Neo Feodalisme Di Tengah Bangsa


Budayawan Mochtar Lubis pada tahun 1977 menyampaikan 6 (enam) ciri-ciri manusia Indonesia yaitu: Pertama, munafik atau hipokrit; Kedua, enggan bertanggung jawab atas perbuatannya; Ketiga, sikap dan perilaku yang feodal. Keempat, masih percaya pada takhayul; Kelima, artistik; dan Keenam, lemah dalam watak dan karakter. Pada saat ini, tiga dasa warsa sudah berlalu, tetapi nampaknya ciri-ciri tersebut belum banyak berubah juga.

 

Disebutkan bahwa ciri yang ketiga adalah jiwa feodal yang masih tertanam subur dalam diri Manusia Indonesia. Dikatakan bahwa nilai-nilai feodalisme merupakan warisan dari negara-negara kerajaan yang ada pada jaman dahulu di Nusantara, lalu diambil alih oleh para penjajah. Revolusi kemerdekaan sebenarnya bertujuan untuk menghilangkan feodalisme yang ada pada diri manusia Indonesia, tetapi nampaknya setelah berjalan beberapa lama, jiwa feodal marak kembali. Sikap-sikap feodal ini bersifat destruktif karena seorang bawahan akan menganggap mereka yang lebih tinggi dari mereka selalu benar dalam setiap tindakannya. Mereka tidak berani menyangkal walau perbuatan atasan salah. Sifat feodal juga menghancurkan harkat dan martabat manusia sebagai manusia yang setara derajatnya dengan manusia lainnya. Seorang bawahan dikatakan tidak sopan jika menegur atasan walaupun alasannya benar. Tidak didengarnya suara masyarakat bawah sebagai suara manusia juga merupakan bentuk nyata dari feodalisme yang terjadi pada manusia Indonesia. Kini bukan raja lagi yang feodal, tetapi sudah diganti namanya menjadi presiden, menteri, jenderal, presiden direktur, anggota dewan yang terhormat dan lain-lainnya.

 

Seorang anggota lembaga negara bersikukuh akan membubarkan institusi pengawasan, mungkin karena institusi tersebut telah berani memanggil para pimpinannya. Para anggota lainnya mungkin juga ada yang tersinggung dengan institusi yang seakan-akan dianggap bawahan tetapi berani mengutak-utik mereka. Pokoknya karena kedudukan mereka tinggi, maka mereka tak mau disalahkan. Bahkan waktu itu ada suara sebagian mereka akan ngambek tak bekerja, walau rumor tersebut tak dilaksanakan. Secara peraturan memang institusi tersebut diperbolehkan memeriksa………. Seorang anggota lembaga negara yang lain dalam suatu sidang juga mengusir seorang pejabat negara karena yang diundang dalam dengar pendapat tersebut adalah atasan pejabat tersebut…….. Kita yakin mereka paham bahwa sok kuasa itu tidak benar, mereka pasti mafhum bahwa para diktator yang paling berkuasa pun akhirnya jatuh. Akan tetapi mereka tidak bisa merasa bahwa mereka sudah bertindak sok kuasa. Para leluhur mengkritik para pemimpin seperti itu dengan nasehat “Rumangsa bisa nanging ora bisa rumangsa”, merasa mampu namun tidak bisa merasa bahwa dia sebenarnya tidak mampu. Mereka telah memberlakukan kasta dan yang setingkat dengan mereka adalah pucuk pimpinannya. Dan wakilnya tidak selevel dengan mereka………. Bila demikian masyarakat itu levelnya dimana? Banyak sekali kata-kata para petinggi yang menyepelekan suara rakyat. Seorang pimpinan lembaga menolak diadakannya survei untuk mengetahui respon masyarakat soal pembangunan gedung baru, karena menganggap hanya orang-orang yang elite yang paham yang bisa membahas ini, rakyat biasa nggak bisa dibawa……

 

Dalam buku “Otobiografi Paramhansa Yogananda, Meniti Kehidupan bersama para Yogi, Fakir dan Mistik”, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama 2002 disampaikan……… Pembagian masyarakat dalam empat kelompok – para cendekiawan, para pegawai negeri, para ekonom dan para pekerja atau buruh – merupakan suatu eksperimen yang hanya dilakukan oleh masyarakat India kuno.  Kelak pengelompokan ini akan disebut kasta oleh orang-orang asing, padahal istilah asalnya adalah varna atau “pengelompokan berdasarkan tugas/sifat/potensi”. Kshatriya biasanya diterjemahkan sebagai “satria”, “pendekar” atau “prajurit”. Terjemahan itu tidak tepat. Kelompok Kshatriya adalah kelompok ”pegawai negeri”, baik yang sipil maupun yang militer……….. Pada jaman Mahabharat, sekitar 3.000 tahun S M, sistem ini berjalan baik. Vyaasa atau Abiyasa dalam pewayangan Jawa adalah anak di luar nikah dari seorang wanita penjual ikan dan dari golongan (kasta) Shudra, yang sekarang disalahartikan sebagai golongan terendah. Namun, karena bijak, Abiyasa anak di luar nikah dari kasta Shudra mendapat gelar “Jagad Guru” – guru sejagad. Ia yang menulis epos besar, epos terpanjang dalam sejarah manusia: Mahabharat. Ia pula yang mengedit dan mengumpulkan Veda.………..

 

Bagi Seniman WS Rendra, meskipun Negara Indonesia adalah negara merdeka , tetapi Rakyat Indonesia , atau Bangsa Indonsia , belum merdeka . Adapun para penguasa yang membelenggu adalah Pemerintah dan semua partai politik yang ada . Adalah kenyataan kebudayaan sejak dari zaman raja-raja , zaman kolonialisme Belanda , kolonialisme Jepang , penjajahan rezim Orde Lama dan penjajahan rezim Orde Baru , rakyat Indonesia tidak pernah menjadi warga negara dengan hak yang penuh untuk bebas berpartisipasi dalam urusan kemasyarakatan , urusan pemerintahan dan urusan kenegaraan. Di zaman raja-raja dan kolonialisme Belanda , rakyat adalah “kawulo” atau hamba Sang Raja . Di zaman kolonialisme Jepang rakyat adalah barisan massa budak yang harus membantu Dai Nippon dalam perang antar imperialis yang disebut Perang Dunia ll . Sedang di zaman rezim Orde Lama , rakyat adalah massa revolusi dan bagi partai-partai politik rakyat sekadar dianggap sebagai barisan massa partai . Kemudian di zaman penjajahan rezim Orde Baru rakyat tetap saja diangap sebagai “koor bebek”. Pemerintah menganggap mereka sebagai massa pembangunan yang harus mendapatkan penataran-penataran . Cara berpikir dalam bidang apapun diseragamkan. Gerakan reformasi telah terjadi . Namun , sejak permulaan Gerakan Reformasi sampai kini, kekuatan rakyat , kedaulatan rakyat , kemerdekaan rakyat tidak pernah diperjuangkan secara konkrit dan eksplisit oleh para elite politik di DPR , MPR. Yang secara getol diperjuangkan oleh para elite politik adalah posisi dan kekuatan partai-partai politik dan golongan . Bukan kedaulatan Rakyat………..

 

Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.”…….. Kekuasaan cenderung korup, dan kekuasaan mutlak menghasilkan korup yang mutlak…….. demikian pendapat  John Emerich Edward Dalberg Acton (1834-1902), atau dikenal sebagai Lord Acton. Ibarat baju boleh berganti, dari baju model bangsawan menjadi baju model pejabat pemerintah, atau baju model pemuka agama, atau baju model wakil rakyat, akan tetapi orang yang memakainya tetap orang yang serupa. Orang yang cenderung korup karena besarnya wewenang kekuasaan yang dipegangnya. Orang yang mempunyai ego, yang suka dipuji dan dipuja, yang suka orang tunduk pada kekuasaannya. Feodalisme adalah sifat manusia yang belum sadar. Dia bisa berkopiah , berkafiyeh, bertopi golf atau bertopi baja tetapi kepalanya masih mempunyai ego yang sama.

 

Apakah para feodal modern mempunyai karakter bawaan demikian atau tadinya hanya berupa potensi dalam diri yang terpicu oleh suasana lingkungan? Para pakar perilaku ingin mengetahui apakah kondisi lingkungan tertentu dapat mempengaruhi moral seseorang. Satu kelas mahasiswa di Universitas Washington melakukan simulasi model perilaku selama dua minggu. Separuh mahasiswa menjadi sipir, penjaga penjara sedangkan separuhnya lagi menjadi narapidana. Belum sampai satu minggu simulasi dihentikan, karena perilaku para sipir sangat keterlaluan, semakin semena-mena, sedangkan para narapidana semakin hari semakin tertekan, depresi berat. Ternyata lingkungan kerja mempengaruhi perilaku. Ini merupakan contoh model penelitian perilaku. Mereka yang mengkritik para pejabat , bila mendapatkan kesempatan menjadi pejabat boleh jadi akan melakukan hal yang sama karena kewenangan yang dimilikinya. Para aktivis mahasiswa setelah menjadi pejabat negara banyak yang melupakan amanat penderitaan rakyatnya. Lingkungan yang materialistis membuat neo feodalisme berkembang, harga diri kalah telak oleh harga kenyamanan duniawi.

 

Semoga masyarakat sadar bahwa mereka yang arogan, yang merasa berkuasa, sebetulnya berada dalam keadaan terbelenggu dan sedang menjadi budak. Mereka yang arogan telah menjadi budak dari hawa nafsunya dan masih terbelenggu oleh kenyamanan sesaat yang fana. Akan ada saatnya mulut setiap orang dikunci dan anggota-anggota tubuhnya akan diminta pertanggungan jawabnya. Leluhur kita memberi nasehat, “Begja-begjane wong lali isih untung sing eling lan waspada”, keuntungan apa pun yang diperoleh mereka yang lupa, masih untung mereka yang sadar dan waspada. Keuntungan dari kenyamanan yang fana yang diperoleh dalam ketidaksadaran akan berakhir pada saatnya, sedangkan keuntungan dari tindakan mulia yang dilakukan dalam keadaan sadar akan abadi selamanya.

 

Dalam buku “Bersama J.P Vaswani Hidup Damai & Ceria”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2002 disampaikan……. Jangan menganggap bahwa yang arogan, yang bisa menindas, yang marah-marah itu yang menang. Tidak, ia pun kalah. la sedang diperbudak oleh hawa nafsunya. la sedang dikendalikan oleh naluri hewaninya………. Ada orang yang bertanya kepada seorang bijak, “Apakah yang membedakan seorang manusia dengan binatang?” Sang bijak menjawab, “Pengendalian diri.” Binatang tidak dapat mengendalikan dirinya, harus mengikuti nalurinya. Seorang manusia dapat mengendalikan keinginan-keinginan dan naluri hewaninya bukannya diperbudak oleh mereka. Sayang, banyak di antara kita yang menjadi budak nafsu dan sifat-sifat kebinatangan yang lain…….

 

Yang perlu kita waspadai adalah jangan sampai bangsa kita menerima perbudakan sebagai hal yang biasa. Dalam buku “Telaga Pencerahan Di Tengah Gurun Kehidupan”, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 1999 disampaikan……. Perbudakan yang berkepanjangan bisa membisukan nurani manusia. Manusia mulai terbiasa dengan keadaan yang menimpanya. la mulai berkompromi dengan keadaan. la menganggap perbudakan itu sebagai kodratnya. Jangan mengira manusia masa kini sudah sepenuhnya bebas dari perbudakan. Manusia masih budak. la diperbudak oleh ideologi-ideologi semu. la diperbudak oleh dogma-dogma yang sudah usang. Ia diperbudak oleh paham-paham dan kepercayaan-kepercayaan yang sudah kadaluwarsa. Tetapi ia tetap juga membisu. Jiwanya sudah mati. la ibarat bangkai yang kebetulan masih bernapas………… Manusia masa lalu masih beruntung. la diperbudak oleh seorang raja atau seorang majikan. Relatif mudah membebaskan manusia dari perbudakan semacam itu. Musa berhasil melakukan hal itu. Keadaan manusia masa kini lebih parah, lebih buruk. la diperbudak oleh suatu sistem-suatu sistem yang membuat dia menjadi mesin. Musa pasti juga heran melihat keadaan para budak. Mereka menderita, tetapi mereka diam. Mereka tidak berani bicara. Mereka tidak berani memberontak. Kenapa demikian? Karena mereka sudah terbiasa hidup dalam perbudakan. Mereka tidak tahu, kebebasan itu apa. Harus ada seorang Musa, harus ada seseorang yang bebas dan memahami arti kebebasan untuk membuat mereka sadar akan perbudakan mereka. Tugas seorang Musa memang sangat berat. la harus membangunkan mereka, membangkitkan mereka, menghidupkan kembali jiwa mereka yang sudah mati. la harus membuat mereka sadar akan arti kebebasan, nilai kemerdekaan………

 

Yang memilih para pemimpin adalah rakyat sendiri. Pilihlah pemimpin yang baik, jangan sampai dalam pemilu atau pilkada, hak memilih yang baik tersebut dilepas demi amplop yang sebentar saja lenyap entah ke mana. Pemimpin yang jelek akan membuat rakyat lama menderita. Kita perlu introspeksi adalah kesalahan kita karena telah memilih para pemimpin, yang menjadi feodal, lupa kacang akan kulitnya, yang menjadi pejabat, lupa masyarakat yang telah memilihnya.

 

Salah satu program e-learning dari One Earth College (http://www.oneearthcollege.com/) adalah program Ancient  Indonesian History And Culture (http://history.oneearthcollege.com/) yang bertujuan agar para peserta program dapat mengetahui dan menghargai sejarah awal Kepulauan Nusantara.  Selanjutnya ada program Neo Transpersonal Psychology (http://stponline.oneearthcollege.com/) yang membahas tentang peningkatan kesadaran dari keadaan personal, ego-based menuju keadaan transpersonal, integensia-based. Kemudian program lainnya adalah Neo Interfaith  Studies (http://interfaith.oneearthcollege.com/) yang mempunyai tujuan agar para peserta program dapat memberikan apresiasi terhadap keyakinan yang berbeda. Ketiga program tersebut saling kait-mengkait.

 

Situs artikel terkait

http://www.oneearthmedia.net/ind/

https://triwidodo.wordpress.com

http://id-id.facebook.com/triwidodo.djokorahardjo

http://www.kompasiana.com/triwidodo

http://blog.oneearthcollege.com/

http://twitter.com/#!/triwidodo3

Desember 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: