dan ijin yang dimiliki perusahaan yang memberi mereka pekerjaan. Akan tetapi tindakan mereka sudah di luar peri kemanusiaan. Demikian pula bagi para penganiaya kelompok keyakinan yang berbeda, mungkin mereka juga merasa benar karena mereka merasa dilecehkan dengan keyakinan kelompok lain. Akan tetapi lagi-lagi cara mereka sudah di luar peri kemanusiaan.

Dalam diri manusia masih tersimpan instink hewani, tetapi instink ini diungkapkan dengan lebih parah oleh manusia karena nafsu yang dimiliki manusia. Sifat kekerasan yang dilakukan para leluhur kita seribu tahun lalu masih terbawa dalam diri manusia Indonesia saat ini? Kekerasan yang dilakukan oleh para leluhur kita memang tetap tercatat dan dibawa oleh diri kita semua, sebelum kita sadar dan mau mengubah sifat itu…….. Genetik dalam diri kita diwariskan oleh leluhur sejak zaman dahulu kala secara turun temurun. Dalam DNA kita terdapat catatan pengalaman leluhur-leluhur kita di zaman Sriwijaya, zaman Majapahit, genetik bawaan dari pembangun Candi Monumental Borobudur. Tetapi dalam diri kita juga ada genetik pelaku kekerasan Jayakatwang, Ken Arok atau pelaku kekerasan lainnya. Zaman dulu dan zaman sekarang ini adalah satu rangkaian yang tidak bisa dipisahkan. Bahkan dalam genetik seseorang terdapat catatan evolusi panjang kehidupannya sampai saat ini……

Oleh karena itu kita harus mulai hidup berkesadaran. Pertama kita sadari bahwa potensi genetik kekerasan masih berada dalam diri. Keributan dalam sepakbola, tawuran antara kelompok, penyerangan terhadap kelompok yang dibenci adalah bukti masih adanya potensi kekerasan dalam diri. Latihan meditasi atau olah batin dapat melembutkan diri. Selanjutnya kita harus berjuang membuang potensi genetik lama yang kurang baik dan menggantinya dengan kebiasaan baru, dengan karakter baru. Dari studi genetika terbukti bahwa kita telah mengalami evolusi yang luar biasa, oleh karena itu perbaikan karakter sudah pasti dapat dicapai bila kita mau berjuang untuk mengubahnya……. Sekedar nasehat tak dapat mengubah diri kita. Kita harus melakoninya dalam kehidupan sehari-hari. Kita harus mulai hidup berkesadaran, membuang kebiasaan lama yang kurang baik dan menggantinya dengan kebiasaan baru, membuat “created mind” yang benar untuk memperbaiki “conditioning mind” yang salah.

Salah satu program e-learning dari One Earth College (http://www.oneearthcollege.com/) adalah program Ancient  Indonesian History And Culture (http://history.oneearthcollege.com/) yang bertujuan agar para peserta program dapat mengetahui dan menghargai sejarah awal Kepulauan Nusantara.  Selanjutnya ada program Neo Transpersonal Psychology (http://stponline.oneearthcollege.com/) yang membahas tentang peningkatan kesadaran dari keadaan personal, ego-based menuju keadaan transpersonal, integensia-based. Kemudian program lainnya adalah Neo Interfaith  Studies (http://interfaith.oneearthcollege.com/) yang mempunyai tujuan agar para peserta program dapat memberikan apresiasi terhadap keyakinan yang berbeda. Ketiga program tersebut sebenarnya saling kait-mengkait.

Sistem pendidikan memegang peranan penting dalam perbaikan karakter putra-putri bangsa. Dalam buku “Neospirituality & Neuroscience, Puncak Evolusi Kemanusiaan”, Anand Krishna & Dr. Bambang Setiawan Ahli Bedah/Bedah Saraf,  PT. Gramedia Pustaka Utama, Kompas Gramedia, 2010 disampaikan bahwa…….. Ketika kita masih kanak-kanak, di bawah usia lima tahun, hal-hal yang diajarkan oleh orang tua atau masyarakat menjadi bagian dari Neo-Cortex. Apa saja yang diamati atau sekadar dilihat oleh seorang anak dalam usia itu akan terekam dengan sendirinya. Kemudian antara usia 5 hingga 12 tahun terjadi muatan-muatan baru lewat sistem pendidikan. Hingga usia 12 tahun disebut Golden Years, Usia Emas, karena banyak sekali muatan ditambahkan pada Neo-Cortex yang kelak digunakan hingga akhir hayat. Pengertian “manipulasi” di sini hendaknya tidak dikaitkan dengan sesuatu yang bersifat negatif atau jelek karena manipulasi bisa juga untuk sesuatu yang baik. Dan sesungguhnya kita semua telah mengalami “manipulasi” serupa ketika masih berusia di bawah 12 tahun………

Dan salah satu hal yang perlu kita waspadai adalah tayangan televisi yang tanpa sadar merasuk ke dalam otak kita secara repetitif-intensif. Televisi merupakan sarana komunikasi utama di sebagian besar masyarakat kita, bahkan di seluruh dunia. Tidak ada media lain yang dapat menandingi televisi dalam hal pengaruh dan banyaknya penonton. Tayangan televisi mempengaruhi sikap dan perilaku khalayak khususnya bagi yang belum memiliki referensi yang kuat, yakni anak-anak dan remaja. Adu jotos, darah muncrat, sampai kepala copot, kayaknya udah dianggap biasa. Tayangan kekerasan menyebar di sebagian program olahraga, sebagian film dan ada juga yang nyelip di film kartun.

Tanpa kita sadari, kekerasan udah jadi hiburan bagi masyarakat kita, program ber-“aura kekerasan”  banyak disuka pemirsa. Itu bisa dilihat dari maraknya tayangan sejenis di berbagai stasiun televisi. Karena merupakan barang dagangan, maka wajar saja produsen menyesuaikan dengan selera konsumen. Nampaknya masyarakat kita sedang sakit. Mereka butuh hiburan. Hal itu juga disumbang dari semakin kuatnya himpitan ekonomi, carut-marutnya politik, dan ketidakjelasan masa depan. Kemudian pengusaha bisnis hiburan pun mengesampingkan aspek moral.

Sebuah penelitian dari Universitas Harvard menjelaskan, ada empat macam dampak kekerasan dalam televisi terhadap perkembangan kepribadian anak. Pertama, dampak agresor di mana sifat jahat dari anak semakin meningkat. Kedua, dampak korban di mana anak menjadi penakut dan semakin sulit mempercayai orang lain. Ketiga, dampak pemerhati, di sini anak menjadi makin kurang peduli terhadap kesulitan orang lain. Keempat, dampak nafsu dengan meningkatnya keinginan anak untuk melihat atau melakukan kekerasan dalam mengatasi setiap persoalan. Penelitian yang dilakukan pada 700 orang di New York selama 17 tahun menunjukkan bahwa anak pra remaja yang menonton tayangan kekeras di televisi lebih dari satu jam per harinya cenderung menjadi anak yang melakukan kekerasan pada usia dewasanya. Lebih lanjut, penelitian ini menunjukkan bahwa kekerasan, termasuk perkelahian dan perampokan, bertambah jika anak tersebut menonton televisi lebih dari tiga jam per harinya.

Kita akan memulai tindakan dari mana? Para leluhur kita memberi peringatan, “akan ada saat ketika mulut kita dikunci dan seluruh anggota tubuh kita diminta pertanggungan jawabnya”. Kita mulai dengan bertanggung-jawab terhadap hal-hal yang ada dalam jangkauan tindakan kita. Hal-hal yang berada dalam jangkauan tangan kita, itulah yang pertama kali kita tangani. Kita mulai dari diri sendiri, mulai hidup penuh kesadaran dan menghindari tindakan kekerasan. Kedua menyebarkan kesadaran pada keluarga kita dan lingkungan kita. Memang kita tidak dapat mempengaruhi masyarakat luas, akan tetapi paling tidak kita bisa berbagi kesadaran setiap saat. Jadikan berbagi kesadaran sebagai persembahan bagi kehidupan……..

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://blog.oneearthcollege.com/

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Desember 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: