Virus Ketidakjujuran Melanda Bangsa, Masyarakat Putusasa Menanti Epidemi Mereda


Seorang teman mengambil contoh kisah Bharatayuda untuk mencari pembenaran terhadap ketidakjujuran yang dilakukan dirinya. Dia mengambil contoh Raja Yudistira dari Pandawa yang terkenal sebagai kesatria paling jujur. Yudistira telah melakukan ketidakjujuran karena mengikuti nasihat Sri Krishna dengan mengatakan kepada Pandita Drona bahwa Aswatama benar-benar mati. Panglima Korawa dalam Perang Bharatayuda tersebut menjadi frustasi dan putus asa dan dapat dibunuh dengan mudah oleh Drestadyumna. Padahal faktanya yang mati adalah Gajah Aswatama dan bukan Aswatama putra Pandita Drona. Persoalan kejujuran sudah muncul sejak awal peradaban awal manusia. Teman tersebut lupa bahwa Korawa telah berpuluh-puluh kali berbuat tidak jujur dengan menipu Pandawa. Sri Krishna berpihak kepada dharma, mendukung kebenaran, dan tanpa ketidakjujuran tersebut Pandita Drona tak dapat dikalahkan, sehingga Korawa akan menang  serta adharma akan merajalela. Teman tersebut perlu merenung, apakah tindakan ketidakjujuran yang dilakukannya apakah untuk menegakkan dharma kebenaran atau untuk menuruti nafsu pribadinya yang tidak pernah puas?

Kami ingat sewaktu sekolah di SMP ada seorang guru matapelajaran Civics, sekarang dinamakan Kewarganegaraan atau PMP atau sudah diganti apalagi. Sang guru hanya membenarkan definisi seperti apa yang tertulis dalam buku. Memang definisinya baik sekali, tetapi panjang dan sulit dihapal. Melihat teman yang kurang pintar “nyontek” dan gurunya tidak perhatian, maka teman sekelas melakukan tindakan yang sama……… Kita masih kerap mendengar pada waktu Ujian Nasional, guru-guru di pelosok berada dalam keadaan dilema. Pengawasan ujian diketati, akan banyak peserta ujian yang tidak lulus. “Nggak nyontek nggak lulus” karena cara pemberian matapelajaran yang tidak baik, nyontek berarti melakukan ketidakjujuran.

Seorang pegawai negeri rendahan mendapatkan uang kesejahteraan dari bossnya, dan tanpa kesejahteraan tersebut sulit bagi dirinya menyekolahkan putra-putrinya. Dia “diam” saja apakah uang kesejahteraan tersebut berasal dari hasil ketidakjujuran dalam mengelola negara atau tidak? Seorang pengemudi yang sedang dinas ke luar kota melewati garis marka dan dihentikan petugas. Apakah dia akan bertindak jujur membiarkan dirinya ikut sidang pengadilan seminggu kemudian yang merepotkan atau damai-damai saja?……… Seorang murid sekolah menyontek demi nilai tujuh, tetapi sesudah dia bekerja hasil ketidakjujurannya bukan berupa nilai tapi segepok uang, mana tahan? Ketidak jujuran sudah melanda ke seluruh lapisan masyarakat, baik di pendidikan, di bidang usaha, di eksekutif, di legislatif, di yudikatif.

Kegiatan jiplak menjiplak karya ilmiah merupakan puncak gunung es ketidakjujuran dalam jagad pendidikan. Dalam media masa tercatat bahwa seorang pengajar di sebuah universitas menjiplak. Bila pendidikan sudah tidak jujur, maka anak didik dengan berbekal ketidakjujuran, otomatis merambah ke seluruh kegiatan masyarakat. Terlebih lagi kalau mass media pun mendukung aura ketidakjujuran, maka virus ketidakjujuran akan semakin cepat meluas disebarkan oleh mass media……… Konon seorang anggota DPRD berbicara bahwa kalau dia nggak ada “tambahan pendapatan”, bagaimana dengan konstituen yang minta bantuan yang datang  berbaris kepadanya, yang tidak peduli diberi dari hasil ketida jujuran atau tidak? Alasan bisa saja, tetapi hati nuraninya tidak bisa mengelak, bahwa dia pun menikmati ketidakjujurannya dalam menjalankan jabatannya. Jabatan telah digunakan sebagai alat. Jabatan sebagai amanah? Itu hanya ada di buku-buku nasehat agama. Bukan di praktek. Itulah kelemahan pendidikan kita, asalkan saat ditanya bagaimana hidup yang jujur dan lurus, seorang murid bisa menjawab dengan kelengkapan ayat-ayat suci maka dia lulus dengan nilai memuaskan. Padahal itu hanya berada di tingkat pemahaman belaka dan tidak dipraktekkan dalam kehidupan nyata. Demikian pula peraturan-peraturan dibuat berdasarkan pemahaman yang baik, tetapi lemah di praktek kehidupan nyata. Seorang teman berkata bila kisah pinokio yang tambah panjang hidungnya setiap melakukan ketidakjujuran menjadi nyata, maka tidak ada orang yang hidungnya pesek di negeri kita, hampir semuanya akan berbelalai……..

Berbagai peraturan telah dibuat agar masyarakat dan pejabat berbuat jujur. Akan tetapi peraturan tidak dapat menjujurkan manusia. Dalam buku “MAWAR MISTIK, Ulasan Injil Maria Magdalena”, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2007 disampaikan………. “Kejujuran” adalah sebuah pedoman. Dan, kejujuran tidak dapat dijadikan peraturan. Kita dapat membuat peraturan untuk mengatur tindakan yang tidak jujur. Kita dapat melarang penipuan dan penyelewengan. Dengan cara itu kita boleh berharap supaya setiap orang berperilaku jujur, namun kenyataannya apa? Fakta di lapangan menunjukkan bahwa peraturan, undang-undang, dogma, dan doktrin tidak dapat “menjujurkan” jiwa manusia. Bagaikan benih, kejujuran harus ditanam dan dikembangkan dalam diri manusia. Ia tidak dapat dijadikan peraturan, kemudian dimasukkan secara paksa ke dalam diri manusia.

Para pemuka agama sudah berulang-kali mengemukakan agar kita menjadikan nabi/orang suci sebagai pedoman, sebagai contoh keteladanan. Dalam buku “MAWAR MISTIK, Ulasan Injil Maria Magdalena”, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2007 disampaikan… Dalam buku “MAWAR MISTIK, Ulasan Injil Maria Magdalena”, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2007 disampaikan…….. Perilaku seorang Yesus menjadi pedoman bagi kita. Perilaku seorang Muhammad menjadi pedoman bagi kita. Demikian juga dengan perilaku Siddharta, Krishna, dan Lao Tze. “Pedoman” berarti “reference”, acuan. Ada kalanya kita tidak dapat mengikuti mereka kata per kata. Kita hidup dalam zaman yang berbeda. Tuntutan zaman kita barangkali lain, beda dari tuntutan zaman mereka. Kendati demikian, apa yang mereka lakukan dapat menjadi referensiatau pedoman bagi kita. Seorang nabi berjuang demi terwujudnya “perdamaian”. Barangkali kita tidak dapat menirunya seratus persen. Tetapi, kita dapat berjuang demi tujuan yang sama. Tujuan itu masih relevan. Pedoman bukan peraturan. Pedoman bersifat universal, peraturan bersifat spesifik. Pedoman berlaku sepanjang zaman. Peraturan berubah dari zaman ke zaman……

Upaya kita untuk jujur justru membuktikan bahwa pada dasarnya kita “tidak jujur”. Upaya kita hanya akan menutupi “ketidakjujuran” kita. Upaya kita justru membuat kita “munafik”, tidak jujur, tetapi menganggap diri jujur. Keadaan ini sekarang sudah lebih parah, karena para pejabat tidak malu bahwa institusinya dianggap tidak jujur. Para pejabat di bawah berkata yang tidak jujur itu yang di atas. Sedangkan pejabat yang di atas bilang, justru kedatangan dia untuk membenahi ketidakjujuran yang di bawah. Laporan hasil survei integritas oleh KPK di akhir tahun 2011 menempatkan tiga kementerian sebagai institusi pemerintah yang paling buruk integritasnya (alias kementrian yang dianggap paling tidak jujur). Ketiganya adalah Kementerian Agama, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, dan Kementerian Koperasi dan UKM. Padahal semestinya aparat Kementerian Agama  sebagian besar mengerti dan memahami agamanya dengan baik, Sebagian dari aparat tersebut juga tokoh agama yang fasih mendakwahkannya. Kebetulan ketiga kementrian tersebut dipimpin oleh menteri-menteri yang berasal dari partai politik. Konon ketiga menteri tersebut pernah menjadi aktivis organisasi kemahasiswaan berbasis agama, PMII dan HMI…….

Semoga masyarakat sadar, bahwa semua pikiran, ucapan dan tindakan kita direkam oleh alam semesta. Dan perbuatan baik atau tidak baik, cepat atau lambat akan kembali kepada dia yang berbuat. Seperti anak panah cakra yang akan mengejar ke mana pun seseorang berada untuk memberikan reaksi yang setimpal. Mereka yang menggunakan segala cara untuk mencapai tujuannya akan menerima akibat dari segala caranya. Menanam padi menunggu panen 4 bulan kemudian, menaman pohon mangga menunggu panen 7 tahun kemudian, menanam pohon jati bisa menunggu 50 tahun kemudian. Sudah banyak kisah tentang aksi reaksi yang dimuat mass media, dan ini adalah suatu peringatan alam. Pohon kebaikan berbuah kebaikan, pohon kejahatan berbuah kejahatan.

Pengalaman kami dalam mengikuti kasus pengaduan pelecehan seksual terhadap Bapak Anand Krishna, membuat perasaan was-was, hanya keyakinan terhadap Kebenaran yang membuat tabah. Tanpa visum tanpa saksi mata, perkara bisa naik ke sidang pengdilan. Dari sidang yang dapat didengar dari rekaman langsung persidangan, kita bisa melihat bahwa para saksi pengadu melakukan rekayasa dengan penuh ketidakjujuran. Akan tetapi bahkan Bapak Anand Krishna diputuskan untuk ditahan. Beliau protes penahanan tanpa dasar (seperti yang dinyatakan juga oleh Adnan Buyung Nasution) dengan melakukan puasa tidak mau makan hanya minum air saja. Berangkat dari tahanan setelah beberapa hari puasa membuat beliau pingsan di pengadilan. Dan akhirnya beliau diberi infus di rumah sakit. Selang infus pun kembali dilepas oleh oknum jaksa agar beliau bisa ditahan lagi. Tetapi kembali beliau mengalami stroke ringan. Dan beliau akhirnya diinfus di rumah sakit dan melakukan puasa sampai 49 hari sampai penahanan beliau ditangguhkan. Rupanya Kebenaran berpihak kepada beliau, karena ketahuan bahwa ketua sidang pengadilan mengadakan perselingkuhan dengan seorang saksi penuntut. Dan lagi-lagi Kebenaran mengganti seluruh hakim yang menangani dengan ketua Ibu Hakim Albertina Ho yang terkenal jujur  dan tegas. Akhirnya beliau diputus bebas murni……..

Para leluhur begitu yakin kejujuran akan membawa kejayaan di masa depan. Mereka yang tidak jujur telah memilih kenyamanan sesaat yang bersifat fana, sedangkan mereka yang jujur telah memilih kemuliaan yang bersifat abadi. Di antara pesan leluhur adalah “Sing Jujur Sempulur Sing Cidra Cilaka”, Barangsiapa yang Jujur akan lestari atau selamat dan yang berdusta akan menerima celaka. “Sura Dira Jayaning Rat Lebur Dening Pangastuti”, Segala kekuatan jahat didunia akan hancur oleh keutamaan dan kebajikan.

Buah kejahatan akan matang di pohon kehidupan pada saatnya. Bahkan seperti kisah-kisah di Srimad Bhagavatam  fisik manusia mati tetapi “mind” tidak mati. Jiwa atau soul adalah ego yang mencakup mind, alam bawah sadar dan lain sebagainya. Sedangkan spirit adalah percikan kesadaran murni yang tidak terpengaruh oleh pasang surut serta suka duka yang dialami oleh jiwa, termasuk kematian dan kelahiran raga. Jiwa persis sama seperti fisik, cuman lebih halus. Jiwa bisa eksis tanpa fisik – tapi dua-duanya tidak bisa eksis tanpa spirit. Spirit ibarat sinar matahari yang bisa eksis sendiri tak terpengaruh oleh eksistensi kita. Kita tidak bisa eksis tanpanya.

Itulah sebabnya Raja Drestarastra ayah para Korawa mengalami kematian putera-puteranya akibat perbuatannya di kehidupan sebelumnya. Konon Prabu Duryudana bertanya kepada Sri Krishna, mengapa dia yang buta dan tak pernah membunuh bisa mengalami kejadian 100 putranya dibunuh. Prabu Kresna menjawab, bahwa dalam “past lifes”, kehidupan-kehidupan sebelumnya dia pernah membunuh 100 anak burung yang berada dalam sarangnya, dan juga pernah menusuk mata burung sehingga menjadi buta………

Ibarat senjata cakra yang mengejar siapa pun yang ditujunya, maka pelaku perbuatan pada suatu saat akan menerima akibatnya pula. Bapak Anand Krishna pernah memberikan “sms wisdom”:  “Kebaikan yang kau lakukan pasti kembali padamu. Begitu jua dengan kejahatan. Kau dapat menentukan hari esokmu, penuh dengan kebaikan atau sebaliknya”……….”Kenapa mesti menangisi nasib? Kau adalah penentu nasibmu sendiri. Apa yang kau alami saat ini adalah akibat dari perbuatanmu di masa lalu. Apa yang kau buat hari ini menentukan nasibmu esok”……..

Salah satu program e-learning dari One Earth College (http://www.oneearthcollege.com/) adalah program Ancient  Indonesian History And Culture (http://history.oneearthcollege.com/) yang bertujuan agar para peserta program dapat mengetahui dan menghargai sejarah awal Kepulauan Nusantara.  Selanjutnya ada program Neo Transpersonal Psychology (http://stponline.oneearthcollege.com/) yang membahas tentang peningkatan kesadaran dari keadaan personal, ego-based menuju keadaan transpersonal, integensia-based. Kemudian program lainnya adalah Neo Interfaith  Studies (http://interfaith.oneearthcollege.com/) yang mempunyai tujuan agar para peserta program dapat memberikan apresiasi terhadap keyakinan yang berbeda. Ketiga program tersebut saling kait-mengkait.

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://blog.oneearthcollege.com/

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Desember 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: